Dengan manajemen keuangan yang efektif dan efisien, pasti suami bertambah senang, semakin sayang, dan tentu saja sangat perhatian.
Sebagai istri yang mendambakan gelar shalihah dari Allah, kita mesti hati-hati dalam mengelola harta suami.
Penting dipahami bahwa restu atau izin dari suami terkait mengeluarkan harta, wajib ditaati. Bahkan untuk shadaqah sekalipun (menurut HR. Bukhari, jika seorang wanita berinfaq dari jerih payah suaminya tanpa perintah darinya, maka ia mendapatkan setengah pahalanya).
Apalagi bila digunakan untuk sesuatu yang kurang penting.
Al-Ghazali menganalogikan harta seperti obat yang bermanfaat bagi seseorang dengan kadar tertentu. Apabila berlebih-lebihan akan mematikan, sedangkan dekat dengan berlebih-lebihan meskipun tidak mematikan, maka itu akan menambah sakit.
Oleh karena itu, engkau harus mempergunakan yang sedikit dan menghindari boros dan bersenang-senang.
Menurut Musthafa al-Ghalayani, bagi orang yang memiliki harta, boros dan berlebih-lebihan dalam menggunakan harta untuk sesuatu yang sama sekali tidak ada gunanya untuk diri sediri maupun untuk orang lain, hanyalah akan merusak hartanya saja.
Sehingga, pada akhirnya ia akan jatuh miskin.
Kedua telepak tangannya menjadi kosong, dan kedua lengannya menjadi kering.
Allah berfirman dalam QS. al-Israa: 26-27, "Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, pemboros-pemboros itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."