Langsung ke konten utama

Unggulan

Jadilah Kekasih, Sahabat, dan Ibu bagi Suamimu (Hannah Dewi Latifah)


Bab 1: Jadilah Kekasih yang Baik Hati

Mendamping suami dengan hati yang gembira tentu akan mendatangkan keberkahan demi keberkahan.

Tak akan pernah ada benih-benih kekeruhan dalam kehidupan rumah tangga jika seorang istri memperlakukan suami layaknya kekasih sejati yang benar-benar mengisi hatinya. 

Tak akan ada benih-benih kebencian jika seorang istri memperlakukan suami layaknya sahabat sejati yang tidak mau berpisah sedetik pun. 

Tak akan ada benih-benih kebosanan jika seorang istri memperlakukan suami layaknya cinta yang diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya, selalu abadi hingga kapan pun.

Seperti kisah istri nabi Ayub yang setia menemani dengan penuh kasih, menjadi satu-satunya orang yang bertahan saat ujian datang. 

Ketika semua anak nabi Ayub satu persatu meninggal, harta perlahan habis tak bersisa, hingga didera oleh penyakit yang membuat orang lain enggan mendekat karena takut tertular. 

Istri nabi Ayyub ingat kebaikan sang suami yang telah memberikan harta yang banyak kepadanya serta menjadikannya mulia tatkala nabi Ayyub masih kaya dan sehat. 

Dalam kondisi serba kekurangan, tak hanya bersabar, sang istri rela menjadi pembantu demi mendapatkan sesuap makanan untuk suaminya. 

Saat keadaan memburuk dengan terhasutnya orang-orang sehingga tidak ada lagi yang mau mempekerjakan beliau, beliaupun akhirnya menjual gulungan rambut di kepalanya hingga akhirnya tak tersisa sehelai pun. 

Keikhlasan dan kesabaran keduanya berbuah manis saat Allah memberikan wahyu agar Nabi Ayyub mandi di sumber mata air yang akan terpancar jika beliau memukulkan kakinya ke tanah. 

Qodarullah, beliau kembali sehat. 

Tak lama berselang, Allah memberikan keberkahan kepada dirinya dan istrinya dengan Mengkaruniakan anak yang banyak dan harta yang kembali berlimpah hingga semua orang kembali berbondong-bondong mengunjunginya. 

Nabi Ayyub pun kembali dapat melakukan kebiasannya sebagaimana sebelum diuji, yaitu mencari orang fakir, miskin, sakit, dan orang yang membutuhkan bantuan untuk memberikan shadaqah kapada mereka.

Allah tidak mungkin memberikan rambu-rambu yang harus dipatuhi jika di dalamnya tidak menyimpan sejuta kebaikan. 

Perintah taat kepada suami jika dipandang hanya menggunakan logika, maka yang tampak adalah "tekanan", "kewajiban", dan "beban" yang sangat memberatkan. 

Namun, jika hal itu dipahami dengan menggunakan kombinasi pikiran dan hati yang jernih, maka yang tampak adalah rahmat Allah kepada seorang istri. 

Harga taat yang terkadang dirasa sangat sulit tersebut sebanding dengan janji yang Allah tawarkan dimana Allah memperbolehkan seorang wanita masuk surga dari pintu manapun selama ia menunaikan shalat lima waktu, puasa ramadan, menjaga kemaluan dan menaati suaminya.

Memahami peran yang harus dilakukan terutama peran untuk membuat hati suami berbunga-bunga adalah kewajiban seorang istri. 

Siapa yang sanggup melakukan semua itu dengan penuh ketulusan, maka Allah akan mencatat amal baiknya seperti ibadah jihad. 

Allah akan mengangkat derajat seorang istri hingga derajat yang paling tinggi. 

Bukan karena puasa, shalat semalam suntuk, melaksanakan ibadah haji, dan Ibadan-ibadah lainnya, melainkan karena ia mampu berbakti kepada suaminya.

Seorang istri yang berkomitmen dengan tanggung jawabnya sebagai Pendamping suami, tidak mungkin mengecewakan hati suaminya dengan kata-kata atau sikap yang buruk. 

Istri yang memegang teguh komitmennya pasti selalu memberikan yang terbaik kepada suaminya, melayani dengan tulus dan penuh dedikasi, seperti bunda Khadijah yang tidak pernah berkerut keningnya ketika menyambut Rasulullah. 

Senyum adalah awal dari kebahagiaan dań ketentraman. 

Membiasakan senyum dihadapan suami memungkinkan suasana dalam rumah tangga semakin sejuk. 

Saat suami baru pulang kerja atau beraktivitas, jangat biarkan hatinya gundah. 

Dekatilah, dengan sesekali melempar senyum, bertanya kabar, dan peluklah sebagai wujud kasih sayang seorang istri kepada suami tercinta. 

Manfaat senyum: 
(1). Membuat panjang umur; 
(2). Menghindarkan diri dari stres dan membuat terlihat awet muda; 
(3). Membangkitkan energi bawah sadar; 
(4). Membuat orang lain bahagia; 
(5). Meningkatkan penampilan dan semangat; 
(6). Meredam marah.

(1). Al-ana'anah: banyak keluh kesah; 
(2). Al-mana'anah: suka mengungkit; 
(3). Al-huna'anah: suka kepada laki-laki lain; 
(4). Al-huda'aqah: suka memaksa; 
(5). Al-hula'aqah: disibukkan dengan bersolek atau melakukan hal-hal yang tidak penting dan menyebabkan kewajiban-kewajiban yang lain terbengkalai; 
(6). As-sala'aqah: banyak bicara (bergosip).

Para istri teladan berusaha tampil secantik mungkin di hadapan suami agar suami senang dan bahagia.

Mereka hanya mempercantik diri dihadapan suami, bukan dihadapan umum yang justru mengundang syahwat dan fitnah. 

Bersolek tidak diperbolehkan untuk niat pamer atau agar dilihat oleh orang lain. 

Rasulullah melihat bahwa siksa Allah untuk wanita yang bersolek agar dilihat oleh laki-laki ialah memakan badannya sendiri. 

Namun sebaliknya, bersolek tentunya tidak akan menjadi hal yang mudharat jika dilakukan saat hendak melakukan hubungan intim dengan suami, tentu suami akan berbinar-binar dan sangat bangga dengan istrinya.

Bercengkrama dengan suami yang dilakukan dengan penuh ketulusan dan kasih sayang, akan mendatangkan rahmat dari Allah SWT. 

Bahkan, malaikat mendoakan sepasang suami istri yang ikhlas bercengkrama, penuh romantisme, dan ketulusan. 

Itulah sebabnya, bagi seorang istri yang sanggup melayani suaminya hingga sang suami itu merasakan kebahagiaan tak terkira, maka pahala baginya. 

Sebaliknya, Allah akan menempatkan seorang istri yang tidak pernah sungguh-sungguh melayani suami mereka atau bahkan menyakiti suaminya seperti istri Nabi Nuh dan Nabi Luth didalam neraka yang pedih tak tertandingi. 

Beberapa tindakan yang sanat berpotensi menimbulkan kekecewaan di hadi suami adalah:
(1). Banyak protes kepada suami saat berhubungan intim; 
(2). Menceritakan seluk-beluk fisik wanita lain dihadapan suami; 
(3). Menunda ajakan suami; 
(4). Kurang responsif dengan isyarat suami.


Bab 2: Jadilah Sahabat yang Menyenangkan

Agar kita mampu menjadi teman yang baik diatas ranjang: 
(1). Penuhilah keinginan suami; 
(2). Selipkan humor; 
(3). Peluklah suami dengan penuh cinta; 
(4). Balaslah dengan ciuman yang hangat.

Dalam konteks menegakkan shalat, seorang istri harus merasa terpanggil menemani suaminya, berjamaah dengannya, hingga suasana kehidupan rumah tangga semakin berkah. 

Dengan manajemen keuangan yang efektif dan efisien, pasti suami bertambah senang, semakin sayang, dan tentu saja sangat perhatian. 

Sebagai istri yang mendambakan gelar shalihah dari Allah, kita mesti hati-hati dalam mengelola harta suami. 

Penting dipahami bahwa restu atau izin dari suami terkait mengeluarkan harta, wajib ditaati. Bahkan untuk shadaqah sekalipun (menurut HR. Bukhari, jika seorang wanita berinfaq dari jerih payah suaminya tanpa perintah darinya, maka ia mendapatkan setengah pahalanya). 

Apalagi bila digunakan untuk sesuatu yang kurang penting. 

Al-Ghazali menganalogikan harta seperti obat yang bermanfaat bagi seseorang dengan kadar tertentu. Apabila berlebih-lebihan akan mematikan, sedangkan dekat dengan berlebih-lebihan meskipun tidak mematikan, maka itu akan menambah sakit. 

Oleh karena itu, engkau harus mempergunakan yang sedikit dan menghindari boros dan bersenang-senang. 

Menurut Musthafa al-Ghalayani, bagi orang yang memiliki harta, boros dan berlebih-lebihan dalam menggunakan harta untuk sesuatu yang sama sekali tidak ada gunanya untuk diri sediri maupun untuk orang lain, hanyalah akan merusak hartanya saja. 

Sehingga, pada akhirnya ia akan jatuh miskin. 

Kedua telepak tangannya menjadi kosong, dan kedua lengannya menjadi kering. 

Allah berfirman dalam QS. al-Israa: 26-27, "Dan, berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya, pemboros-pemboros itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya."

Komunikasi yang terjalin antara istri dan suami merupakan pondasi rumah tangga yang sangat menentukan. Dalam hal ini, seorang istri harus cerdas mengomunikasikan sesuatu dengan suaminya, membicarakan dengan baik terkait hal-hal yang ingin dilakukan.


Bab 3: Jadilah Ibu yang Menyejukan bagi Suami

Seorang istri diharapkan memiliki kesiapan mental dan spiritual dalam menghibur suami. 

Menghibur suami ditengah situasi yang sedemikan menekan adalah wujud dari kasih sayang yang mendalam. 

Persis seperti sikap seorang ibu kepada anak yang selalu menghiburnya dikala duka menyergap. 

Seperti yang dilakukan oleh ibunda Khadijah kepada Rasulullah saat peristiwa turunnya wahyu pertama di Gua Hira. 

Saat itu Rasulullah pulang dengan kondisi gelisah, tubuhnya penuh keringat dingin. Akan tetapi, dengan sikap bijak dan dewasa ibunda Khadijah, Rasulullah dapat kembali tenang. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan terkait bagaimana sikap yang harus ditunjukkan seorang istri dikala suaminya dicekam aneka kekhawatiran diantaranya: 
(1). Jangan selipkan emosi saat menenangkan hati suami; 
(2). Lihatlah seberapa besar kadar kekhawatiran yang mencekam suami; 
(3). Hiburlah tanpa harus menggurui;.

Buatlah makanan yang disukai oleh suami. Jangan pernah mengeluh. 

Bahkan jika perlu, berikan makanan-makanan yang menarik penyajiannya kendati makanan itu sederhana.

Dengan begitu, hati suami pasti senang dan semakin sayang kepada kita sebagai istri.


Istri yang shalihah, yang didambakan oleh suami, ialah istri yang sanggup memerankan diri sebagai kekasih, sahabat, dan ibu sekaligus. 

> Menjadi kekasih berarti memiliki kesanggupan untuk setia. 

> Menjadi sahabat berarti memiliki kecenderungan untuk selalu bersama, satu komitmen, dan saling menasihati. 

> Menjadi ibu berarti mampu memberikan perhatian mendalam, belaian kasih sayang yang menyejukkan, dan sanggup mendengarkan keluh kesah suami dengan penuh cinta.