Langsung ke konten utama

Unggulan

Khadijah (Sibel Eraslan)



Sebelum istana Babil runtuh, cerita-cerita lama mengisahkan bahwa umat manusia berbicara dengan bahasa malaikat. Pada hari ini, kita tidak dapat lagi mengingat bahasa lama malaikat. 

Hal tersebut, katanya, terjadi karena para penduduk yang menyaksikan Ibrahim dilemparkan kedalam unggun perapian hanya terpaku bagaikan setan tak berlidah. Bulu kuduk mereka tak sedikit pun bergetar untuk berupaya menolongnya.

Entah apa yang akhirnya terjadi. Umat manusia saat itu diliputi sifat sombong, serakah, dan hasut terhadap kekayaan orang lain. 

Mereka begitu congkak sampai tidak mempercayai apapun selain akal pikirannya. Tak puas dengan nafsu syahwatnya selalu mengejar semua kesenangan. Manusia juga malas membantu sesama sehingga satu sama lain saling memangsa. 

Babil adalah istana yang menjulang ke langit. Atapnya menghilang diantara kerumunan awan. Jalan spiral menjulang hingga ke angkasa adalah penyangganya. 

Pagar pematang di sepanjang jalannya terbuat dari perak sedangkan lantai balkonnya terbuat dari zamrud. Lanskap air terjun yang menghiasi setiap pinggir taman gantung tampak begitu indah memesona, dengan suara gemericik yang mengalir di antara zamrud yang diukir sedemikian cantik.

Pada hari itu, Namrud, raja Babil yang teramat sombong, dimabuk keserakahan karena telah membangun istana menjulang menembus awan. 

Ia mencoba melontarkan panah dari balkon istananya dan gembira ketika mendapati anak panah yang kembali dengan mata panah dipenuhi bercak darah. 

Ia menyangka Tuhannya Ibrahim telah terluka. Padahal Tuhan telah membuat api yang panas menjadi dingin bagi Ibrahim. Dan Tuhan yang menjadikan mawar dari kilauan api itu seketika menampakkan murka-Nya dengan meluluh-lantahkan istana kesombongan Nambrud. 

Bangunan yang sedang dalam pembangunan itu luluh-lantak dengan satu kalam illahi. Para raja agung, para ratu, dan punggawa Babil, serta siapa saja yang ada didalamnya lumat ditelan bumi. 

Namun, para pengemis yang mengais rezeki di depan pintu istana yang paling bawah, para tunawisma, dan para wanita lansia berbusana kumal yang dilarang memasuki istana, serta para tamu penyair yang tidak dikehendaki kehadirannya di istana, tak tersentuh petaka kiamat itu. 

Dihari istana Babil diruntuhkan, umat manusia tercerai-berai dan tampak nestapa di seluruh penjuru dunia. Manusia terdampar ke mana-mana dengan bahasa berbeda dalam kabilah dan bangsa-bangsa yang tidak sama. 

Dan hamba yang dikasihi-Nya, ayah dari orang-orang miskin dan perantau, Abul Adyaf Nabiyullah Ibrahim, menjadi masyhur dengan kedermawanannya. Ia mengumpulkan masyarakat dan menjamunya. 

Beliaulah yang mengumpulkan, menenangkan, memberi pencerahan, murah senyum, dan tidak pernah terbesit keputusasaan. 

Bersama sang istri yang sangat cantik, Sarah, beliau meninggalkan negara tempat Namrud berada. Sesampainya di daratan Ninawa, peraturan aneh raja setempat membuat mereka berdua khawatir. Keduanya mengaku sebagai saudara. 

Raja Abimelekh terpana oleh keindahan rupa Sarah. Namun, setiap berkeinginan hendak mendekati, seketika kedua tangan dan kakinya menjadi lumpuh, diikuti oleh rasa takut yang menjalari seluruh tubuh. 

Akhirnya, Nabi Ibrahim dan istrinya diminta untuk meninggalkan kota dengan diberi bekal yang banyak dan seorang pembantu yang paling rajin, Hajar. Mulailah Ibrahim mengarungi perjalanannya bertiga.

Taurat bagian ke-12 diawali dengan kata Lah Laha...
Ini adalah perintah suci yang bermakna "pergilah untuk dirimu sendiri".

Ya, ini mengenai kepergian Nabiyullah Ibrahim dari Harran. Setelah perjalanan ini, beliau akan mendapatkan keturunan yang akan meneruskan garis keturunannya yang suci: Bani Ibrahim yang terkenal ke seluruh penjuru dunia. 

Ismail lebih dulu menyapa dunia lewat kelahirannya dari rahim ibunda Hajar. Setelah itu, Ibunda Sarah yang sudah berusia lanjut, dengan limpahan anugerah dari Allah, tak lama kemudian menjadi Ibu. Anak yang lahir darinya diberi nama Ishak.

Nabi terakhir, Muhammad, adalah cucu yang lahir berabad-abad kemudian dari masa Ibunda Hajar yang ditinggalkan di tengah-tengah padang pasir.

Setelah Ibrahim dan Hajar meninggalkan al-Quds, keduanya harus menempuh perjalanan panjang mengarungi padang pasir. 

Di belakang mereka hanya ada satu teman perjalanan. Ia adalah "angin Sakinah" yang bertiup lembut membelai, seolah hendak mengungkapkan dukungannya kepada keluarga yang tunduk berserah diri itu. 

Setiap langkah yang diayunkan merupakan satu tataran terangkatnya derajat mereka karena mampu melewati ujian yang akan membuat keduanya dikenang sebagai hamba yang agung dalam sejarah.

Selama berhari-hari tanpa bicara mereka terus berjalan. Sang ayah berada didepan, sementara sang ibu berada persis dibelakangnya dengan seorang bayi mungil dalam pelukan. Mereka kemudian berhenti di suatu bukit kecil yang banyak reruntuhan. 

Tempat ini dinamakan Bait al-Atik, tempat yang dulu pernah ditinggali Adam, rumah paling tua di dunia yang saat itu dalam keadaan rusak dan reyot, dengan dinding hampir roboh karena hempasan angin dan berada sendirian di antara hamparan samudra padang pasir yang mengelilinginya. 

Nabi Ibrahim meninggalkan keduanya di tempat tersebut. Perintah Allah telah menghendaki yang demikian sebagai ujian sehingga Ibunda Hajar pun menjadi "Hajar" yang sesungguhnya. 

Hajar berarti batu
Ia berarti pula ruangan
buaian
dan juga: mata

Ibunda Hajar tidak melewati serangkain ujian ini hanya dengan duduk menanti. Ia mencari kafilah yang berlalu atau sumber air dengan berlari ke bukit Safa begitu melihat pepohonan yang rimbun. Namun, sesampainya di Safa, tidak ditemuinya hal tersebut. 

Kemudian ia kembali berlari dengan cepat menuruni bukit menuju bukit lain yang bernama Marwa. Demikian seterusnya hingga genap tujuh kali naik turun di antara bentangan dua kaki bukit Safa dan Marwa dengan terus berlari. Pada akhirnya, perjuangannya terjawab dengan air Zamzam yang terkumpul untuknya.

Tatkala tempat disekitar sumur mulai hijau merimbun, burung-burung mula berterbangan hinggap disana. Hal itu menjadi tanda adanya sumber air bagi para musafir. 

Dengan persyaratan menjunjung hak Hajar dan putranya, para pengembara yang lewat ditawari menetap disana. 

Kabilah Jurhum memutuskan untuk menetapkan dan kemudian menjadi saksi terbangunnya kota indah yang baru: "Bekah". Para pengembara kaum badui sering melafalkan huruf b berdekatan dengan huruf m sehingga kaum Jurhum kemudian lebih terbiasa menyebut Bekah dengan Mekah. 

Lalu, tibalah masa putra Ibunda Hajar, Ismail, yang juga seorang nabi, menikah dengan salah satu putri penduduk Mekah dari al-Quds.

Setelah berabad-abad kemudian, generasi yang berasal dari garis keturunan Jurhum, yaitu Qusay, yang juga menjadi pemimpin bagi kota Mekah, menjadikan garis keturunan terakhir yang terhubung dengan Nabi Ismail.

"Yang pertama lahir, yang mula terbangun, yang awal melakukan perjalanan" adalah kata-kata yang selalu diucapkan orang-orang kepadanya. Khuwaylid bin Asad dan Fatimah binti Zaidah juga tak henti-hentinya mengucapkan kata-kata tersebut untuk meluapkan rasa gembira saat membelai sang bayi yang baru lahir. 

Jabang bayi bernama Khadijah yang baru saja lahir adalah buah hati mereka yang pertama. Mereka berasal dari keluarga Hasyim yang bersambung dengan garis keturunan Qusay bin Kilab, Luay bin Galib: sebuah keluarga yang sangat terkenal di Mekah dengan jiwa ksatria dan dermawan. 

Seorang yang Bangun di awal waktu, sosok yang cekatan. Demikianlah Khadijah. 
Dari sang bunda, ia mewarisi jiwa yang lembut dan suka berderma. 
Lewat sang ayah, turun kepandaian berkuda, berhitung, dan aritmatika. Lebih dari itu, ia juga dengan mahir mewarisi kemampuan bertahan dalam terik dan badai padang pasir, keahlian untuk tetap bertahan sehingga dapat sampai tujuan.

Padang pasir merupakan medan kekalahan bagi siapa saja yang tidak sabar dalam mengarunginya. Siapa saja yang tidak ramah tindak-tanduknya, Padang Sahara tak akan membiarkan seorang pun hidup di atasnya. 

Bersabar dan berpuisi adalah dua warisan yang paling berharga dari sang ayah. "Bersabar bukan hanya sebatas bertahan terhadap segala rintangan. Sabar adalah tidak berbuat zalim meski mampu melakukannya". Demikian pepatah ini selalu melekat seperti anting-anting yang menempel di telinga Khadijah.

Saat orang-orang Mekah tidak menghendaki Abdul Muthalib sebagai pewaris kedua untuk membangun sumber kehidupan sumur Zamzam yang telah ditimbun pasir hingga ke permukaannya, ketika itulah para pemuka Mekah saling menghunuskan jemparing dan belatinya. 

Namun, ayahanda Khadijah, berhasil membendung amarah mereka dengan kilau belati yang terhunus dari puisinya yang terucap. "Keberanian bukanlah berarti tidak takut, Keberanian adalah sabar menanti pada tempat yang semestinya meski dalam keadaan takut sekalipun."

Saat Khadijah lahir, Mekah adalah bunda dari semua kota. Baik bagi agama Yahudi, Nasrani, penyembah api, pagan, maupun Hanafi, Mekah seperti batu akik ditengah-tengah  cincin jalur perdagangan yang dilalui jalur perjalanan India, Eropa, dan Laut Mediterania. Karena itulah Mekah juga sering disebut "kota di tengah-tengah dunia". 

Keempat saudara Wanita Khadijah: Hala, Asma (Halidah), Hindun, dan Rukayah, serta ketiga saudara laki-lakinya yang bernama Naufal, Awam, dan Hizam juga tumbuh menjadi dewasa dalam keadaan yang sama sebagai anak-anak yang berpengetahuan dan berjiwa mulia. 

Anak-anak ini selalu menyaksikan ayahanda mereka yang sepenuhnya membela keadilan dan memperjuangkan hak-hak meraka yang teraniaya. Selain itu, dalam keluarga Khuwaylid tidak pernah ada keyakinan terhadap berhala, sebagaimana yang ada pada kaum badui. Mereka adalah keluarga yang terkenal dengan akhlak yang mulia, pemberani, dan setia menepati janji. 

Lebih dari itu, mereka tidak saja dihormati bangsa Quraisy, tapi juga yang paling penting oleh para raja di Habasyah, Yaman, Ajemistan; seperti Raja Kisra yang juga menaruh hormat kapada mereka. Bahkan dalam hubungan diplomatik, meraka dipandang sebagai utusan keluarga.

Sejak masa kecil Khadijah, Raja Yaman Seyf bin Ziyazan pada bulan-bulan musim panas sering tinggal di rumah peristirahatan yang berada dalam pengelolaan Khuwaylid dan keluarganya. Dalam pandangan Khadijah dan keluarganya, Yaman merupakan tempat yang tidak begitu panas, bercurah hujan cukup, dan banyak hutan hijau rimbun yang melambangkan surga bila dibandingkan dengan mekah. 

Kepergian Khuwaylid dan keluarganya ke Yaman terjadi sekitar dua tahun setelah peristiwa "Serangan Pasukan Gajah". Sebelumnya, baik bagi seluruh kaum Mekah maupun Khadijah, Yaman selalu tampak mengerikan terkait dengan peristiwa serangan itu. 

Yaman adalah negara bagian Habasyah (Etiopia) dibawah kepemimpinan Raja Nejasi Ashame. Jarak yang cukup jauh antara Habasyah dan Yaman dimanfaatkan oleh Abrahah, seorang wali yang serakah. Dirinya yang merasa memiliki kekuatan dalam berpolitik mulai tidak pernah lagi mendengarkan nasihat dari perdana menteri atau perintah dari negara pusatnya, Imperium Habasyah. 

Abrahah mulai mengincar Mekah yang merupakan kota persimpangan jalur perdagangan. Untuk menggaet para saudagar dan para peziarah yang selama ini pergi ke Mekah untuk beribadah, Abrahah membangun sebuah tempat ibadah megah yang diberi nama Qullays di pusat kota Sana'a. 

Sayang, Sana'a tidak bisa menyaingi Mekah dan Qullays tidak bisa menyaingi Bait al-Atik. Yang lebih parah, muncul berita bahwa seorang Badui dari Mekah telah buang air besar di tengah-tengah tempat ibadah di dalam Qullays.

Abrahah yang marah mendengarnya, bersumpah akan menghancurkan Mekah dan Bait al-Atik yang didalamnya terdapat Kakbah. Ia segera membuat pasukan yang turÅŸusun atas tunggangan gajah-gajah paling beringas dan kuda-kuda paling lincah berangkat berduyun-duyun menuju Mekah.

Perdana menteri Yaman mengirimkan pasukan yang dipimpin oleh Zumafar untuk menghalang-halangi agresi pasukan Abrahah. Namun, pasukan tersebut ditumpas ditengah-tengah perjalanan. Pasukan Abrahah terus melaju, memorak-porandakan semua daerah yang dilaluinya hingga akhirnya sampai di Mekah. 

Pasukan Abrahah mendirikan tenda-tenda di al-Mugammas, di sekitar Mina. Selain membuat perapian, mereka juga merampas ternak milik para penduduk Mekah. 

Kemudian, Abrahah mengutus Hunathah al-Himyariy untuk menemui para petinggi Mekah, salah satunya Khuwaylid dan Abdul Muthalib, dan memberikan penawaran untuk meninggalkan ibadah tawaf (mengelilingi kakbah) supaya tetap dibiarkan hidup. 

Para petinggi Mekah berkumpul di rumah Khuwaylid. Mereka saling beradu argumen. Sebagian dari mereka ada yang langsung ingin menyerang pasukan Abrahah dengan semua kuda yang dimilikinya sembari melantunkan syair kepahlawanan satu sama lain. 

Sebagian lebih memilih bertindak penuh dengan pertimbangan. Abdul Muthalib memberikan pendapat untuk memitigasi kaum Ibu, anak dan lanjut usia ke pegunungan.

Para petinggi Mekah mulai meninggalkan rumah Khuwaylid satu demi satu. Abdul Muthalib lebih memilih tetap tinggal di rumah Khuwaylid, sementara anak-anak dan para Wanita dibawa ke pegunungan yang terletak di Barat kota Mekah dengan dipimpin oleh Khadijah yang saat itu berusa 15 tahun. 

Saat itu, Abdul Muthalib berkata dengan lantang, "Kita jangan berperang melawan pasukan ini. Disamping kekuatan yang tidak cukup, di sana ada Baitul Atik, Kakbah, yatu rumahnya Allah. Hanya Allah sendiri yang akan menjaga rumah-Nya, Tanah Haram ini."

Saat Khuwaylid dan Abdul Muthalib ingin melihat harta benda dan peternakan yang unta yang dijarah di sekitar Mina, Abrahah berkata, "Pada awalnya aku menaruh segan terhadap keberanian kalian berdua. Namun, ternyata kalian sekarang bukan ingin melindungi Kakbah, tapi justru malah mengurusi harta" 

Abdul muthalib memberikan jawaban kepada Abrahah. Sebuah jawaban yang sangat terkenal dan dikenang setiap mulut, "Aku hanyalah sebatas pemilik unta, sementara pemilik kakbah adalah Dia. Dia sendirilah tentu yang akan menjaganya."

Abrahah menghargai jawaban ini seraya mengembalikan unta-unta milik kedua petinggi Mekah tersebut.

Disaat pagi menjelang, para penduduk Mekah dikagetkan dengan gemuruh suara terompet dan genderang perang yang dibunyikan dengan segala amarahnya. Namun, Allah membinasakan Abrahah dan bala tentara dengan mengirimkan burung-burung ababil. 

Setelah kemudian tersebut, Raja Yaman mengatakan acara jamuan makan malam. Beberapa utusan Mekah hadir, termasuk Khuwaylid dan Abdul Muthalib. 

Pada acara itu, sang raja menceritakan ramalan dari kitab mantera sihir bahwa pada masa-masa ini akan lahir seorang Anak di daerah sekitar Tihamah. 

Pada punggung anak itu, diantara kedua tulang iga, ada tanda Khusus yang menunjukkan bahwa dirinya adalah utusan, sebagai Khatimul Anbiya

Anak tersebut akan tumbuh sebagai anak yatim. Dia akan tumbuh bersama kakeknya, dan setelah itu akan dilindungi pamannya. Dia akan mengajarkan masyarakat menyembah kapada Allah yang Esa dan Tunggal serta mengajak umatnya untuk meninggalkan kekufuran dan kembali kapada agama Tauhid. 

Raja Zeyazan juga menambahkan, di saat Anak ini lahir, para petinggi kerajaaan Yaman akan tunduk kepada raja terakhir ini. 

Ketika Abdul Muthalib mengatakan kalau sang Anak yang dimaksud tersebut bisa jadi cucunya sendiri, sang raja menjadi semakin kaget, seraya meminta agar cerita tersebut dirahasiakan untuk sementara waktu demi keselamatan Anak itu. 

Saat kembali ke Mekah, rombongan tersebut dibekali berbagai macam hadiah. Sejak saat itulah rumah peristirahatan, yang pada waktu itu masih ditempati Hamla, cucu paman Khadijah, dihibahkan kepada keluarga Khuwaylid.

Saat Khadijah tumbuh dewasa bagaikan indah gemulainya pohon palma, banyak sekali orang yang ingin melamarnya untuk mendapatkan berkah dari keindahan budi pekertinya.

Pernikahan pertamanya terjadi saat dirinya masih berusia muda. Ia menikah dengan Abu Hala bin Zurara, seorang saudagar bangsawan Mekah yang terkenal berakhlak mulia. 

Pernikahan ini menciptakan rumah tangga yang bahagia. Lahir pula dua anak bernama Hala dan Hindun. Khadijah tidak pernah mengizinkan anaknya dititipkan kepada pembantu yang menjadi adat di masa itu. Ia mengasuh dan mendidik sendiri kedua putranya.

Hatinya selalu berdesir saat memikirkan anak-anaknya, apalagi saat suaminya menderita sakit sekembalinya dari Syam. Sang ibunda pun semakin pedih memikirkan nasib kedua anaknya. 

Dan terjadilah apa yang di khawatirkannya. Saudagar bangsawan bernama itu pergi ke alam baka dengan meninggalkan seorang istri dan dua anak. Sang suami berwasiat agar anaknya jangan diasuh orang lain. Selain itu masalah perdagangan harus diteruskan oleh Khadijah sendiri.

Meski teramat pedih, Khadijah tetap selalu mensyukuri pernikahannya. Dengan wasiat sang suami, Khadijah memulai kehidupan baru untuk berupaya keluarlah dari medan api ini. 

Ia akan memerhatikan anak-anak dan pekerjaannya dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Inilah tekad yang akan mengantarkannya menjadi ibunda kota Mekah. Saudagar Wanita yang Kuat dan kaya-raya dalam waktu singkat.

Namun, pada usianya yang baru menginjak dua puluhan tahun, tentu saja kehidupan tidaklah sebatas kesuksesan dan kekayaan. Terlebih dalam pemahaman anak-anaknya. 

Mereka juga sangat memerlukan figur seorang ayah yang kuat, sebagaimana kebutuhan akan seorang ibu. Setelah bermusyawarah dengan keluarga dan kerabatnya, ia memutuskan kembali membina rumah tanga dengan seorang bangsawan terkenal bernama Atik bin Aziz.

Meskipun pada dua tahun awal terbina keluarga yang bahagia dan bahkan dapat dikarunai seorang putri. Namun, Atik ternyata tipe laki-laki Mekah yang keras. Kekerasannya tidak hanya ditunjukkan kepada budak dan pekerjanya, melainkan juga kepada anggota keluarga. Sering kali saat dirinya mabuk, anak-anak tidak luput dari cercaan dan bentakan. 

Setiap kali Atik kembali ke rumah, Khadijah menyembunyikan anak-anaknya ke kamar belakang. Keadaan seperti ini semakin menjadi-jadi, seakan mengambil napas pun sudah dipermasalahkan seolah dirinya sudah menjadi beban bagi suaminya. 

Bukan hanya anaknya yang laki-laki saja yang menjadi sasaran, bayi wanitanya pun terkena dampaknya. Jika sampai anaknya menangis, dipastikan suasana rumah seperti kiamat. Seisi rumah pun pecah dan berantakan. Namun, apa pun yang dilakukannya tetap tidak pernah dapat menindas wanita mulia seperti Khadijah. Tak pernah ia dapat menemukan cara untuk mengekangnya. 

Seandainya sekali saja Khadijah mengikuti sikapnya untuk menjawab kata-katanya, mungkin hal itu akan membuat dirinya puas. Namun Khadijah tetap berdiam diri. Diam seribu kata, tanpa pernah sekalipun berucap seraya menyendiri di kamar.  

Tak pernah sekalipun dirinya menghadiri jamuan pesta minuman keras di taman depan halaman rumahnya. Seperti apa pun sikap sang suami yang melampaui batas dalam pemuasan kesenangan dan kenyamanan. Khadijah tetap bersikap dewasa. Ia tetap diam dan diam...

"Bukan banyak bicara, melainkan diamlah yang ditakuti dari semua Wanita!"
Dalam diam seorang Wanita terdapat langkah aktif bagaikan detak butir jam pasir. Setiap butir pasir laksana guru yang bijaksana terhadap setiap menit yang pedih, seraya menuturkan Kalimat untuk tetap setia. 

Diam, bagi seorang wanita, bukan lah tanpa arti. Sebaliknya, ia merupakan aksi karena sebentar lagi akan unjuk bicara dan memulai sebuah perubahan.

"Cukup!" kata Khadijah pada suatu pagi tanpa sedikit marah, tanpa berteriak. "Aku akan pergi sekarang..."
Hanya sebatas itu saja.

Bersama dengan dua putra dan bayinya, serta ditemani Maisaroh sang pelayan, ia akan pergi meninggalkan rumah Atik tanpa menimbulkan keretakan, meski setitik jarum.

Kepergiannya adalah cara bicara Khadijah.
Bagi Atik, cara seperti itu telah membuatnya sesak napas. Dadanya bagai tertindih gunung besar.

Cerainya seorang wanita dari suami sama sekali tidak mungkin terjadi. Seluruh Mekah tentu akan guncang sekeras-kerasnya. 

Khadijah binti Khuwaylid dengan dua hal warisan mendiang sang ayah, bangun di awal waktu dań teguh dalam kesabaran yang telah menjadi pijakannya, membuat seluruh Mekah terheran-heran sekaligus kagum dengan tindakannya.

Tak ada satu kata pun yang akan menyalahkannya.
Ia tak pernah bardebat dengan siapapun.
Ia cukup menyiapkan anak-anaknya seraya pergi.

***

"Setiap enam tahun sekali nasib manusia akan berganti"
Begitulah pepatah wanita Arab berbunyi, yang telah membuat Khadijah tersenyum saat merenungkannya.

Senang sekali dirinya dengan rumah warisan mendiang ayahandanya, apalagi dengan balkon di lantai dua yang terhubungkan dengan tangga kayu untuk naik ke sana.

Khadijah tertegun di keheningan malam. Seusai semua urusannya, setelah menidurkan anak-anak, sehabis catatan akutansi hari itu selesai ditulis, bermulalah saat-saatnya sendiri, saat-saat sunyi yang sangat ia sukai.

Langit malam sungguh terang dengan sinar cahaya rembulan berhias kerlap-kerlip bintang. Diatas matras buatan India yang dihamparkan di teras, Khadijah merebahkan badan diakhir-akhir waktu malam. Kantuk dan kelelahan seharian dengan lembut seolah memijatnya dalam tidur lelap.

Khadijah binti Khuwaylid sedikit tidur. Nasihat ayahandanya telah membuatnya enggan terhadap kantuk terutama pada saat-saat ini. 

Sebagaimana ia paham benar bahwa rajin adalah sıfat mulia kaum Ibu, sementara kantuk akan mengulangi usianya. Kemuliaan Wanita terlihat pada bangun awalnya. Demikian petuah ratu padang pasir.

Meski para generasi pendahulu sering mengatakan bahwa tidur adalah saudaranya kematian, embusan lembut ajakannya menyerupai belaian lembut bidadari bagi para kekasihnya. 

Dalam catatan almanak padang pasir, kebanyakan orang yang jatuh cinta, yang punya banyak utang, dan yang sedang menderita selalu berlari mengejar tidur.

Kantuk bagi Khadijah adalah teman wanita yang sudah cukup usia untuk berbagi rahasia wanita. Apalagi, pada masa-masa ini, bagi wanita yang telah mencapai usia 30 tahun, menapaki apa yang dilihatnya dalam mimpi merupakan penghormatan tersendiri. 

Bersama saudara kematian, apalagi jika ia seorang wanita, mengapa tidak diajaknya turut bicara? Terlebih tempat-tempat tersembunyi di balik gumpalan awan mimpi tidak hanya menyimpan cerita-cerita kenangan semasa kecil, tapi juga akan memberikan peta perjalanan menuju kehidupan tanpa akhir yang membawanya mengunjungi koridor-koridor yang akan mengantarkannya pada perjalanan baru. 

"Saat masih muda, seorang manusia tidak memiliki banyak waktu untuk memandangi langit," kata Khadijah begitu mendalam. 

Bagi seorang wanita yang telah merasakan keindahan kehidupan ini, minimal sebanyak kepedihan dan ketakutannya, tentu saja ia akan menyarankan kepada generasi muda setelahnya untuk memberikan porsi tersendiri dalam memandangi dan merenungi langit.

Khadijah tak mendamba perhiasan-perhiasan indah yang dibawa para saudagar yang baru saja kembali dari berjualan di negeri jauh. Bukan cincin permata, kalung berlian dan mutiara, baju-baju lembut dari burung-burung tuti, serta rempah-rempah berkhasiat dan penyedap seribu rasa yang dibawa dari dataran india. 

Bukan pula kuda arab yang paling cerdik, bukan pula biri-biri dan kambing pilihan atau rerimbunan kebun kurma yang memenuhi Padang Hudaibiyah. Pandangan putri Khuwaylid jauh melebihi harta benda yang dimilikinya.

Selama beberapa malam, putri Khuwaylid itu selalu menjumpai mimpi yang sama. Ia dapati dirinya memandangi tetesan air yang jatuh ke tengah-tengah samudra. Entah bagaimana, tiba-tiba munculah wujud seperti Aladin dari sana. 

Ia memberi isyarat kepada Khadijah untuk diajak pergi ke statu tempat. Setelah itulah perjalanan panjang bersamanya dimulai. Ia di depan, sementara Khadijah di belakangnya. Bersamanya, Khadijah terus berlari dan berlari. 

Tanpa disadari, ia bahkan mampu melewati lautan api dengan melompat bagai sambaran kilat. Kilatan-kilatan kecepatan itu memercikan cahaya panjang, menjulang bahkan sampai ke rasi bintang Banatunnaas

Demikianlah, setiap benda yang terkena percikannya, dalam sekejap bermandikan cahaya. Dari sanalah tampak gambaran berbagai kota dan negara. Namun, setelah itu keadaan menjadi dingin dalam seketika. Setiap tempat yang ia pijak terasa dingin bagai aliran sungai di musim salju. 

Disanalah tempat mengalirnya berbagai Anak sungai menuju suatu muara yang penuh dengan ikan. Disana juga terdapat rimbunan tumbuhan dengan warna-warni bunga bermekaran daÅ„ buah-buahan yang menyegarkan. Entah mengapa, meski tidak pernah bisa berenang, dengan tenang ia bisa melewati aliran sungai yang seperti telaga itu. 

Mimpi ini dialaminya selama tiga hari berturut-turut, dihari ketiga ia menyadari kalau dirinya telah berada di Pulau Salam yang pernah disebut-sebut oleh para penyair dalam kitab-kitab lama. 

Pulau Salam di penuhi pepohonan anam dibagian tengah. Di sanalah ia mendapati sebuah istana yang sangat megah. Atapnya terbuat dari perak dan tembaga. Dindingnya tercipta dari mutiara, sementara tiangnya dari zamrud. 

Saat itulah Khadijah sadar mengenai alasan sosok itu sangat ingin membawanya ketempat tersebut. Khadijah semakin paham dengan makna yang tersirat dari mimpinya. 

Kepulauan Salam mengatakan kepadanya bahwa ini semua adalah kisah cinta. Kepulauan itu kosong tanpa penghuni. Sama halnya dengan hati Khadijah.

Keesokan harinya, ada tamu yang datang dari Kinanah. Hati Khadijah terasa sangat senang berbalut kesedihan dalam seketika. Ia mendapati satu rombongan kaum hawa yang datang dari keluarga Kinanah sedang menunggunya. 

Khadijah lalu menyalami daÅ„ mameluki mereka satu per satu. Saat mendapati seseorang bernama Asma di antara mereka, sahabat dekat yang beberapa waktu telah kehilangan ibundanya, dari hati Khadijah terluap rasa berkabung. Air mata pun mengalir. Ia tak kuasa menahan tangis. 

Bagi wanita, setua dan sekuat apa pun, kehilangan seorang ibu adalah sebuah hal yang teramat menyedihkan. Lima tahun yang lalu, Khadijah berturut-turut kehilangan ayahanda daÅ„ ibundanya. Hal itulah yang membuat dirinya memeluk Asma erat-erat. 

Kaum Ibu bani Kinanah memang berjiwa lembut. Mereka adalah kaum yang saat perang Fijar sangat terkenal karena kehilangan anak cucu dan suaminya. Dalam peperangan itu, Bani Kinanah ikut berperang melawan pasukan Hawazin. 

Demikianlah, para tamu itu kebanyakan adalah mereka yang kehilangan suami karena ikut berperang membela keluarga Khuwaylid. Masing-masing dari mereka juga mengenang putra-putra Khuwaylid yang wafat dalam peperangan saat memandangi wajah Ibunda Khadijah. 

Demikian pula saat Khadijah memandangi wajah meraka, teringat olehnya tempat paman mereka, putra-putra mereka, seperti Tuwaylib, Naufal, Habib, dan saudara laki-lakinya, Hizam.

Ah, perang.
Sungguh, para wanitalah yang paling dibuat sedih olehnya.

Peperangan Fijar yang berlangsung secara silih bergantí telah membuat Khadijah kehilangan paman-pamannya, ayahandanya, dan saudaranya. Ayahanda Khadijah meninggal dalam pertempuran Fijar yang kedua. Saat itu, Bani Kinanah bersekutu dengan Mekah untuk berperang melawan Bani Aylan. 

Sejak masa-masa pertempuran itulah ibunya membawa pulang anak-anak dalam keadaan tanpa ayahanda. Khadijah melewati hari-hari penuh penderitaan itu hingga ke hari ini. 

Saat bunya menemui kesedihan yang datang silih berganti dan membuatnya tidak kuat menahan kepedihan itu, rumah Khuwaylid telah mengantarkan Khadijah menjadi Ibu dan juga Ayah bagi anak-anaknya.

Kini, para tamu yang juga membawa keluarga ini menjadi sangat bersuka cita seringa kesenangan mereka itu menjadikan suasana ikut bergembira pula. 

Bahkan, dalam waktu bersamaan, semua orang yang telah wafat pun seolah memenuhi seisi rumah dalam suasana riang dan penuh kegembiraan. Dalam keadaan itulah, sekali lagi, Khadijah memeluk Asma.

"Seolah ayah, ibu, dan saudaraku yang ksatria, Hizam, datan mengunjungi rumah ini"

Kaum Wanita dari Bani Kinanah tinggal di rumah yang senang menjamu tamu ini selama satu minggu. Disini meraka menyempatkan diri untuk saling mengenang masa lalu, disamping juga untuk menyampaikan keinginan mereka memperkenalkan Khadijah.

Tentu saja Khadijah tahu kalau mereka mencintai dirinya seperti Anak sendiri. 
Terhadap kebaikan mereka, Khadijah tidak lupa menghormatinya dengan memberikan bermacam-macam hadiah tanpa mengurangi besarnya kenangan. 

Persahabatan bukanlah suatu hal yang bisa dibeli maupun digantikan, meski dengan bekerja. Dalam pandangannya, para Wanita sahabat sejatinya itu adalah warisan orang tua yang layak untuk dihormati dan dimuliakan.

Ia tersadar dari mimpinya dengan tiba-tiba. Dadanya penuh sesak. Napasanya memburu.

Mimpi yang dialami Ibu muda itu sebenarnya merupakan perjalanan ke alam angkasa. Mulanya, ia mendapati bintang-bintang yang bersinar bagaikan kilatan perhiasan di atas langit yang biru kelam. 

Ia menyaksikan gugusan planet-planet diangkasa. Kemudian, ia mendapati mentari dalam lingkaran cahayanya. Ia termenung di sana. Tertegun memandangi indahnya pancaran cahaya merasuk ke dalam tubuh menerangi hatinya.

Mimpi yang dilihatnya telah menjadikan jiwanya merasakan sebuah perjumpaan. Bahkan, keindahan rasa perjumpaan itu meluap-luap setelah sekian lama menanti, membuai hatinya kedalam luapan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan sebelumnya.

Ia merasakan dirinya seolah sedang berenang dalam ruang hampa udara yang terasa hangat. Tubuhnya dibasahi siraman aroma dari kuncup bunga-bungaan dan daun wangi-wangian. 

Cangkir-cangkir terisi penuh minuman yang paling disukainya telah tersedia disampingnya. Di beberapa mangkuk terdapat kurma, sementara di tempat saji lain tersedia kismis, daun mint, dan segenggam biji gandum. 

Warna-warni hidangan minuman pun memberikan aroma menyengat yang khas, setiap jenisnya tersaji dalam cangkir-cangkir zamrud. Belum juga tercicipi oleh lidah, rasanya sudah dapat dinikmati dalam angan-angan.

Setiap kali hati putri Khuwaylid melassa terhimpit, ia akan segera berlari ke Kakbah untuk menumpahkan segala isi perasaan kupada Rabbnya. 

Dan kali ini, ia juga ingin segera sampai di Kakbah untuk mengutarakan isi hatinya. Ingin sekali dirinya dapat segera melintasi Pasar Ukaz yang membatasi rumahnya dań Baitullah.

Mimpi yang dijumpainya pagi ini telah membuat gundah-gulana hatinya. Jika dilihat dari luar, kehidupannya memang tampak sempurna. 

Meski demikian, ia tidak kunjung jua dapat memecahkan kekosongan hati yang menurutnya sulit untuk digambarkan. Ia tidak dapat berbagi deritanya dengan siapapun. 

Ia tahu, kalau sampai dirinya berbagi perasaan dengan orang lain, sudah pasti pembicaraan itu akan sampai pada masalah kejandaannya. Hal inilah yang membuatnya enggan berbicara kepada orang lain. Dalam pandangannya, belum ada laki-laki yang cocok.

Segera Khadijah masuk kedalam pasar melalui pintu yang biasa dilalui para wisatawan. Ia berjumpa dengan seorang turis tua yang sedang mengamat-amati selembar peta tua yang terbuat dari sutra, yang ia yakini sebagai petunjuk harta karun. 

Orang tua itu membaca puisi dengan suara seperti orang menangis. Ia menuturkan kalau dirinya adalah seorang pemilik pemandian umum yang kaya raya. Namun, karena ia tidak memedulikan seorang pengemis yang menghampiri tempat usahanya, dirinya terkutuk menjadi miskin seperti pengemis itu.

Berangsur-angsur seluruh hartanya terjual habis untuk membiayai keinginannya menemukan harta karun. Sayang, semuanya hanya dusta belaka. Kini, ia pun hanya memiliki selembar peta tua yang ada ditangannya. 

Seandainya saja tidak ada orang yang mau memberi peta tua itu, sebentar lagi ia tidak akan mampu membeli makanan sehingga tak lama lagi dirinya akan mati kelaparan. Mendapati keadaan seperti itu, Khadijah merasa iba. 

Segera ia mengambil beberapa keping uang emas dari sakunya untuk diberikan kepadanya seraya terus melanjutkan langkahnya. 

Saat memberikan beberapa keping uang itulah dalam hati Khadijah terlintas untuk berlindung dari kejinya kecanduan atas sesuatu. Semoga Allah menghindarkan hamba-Nya dari kepedihan menjadi budak karena tergila-gila atau kecanduan pada sesuatu.

Pasar ini terlihat sepi dibandingkan pasar tertutup lainnya. Namun, pasar ini berada dalam monopoli para saudagar bangsawan Mekah. 

Setiap hari, mereka melakukan transaksi penjualan surat-surat berharga. Biro-biro pasar bebas maupun kantor-kantor tempat para delegasi perdagangan juga ada disana. 

Khadijah melewati pasar itu dengan sangat hati-hati. Berjalan cepat dan menutup wajahnya dengan syal, sesegera mungkin dirinya berharap bisa meninggalkan tempat itu tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia tidak ingin mendengar pembicaraan para saudagar bangsawan yang ingin memperistrinya.

Setiap hari, pasar Ukaz dipenuhi pemandangan yang begitu pedih. Ditempat itu berkumpul para bangsawan dengan budaknya. Mereka dijajarkan untuk dipertontonkan kepada para calon pembeli. 

Tidak jarang mereka dipaksa untuk menampilkan berbagai kemampuan dengan cara dicambuk berkali-kali. Saat itu, terlihat seorang budak wanita yang hampir telanjang. Seorang majikan mendekatinya dengan tertawa puas. 

Saat hendak melepas pakaian budak itu yang hanya tinggal beberapa lembar, entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebilah belati menusuknya bertubi-tubi. Majikan itu pun jatuh seketika. Erang kesakitan muncul dari mulutnya. 

Anehnya, tidak ada orang yang berniat menolong sang majikan. Semua orang terlihat tidak begitu peduli pada kejadian seperti itu. 

Bahkan, dalam situasi seperti ini pun masih terdengar suara lantang seorang wanita lanjut usia yang tidak hentinya berkata-kata kotor karena seseorang telah mencuri ayamnya yang hendak ia jual di pasar hewan.

Belum lagi ada seorang penjual karpet dari ajam yang dipukuli segerombolan orang yang ingin merampas barang dagangannya. Pedagang karpet itu kemudian berteriak-teriak sekeras-kerasnya sambil mengucapkan kata-kata sumpah agar diampuni oleh mereka. 

Dan masih di sekitar pasar Ukaz, seorang laki-laki yang dikenali sebagai kakak budak Wanita dari Thaif didakwa sebagai orang yang telah menikam majikan yang hendak berbuat nista kepada adiknya. 

Dalam seketika, ditempat itu pula hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Dujayah, sang budak wanita, hanya bisa menangis, meratapi nasib kakaknya yang meninggal ditiang gantungan. 

Mendapati keadaan seperti itu, hati Khadijah meronta. Segera ia keluarkan satu kantong uang perak untuk menebus gadis itu. Ia melepaskan syal yang digunakan untuk menutupi wajahnya dan diberikan kepada Dujayah. Kemudian, segera ia bawa Dujayah keluar dari pasar itu. 

Khadijah pun segera meninggalkan pasar budak itu. Ia langsung pergi menuju Bait al-Atik yang tidak begitu jauh darınya. Kali ini, sussana begitu berbeda dengan pemandangan yang ia alami sebelumnya. 

Disana terdapat para tabib jalanan yang sedang menunggu para pasien. Bau obat-obatan menyengat tercium oleh setiap hidung yang melintasinya. 

Disana juga terdapat para ahli nujum dan tak luput pula para peramal yang duduk berjajar menawarkan pelayanan kepada setiap orang yang mengunjunginya. 

Syukurlah, beberapa langkah lagi Khadijah telah sampai ke pintu gerbang al-Hayat. Tepat dibawah pintu gerbang itulah tampak peminta-minta yang sedang mengadu nasib. 

Kebanyakan dari meraka memiliki kekurangan fisik. Ada pula orang-orang miskin yang sangat menderita kehidupannya. Setiap kali mendapatkan uluran tangan belas kasih nya, terucap dari mulut mereka doa-doa yang dipanjatkan untuk sang ibunda kota Mekah itu. 

Ia juga tidak lupa memerhatikan seorang nenek yang sudah lanjut usia, yang gemetaran tubuhnya karena cuaca dingin yang merasuk ke sekujur tubuhnya dari kaki yang menganga tanpa alas. 

Ternyata, nenek itu pernah bersamanya saat masih berusia lima belas tahun, ketika ia dan ibu susunya mengamankan diri dari serangan tentara Gajah. Ia adalah seorang peramal di masa itu. 

"Tuan Putri", sapanya kepada Khadijah dengan suara merintih. "Mimpi yang anda jumpai hanya akan anda ceritakan kepada orang-orang yang bersih keyakinannya. Mereka yang terbuka mata hatinya dan tidak dikotori gemerlap tipu daya dunia. 

Yang kata-kata bijaknya tidak dijual dengan imbalan harta dunia. Yang setia menepati janjinya. Namun, lihatlah keadaan diri kami ini. Kini, kata-kata bijak kami pun telah digunakan sebagai padang mengais rezeki sehingga kami pun tidak henti-hentinya merana di belahan bumi seperti ini."

Tersentak hati Khadijah dalam seketika. Bagaimana nenek ini bisa tahu mimpi yang dialaminya pada pagi ini? Bahkan, ia juga seolah menjelaskan ciri-ciri seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk mengadukan mimpi itu. Benar, seolah dirinya telah menjelaskan sosok pamannya, Waraqah, yang ditujunya. 

Sudah bertahun-tahun Waraqah dengan matanya yang buta tidak pernah memberi sedikit pun arti penting pada gemerlapnya dunia ini. Ia juga tidak seperti orang-orang Mekah yang menyembah berhala. Ia relakan segalanya untuk tetap berada dalam keyakinannya, beriman akan adanya Tuhan Yang Maha Esa. 

Khadijah langsung mendekat kepada nenek itu seraya menuntunnya untuk berdiri. Kemudian disalaminya dengan tangan kanan seraya memberikan beberapa keping uang emas kepadanya.

Bait al-Atik adalah tempat yang memegang arti penting kehidupan sepanjang sejarah manusia. Disanalah, manusia pertama, Adam, bertawaf memanjatkan doa-doa pertobatan. 

Sang Maha Pengampun menerima tobatnya. Dengan pemahaman dan perenungan seperti inilah Khadijah memasuki Kakbah seraya berucap salam kepada Nabi dan juga manusia pertama. 

Tiada henti-hentinya Khadijah memanjatkan doa disana. Berucap dzikir dengan luapan permohonan belas kasih kepada Tuannya. 

Pedih hatinya meratapi jiwanya yang penuh rumpang, penuh penyesalan, dan berharap akan sebuah pertobatan. Sungguh, hatinya seakan telah gersang seperti sungai yang mengering di musim kemarau.

Madd dan Jazir.
Datang dan Pergi.
Membungbung tinggi dan kemudian turun kembali.

Demikian ia tumpahkan isi hatinya dalam bahasa yang mampu diungkapkan maupun dalam kata-kata yang tidak mungkin terucap oleh mulutnya. Bagaikan lentera yang menyala remang, pasang surut oleh tiupan angin, perlahan ia mulai Masuk ke Tanah Haram untuk kemudian menuju Kakbah. 

Entah mengapa, untuk kali ini, setiap satu langkah memasuki Tanah Haram, hatinya terasa berdebar-debar, seolah-olah baru kali itu memasukinya. Jiwanya tersentak oleh perasaan akan perjumpaan dengan sang Kekasih.

Meski demikian, Khadijah merasakan senang di dalam hatinya karena memiliki tempat untuk mengadu. "Ya, Rabb... sungguh betapa mulia dan dermawannya diri-Mu," ucapnya.
"Sungguh senang sekali hatiku telah Engkau perkenankan memasuki rumah-Mu. Betapa berarti sekali pintu ini bagiku. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau tidak akan pernah menutup pintu ini untukku. Pintu yang akan membuat hati mereka bermekaran cinta-Mu sehingga mereka tidak akan saling bermusuhan satu sama lain dan akan memberikan berbagai macam persembahan yang terbaik untuk-Mu.

Seandainya cinta di dunia ini sudah tiada sama sekali, jangan pernah Engkau biarkan pintu ini tertutup. Aku tahu, rumah-Mu ini ibarat setetes air dari hamparan samurai dan lautan abadinya rahmat-Mu. Dan kini, aku kembali lagi bersimpuh, menghamba di hadapan-Mu, ya Rabb! 

Sungguh, berkenanlah Engkau mengampuni kesalahan-kesalahanku, berkenanlah Engkau menyelimuti, melindungi, dan mencintai hamba-Mu ini. Sungguh, diri ini sangat butuh perlindungan, cinta, dan belas kasih-Mu, serindu diriku untuk selalu mendekatkan diri dalam pertobatanku kepada-Mu. 

Duhai Allah, aku panjatkan pengaduan ini kepada-Mu. Aku mohon dengarkanlah isi hatiku. Tunjukkanlah jalan hidup ini ke arah yang menuju kepada-Mu. Limpahkanlah jalan hidup ini ke arah yang menuju kepada-Mu. Limpahkanlah kebaikan dan keindahan, baik di dunia ini maupun di alam setelah kehidupanku."

Berlinanglah air mata Khadijah. Membara isi hatinya bagaikan air Zamzam yang memancar dari panasnya padang pasir.  

"Ya Tuhan ku, begitu sedikit sekali pengetahuanku untuk meniti jalan-Mu. Bahkan, dalam pengetahuanku yang sedikit itupun seringkali aku ragu. Karena itu, tunjukilah jalan yang benar, yang akan aku jalani untuk menuju kepada-Mu."

Sesaat Khadijah memerhatikan orang-orang yang ada di kanan-kirinya. Tertegun dirinya melihat kerumunan orang yang juga memanjatkan doa seperti yang ia mohonkan. 

"Semua orang datang ke sini dengan cermin hati mereka sendiri." Setiap hari mereka pasti memiliki permasalahan sendiri-sendiri yang hendak diutarakan kepada Tuhannya. 

Khadijah telah menghamparkan seluruh isi hati kepada Rabb-nya. Tidak sabar lagi dirinya untuk segera mendapatkan jawaban dari kegundahan yang ia rasakan selama ini, seperti tidak sabarnya siang yang menantikan malam. 

Namun, khadijah juga tahu bahwa setiap gelap malam pasti dinantikan cerahnya cahaya di pagi hari. Inilah yang ia pinta dari Tuhannya. Meminta agar mentari yang ia jumpai dalam mimpinya dipagi ini terbit didalam hatinya. 

Belum lama hatinya hening dalam ketenangan, ia telah kembali terusik dengan suara keramaian yang tiba-tiba terdengar lantang dari tempat sekitar. Ia saksikan para wanita di sekelilingnya mulai beranjak. Laki-laki yang tidak dikenal berusaha berjalan mendekat sehingga sebagian wanita yang ada disitu menghardiknya dengan suara keras.

Laki-laki Yahudi itu berkata, "Wahai para wanita bangsa Quraisy, aku beritahu suatu hal. Seorang nabi terakhir tidak dimungkiri lagi akan datang dari tanah ini dimasa-masa sekarang. Bilamana salah satu di antara kalian semua mendapati kesempatan untuk menjadi istri baginya janganlah sampai kalian menyia-nyiakan kesempatan itu."

Sayang, orang itu tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu dengan luka akibat lemparan batu-batu yang telah dilemparkan oleh para wanita malang yang sama sekali tidak memedulikan apa yang telah dikatakan Yahudi asing itu. 

Kecuali satu orang!
Dia adalah Khadijah. Seakan-akan kata-kata orang itu telah memecahkan telinganya karena sambaran petir. Memang, sebelumnya Khadijah telah banyak mendengar berita dari sepupu yang sudah dianggap sebagai pamannya, Waraqah bin Naufal, dan juga dari orang-orang yang baru saja pulang dari berniaga. 

Ia juga sering mendengarkan berita yang mirip sekali dengan apa yang dikatakan laki-laki itu dari mulut para pendeta, para alim, ahli hakikat, atau orang-orang yang berziarah ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka sering memberitakan kedatangan nabi terakhir yang akan membenahi kerusakan moral yang telah meraja-lela.

Setelah beberapa lama memanjatkan doa di dinding Kakbah, ingin sekali Khadijah segera berlari ke rumah pamannya, Waraqah bin Naufal, untuk segera menyampaikan apa yang telah ia dapati dalam mimpinya. Meski berstatus sebagai sepupu, usia Waraqah hampir seumuran dengan mendiang ayahandanya. 

Karena itulah Khadijah menganggap Waraqah sebagai pamannya. Khadijah maupun Waraqah adalah orang yang paling terhormat dari nasab keluarganya. Waraqah telah menghabiskan usianya untuk pergi ke berbagai negeri demi mencari hakikat yang ia yakini. Sayang, kata-katanya telah dianggap aneh oleh para penduduk Mekah.

Namun, bagi Khadijah, Waraqah adalah alim di matanya. Seorang ahli hakikat yang teramat ia segani. Waraqah memang seorang alim yang mampu menghafal Taurat dan Injil. Ia bahkan mampu pula berdebat dan memberi penjelasan tentang isinya kepada semua orang, baik Yahudi maupun Nasrani. 

Kedua matanya sampai buta karena selama bertahun-tahun jarang tidur dan terus membaca. Kedua matanya seolah-olah telah tertutup untuk gemerlapnya dunia. 

Meski demikian, mata hatinya masih tetap terbuka kepada Tuhannya. Lebih dari itu, Ia juga sangat mencintai Khadijah dan menganggapnya seperti putrinya sendiri. 

Setiap kali bertemu dengannya, ia selalu memerhatikannya dengan mengucapkan kata-kata penuh makna yang akan dapat menenangkan hati ibunda kota Mekah itu. 

Demikian dengan halnya Khadijah. Ia selalu berupaya untuk dapat membahagiakan hati sang paman. Setiap kali mengunjunginya, ia tak lupa membawakan berbagai macam hadiah yang sangat berharga. 

Begitu akan tiba di depan rumah Waraqah, sejenak dirinya berhenti. Ia baru sadar telah lupa membawa oleh-oleh untuk pamannya. 

Namun, pada saat itu pula ia merasa slakan-akan seluruh bunga terindah bermekaran dimana-mana. Kegelapan yang menyelimutinya tiba-tiba menjadi terang dalam seketika dengan keremangan cahaya lentera. Dirinya ternyata telah berada dipelataran rumah pamannya. 

"Ya, aku telah menemukannya. Dujayah...! Aku akan memberikan hadiah seorang budak Wanita yang pada pagi hari ini kuselamatkan. Jika dirinya berkehendak, biarlah ia bebaskan atau biarlah ia menjadi pembantunya."

Saat Khadijah datang, Waraqah sedang duduk bersama para tamu. Khadijah pun kemudian berucap salam kepada mereka. Mendengar ucapan salam itu, Waraqah menyambutnya. Begitupun dengan para tamu. 

Diantara para tamu, Waraqah mengenalkan seorang wanita muda yang dijulukinya berenis dan meminta Khadijah untuk saling bercerita dengannya. Sang paman akan menemuinya lagi setelah makan. 

Mereka saling bercerita. Di kedua mata Berenis Tampa linangan air mata. Usianya masih sangat muda, namun perjalanan hidupnya yang begitu penuh dengan derita telah menyentuh hati Khadijah. 

Berenis mengusap dengan kedua tangannya yang bengkak karena kerap bekerja keras di bawah terik mentari. Khadijah pun memerhatikannya dengan penuh iba dan rasa kasih sayang. Ia lepaskan serban pengikat kepala berwarna biru khas yang biasa dipakai para kesatria padang pasir. 

Sungguh benar, rambutnya terpotong pendek bagaikan seorang anak laki-laki yatim. Saat baju rompi yang terbuat dari kulit domba yang terlihat terlalu tebal untuk cuaca di Mekah dilepaskan, tampak tubuh Berenis yang kurus dengan punggung cekung. 

Dalam seketika, Khadijah teringat dengan anak wanitanya, Hindun. Tidak mungkin jiwa seorang ibu tega meninggalkan anak kandungnya dalam perjalanan mengarungi padang pasir berhari-hari. 

Kedua mata Berenis masih dipenuhi air mata. Khadijah mencoba menghapus dengan kelembutan tangannya. Ia paham Wanita semuda itu pasti sangat merindukan kasih sayang sang ibu. 

Sayangnya, hal itu tidak mungkin didapatkannya karena sang bunda berada ditempat yang sangat jauh. Khadijah memahami benar apa yang dirasakan Berenis. Wajahnya yang pucat semakin menggambarkan isi hatinya. Ada kelelahan yang dirasakan dan kerinduan yang didambakan. Khadijah mengerti dan memahami hal itu sehingga ia pun mengulurkan kasih sayangnya kepada wanita itu.

"Bagaikan dua aliran sungai yang meluap airnya", kata Khadijah menggambarkan keadaan Berenis. "Teruslah menangis, Berenis, anakku yang manis. Teruslah menangis hingga kedua sungaimu memancarkan sumber air kehidupannya. Biarlah terus mengalir. Namun, tahukah engkau ke mana aliran sungai itu akan bermuara?"
"Aliran sungai akan mengalir menuju tempat yang dirindukannya, Tuan putri"
"Benar juga. Ternyata Engkau adalah anak pintar yang memiliki pemahaman dan fırasat begitu mendalam."

"Terima kasih Tuan Putri. Andalah yang membuka cadar sang pengantin wanita dengan penuh kelembutan perasaaan sehingga saya tanpa sengaja membuka kain kafan yang menutupi mata yang tiada hentinya berlinangan air mata. Perkenankan saya menceritakan kampung halaman saya. 

Disaat kedua aliran Nil Biru dan Nil Putih menyatu ke dalam satu muara, orang-orang kampung kemudian menyebutnya sebagai Muara Wahid. 

Demikianlah kedua aliran sungai itu telah sampai kepada perjumpaan yang sangat dirindukannya; manunggal kedalam satu kesatuan, seraya semakin memberikan penghidupan. 

Disana terhampar rimbun perkebunan buah delima, tersebar merata sesaknya tanaman susam dan meliuk-liuk tingi menjulang hutan pepohonan kanada, seraya memberi senyuman manis bagaikan seorang pengantin wanita kepada kedua aliran sungai itu. 

Disamping mengaliri semua daratan yang dilintasinya dengan sumber kehidupan, ia juga mencurahkan kehangatan kerinduan kepada semua makhluk yang terbuai kedalam embusan kesegaran cuacanya. 

Sungai juga bermacam-macam, Tuan Putri. Masing-masing dari mereka memiliki nama, warna, cerita, dan guratan takdir yang tertulis padanya. 

Saat kecil, saya sering mendengarkan cerita dari para orang tua tentang Nil Biru sebagai seorang pemuda gagah, tampan, dan muda belia, sementara Nil Putih sebagai tunangannya. 

Saya juga mengkhayalkan bahwa al-Mugan telah mempertemukan keduanya dalam luapan penuh kerinduan. 

Ya, ibarat perpaduan lantunan lagu cinta yang indah nan merdu dari seorang lelaki dan wanita, daratan al-Mugan, nama kampung halaman saya, telah menjadi saksi sebuah pesta pernikahan yang diiringi dengan genderang para malaikat yang turun ke Bumi. 

Dari sanalah terlantun tembang-tembang merdu menyentuh kelembutan hati. 

Lama Kemudian, semakin hari kami sadari arti pentingnya kedua aliran sungai itu. Ternyata, mereka tidak hanya memberikan kehidupan, tapi juga memikul suka-duka, penderitaan, kepedihan, daÅ„ juga kerinduan umat manusia. 

Dimasa-masa musim salju, hatinya tertegun bagaikan ruh manusia yang sedang mengasingkan diri. Memutih aliran airnya, tenang dalam ketabahan. Namun, manakala musim semi membangkitkannya, segera ia terbangun bermandikan berbagai macam warna kesegaran daÅ„ keindahan, menghanyutkan segala kesedihan dan kepedihan yang menyelimuti kehidupan. 

Belum lagi di masa-masa musim panas. Saat itu, kami juga ikut tersengat terik mentari yang juga merebus sumber airnya. Dengan serangkaian ujian inilah buah-buahan mulai menguning dan biji-bijian mulai memecah agar tersebar di dalam tanah sehingga tersimpan kehidupan baru bersamanya. 

Kelak, benih-benih itu akan tumbuh membesar sebagai pohon rindang yang akan kembali menemani kami, menyertai hari-hari kami dalam suka maupun duka."

Khadijah terpana dengan semua yang diceritakan dan didengarkan. Ia belai sekali lagi rambut Berenis yang dipotong pendek itu. Lembut terasa. 

Terbayang dalam pandangannya bahwa kehidupan kadang penuh dengan terpaan angin kencang yang menyambar. Untunglah Berenis dapat berlabuh dengan selamat daÅ‚am hantaman badai itu. 

"Benar juga apa yang telah dikatakan paman Waraqah. Embusan angin kencang telah memangkas rambut Berenis." 

Entah mengapa, begitu mendengar kata-katanya itu, secara tiba-tiba tubuh berenis gemetar.  Badannya seakan-akan terkoyak kembali dengan ingatan mengenai badai kencang yang menyambar kehidupannya. 

"Tuan Putri" Katanya. "Sewaktu di al-Mugan, saya pernah bertunangan. Hari-hari penuh kebahagiaan yang tidak akan pernah dapat saya lupakan. Dia adalah santri ayahku. Seorang yatim bernama Ursa. Rajin dan pintar orangnya. Ayah saya telah lama mengasuhnya, mengajarinya baca tulis, dan juga bertutur kata yang indah di hadapan para bangsawan.

Dalam waktu yang singkat, Ursa telah menjadi orang yang paling dicari untuk bertutur kata maupun menjadi penerjemah. Ah, Tuan Putri, siapa sangka pada akhirnya ia tega meninggalkan diri saya dengan sikap dan keadaaan yang sangat menyakitkan hati. 

Tidak akan pernah saya melupakan kepedihan di hari-hari itu. Saat saya dengar ia telah menjalin hubungan dengan seorang putri bangsawan tempat dirinya membuat kesepakatan kerja. Dan sayalah orang yang dicampakkannya."

"Jangan berkata begitu, Berenis. Setiap kemudian yang menimpa kehidupan ini telah tercatat dalam untaian garis takdir. 

Saat berpikir kita yang dicampakkan, sesungguhnya takdir telah memilih kita untuk suatu hal yang lainnya. 

Engkau bukanlah seseorang yang dicampakkan. Namun, yakinlah bahwa Allah telah memilihmu untuk suatu hal yang lain di dunia ini."

"Ah, Tuan Putri. Memang benar apa yang Anda katakan. Namun, kuasakah hati mengatakan ini kepada dirinya sendiri. Di hari-hari penuh kelam pada masa itu, ingin sekali saya mengakhiri kehidupan ini bersamaan dengan berakhirnya cinta di dalam hati. 

Semenjak hari itu saya semakin menghujat diri sendiri.  Untuk apa saya merias diri bila hanya kepedihan yang diratapi? Untuk apa merawat rambut agar tetap terurai hitam bila siksa cambukan tetap akan didapatkan? 

Pada hari itulah saya bersumpah. Bersumpah untuk memangkas rambut hingga ke akar-akarnya sebagai tanda kesetiaan kepada cinta. Diri ini memang tidak wafat, namun kematian rambut panjang ini menjadi saksi kewanitaan saya. Jangan sampai Ursa kembali lagi. 

Kalau dirinya memang cinta dan telah memutuskannya, sampai sejauh mana jalanan ini membentang, biarlah kesetiaan saya dan juga cintanya menjadi saksi. 

Sejak saat itulah saya memutuskan kabur dengan mengenakan pakaian ini, menempuh 41 hari perjalanan, tanpa bekal makanan dan minuman. Saya menempuh perjalanan ini dengan mengawalinya pada suatu malam yang gelap gulita."

Berenis menyusuri gang-gang keci melewati perkampungan selama tiga hari hingga pada akhirnya sampai ke Pelabuhan Tanjung Burnu, Setelah salah seorang pelayan yang menemaninya menuju pelabuhan telah pergi, segera ia membeli tiket kapal. 

Dengan menyamar, Berenis masuk kedalam dunia para lelaki. Sayangnya, kapal yang ditumpanginya jatuh ke tangan bajak laut setelah terguncang oleh badai dan ombak selama berhari-hari. 

Untunglah Berenis mahir baca tulis dan menggambar peta sehingga dirinya tidak dijual sebagai budak. Saat kapal yang ditumpanginya berlabuh di Askalan, sebagian dari awak kapal keluar untuk bermukim di rumah warga. Keadaan seperti ini segera dimanfaatkan Berenis untuk melarikan diri.

"Dalam pelarian ini, saya dibantu seorang nakhoda yang berasal dari Suaybe. Setelah itu, saya merelakan diri menjadi buruh selama tujuh hari penuh agar dapat ikut kafilah yang akan berangkat dari Askalan menuju Jeddah. 

Selama tujuh hari itu saya dipekerjakan untuk melayani kawanan perampok berhati bengis untuk memuaskan segala kebutuhan makan dan minum mereka. Lebih dari itu, saya juga harus membayar tiga keping perak agar terdaftar sebagai rombongan karavan. 

Dalam perjalanan itu saya kemudian dibayar untuk memenuhi kebutuhan mereka akan air. Namun, setelah salah satu pemimpin rombongan tersebut tahu bahwa saya mampu baca tulis, saya pun dipekerjakan sebagai sekretarisnya. 

Kebetulan, majikan saya seorang yang cukup berpengalaman dan memiliki ilmu yang banyak. Selama perjalanan mengarungi padang pasir selama dua tahun, hanya dirinya yang berhasil mengetahui kalan saya adalah seorang wanita." 

"Sungguh luar biasa, Berenis. Usiamu masih sangat muda tetapi segudang pengalaman sudah kamu miliki. Ayolah ceritakan bagaimana akhirnya identitasmu bisa diketahui?"

"Waktu itu, saat seharusnya sudah menenangkan unta-untanya, badai pasir menerjang dengan tiba-tiba sehingga unta-unta berlarian. Saya yang seharusnya lari mengejar unta kuat dan galak, yang khusus untuk mengangkut perhiasan dan barang-barang berharga, malah keliru mengejar unta yang lembek dan jinak, yang hanya mengangkut parfum dan cermin. 

Dari sanalah majikan saya tahu kalau diri ini adalah seorang wanita. Saat saya mulai menuturkan keadaan yang sejujurnya, justru majikan saya malah bersedih. Ia memberi tahu bahwa selama dua tahun ini ayah saya telah mengirimkan utusan untuk mencari-cari saya. 

Kemudian, ia rela membawa saya ke kota Busra di Syam. Sesampainya disana, saya dititipkan kepada seorang alim Nasrani. Dalam acara khataman Taurat yang umumnya diselenggarakan dua kali dalam setahun, pendeta tersebut mengundang para alim dari Habasyah dan Sudan. 

Ternyata, pada acara khataman itu, para utusan setia ayah sayalah yang datang. Nah, mereka yang sekarang dibawah itu adalah orang-orang yang telah menemukan saya."

"Berenis, kau adalah orang terpilih, perhatikan saja, setelah melalui perjalanan begitu panjang, engkau bisa sampai ke sini. Inilah suratan takdir. Sungguh, perjalanan hidup yang teramat besar maknanya. Kami disini terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kehidupanmu. 

Mungkin satu hal yang mesti kamu juga tahu bahwa dalam kisah hidup yang besar itu tentunya tidak ada satu hal sekecil apapun yang sia-sia. Sebenarnya, Ursa tidaklah meninggalkanmu. Dia hanyalah lantaran sebab agar dirimu bisa sampai kesini setelah menempuh perjalanan sepanjang ini. Semua hanya sebatas itu."

Dalam pembicaraan yang hangat itu, mereka tidak tahu bagaimana waktu berlalu. Barulah mereka sadar dan kembali dalam suasana penuh riang ketika terdengar bunyi ketukan terompah yang disertai batik kecil. Itu pasti Waraqah. 

Sebagaimana akhlak sopan santun, ia tidak pernah memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. 

Waraqah memberi tanda dengan mengundang Berenis ikut makan di Ruang makan bersama para tamu lainnya. Dengan demikian, Waraqah kini bisa berdua saja dengan kemenakan sekaligus sepupunya itu.

Saat itulah Khadijah mulai menuturkan mimpi yang dialaminya. Setelah selesai bercerita, sang paman berkata bahwa mimpi yang dialami Khadijah adalah sebuah hakikat. 

"Anakku, Engkau adalah amanah dari mendiang ayahku dan ayahmu. Aku tahu Engkau telah melewatkan kehidupanmu dengan begitu banyak rintangan yang harus dihadapi. Engkau adalah wanita tangguh dengan kesabaran dan kecekatan dalam berpikir. 

Thahirah, demikian semua orang menyebutmu. Itu berarti seorang wanita suci yang layak menjadi contoh bagi semua wanita di Mekah. 

Sebelumnya, aku juga pernah menyampaikan kepadamu bahwa dunia ini telah memasuki masa kebangkitan kembali. 

Mereka yang mampu merasakannya telah lama menantikan kedatangannya, seorang nabi terakhir. Apa yang engkau dapati adalah sebuah mimpi yang teramat besar. 

Menurut pemahamanku, kelak Engkau akan menjadi istri dari sang nabi terakhir. Hanya Allah sendiri Yang Maha Tahu dengan apa yang sebenarnya akan terjadi."

Kedatangan musim semi dikota Mekah hanyalah sesaat. Bahkan, kedatangannya seolah tidak terasa. Teriknya mentari tidak akan pernah mengizinkan musim semi berlalu dengan perlahan. 

Meski hanya sekejap, tetap saja dengan perasaan malu-malu musim semi ingin membelai para wanita kota Mekah. Meski tidak mengalaminya, setidaknya mereka sering mendengarkan cerita tentang musim semi. 

Misalnya, tidak jarang mereka mendengar tentang Yaman, negeri yang menuntut mereka penuh dengan curahan hujan serta makmur, dengan limpahan tanaman gandum yang berbuah lebat. 

Belum lagi tentang kota tetangga mereka, Thaif. Mereka semua tahu keteduhan kota itu. Bentangan perkebunan-perkebunan anggur dan berbagai macam tanaman buah telah membuat kota itu hijab di musim semi. 

Belum lagi Yatsrib yang terkenal rimbun dengan kebun-kebun palma, dengan kelebatan buah kurma yang seolah menjadi mahkotanya.

Semua cerita-cerita ini membuat penduduk Mekah semakin tersentak sehingga bermulalah perjalanan-perjalanan panjang yang menyenangkan. 

Unta-unta dan kereta-kereta kuda penuh dengan perlengkapan telah dipersiapkan untuk mengadakan perjalanan panjang menuju Syam, Homs, Bursa, dan daerah perbukitan Golan.

Meski musim semi datang dengan sembunyi-sembunyi, para wanita muda pasti akan tahu saat kedatangannya ke Mekah. 

Bagi mereka, kedatangan musim semi berarti awal persiapan untuk musim panas atau awal dimulainya perjalanan panjang, awal masyarakat sibuk beraktivitas lagi. Bukankah setiap kesibukan itu akan mendatangkan berkah dan setiap keberkahan akan mengundang pesta tunangan dan pernikahan?

Dalam pandangan mereka, wanita muda, upacara tunangan dan pernikahan bergantung pada kepulangan para saudagar dari berdagang di tanah Syam. Semua kebutuhan menjelang pernikahan, seperti maskawin dan keperluan lain, dipersiapkan di sepanjang musim semi. 

Dimasa-masa itu juga keberuntungan para ibu susu akan ditentukan. Yang bernasib baik akan pulang membawa bayi mungil yang masih dalam buaian.

Bani Sa'ad terkenal dengan wanitanya yang subur, tangan-tangan besar terampil, dan memiliki banyak ASI. Semua orang tahu keindahan dan kegembiraan batin dalam hati para calon ibu susu saat mereka menuruni lembah diantara dua bukit Safa dan Marwa untuk menuju pusat kota.

Tidak hanya para bangsawan yang memiliki harta banyak yang bergembira menyambut datangnya hari-hari di musim semi. Mereka yang tidak cukup punya modal pun sudah dapat untung dengan berdagang di dalam kota Mekah. 

Abu Thalib, misalnya. Ia adalah Anak Abdul Muthalib, teman dekat ayahanda Khadijah. Ia dan Khadijah bergelut di usaha perdagangan. 

Sehari-hari, Khadijah dibantu saudara wanitanya, Asma. Saudaranya itu bertugas menjadi pengawas agar tidak merugi. 

Tidak hanya itu, Asma juga kadang ikut menjadi komisioner agar bisa mengetahui perubahan harga maupun kecurangan-kecurangan yang bisa terjadi pada usaha dagangnya. 

Dari situlah ia mengetahui sosok Abu Thalib dan kemenakannya yang sudah yatim-piatu. Keduanya seolah menjadi tolak ukur dan referensi yang baik untuk usaha dagangnya. 

Asma juga tidak jarang menuturkan kebaikan dan kejujuran usaha dagang paman dan kemenakannya ini, terutama saat perdagangan di kota Mekah dipenuhi dengan kecurangan. Hampir semua orang tidak bisa dipercaya. Setiap orang yang diberi amanat untuk menjaga karavan bisa melakukan kecurangan, Bahkan menggelapkan barang dagangan. 

Menjelang dimulainya perjalanan dagang ke negara-negara tetangga, Khadijah ingin usaha dagang miliknya diamanahkan kepada orang yang bisa dipercaya. Asma menyarankan untuk meminta bantuan kapada kerabat teman dekat ayahandanya, Abu Thalib dan kemenakannya.

Sungguh, Khadijah memang sosok yang mumpuni dalam segala hal. Ia tidak akan terburu-buru dalam mengambil keputusan. Semuanya dipikirkan terlebih dahulu, dicari kelemahan dan sumber permasalahannya, baru kemudian berdiskusi dengan orang yang dipercayai. 

Orang-orang disekelilingnya sering menyebutnya sebagai ahli tadabur. Seseorang yang memiliki basirah. Setiap masalah akan dipahami terlebih dahulu sampai ke akar-akarnya sehingga setiap keputusan yang diambil benar-benar akurat, tepat dan berumur panjang.

Pembicaraan dan diskusi dengan topik permasalahan yang hampir sama juga terjadi si rumah Abu Thalib. Ia yang merasa sudah terlalu tua, meminta kemenakannya yang ia cintai untuk menggantikannya pergi ke kediaman Khuwaylid dan menyampaikan kesediaannya membantu mereka. 

Sebagaimana biasanya, kemenakan Abu Thalib yang bernama Muhammad itu hanya tertunduk malu mendengar penuturan sang paman yang ia sudah anggap ayah kandungnya sendiri. Ia masih belum yakin untuk pergi ke sana melamar pekerjaan tanpa mereka yang memintanya. 

Dalam adatnya, ia tidak pernah menginginkan pekerjaan sebelum diminta. Meski demikian, ia juga paham bahwa apa yang disampaikan pamannya benar.

Diusianya yang kedua puluh lima, bekerja sebagai penggembala biri-biri dan menjadi pembantu karavan dagang telah ia lakukan. 

Hari-hari penuh dengan peperangan, paceklik, dan kekeringan sehingga selembar rumput pun tidak tersisa di Mekah pernah pula dirasakan. Selain usaha dagang, hampir tidak ada sumber mata pencaharian lain bagi dirinya dan semua pemuda di Mekah. 

Ayahanda Muhammad telah meninggal dunia sebelum dirinya dilahirkan. Dan setelah ditinggalkan ibunda saat usianya enam tahun, kakeknya, Abdul Muttalib telah menjadi tumpuan hidupnya.

"Aku beri nama cucuku ini Muhammad karena aku ingin pada suatu hari ia menjadi orang yang layak dicintai oleh Allah dan umat manusia di muka bumi," demikianlah kata-kata yang sering sang kakek ulangi.

Dan saat sang kakek meninggal dunia, barulah Muhammad kecil merasa hidup sebagai seorang yatim yang sebenarnya. 

Saat Barakah datang untuk membawanya ke rumah Abu Thalib, ia masih tak kuasa menahan tangis seraya ingin tetap berada di kamar tempat sang kakek meninggal dunia. 

Dan sekarang, sang paman yang juga ia cintai sebagaimana kakek dan ayahandanya sendiri telah berucap, "aku sudah cukup tua". Begitu pedih perkataan ini, bagaikan sebuah belati telah ditusukkan kedalam dadanya.

Meskipun demikian, terhadap permintaan sang paman, ia tetap menganggukkan kepala menaatinya. Ia berkeputusan mendatangi rumah Khuwaylid untuk melamar pekerjaan. 

Sebelumnya, ia berdoa di sisi Kakbah mengarah ke Timur agar Allah berkenan mengarahkannya ke jalan yang benar dan semoga dapat kembali dengan berita yang menggembirakan sang paman. 

Kepedihan yang ia alami sejak kecil telah membesarkan jiwanya sehingga dirinya sering berbicara dengan hatinya. Dari dalam hatinya ia utarakan segalanya kepada Tuhan yang ia imani Esa wujudnya. 

Ia adalah seseorang yang sama sekali tidak ingin menjadi beban bagi orang lain. Tidak ingin dirinya menyakiti orang lain. Karena itulah, sejak kecil, ia telah terbiasa bekerja dan senantiasa berakhlak Mulia sehingga tidak seorangpun marah karenanya. 

Ia selalu membiasakan diri makan bersama yang lain, duduk bersama yang lain, dan tidak pernah berlebih-lebihan. Tidak pernah pula ia menyentuh kesenangan dunia, mabuk-mabukan, dan pesta-pesta seperti yang dilakukan orang-orang seumurannya.

Dari urat nadi yang tampak di bawah kelopak matanya, semua orang akan mengira kalau dirinya selalu menangis dalam waktu yang lama. Namun, dalam waktu yang bersamaan, setiap orang akan menjadi terheran-heran saat mendapati senyuman yang selalu menghiasi wajahnya.

Tidak pernah ada orang yang mendengarnya bersuara keras. Tidak pernah dirinya berburu dengan menaiki kuda sebagaimana yang dilakukan orang-orang sebayanya. Saat dirinya menjadi penggembala biri-biri di Pegunungan, tumbuh-tumbuhan dan hewan yang kesakitan telah menjadi saksi kasih sayangnya. 

Ia akan merawat hewan yang kesakitan dengan penuh kasih sayang. Orang-orang mengatakan kalau jiwanya mewarisi mendiang buyutnya, Qusay. 

Saat Muhammad muda dalam perjalanan menuju rumah Khuwaylid, sesekali ia memandangi bukit-bukit yang penuh dengan bunga-bunga berwarna ungu yang membentengi Mina. 

Seolah perbukitan itu memanggil-manggilnya dan mengajaknya untuk bermain disana. Ia merenungkan indahnya kehidupan menjadi seorang pengembala, jauh dari kerumunan dan keramaian, namun dekat dengan keindahan Sang Pencipta.

Kini, ia sudah menginjak usia kedua puluh lima. Membuat senang hati sang pamannya yang ia anggap sebagai ayahandanya sendiri merupakan utang budi baginya. 

Karena itulah, satu hal yang ia pinta dari Allah adalah lamarannya diterima sebagai karyawan dan dapat segera mengadakan perjalanan dagang. 

Nantinya, ia akan kembali ke rumah pamannya dengan membawa hasil dagang yang halal. Sang kemenakan tahu, rumah sang paman cukup penuh dengan anggota keluarga. Semuanya ditanggung Abu Thalib seorang diri, yang dibantu kemenakannya yang masih muda belia.

Sesampainya di kediaman Khuwaylid, ia disambut penuh penghormatan dan kegembiraan oleh seluruh pembantu yang ada. Sang Tuan Putri sendiri sedang duduk beristirahat dilantai dua. 

Ibunda seluruh kota Mekah yang terkenal begitu jujur, berhati bersih, dermawan, yang terhormat jiwanya sekaligus bersahaja.

Dengan penuh rasa malu dan hormat, pemuda itu menyapanya.
Ia pun berdiri.

Setelah menjawab salamnya dengan memberi isyarat anggukan kepala, Khadijah kemudian mempersilahkan dirinya yang datang dengan penuh sopan santun dan ketulusan untuk masuk.

"Sebenarnya, seandainya Anda tidak datang ke sini, saya sendiri yang akan datang menemui Paman Anda. Syukurlah, Anda sudah datang lebih dahulu. Beberapa waktu lalu, saudara wanitaku, Asma, telah menceritakan banyak hal tentang kebaikan Anda dan Paman Anda."

Khadijah mengakhiri pembicaraan dengan menyampaikan keadaan kehidupan perdagangan yang sudah tidak keruan. Itu sebabnya ia ingin meminta bantuan kepadanya yang memang masih memiliki hubungan kerabat. 

Tiada perundingan pada saat itu. Adat di Mekah pada umumnya sudah dimengerti. Wakil dagang akan mendapatkan upah sewajarnya. Lebih dari itu, manakala membawa keuntungan yang besar, Wakil dagang juga akan mendapatkan imbalan ekstra atau bonus.

Semua persiapan telah dilakukan. Kafilah dagang Khadijah yang diawasi Maisaroh, sang pelayan terpecaya yang sudah dianggap sebagai saudara, dan Kemenakannya, Hakim bin Hizam, kini telah menemukan pemimpin dagang yang sebenarnya. 

Dia adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib. 

Semua orang telah berkumpul untuk ikut melepas kepergian rombongan dagang itu. Teriring pula bacaan-bacaan doa dan puisi. Para wanita yang menyaksikan upacara dari jendela-jendela rumah mereka melambai-lambaikan tangan. 

Lain halnya dengan putri Khuwaylid. Ia hanya duduk tenang di balkon bersama dengan para tamu wanita. Saat rombongan kafilah dagangnya memberi salam kepadanya dengan mengibarkan bendera-bendera rombongan, Tuan Putri justru sedang mencari seseorang di tengah-tengah kerumunan rombongan yang sebentar lagi akan menyeberangi jembatan.

Ya, ia sedang mencari seorang pemuda dari kerabatnya.

Dalam sapuan pandangannya, ia menemukan seorang pemuda yang bersinar bagaikan kilau perak di antara kerumunan ratusan orang. Saat itulah hatinya berdebar-debar dalam seketika.

Khadijah menyadari ini semua...
Saat itulah suasana hatinya menjadi begitu riang. Inikah tabir mimpi yang pernah ia jumpai berturut-turut dalam beberapa hari sebelumnya?

Namun, berkenaan dengan hal ini, ada beberapa hal yang ditulisnya dalam buku harian:

aku harus memperbaiki diri
aku bukan seorang anak kecil lagi
umurku sudah kepala tiga
aku harus menutup diri agar rahasia hatiku tidak terbuka

Bagi Khadijah, sembilan puluh hari yang merupakan waktu kembalinya 'anak paman' merupakan kegembiraan sekaligus kesedihan. 

Hari-hari berikutnya, meskipun tidak berkata apa-apa tentang sembilan puluh hari itu, di atas atap yang berlantai dua matanya menatap cahaya. 

Banyak orang yang membaca syair-syair saat menunggu seseorang dalam perjalanan. Namun, orang yang dia tunggu merupakan sosok terhormat dan dicintai. Karena itu, syair-syairnya selalu terbungkus dengan kebanggaan dan kehormatan.

Singkatnya, ia hanya menyebut kekasih hatinya dengan huruf depannya saja: mim. Ya, ia tak kuasa mengucapkan nama sang kekasih. 

Sungguh, sedemikian nama itu menyimpan rahasia dan kekuatan sehingga ia tidak ingin kecolongan menyebutnya agar tidak terbongkar semuanya. Karena itulah ia selalu menggenggamnya erat-erat sebagai sebuah kunci rahasia.

Bagi Khadijah, "mim" adalah oksigen, sekaligus air minumnya.

Demikian pula saat menantikan kedatangan seorang pemuda yang melakukan perjalanan dagang dari tempat yang sangat jauh. Ia menuliskan huruf "mim" diudara. Seolah-olah garis-garis di udara tampak seperti sebuah rerimbunan pulau yang menghijau.

Kafilah yang sebentar lagi akan sampai ke tanah Mekah merasakan kegirangan yang tiada tara. Kali ini mereka kembali dengan keuntungan yang lumayan, bahkan melebihi yang diharapkan. 

Sebagaimana adat yang selama itu dilakukan oleh penduduk Mekah, kafilah akan dijemput para penunggang kuda. 

Pemimpin kafilah akan kembali lebih cepat bersama dengan rombongan penjemput tersebut. Kafilah kali ini dipimpin kemenakan Abu Thalib, seorang pemimpin yang telah membawa kafilahnya meraih prestasi gemilang.

Para penjemput telah membawa Muhammad diantara barisan kuda mereka menuju ke kediaman Khadijah binti Khuwaylid. 

Dalam seketika, Khadijah menjadi gugup. Hatinya berdebar-debar. Air matanya hendak berlinang. 

Sesampainya di dekat rumah, sang penunggang kuda melambaikan tangan untuk memberikan salam dan kemudian memasuki rumah Khadijah dari pintu belakang. Tanpa berbicara dengan siapapun, segera ia menuju ke tempat kerja sang tuan rumah.

Sang Tuan Putri tampak sudah menunggunya.
Ia menunjukkan suasana gembira karena telah mengetahui keberhasilan kafilah dagangnya.

Tanpa segan, Khadijah menyampaikan rasa terimakasih dan mempersilahkan sang tamu untuk duduk sejenak. Terlihat Tuan Putri Penuh penghormatan dan kebanggaan menyambutnya, meski dalam waktu yang sama dirinya terlihat hanya tertunduk menatap kedepan. 

Tidak mungkin ia berani sedikitpun melihat wajah sang tamu. Itu karena jiwanya sebagai wanita, terlebih jiwanya sebagai seorang Khadijah, telah memerintahkan demikian. 

Ia hanya memberikan isyarat sebagai bentuk ucapan terimakasih yang setinggi-tingginya, sebagai bentuk ungkapan keinginannya untuk membalas semua prestasinya dengan kebaikan yang sebesar-besarnya.

"Anda baru tiba dari perjalanan panjang dan pasti lelah. Silahkan jika hendak beristirahat terlebih dahulu." Demikian ungkapan yang terucap dari isyarat-isyarat yang ia berikan kepada sang tamu.

Sang tamu pun tanpa kesulitan langsung memahami apa yang dimaksud Tuan Putri. Ia kemudian menginginkan undur diri. 

Kemungkinan, di dalam hati sang tamu ada perasaan yang sama. Ia juga ingin segera bertemu dengan sang paman untuk segera menyampaikan berita gembira yang telah dibawanya. Ia ingin segera melihat kegembiraan pamannya.

Di hari yang penuh kegembiraan.

Tempat tinggal Khuwaylid yang sudah sangat tua itu bersinar seperti cahaya lilin dimalam hari. Obor dan lilin menghiasi halaman sampai atap rumah.

Abu Thalib dan Waraqah adalah dua leluhur yang wajahnya bersinar penuh dengan kegembiraan. Hati mereka penuh dengan kedamaian di hari pernikahan ini. 

Anak yatim Mekah dengan Mutiara Mekah
Laki-laki terpercaya Mekah dengan wanita tersuci Mekah.

Pada malam itu, ketika makanan telah disantap, perbincangan terus mengalir, Abu Thalib mulai berdiri untuk berbicara. Setelah beberapa kali terbatuk ringan, semua orang terdiam.

"Segala puji bagi Allah karena kita diciptakan sebagai keturunan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Allah telah Memilih kita sebagai penjaga dan pelindung Baitul Atik, sebuah tempat ibadah yang sering diziarahi dan tempat melaksanakan haji. Dengan cara ini lah Allah memberi berkah kepada kita.

Hari ini, kalau ada yang ingin membandingkan dirinya dengan putra saudaraku, Muhammad bin Abdullah, pasti keponakankulah yang akan tampak paling pintar, bijaksana, cekatan dan sopan. 

Hartanya memang sedikit. Namun, kita tahu bahwa kekayaan itu pemberian di dunia dan dapat diambil dengan mudah, seperti sebuah bayangan yang akan cepat hilang. 

Harta benda adalah hal-hal yang tak patut dicintai. Atas nama Muhammad, saya datang ke tempat ini untuk meminang Khadijah binti Khuwaylid yang terhormat. Jika kalian menyetujui pernikahan ini dan bersedia menjadi saksi, lebih baik kita langsung bicarakan mahar dan melangsungkan pernikahan ini." 

Pidato pun selesai.
Lamaran telah disampaikan. Sesudah Abu Thalib kembali ke tempat duduknya, perwakilan dari lihat wanita, Waraqah bin Naufal, pun mulai berbicara.

"Saya bersyukur kupada Allah. Tak ada yang bisa mengingkari kebaikan Anda. Betapa tingginya derajat keluarga Anda adalah suatu kenyataan yang tak bisa ditolak. Jalinan kekerabatan antara kami dan Anda adalah suatu kebanggaan bagi kami. 

Ya kaum Quraisy, jadilah saksi. Saya adalah Waraqah bin Naufal. Dengan mahar 400 dinar, dua belas ukiyah dan satu nashiyah emas, serta 20 unta muda, saya nikahkan Khadijah binti Khuwaylid dengan Muhammad bin Abdullah."

Para tamu wanita berada dilantai dua langsung bersorak dan berdendang bersama-sama. Melihat hal itu, kaum Quraisy yang berada diluar rumah telah paham bahwa akad nikah telah dilaksanakan.

Pada saat itu juga, dua unta yang menjadi bagian dari mahar dikurbankan untuk dibagikan kepada janda, Anak-anak yatim, dan fakir miskin. Jamuan pernikahan yang akan dibagikan pada pagi harinya adalah sebuah tanda untuk awal yang baik.

setiap wanita menyimpan rumahnya dalam hati mereka
baik ketika hidup di tenda kecil yang dibangun di padang pasir
di rumah atau dibelakang dusun

setiap ruang wanita penuh dengan kesunyian
kekuatan dahsyat untuk membangun ruangan itu akan terus menyelimuti sekitarnya 
bahkan sampai mereka mati dan tulang-tulang menjadi tanah

mereka berhati lembut layaknya serbuk bunga 
atau orang yang melakukan kebaikan dengan rendah hati, 
seperti tangan yang tekun atau lembut selembut bulu burung

selincah-lincahnya kucing bergerak adalah wanita
para wanita selalu bergerak,
selalu bergerak maju tanpa beralih arah disetiap napasnya.
tanpa merasa bosan, mereka membangun rumah secepat kecepatan suara

wanita adalah rumah
tempat bernaung
aktif, memiliki visi, dan kreatif adalah kemampuan yang dimiliki para wanita dalam membangun rumah tangganya

setiap wanita memiliki kunci rahasia mengenai rumahnya
setiap wanita memiliki pengetahuan tentang rumah yang luas
begitulah takdirnya

kehidupan diturunkan ke dunia dengan dititipkan kekasihNya kepada Khadijah

Khadijah adalah istri Nabi Muhammad,
ibu yang mengandung anak-anaknya, rumah untuk dirinya

atap Khadijah terbuka menghadap langit
tempat terjadinya Mikraj
tempat berkumpulnya semua rahasia

kasih sayang Khadijah adalah dunia yang diberikan kepada kekasihNya
oleh karena itu, dia adalah 'Kubra'
Khadijah adalah ibu untuk rumah para umat Nabi Muhammad yang penuh berkah
(Salawat dan Salam untuknya).

Ada tiga Anak diantara para penyambut di rumah baru pengantin laki-laki. Dua Anak laki-laki bernama Halah dan Hindun dan satu anak wanita bernama Hindun pula. 

Seperti sang bunda, mereka menyambut sang matahari dengan penuh antusias. Anak-anak itu sungguh sopan dan beradat. Sang bunda memang memberikan perhatian penuh dalam mendidik adat dan kesopanan. Mereka seakan-akan seperti bunga-bunga di kebun Khadijah yang dirawat oleh tukang kebun yang mahir.

Dimalam pernikahan, Halah, berusia 12, Hindun berusia 10, dan Hindun, berusia 8, memakai pakaian yang paling bagus. Layaknya bunga-bunga yang Sedang harum semerbak, mereka bermain dan berlari-lari di tengah ruangan. Mereka menyambut para tamu dengan penuh perhatian.

Anak kedua, Hindun rupanya menjadi anak pertama yang berani mendekati dan berbicara dengan ayah barunya. Dia membelai rambut putra mungil yang berbicara halus itu. 

Hindun kecil yang terbawa oleh keberanian kakaknya mengikuti kakak lelakinya untuk mendekati sang ayah baru dan seakan-akan ingin memperlihatkan apa yang dia pakai. 

Mengumpulkan seluruh keberaniannya, Halah keluar paling terakhir dari tempat persembunyiannya dan mendekati sang ayah. Sang ayah memanggil namanya tiga kali..."Halah...Halah...Ya Halah...sedang apa kamu?"

Sang ayah selalu berhati-hati dalam berkata dan menghormati pendapat mereka. Wajar jika akhirnya sang ayah dengan cepat mendapatkan hati mereka.

Ketika terbangun di pagi hari, sang ayah selalu berbaring di samping mereka, khususnya Halah. Halah adalah anak yang berharap badannya cepat tinggi. 

Karena itu, ketika tidur atau berdiri, dia selalu membandingkan tinggi tubuhnya dengan sang ayah. Dia juga selalu meniru dan mencontoh cara duduk, berdiri, dan berbicara sang ayah. Perbuatan itu ternyata menjadi bahan lelucon bagi yang melihatnya. 

Di pagi hari, dia suka membangunkan sang ayah dengan berlari di tempat tidurnya dan mengagetkannya. Sang ayah hanya berkata dengan perkataan yang sama: "Halah..Halah..Halah..."

Sementara itu, anak yang kedua memiliki ingatan kuat. Semua yang dia suka dengan cepat dapat dipahami. Diantara tiga bersaudara, yang paling kecillah yang sangat manja. 

Seluruh anggota keluarga menaruh perhatian khusus untuk sang bungsu karena dia sering sekali jatuh sakit. Namun, jauh dari perkiraan, keturunan yang terus berlanjut datang dari cucu-cucu anak bungsu ini. 

Sang ayah selalu berhati-hati agar tidak membedakan satu dengan yang lain. Mereka selalu mendapat kasih sayang yang sama walaupun memiliki bakat dan keinginan yang berbeda. 

Orang-orang Mekah pun mulai memanggil mereka 'Rabibu Muhammad' atau Anak-anak yang beradab, terdidik, dan belajar dari Muhammad. Mereka lah yang akan memulai adat Hilya'i Syarif, yang berarti menggambarkan cinta kasih sayang dengan kata-kata.

Mereka adalah anak-anak yang mendapatkan berkahnya.
Mereka menjadi anak-anak yang selalu setia.

Suatu hari, ketika sang ayah ditugaskan untuk menjadi nabi terakhir, mereka adalah orang-orang yang pertama meyakini dan mengikutinya. Mereka selalu berada disisinya dan mendukung sang ayah. 

Mereka ini akan menjadi teman perjalanan dan pendukung bersama-sama dengan para cucu dan putra-putrinya, seperti Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fatimah, Ali dan juga Hasan serta Husain.

Dalam lembaran-lembaran emas hadis, Hasan bin Fatimah binti Rasulullah menceritakan bahwa suatu hari dirinya berkata kepada pamannya, Hindun bin Abu Halah.

"Paman, tolong jelaskan kepadaku tentang Rasululullah?"

Dia pun mengabulkan permintaan itu dan mulai bercerita tentang Rasulullah.
"Rasulullah adalah orang yang menjunjung tinggi kehormatan dan selalu menghormati semua orang. Beliau adalah orang yang di hormati oleh semua orang. 

Wajahnya bersinar seperti bulan dengan rambut yang panjang. Ketika rambutnya memanjang, Rasulullah merapikannya ke balik telinga. Namun beliau sering merapikan rambutnya tak melebihi telinga bagian bawah. Badannya berotot. Jenggotnya jarang dan pipinya putih bersih bersinar. 

Rasulullah juga memiliki badan yang tegap dan gagah. Perutnya setara dengan dadanya. Bahunya lurus dan lebar. Kakinya tegap. Langkahnya harmonis dan gagah. Beliau berjalan langkah demi langkah seperti lembaran kertas buku. Ketika berjalan, seakan-akan beliau berjalan dari langit turun ke bawah.

Beliau membalikkan seluruh badannya ketika menghadap ke arah seseorang. Pandangannya lebih sering ke arah tanah dibandingkan ke langit. Rasulullah mengucapkan salam sebelum sahabat-sahabatnya ketika bertemu dengan salah satu sahabat.

Rasulullah biasanya terlihat sedih. Beliau tampak terbenam dalam pikirannya yang dalam. Selalu bertafakur. Dirinya selalu terdiam dan berbicara seperlunya. 

Ketika berbicara, ucapannya selalu pendek dan padat sehingga mudah dimengerti. Tak pernah berbicara tiada arti dan susah dimengerti. Ketika berbicara, dia tak pernah terbata-bata. Ungkapannya fasih.

Rasulullah sering memberikan jamuan dan hadiah. Beliau juga tidak pernah menjelek-jelekkan pemberian. Rasulullah menjaga amarahnya seperti menjaga nafsu dan kesenangan duniawi.

Rasulullah selalu berada di sisi dan mendukung yang benar. Ketika menunjukkan sesuatu, beliau tidak menunjuk dengan satu jari, tapi semua jari-jarinya. Ketika dia menyukai sesuatu, beliau selalu berbalik dan menjauhinya. 

Dia menutup matanya ketika bergembira. Senyumnya adalah tawanya." kata sang paman.
Tiga anak yang mendapat pendidikan bagus oleh ibunya ini akan selalu hidup penuh kasih sayang dan bersedekah untuk sang ayah yang akan menjadi nabi terakhir. 

Di antara anak-anaknya yang termasuk generasi pertama yang masuk Islam adalah Hindun. Dia akan hijrah ke Madinah bersama-rama dengan Rasulullah dan ikut dalam Perang Badar.

Khadijah adalah jubah, pakaian untuk orang-orang yang disayanginya.

Pertama, dia memakaikan saudara-saudaranya dengan kasih sayangnya. Pengorbanan dirinya seakan-akan menyelimuti mereka layaknya sepasang pakaian.

Kemudian, dia menyelimuti putri-putrinya penuh dengan kehangatan.
Dan yang paling penting, dia menjadi ayah dan ibu untuk putra-putrinya. 
Kedewasaannya seperti baju hangat yang panjang.

Khadijah telah dipilih menjadi jubah untuk Sang Kekasih Allah. 

Setelah upacara pernikahan, sebagian hidupnya dia berikan untuk melindungi, mendukung, dan menyelimuti Sang Nabi. Seluruh harta milik Khadijah pun ikut diinfakkan. 

Khadijah adalah sebuah kebaikan yang dihadiahkan untuk kekasihNya oleh Allah. Dia adalah wanita yang benar-benar mengerti rasa cintanya. Keberadaannya seperti jubah yang dipakaikan di punggung kekasih yang dia cintai.

Pengantin laki-laki tidak sendiri datang ke rumah barunya. Dia datang bersama pengasuh tercinta yang merupakan bagian yang tak terpisahkan darinya. Namanya Barakah.

"Barakah adalah ibuku setelah ibu kandungku"
Begitulah Muhammad memperkenalkan pengasuhnya kepada penghuni rumah.

"Barakah adalah warisan ayahku kepadaku. Setelah ibuku wafat, dialah yang merawat dan mengasuhku"

Cinta Barakah seperti bayangan hitam yang selalu mengikuti jiwa-jiwa ini pergi. Barakah adalah pantai yang membersihkan dan menyaring setiap kematian, perpisahan. Dan kepada dialah Muhammad diamanahkan oleh Allah.

Barakah merasa sedih mengingat hari-hari yang dilewati Muhammad sebagai anak yatim tanpa melihat wajah sang ayah. 

Ketika Muhammad menangis saat sang ibu wafat, Barakah memeluk erat tubuhnya dan membelai rambutnya. Barakah pula yang memeluk dan menenangkan Muhammad kecil saat sang kakek, Abdul Muttalib, wafat. 

Barakah memiliki sepasang mata yang mudah meneteskan air mata. Hatinya juga lembut. Ucapannya terbata-bata ketika sedang gembira. Ketika tertawa, dia tertawa dengan gigi putihnya yang seperti mutiara. Barakah adalah pengasuh dan penghibur yang mahir. Dengan ninabobo dan doa-doanya, seketika anak-anak akan berhenti menangis dalam pelukannya.

"Seakan-akan dia tercipta untuk anak-anak," ucap orang-orang yang mengenalnya.

Tak ada anak yang tidak tertidur dipangkuannya. Tidak ada anak yang tak berhenti menangis. Tidak ada anak yang tidak dibuatnya bahagia. Tidak hanya Khadijah, putra-putrinya dan para pelayan pun bergembira dengan kedatangan Barakah ke rumah baru itu.

Betapa besar cinta Khadijah atas sang Suami.

Apalagi kalau tidak ada perpisahan itu. 
Sang suami sudah mengambil alih semua urusan perdagangan. 
Dia sendiri yang mengurus semuanya, baik di musim panas maupun dingin. 

Sejak perdagangan diambil alih sang suami, dari segi ekonomi terlihat ada perkembangan. Pendapatan mereka penuh berkah dan tersohor di penjuru Mekah.

Dengan ketenangan yang penuh misteri dan kerendahan hatinya, suami Khadijah sungguh berbeda dengan yang lain ketika bercampur dengan masyarakat. 

Dia tak pernah mengikuti pesta yang diadakan khusus untuk orang-orang kaya. Dia tak suka ketika orang membicarakannya. Dalam kehidupan, dia tak pernah mengikuti hawa nafsunya.

Pada setiap kedatangan sang suami yang kembali dari laut yang dalam, sang suami menemukan Khadijah yang menunggunya dengan senyum dan kesabaran. 

Sambil tersenyum, dia menatap sang istri dan tak lupa memanggil namanya. Huruf-huruf namanya yang keluar dari bibir indah suaminya itu adalah hadiah yang paling besar di dunia untuknya. "Khadijah!"

Ketika menerima kabar gembira tentang bayi yang ditunggu, terlihat bunga-bunga mawar berada di wajah cantiknya. Rasa cinta mereka semakin bertambah, semakin mengalir.

Sembilan bulan dilewati dengan penuh kecemasan dan kegembiraan. Bayi mungil bernama Qasim telah terlahir di tahun keempat pernikahan mereka dan menghadiahkan nama Abu'l Qasim untuk sang ayah.

Dua putra tertua, menjadi pemuda gagah yang ikut membantu urusan perdagangan bersama paman-pamannya. Mereka bak seorang pangeran. Begitu sampai dari Yaman, mereka berlari ke rumah untuk melihat saudara baru mereka. 

Putri yang paling bungsu, Hindun, tak mau berpisah walau satu menit. 
Dia memperlihatkan sifat keibuannya. Dia mendengar ucapan para tamu wanita yang mengatakan bahwa Qasim mirip dengan dirinya. Dan hal itu adalah sesuatu yang paling disukai di dunia ini.

Namun, hal yang seperti mimpi itu hanya bertahan tujuh hari. Menurut adat dimasa itu, bayi yang baru lahir akan diberikan kepada Ibu susu agar lebih sehat dan kuat. 

Sebelum Qasim dilahirkan, setelah melakukan pencarian yang lama, mereka memilih Salmah, budak wanita Shafiyyah, bibi Muhammad, untuk menjadi ibu susu Qasim. 

Pada hari ketujuh, di dalam rumah diadakan syukuran untuk sang bayi. Mereka memotong segenggam rambuk lembut milik Qasim, membagikan sedekah berupa perak, dan menyelesaikan syukuran akikah itu dengan menyembelih dua kambing yang sehat. 

Menurut adat orang Mekah di masa itu, setiap orang yang memiliki Anak laki-laki dianggap telah mendapatkan tahta kerajaan. Abu'l Qasim berterima kasih kepada semuanya yang telah memberikan ucapan Selamat kepadanya.

"Dengan izin Allah, aku bersyukur kepada Allah," ucapnya.

Pernikahan Barakah akan segera dilangsungkan. Malam ini, Ubaid bin Haris akan datang ke rumah. 

Semua mahar milik Barakah dibuat oleh Khadijah. Wanita yang dianggap ibu oleh suamiku, dia ibuku juga, katanya. Nyonya Waraqah memberikan tugas kepada Dujayah untuk membeli dupa di Pasar Attarlatar untuk dibakar diupacara pernikahan. 

Dujayah pergi berjalan menuju pasar dengan membawa keranjang di tangan. Setiap sampai di tempat yang biasa dikunjungi Nyonya Waraqah, dia merasa pemilik toko tahu akan kedatangannya. 

Mereka menunjukkan beberapa contoh minyak wangi dan wewangian di pot kecil. Wanita muda itu terkesima dengan bau yang indah yang menunjukkan bahwa dunia ini adalah alam semesta yang tiada berujung.

"Ini adalah ruh Magnolia. Wanginya akan membawakan ketentraman."
"Ini ranting bunga kiraz untuk menghilangkan bau makanan."
"Ini mata kucing, melindungi dari sihir-sihir jahat."
"Ini bunga delima. Ketika dicampur dengan biji ara dan dibakar, orang yang ada diruangan itu akan saling jatuh cinta."
"Ini rumput yuksuk. Ular tidak akan masuk ke rumah yang didalamnya sedang dibakar rumput ini,"
"Ini anamon yang dikeringkan. Tangisan anak-anak dapat diredakan dengan ini"
"Ini bunga serunai. Dibakar sebelum melakukan perjalanan."
"Ini rumput serabi, dupa di malam pertama. Jika dimakan dengan dicampur madu oleh pengantin wanita, bayi akan lahir sehat."
"Ini adalah tepung yang terbuat dari biji zaitun yang digiling. Uapnya akan membuka jiwa."
"Ini pohon linden. Kebahagiaan akan datang kedalam rumah yang membakar pohon ini."

Kepala Dujayah pusing. Keranjangnya dia isi dengan semua wewangian. Dia berencana melanjutkan perjalanan setelah menaruh keranjang yang berisi dupa ditempat pernikahan. 

Banyak orang berkumpul didepan kios lesehan yang terletak di dekat pintu keluar. Ditengah-tengahnya ada wanita tua yang Berwajah mengerikan duduk di tempat seperti tahta. 

Wanita yang dikenal sebagai wanita yang memiliki pengetahuan tentang pakaian dan jejak kaki ini adalah wanita paling tua yang pernah dilihat Dujayah selama hidupnya. 

Pengetahuan tentang pakaian dan sejak kaki yang dimaksud adalah pengetahuan yang bisa meramalkan keturunan keluarga, kondisi, dan apa yang akan terjadi dari bentuk wajah dan badan, telapak tangan dan garis-garis telapak tangan. 

Wanita itu berkata bahwa dia bisa memilih orang yang memiliki jejak kaki yang sama dengan Nabi Ibrahim dengan melihat jejak kaki orang-orang yang datang dan melewati pasir basah yang diletakkan di jalan pasar ini. 

Dujayah merasakan sesuatu yang aneh setelah keluar dari pasar. Ketika wanita peramal tua itu memandangi jejak kaki yang berada di atas permukaan pasir basah itu, tiba-tiba wajahnya berubah. Sambil terbatuk-batuk, dia kembali duduk ke tahtanya. 

Setelah agak lama, dia bertanya kepada orang disampingnya. "Jejak kaki yang berada di depan itu milik siapa?"

"Itu milik Abu al-Qasim. Lelaki Mekah bernama Muhammad bin Abdullah. Dia memiliki Akhlak yang Bagus dan biasa dipanggil dengan sebutan al-Amin."

"Diantara kalian, orang yang paling sama dengan Nabi Ibrahim adalah dia."

Hujan turun tidak berhenti dari hari ke hari setelah Barakah resmi menjadi istri Ubaid bin Haris. Orang Mekah yang tidak terbiasa dengan hujan selalu menafsirkan itu sebagai pertanda. 

Hujan terakhir turun sekitar enam tahun lalu. Musim pernikahan menjadi saksi. Seakan-akan hujan yang turun kali ini bukan hujan biasa, melainkan sebuah pengampunan. 

Berdiri diantara para wanita yang berusaha untuk menutup balkon dengan daun-daun pohon palem dan tongkat bambu, Khadijah memandangi gunung-gunung yang tertutup oleh hujan deras. 

Dia tampak gembira, tetapi seketika berubah menjadi cemas. Khadijah merasa khawatir dengan rombongan yang sedang melakukan perjalanan. 

Keadaan Mekah setelah terjadi hujan membuka kekacauan. Patung-patung yang dibuat untuk mendekatkan diri mereka kepada Tuhan satu persatu terjatuh dan terbawa arus tanpa arah. 

Disaat itulah semua orang mulai merasakan takut. Orang Mekah menganggap bahwa patung yang seharusnya membawa kekuatan telah memberikan musibah untuk mereka.

Tetapi Khadijah tak peduli dengan kecemasan itu. Perhatiannya hanya untuk orang yang dia tunggu. Dia memandangi kendi usang yang menjadi temannya di balkon. 

Kendi itu penuh air hujan, berusaha untuk bertahan dari air yang memenuhinya, derasnya air hujan membuat kendi itu hampir pecah. Seperti tersambar petir dari langit, badan Khadijah lemas dan kemudian jatuh ke tanah. Jatuh pingsan.

Ketika kedua matanya terbuka, dia menemukan dirinya terbaring ditempat tidur. Hujan telah reda. Khadijah memandangi sekeliling dengan kepala yang sedikit pening akibat suhu panas tubuhnya. 

Demam, mual, pusing. Dia menarik selimut mengumpulkan kekuatan tangannya yang tersisa ketika melihat Berenis duduk bersila.

"Kendiku. Kendi usangku telah hancur Berenisku."
"Menangislah, Nyonyaku. Keluarkan semuanya. Tuangkan seluruh beban yang terkumpul bertahun-tahun dalam diri Nyonya, seperti langit yang menuangkan bebannya pada malam ini."
Dimalam yang penuh kesulitan ini, dia hanya bisa menenangkan Nyonya Khadijah dengan dongeng-dongeng. 

"Nyonyaku, kendi itu terbuat dari tanah seperti yang anda tahu. Sama seperti Nyonya, saya dan juga manusia lainnya. Sumber mineral dan diri kita berasal dari tanah. 

Ratusan tahun yang lalu, batu bata yang terbuat dari tanah itu digunakan untuk membangun kerajaan seorang pengeran yang ingin membuktikan dirinya kepada ayahnya yang seorang raja. 

Ah, seandainya Nyonya tahu apa saja yang disaksikan batu bata tak berlidah itu. Sang pangeran selalu membujuk ayahnya, tetapi tidak pernah berhasil meluluhkan hatinya. Bahkan, sang ayah tak pernah sekalipun mengunjungi kerajaan yang dibangunnya. 

Seiring waktu berlalu, pangeran menjadi seorang raja hebat yang dikenal diseluruh dunia. Suatu hari, kerajaan yang telah menguasai dunia selama bertahun-tahun ini diambil alih dan dihancurkan oleh seorang raja yang lebih kuat. 

Batu-batu bata itu hancur lebur dibawah reruntuhan yang penuh dengan kemarahan. Raja yang datang dari keluarga terhormat itu menghembuskan napas terakhirnya tanpa bisa membuktikan dirinya kepada sang ayah. 

Berabad-abad terlewati, Nyonya. Ketidakberuntungan juga datang menghampiri hidup seorang gadis anak petani yang akan menjadi pengantin. Gadis itu terus menangis setelah tunangan yang sangat dicintainya meninggalkan dirinya. 

Sang ayah yang cemas dengan keadaan putrinya yang bisa menjadi buta karena telalu banyak menangis, menghadiahkan kalung yang terbuat dari tanah reruntuhan kerajaan. Disekitar kalung itu tertulis nama tunangannya. 

Ketika gadis itu merasa sedih, dia akan mencium nama yang tertulis disitu. Hatinya pun menjadi tenang. Hari demi hari berganti, jiwa gadis yang penuh dengan rasa cinta berubah menjadi tipis. Begitu tipis, sehingga banyak orang yang mempunyai permasalahan sepertinya datang dan meminta doanya.

Masyarakat mengeramatkan kalung cinta yang berada di leher di gadis itu, percaya bahwa kesembuhan bukan datang dari Allah melainkan dari kalung itu dan berbalik dari Allah.

Seorang tukang perabot sungguh menginginkan kalung itu setelah mendengar kesaktiannya. Diapun mulai berangan-angan. Seandainya memiliki kalung itu, matanya pasti akan sembuh dan hari-hari kejayaannya yang lama akan kembali lagi. 

Dia lalu mendapatkan kepercayaan sang gadis setelah berhari-hari berada disampingnya dengan berpakaian seperti pengemis. Suatu malam, ketika sang gadis tertidur, dia memotong lehernya dan mengambil kalungnya. Namun, baru dua langkah pergi, dia mati tersambar petir.

Keesokan harinya, orang-orang yang ingin datang menemui sang gadis memutuskan membangun sebuah monumen setelah melihat leher sang gadis terpotong, sementara tukang perabot menjadi abu. 

Monumen ini berbentuk menara yang terbuat dari tanah. Beberapa tahun kemudian, menara itu hancur lebur dan menjadi sebuah bukit yang terbuat dari kumpulan tanah yang diambil oleh para ahli kendi. 

Itulah cerita tanah yang berumur lima ratusan tahun yang anda tangisi 'kendiku-kendiku'. Didalam kendi usang itu, para raja, gadis-gadis yang bertunangan, kalung-kalung, dan pisau-pisau menangis bersama. Mereka menangisi apa yang terjadi.

Disini adalah dunia, Nyonyaku.
Dunia adalah sebuah kebohongan.
Dia tak mempunyai seorang teman.
Sekarang kita perlu melihat ke belakang kendi.
Pemecah kendi usan itu adalah Allah, pemilik kendi adalah Nyonya.
Allah Maha menghendaki, Nyonyaku.
Dia menyukai hati yang retak.
Dia tidak menyukai hati yang tertulis selain nama-Nya."

"Ya Allah, dekatkanlah hambamu ini kepada-Mu dan kepada orang-orang yang Kau cintai" ucap Khadijah yang bangkit dari tempat tidur dan mengangkat kedua tangannya.

"Berenisku, kau menjelaskan kepadaku sambil menutup gorden cinta dan dengan gorden yang sama aku akan menjelaskan cinta kepadamu.

Sungguh, ayah dan Anak, yang keduanya adalah seorang raja, adalah pertanda siang dan malam. Pada siang hari, dia melakukan pekerjaannya dengan semua barang yang terlihat jelas, sementara di malam hari hal-hal yang tak terlihat menjadi masalah. 

Dalam hal yang tersembunyi itu, dia mementingkan kebenaran didalamnya. Kerajaan dan bangunan yang dibangun di siang hari itu merupakan cerita yang menunjukkan bahwa kita ingin membuktikan diri. Namun dimalam hari dengan undangan-undangan yang memiliki cahaya yang megah, dia melihat ke dalam, bukan keluar. 

Dengan begitu, keduanya melihat benda yang sama dengan kebenaran yang berbeda. Sebenarnya keduanya saling mencintai. Baik siang maupun malam, mereka saling berbagi, saling membawa ke dunia, saling menutupi, saling membuka. Siang dan malam, seperti dua raja itu, menciptakan dunia yang sama dan menghancurkan dunia yang sama. 

Kerajaan yang berada dalam cerita ini merupakan kehidupan yang kita lalui. yang melahirkan dan yang dilahirkan sama. Sebetulnya, kebenaran itu hanya satu. Namun, karena terus dewasa, kita mengira bahwa kebenaran itu lebih dari satu.

Sementara itu, wanita yang berada di cerita kedua menjelaskan kisah manusia pertama yang turun ke bumi dari surga yang penuh dengan keluhan. 

Manusia pertama yang turun ke bumi merupakan ciptaan pertama yang merasakan perpisahan dan pengasingan. 

Mencari kekasihnya yang terputus dan turun ditempat berbeda. Sang kekasih pun membuat kalung dan menghadiahkan kepadanya untuk menenangkan dirinya, dan itu merupakan wanita yang pertama. 

Wanita adalah pelipur lara. Wanita merupakan hal yang mengingatkan manusia pertama, yang belajar hidup di dunia berkat wanita, kepada Tuhan, dan juga disebut sebagai elemen pencipta terbesar di muka bumi.

Tukang perbotan buta merupakan simbol ambisi kita di dunia ini. Tak ada hal baik yang kita dapatkan di dunia yang besar ini jika ambisi tak mati. 

Takdir ambisi adalah membunuh dan mati. Meskipun leher sang gadis putus, cinta merupakan hal rahasia keabadian yang selalu dibahas oleh kemurnian. Menara yang dibangun masyarakat untuk mengingat sang gadis adalah simbol kehormatan kepada cinta dan kemurnian yang tidak ada batasnya selama dunia ini berputar. 

Sementara itu, ambisi merupakan kebalikan cinta. Dia selalu memotong-motong kebenaran cinta, seperti seekor ngengat. Namun, ambisi terbuat dari api dan pada akhirnya akan membakar dirinya sendiri, sementara cinta yang terpotong-potong menjadi sebuah legenda.

Khadijah yang sudah mulai sadar diantara sinar mentari pagi. Dia memandangi kain bercuka yang digunakan untuk membasuh dahi dan pergelangan tangannya. Para pelayan yang menungguinya selama satu malam tertidur ditempat mereka duduk. Matanya mencari Berenis diantara mereka.

"Dimana Berenis?" tanya Khadijah 
"Nyonya mencari berenis? Dia tidak pernah datang"
"Apa kita tidak berbicara dengannya dari malam sampai pagi?"
"Nyonya demam dan pingsan karena kedinginan berada di bawah derasnya hujan. Itu mungkin khayalan nyonya saja."

Khadijah sangat lemah. Dia kemudian kembali tertidur, kemudian terbangun lagi.

Para wanita tua, Bibi Safiyah, Jariyah Salma, Maisaroh, dan dua bidan yang menunggu Khadijah yang terguncang karena mimpi-mimpi dan cerita-cerita, memberikan ucapan selamat kepadanya.

Khadijah mengandung bayi kedua!

Setelah bencana banjir, terjadi kebakaran di Mekah. Kobaran api cukup untuk membakar kain-kain Kakbah. 

Saat itu, Mekah tidak diatur oleh raja atau pemimpin. Semua urusan kota ditata oleh sebuah majelis bergaya feodal. 

Majelis ini lahir dari sekelompok pembesar Mekah yang bergabung dalam Dar al-Nadwa. Sistem ini dimulai dari masa Qusay sampai sekarang. Qusay merupakan kakek buyut Khadijah dan suaminya. 

Pada saat yang sama, kapal pengangkut batu dan Kayu dari Mesir untuk pembangunan gereja di Yaman tenggelam di Shu'aybah, tepi laut Merah, sekitar Jeddah. 

Untuk menutup kerugian, para pemilik barang menjual apa saja yang masih tersisa. Orang-orang Mekah yang menerima cerita itu segera membentuk rombongan untuk melakukan perjalanan ke Jeddah. Mereka menginginkan barang-barang tersebut, yang menurut pandangan para ahli rancang bangun sangat kuat. 

Di Mekah, masalah besar sudah menanti mereka. Semua kabilah ingin mendapatkan bagian penting dalam kerja perbaikan itu. Mekah pun seakan-akan berubah menjadi meja catur. Mereka memandang perbaikan dan pembangunan Baitul Atiq sebagai pertarungan kekuatan politik. 

Akhirnya, majelis kota memutuskan beberapa hal.

Abdul Manaf dan Bani Zuhra akan memperbaiki Kakbah bagian depan dan pintu. Abdud Durar, Asad, dan Bani Adiyy akan memperbaiki Kakbah yang berada di sisi Syam. Taim dan Mahzum akan memperbaiki Kakbah yang berada disisi Yaman. Sahm, Jumah, dan Bani Amir akan memperbaiki Kakbah yang berada dari sudut Yaman sampai bagian Hajar Aswad. Karena perbaikan ini merupakan suatu kehormatan untuk semua kabilah, pembagian tempat perbaikan itu pun dilakukan dengan cara diundi.

Selanjutnya, para lelaki membentuk dua barisan untuk mengangkat batu, sementara yang wanita membawa perekat untuk mendirikan bangunan. Muhammad bin Abdullah berada diantara para pengumpul batu. Dia pun memberikan seluruh pendapatan yang bersih dan halal dengan murah hati untuk perbaikan Kakbah.

Perbaikan dimulai dengan menghancurkan beberapa bagian Kakbah yang rusak akibat banjir dan kebakaran. 

Tidak ada yang berani melakukannya selain Walid bin Mughirah yang berusia sangat tua. Ia melakukannya dalam waktu dua hari. 

Fondasi dasar Kakbah yang dibangun pada masa Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail, terlihat. Tampak batu-batu zamrud hijau yang bersinar saling tumpuk satu sama lain. 

Tak ada satupun yang bisa mengangkatnya, bahkan meski tiga puluh orang berkumpul dan mencoba mengangkatnya. 

Batu-batu itu terlalu besar dan keras. Ketika seseorang dari Bani Quraisy mencoba mengangkat dengan memasukkan besi diantara batu-batu, petir bergelegar keras dan Mekah di guncang gempa. Mereka pun memutuskan melakukan perbaikan di atas batu hijau tersebut.

Masalah lain muncul lagi. Ketika batu yang dikenal sebagai Hajar Aswad akan dikembalikan ketempatnya. 

Semua kabilah ingin melakukannya. Hajar Aswad dipercaya sebagai batu yang dibawa para malaikat dari surga untuk Nabi Ibrahim. Awalnya, batu itu berwarna putih dan bercahaya. Sejalan dengan waktu dan jumlah manusia yang terus bertambah, batu itu berubah warna menjadi gelap. 

Orang-orang percaya bahwa perubahan itu terjadi karena jumlah kejahatan yang semakin banyak. 

Pedang-pedang telah terhunus dan tubuh mereka juga sudah saling dorong. Untunglah, dalam keadaan genting itu mereka menyepakati usulan agar keputusan soal kabilah yang akan meletakkan Hajar Aswad diambil dari orang yang pertama kali masuk lewat Pintu Safa. 

Semua mata akhirnya tertuju pada pintu itu. Mereka menunggu dan terus menunggu. Kemudian, datanglah seseorang dengan wajah cemerlang melewati Pintu Safa. Dialah Muhammad bin Abdul Muthalib.

"Al-Amin! Al-Amin!" Gelombang kebahagiaan menyelimuti tempat itu.
"Muhammad, kau adalah orang jujur dan tepercaya. Kami setuju atas segala keputusan yang diambil olehmu," 

Dengan suara yang teduh, dia berkata bahwa masing-masing kabilah bisa meletakkan Hajar Aswad bersama-sama. 

Ia pun meletakkan batu itu diatas kain yang besar. Setelah itu, masing-masing kabilah memegang ujung kain dan bersama-sama membawa batu itu pada tempatnya.

Sungguh, itulah jalan keluar yang bagus. Dia memiliki jiwa pendamai dan cerdas.

Malam itu, Khadijah yang mendengar kabar yang tersebar dari telinga ke telinga tentang suaminya yang berhasil mendamaikan para kabilah yang sedikit dahi akan berperang.
Nama "sepupu" itu adalah al-Amin. 'Abu al-Qasim'

Dan dengan izin Allah, dia akan menjadi seorang ayah lagi.

Jika punya sembilan anak laki-laki, yang kesepuluh jangan sampai wanita. Itulah yang para Ibu di kota Mekah inginkan. 

Disini, anak wanita adalah berita buruk untuk sang ayah. Pembawa berita yang dikirim Khadijah pasti menyampaikan kabar itu dengan perasaan takut kepada Abu al-Qasim. 

Namun, ketika mendengar berita itu, wajah Abu al-Qasim tak berubah menjadi awan gelap. Beliau malah mengangkat kedua tangannya ke langit untuk berdoa dan bersyukur. Tak lupa pula sedekah dan zakat dibagikan kepada pembawa berita dan anak-anak yang berada disekitarnya. 

Dia pulang kerumah sambil berlari dan tersenyum kepada para pembantu yang mencoba untuk menghindar karena takut ketika melihatnya naik ke lantai dua. Dia mengucapkan selamat kepada bayi dan ibu bayi itu dengan wajah tersenyum.

Seperti Qasim, kakaknya yang hanya berbeda satu tahun, bayi yang diberi nama Zainab itu juga dititipkan kepada Ibu susu pada hari ketujuh kelahiran sang bayi. Tak lupa pula memotong rambut, menyedekahkan perak, dan memotong hewan kurban. 

Khadijah dan suaminya menyambut Zainab serta anak-anak wanita yang akan lahir ke dunia dengan senyum dan ucapan syukur kepada Allah. 

"Aku adalah ayah dari Anak-anak wanita," kata al-Amin sambil tersenyum mengenalkan dirinya kepada orang-orang yang melakukan upacara penguburan anak wanita hidup-hidup di padang pasir.

Pandangan suaminya adalah hal yang paling disskai oleh Khadijah. Khadijah menyadari bahwa suaminya memiliki pandangan yang luas ketika bertemu untuk pertama kalinya. Selalu tajam dan awas dengan "yang tak terlihat" di sekelilingnya. 

Daerah belakang kota yang ditakuti dan tak pernah dikunjungi tanpa pengawal oleh para pembesar Mekah, didatangi suaminya tanpa pengawalan dan tanpa membawa pedang. Tak ada satupun jalan atau tempat yang tak pernah dikunjungi olehnya di kota Mekah. Hal inilah yang membuat para pembesar lain gelisah.

Para budak dan fakir yang bertempat tinggal di daerah belakang kota hidup di dunia mereka sendiri. Menurut pandangan pembesar Mekah keberadaan mereka itu seperti "sesuatu" yang mudah diganti. Mereka seperti daun layu dan tak penting, atau seperti tangan-tangan air yang kecil dan tak terlihat. 

Suami Khadijah yang terhubung dengan kasih sayang adalah seseorang yang mendengar dengan jelas suara serak kehidupan ini. Dia menyentuh mereka dengan tingkah lakunya, menghormati masyarakat dari seluruh tingkatan. 

"Rumah Khadijah seperti surga" ucap para budak dan pelayan. Semua berlomba untuk bekerja di rumahnya. Meskipun berjumlah banyak atau sedikit, Khadijah tak pernah berlaku buruk terhadap wanita hamil, para budak, dan para pelayannya. Dia menghormati hak seseorang. Bahkan, dia kerap memerdekakan atau menikahkan mereka.

Menurut pandangan mereka yang tersisih itu, tingkah laku al-Amin berada di depan semua orang Mekah. Tak hanya memperlakukan semua sesuai hukum, dia juga dekat dengan orang-orang tak mampu itu layaknya sahabat. tetangga dan teman sekota. 

Dia memiliki pandangan yang baik. Ketika berbicara, dia mengarahkan seluruh badan dan ruhnya kepada mereka. Yang dekat dengannya tidak hanya para budak atau mereka yang tak mampu seperti Ammar bin Yasir, Suhayb bin Sinan atau Bilal bin Rabah, tetapi juga orang dari golongan kaya dan terhormat seperti Abu Bakar.

Disekitar tempat tinggal Khadijah, kelompok massa yang paling besar adalah budak. Dari hari ke hari, jumlahnya semakin bertambah. Meskipun seluruh usaha sudah dilakukan, para budak itu täta tidak diterima sebagai manusia di masyarakat. Apa yang terjadi pada mereka tak dianggap penting dibandingkan kehilangan harta.

Sekitar satu dekade ini perbudakan sudah menjadi hal umum. Setiap waktu semakin banyak orang menjadi budak karena ketidakadilan yang sudah merajalela. Bahkan, banyak orang yang rela untuk diasingkan.

Daerah-daerah seperti Madinah dan Yaman menjadi tempat utama untuk berhijrah bagi orang-orang fakir Mekah. Setiap akhir pekan, banyak pengangguran yang melakukan perjalanan dari Syu'aibah ke Jeddah untuk bekerja menjadi pelayan kamar di kapal-kapal.

Struktur kebangsawanan di Mekah juga mendapatkan dukungan dari kekuatan otoritas agama. Tak heran jika mereka yang mengkritik ketidakadilan yang terjadi akan dianggap sebagai pembangkang agama.

Orang kaya dan terhormat seperti Waraqah bin Naufal pun tak lepas dari itu semua. Dia dianggap sebagai "pengacau" karena mengatakan bahwa semua manusia sama kedudukannya di mata agama.

Situasi itu membuat para pembesar Mekah berkongsi untuk membasmi setiap pembangkangan. Dinyatakanlah oleh mereka bahwa kaum bangsawan dan orang-orang kaya sebagai salah satu yang "tak terlihat". 

Mereka pun menandai orang-orang yang mengkritik adat dan budaya pagan serta sistem kasta dengan kata-kata seperti sakit, gila, atau tukang sihir.

Berkaitan dengan otoritas Mekah dalam hal struktur perdagangan, dari hari ke hari, persaingan dan persengketaan yang terjadi di antara pembesar Mekah semakin besar dan menuju arah perpecahan. Terutama antara Bani Abdul Manaf dan Bani Umayyah. Kondisi itu tentu saja merupakan desempatan emas bagi lawan-lawan mereka di kota Mekah.

Yang pasti, kekayaan milik Khadijah tak lepas dari perhatian Bani Umayyah. Mereka setiap waktu dengan hati-hati mengawasi siapa saja yang berada disekeliling al-Amin.

Khadijah memandang suaminya dengan mata penuh air mata.

"Demamnya tidak turun..."
Bayi mungil lelakinya sedang demam dengan suhu badan yang sangat tinggi.
Bayi mungil itu seakan meleleh dari detik ke detik di dalam panasnya samudra api.

Meski seorang tabib, seorang yang bertakwa, air mata seorang Ibu, pandangan mata ayah yang sedih, tidak ada satu pun yang bisa meredakan panas di dahinya.

Dihadapan sang putra, Khadijah yang sedang bersaing dengan gunung-gunung Mekah, yang agung, pemberani, dan terhormat, saat ini tidak tahu harus berbuat apa.

Khadijah ingin memegang dan menarik kepergian sang putra dengan tangannya. Namun, tak ada tali yang bisa mengikutinya alur hidup Qasim. Dan memang, tali-tali yang tidak begitu kuat milik Qasim sudah terputus.

Qasim telah layu...
Jiwa Qasim telah terbang tinggi di atas langit bersama dengan sayap malaikat.
Gunung-gunung bergetar, seakan kiamat telah datang bagi Sang Ibu.

Teriakan "anakku" dari hatinya mengungkapkan kesedihan Khadijah. Putra mungilnya terbang seperti kepompong yang telah berubah menjadi kupu-kupu, laksana air yang jatuh dari telapak tangan.

Putra mungilnya jatuh dari telapak tangan Sang Ibu.
"Rumah Khadijah" meneteskan air mata.

"Hati boleh bersedih, mata boleh berkaca-kaca," ucapnya berulang-ulang dalam tangisan, "punya kita bukanlah penyesalan, melainkan kesedihan." 

Hal ini diucapkan berkali-kali, seakan-akan ingin meyakinkan dirinya. Namanya bukan Abu al-Qasim lagi. Riwayat hidupnya yang singkat tercatat di antara lembaran buku kehidupan mereka sebagai suatu kenangan perpisahan yang menyedihkan.

Barakah yang merupakan pengasuh untuk semuanya, yang kehidupannya dilewati dengan perpisahan dan kesedihan akan kematian, memandangi Muhammad dengan hati terluka.

"Perpisahan Kekasih Muhammad yang keberapakah ini?"

Dia memandangi Muhammad yang telah dibesarkan dengan tangannya. Dia teringat satu persatu persatu perpisahan Muhammad dengan ayahnya, ibunya, dan kakeknya ketika melihat lelaki dengan wajah bercahaya itu menangis diam-diam di samping keranjang bayinya.

Al-amin, sang simbol kesabaran, mengajak semua yang berada di ruangan untuk tenang. 

Mereka menggali makam kecil untuk sang bayi di pemakaman Ma'la yang berada di puncak Huj'. Melewati makam-makam yang dihiasi pita dan kaca-kaca, diselimuti dengan kain lampin polos, mereka mengantar Qasim ke tempat asal dia datang.

Beberapa orang menggunakan kesedihan yang dialami al-Amin dan Khadijah sebagai kesempatan emas untuk menyebarkan desas-desus.

"Lattalah yang telah mengambil putra kalian, dengarkah kalian?"
"Uzza akan menghukum orang yang tidak menyembahnya, ucap leluhur kita. Dan itulah yang terjadi!"
"Dan itulah yang terjadi jika pelit dan tak memberikaz kurban kepada Manna! Kasihan Khadijah!"

Pasangan itu menolak melakukan adat leluhur untuk menghapuskan kesedihan perpisahan dengan putra mereka. Bagi mereka, tak ada yang dapat dilakukan selain saling bergantung pada cinta dan kehormatan mereka.

Pada hari ketika hati Sedang bimbang, sepasang mata 'Sang Ayah' terpaku kepada Zaid, budak yang dihadiahkan Khadijah. Khadijah juga mendapatkannya sebagai hadiah dari keponakannya yang seorang hakim. Ia menghadiahkan budak kecil berumur kurang lebih delapan sampai sembilan tahun ini karena wajah Zaid yang tampan, serius, dan berperasaan lembut. 

Zaid bin Harits menjadi budak setelah sukunya kalah perang. Setelah beberapa kali berpindah tangan, dia telah berpisah dengan keluarga aslinya, seperti halnya Dujayah. Zaid adalah Anak yang pintar, cerdik, dan cerdas. Itulah yang menjadi sebab mengapa dia selalu diinginkan sebagai pelayan. 

Setelah hari-hari yang penuh dengan luka hati, sambil memegang tangannya, al-Amin membawa Zaid menuju Kakbah. Setelah beberapa orang memerhatikan mereka, al-Amin medegang kedua dengan Zaid dan mengangkatnya ke udara sambil berkata dengan suara keras.

"Wahai manusia, jadilah saksiku! Zaid adalah putraku! Dia adalah ahli warisku dan aku adalah ahli warisnya. Wahai kaum Quraisy, dengarkanlah!"

yang sedang bertawaf, yang sedang memotong kurban, yang sedang tawar menawar, semuanya berlari menuju ke arah suara yang bagus itu. Mereka saling berebutan untuk memberikan ucapan selamat kepada al-Amin. 

Khadijah telah menemukan lagi satu kelebihan milik suaminya. Dia adalah seorang dengan hati yang luas untuk menerima Zaid sebagai putranya. Zaid yang menurut orang-orang terhormat Mekah merupakan seseorang yang tak terlihat dari "yang tak terlihat", tetapi di rumah itu dia selalu terlihat dari awal, terdengar, dan diketahui. 

Dan dia menjadi putra mereka. Al-Amin menjadi seorang ayah dan teman bagi putra-putrinya yang terlahir dari suami sebelumnya. Dia tidak menjadikan mereka anak angkatnya. Dia tidak membuat anak-anak tersebut menundukkan kepalanya.

Peristiwa "pengangkatan anak" membuat kedua pasangan itu menjadi sepasang sayap bagi Zaid yang butuh perlindungan. Disisi lain, Zaid adalah penghibur sekaligus pengurang beban di hati Khadijah dan al-Amin.

Kedua matanya baru saja terbuka dari tidur yang lelap. Pandangannya tertuju pada suami yang sudah terbangun, dengan tangan dan wajah yang telah terbasuh. Bersih. 

al-Amin adalah orang yang sangat menjaga kebersihan. Di depan cermin, ia membelah rambutnya yang panjang sampai pundak menjadi dua bagian yang sama, lalu menyisirnya menjadi tiga bagian ke kanan dan tiga bagian ke kiri.

Kadang, di malam hari, minyak zaitun yang bercampur wewangian tercium dari rambut suaminya. Khadijah mencium wangi itu seperti bau surga. 

Meskipun perasaan malas masih menyelimutinya, dia tetap bangun dan berdiri untuk menyiapkan sarapan pagi. Badan Khadijah goyah sesaat setelah berdiri. Dia terjatuh ke arah tempat tidurnya.

Seketika itu pula al-Amin melempar sisirnya dan berlari cemas ke arah Khadijah.
"Aku pikir aku sedang mengandung..."

Khadijah mengandung lagi. Kondisi Khadijah sebenarnya sangat lemah setelah Qasim wafat dan Zaynab lahir. Namun, semua hilang seketika setelah kedatangan berita bagus ini.

Perempuan tua, tetapi Kuat, yang datang ke tempat tinggal al-Amin dan Khadijah di siang hari menjadi berita bagus kedua yang menyebabkan kegembiraan mereka bertambah. Dialah Halimah, ibu susu sang suami. Semua yang berada di rumah seperti terbang melanglang buana karena gembira.

"Ibuku...Ibuku datang," ucap al-Amin. 

Bunga-bunga bermekaran di wajahnya. Khadijah pun merasakan kegembiraan yang sama.
"Ibu al-Amin adalah ibuku juga. Selamat datang yang terhormat perempuan kaum Sa'ad bin Bakr yang paling baik."

Keluarga Sa'ad bin Bakr yang berasal dari suku Hawazin dikelnal di seluruh Mekah karena profesi Ibu susu ini. Kaum Hawazin menetapkan di puncak Gunung, tempat yang tinggi dan bersih. Tak pernah kekurangan angin daÅ„ kelembaban. Tempat itu terkenal dengan kesehatan anak-anak dan para wanitanya. 

Dipenuhi dengan rerumputan, mata air yang bersembunyi diantara sumber-sumber air, warna-warni semak yang terulur dari pinggir-pinggir air, ranting-ranting pepohonan yang ujungnya terdapat buah berwarna merah yang mirip dengan tangan-tangan sang kekasih di cerita dongeng, pepohonan berwarna ungu dan wangi, rerumputan yang paling disukai domba, timun liar, dan bunga-bunga wijen yang berwarna ungu.

Kaum Hawazin adalah bangsa yang bebas. Gaya hidup yang tak terikat pada apapun itu Dipercayai orang-orang Mekah sebagai salah satu faktor penting dalam mendidik anak-anak mereka. 

Jika ingin menguasai bahasa Arab murni dan asli, para orang tua akan memberikan anak-anak mereka kepada para pendatang Hawazin atau para pengembara di musim semi. 

Para Ibu susu itulah yang akan membuat anak-anak menghafalkan puisi-puisi, syair-syair, dongeng dan cerita-cerita. Dan wanita yang mengetuk pintu rumah Khadijah adalah Ibu susu yang paling terkenal di antara Suku Hawazin. Perempuan yang menyusui al-Amin dan membesarkannya.

"Saat itu Tahun Gajah. Masyarakat Mekah menyambut dengan senang para calon Ibu susu yang turun ke pusat kota di hari yang panas pada bulan itu. Semua saling berkompetisi untuk menjadi yang pertama di Pasar Ukaz. 

Mereka saling berlari untuk menjadi yang pertama dan mendapatkan anak orang kaya. Pada tahun itu, aku berada diurutan belakang diantara rombongan ibu susu. 

Ketika itu, Abdul Muthalib terlihat bingung sambil menggendong bayi yang tidak berayah. Ia khawatir karena tidak ada ibu susu yang mau mengambilnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukan. 

Kita semua tahu bahwa dia adalah orang kaya dan terhormat. Saat itu, akupun berkata dalam hati untuk membawa pulang cucu Abdul Muthalib. Hal itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Ternyata, aku sungguh beruntung!

Sebenarnya, air susuku lebih sedikit jika dibandingkan para perempuan Hawazin lain. Namun, tiba-tiba air susuku menjadi banyak setelah mulai menyusui cucu Abdul Muthalib. Bahkan, jumlahnya sangat cukup untuk menyusui anakku sendiri yang menangis. 

Akupun sangat senang. Bukan hanya aku saja yang air susunya menjadi banyak setelah kedatangan bayi baru itu. Kantong air susu unta kami pun penuh dengan air susu. Kami tidur sangat lelap setelah kenyang meminum susu hasil perasan dari unta kami. 

Ketika pagi menjelang, kami sadar bahwa bayi ini membawa kebaikan dan keberkahan. Hewan tunggangan kami yang tadinya lemah dan tua pun sudah tidak ada yang menandingi. Bahkan, para perempuan yang aku lewati dengan keledai tungganganku yang juga lemah dan tua bertanya, "Ya putri Abu Zuaib, pelan-pelanlah. Bukankah itu adalah Hewan tunggangan mu yang dulu?

Selain itu, musim kemarau yang melanda wilayah Hawazin tahun itu membuat kami kekurangan air. Tanaman dan rerumputan pun kering. Hewan-hewan kami kehausan dan kelaparan. Tubuh mereka sangat kurus. 

Namun, setelah membawa bayi itu, kami menyaksikan awal dari perubahan. Semua kambing menjadi gemuk dan kantung susu penuh dengan air susu. 

Bahkan, para penduduk berkata, "Dimana kambing-kambing Abu Zuaib digembalakan, lepas kambing-kambing kalian di sana."
Allah menambahkannya keberkahan kepada kita berkat Muhammad. Dia anak yang berakhlak baik."

Saat berbicara, Halimah punya kebiasaan yang khas. Dia akan menaikkan dan menurunkan suaranya sehingga mampu menyihir semua yang berada disitu. Semuanya mendengarkannya tanpa mengambil nafas. 

"Muhammad, anakku, Pernahkan dia bercerita bagaimana dia hilang ketika masih kecil? Aku dan suamiku sangat khawatir. Kami mencari ke seluruh sisi, tetapi tidak menemukannya. 

Dia mengembalakan domba dangan saudara susunya, Syaima. Kemudian, saat putriku pulang, saudara susunya tidak bersamanya. Dia menemukanku dalam keadaan hampir gila ketika dirinya kembali.

Muhammad, yang waktu itu masih kecil, menceritakan kepadaku dengan bahasa yang belum fasih. Katanya, tiga orang yang tak dikenal mendekatinya. Sosok pertama menggenggam kendi perak dan cawan dari batu zamrud berwarna hijau yang penuh dengan es. 

Mereka berhati-hati membawanya ke puncak Gunung. 

Kemudian, sosok pertama membelah dadanya sampai ke perut. Dia tak merasakan apapun. Tak ada rasa sakit atas semua yang menimpa dirinya. Dia mengeluarkan usus-ususnya dan meletakkannya kembali setelah dicuci air es dengan gerakan yang sangat lembut. 

Kemudian, sosok kedua mengeluarkan hatinya dan membelahnya menjadi dua. Dia mencari dan membuang noda-noda kehitaman.  Dia mengisi hati itu dengan sesuatu yang dibawa kesampingnya. Setelah meletakkan kembali hati itu ke tempatnya, dia mengecap hati itu dengan sesuatu yang berasal dari cahaya. 

Sosok ketiga menimbang Muhammad dengan sepuluh orang, dan ia lebih berat dari pada mereka. "Seberapa banyak pun kalian mengukurnya dengan seluruh masyarakat, dia akan lebih berat daripada mereka semua," ucapnya. 

Kemudian, dia memegang tangan Muhammad dan menaruhnya di suatu tempat dengan sangat hati-hati. "Wahai Kekasih Allah, Engkau tidak akan pernah merasa ketakutan. Engkau akan bahagia jika tahu apa saja yang telah disiapkan untukmu" kata mereka. Merekapun meninggalkannya. Ketika Muhammad berbalik ke belakang, dia melihat mereka telah terbang ke langit. 

Kisah yang diceritakan anak susunya itu apakah mungkin berasal dari dunia khayalan yang luas? Atau mungkin dongeng yang diceritakan wanita tua kepadanya? 

Namun, mereka yang mendengarkan kisah itu tidak menanyakan pertanyaan-pertanyaan itu. Puisi-puisi khas orang-orang Mekah, perilaku yang menunjukkan rasa hormat, budaya yang menjunjung tinggi para legenda, serta kisah anak susunya itu tidak akan hilang dan akan selalu disampaikan berabad-abad. 

Kedatangan Halimah sungguh bagus untuk pasangan suami-istri yang hatinya sedang terluka oleh kesedihan perpisahan dengan putranya dalam dua tahun ini. Seakan-akan dia mengembalikan kehidupan para pendengarnya dengan kenangan-kenangan yang membuat anak-anak tertawa dan tersenyum.

Khadijah tentu saja tidak akan membiarkan Ibu kekasih hatinya pulang dengan tangan kosong. Meskipun tidak bisa mengganti susu, dia menghadiahkan empat puluh lima kambing dan unta yang berkualitas bagus untuk kenyamanan dalam perjalanan kepada ibu susu Halimah. 

Anak yang selalu membawa keberkahan dan keberuntungan kepada Halimah telah dewasa dan menjadi seorang ayah dan tetap memberikan keberkahan kepadanya.

Khadijah memang dermawan. Dia memberikan semuanya ketika berbagi. Tidak semua orang memiliki hati yang luas seperti Khadijah. Mereka yang datang kepadanya tidak akan mau jauh darinya. 

Dia adalah seorang Perempuan yang akan selalu dikenang. Meskipun hanya sekali dalam hidup, apa yang dilakukan untuk para tamunya, basa-basinya, jamuan-jamuannya, akan dikenang sampai mereka meninggal dunia. Walau sekali bertemu, mereka seakan-akan sudah merasa yang paling beruntung.

Salah satu dari mereka adalah Zubair bin Awwam.

Bibi Muhammad, Safiyah, menikah dengan Awwam bin Khuwaylid, saudara laki-laki Khadijah. Zubair adalah putra dari pasangan yang saling mencintai itu. 

Ketika kehilangan ayahnya di umur yang masih muda, dia dibesarkan oleh Khadijah dan al-Amin. Zubair pun bersama dengan Anak-anak lainnya didaftarkan ke madrasah milik Khadijah.

Akhlak mulia al-Amin dan tingkah laku sempurna milik Khadijah membuat Zubair seakan-akan seperti sebuah mutiara yang besinar di tangan penjual barang-barang mewah. 

Tidak hanya terbatas pada Zubair dan Zaid yang merupakan hasil didikan sepasang suami-istri yang saling menyayangi itu. Ali bin Abu Thalib juga merupakan setangkai bunga yang tumbuh di kebun bunga yang sama.

Ali adalah putra terakhir Abu Thalib. Setelah al-Amin keluarlah dari rumah sang paman dan tinggal bersama Khadijah, ia tidak pernah memutuskan hubungan dengan rumah itu. 

Ketika mendengar kabar kelahiran Ali, bunga-bunga pun bermekaran di wajahnya. Dia lalu membagikan sedekah untuk masyarakat sekitar. al-Amin mendatangi rumah pamannya, ia menggendong bayi yang baru lahir itu, menciumnya, dan kemudian melainkan kurma yang telah dikunyah ke langit-langit lidah sang bayi. 

Kenikmatan yang pertama kali didapatkan Ali setelah terlahir ke dunia adalah pujian dan harapan yang kelar dari mulut al-Amin yang tersembunyi di dalam kurma itu.

Ketika al-Amin tinggal bersamanya, Abu Thalib memang sudah cukup tua. Saat itu rumahnya penuh dan ramai. Meja makannya pun sempit. 

Kadang, perdagangannya tidak berjalan lancar. Sang kemenakan merasa bahwa dirinya tidak akan bisa membayar semua utang budi yang telah dilakukan sang paman. 

Ia berpikir untuk mencari solusi yang bisa menenteramkan mereka. Disuatu malam, ia pun berdiskusi dengan sang istri untuk mengambil salah satu anak pamannya untuk sedikit meringankan bebannya. Dan sang istri menyetujuinya.

Keesokan hari, al-Amin mendatangi Abu Thalib bersama pamannya yang lain, Abbas. Setelah menjelaskan keinginannya, al-Amin lalu membawa Ali, Sedangkan Abbas membawa kakak Ali yang berumur empat tahun ke rumah mereka masing-masing.

Kepintaran dan kepandaian Ali yang bersinar seperti emas membuatnya menjadi siswa yang paling menonjol di sekolah Muhammad. Ali berada dalam sayap-sayap kasih sayang Khadijah. Muhammad yang sering mencium anak itu diantara kedua alisnya besinar layaknya lilin yang menyinari seluruh sudut rumah. 

Ali belajar berenang, memanah, dan menunggang kuda dari al-Amin, sementara yang menyuapi dan memakaikan bajunya adalah Khadijah. Dari Khadijah pula Ali belajar membaca dan berhitung. Dia merupakan sumber kebahagiaan rumah yang memiliki kepintaran yang cemerlang dan tak mau berpisah dari sisi al-Amin.

Masyarakat Mekah membincangkan Ali yang tumbuh besar di tempat suci dan penuh dengan kebaikan serta penjaga kebun Khadijah dengan Kalimat berikut, "Kata-kata baik dan bagus yang terucap oleh Muhammad terbang tinggi diatas kekayaan Khadijah dan pedang milik Ali"

Dan kemudian, dua Anak Perempuan, Ruqayyah dan Ummu Kultsum, lahir kedunia setelah Zainab. Zainab, Zaid, Zubair, Ali, Ruqayyah dan Ummu Kultsum yang tumbuh besar di bawah tangan Khadijah akan menorehkan sejarah di lembaran-lembaran halaman emas sebagai Anak-anak yang berharga.

Al-Amin yang sudah menginjak umur tiga puluh lima seakan-akan mulai menjauhkan diri dari masyarakat. 

Bahkan, Khadijah pun mencoba ikut meringankan tanggung jawab perdagangan yang dipikul suaminya setelah merasakan perubahan itu. 

Dengan dukungan keponakan-keponakannya, ditambah Hindun dan Halah yang sudah remaja, Khadijah berhasil meringankan tanggung jawab suaminya.

Langkah-langkah tafakur mulai dilakukan al-Amin. Pendakiannya ke puncak gunung dilakukan pagi hari, berdiam diri, dan kemudian kontemplasi yang dilakukan berjam-jam di tenggelamnya hari. 

Tebersit dalam batin Khadijah bahwa al-Amin memang senang berdiam diri. Sejak remaja, al-Amin memang tidak menyukai hiburan, pembicaraan sia-sia, lelucon kasar, dan hal-hal yang memicu perkelahian.

Suatu hari, al-Amin menceritakan kisah hidupnya dan mengawalinya dengan frasa ketika aku masih remaja. 

“Ketika aku masih remaja, pada hari ketika aku masih menggembala, di pusat kota terdapat acara pernikahan yang besar. Kami memutuskan pergi ke acara itu bersama teman-temanku. 

Ketika sudah hampir sampai ke tempat acara itu, seakan-akan terjadi sesuatu pada tubuhku. Aku tidak bisa menahan rasa kantuk. 

Kemudian, aku duduk di atas batu dan ingin beristirahat sebentar. Aku pun tertidur. Ketika terbangun, aku sudah tidak melihat acara hiburan maupun pernikahan. 

Hal seperti itu kembali terjadi padaku. Rasa kantuk mengalahkanku. Mulai saat itulah aku memutuskan tidak pernah lagi pergi ke acara hiburan seperti itu.”

Khadijah merasa bahwa satu-satunya tempat yang nyaman dan tenang untuk suaminya adalah berada di sisinya. 

Pada saat-saat ini, al-Amin yang selalu menghormati dan dekat dengan para tamu, kerabat, dan kaum musair mulai menjauhkan diri dari semua itu. 

Khadijah sebenarnya berusaha keras mengubah keadaan itu. Namun, karena menyaksikan sendiri betapa berat hari-hari yang dilewati al- Amin, ia pun mulai sadar dengan kondisi tersebut. Dia sekarang ingin berdiam diri.

Pada masa-masa ini, di Mekah banyak orang yang melakukan adat yang di lakukan oleh orang-orang tua yaitu tahannutsTahannuts merupakan ibadah yang bertujuan menjauhkan diri dari dosa dan keramaian.

Bersama dengan Khadijah, al-Amin sering pergi mengunjungi orang-orang tua yang sedang melakukan pengasingan diri di gunung dan sibuk dengan puasa dan berdoa. 

Pada saat seperti itu, Khadijah akan menaruh makanan, seperti zaitun dan kurma, di keranjang yang ia bawa dan diberikannya kepada mereka yang berhari- hari berdiam diri di dalam gua. Setelah itu, Khadijah akan meminta didoakan oleh mereka.

Al-Amin dan Khadijah sangat menyukai Gunung Hira dan gua yang mungil di sana. Perjalanan ke sana kurang lebih satu jam. 

Karena sudah mengetahui letak dan struktur gunung itu, mereka dengan mudah melewati rintangan-rintangannya. 

Menurut mereka, tempat itu jauh dari keramaian dan gelombang-gelombang kekerasaan dunia serta dekat dengan langit. Selain itu, dari tempat tersebut mereka bisa menyaksikan mentari yang sedang tenggelam. 

Khadijah mendaki gunung menemani suaminya yang bergetar penuh dengan keingintahuan. Setelah waktu yang mereka lewati dalam pendakian itu, dia merasakan seakan-akan di setiap langkah ruhnya tercuci bersih dan batinnya bersinar terang. Jalan yang dia lewati bersama suaminya pun sudah menjadi jalan biasa untuk dirinya.

Gunung Hira hanya bisa ditaklukkan oleh orang-orang yang memiliki kesabaran dan keinginan untuk menjaga rahasia. 

Gunung Hira seolah-olah hanya memberikan hadiah kepada mereka yang menginginkan ketenteraman.

Gunung Hira tidak mudah untuk didaki. Batu-batu besarnya mempersulit jalan. Belum lagi batu-batuan kecil dan kerikil membuat jalan menjadi licin dan membahayakan para pendaki. 

Menurut Khadijah, salah satu dari bebatuan itu mirip dengan bulatan tembaga yang besar. Ketika sampai pada batu itu bersama dengan suaminya, dia seperti merasakan al-Amin memandangnya dengan tatapan mata yang penuh kasih sayang dan ucapan terima kasih.

Mereka tidak berbicara. Mereka beristirahat sebentar sambil bersama-sama memandang kota-kota yang perlahan-lahan tertutup dengan embun. Khadijah menepuk batu yang mirip bulatan tembaga itu dan mengucapkan terima kasih kepada gua Hira atas pemandangan dihadiahkan kepada mereka.

Al- Amin kadang berada di depan, kadang di samping, atau menggenggam tangannya. Namun, sekali lagi, tanpa mengucapkan satu kata... diam....

Mereka menemukan satu bahasa baru selama melakukan pendakian itu. Bahasa itu tak memiliki suara dan huruf. Mereka merupakan pasangan yang saling mengerti tanpa berbicara ketika berada di Hira. 

Seperti masa-masa Adam dan Hawa mengelilingi surga dengan saling memegang tangan dan tanpa bicara. Seperti manusia pertama yang melihat keagungan dan keindahan ciptaan Allah dan tidak menemukan kata-kata untuk diucapkan. 

Tanpa sadar, mereka telah tiba di gua-gua berbentuk bulat yang berada di Gunung Hira itu. Ketika menunduk dan masuk ke gua kecil itu, muncul perasaan hangat dan tenteram. Khadijah menyukai gua ini yang seperti balkon di tepi gunung dan menghadap ke arah kota.

“Ketika berada di atas, apa yang kita lihat bertambah banyak, tetapi apa yang diucapkan semakin berkurang,” ucapnya dalam hati.

Matanya telah banyak menyaksikan kejadian tragis dan tak aman yang terjadi setiap hari di jalan-jalan di dalam kota. 

Perkelahian, ketidakadilan, atau pencurian. Semua itu kini menjadi terlihat kecil. Keindahan ciptaan-Nya terlihat besar. Khadijah memahami bahwa kebesaran dan keagungan Allah memancarkan sinarnya ke seluruh arah.

Ke arah mana awan-awan pergi, bagaimana burung-burung terbang, dari mana berasal sumber mata air yang mengalir seperti air mata di dalam gua? Siapa yang meletakkan Matahari dan bintang-bintang di langit layaknya lilin-lilin tergantung? Begitu banyak pertanyaan melintas dalam pikiran.

Ketika malam tiba, mereka tidur berselimut selendang ungu muda. Setiap matanya terbuka, dia melihat al-Amin yang sedang berdoa di bawah sinar bulan dan memandang kejauhan. 

Bintang-bintang yang mendekat seakan-akan menyentuhnya. Di malam hari yang memudahkannya memilih serabut bulu di wajah sang bulan, hati Khadijah tersiram air hujan cinta.

Pengalaman yang didapat di Gunung Hira menjadi penyebab Khadijah memahami suaminya lebih dalam. Dari Gua Hira itulah tumbuh kecintaan pada ibadah, berdoa, tafakur, dan khususnya semangat ketika memandang Kakbah. Khadijah menganggap semua itu sebagai sebuah kebaikan.

Pada saat suaminya pergi mendaki, Khadijah sendiri atau pembantunya akan mengawasi al-Amin untuk mengontrol kesehatan dan kebutuhannya. 

Ketika beberapa kali tidak sabar menunggu, Khadijah akan pergi sendiri secara sembunyi-sembunyi. Dia tinggal di antara lubang gunung yang tak jauh dari gua tempat suaminya berada. Dia tidak pernah meninggalkan al-Amin sendiri...

Khadijah yakin kepada al-Amin. Kepercayaannya penuh. Ia berada di jalan yang benar. Namun, Khadijah adalah seorang wanita, seorang ibu, wanita yang tertutup kepalanya, pelindung, pemberi, wanita yang melebarkan sayapnya. 

Dia tidak bisa tidur di tempat tidurnya yang hangat ketika suaminya berada di gua. Walaupun tertidur, hatinya tidak pernah tidur. Khadijah melihat seluruh wajah putra-putrinya ketika memandang wajah al-Amin... dia adalah seorang kekasih dan juga seorang ibu.

Setelah melewati hari-hari yang panjang di Gua Hira, al-Amin mulai bisa melihat dan mendengar hal-hal tidak biasa yang membuatnya tak nyaman. 

Ia mendengar suara-suara yang mengucapkan salam kepadanya ketika berjalan melewati sesuatu di sekitarnya. 

Saat itu, ia berpikir bahwa semua itu hanya khayalan, apalagi ketika tidak menemukan seorang pun di sekitar tempat itu. 

Ketika al-Amin menceritakan keadaan ini kepada istrinya, seperti biasa Khadijah menenangkan al-Amin dengan mengucapkan kata-kata yang lembut.

“Engkau selalu menjaga amanah yang diberikan kepadamu dan selalu memberikan hak-hak kerabatmu. Engkau juga selalu bersilaturahmi kepada mereka. 

Engkau memiliki akhlak yang bagus dan berada di jalan yang benar. Apa yang engkau lihat adalah benar dan pasti ada alasan di balik semua itu. Jangan khawatir, Allah akan melindungi orang-orang yang berakhlak baik. Kami semua memanggilmu al-Amin. Namamu adalah Muhammad.”

Karena Khadijah tahu bahwa dirinya terhubung secara batin dan menjadi saksi atas perilaku baik suaminya, dia mulai memberikan dukungan yang lebih kepada sang suami. 

Sebagian tanggung jawab suaminya dalam hal perdagangan mulai ia ambil. Di samping itu, ia juga sangat perhatian pada kegiatan yang berkaitan dengan hari-hari ibadah sang suami. 

Kepedulian ini juga dimaksudkan agar putri-putrinya tidak merasakan kekosongan dari diri sang ayah. Apalagi, ayah dari Zainab, Rukayyah, dan Ummu Kultsum ini sedang melewati hari-hari yang penuh dengan kesulitan dan beban. 

Selain itu, saat tiba di rumah, al-Amin pun dalam keadaan sangat lelah. Semua itu dilakukan Khadijah untuk membantu suaminya melewati keadaan tersebut sehingga tidak memengaruhi jiwa anak-anak mereka.

Kadang, sang suami berada di gua selama empat puluh hari. Pada saat seperti itu, Khadijah akan menugaskan orang kepercayaannya untuk mengawasi sang suami. 

Namun, suatu waktu dia sendiri yang akan mengawasi secara rutin tanpa menyakiti perasaan suaminya. Apalagi, saat itu banyak pembunuhan yang menimpa mereka yang sedang menjalankan ibadah akibat permusuhan yang terjadi dengan kaum Bani Umayyah. Hal itu tentu saja bisa juga menimpa suaminya.

Menghadapi hal seperti itu, mereka harus bertindak cerdik dan pintar. Beberapa orang yang membantu Khadijah dalam permasalahan ini adalah Hakim, Zaid, Zubair yang terkenal berani, Ali yang sangat cerdas, dan beberapa pemuda yang memiliki hubungan keluarga dengan Bani Hasyim. 

Mereka semua adalah orang-orang yang sangat menghargai dan menghormati Khadijah. Tanpa menunggu permohonan dari Khadijah, mereka tahu apa yang harus dilakukan.

Permasalahan anak perempuan mereka, Hindun binti Atik, yang saat itu sudah berada di usia untuk menikah merupakan salah satu contoh. 

Khadijah ikut memikirkan persiapan menikah, dengan siapa akan menikah, dan juga permasalahan-permasalahan rumah tangga yang akan dibangun. 

Sayi bin Umayyah, keponakannya, pernah meminang Hindun, tetapi Khadijah tidak terburu-buru memberikan keputusan. Ia memberitahu dan mendiskusikan masalah-masalah seperti itu kepada al-Amin pada saat suaminya tidak sibuk dan dalam kondisi yang nyaman.

Meski al-Amin sedang mengerahkan jiwanya untuk beribadah, Khadijah tidak pernah mengambil keputusan sendiri tanpa bermusyawarah dengannya. 

Khadijah percaya dengan pengalaman hidupnya dan kecerdasaan al-Amin, dan itu merupakan bukti bahwa mereka saling melengkapi. Bahkan, Khadijah mampu meringankan beban ruhani yang dipikul oleh al-Amin.

Malam hari menjelang pagi, al-Amin mengetuk pintu rumah. Ia tiba di rumah dengan tubuh bermandikan peluh dan berwajah pucat, seakan-akan merasakan dingin yang luar biasa. Ketika membingkai tubuh suaminya dengan selimut, Khadijah memeluknya dengan penuh kasih sayang dan cinta.

Keesokan hari, al-Amin menceritakan apa yang terjadi pada malam itu. Dirinya telah melewati empat puluh hari dengan berpuasa dan beribadah sebelum tiba di sisi istrinya. 

Saat itu, sebelum waktu berbuka tiba, ia terbangun setelah setengah tertidur dan melihat sebuah mimpi yang mengejutkan. Ia kemudian berlari menuju sisi istrinya. Dalam kondisi setengah tertidur, mimpi yang dilihatnya serasa nyata.

“Wahai Muhammad, Allah mengirimkan salam untukmu. Dia memerintahkanmu bersiap diri menerima salam dan hadiah-Nya,” ucap suara kepadanya.

Di tangan Mikail, nama malaikat yang datang menghampiri al-Amin, terdapat piring yang ditutupi kain sutra, yang isinya memancarkan sinar. 

Malaikat itu meminta al-Amin berbuka puasa dengan makanan yang ada di piring itu. Al-Amin lalu menyantap makanan itu dan kemudian meneguk minuman dingin yang diberikan kepadanya.

Selanjutnya, malaikat itu meminta al-Amin menjumpai istrinya. Allah berfirman akan menciptakan anak-cucu al-Amin dari anak cucu yang bersih. Mereka akan memberikan nama Fatimah kepada bayi mereka yang akan lahir. 

Bayi ini akan memiliki wajah dan tubuh yang sama dengan ayahnya. Dia akan tumbuh dan besar seperti sebuah bunga dengan kecerdasaan, kepintaran, dan akhlak yang bagus di bawah bimbingan ibundanya.

Dia adalah Zahra, sebuah sungai yang kebenaran kata-katanya menurun dari ayahandanya, sementara usaha dan keberanian datang dari ibundanya.

Khadijah sadar bahwa ia akan menghadapi hari-hari penuh dengan ujian saat melahirkan putrinya. Kabar mengenai kesulitan Khadijah terdengar sampai ke telinga para wanita terhormat Mekah. Ia pun sangat terkejut ketika para wanita terhormat Mekah memalingkan wajah darinya.

Akan tetapi, Khadijah memiliki sahabat-sahabat dan pembantu yang setia kepadanya karena Allah. Perasaan sakit yang ia rasakan ketika akan melahirkan, baik karena kesulitan, keterkejutan, maupun kekerasan hati. 

Saat orang-orang yang menunggu kelahiran datang, ketika matanya terbuka dan tertutup, seakan-akan dirinya merasakan sepasang tangan yang menghapus keringat di dahinya dengan penuh kasih sayang. Bisikan suara terdengar di telinganya.

“Kami adalah saudaramu.” Begitulah suara-suara yang didengarnya, seperti dari ruh para perempuan.
“Wahai Khadijah! Jangan bersedih!” ucap suara-suara manis dan bersahabat itu. 

Mereka pun menceritakan kisah putri Imran, Maryam, dan putri Muzahim, Asiyah. Saat itu, seakan-akan tangan- tangan mereka menyentuh punggung, perut, dan pundak. 

Tiba-tiba, rasa sakit yang menghinggapinya terasa ringan. Dan seperti itulah qadar hidup yang seakan-akan terangkat ke udara oleh seekor burung. Ketika kesedihan dan beban Khadijah terlepas, proses kelahiran pun menjadi mudah.

Di saat proses melahirkan, Khadijah jatuh pingsan. Cahaya pun terpancar dari kepala bayi yang lahir, seakan- akan menyinari seluruh Mekah. Saat pingsan, Khadijah seperti mendengar suara-suara para perempuan, melihat mereka menggendong bayinya sambil tersenyum, serta menyaksikan bayi dimandikan dan dipakaikan kain berwarna putih di tubuhnya. 

Suatu jendela seakan-akan terbuka untuk Khadijah ketika sedang melahirkan. Satu sisinya terlihat ke arah dunia, sementara sisi lainnya ke arah lain. Dalam dan luar, tempat ini dan tempat lain, satu sama lain saling bercampur tidak jelas pada saat itu. 

Para ruh perempuan mengucapkan selamat untuk Khadijah. Orang- orang yang didekatnya, saudara wanitanya, para pelayan wanitanya, dan orang-orang lemah Mekah saling berebut untuk mengucapkan selamat kepadanya. 

Dan dalam waktu yang sama, air susu Khadijah mulai mengalir. Secara adat, bayi Fatimah seharusnya diberikan kepada ibu susu. Namun, tidak ada ibu susu yang cocok untuk Fatimah selain ibunya sendiri. Dia hanya akan dibesarkan dengan air susu ibunya.

"Khadijah! Ketika beribadah di gua, aku melihat sebuah cahaya dan mendengar sebuah suara. Aku sangat cemas dengan diriku. Aku takut akan menjadi seorang peramal jika hal ini terus berlanjut. Aku bersumpah membenci berhala-berhala dan peramal-peramal yang tidak lebih dari segalanya.”

“Wahai anak Pamanku! Jangan berkata seperti itu! Allah tidak akan pernah menyakitimu!”
Ketika pembicaran seperti itu mulai semakin banyak terjadi, Khadijah yang merupakan teman rahasia dan juga pendukung al-Amin menceritakan keadaan itu kepada Abu Bakar, salah satu teman dekatnya. 

Abu Bakar dipilihnya karena ia adalah salah satu pembesar Mekah yang dipercaya dan sangat dicintai al-Amin. Kalau bukan Abu Bakar, ia tidak akan pernah menceritakan siapa pun tentang kecemasannya itu.

“Jemput dia. Kemudian, pergilah menemui Waraqah bin Naufal. Mungkin ia bisa memberikan nasihat,” ucap Abu Bakar sambil memandang Khadijah dengan pandangan yang penuh dengan harapan dan ampunan. 

Abu Bakar memegang tangan al-Amin penuh dengan kasih sayang dan mengucapkan salam ketika bertemu dengannya di jalan. Tangannya melingkari lengan al-Amin.
“Ayo, pergi bersamaku ke tempat Waraqah,” ucapnya dengan penuh keceriaan.

Setelah itu, mereka berdua melakukan perjalanan bersama ke tempat Waraqah. Di sana terdapat sebuah rumah yang selalu menyambut mereka dengan penuh kebaikan dan kegembiraan. Al-Amin menceritakan apa yang terjadi dengan dirinya kepada Waraqah. Abu Bakar dan Khadijah pun ikut mendengarkan.

“Di tempat aku berdiam diri, tidak ada siapa pun selain diriku. Aku mendengar suara yang memanggil namaku dari balik badanku, ‘Wahai Muhammad, wahai Muhammad’. Aku mendengar suara itu, tapi tidak melihat siapa pun yang mengucapkannya.”

Waraqah memberikan jawaban sambil mengelus jenggotnya. “Tidak akan ada sesuatu yang akan terjadi padamu dari suara itu.”

“Ketika mendengar suara itu, aku menjauh sambil ketakutan. Aku pun pergi ke tempat lainnya.”
“Jangan lakukan seperti itu! Ketika suara itu terdengar, sampai kau mendengar semua yang akan dikatakan padamu, kau harus duduk diam di sana! Kemudian, datanglah kepadaku dan ceritakan apa yang kau dengar di sana.”

Agar tak memberikan banyak tekanan kepada al-Amin, Waraqah menegaskan kembali bahwa Muhammad adalah orang yang baik dan memiliki akhlak bagus. Seperti Khadijah, ia pun memberikan dukungan kepada keponakannya itu. 

Ia menjamu tamunya dengan minuman dingin dan buah-buahan. Ia berusaha menjelaskan apa yang terjadi di dalam kehidupan.

Setelah melakukan pembicaraan di rumah Waraqah, Khadijah kembali sadar bahwa dirinya harus memberikan seluruh kekuatannya untuk mendukung al-Amin. Ia lalu memutuskan tidak membiarkan al-Amin menanggung beban ini seorang sendiri. 

Sekali lagi, mereka bersama-sama mendaki Gunung Hira untuk beribadah. Saat malam tiba, mereka tertidur di antara jajaran bebatuan. Pada saat itulah al-Amin mendengar seseorang mengucapkan “iqra”, bacalah, di dalam mimpinya. 

Namun, ia tidak melihat satu orang pun yang mengucapkan kata itu. Ia lalu terbangun sambil terkejut. Khadijah yang ikut terbangun bertanya menenangkannya. Ia memberikan air untuk membasahi bibir al-Amin yang pecah. 

Di suatu hari di akhir hari-hari bulan Ramadan, ketika kembali bertafakur di Gua Hira dan terbenam dalam pikirannya yang dalam, dirinya seakan-akan melakukan perjalanan untuk menemukan jawaban atas pertanyaan- pertanyaan yang menghantuinya. 

Kali ini, Khadijah tidak berada di sisinya. Al-Amin berada di Gua Hira sendiri. Ketika kepalanya terangkat, ia melihat sosok yang ia kenal dalam mimpinya sedang memandangnya. Al-Amin diselimuti perasaan takut dan cemas ketika berhadapan dengan sosok itu. 

Sosok itu pun kemudian berjalan mendekatinya perlahan-lahan. Setelah menunduk, intonasi suaranya yang tegap dan menggetarkan batin manusia terdengar.

IQRA!” ucapnya.
Suaranya seakan-akan ledakan yang datang dari langit. Di dalam gua, saat tak ada orang lain kecuali al-Amin, perintah “bacalah” di berikan kepadanya. Sosok yang memerintahkan itu persis berada di hadapannya dengan posisi menundukkan diri ke arah al-Amin.

“Aku tidak bisa membaca,” jawab al-Amin dengan perasaan takut. Mendengar jawaban tersebut, sosok itu langsung memegang erat tubuh al-Amin. Ia pun merasakan tulang- tulangnya tertekan. 

IQRA!” Karena himpitan yang sangat kuat, al-Amin kesulitan menghirup napas. Ia bahkan mengira dirinya akan tewas.
“Aku tidak bisa membaca!”

Sosok itu sekali lagi mencengkeram dengan kekuatan yang lebih besar. Kali ini, al-Amin merasakan tubuhnya seperti hancur berkeping-keping.

Bacalah!
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan
Menciptakan manusia dari segumpal darah

Bacalah
Dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah
Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya!

Hati al-Amin sudah seperti sebuah kelereng dan ucapan-ucapan itu dituliskan di atas permukaan kelereng tersebut; penuh dengan kesakitan. 

Sangat berat, tetapi jelas dan tidak akan terhapuskan. Sosok yang telah dikenal di dalam mimpinya itu lalu pergi seusai mengucapkan kata-kata itu. Sekali lagi, al-Amin berada di gua sendiri....

Allah mengajarkan ilmu tentang alam semesta kepada al-Amin yang tidak bisa membaca ketika di dalam gua. Namun, ia sekarang memiliki kemampuan membaca dan menafsirkan makna-makna ilahi di dunia. 

Al-Amin turun menuruni Gunung Hira penuh dengan kecemasan. Saat tiba di sisi Khadijah, napasnya masih memburu. Tubuhnya pun penuh dengan peluh. Khadijah merupakan pantai keselamatan baginya....

“Selimuti aku, selimuti aku,” begitulah permintaan Al- Amin saat masuk ke dalam rumah.
Dengan penuh kasih sayang, Khadijah membantu al- Amin yang cemas untuk berbaring di tempat tidurnya. 

Setelah mendengarkan kisah yang dialaminya, Khadijah mencoba menenangkan al-Amin dengan mengucapkan kata-kata yang benar.

“Jangan berpikir buruk tentang dirimu. Bergembiralah! Aku bersumpah kepada Allah bahwa Dia tidak akan pernah membuatmu malu! Engkau telah melindungi dan memerhatikan kerabatmu. Engkau pun selalu berkata jujur dan membantu mereka yang membutuhkan. Engkau membantu orang-orang yang tidak memiliki apa-apa!”

Khadijah tidak mengetahui bahwa makhluk yang mendatangi al-Amin adalah malaikat yang bernama Jibril. Dia juga tidak tahu bahwa suaminya telah terpilih menjadi seorang nabi. Dia juga tidak tahu tentang wahyu yang turun kepada al- Amin. Sama sekali tidak tahu.

Setelah tenang karena ucapan-ucapan Khadijah, mereka memutuskan berkunjung ke tempat Waraqah bersama- sama. Waraqah yang mendengarkan napas kecemasan ketika mereka berada di depan rumahnya langsung menyadari bahwa keadaan saat ini berbeda dengan sebelumnya. 

Sepupu Khadijah itu mempersilakan mereka masuk dan duduk di ruang yang membuat mereka nyaman untuk berbicara. Ketika Waraqah mendengarkan semua kejadian yang dialami di Gua Hira dan wahyu pertama yang turun, dirinya mulai berteriak mengucapkan kata syukur. 

“Wahai Muhammad, makhluk yang kau lihat itu tidak lain adalah Namus-u Akbar yang juga mendatangi Musa. Kau akan menjadi seorang nabi. Ah! Seandainya aku bisa memenuhi ajakanmu dan di hari itu aku masih muda. Seandainya aku bisa berada di sisimu sebagai pendukung ketika kau diusir dari Mekah. Ini semua merupakan sebuah ujian yang dialami oleh nabi-nabi lainnya. 

Kekuatan kebatilan pasti menginginkan ucapan-ucapan yang benar untuk dibuat diam dan dijauhkan. Dan mulai detik ini, hari-hari yang sulit menanti kalian berdua. Tidak seorang pun yang tidak akan mendapatkan siksaan dan menghadapi masalah dengan apa yang akan kau bawa ini. Bertahan dan bersabarlah!”

Khadijah menghampiri Addas, seorang budak Nasrani milik Utbah bin Rabi’ah, untuk mengumpulkan informasi tentang Namus-u Akbar yang dibahas Waraqah. 

Addas merupakan pemeluk Nasrani yang berperilaku baik. Setelah mengunjuk salam dan menanyakan keadaannya, Khadijah mulai bertanya tentang Namus-u Akbar

Addas terkejut dengan pertanyaan yang diajukan Khadijah. Ia tidak pernah mengira ada seseorang yang mengetahui Namus-u Akbar di lingkungan pagan Mekah.

Menurut penjelasan Addas, Namus-u Akbar merupakan malaikat yang memiliki derajat paling tinggi di antara malaikat lainnya. Sejauh ini, tidak ada orang yang melihatnya selain para nabi. 

“Dia berada di samping Musa ketika terluka di laut dan menemaninya mendaki Gunung Tsur. Nabi Isa juga merupakan temannya. Ia adalah malaikat yang bernama Jibril!”

Khadijah semakin tenggelam dalam kain penutupnya. Ia bergetar setelah mendengar kata-kata suci yang masuk ke dalam akalnya. Ia pun pergi untuk kembali menuju rumahnya. 

Ibunda kota Mekah lalu memohon kepada suaminya untuk memberitahukan dirinya jika kembali bertemu dengan malaikat. Khadijah takut dan cemas suaminya tertipu dengan bisik-bisikan setan dan jin.

Suatu hari, Khadijah bertanya apa yang terjadi ketika mereka duduk di rumah dan melihat dahi al-Amin penuh dengan keringat dan bergetar, seakan-akan tertindih beban yang sangat berat.

“Datang.... Malaikat datang....”
Karena memiliki kecerdasan dan firasat, Khadijah memikirkan cara untuk menyakinkan al-Amin dan dirinya bahwa makhluk yang datang itu adalah malaikat. Ia Kemudian mendekati suaminya dan duduk di sisi kanannya.

“Engkau masih melihatnya?”
“Ya, aku masih melihatnya.”

Ia kemudian berdiri dan duduk di samping kiri suaminya.
“Masihkah kau melihatnya?”
“Ya, aku masih melihatnya”

Khadijah lalu pergi ke belakang tubuh sang suami dan memeluknya, seakan-akan menjadi selimut bagi al-Amin. Dan pada waktu itu pula penutup kepala Khadijah terbuka ke samping dan turun ke arah pundaknya.

“Engkau masih melihatnya?”
“Tidak. Setelah engkau pergi ke belakangku, dia pergi.” Setelah mengalami pengalaman kecil itu, Khadijah binti Khuwaylid sadar bahwa makhluk yang datang itu bukan jin atau setan. 

Sosok itu pasti malaikat yang bernama Jibril, yang memiliki derajat paling tinggi di antara para malaikat, seperti yang diceritakan Waraqah dan Addas. 

Kemahraman laki-laki dan perempuanlah penyebab sosok itu pergi. Ketika Khadijah memeluk suaminya dan penutup kepalanya terbuka, sosok Jibril itu menjauh dari mereka. Namun, jika yang datang adalah jin atau setan, mereka tidak akan pergi dan tidak bosan dengan hal kemahraman.

Penjelasan cerdas Khadijah membuat suaminya puas juga. Ia tak hanya besar karena kedermawanan dan kasih sayang, tetapi juga kecerdasaan, firasat, cahaya, dan visinya. 

Ia adalah wanita yang berhak dikenang dengan nama besarnya. Khadijah al-Kubra yang memiliki kecerdasan, kepintaran, dan pandangan yang luas.

Tangan yang mengatur dan menyambungkan rasul dengan kehidupan adalah tangan Khadijah.

Al-Amin sekali lagi berdiam diri, mengasingkan diri dengan kekasihnya, berada di gua, siang dan malam, mempersiapkan diri untuk kabar gembira dan kata-kata yang berat. Namun, kakinya juga menginjak ke dalam tanah kehidupan. Ia adalah seorang suami dan ayah.

Khadijah menikahkan putrinya, Hindun binti Atik, dengan keponakannya, Sayi bin Umayyah. 

Selanjutnya, Khadijah pun menjadi seorang nenek. Hindun memberi nama putranya dengan nama al-Amin yang telah membesarkan dirinya dengan penuh kasih sayang: Muhammad. 

Perempuan menjadi pusat nadi kehidupan di rumah. Jumlah perempuan di rumah semakin bertambah. Zainab, yang dikenal dengan kecantikannya, dan anak-anak lainnya, bahkan sekarang sudah menjadi calon istri seorang laki-laki Mekah. 

Apalagi, setelah kakak perempuannya menikah dan menjadi seorang ibu, jumlah calon ibu mertua pun semakin bertambah.

Di samping kabar-kabar mukjizat suaminya dan permasalahan-permasalahan khusus yang semakin bertambah, di sisi lain kesibukan-kesibukan duniawi berbaris di depan Khadijah. 

Tanpa mempunyai waktu untuk mengeluh, ia terus berjalan tanpa kekurangan, seakan-akan konduktor okestra yang mengatur nada dengan mudahnya. 

Namun, Allah yang menurunkan hujan salju di seluruh gunung memberikan sebuah keinginan kepada Khadijah yang terbuat dari perak di dunia ini. Khadijah selalu berusaha menyelesaikan semuanya. Ia memang menyelesaikannya, karena terlahir lebih dulu dan yang berjalan lebih dulu.

Anak laki-laki saudara perempuannya, Halah binti Khuwaylid, yang bernama Abu’l As adalah seorang remaja laki-laki yang segan kepada Khadijah karena kemampuannya dalam perdagangan dan memiliki pemikiran yang luas. 

Selain ikut membantu dalam urusan dagang, ia juga sebisa mungkin membantu memikul tanggung jawab yang dipikul Khadijah. 

Ia mengenal keadaan khusus saudara iparnya, al- Amin, yang sudah berkelanjutan selama lima tahun ini. Ia pun sangat menghormati al-Amin. Abu’l As bin Rabi juga terpengaruh dengan kemampuan, akhlak, serta tingkah laku yang dimiliki Zainab.

Khadijah yang memerhatikan secara dekat akan keadaan khusus suaminya merasa bahwa hal itu masih terlalu dini. 

Namun, setelah keinginan itu sudah bulat, dirinya memutuskan untuk membicarakannya dengan sang suami. Setelah bermusyawarah dengan suami dan putrinya, mereka menyetujui pernikahan itu meskipun masih terlalu dini.

Zainab binti Muhammad mulai melakukan persiapan pernikahan...

Sebuah kekhawatiran yang akan dilewati berhari-hari. Mencuci wol, mengeringkannya, mempersiapkan kasur dan tempat tidur, membeli karpet-karpet yang akan diletakkan di rumah baru, menjahit baju-baju yang akan dipakai pengantin pria dan wanita, menyiapkan alat-alat rumah tangga yang akan dipakai di rumah baru, membangun rumah, serta membeli dupa dan tirai-tirai. Pastinya semua ini tidak mudah.

Di antara orang-orang yang mencuci kain wol adalah Berenis dan Dujayah. Kolam yang bisa digunakan para wanita secara bersama-sama adalah sebuah oase yang berada di pesisir kota arah Hudaibiyah. 

Di hari itu, dua pemburu asing datang menghampiri tenda para perempuan. Mereka datang di waktu yang berbeda. Berenis pun tidak mengetahui apa yang mereka inginkan dan membuat Dujayah tenggelam dalam kebingungan.

Orang pertama adalah pemburu yang berburu di pesisir Mekah. Ia adalah seorang laki-laki Badui yang terkenal suka berburu burung. Rupanya, pemburu itu sangat terkejut dengan kejadian yang dia alami dan bersumpah tidak akan berburu lagi.

“Aku mencari seorang pemuda bernama Muhammad al- Amin. Aku tidak bisa pergi jauh darinya,” ucapnya. Perempuan yang mendapat tugas menghampiri pemburu itu langsung mengerti siapa yang pemburu itu maksud. Ia menyuruh pemburu itu pergi ke Gua Hira, tempat al-Amin melakukan pengasingan diri. Pemburu itu pun hilang dari pandangan, meninggalkan cerita yang seperti sebuah sihir.

“Aku adalah seorang pemburu padang pasir yang terkenal karena kemampuanku membuat jebakan. Saat itu, aku menangkap seekor rusa yang memiliki titik-titik yang indah. Aku tak merasakan penyesalan ketika memandang mata tuanya, tanpa memerhatikan betapa banyak air susu di dadanya. Anak-anaknya yang akan mencari dirinya pun tidak terbesit di kepalaku. 

Aku meninggalkan rusa itu sendiri dan berburu hewan lain lagi. Setelah kepergianku, datang seorang pemuda yang menghampiri rusa itu karena mendengar tangisannya. 

Pemuda itu kemudian bertanya kepada rusa apa yang terjadi padanya. Rusa itu menjawab dengan bahasanya. ‘Ah, Ahmadku, jadilah penjaminku. Aku harus pergi ke puncak gunung dan menyusui anak-anakku yang kelaparan. Setelah itu, aku akan berlari kembali lagi ke jebakan ini.’

Pemuda itu lalu melepasakan jebakan yang mengikat di pergelangan kaki rusa dan memasangkan ke pergelangan kakinya. Dia menjadi penjamin bagi rusa dan membiarkan rusa itu menemui anak-anaknya. 

Saat kembali lagi, aku terkejut melihat pergelangan kaki pemuda itu terikat jebakanku. Kemudian, pemuda itu menceritakan kepadaku apa yang terjadi. Tidak lama kemudian, rusa yang tadi terjebak datang kembali bersama anak-anaknya yang belum bisa berlari dengan benar. 

Mereka langsung mencium kaki pemuda yang menjadi penjamin itu. Sambil menangis, mereka mengucapkan “Rasulullahku” ke pemuda itu. 

Ternyata, induk rusa itu berpamitan dan membelai anak-anaknya setelah menyusui mereka. Namun, anak-anak rusa itu juga ingin ikut dan mencium kaki-kaki Rasulullah yang menjadi penjaminnya. 

Setelah melihat mereka mencium pergelangan kaki Muhammad al-Amin yang berdarah, aku bertobat dan beristigfar. Aku bersumpah tidak akan melakukan perburuan lagi."

Ketika para perempuan mendengarkan kisah yang diceritakan perempuan yang mendapat tugas itu, mereka menangis tersedu-sedu, sampai mereka tak sadar dengan kedatangan orang kedua yang berada di kejauhan berselimutkan debu. 

Kali ini, Berenislah yang menghampiri orang kedua yang datang setelah pemburu pertama melakukan perjalanan ke Gua Hira. Dia berlari dan kemudian loncat menunggangi unta yang berdiri di samping kolam tempat kain wol. 

Ia memakai penutup kepala yang menutupi mata dan pundaknya agar terlindung dari terik mentari dan terlihat menyakinkan di mata orang asing. Orang-orang yang melihat kepiawainnya dalam menaiki unta akan mengira bahwa dirinya adalah seorang laki-laki. 

Ia mengingatkan kita pada pahlawan padang pasir yang memakai jubah. Ia menghampiri orang itu dengan kecepatan yang setara dengan kuda. Kemudian, Berenis mengangkat tangan kanannya ke udara. Rombongan orang-orang berkuda itu pun berhenti ketika melihatnya. Mereka turun dari kudanya dan memberi salam.

“Salam, tuan-tuan yang mulia!”
“Salam, kalian para nyonya yang menyaksikan kami.” 

“Wahai pengembara, menjauhlah dari tenda yang sedang melakukan persiapan pernikahan. Hal itu merupakan adat perempuan Mekah dan kalian juga akan selamat di perjalanan kalian.”

“Kami ingin melewati tempat ini tanpa melukai seseorang jika Anda menunjukan jalan ke Pasar Ukaz.”
“Dari mana kalian datang dan ke mana kalian akan pergi wahai pengembara yang mulia?”
“Kami adalah pengembara yang melakukan perjalanan dari Habasyah. Kami dari Bani Qurayza dan ingin menuju Pusat Ukaz di Mekah.”
“Kalian berada di jalan yang benar wahai pengembara Qurayza. Terus berjalanlah lurus selama kurang lebih berjarak tiga hari perjalanan setelah melewati jembatan Hudaibiyah di belakang Anda.”

“Akankah kami bisa menemukan kaum yang bisa berbahasa Aram setelah kami sampai di Ukaz Mekah?”
“Kekauman tidak berbahasa. Mereka berbicara dengan hati dan akhlak. Aku berbicara bahasa kalian karena melihat simbol milik Habas al-Mugan di tempat duduk kuda kalian. Bahasa Arab, Aram, atau Persia tidak jadi masalah. Mekah adalah sebuah kota yang memiliki masyarakat yang mampu berkomunikasi dengan bermacam-macam berbahasa.”
“Jadi, Anda mengenal Habas dan al-Mugan? Aku adalah Ursa, putra Perk dari Habas al-Mugan!” 

Berenis seakan-akan tersambar petir dari langit.... 

Seakan-akan jawaban itu meledak bergema di padang pasir. Dia bergelut dengan badai pasir. Berenis tidak berkata apa-apa. Dia tidak bisa berkata apa-apa. Apakah dia benar-benar Ursa? Apakah orang yang berada di hadapannya adalah pria yang dia cintai selama lima belas tahun saat pengasingan diri? 

Dia menyandarkan badan. Sambil mengangkat tangannya ke udara, ia memberikan tanda kepada para pengembara untuk pergi. Setelah itu, ia membalikkan badan. Dan di waktu yang sama, seseorang berpakaian ungu menghampiri Berenis. Gadis kecil dan nakal, dengan suara yang dapat didengar seluruh penggembara.

“Berenis... Berenis, mereka semua khawatir dengan keadaanmu. Mengapa engkau terlambat?” ucapnya sambil beteriak. Berenis masih berada di pangkuan unta. Ketika akan berjanjak pergi, Ursa yang menyadari apa yang didengarnya segera memotong jalan Berenis.

“Berenis... Berenis.... apakah ini benar-benar kamu?” Kali ini giliran Dujayah yang melangkah ke depan. “Menjauhlah darinya wahai pengembara. Dia adalah Nyonyaku. Dia adalah salah satu utusan Waraqah bin Naufal. Sekarang, menjauhlah dari jalan kami. Bagaimana kau berbicara tak sopan dengan Nyonyaku, wahai pemburu tak tahu sopan santun! 

Lihat dirimu! Kau membunuh semua hewan, baik anak-anak rusa maupun kelinci. Pemburu tak tahu diri. Tak tahukah engkau bahwa Isa al- Masih mengharamkan perburuan? Apakah engkau pernah menjawab pertanyaan yang diberikan kepada orang-orang yang melakukan hal yang dilarang Tuhan?”

Tanpa berkata sepatah kata pun, ia segera pergi menjauh. Rombongan pengembara dari Qurayza yang menuju Ukaz berada di jalan mereka sendiri. 

Seakan-akan kuda yang ditunggangi Ursa berjalan dengan percikan darah mengalir ke padang pasir. Darah juga mengalir dari Ursa. Di antara kumpulan burung-burung yang mati, sebenarnya burung yang pertama kali mati adalah Berenis.

Ketika dia kembali pulang ke Mekah, Berenis memutuskan melakukan sesuatu hal yang sudah bertahun-tahun tidak dilakukannya. Ia mengunjungi Baitul Atik dan menceritakan semua penderitaan cintanya yang dipendamnya selama bertahun-tahun kepada pemilik Kakbah.

Apa yang Khadijah katakan?
“Ketika batinku tertekan, aku pergi ke Baitullah dan membuka hatiku kepada-Nya. Kemudian, aku memohon agar jalan hidupku dimudahkan kepada-Nya.”

Jika Sang Pemilik memang mendengarkan semua permasalahan orang-orang, sekarang apa yang harus dirinya lakukan? 

Kehidupan cintanya setelah meninggalkan kota asal dan hidup di kota yang asing baginya selama bertahun-tahun dan Ursa yang telah meninggalkannya tiba-tiba muncul di hadapannya setelah bertahun-tahun. 

Apa yang harus dilakukannya? Jiwanya terbolak-balik. Baginya, Ursa itu apa? Bagi perempuan, laki-laki itu bermakna apa? Ia pun mengalami hari-hari kekeringan setelah masa-masa yang penuh dengan kelembapan dan air.

Ketika tiba di depan Kakbah, dirinya serasa ditarik oleh sebuah kekuatan magnet. Apakah ini Rumah Allah? Terlihat biasa di matanya. 

Namun, tiba-tiba hal biasa itu berubah menjadi sesuatu yang mengejutkan dengan bacaan-bacaan yang berada di dalamnya. Dia adalah Allah yang tidak memerlukan hiasan seperti sebuah istana atau benteng! Ya, rumah biasa ini adalah rumah-Nya! 

Rumah yang melihat orang-orang berdoa, tawaf, sujud, dan berzikir. Kemudian terdengar suara sebuah ombak yang terbentur batu-batu di pesisir laut. Aku tidak salah dengar. Itu adalah suara lautan. 

Akan tetapi, bagaimana bisa ini terjadi di tengah-tengah pusat padang pasir? Saat memandang ke Baitul Atik, suara-suara ombak terdengar semakin kuat di telinganya, seperti karpet yang dilipat-lipat dan membentur sisi Baitul Atik yang kemudian mengalir ke arah kakinya. Suara-suara ombak di Rumah-Nya.

“Itu sebuah puisi cinta,” ucap Khadijah.
Suatu hari, ia mengunjungi Khadijah yang sedang duduk bersama tamu-tamu wanita tua. Mereka mendendangkan sebuah puisi dengan suara sedih dan mendalam. 

Terlintas sebuah “Laut Sad” yang terkenal di Mekah dalam puisi itu. Mereka berkata seperti ini tentang puisi yang didendangkan dengan tangisan air mata dan kesedihan.

“Sad merupakan sebuah laut di Mekah. Tidak ada siang dan malam baginya. Langit Allah berada di atasnya.” Ketika itu Khadijah melihat Berenis mendengarkannya dengan rasa ketertarikan.

“Sad merupakan sebuah Laut Cinta. Seluruh rasa cinta berusaha untuk bisa sampai di pesisirnya. Siang dan malam mereka berjalan untuk menemukannya. Kekasihnyalah yang membuat siang dan malam tercampur, Laut Sad. 

Untuk bisa tiba di Laut Sad, orang-orang harus bisa melebihi rasa cinta kepada-Nya dibandingkan dengan rasa cinta kita kepada orang-orang yang kita cintai. Dan seperti kata-kata yang indah itu,” ucap Khadijah.

Ia adalah seorang Tuan Putri yang tahu secara dalam tentang legenda-legenda Mekah, sejarah, dan macam-macam puisi. “Mungkinkah itu suara laut Sad?” pikir Berenis. “Ataukah cinta bermain-main dengan pikiranku?” Ketika tenggelam dalam kesibukan berpikir, ia tersadar dengan kata-kata seorang pengemis.

“Dengan begitu banyak pertanyaan, apakah hal itu akan bisa mengantarkanmu ke laut cinta? Apa makna yang bisa diambil dari kobaran lautan ketika lilin tidak bisa meleleh? Wahai perempuan, menjauhlah dari pemburu itu, sebelum pemburu besar memburumu. 

Jangan menyia-nyiakan waktu di pemburu kecil itu.” Kemudian, cerita rusa yang membuatnya meneteskan air mata yang ia dengar di awal hari yang membukakan cahaya baginya. 

Bukankah hewan yang berada di karung Ursa adalah induk rusa dan anak-anaknya? Ia terkejut ketika menyadarinya. 

Apa yang terjadi dengan rusa yang sudah membuat seseorang beriman menenggelamkan hati Berenis? Bahkan, rusa pun berkata tentang al-Amin yang pergelangan kakinya terluka. Pemburu yang hatinya gelap seperti Ursa memutuskan perkataan itu.

Benda-benda yang berada di sakunya ia tinggalkan di Baitul Atiq. Ia bisa membedakan suara-suara ombak yang bergelombang ke arah Kakbah. 

Tidak! Dia tidak akan pergi dengan Ursa. Tempatnya adalah di sisi orang yang menjadi penjamin bagi sang rusa. Laut Cinta berada di sini: Muhammad al-Amin dan Khadijah al-Kubra!

Pernikahan Zainab, putri pertama Khadijah al-Kubra dan al-Amin, dengan putra dari saudara perempuan Khadijah, Halah binti Khuwaylid, cukup meramaikan Mekah. 

Abu Lahab, yang merupakan paman dari sisi ayahnya, berlaku keras kepada al-Amin, seakan-akan terlahir dari keluarga yang terhormat dan kaya tidak cukup bagi mereka. Saat datang ke pesta pernikahan itu, ia langsung melamar kedua putri al-Amin: Ruqayyah dan Ummu Kultsum. 

“Menurut adat kita, kalian seharusnya bertanya kepada kami dulu,” ucap istri Abu Lahab terus-menerus.
“Kalau begitu, nikahkan putri kalian yang lain dengan kedua putra kami, Utba dan Utaiba. Sesama garis keluarga dengan keluarga, saudara dengan saudara, orang-kaya dengan orang kaya.”

“Putri-putri kami masih terlalu muda....” ucap Khadijah.
“Tidak apa-apa, kami akan menunggunya. Sekarang kita lakukan saja pertunangan. Pernikahannya kemudian.”

Keangkuhan dan kekasaran Abu Lahab yang bersatu-padu dengan ketajaman kata-kata istrinya berubah menjadi tekanan yang besar. Al-Amin yang telah berniat menjauh dengan masyarakat dan melakukan pengasingan diri harus dihadapkan pada adat-adat seperti ini. 

Tidak ada alasan lagi selain perbedaan usia yang dapat dijadikan sebab untuk menolak lamaran itu. Kata-kata Khadijah hanya bisa memberhentikan keluarga Abu Lahab di tahap pertunangan.

Al-Amin dan Khadijah adalah orang-orang yang berlindungi kepada Allah. Mereka meyakini bahwa Allah Mahatahu tentang segalanya. 

Semua ini terjadi berurutan. Kelahiran Fatimah, pernikahan Zainab setelah pernikahan Hindun, pertunangan Rukayah dan Ummu Kultsum, dan yang paling penting adalah wahyu pertama. 

Semuanya datang satu per satu, baik kesibukan duniawi maupun akhirat. Bercampur aduk. Seakan-akan menjadi sesuatu yang sulit untuk keluar darinya.

Dan Al-Amin...menunggu dengan gugup firman-irman-Nya di antara kerasnya kehidupan dunia ini. Hatinya semakin mengecil. Mengapa wahyu tidak kunjung datang? Mengapa firman-firman suci itu tidak berlanjut? Mereka yang mengetahui kedatangan wahyu pertama terus menciptakan gosip-gosip mengenai ketidakmunculan wahyu kedua dan seterusnya. 

Sudah hampir tiga tahun al-Amin tidak didatangi malaikat. Hari-hari penderitaan ini berlangsung sangat lama dan merupakan saat-saat sulit. Al-Amin khawatir karena tidak mendapatkan kabar. 

Di samping itu, ia juga kehilangan salah satu pendukung terbesarnya, Waraqah bin Naufal, yang pergi ke sisi dunia lain. Waraqah yang selalu berpegang teguh pada kebenaran keimanan selalu berada di sisinya, meskipun tidak bisa merasakan hari-hari saat utusan terakhir memberikan ajakan.

Al-Amin tenggelam dalam kesedihan. Ia menunggu kalimat-kalimat yang membukakan pangilan-pangilan Allah dan mempersiapkan dirinya secara maknawiah... menunggu... menunggu. 

Ketika kembali pulang dari Gunung Hira dengan wajah sedih, Khadijah menemaninya.
“Bersabarlah wahai Kekasihku,” ucap Khadijah menenangkan suaminya. “Allah takkan melukai kalian.”

Ketika berada dalam keadaan sedih, ada dua sosok yang selalu mendukungnya. Yang pertama adalah Khadijah, istrinya yang mencintainya dengan sepenuh hatinya Dan yang kedua adalah Malaikat Jibril, yang terlihat ketika al-Amin berada dalam keadaan sedih. 

Mereka memberi salam kepadanya. Ketika dalam keadaan sedih dan sulit, dua malaikat ini selalu mendukung al-Amin. Khadijah al-Kubra yang memiliki hati malaikat dan Malaikat Jibril. Keduanya seperti sebuah obat bagi diri al-Amin.

Malam itu, ketika al-Amin pulang terlambat, Khadijah mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk melihat keadaan sang suami. 

Beberapa waktu setelah utusan Khadijah berangkat menuju Gunung Hira, al-Amin tiba dengan bermandikan keringat. Dirinya telah terhubung dengan malaikat. Masa-masa sulit yang dilewati selama tiga tahun telah sirna. 

Ketika pergi dari Gua Hira, batin al-Amin dalam keadaan sedih, sampai saat ia bertemu dengan Malaikat Jibril  dan berada di hadapannya. Malaikat itu seakan-akan seperti sinar yang memancar menuju kedua matanya. “Kau adalah Rasulullah,” ucap sang malaikat.

Al-Amin ketakutan. Kedua lututnya jatuh ke tanah dan pingsan. Ketika sadar, ia ingin melarikan diri ke rumah. Kakinya masih bergetar ketika sampai di sisi Khadijah. 

“Selimuti aku... selimuti aku,” ucapnya dengan suara gemetar. Ia lalu berbaring di tempat tidurnya. Agar al-Amin tetap sadarkan diri, mereka membasuhnya dengan air sejuk. Namun, ia masih terus gemetar dan berkata kepada Khadijah, “Selimuti aku.”

Dengan lembut, Khadijah berusaha menenangkannya. Khadijah berkata bahwa kondisi ini akan terlewati dengan penuh berkah dan kebaikan. 

“Kabar bagus untukmu! Allah telah memberikan kebaikan kepadamu. Bertahanlah! Aku bersumpah atas nama Tuhanku bahwa kau adalah seorang nabi! Jangan khawatir karena kau selalu melindungi saudaramu, menolong yang membutuhkan, membantu yang dalam kesulitan, dan selalu berada di sisi yang benar. Jangan bersedih!”

Al-Amin dalam kondisi yang tidak mampu untuk mendengarkan itu. Padahal, yang datang adalah wahyu. Firman Allah...

Hai orang yang berselimut
Bangunlah, lalu berilah peringatan
Dan Tuhanmu agungkanlah!
Dan pakaianmu bersihkanlah
Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah 
Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak
Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah...

Setelah mendengarkan wahyu itu, Rasulullah segera melepaskan selimutnya dan bertakbir.
“ALLAHUAKBAR...”

Ketika mendengar al-Amin berteriak, Khadijah mengiringinya seperti sebuah bunyi gema.
“ALLAHUAKBAR!”...

Khadijah adalah orang pertama yang menerima kalimat itu. Suaminya telah menjadi Rasulullah.
Khadijah adalah yang pertama mengimaninya.
Ketika kalimat syahadat keluar dari bibir Khadijah, ia adalah orang pertama yang mengulangi kalimat Nabi Muhammad al-Mustafa. 

Perintah “bangun dan peringatkan” seakan-akan seperti suara gelombang untuk memulai dakwah. Khadijah adalah orang pertama yang melakukan perintah pertama yang turun kepada suaminya. Firman itu sangat berat dan penuh beban. 

Bangun, berdakwah, mengajak, dan memperingatkan. Pertama, dia memulai dari orang-orang di rumahnya, anak-anaknya, dan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ali yang masih berumur muda akan terus mengikuti al-Amin yang seperti ayahnya dan Khadijah yang seperti ibunya....

Air, fondasi untuk dunia yang akan dibangun oleh utusan terakhir...

Ketika Rasulullah menjulurkan kedua tangannya pada percikan air seperti yang diajarkan Jibril, Khadijah memandangnya sambil tersenyum.

Seakan-akan mereka melakukan sebuah perjalanan.
Ayo ikut, ucapnya. Kamu juga ikut, seperti itu.

Engkau berkata, ayo datang, dan pernahkah aku tak datang?
Tangan Khadijah menjulur ke dalam air sambil berkata “ya” dengan beribu-ribu percikan air di wajahnya.

Sekarang, mereka melakukan wudu yang pertama kali, yang diajarkan kepada Muhammad di dunia ini. Pembersihan, Penyegaran, Pengingat, Penyemangat

Itu semua datang bersama dengan percikan air. Itu merupakan dasar seorang hamba. Mereka memulai dengan air tanpa melakukan kesalahan. 

Tangan-tangan menyentuh percikan air. Tangan-tangan menyentuh telinga. Mereka menjadi seorang muslim pertama bersama dengan air yang merupakan rumah kehidupan yang pertama. Ruh keduanya juga tertulis awal yang bersih.

Air memadamkan api. Air adalah berkah dan ampunan. Mereka akan diikuti berjuta-juta manusia sampai hari kiamat. Mereka berubah dari bentuk ke bentuk. 

Ketika waktu telah datang, mereka akan menguap dan pergi menuju langit. Khadijah memandang takjub suaminya di setiap proses wudu, seakan-akan seperti sebuah cinta. 

Pandangannya tidak lepas dari suaminya dan air.  Umat yang pertama bernama Khadijah. Khadijah adalah orang yang terlahir awal, bangun awal, dan berjalan awal. Jika kedua orang saling mencintai karena Allah, pasti yang ketiga adalah ar-Rahman.

Dengan tangan-tangan yang penuh keyakinan itu, mereka mengarahkan wajah ke arah kiblat. Mereka mengetahuinya dari dalam telapak tangan keduanya. 

Ya Allah, janganlah Engkau tinggalkan kami. Lihatlah tangan-tangan kami, jangan tinggalkan kami. Mereka bertakbir, Allahu Akbar.

Allah tak pernah membiarkan hamba-hambanya yang membuka telapak tangan untuknya. Bacaan takbir yang pertama kali, orang-orang yang beribadah salat pertama kali, orang-orang yang bertemu dengan kalimat Allah.

Kemudian, Rasulullah memulai Takbiratul Ikhram. Ketika dia bertakbiratul ikhram, Khadijah merasakan seluruh alam semesta berhenti. 

Dalam takbiratul ikhram, mereka seakan-akan menjadi dua gunung. Takbiratul ikhram menjadikan mereka seakan- akan sebagai pengikat alam semesta. Khusyuk, siap, dan bahu-bahu mereka terbuka untuk melakukan perintah Allah. Allahu Akbar!

Mereka yang membungkuk dengan penyerahan diri adalah sebaik-baik manusia. Di dunia ini tak ada yang bisa membuat punggung bersentuhan dengan tanah selain penyerahan diri kepada Allah. Khadijah pun mengerti bahwa perjalanan itu akan di mulai dari sini. 

Kalimat- kalimat seterusnya akan melewati punggung suaminya yang membungkuk bagaikan sebuah jembatan dalam rukuk pertama di ibadah salat pertamanya. 

Ia menjadi orang pertama yang menjadikan punggungnya sebagai sebuah jembatan sambil mengucapkan bismillah. Seperti itulah rukuk pertama dalam salat pertamanya.

Seperti malam dan pagi, hidup dan mati, saling berganti. Setiap takbiratul ikhram ditakdirkan dengan sebuah rukuk dan setiap rukuk ditakdirkan dengan sebuah takbiratul ikhram. 

Salat yang menggerakan pendulum kelahiran dan kematian adalah jam hati yang takkan pernah mati. Betapa bahagianya hamba-hamba yang mengatur jam-jam mereka untuk Rabb mereka! Allahu Akbar!

Mereka menemukan kerendahan hati dan kehormatan dalam setiap ucapan, “Ya Rabb, aku mendengar dan taat kepadamu.”

Allahu Akbar!
Khadijah pun mengikuti utusan Allah yang kemudian melakukan sujud. Mereka tercipta dari tanah dan akan kembali ke tanah. 

Sujud mengajarkan keduanya bahwa Allah menciptakan mereka dan kepada Allah-lah mereka kembali. Sujud adalah tanah. 

Tak hanya sekadar bersentuhan dengan tanah, salam yang disampaikan untuk Allah yang bersentuhan dengan tanah yang lembut. Seperti dahi yang tercium oleh sang ibu, kedua orang yang beribadah itu menyerahkan takdirnya kepada dunia. 

Kalimat-kalimat itu adalah milik-Nya, ada karena Dia. Dan kalimat-kalimat itu bergema dalam salat ke penjuru dunia. Mereka salat. 

Salat menjadikan mereka sebagai seorang hamba. Sisi kanan dengan sisi kiri berubah menjadi jalan yang tak berujung: Assalamu’alaikum wa Rahmatullah. Assalamu’alaikum wa Rahmatullah....

Ali menyaksikan mereka dengan takjub. Keduanya senang ketika Ali bertanya tentang apa yang mereka lakukan. Tanpa memandang usia, mereka menjawab pertanyaan itu dengan membuka hati dan penuh dengan keseriusan. 

Ali yang mendengarkan dengan teliti berkata, “Iya, ya Rasulullah.” 
Ali siap mengucapkan kalimat syahadat, dan di kemudian hari akan dikenal sebagai “tuannya anak muda”.

Dia akan menjawab seperti ini tentang pertanyaan yang akan ditanyakan kepadanya pada suatu hari nanti.“Di setiap tempat yang di situ ada Rasulullah dan Khadijah, aku pun berada di sana menjadi orang ketiga. Dia menyaksikan wahyu dan iman secara langsung, dan aku mencium nubuwah.”

Para perempuan yang tinggal di rumah mereka pun akhirnya menjadi bagian dari orang-orang pertama yang masuk ke dalam agama Islam. 

Namun, ketika kita berpikir dari sisi struktur sosial masyarakat pagan Mekah, perintah “bangun dan peringatkan” yang datang kepada Rasulullah terlihat seperti hal sulit dilakukan. 

Dalam hal ini, Malaikat Jibril memperingatkan Rasulullah untuk sabar dan berani dalam memberikan ajakan. Khadijah merupakan pendukung terbesarnya. Malaikat dan wanitalah yang menjadi pendukung terbesar Rasulullah.

Di salah satu hari, ketika Rasulullah bersama dengan malaikat di Gua Hira, malaikat melihat sinar yang terpancar dari jauh. Malaikat itu melihat Khadijah yang khawatir dengan suaminya, mendaki Gunung Hira sambil membawa keranjang. 
“Ya Rasulullah, Khadijah datang,” kata malaikat itu. 

Rasulullah membalasnya dengan mengatakan bahwa Khadijah selalu berada di sisinya. 
“Ia berada di belakangmu, di balik batu itu. Ketika ia datang menghampirimu, sampaikan salam dari Allah dan dariku kepadanya. Allah memberikan kabar gembira sebuah tempat di surga yang jauh dari keramaian dan kelelahan.” 

Meskipun mendaki di bawah terik mentari, Khadijah tetap memberikan salam kepada suaminya dengan senyum terpancar di wajahnya. Ia selalu mendukung secara terbuka maupun sembunyi, saling menghormati, dan tak pernah membiarkan suaminya sendiri tanpa perhatian.

Khadijah adalah teman perjalanan hidup suaminya.
Tak pernah melepasakan dan putus asa.
Dengan dahi penuh keringat dan matanya terkena silau mentari, Khadijah memandang Rasulullah dengan tersenyum.

“Salam bagimu, wahai Rasulullah!”
“Selamat datang Khadijah. Allah dan Jibril memberikan salam untukmu!

Tiba-tiba Khadijah menjadi malu mendengar kata-kata itu. Ia menerima salam itu dengan menganggukkan kepala ke depan dengan rendah hati.
“Allah adalah Salam. Salam dari-Nya. Salam bagimu dan juga temanmu Jibril dariku, ya Rasulullah!”

Rasulullah tampak gugup saat awal berdakwah karena kaumnya bereaksi sangat keras. Rasulullah selalu bertanya kepada dirinya, malaikat, dan istrinya dari mana dia harus memulai dakwah ini. 

Akhirnya, mereka memutuskan mengundang para kerabat untuk makan malam. Pada saat itulah ia akan menjelaskan hakikat agama ini. Para paman, bibi, keponakan, saudara dekat, dan putra- putri mereka, kurang lebih berjumlah tujuh puluh orang, satu per satu datang ke tempat tinggal Rasulullah. 

Para pelayan pun sibuk menyiapkan beraneka kudapan. Di antara mereka yang membantu itu terdapat Ali. Ia mengangkat baki dan membagi makanan. Setelah selesai acara menyantap kudapan, pemilik rumah mengucapkan salam kepada seluruh tamu undangan.

“Dengan menyebut nama Allah, silakan mulai makan,” ucapnya.
Setelah acara makan selesai, Ali membawa baki dan memberikan minuman yang ditunggu para tamu, yang ternyata susu. 

Masyarakat Mekah yang terbiasa melihat arak setelah makan tak menyangka bahwa yang diberikan kepada mereka adalah susu. Hawa tak menyenangkan mulai meruap di antara mereka. Namun, setelah Abu Thalib meminum gelas yang penuh dengan susu itu, suasana kembali menjadi baik. 

Sebenarnya, para tamu sudah mendengar kabar bahwa keponakan mereka, Muhammad, telah mengikuti agama baru. Istrinya pun mengikutinya. Abu Lahab yang tak menyukai jamuan susu memotong pembicaraan yang akan dilakukan keponakannya.

“Dia berusaha memengaruhi kita. Itu semua berlaku untuk diriku, kalian, dan juga keponakanku. Keponakanku, kau harus melepaskan usaha itu. Kau tak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Lupakan itu semua!”

Ucapan-ucapan kasar yang diucapkan Abu Lahab membuat suasana pertemuan menjadi dingin. Orang yang tak mengucapkan basmalah dan mengganggu acara yang belum dimulai itu adalah Abu Lahab.

Pamannya sudah memotong jalannya dalam percobaan pertamanya. Agar tak membuatnya sedih, Khadijah mengundang para tamu itu sekali lagi dan tanpa mengundang Abu Lahab. 

Kecuali Abu Lahab, mereka semua datang. Mulai dari Abu Thalib dan para bibi, mereka mendoakan keberhasilan keponakan dan istri keponakannya. Walaupun tak ada yang menjadi muslim, mereka berjanji akan mendukung keponakannya dan istrinya. 

Setelah keluarganya, giliran kaum Quraisy. Di suatu pagi, Rasulullah mendaki puncak bukit Safa dan memanggil orang-orang di sekitarnya. “Wahai Sabahah! Wahai Sabahah!” serunya.

Ajakan dimulai! Semuanya terkejut. Mereka berkumpul dengan cemas disekitar sisi Safa. Dia berkata dengan penuh percaya diri untuk meyakinkan orang-orang yang berkumpul seperti banjir. 

Sungguh indahnya kata-katanya, sungguh sopan bahasanya. Jika mereka percaya dengan apa yang Rasulullah ucapkan, ungkapan bahwa tiada Tuhan selain Allah pun harus dipercaya.

“Aku memperingatkan kalian mengenai azab yang sangat berat. Aku mengajak kalian bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah. Jika kalian menerima ajakan ini, tempat kalian pergi adalah surga. 

Jika kalian tak percaya, aku tak bisa menyelamatkan kalian dari azab yang akan menimpa kalian. Jika kalian tak membenahi diri kalian, aku tak bisa menyelamatkan kalian. 

Jika kalian menginginkan kekayaanku, akan aku berikan. Namun, kalian salah jika di hari kiamat nanti kita masih bersaudara. 

Hari itu manusia akan datang dengan amal-amal mereka. Kalian akan datang meminggul kebaikan-kebaikan yang telah kalian lakukan. 

Dan pada hari itu aku membalikkan wajahku dari kalian. Kalian akan memanggilku, ‘Ya Muhammad’ untuk memohon pertolongan. Namun, aku tak akan menjawab. 

Aku akan melakukan ini (saat itu dia membalikkan wajahnya ke arah lain). Sekali lagi kalian memanggil ‘Ya Muhammad’, dan sekali lagi aku akan melakukan seperti ini (sekali lagi membalikkan wajahnya).”

Orang-orang Mekah terdiam di hadapan ajakan itu. Bagaimana ia melakukan ajakan ini?
Baik, rendah hati, serta dengan ucapan satu satu per satu dan fasih. Sebuah ajakan yang seakan-akan penuh dengan ketegasan seorang raja dan penuh dengan kekuatan. 

Ucapan-ucapan al-Amin bekerja untuk orang-orang dibarisan depan. Pada saat itu....Ketika semua terdiam membeku mendengarkan ajakan terbuka, tiba-tiba Abu Lahab berteriak.“Kurang ajar. Kamu panggil kami hanya untuk mendengarkan omong kosong ini?” Kata-kata itu seperti batu besar yang dilemparkan kepada keponakannya.

Kejadian itu menjadi suatu hal yang mengejutkan. Paman kandungnya sendiri mempermalukan keponakannya di hadapan semua orang. 

Para pendengar yang sebelumnya mendengarkan dengan hikmah dan penuh dengan keingintahuan mulai pergi satu per satu setelah mendengarkan ucapan Abu Lahab. 

Sekali lagi, Abu Lahab menghancurkan semuanya. Khadijah melihat kejadian ini dengan pandangan sedih. Ia adalah satu-satunya orang yang selalu berada di samping suaminya setelah orang-orang pergi menuju jalan mereka masing-masing. 

Khadijah berkata kepada suaminya agar tak sedih dan putus asa. Ya, kali ini dirinya harus membantu suaminya. Dan khususnya kepada para perempuan yang menyukai mereka. Oleh karena itu, mereka mengajak para perempuan.

Rupanya, orang-orang terhormat seperti Abu Jahal, Abu Lahab, Walid bin Mughirah, Ash bin Wail, dan Utbah bin Rabiah, juga tak suka dengan upaya yang dilakukan Khadijah. Mereka mencegah kedatangan para ibu, saudara perempuan, dan istrinya kepada Khadijah dan al-Amin. 

Namun, mereka adalah muslim pertama yang selalu yakin dan tegas dengan keputusan mereka, ibarat sebuah benteng yang sabar dan kokoh. Sebaliknya, orang-orang yang dikirim untuk mengubah keyakinan Khadijah malah kembali dalam keadaan terpengaruh. 

“Agama ini adalah agama Allah, para malaikat, dan para nabi. Agama kakek moyang kita, Nabi Ibrahim. Allah mengutusku untuk berdakwah kepada seluruh umat manusia.” Dirinya adalah satu-satunya orang yang memangil dan berteriak dalam keramaian. 

Khadijah, Ali, Zaid, dan putri- putrinya, kemudian Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, Zubair bin Awwam, Utsman bin Afan, Saad bin Waqas, Talha bin Ubaidullah, Ammar bin Yasir, serta Bilal pun menjadi muslim.

Hal yang menarik perhatian di antara keluarganya adalah keikutsertaan para wanita dalam perkumpulan laki-laki. Rumah Khadijah menjadi sebuah sekolah. Rumah itu ramai dengan para wanita yang belajar agama baru. 

Bibi Safiyah, Arwa, Umaimah, dan Atikah, anak-anak perempuan sang bibi, Sa’da binti Quraisy dan Arwa binti Quraisy, Hamna dan Zainab, serta istri pamannya Abbas, Lubabah, mereka ibarat sekumpulan lebah yang datang karena ajakan Khadijah. 

Mereka benar-benar pekerja keras yang tangguh. Sungguh, ajakan agama baru dan tauhid telah mengganggu keberlangsungan agama nenek moyang mereka. Apalagi, sebagian besar dari mereka adalah kaum pagan dan para pedagang. Mereka berpikir mengapa utusan terakhir datang dari garis Abdul Muthalib bukan dari mereka.

Abu Jahal berkata seperti ini kepada orang-orang dekatnya. “Kita selalu berkompetisi dengan kaum Abdul Manaf dan Syams di berbagai hal yang menyangkut kehormatan. Mereka menjamu makan, kita ikut menjamu. Mereka melakukan berbagai macam tugas, kita juga melakukannya. Mereka memberi dan melakukan kebaikan, kita pun memberikan dan melakukan kebaikan. 

Mereka seperti orang-orang yang berkompetisi di atas unta dan selalu bertarung dengan kita. Sekarang, mereka berkata bahwa ada seorang nabi yang menerima wahyu dari langit. Bagimana bisa kita menerima semua ini? Bagaimana kita bisa memberikan perlawanan? Kita takkan pernah bisa menerimanya. 

Satu hal yang bisa kita lakukan, kita tak akan tunduk kepada generasi Abdul Manaf. Mengapa kenabian datang kepada anak yatim Mekah? Ketika semua kekayaan dan kebanggaan berada di tangan kita, mengapa utusan terakhir diberikan kepadanya?” ucapnya dengan intonasi mengejek yang terasa menyakitkan bagi Khadijah dan suaminya.

Sejak lahir, kehidupan Khadijah seperti laut yang tidak pernah kurang ombaknya. Tidak ada pekerjaan yang datang secara bergantian. Setiap pekerjaan dan segala urusannya seperti sebuah magnet yang menarik dirinya, yang membuatnya selalu saja berada di antara banyak pekerjaan yang harus ditangani.

Kebanyakan orang menginginkan kehidupan dengan laci-laci dan gantungan-gantungan yang tersusun rapi, jauh dari ricuh pertengkaran. 

Namun, kehidupannya justru jauh dari hal tersebut, seperti koper yang susah ditutup karena sudah sangat penuh. Kehidupan Khadijah adalah sebuah perjalanan panjang yang sebenarnya.

Sebagai orang pertama yang mengimani agama yang baru, sekaligus sebagai salah satu penebar dakwah pertama, Khadijah banyak mendapat perlawanan tajam dari lingkungan maupun bangsawan Mekah. 

Di sisi lain, Khadijah juga berperan dalam masalah-masalah yang berlaku umum. Bisa dikatakan, dirinya hampir tidak pernah luput dari perhatian kehidupan duniawi. 

Contohnya ketika ia kembali mengandung buah hati. Seluruh ritme kehidupannya tiba-tiba menjadi seperti ratu lebah yang tiada henti mengurusi sarangnya yang terus-menerus berdengung. 

Di antara runtutan urusan-urusan itu adalah menyaksikan suaminya yang hari demi hari senantiasa bercengkerama dengan malaikat bernama Jibril, meskipun dengan emosi yang kian hari kian memuncak dan hampir setiap waktu terjadi keributan di salah satu sudut kota.

Di satu sisi, Khadijah setia mengamati putri-putrinya yang telah berumah tangga, sementara di sisi lain sibuk menyiapkan pernikahan bagi putri-putrinya yang telah bertunangan. 

Di sisi yang lain lagi, Khadijah mengisi hari- hari Fatimah kecil Sang Bunga Rumah, menyambut dan menjamu tamu-tamu yang datang, menyampaikan ajaran-ajaran agama kepada mereka, mengikuti perkembangan musim panen, perjalanan dagang, dan menghitung harta benda, memperbaiki bagian rumah yang rusak, mengurus taman, merawat unta-unta yang terserang penyakit, mengusir hama-hama yang sering muncul pada karung-karung kurma, menjelaskan kepada anak-anaknya bahwa ikan yang mati di kolam pada pekan lalu adalah sebuah takdir, memberi perhatian khusus untuk Ali dan Zubair yang ketika itu tengah mengalami pubertas dengan segala kekhasannya, serta hadir dalam berbagai takziyah, akikah, dan perpisahan.

Khadijah berdiri teguh di antara berbagai dera.
Kadang, setelah semua telah tidur, ia memikirkan satu per satu keluarganya. 

Mengetahui bahwa semuanya sehat dan tertidur pulas di bawah atap yang sama adalah sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. 

Dan pekerjaan yang harus ia kerjakan seolah bintang yang bertebaran di langit, begitu melekat kepada dirinya. 

Ketika ia akhirnya tertidur bersama bintang-bintang, kadang tidak tersisa satu mimpi pun untuk dilihat karena hidupnya sudah menyerupai mimpi: berlari... berlari... terus berlari... dalam dirinya bersemayam seorang gadis remaja.

Hari kelahiran Abdullah, putranya, mengukir kegembiraan di wajah semua orang. Bahkan, belum genap beristirahat di tempat tidur keibuannya, ia kembali beranjak untuk memulai lagi kehidupannya, meneruskan hidup yang bagaikan lautan berkecamuk ombak.

Tak pernah merasa terbebani.
Tak ada penyesalan.
Tak pernah mengerutkan alis.

Dia, adalah laut... adalah cinta. Kata cinta yang tertulis di dahinya membuat Khadijah selalu sigap dalam setiap kesempatan, setiap keadaan. 

Lengannya terbentang luas bagaikan samudra. Tangannya seperti tercipta dari air, rendah hati dan penyabar. 

Menjinakkan batu besar yang perkataannya kasar dengan belaian kasihnya. Adalah Kapal Risalah yang berlayar di atasnya, adalah ikan-ikan unik umatnya yang hidup di dalamnya.

Ketika menyusui Abdullah, ia menyimak dengan saksama hafalan ayat-ayat pertama putri kecilnya, Fatimah. Sementara itu, di bagian bawah rumahnya, para muslimah awal sudah tidak sabar untuk mendengarkan nasihat perihal agama darinya. 

Dari kasak-kusuk yang didengar dari para gadis yang ditugaskan menjamu tamu itu, Khadijah tahu bahwa keributan telah terjadi. Kabar buruk yang terdengar dari Pasar Dzu al-Majaz itu segera melesat bagai busur ke dadanya, bagai susu yang hendak mendidih, dan terdengar oleh Ibunda Khadijah.

Menurut kabar yang beredar, kericuhan itu terjadi ketika suaminya yang juga sebagai Rasul Terakhir, mengajak orang- orang di pasar untuk meninggalkan kegelapan dan menuju cahaya. 

Abu Jahal, seperti biasa, dengan penuh olokan menolak ajakan tersebut. Bahkan, ia sempat mengambil segenggam tanah dan kemudian melemparkannya ke kepala suci Rasulullah. 

Bagaimana mungkin hal itu terjadi? Melemparkan tanah ke kepala seseorang, menurut adat Mekah, adalah hinaan terburuk yang pernah dilakukan. 

Abu Jahal merasa puas dengan kelakuannya itu dan berkata, “Hai sekalian manusia, orang ini ingin membelokkan kalian dari agama terhormat nenek moyang kalian. Janganlah kalian sekali-kali menaatinya! Dia menginginkan kalian untuk meninggalkan tuhan-tuhan kalian, meninggalkan Latta dan Uzza kalian. Jangan pernah kalian mendengarnya!”

Ucapan itu seperti meredupkan pancaran cahaya kalimatullah. Selanjutnya, kericuhan pun terjadi. Tubuh al-Amin berbalut debu. Rambut dan jenggotnya dipenuhi tanah. Pakaiannya pun terkoyak. 

Ibunda Khadijah yang mendengar kabar tidak sedap itu seperti terguncang. Segera saja air susu tidak keluar dari dadanya. 

Putra mungilnya, Abdullah, yang berada dalam pangkuannya bagai anak domba yang kebingungan mencari- cari air susu. Tidak tega.

“Bismillah.” Dadanya diperas seraya menyebut asma Allah.
Tidak keluar air susu...
Bismillah...
Masih tidak keluar...

“Ya Rabb, berilah pertolongan untuk rumah utusan-Mu. Bismillah....” rintihnya. 
Kali ketiga, karena begitu keras memeras, yang keluar adalah susu bercampur darah.
“Mekah, betapa cepatnya kau berpaling dari kami,” ucapnya dalam hati.

Khadijah harus tenang. Mengemban janji yang berat tentu akan berhadapan dengan ujian semacam ini. Harus kuat, ia harus kuat mengingat banyak orang yang menaruh harapan kepadanya. 

Abdullah segera ditidurkan ke ranjangnya. Ia lalu memberi selamat kepada Fatimah atas hafalannya. Saat turun ke bawah, Khadijah mencari wajah penuh senyum yang biasa ia tunjukkan kepada para tamu muslimah itu dari dalam dirinya. 

Dengan susah payah, ia akhirnya menemukannya dan memasang wajah penuh senyum itu. Oh...Khadijah, ibunda seluruh umat.

Menjelang malam, Zainab, putrinya yang menikah dengan putra dari saudara perempuannya menghampirinya. 

Ada kesedihan yang menggantung di wajah putrinya. Atau, adakah yang membuatnya bersedih di rumahnya? Dibelai rambut putrinya, dicium jemari yang berinai dan bercincin itu. 

Menantunya adalah seorang yang mengetahui besarnya arti nikmat, seorang pemuda yang berwibawa. Bagi Zainab, suaminya tak pernah meninggalkan matanya di belakang. Kalau begitu, apakah gerangan yang tidak Zainab ceritakan kepadanya? Mengapa wajahnya pucat? Ketika ditariknya ke belakang jilbab sutra yang menutupi kepala putrinya, ia terkejut menemukan penuh bekas luka. 

Zainab menutupinya, tak ingin ibunya tahu. Sang ibu pun berpura- pura tidak melihat bekas luka itu. Ia berpura-pura melihat kalung yang dihadiahkan kepada putrinya saat pernikahan. Seraya ingin mengganti topik pembicaraan, sambil menelan ludah, Khadijah bertanya, “Kau suka hadiah ini, Zainab?”

Beberapa tahun kemudian, di Perang Badar, hadiah itu akan menjadi jaminan keselamatan bagi suaminya. Kalung pemberian dari Ibunda Khadijah ini akan menjadi penolong bagi suami Zainab. 

Zainab, seolah sudah menunggu pertanyaan itu, tidak kuasa menahan dirinya. Ia menangis terisak. Kepala Ibunda Khadijah mendidih dibuatnya. Ataukah putrinya tidak nyaman berada di rumahnya sendiri? Ada apa dengan bekas luka di tengkuknya itu?

“Para pengantin boleh menangis begini. Namun, ibunda mereka adalah orang kepercayaan mereka. Bukan begitu, Zainab?” tutur Khadijah. Zainab tenggelam dalam pelukan ibundanya. Dengan terisak, ia mulai menuturkan kisahnya. Derita Zainab sebenarnya adalah ayahandanya.

Hari ini, saat sedang berjalan dari pasar ke pasar, ia menemukan ayahandanya tengah berdakwah mengajak orang-orang menuju ke Agama yang Benar. Kata-katanya begitu sopan, begitu tulus dari lubuk hati terdalam. 

Ia memberi salam ke semua orang. Satu per satu dari mereka dijelaskan tentang keesaan Allah. Akhlaknya yang menjaga etika moralitas yang indah, arti dari pemilik segala kebaikan, dan pasar yang dikelilinginya demi menyampaikan pesan bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara belaka. Namun, telinga orang-orang itu tersumbat demi mendengar sabdanya. 

Kemudian, di depan ayahandanya berdiri orang- orang yang menirukannya. Mereka juga yang melemparkan tanah ke kepalanya dan menjambak rambutnya. Kini, seluruh tubuhnya berbalut debu. Di antara caci maki dan hinaan, sang ayahanda masih saja gigih menyampaikan risalah ilahi, satu per satu seperti mutiara dengan penuh kesabaran. 

Makian demi makian semakin meningkat. Mereka mulai mengancam dan meneriakkan sumpah-sumpah akan menyiksa orang yang telah meremehkan tuhan-tuhan mereka. Hingga mentari merangkak naik ke puncaknya, Zainab masih mengawasi ayahnya dengan harapan kosong. 

Kemudian, seiring hari kian menuju puncak panasnya, orang-orang yang kasar lagi kurang ajar itu pun beringsut bubar, meninggalkan Rasulullah sendirian dengan tubuh berbalut debu dan tanah. 

Agar tidak mengundang orang-orang untuk mencacinya, ia pun menutup wajahnya dengan kain. Meskipun berada dalam balutan jubah dan syal, Rasulullah masih mengenali putrinya yang saat itu berjalan mendekatinya.

“Kaukah itu, Zainab?”
Zainab segera menyerahkan kendi berisi air yang ada di sampingnya kepada sang ayah. Dengan bibir yang berdarah- darah, seraya mengucap basmalah, sang ayah mulai meneguk air dari kendi itu. 

Setelah mencuci wajahnya, tampak sebagian dari air itu bercampur darah dan peluh. Ketika membersihkan pakaiannya yang berdebu, tersenyumlah ia kepada putrinya. 

Dan ketika Zainab tidak bisa menahan dirinya untuk menangis, seperti biasa, sang ayah akan mengelus kepala putrinya sembari berkata, “Zainab... oh Zainab.”

“Wahai Putriku, jangan takut akan ayahmu. Yang menugaskan pekerjaan ini adalah Allah. Jangan takut, Zainabku,” lanjutnya menenangkan. 

Setelah berpisah dari ayahandanya, si wanita muda itu pun segera berlari meninggalkan pasar. Ia berusaha menghindar dari orang-orang kasar yang menyadari bahwa itu dirinya. 

Ketika berlari, kakinya tersandung sesuatu sehingga ia terjatuh. Kendi yang ia bawa pun pecah sehingga melukai tengkuknya. Sambil terisak, Khadijah berusaha menenangkan putrinya yang mengkhawatirkan hidup ayahnya.

“Zainabku, jangan bersedih,” katanya. “Allah bersama Ayahmu!”
Sebuah kaca seperti meledak dalam dirinya. Pecah, dan serpihannya menyayat hatinya. Terluka di depan mata anaknya sendiri, ayah mana yang sanggup menanggungnya? 

Begitu pula, anak mana yang hatinya tidak tercabik-cabik melihat ayahnya sendiri dalam kondisi seperti itu? Namun, ia tentu saja tidak boleh mengatakan kepada anaknya. 

“Zainab sayang, lihatlah. Adikmu ingin membacakan ayat-ayat yang baru saja dia hafal kepadamu,” kata Khadijah sembari memberikan Fatimah yang dari tadi memamerkan pita-pita kepang rambutnya kepada sang kakak ke pangkuannya. 

“Bagaimana Halah, apakah ia baik-baik saja? Aku sangat merindukannya,” tanya Khadijah. Pada saat yang bersamaan, matanya sibuk mencari Zaid dan Ali. Ia harus segera mengirim mereka ke sisi Rasulullah. 

“Saudara-saudara yang hendak menunaikan salat Magrib di rumah kami, aku mencari Zaid dan Ali. Mereka harus menyiapkan kamar untuk tamu laki-laki kami,” kata Zainab. Begitu namanya dipanggil, Zaid segera melongokkan kepalanya ke pintu.

“Zainab, kau tidurkan saja Fatimah. Aku segera datang. Bahkan, akan kupanggil juga mertuamu untuk datang. Kita salat bersama-sama. Kami tidak akan melepasmu secepat itu.”

Meskipun mereka berusaha untuk tidak membuat para tamu wanita merasa khawatir, ternyata Khadijah mendapati para pemuda di rumah itu menjadi waspada. Bahkan, Ali, demi menyampaikan perihal kejadian itu kepada ayahnya, Abu Thalib, segera melesat menuju rumah lamanya. 

Zubair juga menarik pedang seukuran tinggi badannya seraya berkata, “Jika mereka hendak melakukan sesuatu terhadap Rasulullah, mereka akan menemukanku di hadapan mereka.” 

Ucapan pemuda kecil itu cukup membuat Khadijah tersenyum. “Para singaku....” kata Khadijah, “Lari dan susullah Rasulullah."

Orang-orang terdekatnya, yang hingga kemarin masih bersama bahu-membahu dalam meraih kemenangan besar dan menjaga martabat, hari ini bergerak sendiri- sendiri seperti tidak saling kenal. 

Mereka yang hingga kemarin masih bersama-sama menikmati jamuan makan tanpa kurang suatu apa pun, hari ini menjadi musuh. 

Sahabat lama yang memutus salam, memutus ucapan selamat pagi. Bahkan, segera saja pintu dan jendela dibanting dengan keras di depan wajah mereka. Atau segera memalingkan muka ketika melihat mereka.

Dua tetangga rumah terdekat, Abu Lahab dan Ukbah bin Abu Mu’ait, sudah sejak dulu melancarkan siksaan-siksaan yang tidak terbayangkan sebelumnya. 

Mereka kumpulkan duri dan semak untuk disebarkan ke jalanan yang dilalui kaum muslim. Sampah dan segala macam benda menjijikkan mereka buang ke depan pintu rumah-rumah kaum muslim.

Sejak Alquran turun kepada Sang Utusan Terakhir, seolah ada sesuatu yang berbeda yang terjadi pada hati mereka. 

Alquran sebenarnya adalah al-furqan (pembeda). Ketika Rasulullah mulai berbicara, muncullah perbedaan- perbedaan itu. Semua orang melihat asal mereka, permata mereka, melalui cermin ini. 

Mereka yang terbuka dengan kebaikan, ketika mendengar seruan Utusan Terakhir, langsung berlari menuju kebaikan. Sebaliknya, mereka yang terbuka dengan keburukan akan berlari dengan cepat menuju kehinaan.

Khadijah sendiri adalah wanita yang menjunjung tinggi hukum berkenaan dengan kekerabatan dan kehidupan bertetangga. 

Bukan hanya ia yang menjunjung tinggi hakikat-hakikat tersebut. Menaati dua hukum tersebut adalah salah satu dari peraturan-peraturan bermartabat penting di Mekah. 

Pepatah Arab menyebutkan, “Kekerabatan maupun kehidupan bertetangga bagaikan selubung benih di dalam tanah. Benih tanpa selubung, mungkinkah ia bertahan? Bagi sebiji benih, untuk tumbuh menjadi tanaman berakar diperlukan selubung untuk bersandar."

Ketika berbagai tanggapan dilontarkan, jarak diturunkannya ayat satu dengan yang lainnya merenggang lagi. Caci-maki dan hinaan semakin hari semakin bertambah. Orang yang melintas di sampingnya berceletuk, “Wahai Muhammad, adakah hari ini yang turun dari langit lalu berbincang denganmu?”. 

Tak jarang pula mereka mengumpat yang ditujukan untuk para hamba sahaya yang memeluk Islam, “Harta karun Kisra dan kaisar apakah akan diberikan kepada mereka ini?” umpat mereka dengan tawa terbahak-bahak yang menyayat hati.

Dan ancaman pun masih datang silih berganti. Dengan suara kencang, mereka berkata, “Barang siapa yang mengunjungi Kakbah dan mendirikan salat, kami tahu apa yang harus dilakukan kepada mereka.”

Bahkan, suatu ketika Abu Jahal pernah bersumpah di depan khalayak, “Jikalau mereka datang dan mendirikan salat, akan kuinjak tengkuknya dan kuseret wajahnya di tanah.”

Suatu ketika, ia pernah hendak menginjak tengkuk Rasulullah ketika sedang sujud. Namun, belum sampai menginjak, ia kembali pulang. 

Saat ditanya perihal hal ini, ia pun menjawab, “Aku sudah akan menginjaknya. Namun, setiap kali akan melakukannya, aku melihat dinding dari api yang mengelilinginya.”

Meskipun hidupnya selalu dipenuhi dengan ancaman, Khadijah tak pernah sekalipun melewatkan pergi ke Kakbah dan salat di sana bersama sang suami. 

Bahkan, meski ancaman kematian datang mendera, ia dengan gigih dan berani tidak beranjak selangkah pun dari sisi suaminya. 

Di antara segala tanggapan, baik dari segi keagamaan maupun sosial, kehilangan Abdullah kecil yang tengah mulai belajar berjalan secara tiba-tiba tidak pelak menambah berat kadar ujian yang harus dihadapi. 

Orang-orang berhati kotor dan bermulut buaya segera mengambil kesempatan dari kesedihan mereka ini. Bahkan, mereka mulai menjuluki Rasulullah dengan sebutan “pohon yang rapuh cabangnya”.

Suatu hari, seorang asing bertanya kepada ‘As bin Wail di Pasar Ukaz sambil menunjuk ke arah Rasulullah yang saat itu sedang sibuk menyerukan agama-Nya.

“Siapakah gerangan orang yang berbicara dengan perlahan-lahan itu?”
“Dia? Dia itu hanyalah seorang yang keturunannya terputus! Tak punya keturunan,” jawab ‘As penuh dendam, penuh benci.
Dengan hati patah dan terluka, Rasul Allah itu pun kembali ke rumahnya.

Ibunda Khadijah segera menenangkan diri. Ia mengajak suaminya berjalan mengelilingi satu per satu ruangan yang setiap sudutnya merupakan jejak turunnya wahyu, seraya mengingatkan kembali akan tempat-tempat saat dirinya pernah melihat Jibril. Dikenangkannya pula bahwa bukan rumah lain melainkan rumah beliaulah yang Jibril datangi.

“Engkau adalah Rasul utusan Allah Yang Maha Esa,” katanya menguatkan hati.
Khadijah berkata dengan menatap mata Rasulullah dalam-dalam. Sembari melakukan hal yang sama, ia berkata lagi, “Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” 

Ucapan itu begitu menyesakkan dada keduanya. Mereka penat dengan siksaan orang-orang sehingga keduanya pun tersungkur dalam sujud, membuka hati mereka untuk Allah. Rasulullah pun merintih dalam doanya.

“Ya Rabbi! Tunjukkanlah kepadaku petunjuk-Mu yang akan memberi kekuatan bagi hatiku dan yang menghilangkan kesedihan ini dariku!”

Di masa penuh ujian yang harus dilewatinya ini, Khadijah adalah satu-satunya sandaran, satu-satunya hiburan baginya...

Khadijah tidak pernah barang sekejap pun ingkar dari imannya kepada Allah dan apa pun yang dikaruniakan kepada Rasul-Nya. 

Apa pun yang diwahyukan kepada Rasulullah diterimanya. Karena itu, ia hadapi setiap ujian berat yang dibebankan Allah kepadanya dengan penuh kesabaran. 

Berbagai macam orang, yang baik maupun buruk, pernah ditemui. Begitu berat dan sukar tugas sebagai seorang rasul yang diemban suaminya sehingga pertolongan dan taufik dari Allah saja yang mampu memberi kekuatan kepada para nabi sehingga tetap gigih mengembannya risalah-Nya. 

Khadijah, orang pertama yang mengimani Utusan Terakhir, sebagai wakilnya, satu-satunya penghibur buatnya, tidak diragukan lagi adalah yang terpilih untuk ikut berperan dalam terlaksananya tugas berat ini dengan selamat. Ia pun adalah seorang yang mendapat dukungan langsung dari Allah.

Kaum musyrik Quraisy dengan penuh keyakinan terus mengikuti perkembangan kedatangan wahyu. Jika wahyu itu terputus keluarlah kata-kata ejekan dari mereka, “Tuhannya pun meninggalkan Muhammad.”

Hujan hinaan dan duka karena kehilangan putra berkecamuk dalam dada mereka. Namun, kesabaran dan ketabahan jiwa mereka yang akan disempurnakan itu tak goyah meskipun didera berbagai macam bara api, meski segala macam kepahitan dunia telah mereka rasakan...

Di lantai atas, Ibunda Khadijah terbaring sakit dengan panas tinggi karena duka kehilangan putra kecilnya. Di lantai bawah, karena paham akan hakikat kematian, Berenis berbicara tentang hal tersebut di hadapan para tamu wanita yang berkumpul di penginapan itu untuk dalam rangka takziah atas wafatnya Abdullah.

“Ketika melewati Gurun Tihamah, kami menjumpai gundukan yang tidak biasa. Ketika kepala rombongan memberi waktu untuk beristirahat, bersama Tuanku, Tuan Katip Tua, kami pergi mengunjungi gundukan itu. Di balik gundukan itu berjajar empat puluh makam yang saling berdampingan. 

Aku pun terkejut. Bulu kudukku berdiri. Di gurun pasir sesunyi ini, bagaimana mungkin ada empat puluh makam yang saling berdampingan seperti ini? Ada misteri apa di balik semua ini? Seolah tahu apa yang kupikirkan, Tuanku menjelaskan, ‘Ketika empat puluh sahabat Allah tengah berzikir kepada Tuhannya, mereka menyerahkan nyawa mereka di sini...’

Aku yang merasa begitu dekat dengan Allah, waktu itu masih belum mengerti untuk apa Dia mencabut nyawa dengan sekali napas. Padahal, dalam hal mencintai, Allah jauh lebih cinta ketimbang hambanya.

Selain memberi nyawa dan hidup, Allah juga mengambil nyawa, mematikan hidup. Dia Mahakuasa untuk melakukannya. Semua manusia dan segala sesuatu sudah ada derajatnya di sisi Allah. 

Kematian seorang hamba mungkin adalah kedukaan dan perpisahan. Namun, bagi Allah, hal itu adalah pertemuan dengan sang hamba. Setiap yang mati akan pergi dengan membawa perintah, yakni untuk bertemu Rabb mereka.”

Sambil berbincang, para pelayan menjamu tamu takziah itu dengan air dingin dan kudapan ringan. Khadijah masih berada di lantai atas. Air susu hangat mengalir dari dadanya. 

Panas tubuhnya masih tinggi. Ia sedang menyelam ke alam mimpi yang dalam. Dalam mimpinya, ia melihat Qasim dan Abdullah berlarian bertelanjang kaki di padang rumput yang luas. 

Keduanya memakai jubah berwarna hijau. Mereka begitu riang, jauh dari keramaian dan kesusahan. Dari jauh terlihat sebuah istana mutiara berhiaskan bunga cempaka. Lampu-lampu dari tiap jendelanya berkilau indah bak kristal. 

Dari setiap sisi padang rumput itu memancar mata air sejuk. Sang bunda berlari dengan jagoan-jagoan kecilnya. Berlari... berlari....

INSYIRAH, retak...

“Brak! Brak! Brak!”
Belum usai kunjungan para tamu takziah, malam itu tak biasanya terdengar suara pintu digedor dengan keras, sampai-sampai semua orang terbangun dari duduknya. 

Yang datang adalah juru bicara Abu Lahab. Mereka berdiri di ambang pintu dengan wajah hitam kelam berteriak-teriak seraya mengumumkan batalnya pertunangan dengan putri- putri Rasulullah, Ruqayyah dan Ummu Kultsum. 

Bahkan, Utaibah yang tadinya akan menjadi calon menantu Rasulullah mendorong para juru bicara itu hingga bisa masuk ke dalam rumah.

“Aku tidak menyukaimu, kau juga tidak menyukaiku. Aku tidak akan dan tidak ingin menjadikan putrimu sebagai istriku,” teriak Utaibah mencerca Rasul Allah. 

Rasulullah yang bersedih atas ucapannya kemudian berdoa, “Ya Allah, aku serahkan Utaibah kepada-Mu.”

Sebenarnya, peristiwa ini terjadi akibat tekanan dari Ummu Jamil, istri Abu Lahab. Istri Abu Lahab ini adalah seseorang di antara kaum musyrik dan tercatat dalam sejarah Islam sebagai “pembawa kayu bakar”. 

Menurut mereka, pembatalan pertunangan itu akan membuat keluarga Rasulullah kecewa dan kisah-kisah atas nama keagamaan yang mereka dakwahkan terputus.

Ummu Jamil adalah saudara perempuan dari pemimpin Bani Umayyah, Abu Sufyan. Bersama dengan istri kakaknya yang juga berlidah tajam seperti dirinya, Hindun, mereka bersekongkol siang-malam menyusun rencana untuk menyiksa keluarga Khadijah. 

Dan inilah penemuan terbaru mereka. Melukai, menginjak-injak, dan menghancurkan ajaran Muhammad melalui putri-putrinya.

Lagi pula, pertunangan itu memang tidak pernah mendapat restu dari pihak keluarga sehingga pemutusan itu tidak terlalu membuat sedih hati. 

Namun, bagi “pihak wanita”, di kota yang sangat terikat dengan adat-istiadat seperti Mekah, pemutusan pertunangan tentu mencoreng martabat keluarga. 

Dan pengkhianatan yang ditujukan ke rumah yang menjadi tempat Alquran diturunkan juga dimaksudkan untuk tujuan yang sama.

Tidak ada yang tidak mendengar teriakan itu. Hindun bin Abu Halah yang melihat semua lilin di rumah itu terbakar segera menggamit pedangnya, kemudian lari menuju rumah ibunya. 

Ia tahu bahwa lagi-lagi telah terjadi sesuatu di depan rumah wahyu. Setibanya di rumah, dengan napas tersengal-sengal, ia mendapati ibunya tersungkur di lantai, berduka karena baru kehilangan putranya.

Melihat hal demikian, Hindun terpukul. Belum sempat memasukkan pedang ke dalam sarungnya, ia berlari menemui Rasulullah, berlutut di hadapan beliau. Kepada Rasulullah yang telah dianggap sebagai ayahnya sendiri, ia menanyakan perihal kejadian yang menimpa saudara-saudaranya.

“Ya Rasulullah! Mengapa engkau izinkan Utbah dan Utaibah membuat saudara-saudaraku bersedih? Jika ada yang perlu kami lakukan, tolong katakan itu kepada kami.”

Saat berkata demikian, tangan Hindun bin Abu Halah menggenggam gagang pedangnya sekuat tenaga yang tersisa. Tidak ada pengorbanan yang tidak dilakukan demi saudara-saudara perempuannya. 

Bisa saja ia pergi ke rumah Abu Lahab, mengobrak-abrik rumahnya atau bertarung satu lawan satu dengan Utbah dan Utaibah. Ya, keluarga ini sudah terlalu banyak mengalami kesulitan akibat ulah mereka. Ia pun menunggu perintah dari Tuannya.

“Wahai putraku, Hindun bin Abu Halah, ternyata Rabb- ku hanya mengizinkan anak-anakku menikah dengan para ahli surga. Musuh Allah memang tak layak untuk menikahi anak-anakku.”

Sebenarnya, tekanan yang sama juga dialami kemenakan Khadijah, Abu al-‘Ash bin Rabi. Para pembesar kaum musyrikin menjanjikan memberinya gadis Mekah manapun yang diinginkan jika bersedia menceraikan istrinya yang juga putri Rasulullah, Zainab. 

Namun, semua itu hanya sia- sia belaka. Abu al-‘Ash tetap setia mencintai Zainab dengan cinta yang besar, bahkan meski Zainab telah menjadi muslimah.

Dalam hal ini, Khadijah ibarat saklar utama, tiang penahan yang diharapkan keruntuhannya melalui putri-putrinya. Ia kembangkan lengannya menjadi sayap untuk anak-anaknya. Ia kumpulkan anak-anaknya di rumah wahyu. 

Belum reda duka karena kehilangan putra tercintanya, dengan segala kekuatan yang ada ia berusaha menghibur putri-putrinya. 

Ia menjadi dukungan bagi suaminya yang dijuluki sebagai “Ayah Para Putri”, dengan senantiasa menjadi teladan tak tertandingi sepanjang sejarah seluruh ibu. Tak ada guna putri-putrinya berduka karena Allah telah melindungi mereka dari keluarga yang buruk itu.

Ketika taman mawar Rumah Wahyu ingin diporak- porandakan, kekuatan kedewasaannya yang seperti sebuah rumah yang mulia, yang dipakainya sebagai tameng demi melindungi lingkungan sekitar keluarganya, sudah hampir mengering. 

Allah seolah membagi tugas kepada Jibril dan Khadijah sebagai kekuatan untuk menjaga taman mawar wahyu sebelum turun surat an-Nas dan al-Falaq untuk menjaga Rasulullah dan umatnya. Jadi, Rasulullah mendapat dukungan kekuatan dari malaikat dan seorang wanita.

Dan...Tepat ketika mereka berkata, “Tuhannya pun meninggalkan Muhammad...” Dengan sokongan ayat-ayat baru yang akan membedah hati mereka, keluarga al-Amin akan keluar dari masalah yang datangnya bertubi-tubi ini.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada pula benci kepadamu,
(Ad-Dhuha)

Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu? dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, yang memberatkan punggungmu?
Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, Karena sesungguhnya bersama kesulitan itu ada 
kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap. (Al-Insyirah)

Ayat-ayat ini turun dari langit bak mukjizat... Ayat-ayat ini adalah keterangan yang menjelaskan kehidupan semua umat... Ayat-ayat ini adalah pesan-pesan bantuan ilahi yang mengangkat beban mereka...

Kaum musyrikin kota mendatangi Rasul Allah dan Khadijah. Mereka menyaksikan pengikut yang semakin bertambah jumlahnya. 

Tak bisa dibiarkan begitu saja, mereka kemudian memutuskan menjalankan siasat baru. Dikumpulkanlah anggota-anggota terhormat. Dengan tekad bulat, mereka memberi perintah untuk memperingatkan kemenakan Abu halib itu. Bahkan, dengan lantang mereka mengancamnya dengan kematian jika perlu.

“Wahai, Abu Thalib! Engkau adalah salah satu dari para sesepuh dan pembesar kami. Engkau adalah seorang yang mendapat kehormatan di antara kami. Kami ingin dirimu memberi peringatan kepada kemenakanmu agar ia menghentikan apa yang dilakukannya. 

Namun, kau tidak mengindahkan permohonan kami ini. Engkau tidak bisa menghalangi kemenakanmu. Kami bersumpah tidak akan bisa menanggung lagi perbuatannya yang mengkritik tuhan-tuhan kami, lalu dengan bodohnya menyalahkan dan menghina tuhan-tuhan kami. 

Kesabaran kami sudah habis. Engkau hentikan kemenakanmu dari semua ini atau kita berperang sampai salah satu dari kita lenyap!”

Sungguh sebuah ultimatum yang dahsyat. Paman Abu Thalib yang sudah menua terlihat sedih dan berduka. Khadijah mempersilakannya duduk di bantalan empuk dengan penuh hormat. 

“Pikirkanlah kemenakanku, aku, dan keluargaku. Janganlah kalian membebaniku dengan beban berat yang tak sanggup kutanggung.”

Saat bayangan wajah saudaranya, Abdullah, dan cahaya jernih ayahnya, Abdul Muthalib, tersirat di wajah kemenakannya, lalu ketika menantunya, Khadijah, mengingatkannya akan bidadari-bidadari surga berada di depannya, pikiran yang baru saja hendak diluluhkan oleh para manusia haus darah itu kini membakar otaknya. 

Ia memang tak pernah membedakan kemenakan dan putranya sendiri. Hatinya yang penuh cinta dan kasih sayang tak pernah membedakan antara putranya, Ali, dan kemenakannya, Muhammad walau sebesar helai rambut. 

Di luar maupun di dalam diri Abu Thalib, keduanya senantiasa sama. Mata air kasih sayang yang mendidih untuk kemenakan dan keluarganya dapat terbaca jelas dari wajahnya. 

Pengabdiannya untuk mereka ibarat mata air zamzam yang memancar di tengah gurun pasir nan tandus. Gemetar tubuhnya akan Rumah Wahyu.

Namun, di hadapannya sekarang ini bukan lagi “Anak Yatim Mekah”. Beliau adalah Rasul Allah. Rasulullah kemudian bangun dari duduknya.

“Wahai, Paman. Demi Allah, seandainya matahari diletakkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan perkara ini (menyampaikan risalah), aku tidak akan meninggalkannya hingga Allah memenangkan dakwah ini atau aku binasa karenanya.”

Kalimat-kalimat sarat kekuatan ini membuat Khadijah menangis. Keimanan kepada suaminya, sekali lagi, semakin menguat. 

Abu Thalib pun melihat kegigihan yang ditunjukkan kemenakannya itu seperti kecemerlangan mata. Ia akhirnya meninggalkan mereka seraya berjanji untuk selalu berada di sisi mereka hingga ajal menjemput.

Kalimat itu, secara tiba-tiba, telah mengubah kekhawatiran seorang ayah akan anaknya menjadi kepercayaan penuh dan ketenangan di dalam dirinya. 

Ia juga telah menyandarkan punggung kemenakannya ke sandaran yang benar. Ucapan yang diikrarkan itu penuh dengan kesungguhan dan kepercayaan.

Khadijah memandang lelaki di sampingnya dengan penuh kebanggaan. Tak diragukan lagi, kekuatan yang telah membuat suaminya seteguh ini adalah imannya. “Yang membuat ia berbicara demikian pastilah Allah,” pikirnya. 

Sungguh, tangan kanan dan kirinya, dengan amanahnya sebagai Utusan Terakhir Allah, jauh lebih mulia derajatnya dibandingkan matahari dan bulan. Matahari dan bulan kehilangan cahaya mereka di sisi iman dan cintanya kepada Allah. Beliau mendapat cahaya dan kekuatannya langsung dari Allah...

Bagi Khadijah, dengan usahanya yang memegang peranan penting ketika dihadapkan pada sebuah kekerasan, ia memiliki kepribadian kedua, yaitu mengamati sekelilingnya dan setiap saat selalu siap jika harus menjadi saksi. 

Dengan kepribadian ini, ia akan membusungkan dadanya penuh keberanian. Keberanian yang didengar dari ayahnya ketika masih gadis belia dan kemudian berkembang bersama kehidupan yang penuh dengan kaidah akhlak. Ia tetap bertahan dengan sabar dan pantang menyerah meskipun takut atau saat tertindas.

Tidak ada senjata apa pun yang ia miliki untuk menghadapi benteng kehidupannya. Yang ada hanyalah sebuah jalan bernama ‘penantian’ dengan usaha yang khas penuh kedewasaan dan kesederhanaan. 

Ia tidak akan diam yang berlumut kepasifan dan kegentaran. Ia akan mengambil sikap tegas penuh kemantapan yang mengarah pada usaha dan perjuangan.

Kaki-kakinya begitu kokoh berdiri. Tanpa merusak kuncup-kuncup harapan yang tumbuh di bawah hujan kesabaran. Ia akan menjaga kilau permata di dalam hatinya yang tak tersentuh tangan siapa pun itu agar tetap bersinar. 

Dirinya akan bersandar kepada Dia yang memberkati rumput teki yang lemah namun bisa meretakkan batu marmer. Atau ia akan melarikan diri kepada Dia yang telah menurunkan kebagiaan dengan memberi kehidupan lagi melalui bunga kardelen yang muncul di antara bongkahan gunung es.

Sekarang, ia sudah lebih memahami makna di balik hari-hari ketika suaminya mengasingkan diri ke gua bertahun- tahun lamanya. Ia mengerti bahwa suaminya telah mendapat pendidikan khusus selama hari-hari itu. 

Namun, ketika ia mengenang kembali apa saja yang telah disaksikan dalam hidupnya, bukan berarti dirinya tidak menyadari telah dididik dengan pengajaran yang berbeda pula. Besi dan madu, berdampingan satu sama lain dalam dirinya.

Sebagai yang pertama dan yang terbesar dalam memberikan kasih tulus sepenuh jiwa, Khadijah menjadikan dirinya sebagai Kubra di jalan Muhammad. 

Dalam keadaan ada maupun tiada, dengan ucapan “Biarkanlah jiwa ini kukorbankan untukmu,” ia serahkan dirinya untuk Rasul Semesta Alam. Dan ia menyerahkannya kepada para pecintanya dengan apa pun yang ada maupun tiada. 

Khadijah telah membuka pelukan dan rumahnya untuk mereka yang telah beriman dan rela menanggung kekerasan. Diantara mereka, ada yang dicongkel matanya, disayat-sayat kulitnya, dipukuli hingga tulang-tulangnya retak, ada pula yang diikatkan ke lima unta yang berbeda hingga hancur tubuhnya. 

Di hari-hari terakhir, ia kenang rumahnya seperti rumah sakit gurun pasir tandus bagi para wanita yang patah tangan dan kakinya atau yang dibutakan matanya. Rumah yang dulu di tamannya yang terdapat kolam tempat para hamba sahaya memainkan rebana sambil bersenandung riang kini berubah menjadi kamar dengan ranjang-ranjang yang berjajar penuh rintih kesedihan hingga tembus ke langit. 

Satu tangan Khadijah dan putrinya, Fatimah, memegang kendi, sedang tangan yang lain membawa bungkus bekas luka. Mereka berkeliling di antara wanita-wanita yang menjerit kesakitan. 

Ada yang menemui tuan-tuan mereka untuk meminta kemerdekaan bagi para budak, namun kadang mereka membeli para budak dengan tebusan. 

Sebisa mungkin Khadijah merawat, mengawasi, dan memeriksa pasien-pasiennya. Suara-suara rintihan dari kamar-kamar dan taman itu membuatnya tak pernah merasakan kantuk hingga pagi menjelang.

Setelah bertahan dalam waktu yang cukup lama, dibuatlah keputusan untuk berhijrah. Tidak ada lagi jaminan bagi kaum muslimin di Mekah untuk hidup aman dan tenteram. Apa lagi ancaman-ancaman yang semakin meningkat jumlahnya. 

Ketika kaum muslimin sibuk mencari jalan keluar, khususnya Ustman bin Afan yang berkali-kali memohon kepada Rasulullah, beliau memberi keputusan untuk berhijrah. Arah diputar ke Habasyah, ke negeri raja nan adil, Raja Najasyi.

Mendengar jalan yang akan ditempuh para pemuda muslimin yang berhijrah dengan izin Rasulullah serta mengetahui putrinya, Ruqayyah, juga akan berada di antara mereka, Khadijah merasakan sesuatu yang sangat berat. 

Selain melewati jalan panjang gurun pasir di bawah pengawasan kaum musyrikin, masih ada jalan laut yang juga harus mereka lalui. Apa lagi, menyadari kapal yang akan mereka tumpangi akan menuju negeri yang tak dikenal sebelumnya. Hanya Allah yang tahu dengan apa dan bagaimana mereka akan disambut di sana.

“Ya Allah, lindungilah kaum Muhajirin kami! Ke mana mereka pergi, bagaimana mereka pergi? Berapa hari mereka harus menempuh gurun, berapa hari mereka harus menempuh laut? Seperti apa pula tunggangan yang mereka sebut kapal itu?"

Jika itu burung, tentulah ia mempunyai sayap. Jika itu unta, tentulah memiliki punuk. Ia dengar bahwa kapal itu memiliki layar yang jauh lebih lebar dari telinga gajah. 

Tunggangan itu akan berjalan mengarungi lautan tak bertepi layaknya gurun pasir yang luas dengan membaca bintang-bintang untuk menentukan arah ke mana akan pergi. 

Sementara itu, sejak kecil yang ia tahu adalah bahwa manusia haruslah menapakkan kakinya ke tanah. Baginya, laut mengalir di bawah kaki bumi. Rasanya mirip dengan air mata.

Tiap kali memikirkan hijrah, seolah-olah ia sedang membungkuk di depan keran kematian dan mengambil wudu di bawahnya. 

Ibarat pergi dan tak akan kembali lagi, kaum Muhajirin pertama itu datang mencium tangannya dan berpamitan secara diam-diam. 

Khadijah merasa dirinya harus tetap berdiri tegap dan penuh keberanian agar tidak menggoyahkan semangat mereka. Khadijah tampak seperti seorang pelaut yang berdiri di dek kapal dengan senyum yang tak pernah pudar. 

Kepada rombongan yang hendak berangkat hijrah itu ia ceritakan kisah Nabi Nuh dan kapalnya. Segala macam persiapan perjalanan, seperti bekal makanan, baju hangat, dan syal, diletakkan di bawah tempat duduk mereka. Ditepuknya pundak mereka seraya menyuntikkan keberanian. Tak lupa pula ia mendoakan mereka.

Namun, ketika tiba giliran putrinya, Ruqayyah, memohon pamit, saat membelai rambutnya yang menebarkan semerbak wangi bunga, raga yang tadinya berdiri tegap di dek kapal itu seolah-olah hendak roboh. 

Ketika gelombang ombak menghempas dengan penuh amarah ke tubuh keibuan itu, seperti layar kapal yang terkembang lebar, dipeluknya Ruqayyah. 

Menangislah mereka berdua dalam diam. Lalu, ketika madu yang ada di dalam dirinya berubah menjadi baju besi, Khadijah berkata menguatkan, “Kau adalah putri Rasulullah. Jangan lupa akan itu!”

Kaum Muhajirin pertama.
Oh! Inilah kapal pertama yang berangkat dari Mekah. Jalan yang pertama kali akan ditempuh kaum muslimin. Dari rumah Rasulullah, Zubair juga akan turut serta naik ke kapal hijrah itu. 

Belum lama ini ia mendapat himpitan yang keras dari kaum musyrikin. Tubuhnya dipukuli hingga bermandikan darah. Ia termasuk ke dalam daftar rombongan yang akan berangkat itu: 12 laki-laki, 5 perempuan. 

Satu yang menjadi masalah: keberangkatan mereka tidak boleh diketahui kaum musyrikin. Jika sampai itu terjadi, mereka akan menghalangi jalan dan menyandera kaum muslimin. 

Selain itu, bagi masyarakat gurun, perjalanan laut adalah sesuatu yang menakutkan. Kehadiran para perempuan dan anak-anak dalam rombongan kailah itu benar-benar membuat khawatir karib kerabat yang ditinggalkan. 

Setelah menempuh jalanan berliku tanpa meninggalkan jejak, mereka sudah hampir sampai ke Dermaga Syu’aibah.

Mahasuci Allah, sesampainya di dermaga, mereka menemukan dua buah kapal yang tengah bersandar di sana. Setelah tawar-menawar hingga turun menjadi setengah harga, naiklah mereka ke kapal itu. 

Kaum musyrikin Mekah yang mengikuti mereka dari belakang baru bisa mencapai dermaga setelah kapal menaikkan jangkarnya. Kuda-kuda yang mereka tunggangi untuk mencapai laut terpaksa harus kembali dengan tangan kosong.

Berenis...

Dalam kisah yang diangkat dari suatu masa, yang seperti bulu burung yang tipis, yang bertahun-tahun tak pernah jelas keberadaanya, ia merasa telah tiba waktunya untuk kembali. 

Habbasyah adalah negerinya. Apa lagi laut, itu adalah jalan yang telah dipahaminya dengan baik. Ide untuk pergi bersama para Muhajirin membuatnya bersemangat. 

Hatinya diliputi kebanggaan karena berkesempatan menyaksikan kehidupan orang-orang besar dan berperan penting dengan mata kepalanya sendiri.

“Inilah! Telah datang masanya untuk pergi, Dujayah.”
“Kita akan sangat merindukan Khadijah, bukan begitu Berenis?”
“Ia adalah laut. Lautan cinta. Lautnya Mekah. Ia adalah wanita yang mengeluarkan laut segar dari dalam gurun nan panas. Ia akan membawa serta kita bersamanya hingga hari kiamat kelak.”

Berenis dan Dujayah bergandeng tangan dalam siluet tipis yang berubah menjadi warna tinta seiring langkah menuju kailah laut pertama yang hendak berangkat hijrah ke Habbasyah. Sepanjang perjalanan, Berenis menceritakan sebuah kisah tentang kunang-kunang. 

“Seorang pemimpin tua Negeri Kunang bertahun-tahun selalu bercerita tentang kisah sebuah lilin kepada murid-muridnya yang juga sangat disukai mereka. Seluruh murid menganggap diri mereka telah memahami dengan baik arti cinta yang disebut lilin itu. 

Seorang murid berdiri di depan kelas, kemudian mulai menceritakan semua pengalamannya yang berkaitan dengan lilin. Riuh redam tepuk tangan pun membanjirinya, dan ia pun dinobatkan sebagai juara sekolah. 

Namun, apa mau dikata, si tua sang pemimpin Negeri Kunang mengumumkan bahwa si murid berilmu itu tadi hanya dianggap sebagai “mengetahui”. 

Kemudian, bertanyalah sang pemimpin, ‘Wahai anak- anakku, adakah di antara kalian yang pernah mengamati lilin dari dekat?’ 

Karena tak ada tanggapan, seorang murid pemberani segera maju ke depan kelas dan berjanji akan mengamati lilin dari dekat di jendela sebuah penginapan. 

Sang pemimpin memberi selamat kepada sang murid. Akhirnya, sang murid memulai perjalanan penuh aral itu. Setelah menempuh bermacam-macam kesulitan dan marabahaya, sampailah ia ke sebuah penginapan. 

Murid itu pun akhirnya dapat memenuhi janjinya, mengamati lilin dari dekat. Setelah puas mengamati lilin yang menyala itu, ia memutuskan pulang. 

Begitu banyak hal yang ingin diceritakannya. Mereka yang belum pernah melihat lilin mendengarkan ceritanya sambil menahan napas. 

Mereka lalu mulai memberinya selamat yang teramat tulus dari lubuk hati. 

Namun, si tua pemimpin Negeri Kunang mengatakan bahwa si murid baru sampai pada tahapan ilmu “ainul yaqin”

Ia lalu bertanya kembali, ‘Adakah di antara kalian yang pernah berada di dekat lilin?’ 

Karena tak ada tanggapan, seorang murid pemberani segera maju ke depan kelas dan berjanji akan berada di sisi Lilin itu. 

Diiringi ungkapan selamat dari teman-temannya, ia pun memulai perjalanan berbahaya itu. Berhari-hari dan berbulan-bulan lamanya perjalanan penuh aral, halangan, dan cobaan ditempuhnya. 

Akhirnya, ketika sampai ke penginapan yang dimaksud, kunang-kunang kecil itu menyadari bahwa apa yang dikatakan teman-temannya itu benar. 

Lilin itu benar-benar indah. Dengan pancaran cahaya yang sempurna, lilin itu mengundang sang kunang-kunang ke dekatnya. 

Matanya yang dibutakan cinta sudah tak lagi melihat apa pun di dunia. Kunang-kunang itu pun jatuh menabrak lilin. Ia berusaha kembali menggapai sang lilin. 

Namun, yang terjadi adalah sayap dan tubuhnya terbakar habis. Ia menemui kesialan justru pada lilin yang dicintainya. 

Teman-temannya yang mengetahui kejadian itu menangisi kepergiannya akibat jatuh ke dalam lautan cinta itu.

Si tua pemimpin Negeri Kunang kemudian mengatakan bahwa yang patut mendapat ungkapan selamat adalah teman mereka yang mati itu. ‘Nah, teman kalian inilah yang disebut memiliki pengetahuan “haqqulyaqin”. 

Diantara kita semua, dialah yang paling tahu dan benar pemahamannya atas perkara lilin itu. Ia telah melawan serta menghancurkan segenap hawa nafsunya untuk menemukan hakikat kekasihnya. 

Sebuah puntung saat bertemu dengan abunya. Kematian, bagi kita, adalah hari raya,’ kata sang pemimpin menutup pelajarannya.”

Berenis pun mengakhiri ceritanya. Dujayah yang mendengarkan kisah itu dengan saksama bertanya, “Kita juga telah jatuh cinta pada lilin itu. Bukankah demikian, Berenis?”

“Untuk berhasil mencapai hakikat cinta pada lilin itu, kita harus berkorban di jalannya, Dujayah.”
“Apakah di antara kita yang tahu lilin itu dengan baik adalah Khadijah?”

“Kita mencintai lilin dan mengungkapkan cinta kita kepadanya dari jauh, sedangkan beberapa orang melihatnya dari dekat dan menyaksikan keindahannya. Namun, ketika sampai pada Khadijah, ia terhempas bersama cinta. Ia korbankan dirinya sendiri demi cinta itu. Derajat cintanya sudah sampai pada haqqul yaqin.”

Sambil melanjutkan perbincangan, mereka mempercepat langkah agar bisa mencapai rombongan hijrah pertama yang akan segera berangkat dari Mekah. 

Berenis dan Dujayah ibarat dua kunang-kunang dalam kisah tadi yang bergandengan tangan menempuh perjalanan panjang menuju Jalan Cinta-Nya...

Setelah menyalami Khadijah sang Laut Mekah, mereka pun segera menghilang dari pandangan. Hilang dari pandangan...

Masyarakat Mekah hidup dalam kerajaan kata. Kata-kata itu tajam ibarat pedang dan teramat berharga bagi semuanya. Karena itu, para penyair mendapat kehormatan tinggi di kalangan masyarakat Mekah.

Ketika pertama kali Alquran dibacakan, yang terlintas pertama kali di kepala penduduk Mekah adalah bait-bait puisi. Karena itu, mereka mulai menjuluki Rasulullah dengan sebutan “gila”, “penyihir”, dan terakhir sebagai “penyair”. Mereka mencoba mengingkari firman ilahi yang Rasulullah emban.

Utbah bin Rabi’ah, seseorang yang mereka utus untuk menghasut Rasulullah agar bersedia meninggalkan jalan rabbani, justru tersihir dengan apa yang didengarnya. 

Ya, kata-kata yang Rasulullah bacakan memang mirip puisi. Ayat-ayat yang dikumandangkan meretakkan neraca karya seni yang mereka bangun sendiri karena terlalu berat beban yang harus ditimbangnya. Kehilangan kata-katanya saat dihadapkan dengan ketinggian tingkat keindahan ayat- ayat tersebut.

“Ya, mirip dengan puisi tingkat tinggi, tapi aku tak pernah mendengar yang seperti ini seumur hidupku. Yang dibacakan Muhammad jauh lebih tinggi tingkatannya daripada puisi,” kata Utbah bin Rabi’ah.

Orang-orang yang hatinya tertutup dari hakikat itu pun memutuskan berhenti mengirim utusan ke hadapan Rasulullah. Semuanya dilingkupi kedengkian dan ambisi.

Suatu hari Rasulullah pergi mengunjungi Kakbah untuk menunaikan salat. 

Melihatnya bersujud sudah cukup memancing kemurkaan Uqbah bin Abu Mu’ith. Sambil menghunjamkan cacian, ia berjalan mendekati Rasulullah. Dililitkannyalah baju yang ia pakai ke leher Rasulullah dan mulai mencekiknya. Rahmat Semesta Alam itu pun bersabar. 

Rasulullah tak mengangkat sedikit pun dahinya dari posisi sujud. Dirinya tak menghiraukan apa pun yang menimpanya. Sahabatnya, Abu Bakar, tak tahan melihat kejadian tersebut. Ia pun segera berlari dan meraih tangan Uqbah.

“Apa yang sedang kau lakukan? Apakah kau hendak membunuh orang karena ia mengatakan bahwa ia beriman kepada Allah?” cerca Abu Bakar. 

Paman Rasulullah yang berani, Hamzah, datang menerobos keramaian dengan busurnya yang terkenal selalu menghadirkan ketakutan ke dalam benak setiap orang. 

Abu Jahal dan kelompoknya lari tunggang langgang dan menyadari bahwa Rasulullah tidaklah sendiri.  Kaum muslimin sudah semakin banyak. 

Sudah semakin banyak pengikut Bani Hasyim ini. Dengan membuat sebuah perjanjian, mereka menganggap hal itu sebagai cara paling ampuh untuk mengasingkan kaum muslimin.

Tahun ketujuh risalah...

Bani Hasyim, kecuali Abu Lahab, yang berada di pihak kaum muslim dan Rasulullah menjalani pengasingan di dalam Mekah. 

Sebenarnya, sebagian besar Bani Hasyim pada saat itu belum masuk Islam. Namun, berhubung Nabi Muhammad adalah salah seorang kerabat mereka, memberi perlindungan pada dirinya sama saja dengan menjunjung martabat mereka sendiri.

Hari-hari berat telah menunggu mereka. Pria, wanita, anak-anak, orang tua. Semuanya. Sebuah embargo dan boikot yang akan berlangsung tiga tahun telah menanti orang-orang yang tertinggal di sana. 

Boikot ekonomi yang dilakukan kaum musyrikin kepada kaum muslimin ini merupakan cara untuk menghukum, meruntuhkan pertahanan, dan menghasut mereka untuk meninggalkan keyakinannya. 

Apa yang mereka perdagangkan tidak akan dibeli dan apa yang mereka kehendaki untuk dibeli tidak akan diberikan. 

Salam akan diputus dan perjanjian perkawinan pun dibatalkan. Boikot ini akan berakhir hanya apabila Rasulullah berhenti berdakwah.

Keadaan kaum muslim yang diasingkan ke Lembah Abu Thalib tak ubahnya seperti dalam kamp pengungsian. 

Ada yang meninggalkan rumahnya lalu mengungsi ke kebun milik saudaranya sendiri. Ada yang mendirikan tenda di celah- celah bukit. Dan ada pula yang bersembunyi di balik batu- batu besar. 

Asap kemiskinan, kelaparan, dan kesendirian, mengepul dari Lembah Abu Thalib.
Mereka kelaparan...
Kehausan...

Kalaupun ada yang memberi uang, tak ada yang mau menjual apa pun kepada mereka. Bahkan, memberi salam pun kepada mereka dilarang. Pengawasannya sangat ketat. Mereka mengancam dengan kematian bagi siapa pun yang mencoba mengacaukan boikot itu. Setiap rombongan kabilah yang melewati kawasan itu akan dicecar dengan berbagai macam pertanyaan.

Kelaparan telah mencapai tingkatan yang tidak bisa ditoleransi. Untuk bisa bertahan hidup, mereka terpaksa memakan apa pun yang ditemukan di tanah, seperti butiran gandum, akar-akar tanaman, dedaunan, atau biji kurma. 

Suara tangis bayi yang kelaparan membahana di langit Mekah. Ibunda kaum muslim, Khadijah, selama hari-hari yang sulit ini berusaha membagikan apa pun yang ia miliki untuk kaum muslimin. 

Ia memberi makan dan merentangkan tangannya untuk mereka. Kekayaan peternakannya terkuras habis dalam waktu tiga tahun karena boikot tersebut. 

Hari-hari pertama pemboikotan, Rasulullah mengerahkan semua berlian, emas, permata, perak yang menumpuk menggunung di depannya untuk kaum muslimin. 

Namun, di akhir tahun ketiga, harta yang dimiliki Khadijah al-Kubra, yang katanya “mampu membeli seluruh Mekah”, pun habis tak bersisa. 

Meskipun begitu, ia tetap tidak mau menerima makanan yang dibawakan kemenakannya, Hakim bin Hizam, secara diam-diam untuknya.

Kulit seorang wanita kaya dan bermartabat seperti Khadijah, di hari-hari terakhir pemboikotan itu, memucat. 

Pakaian yang menutupi tubuhnya sudah lusuh dan terlihat rusak di sana-sini. Dan ketika menemui Rasulullah dengan keadaan seperti itu, suaminya pun tak kuasa menahan tangis. 

Khadijah tahu bahwa Rasulullah menangisi keadaannya. Namun, sang istri justru menjawabnya dengan senyuman lebar. Dalam keadaan yang lemah dan kurus seperti itu pun, sosoknya tetap saja bak lentera kasih. 

Saat tertawa, matanya ikut tertawa dan Rasulullah selalu menemukan cinta dan kebahagiaan di sana. Mata itu bagaikan surga bagi Rasulullah, ketika tak ada manusia yang menghiraukannya. 

Diusapnya mata sang suaminya dan juga jenggotnya. Khadijah duduk di samping sang suami. Mereka duduk berdampingan di depan sebuah tembok. Tak berbicara. 

Dalam masa-masa seperti ini, saat mereka berkomunikasi dengan bahasa Gua Hira, dunia seolah mengosongkan isinya, seakan tak tersisa lagi manusia yang duduk berdampingan seperti mereka berdua. Disandarkanlah punggungnya ke dinding. 

Selama dua puluh lima tahun kehidupan rumah tangganya yang dilalui bersama seorang lelaki yang kini duduk di sampingnya itu, tak pernah sedetik pun ia menyesal atas semua yang terjadi selama itu.

Rasulullah mengamati gamis istrinya yang warnanya telah pudar. Tak ada lagi pakaian tersisa di penginapan itu. 

Semuanya telah habis dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Sprei, selimut, sampai gorden telah diinfakkan untuk mereka yang membutuhkan dan yang sakit. 

Dialah Khadijah, Sang Sultan para wanita. Dirinyalah yang membuka lebar tangan menyambut karavan-karavan terpilih dari Syam yang datang membawa barang-barang bernilai tinggi. 

Bahkan, ia pula yang menjadi pelanggan pertama mereka. Dialah Khadijah, pemilik penginapan yang dulunya kerap dijadikan tempat singgah kereta-kereta yang membawa beludru dan sutra yang sangat berharga di dunia pada masanya. 

Dialah Khadijah, pemilik unta yang jumlahnya sedemikian banyak hingga Lembah Ajyad tak kuasa lagi menampung mereka. Dan semua harta yang luar biasa banyaknya itu habis diinfakkan untuk kaum mukminin selama hari-hari pemboikotan berlangsung.

Rasulullah kembali mengamati gamis istrinya yang warnanya telah pudar. Gamis yang mengingatkannya pada sebuah selendang atau muka bumi, yang seolah-olah membungkus semua umat muslim. 

Khadijah adalah pakaian para dermawan. Saat tak seorang pun mempercayai Rasulullah, ia percaya. Saat tak satu pun manusia mendukungnya, ia mendermakan seluruh harta yang dimiliki. Saat semua orang menutup pintunya, wanita suci itu menjadi rumah bagi Rasulullah, juga bagi seluruh kaum muslimin.

Ketika pertama kali menjumpai seorang muslim yang hidup miskin dan kelaparan, kaum musyrikin tertawa mengolok-oloknya. Mereka berkata, “Andai saja Muhammad itu seorang nabi, mungkinkah Allah membiarkannya hidup dalam kehinaan dan kesengsaraan semacam ini?”

Jawaban itu muncul lewat ayat-ayat dari suci Surat Hud yang diturunkan pada hari-hari itu.
“Dan bersabarlah karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat
kebaikan.” (Ayat 115)

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.

Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan...”
(Ayat 15 dan 16).

Boikot tak berperikemanusiaan itu akhirnya berakhir. Ultimatum yang ditempel di dinding Kakbah pun ditemukan sudah habis dimakan ngengat dan hanya menyisakan lafaz “Allah”. 

Surat keputusan boikot memang sudah dihapus. Namun, di waktu yang bersamaan, Khadijah bagaikan sebuah lilin yang meleleh.

Rasulullah, suami yang ia berikan semua yang dimilikinya, bergeming di samping tempatnya berbaring.

Putri kecilnya, Fatimah, yang juga berada di sampingnya, mengusap butiran keringat yang menetes di dahi ibunya dengan tangan mungilnya. Ia seakan-akan sedang mengumpulkan tulisan- tulisan yang mengalir ke dahi sang ibu.

Khadijah jatuh sakit. Tiba-tiba saja ia jatuh ke pembaringannya. Tanpa menunggu masa tua dan sangat tiba-tiba. 

Apakah tempat tidurnya yang menenggelamkannya atau kehidupan keras yang ia jalani? Namun, ia adalah hamba yang rida dengan semua itu. Ikhlas dan melakukannya karena cinta. 

Ia adalah manusia yang mampu menghidupkan gurun pasir dan laut, besi dan madu sekaligus, yang mampu mengubah api menjadi air dan air menjadi api dalam satu waktu.

Hajar dan Khadijah...
Dua wanita ini adalah wanita-wanita yang menghadirkan laut di tengah gurun panas. Adalah besi yang terbuat dari madu. Apalah daya, lelah sudah raga itu...

Seolah setelah badai berhari-hari lamanya, kini Khadijah bagai mengapung di atas air laut yang tenang ibarat ombak lemah yang ingin menggapai tepian pantai. 

Tangannya berusaha meraih tangan kekasihnya. Fatimah mendekap erat kaki ibunya, menangis tanpa suara. Diusaplah rambut putrinya itu. Ia lalu meminta air. 

Adakah waktu tersisa untuk air? Namun, ia memintanya kepada Fatimah. Jelaslah, bahwa setelah ini Fatimahlah yang akan membawakan air. Seperti wasiat yang turun-temurun diberikan dari Hajar ke Khadijah, dan kini dari Khadijah ke Fatimah.

AIR.
Setelah Fatimah keluar untuk mengambil air, Khadijah memandang suaminya. Tiba-tiba film kehidupannya diputar kembali di depan matanya. Terbebas dari belenggu beban kehidupan, sebuah perasaan ringan yang manis.

Kebahagiaan, ketenangan, dan kedamaian.
Sebuah bayangan yang menyejukkan.
Dipandangnya lelaki yang dikasihinya itu dan dengan cinta yang dalam ia ucapkan nama-nama indah di wajahnya. 

Khadijah terus-menerus memberi salam kepada suaminya dengan menyebutkan nama-nama indahnya, baik yang ia ketahui maupun tidak. 

Semua nama indah itu seolah terukir di wajahnya. Mimpi yang dilihatnya bertahun- tahun yang lalu menjadi kenyataan. 

Semua nama indah di dunia bersatu dengan paras wajahnya yang bersinar bak mentari memancarkan cahaya ilahi. Sekarang, mentari yang menyinari kamarnya sebentar lagi akan menyinari Mekah dan juga dunia.

“Sepupu...,” katanya lirih.
“Maafkanlah aku...”
“Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah dan
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.” 

Terdiam!
Semesta seolah terdiam bersamanya.

Lautnya Mekah akhirnya membuka tabir rahasia itu... Awalannya Khadijah...
Akhirannya Kubra...

Bersatu menjadi Khadijah Kubra...

Kepergian sang pelindung besar, Abu Thalib dan Khadijah, hanya berselang tiga hari.
Rasulullah lagi-lagi hidup sendiri, sebatang kara.

"Perkara mana yang harus kutangisi?" tantanya kepada orang-orang di sekitarnya.
Mereka menyebut tahun itu sebagai "Sanatu'l Hazan", tahun duka cita.

Setelah itu, Rasulullah acap kali memberi perhatian khusus kepada beberapa wanita. Jika ditanya, ia akan menjawab, "Wanita ini adalah teman dekat Khadijah."

Beberapa tahun setelah menjalani hijrah, seperti yang juga dijalani rasul-rasul sebelumnya, Rasulullah kembali ke kotanya sebagai Pembebas Mekah. Dan disana, Rasulullah hendak mendirikan markas besar pasukan tepat diseberang Gunung Hajun.

"Khadijah, Khadijah sedang berbaring disini..." demikian beliau akan memberi jawaban jika ditanya sebabnya. 

Kemudian, suatu hari, dengan penuh kesedihan, Rasulullah menggoreskan empat buah garis ke tanah dengan cabang pohon kurma.

"Empat garis ini menggambarkan empat wanita ahli surga yang paling mulia."
Khadijah putri Khuwaylid.
Fatimah putri Muhammad.
Istri Firaun, putri Mudzahim, Asiyah.
dan Maryam, putri Imran.

Semoga Allah Meridai mereka..."