Setiap kali hati putri Khuwaylid melassa terhimpit, ia akan segera berlari ke Kakbah untuk menumpahkan segala isi perasaan kupada Rabbnya.
Dan kali ini, ia juga ingin segera sampai di Kakbah untuk mengutarakan isi hatinya. Ingin sekali dirinya dapat segera melintasi Pasar Ukaz yang membatasi rumahnya dań Baitullah.
Mimpi yang dijumpainya pagi ini telah membuat gundah-gulana hatinya. Jika dilihat dari luar, kehidupannya memang tampak sempurna.
Meski demikian, ia tidak kunjung jua dapat memecahkan kekosongan hati yang menurutnya sulit untuk digambarkan. Ia tidak dapat berbagi deritanya dengan siapapun.
Ia tahu, kalau sampai dirinya berbagi perasaan dengan orang lain, sudah pasti pembicaraan itu akan sampai pada masalah kejandaannya. Hal inilah yang membuatnya enggan berbicara kepada orang lain. Dalam pandangannya, belum ada laki-laki yang cocok.
Segera Khadijah masuk kedalam pasar melalui pintu yang biasa dilalui para wisatawan. Ia berjumpa dengan seorang turis tua yang sedang mengamat-amati selembar peta tua yang terbuat dari sutra, yang ia yakini sebagai petunjuk harta karun.
Orang tua itu membaca puisi dengan suara seperti orang menangis. Ia menuturkan kalau dirinya adalah seorang pemilik pemandian umum yang kaya raya. Namun, karena ia tidak memedulikan seorang pengemis yang menghampiri tempat usahanya, dirinya terkutuk menjadi miskin seperti pengemis itu.
Berangsur-angsur seluruh hartanya terjual habis untuk membiayai keinginannya menemukan harta karun. Sayang, semuanya hanya dusta belaka. Kini, ia pun hanya memiliki selembar peta tua yang ada ditangannya.
Seandainya saja tidak ada orang yang mau memberi peta tua itu, sebentar lagi ia tidak akan mampu membeli makanan sehingga tak lama lagi dirinya akan mati kelaparan. Mendapati keadaan seperti itu, Khadijah merasa iba.
Segera ia mengambil beberapa keping uang emas dari sakunya untuk diberikan kepadanya seraya terus melanjutkan langkahnya.
Saat memberikan beberapa keping uang itulah dalam hati Khadijah terlintas untuk berlindung dari kejinya kecanduan atas sesuatu. Semoga Allah menghindarkan hamba-Nya dari kepedihan menjadi budak karena tergila-gila atau kecanduan pada sesuatu.
Pasar ini terlihat sepi dibandingkan pasar tertutup lainnya. Namun, pasar ini berada dalam monopoli para saudagar bangsawan Mekah.
Setiap hari, mereka melakukan transaksi penjualan surat-surat berharga. Biro-biro pasar bebas maupun kantor-kantor tempat para delegasi perdagangan juga ada disana.
Khadijah melewati pasar itu dengan sangat hati-hati. Berjalan cepat dan menutup wajahnya dengan syal, sesegera mungkin dirinya berharap bisa meninggalkan tempat itu tanpa ada seorang pun yang tahu. Ia tidak ingin mendengar pembicaraan para saudagar bangsawan yang ingin memperistrinya.
Setiap hari, pasar Ukaz dipenuhi pemandangan yang begitu pedih. Ditempat itu berkumpul para bangsawan dengan budaknya. Mereka dijajarkan untuk dipertontonkan kepada para calon pembeli.
Tidak jarang mereka dipaksa untuk menampilkan berbagai kemampuan dengan cara dicambuk berkali-kali. Saat itu, terlihat seorang budak wanita yang hampir telanjang. Seorang majikan mendekatinya dengan tertawa puas.
Saat hendak melepas pakaian budak itu yang hanya tinggal beberapa lembar, entah dari mana datangnya, tiba-tiba sebilah belati menusuknya bertubi-tubi. Majikan itu pun jatuh seketika. Erang kesakitan muncul dari mulutnya.
Anehnya, tidak ada orang yang berniat menolong sang majikan. Semua orang terlihat tidak begitu peduli pada kejadian seperti itu.
Bahkan, dalam situasi seperti ini pun masih terdengar suara lantang seorang wanita lanjut usia yang tidak hentinya berkata-kata kotor karena seseorang telah mencuri ayamnya yang hendak ia jual di pasar hewan.
Belum lagi ada seorang penjual karpet dari ajam yang dipukuli segerombolan orang yang ingin merampas barang dagangannya. Pedagang karpet itu kemudian berteriak-teriak sekeras-kerasnya sambil mengucapkan kata-kata sumpah agar diampuni oleh mereka.
Dan masih di sekitar pasar Ukaz, seorang laki-laki yang dikenali sebagai kakak budak Wanita dari Thaif didakwa sebagai orang yang telah menikam majikan yang hendak berbuat nista kepada adiknya.
Dalam seketika, ditempat itu pula hukuman mati dijatuhkan kepadanya. Dujayah, sang budak wanita, hanya bisa menangis, meratapi nasib kakaknya yang meninggal ditiang gantungan.
Mendapati keadaan seperti itu, hati Khadijah meronta. Segera ia keluarkan satu kantong uang perak untuk menebus gadis itu. Ia melepaskan syal yang digunakan untuk menutupi wajahnya dan diberikan kepada Dujayah. Kemudian, segera ia bawa Dujayah keluar dari pasar itu.
Khadijah pun segera meninggalkan pasar budak itu. Ia langsung pergi menuju Bait al-Atik yang tidak begitu jauh darınya. Kali ini, sussana begitu berbeda dengan pemandangan yang ia alami sebelumnya.
Disana terdapat para tabib jalanan yang sedang menunggu para pasien. Bau obat-obatan menyengat tercium oleh setiap hidung yang melintasinya.
Disana juga terdapat para ahli nujum dan tak luput pula para peramal yang duduk berjajar menawarkan pelayanan kepada setiap orang yang mengunjunginya.
Syukurlah, beberapa langkah lagi Khadijah telah sampai ke pintu gerbang al-Hayat. Tepat dibawah pintu gerbang itulah tampak peminta-minta yang sedang mengadu nasib.
Kebanyakan dari meraka memiliki kekurangan fisik. Ada pula orang-orang miskin yang sangat menderita kehidupannya. Setiap kali mendapatkan uluran tangan belas kasih nya, terucap dari mulut mereka doa-doa yang dipanjatkan untuk sang ibunda kota Mekah itu.
Ia juga tidak lupa memerhatikan seorang nenek yang sudah lanjut usia, yang gemetaran tubuhnya karena cuaca dingin yang merasuk ke sekujur tubuhnya dari kaki yang menganga tanpa alas.
Ternyata, nenek itu pernah bersamanya saat masih berusia lima belas tahun, ketika ia dan ibu susunya mengamankan diri dari serangan tentara Gajah. Ia adalah seorang peramal di masa itu.
"Tuan Putri", sapanya kepada Khadijah dengan suara merintih. "Mimpi yang anda jumpai hanya akan anda ceritakan kepada orang-orang yang bersih keyakinannya. Mereka yang terbuka mata hatinya dan tidak dikotori gemerlap tipu daya dunia.
Yang kata-kata bijaknya tidak dijual dengan imbalan harta dunia. Yang setia menepati janjinya. Namun, lihatlah keadaan diri kami ini. Kini, kata-kata bijak kami pun telah digunakan sebagai padang mengais rezeki sehingga kami pun tidak henti-hentinya merana di belahan bumi seperti ini."
Tersentak hati Khadijah dalam seketika. Bagaimana nenek ini bisa tahu mimpi yang dialaminya pada pagi ini? Bahkan, ia juga seolah menjelaskan ciri-ciri seseorang yang bisa dijadikan tempat untuk mengadukan mimpi itu. Benar, seolah dirinya telah menjelaskan sosok pamannya, Waraqah, yang ditujunya.
Sudah bertahun-tahun Waraqah dengan matanya yang buta tidak pernah memberi sedikit pun arti penting pada gemerlapnya dunia ini. Ia juga tidak seperti orang-orang Mekah yang menyembah berhala. Ia relakan segalanya untuk tetap berada dalam keyakinannya, beriman akan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
Khadijah langsung mendekat kepada nenek itu seraya menuntunnya untuk berdiri. Kemudian disalaminya dengan tangan kanan seraya memberikan beberapa keping uang emas kepadanya.
Bait al-Atik adalah tempat yang memegang arti penting kehidupan sepanjang sejarah manusia. Disanalah, manusia pertama, Adam, bertawaf memanjatkan doa-doa pertobatan.
Sang Maha Pengampun menerima tobatnya. Dengan pemahaman dan perenungan seperti inilah Khadijah memasuki Kakbah seraya berucap salam kepada Nabi dan juga manusia pertama.
Tiada henti-hentinya Khadijah memanjatkan doa disana. Berucap dzikir dengan luapan permohonan belas kasih kepada Tuannya.
Pedih hatinya meratapi jiwanya yang penuh rumpang, penuh penyesalan, dan berharap akan sebuah pertobatan. Sungguh, hatinya seakan telah gersang seperti sungai yang mengering di musim kemarau.
Madd dan Jazir.
Datang dan Pergi.
Membungbung tinggi dan kemudian turun kembali.
Demikian ia tumpahkan isi hatinya dalam bahasa yang mampu diungkapkan maupun dalam kata-kata yang tidak mungkin terucap oleh mulutnya. Bagaikan lentera yang menyala remang, pasang surut oleh tiupan angin, perlahan ia mulai Masuk ke Tanah Haram untuk kemudian menuju Kakbah.
Entah mengapa, untuk kali ini, setiap satu langkah memasuki Tanah Haram, hatinya terasa berdebar-debar, seolah-olah baru kali itu memasukinya. Jiwanya tersentak oleh perasaan akan perjumpaan dengan sang Kekasih.
Meski demikian, Khadijah merasakan senang di dalam hatinya karena memiliki tempat untuk mengadu. "Ya, Rabb... sungguh betapa mulia dan dermawannya diri-Mu," ucapnya.
"Sungguh senang sekali hatiku telah Engkau perkenankan memasuki rumah-Mu. Betapa berarti sekali pintu ini bagiku. Aku memohon kepada-Mu agar Engkau tidak akan pernah menutup pintu ini untukku. Pintu yang akan membuat hati mereka bermekaran cinta-Mu sehingga mereka tidak akan saling bermusuhan satu sama lain dan akan memberikan berbagai macam persembahan yang terbaik untuk-Mu.
Seandainya cinta di dunia ini sudah tiada sama sekali, jangan pernah Engkau biarkan pintu ini tertutup. Aku tahu, rumah-Mu ini ibarat setetes air dari hamparan samurai dan lautan abadinya rahmat-Mu. Dan kini, aku kembali lagi bersimpuh, menghamba di hadapan-Mu, ya Rabb!
Sungguh, berkenanlah Engkau mengampuni kesalahan-kesalahanku, berkenanlah Engkau menyelimuti, melindungi, dan mencintai hamba-Mu ini. Sungguh, diri ini sangat butuh perlindungan, cinta, dan belas kasih-Mu, serindu diriku untuk selalu mendekatkan diri dalam pertobatanku kepada-Mu.
Duhai Allah, aku panjatkan pengaduan ini kepada-Mu. Aku mohon dengarkanlah isi hatiku. Tunjukkanlah jalan hidup ini ke arah yang menuju kepada-Mu. Limpahkanlah jalan hidup ini ke arah yang menuju kepada-Mu. Limpahkanlah kebaikan dan keindahan, baik di dunia ini maupun di alam setelah kehidupanku."
Berlinanglah air mata Khadijah. Membara isi hatinya bagaikan air Zamzam yang memancar dari panasnya padang pasir.
"Ya Tuhan ku, begitu sedikit sekali pengetahuanku untuk meniti jalan-Mu. Bahkan, dalam pengetahuanku yang sedikit itupun seringkali aku ragu. Karena itu, tunjukilah jalan yang benar, yang akan aku jalani untuk menuju kepada-Mu."
Sesaat Khadijah memerhatikan orang-orang yang ada di kanan-kirinya. Tertegun dirinya melihat kerumunan orang yang juga memanjatkan doa seperti yang ia mohonkan.
"Semua orang datang ke sini dengan cermin hati mereka sendiri." Setiap hari mereka pasti memiliki permasalahan sendiri-sendiri yang hendak diutarakan kepada Tuhannya.
Khadijah telah menghamparkan seluruh isi hati kepada Rabb-nya. Tidak sabar lagi dirinya untuk segera mendapatkan jawaban dari kegundahan yang ia rasakan selama ini, seperti tidak sabarnya siang yang menantikan malam.
Namun, khadijah juga tahu bahwa setiap gelap malam pasti dinantikan cerahnya cahaya di pagi hari. Inilah yang ia pinta dari Tuhannya. Meminta agar mentari yang ia jumpai dalam mimpinya dipagi ini terbit didalam hatinya.
Belum lama hatinya hening dalam ketenangan, ia telah kembali terusik dengan suara keramaian yang tiba-tiba terdengar lantang dari tempat sekitar. Ia saksikan para wanita di sekelilingnya mulai beranjak. Laki-laki yang tidak dikenal berusaha berjalan mendekat sehingga sebagian wanita yang ada disitu menghardiknya dengan suara keras.
Laki-laki Yahudi itu berkata, "Wahai para wanita bangsa Quraisy, aku beritahu suatu hal. Seorang nabi terakhir tidak dimungkiri lagi akan datang dari tanah ini dimasa-masa sekarang. Bilamana salah satu di antara kalian semua mendapati kesempatan untuk menjadi istri baginya janganlah sampai kalian menyia-nyiakan kesempatan itu."
Sayang, orang itu tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia segera berlari meninggalkan tempat itu dengan luka akibat lemparan batu-batu yang telah dilemparkan oleh para wanita malang yang sama sekali tidak memedulikan apa yang telah dikatakan Yahudi asing itu.
Kecuali satu orang!
Dia adalah Khadijah. Seakan-akan kata-kata orang itu telah memecahkan telinganya karena sambaran petir. Memang, sebelumnya Khadijah telah banyak mendengar berita dari sepupu yang sudah dianggap sebagai pamannya, Waraqah bin Naufal, dan juga dari orang-orang yang baru saja pulang dari berniaga.
Ia juga sering mendengarkan berita yang mirip sekali dengan apa yang dikatakan laki-laki itu dari mulut para pendeta, para alim, ahli hakikat, atau orang-orang yang berziarah ke Mekah untuk menunaikan ibadah haji. Mereka sering memberitakan kedatangan nabi terakhir yang akan membenahi kerusakan moral yang telah meraja-lela.
Setelah beberapa lama memanjatkan doa di dinding Kakbah, ingin sekali Khadijah segera berlari ke rumah pamannya, Waraqah bin Naufal, untuk segera menyampaikan apa yang telah ia dapati dalam mimpinya. Meski berstatus sebagai sepupu, usia Waraqah hampir seumuran dengan mendiang ayahandanya.
Karena itulah Khadijah menganggap Waraqah sebagai pamannya. Khadijah maupun Waraqah adalah orang yang paling terhormat dari nasab keluarganya. Waraqah telah menghabiskan usianya untuk pergi ke berbagai negeri demi mencari hakikat yang ia yakini. Sayang, kata-katanya telah dianggap aneh oleh para penduduk Mekah.
Namun, bagi Khadijah, Waraqah adalah alim di matanya. Seorang ahli hakikat yang teramat ia segani. Waraqah memang seorang alim yang mampu menghafal Taurat dan Injil. Ia bahkan mampu pula berdebat dan memberi penjelasan tentang isinya kepada semua orang, baik Yahudi maupun Nasrani.
Kedua matanya sampai buta karena selama bertahun-tahun jarang tidur dan terus membaca. Kedua matanya seolah-olah telah tertutup untuk gemerlapnya dunia.
Meski demikian, mata hatinya masih tetap terbuka kepada Tuhannya. Lebih dari itu, Ia juga sangat mencintai Khadijah dan menganggapnya seperti putrinya sendiri.
Setiap kali bertemu dengannya, ia selalu memerhatikannya dengan mengucapkan kata-kata penuh makna yang akan dapat menenangkan hati ibunda kota Mekah itu.
Demikian dengan halnya Khadijah. Ia selalu berupaya untuk dapat membahagiakan hati sang paman. Setiap kali mengunjunginya, ia tak lupa membawakan berbagai macam hadiah yang sangat berharga.
Begitu akan tiba di depan rumah Waraqah, sejenak dirinya berhenti. Ia baru sadar telah lupa membawa oleh-oleh untuk pamannya.
Namun, pada saat itu pula ia merasa slakan-akan seluruh bunga terindah bermekaran dimana-mana. Kegelapan yang menyelimutinya tiba-tiba menjadi terang dalam seketika dengan keremangan cahaya lentera. Dirinya ternyata telah berada dipelataran rumah pamannya.
"Ya, aku telah menemukannya. Dujayah...! Aku akan memberikan hadiah seorang budak Wanita yang pada pagi hari ini kuselamatkan. Jika dirinya berkehendak, biarlah ia bebaskan atau biarlah ia menjadi pembantunya."
Saat Khadijah datang, Waraqah sedang duduk bersama para tamu. Khadijah pun kemudian berucap salam kepada mereka. Mendengar ucapan salam itu, Waraqah menyambutnya. Begitupun dengan para tamu.
Diantara para tamu, Waraqah mengenalkan seorang wanita muda yang dijulukinya berenis dan meminta Khadijah untuk saling bercerita dengannya. Sang paman akan menemuinya lagi setelah makan.
Mereka saling bercerita. Di kedua mata Berenis Tampa linangan air mata. Usianya masih sangat muda, namun perjalanan hidupnya yang begitu penuh dengan derita telah menyentuh hati Khadijah.
Berenis mengusap dengan kedua tangannya yang bengkak karena kerap bekerja keras di bawah terik mentari. Khadijah pun memerhatikannya dengan penuh iba dan rasa kasih sayang. Ia lepaskan serban pengikat kepala berwarna biru khas yang biasa dipakai para kesatria padang pasir.
Sungguh benar, rambutnya terpotong pendek bagaikan seorang anak laki-laki yatim. Saat baju rompi yang terbuat dari kulit domba yang terlihat terlalu tebal untuk cuaca di Mekah dilepaskan, tampak tubuh Berenis yang kurus dengan punggung cekung.
Dalam seketika, Khadijah teringat dengan anak wanitanya, Hindun. Tidak mungkin jiwa seorang ibu tega meninggalkan anak kandungnya dalam perjalanan mengarungi padang pasir berhari-hari.
Kedua mata Berenis masih dipenuhi air mata. Khadijah mencoba menghapus dengan kelembutan tangannya. Ia paham Wanita semuda itu pasti sangat merindukan kasih sayang sang ibu.
Sayangnya, hal itu tidak mungkin didapatkannya karena sang bunda berada ditempat yang sangat jauh. Khadijah memahami benar apa yang dirasakan Berenis. Wajahnya yang pucat semakin menggambarkan isi hatinya. Ada kelelahan yang dirasakan dan kerinduan yang didambakan. Khadijah mengerti dan memahami hal itu sehingga ia pun mengulurkan kasih sayangnya kepada wanita itu.
"Bagaikan dua aliran sungai yang meluap airnya", kata Khadijah menggambarkan keadaan Berenis. "Teruslah menangis, Berenis, anakku yang manis. Teruslah menangis hingga kedua sungaimu memancarkan sumber air kehidupannya. Biarlah terus mengalir. Namun, tahukah engkau ke mana aliran sungai itu akan bermuara?"
"Aliran sungai akan mengalir menuju tempat yang dirindukannya, Tuan putri"
"Benar juga. Ternyata Engkau adalah anak pintar yang memiliki pemahaman dan fırasat begitu mendalam."
"Terima kasih Tuan Putri. Andalah yang membuka cadar sang pengantin wanita dengan penuh kelembutan perasaaan sehingga saya tanpa sengaja membuka kain kafan yang menutupi mata yang tiada hentinya berlinangan air mata. Perkenankan saya menceritakan kampung halaman saya.
Disaat kedua aliran Nil Biru dan Nil Putih menyatu ke dalam satu muara, orang-orang kampung kemudian menyebutnya sebagai Muara Wahid.
Demikianlah kedua aliran sungai itu telah sampai kepada perjumpaan yang sangat dirindukannya; manunggal kedalam satu kesatuan, seraya semakin memberikan penghidupan.
Disana terhampar rimbun perkebunan buah delima, tersebar merata sesaknya tanaman susam dan meliuk-liuk tingi menjulang hutan pepohonan kanada, seraya memberi senyuman manis bagaikan seorang pengantin wanita kepada kedua aliran sungai itu.
Disamping mengaliri semua daratan yang dilintasinya dengan sumber kehidupan, ia juga mencurahkan kehangatan kerinduan kepada semua makhluk yang terbuai kedalam embusan kesegaran cuacanya.
Sungai juga bermacam-macam, Tuan Putri. Masing-masing dari mereka memiliki nama, warna, cerita, dan guratan takdir yang tertulis padanya.
Saat kecil, saya sering mendengarkan cerita dari para orang tua tentang Nil Biru sebagai seorang pemuda gagah, tampan, dan muda belia, sementara Nil Putih sebagai tunangannya.
Saya juga mengkhayalkan bahwa al-Mugan telah mempertemukan keduanya dalam luapan penuh kerinduan.
Ya, ibarat perpaduan lantunan lagu cinta yang indah nan merdu dari seorang lelaki dan wanita, daratan al-Mugan, nama kampung halaman saya, telah menjadi saksi sebuah pesta pernikahan yang diiringi dengan genderang para malaikat yang turun ke Bumi.
Dari sanalah terlantun tembang-tembang merdu menyentuh kelembutan hati.
Lama Kemudian, semakin hari kami sadari arti pentingnya kedua aliran sungai itu. Ternyata, mereka tidak hanya memberikan kehidupan, tapi juga memikul suka-duka, penderitaan, kepedihan, dań juga kerinduan umat manusia.
Dimasa-masa musim salju, hatinya tertegun bagaikan ruh manusia yang sedang mengasingkan diri. Memutih aliran airnya, tenang dalam ketabahan. Namun, manakala musim semi membangkitkannya, segera ia terbangun bermandikan berbagai macam warna kesegaran dań keindahan, menghanyutkan segala kesedihan dan kepedihan yang menyelimuti kehidupan.
Belum lagi di masa-masa musim panas. Saat itu, kami juga ikut tersengat terik mentari yang juga merebus sumber airnya. Dengan serangkaian ujian inilah buah-buahan mulai menguning dan biji-bijian mulai memecah agar tersebar di dalam tanah sehingga tersimpan kehidupan baru bersamanya.
Kelak, benih-benih itu akan tumbuh membesar sebagai pohon rindang yang akan kembali menemani kami, menyertai hari-hari kami dalam suka maupun duka."
Khadijah terpana dengan semua yang diceritakan dan didengarkan. Ia belai sekali lagi rambut Berenis yang dipotong pendek itu. Lembut terasa.
Terbayang dalam pandangannya bahwa kehidupan kadang penuh dengan terpaan angin kencang yang menyambar. Untunglah Berenis dapat berlabuh dengan selamat dałam hantaman badai itu.
"Benar juga apa yang telah dikatakan paman Waraqah. Embusan angin kencang telah memangkas rambut Berenis."
Entah mengapa, begitu mendengar kata-katanya itu, secara tiba-tiba tubuh berenis gemetar. Badannya seakan-akan terkoyak kembali dengan ingatan mengenai badai kencang yang menyambar kehidupannya.
"Tuan Putri" Katanya. "Sewaktu di al-Mugan, saya pernah bertunangan. Hari-hari penuh kebahagiaan yang tidak akan pernah dapat saya lupakan. Dia adalah santri ayahku. Seorang yatim bernama Ursa. Rajin dan pintar orangnya. Ayah saya telah lama mengasuhnya, mengajarinya baca tulis, dan juga bertutur kata yang indah di hadapan para bangsawan.
Dalam waktu yang singkat, Ursa telah menjadi orang yang paling dicari untuk bertutur kata maupun menjadi penerjemah. Ah, Tuan Putri, siapa sangka pada akhirnya ia tega meninggalkan diri saya dengan sikap dan keadaaan yang sangat menyakitkan hati.
Tidak akan pernah saya melupakan kepedihan di hari-hari itu. Saat saya dengar ia telah menjalin hubungan dengan seorang putri bangsawan tempat dirinya membuat kesepakatan kerja. Dan sayalah orang yang dicampakkannya."
"Jangan berkata begitu, Berenis. Setiap kemudian yang menimpa kehidupan ini telah tercatat dalam untaian garis takdir.
Saat berpikir kita yang dicampakkan, sesungguhnya takdir telah memilih kita untuk suatu hal yang lainnya.
Engkau bukanlah seseorang yang dicampakkan. Namun, yakinlah bahwa Allah telah memilihmu untuk suatu hal yang lain di dunia ini."
"Ah, Tuan Putri. Memang benar apa yang Anda katakan. Namun, kuasakah hati mengatakan ini kepada dirinya sendiri. Di hari-hari penuh kelam pada masa itu, ingin sekali saya mengakhiri kehidupan ini bersamaan dengan berakhirnya cinta di dalam hati.
Semenjak hari itu saya semakin menghujat diri sendiri. Untuk apa saya merias diri bila hanya kepedihan yang diratapi? Untuk apa merawat rambut agar tetap terurai hitam bila siksa cambukan tetap akan didapatkan?
Pada hari itulah saya bersumpah. Bersumpah untuk memangkas rambut hingga ke akar-akarnya sebagai tanda kesetiaan kepada cinta. Diri ini memang tidak wafat, namun kematian rambut panjang ini menjadi saksi kewanitaan saya. Jangan sampai Ursa kembali lagi.
Kalau dirinya memang cinta dan telah memutuskannya, sampai sejauh mana jalanan ini membentang, biarlah kesetiaan saya dan juga cintanya menjadi saksi.
Sejak saat itulah saya memutuskan kabur dengan mengenakan pakaian ini, menempuh 41 hari perjalanan, tanpa bekal makanan dan minuman. Saya menempuh perjalanan ini dengan mengawalinya pada suatu malam yang gelap gulita."
Berenis menyusuri gang-gang keci melewati perkampungan selama tiga hari hingga pada akhirnya sampai ke Pelabuhan Tanjung Burnu, Setelah salah seorang pelayan yang menemaninya menuju pelabuhan telah pergi, segera ia membeli tiket kapal.
Dengan menyamar, Berenis masuk kedalam dunia para lelaki. Sayangnya, kapal yang ditumpanginya jatuh ke tangan bajak laut setelah terguncang oleh badai dan ombak selama berhari-hari.
Untunglah Berenis mahir baca tulis dan menggambar peta sehingga dirinya tidak dijual sebagai budak. Saat kapal yang ditumpanginya berlabuh di Askalan, sebagian dari awak kapal keluar untuk bermukim di rumah warga. Keadaan seperti ini segera dimanfaatkan Berenis untuk melarikan diri.
"Dalam pelarian ini, saya dibantu seorang nakhoda yang berasal dari Suaybe. Setelah itu, saya merelakan diri menjadi buruh selama tujuh hari penuh agar dapat ikut kafilah yang akan berangkat dari Askalan menuju Jeddah.
Selama tujuh hari itu saya dipekerjakan untuk melayani kawanan perampok berhati bengis untuk memuaskan segala kebutuhan makan dan minum mereka. Lebih dari itu, saya juga harus membayar tiga keping perak agar terdaftar sebagai rombongan karavan.
Dalam perjalanan itu saya kemudian dibayar untuk memenuhi kebutuhan mereka akan air. Namun, setelah salah satu pemimpin rombongan tersebut tahu bahwa saya mampu baca tulis, saya pun dipekerjakan sebagai sekretarisnya.
Kebetulan, majikan saya seorang yang cukup berpengalaman dan memiliki ilmu yang banyak. Selama perjalanan mengarungi padang pasir selama dua tahun, hanya dirinya yang berhasil mengetahui kalan saya adalah seorang wanita."
"Sungguh luar biasa, Berenis. Usiamu masih sangat muda tetapi segudang pengalaman sudah kamu miliki. Ayolah ceritakan bagaimana akhirnya identitasmu bisa diketahui?"
"Waktu itu, saat seharusnya sudah menenangkan unta-untanya, badai pasir menerjang dengan tiba-tiba sehingga unta-unta berlarian. Saya yang seharusnya lari mengejar unta kuat dan galak, yang khusus untuk mengangkut perhiasan dan barang-barang berharga, malah keliru mengejar unta yang lembek dan jinak, yang hanya mengangkut parfum dan cermin.
Dari sanalah majikan saya tahu kalau diri ini adalah seorang wanita. Saat saya mulai menuturkan keadaan yang sejujurnya, justru majikan saya malah bersedih. Ia memberi tahu bahwa selama dua tahun ini ayah saya telah mengirimkan utusan untuk mencari-cari saya.
Kemudian, ia rela membawa saya ke kota Busra di Syam. Sesampainya disana, saya dititipkan kepada seorang alim Nasrani. Dalam acara khataman Taurat yang umumnya diselenggarakan dua kali dalam setahun, pendeta tersebut mengundang para alim dari Habasyah dan Sudan.
Ternyata, pada acara khataman itu, para utusan setia ayah sayalah yang datang. Nah, mereka yang sekarang dibawah itu adalah orang-orang yang telah menemukan saya."
"Berenis, kau adalah orang terpilih, perhatikan saja, setelah melalui perjalanan begitu panjang, engkau bisa sampai ke sini. Inilah suratan takdir. Sungguh, perjalanan hidup yang teramat besar maknanya. Kami disini terlalu sederhana bila dibandingkan dengan kehidupanmu.
Mungkin satu hal yang mesti kamu juga tahu bahwa dalam kisah hidup yang besar itu tentunya tidak ada satu hal sekecil apapun yang sia-sia. Sebenarnya, Ursa tidaklah meninggalkanmu. Dia hanyalah lantaran sebab agar dirimu bisa sampai kesini setelah menempuh perjalanan sepanjang ini. Semua hanya sebatas itu."
Dalam pembicaraan yang hangat itu, mereka tidak tahu bagaimana waktu berlalu. Barulah mereka sadar dan kembali dalam suasana penuh riang ketika terdengar bunyi ketukan terompah yang disertai batik kecil. Itu pasti Waraqah.
Sebagaimana akhlak sopan santun, ia tidak pernah memasuki ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Waraqah memberi tanda dengan mengundang Berenis ikut makan di Ruang makan bersama para tamu lainnya. Dengan demikian, Waraqah kini bisa berdua saja dengan kemenakan sekaligus sepupunya itu.
Saat itulah Khadijah mulai menuturkan mimpi yang dialaminya. Setelah selesai bercerita, sang paman berkata bahwa mimpi yang dialami Khadijah adalah sebuah hakikat.
"Anakku, Engkau adalah amanah dari mendiang ayahku dan ayahmu. Aku tahu Engkau telah melewatkan kehidupanmu dengan begitu banyak rintangan yang harus dihadapi. Engkau adalah wanita tangguh dengan kesabaran dan kecekatan dalam berpikir.
Thahirah, demikian semua orang menyebutmu. Itu berarti seorang wanita suci yang layak menjadi contoh bagi semua wanita di Mekah.
Sebelumnya, aku juga pernah menyampaikan kepadamu bahwa dunia ini telah memasuki masa kebangkitan kembali.
Mereka yang mampu merasakannya telah lama menantikan kedatangannya, seorang nabi terakhir. Apa yang engkau dapati adalah sebuah mimpi yang teramat besar.
Menurut pemahamanku, kelak Engkau akan menjadi istri dari sang nabi terakhir. Hanya Allah sendiri Yang Maha Tahu dengan apa yang sebenarnya akan terjadi."