Langsung ke konten utama

Unggulan

Asiyah (Sibel Eraslan)

Hari terakhir Raja Akhenaten...

Di senja sore hari yang indah, kedua matanya terpaku pada perkebunan gandum yang berombak seperti laut.

“Jadi, seperti ini rupanya. Jadi, kebebasan seorang raja, kebebasan dalam arti sesungguhnya, hanya dapat digapai dalam kematian. Kalau begitu, jadikanlah!” ucapnya pula....

Akhenaten, yang disebut Raja Matahari oleh rakyatnya, sekarang merasakan kebebasan seperti seorang anak kecil. Sama seperti doa-doa di masa kanak-kanak, ajal membelai wajahnya dengan semerbak wangi bunga-bunga bermekaran.

Akhenaten atau Akhen, panggilan sang ibu untuknya, berbeda dengan raja yang lain. Doa-doanya pun berbeda.

Akhen dan teman seperjalanannya di Amarna sama sekali tak memedulikan kekacauan dan keributan yang terjadi di Memphis atau Teb. Mereka percaya dan memberikan hati mereka kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, satu dan tak ada lainnya, pemilik hidup dan keabadian. 

Mengikuti jejak ayahnya, Akhen menugaskan kepala biara dan para peramal untuk menjauh dari segala hal atau tugas yang bersangkutan dengan kemajuan dan perkembangan kerajaan. 

Akhen kemudian menjalani sebuah kehidupan sederhana dan jauh dari dosa di Amarna, ibukota kerajaan yang baru ia dirikan. 

Raja Akhen yang agung memandang ke arah tembok- tembok biru kehijauan seolah berhias batu zamrud yang terletak di Amarna pada kehangatan sore musim dingin seraya membaca doa.

Sebenarnya, dia sama sekali tak terkejut dengan kedatangan ajal yang mendekat pelan di dalam kehangatan musim dingin. Namun, kematian, tak seperti apa yang dia bayangkan, berbentuk kereta besar yang ditarik oleh beratus-ratus pasukan berkuda, melayang turun dari langit. Di menit-menit itu, dia sepenuhnya merasakan embusan ajal yang datang menerobos melewati seluruh pasukan penjaga kota.

Setelah siang yang terik dan panas berlalu, terbisik sebuah embusan semerbak harum dari Sungai Nil ketika sang Raja memandang ke arah Delta. Waktunya telah tiba.... 

Kematian sejauh ini selalu ia bayangkan sebagai seorang komandan yang sombong dengan mengenakan baju perang yang kokoh terbuat dari tiga puluh jenis bulu burung dan memancarkan sinar menyilaukan kedua mata. Tapi, rupanya sama sekali tak seperti itu.

Kematian bukanlah pertemuan yang tertunda. Ia hadir bersama dengan kelahiran di kehidupan ini.

Ia tak langsung berada di samping pintu rumah kita..., tapi tertulis dalam buku takdir.

Kematian mendekat kepada sang Raja Matahari seperti seorang sahabat lama. Semuanya sama seperti alunan lagu Ilahi, ‘Saat itu, dia tahu dan paham bahwa ajal sudah berada di depan pintunya...’

Tangan hangat perpisahan yang menyentuh bahunya mengingatkan Raja Akhen kepada istrinya, Ratu Nefertiti. Kalangan istana memanggilnya, ‘Pengantin Perempuan dari Utara.’

Tubuhnya menjulang tinggi, ramping, dan tak pernah membuka rahasia kesedihannya. Dahinya memancarkan kecerdasan, dengan kedua mata sipit dan cerah. Lekukan hidungnya sempurna. Kulitnya pun putih memesona.

Karakter bersahabat dan pemberani selalu melekat kepada ratu yang datang dari utara ini, tak tertandingi ratu lainnya dan selalu menjadi pelopor.

Kemurahan hati dan keramahannya yang selalu menginginkan seorang putra di antara putri-putrinya yang ia lahirkan membuatnya mendidik mereka bukan seperti seorang putri, melainkan seperti pangeran atau panglima perang.

Rasa rindu sang Raja memuncak ketika mengenang Nabi Yusuf yang mempertemukan dirinya dengan ratunya di antara tanda cinta dan kesetiaan. 

Dia memanggil pemuda kepercayaanya, Apa.

“Mendekatlah kepadaku, Apa! Tepat di tempat aku berhenti. Mendekatlah kepadaku sampai napasmu menyentuh telingaku dan injak kedua kakiku. Tak perlu takut. Lakukan apa yang aku perintahkan. Injaklah kakiku dengan kakimu. Katakan kepadaku apa yang kau lihat!”

Apa, abdi muda yang sangat setia kepada Raja Matahari, hanya mampu mendekat sampai bahu mereka saling bersentuhan. Dengan hati bergetar, dia menginjak kedua terompah sang Raja dan memandang ke arah cakrawala. Dia serta-merta terkejut, takut dengan yang terlihat dari arah yang ditunjukkan tuannya. 

“Akhen...,” panggilnya terbata-bata di hadapan yang dia lihat. Selain Apa, tak ada orang lain di dunia ini yang memanggil Raja Matahari dengan panggilan masa kecilnya.

"Akhen, Tuanku. Aku melihat pelindung kepala yang terang benderang mendekat ke arah kita dalam bentuk gelombang. Seperti segerombolan ikan berwarna perak yang berenang memenuhi Sungai Nil di waktu senja musim semi. Tiga gajah yang geram, kepala berambut lebat, dan badan kemerah- merahan. Ular- ular bergerak dengan iringan alunan tiupan seruling pawang ular. Para penggali makam, tentara, perampas, pembakar, ahli racun, dan pemotong rumput yang berjalan dengan sabit di tangannya, semua berbaris tak putus-putus..

Mereka datang untuk membawa Anda, Tuanku.”

Apa bercucuran air mata saat mengucapkan kalimat- kalimat itu.

Raja Matahari yang telah merasa yakin akan akhir dari kehidupannya, tersenyum dengan ungkapan seorang pemimpin yang berhasil memimpin pasukannya di jalan yang panjang. Berarti, kapal yang dia naiki akan bergerak dengan embusan awal badai pada layarnya. Ini juga berarti waktu mengangkat jangkar telah tiba.

“Cukup, wahai anak muda! Sekarang kau bisa menjauh dariku.”

Pemuda yang masih terguncang dengan apa yang dilihatnya memandang Akhen dengan pandangan kasih sayang. Saat itu, Akhen lebih terasa seperti seorang ayah baginya, dibandingkan sosok seorang raja.

“Apa...,” panggil Akhen. Dengan gerakan tangan, dia menyuruh Apa untuk tak memedulikan semua yang barusan dia lihat. 

“Belas kasih bukan untuk para putrauli, melainkan hak para leluhur. Sekarang kau sudah menjauh dariku. Sekali lagi, lihat ke arah yang sama dari tempat kau berdiri. Ayo..., katakan apa yang kau lihat!”

Sebenarnya, pemuda ini berada di sisi yang sama dengan raja, tapi berdiri sejauh dua bahu di sebelah barat. Sekali lagi, dia memandang ke arah Nil sambil berpikir bahwa akan berhadapan dengan pemandangan yang dilihat sebelumnya.

Dia pun menggigil ketakutan. Tapi, belum ada satu menit memandang, wajahnya bersinar cerah. Rasa takut dan kengerian yang dirasakan sebelumnya berubah menjadi keceriaan dan kegembiraan.

"Akhen, Tuanku.... Aku melihat para malaikat dan anak-anak berwajah cerah yang mereka gandeng. Di sana, ada seorang cendekiawan tua berjubah hijau, berambut putih panjang hingga punggungnya. Jenggot putihnya memancarkan sinar. Orang tua yang aku rasakan bernama Tuan Segala Zaman ini mendendangkan lagu Ilahi kepada anak- anak di sekelilingnya. Tiga puluh pasang burung ibis membuka sayap-sayap dengan bulu seribu satu warna, mengikuti burung hud-hud yang berada di depan memimpin mereka.

Sementara, sekelompok penjahit sahabat Nabi Idris melakukan parade sambil mengangkat jarum-jarum bermata berlian. Benang-benang sutra berwarna biru seperti rinai hujan dari langit, diikatkan ke jarum oleh malaikat.

Serigala yang disalahkan dan difitnah telah memakan Nabi Yusuf memamerkan mahkota kesetiaan di kepalanya, berjalan damai di antara ratusan domba putih. 

Sebuah barisan indah yang terbentuk dari pemuda-pemuda berwajah anggun pembawa pesan bagai tokoh dalam legenda kuno dengan membawa kemeja yang telah dipenuhi doa. Di atasnya, tertulis sebaris kalimat, ‘Ini adalah kemeja suci yang memberikan kesembuhan hati Nabi Yusuf ’.

“Aku tak bisa menjelaskan makna sepenuhnya huruf-huruf dan kata-kata itu pada Anda, Tuanku. Aku tak tahu bagaimana membacanya, Tuanku. Betapa bahagianya hatiku dengan apa yang aku lihat. Tak ada lagi sesuatu yang aku ingin lihat di dunia ini. 

Aku pikir, dengan bantuan dan kemudahan dari Tuan Segala Zaman kepadaku, seluruh rahasia bahasa dan huruf terbuka kepadaku. Ternyata, masih ada yang tidak aku ketahui. Kedua mataku seakan tak mampu lagi melihat. Seolah ada tangan-tangan suci yang mencuci hatiku. Tuanku, aku pikir kita akan berpisah dengan bukit ini. Aku pikir sebuah gurun baru terbuka di hadapan kita.”

Raja Matahari mendengarkan Apa sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ah..,. Apa. Perpisahan, katamu. Benar, sahabat kita adalah kematian. Setelah ini, kematian menjadi teman perjalanan kita. 

Peganglah nasihatku. Jangan pernah salahkan langit karena telah mengambil kedua matamu, tapi serahkanlah dirimu kepada Tuhan Mahaagung yang selalu memberikan yang lebih baik daripada yang diambil darimu.

Akhen seorang raja. Dia berada di jalan yang dipercaya dan diyakini oleh Nabi Yusuf dan ayahnya. Kedua matanya tak pernah sekalipun memandang para tuhan Mesir. Akhen percaya pada Satu Tuhan. 

Para pendatang setelahku akan menghancurkan dan membuang kota-kotaku, tempat-tempat ibadahku, altar- altarku, tugu-tuguku, dan mata air mengalir yang membawa berkah dari Nil.

Wasiat Nabi Yusuf mengatakan bahwa akan datang para panglima perang yang memakai tutup kepala berkilau yang akan menghancurkan ilahi dan puisi-puisiku.

Para pendeta yang berpikir bahwa aku telah membuat marah Amon dan dewa-dewa lainnya akan mengangkat tongkat-ongkatnya dengan wajah murka seraya memberi kutukan. Keluargaku akan terbagi-bagi. Harta kekayaanku akan tersebar dan akan dikorbankan kepada para naga.

Apa yang belia.... Kau akan melihat semua perampasan dan musibah ini. Mereka akan memanggilku dengan nama ‘Raja Kafir yang Buta Kebijaksanaan’. Jangan bersedih. Jangan berkecil hati. Inilah keadaan dunia ini, wahai Apa. Kesimpulan alam semesta ini seperti kata-kata yang pertama kali aku pelajari di sekolah kerajaan ketika aku masih kecil, ‘zaman dahulu kala.’

Ah, Apa! Tanah ini, siapa yang tahu sudah berapa banyak raja yang dia lihat sampai lupa yang ke berapa, termakan, dan habis. Wasiat Nabi Yusuf dan pengikutnya, Akhen, diamanahkan kepadamu dan juga anak-anak.

Jangan lupa! Setiap anak merupakan pesan dari Tuhan.

Apapun yang akan terjadi, jangan kau perlakukan mereka sebagai seorang utusan Tuhan. Berhati-hatilah mengajari mereka, bersabarlah ketika mendidik mereka. Kita berharap akan muncul satu di antaranya. Seorang anak yang akan mengeluarkan kebenaran dari Sungai Nil, dari dalam hati perairan...

Saat Raja Akhenaten berkuasa, para pendeta langsung diasingkan olehnya setelah naik tahta. Raja yang menolak untuk hidup seperti pendahulunya ini juga memalingkan wajah dari kepercayaan dan keyakinan raja-raja sebelum dirinya. Meninggalkan Kota Teb dan Memphis, kemudian membangun sebuah peradaban baru di Amarna sebagai simbol kepercayaan terhadap Tuhan yang Satu... 

Namun, seperti ungkapan peribahasa yang berkata, ‘air dapat tertidur, tapi musuh tak pernah tidur’ maka di bawah selimut ketenangan negeri bergolak suatu persekongkolan jahat. Komandan para pemberontak, Horemheb, terus mengumpulkan para pendeta yang telah diasingkan dan bertekad akan datang untuk menghancurkan Amarna...

Di sisi lain, Amarna adalah surga yang tersembunyi di antara Memphis dan Teb. Kehidupan dan suasana Amarna merupakan perwujudan dari kenangan akan hari-hari Nabi Yusuf. Kota ini tak menyadari kebencian yang telah terkumpul di sekelilingnya, seakan kebencian ini tertidur bertahun-tahun di antara daun-daun artichoke dan bunga-bunga teratai...

Dan tibalah waktunya. Jalan yang ditempuh oleh Horemheb dan pasukannya membawa mereka menusuk Amarna, kota Aton Tuhan Tunggal, seperti pembalasan dendam oleh Kota Teb yang terabaikan dan tuhan-tuhan lama yang telah ditinggalkan. 

Beruntunglah Akhen yang menyerahkan jiwanya di waktu yang tepat. Beruntunglah Raja Matahari tak harus melihat apa yang dilakukan oleh Horemheb dan para perampas terhadap kota suci Amarna...

Horemheb dan pasukannya menyerang kota dari empat arah. Menghancurkan kota Aton seperti banjir bandang yang menelan semua yang ada di hadapannya, menaklukkan pusat kerajaan, membunuh semua pewaris tahta dan para abdinya, meninggalkan para wanita dan anak-anak untuk dirantai dan dijadikan budak.

Apa yang mereka lakukan merupakan perwujudan dari ‘ramalan Amon-Ra’, tuhan Mesir yang ditinggalkan oleh Akhen. Begitu kata para penyerbu...

Akhen yang disebut sebagai ‘raja yang tak tahu balas budi’, telah melakukan dosa besar dengan menolak agama banyak tuhan Mesir.

Aton, Tuhan Tunggal yang Akhen percaya dan yakini, harus dihapuskan dan dihancurleburkan dari seluruh inskripsi, kuil, tempat pemakaman, dan dokumen-dokumen resmi. Bahkan, lebih baik lagi, dilupakan selamanya... Mengubah sejarah seakan tak pernah terjadi.

Sebenarnya, melakukan perubahan sejarah merupakan pekerjaan yang mudah bagi para penulis yang bertugas mencatat sejarah Mesir. Zaman seperti sebuah pemainan bagi mereka. Menuliskan zaman sesuai keinginan sang Raja, sesuai kehendak mereka. 

Para penulis menutup kebenaran dengan rapi, terselubung oleh kecurangan yang rapi dan berseni... Semua unsur Tuhan yang Tunggal yang diyakini oleh Raja Akhen dan Nabi Yusuf beserta para pengikutnya akan dihancurleburkan dari ingatan rakyat Mesir. 

Para raja dan penulis yang tenggelam dalam kekuatan yang diberikan oleh tulisan-tulisan itu berpikir bahwa mereka sendirilah yang menuliskan dan menentukan takdir. 

Dan Amarna... Telah takluk... Akhirnya, kisah Kota Matahari yang menceritakan Raja Akhen terkubur dalam dinginnya air Sungai Nil.

Sementara itu, Pangeran Utara salah seorang putra Raja Akhen berhasil selamat dari pembunuhan masal karena tak sengaja diduga sebagai anak penduduk biasa, memberikan harapan kemenangan total bagi Komandan Horemheb yang ingin membawanya sebagai tawanan pribadinya. 

Namun, setelah pertempuran berdarah di Amarna, ia tak bisa bersaing dengan para pendeta dari Memphis. Horemheb pun menghentikan peperangan dan memberikan pewaris kerajaan kepada mereka, yang berarti memerintahkan pusat kerajaan kembali ke ibukota lama, Memphis...

Pangeran muda yang mendapatkan luka serius di bagian kepala dan kakinya ini, menurut surat-surat yang bersandi, beralih dari Amarna ke Memphis bersama keluarganya yang tersisa...

Perkataan Horemheb, ‘Tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa suatu saat akan memerlukan bantuan abdi Raja Kair Buta’ bukanlah omong kosong... Tapi, bukankah satu minggu yang lalu kedua mata Apa-Aton disentuh dengan besi panas sebagai hukuman?

Sambil berseru, dia berkata, “Huh, Apa-Aton...”.

“Dalam dokumen-dokumen resmi, nama ini akan menjadi Apa-Amon. Wahai abdi Raja Kair Buta, jika kamu ingin hidup, kau akan mengabdi padaku. Aku sudah memberikan kabar kepada para penasihat kerajaan di Memphis, kepala pendeta, dan perwakilan pendeta di seluruh negeri bahwa kau adalah seorang yang bertobat kepada tuhan kita. 

Sekarang, kita akan mengumpulkan seluruh penduduk Amarna yang bertobat, anak-anak pewaris kerajaan, dan kerabat-kerabatnya untuk berangkat menuju Memphis. Tugasmu sebagai Apa-Amon adalah mencatat seluruh informasi tentang masyarakat, para permaisuri kerajaan, serta pewaris kerajaan yang masih hidup berkat belas kasih dan ampunan Amon-Ra. Dalam waktu tiga hari, kita akan siap untuk berangkat.”

Titah Horemheb menggetarkan seisi ruangan, meninggalkan Apa yang diam-diam masih tetap menyimpan kenangan Raja Akhen dan keyakinan terhadap Tuhan yang Satu...

Perjalanan dari Amarna ke Memphis...

Wahai Tuhan yang satu, kekuatan-Nya tak satu pun menandingi
Engkau menciptakan lahan ini sesuai dengan kehendak- Mu
Dan Engkau sendiri
Para manusia, seluruh domba, baik yang besar maupun kecil

Semua yang berada di permukaan Bumi ini Kaki-kaki yang berjalan di atasnya
Dan semua yang berada di ketinggian Terbang dengan sayap-sayapnya

Di tanah kelahiran Sirye, Punt, dan Nubia
Di kota-kota Mesir
Engkau memilih tempat yang layak bagi semua Engkau mencukupi semua kebutuhan...”

Apa mendendangkan alunan Ilahi ini untuk menenangkan gadis kecil di pelukannya... “Ayo, cobalah untuk tidur malaikat kecilku. Lupakanlah semua Ilahi lama dan kisah-kisah lama!”

Anak dipelukan Apa adalah salah satu cucu Raja Reyyan yang menjadi pengikut agama yang dibawa oleh Nabi Yusuf. Untuk melindungi gadis kecil ini dari kemurkaan para pemberontak, Apa melepaskan medali kerajaan yang tergantung di lehernya. 

Sejak awal perjalalanan, gadis kecil itu juga dipanggil dengan nama lain yang diberikan kepadanya. Sebuah nama milik seorang tamu terhormat yang dahulu kala pernah berkunjung ke Amarna...

“Asiyah...,” ucap Apa seraya membelai rambutnya, mencoba menenangkan si gadis kecil...

“Malaikatku, sekarang adalah waktunya kau melupakan semua nama yang kau ketahui. Ayo, kita bermain sebuah permainan. Jadi, ketika mereka bertanya nama ayah dan kakek- kakekmu, kau akan menjawab pertanyaan itu dalam bentuk teka-teki. Kau mengerti?”

“Seperti gaya berbicara orang-orang bijaksana Arab yang berada di Amarna?” tanya Asiyah

“Iya. Tapi, tak ada lagi Amarna.”

“Para kakek tua itu memanggil ayahku sebagai Muzahim...”ujar Asiyah pelan.

“Bagus, kau akan menjawab seperti itu ketika mereka bertanya kepadamu. Nah, ketika mereka bertanya siapa kakekmu, jawaban apa yang akan kau berikan?”

“Abidin.”
“Bagus... Lalu, siapa leluhurnya?”
“Raja Agung A...”
“Tidak... Tidak... Nama leluhurnya adalah Reyyan.” 

“Apa-ku, kenapa kita bermain permainan ini?”

“Sebenarnya, ini bukanlah sebuah permainan, tapi teka-teki mengenai nama-nama."

“Apakah kau akan selalu memanggilku dengan nama Asiyah?”

“Hanya sementara. Sampai semua berjalan sesuai dengan rencana. Hingga istana lama di Memphis kembali kokoh... Dan juga, tak banyak perbedaan antara Asiyah dan Yes.”

“Keduanya adalah namaku, tapi bukankah kita akan melakukan teka-teki?” ucap gadis kecil tersebut dengan polos sambil tertawa kecil...

Gadis kecil bernama Asiyah alias Yes ini, adalah satu-satunya anak dari keluarga kerajaan yang masih hidup setelah pembunuhan masal di Amarna. Ibu dan Ayah Yes meninggal ketika dia masih bayi. Ia kemudian dibesarkan oleh Apa, si abdi tua. 

Mereka memberikan julukan Asiyah kepadanya, seorang perempuan Arab bijaksana yang berkunjung ke Mesir di tahun kelahirannya. Apa yang kedua matanya dibutakan dengan besi panas sebagai hukuman karena melindungi gadis kecil ini memanggilnya dengan nama Asiyah untuk sementara.

Sebenarnya, para bangsawan di Memphis memang menginginkan orang-orang Amarna yang menyerah untuk dipindahkan ke Memphis. Namun, Horemheb sangat ganas. Aksi brutalnya hanya menyisakan Pangeran Utara yang terluka berat dan seorang gadis kecil bernama Yes...

Komandan Horemheb berusaha mendapatkan ampunan atas kesalahan yang dia lakukan dengan menyerahkan daftar tawanan orang-orang pilihan kepada para bangsawan di Memphis. Apa adalah orang yang paling sesuai untuk pekerjaan ini. 

Nama “Raja Kair Akhen dan Kota milik Aton” yang terhapus dari semua catatan sejarah terlupakan begitu saja seperti waktu yang beracun. Sementara, Apa yang merupakan abdi paling setia dan kini buta memiliki tugas merawat anak- anak yang ikut dalam perjalanan dari Amarna.

Jarak sangat panjang antara Amarna dan Memphis ini merupakan awal dari sebuah masa baru yang telah dikabarkan oleh Nabi Yusuf. 

Kaum Apiru yang tersebar di Goşen sebelum masa Nabi Yusuf, kemudian tersebar sampai Amarna dan seluruh Mesir setelah masa Nabi Yusuf, yang selalu diamati oleh beliau, dan melewati masa penuh keadilan dan barokah bersama Raja Akhen, meskipun hanya sebagian kini memasuki sebuah masa penuh tekanan yang panjang.

Selama perjalanan, orang-orang yang percaya kepada Apa menghampirinya dengan membawa air dan roti. Mereka memohon agar anak mereka dimasukkan ke dalam daftar anak-anak yang berada di bawah perlindungan istana...

Karoanim adalah salah satu anak itu. Ayahnya seorang Apiru. Sementara, pamannya adalah tokoh terkemuka dan disegani di antara kaum Apiru. 

Karonaim adalah seorang anak yang istimewa. Hal ini tak lepas dari kedua mata Apa yang buta. Apa yang dengan jemarinya merasakan cahaya biru yang mengelilingi anak ini, memasukkan namanya ke dalam daftar. Mencatatnya dengan nama pendeknya, Ka. Apa berharap cara ini dapat melindungi sisa-sisa kenangan. Membawa mereka ke Memphis...

Lalu ada anak istimewa lainnya bernama Paro-aton. Paro yang berusia lima tahun lebih tua dari Yes merupakan keturunan dari keluarga kerajaan. Ada juga Ha-aton yang berumur satu atau dua tahun lebih tua dari Paro dan berasal dari keluarga Kipti. 

Secara keseluruhan, daftar yang disiapkan oleh Apa berjumlah sekitar empat puluh anak. Namun, hanya mereka yang kuat yang bisa bertahan hidup dari perjalanan yang berat dan penuh kesulitan ini. Ketika mereka tiba di istana lama di Memphis, hanya tersisa sepuluh anak yang melakukan perjalanan dari Amarna...

Di Memphis, mereka disambut seperti tak terjadi apa-apa. Orang-orang terasing dari Amarna ditempatkan berdasarkan kelompok-kelompok dan bidang pekerjaan.

Anak-anak yang tercatat dalam daftar kerajaan dimandikan sepuluh kali. Mereka memakai rambut palsu setelah rambut mereka dipotong. Mengenakan seratus riasan dan berbalut pakaian berwarna emas. Setelah mendapatkan penyucian dengan Ziggurat yang suci di halaman luar Akademi Kerajaan yang tersambung dengan Istana Besar, mereka diterima sebagai bagian Memphis...

Terjadi sesuatu yang aneh saat itu... Kepala pemimpin pendeta yang bertugas untuk menyucikan anak-anak terasa pusing beberapa saat, bersandar di tempat dia berdiri. Tongkat putih berhias zamrud yang berada di tangannya jatuh ke tanah, bersamaan dengan teriakan hadirin. 

Peristiwa jatuhnya tongkat suci merupakan pertanda sebuah kemalangan yang besar.

“Aku merasakan beberapa lengan ruh-ruh jahat yang mengganggu upacara suci kita”, ucap pemimpin pendeta. Tak satu pun orang yang mengerti apa yang diucapkannya...

Apa kini menjadi seorang pengasuh yang dipanggil dengan sebutan “Taya”. Ia bertugas di bawah perintah Akademi. Tugasnya adalah memberikan pendidikan kepada anak-anak istimewa yang datang dari Amarna dan segera menjadikan mereka sebagai abdi Istana Memphis...

Akademi Kerajaan merupakan bangunan dua lantai yang berada di arah barat laut Istana Besar yang menghadap ke Sungai Nil. Tangga marmernya memanjang hingga menyentuh air sungai dan dermaganya selalu siap dengan perahu-perahu kerajaan. 

Keempat sudut bangunan yang dibangun dengan bentuk persegipanjang ini digunakan sebagai kelas. Ruang belajar ini dilengkapi jendela-jendela tinggi. Ketika musim panas tiba, jendela itu dilapisi tirai tipis. Hanya jendela bagian barat yang memandang ke arah sungai yang dibiarkan terbuka. Bagian dalam ruang-ruang belajar itu terhubung dengan pintu besar yang membuka ke halaman dalam.

Saat waktu istirahat, para siswa berkumpul di sekitar kolam berbentuk oval di tengah halaman yang penuh dengan bunga. Kolam ini berisi ikan-ikan eksotik yang diberikan sebagai hadiah oleh para utusan Negara Punt yang berada jauh di selatan. 

Bunga-bunga cantik, anemon ungu, dan kuntum teratai yang dihinggapi kupu-kupu memperindah suasana. Tiang-tiang marmer yang menyilaukan mata di bawah teriknya Matahari dengan mudah terlihat dari seberang Sungai Nil.

Ruang-ruang belajar yang memandang ke arah sungai diperuntukkan bagi para pangeran dan putri. Sementara, ruang- ruang belajar yang memandang ke arah kolam untuk anak-anak pejabat tinggi dan komandan militer. 

Akademi yang menampung dan mendidik siswa mulai dari yang berumur empat tahun sampai dua puluh lima tahun ini dengan ketat menanamkan nilai dan budaya Mesir. Meskipun di antara siswa kelak ada yang menjadi seorang raja, hubungan antara akademi dan siswanya tak pernah terputus.

Tapi para siswa perempuan... Para siswa perempuan yang menyadari bahwa mereka terlahir sebagai putri kerajaan dan kelak menjadi seorang pengantin, sama sekali tak memiliki ketertarikan dengan pelajaran-pelajaran yang diberikan. Namun, hanya yang paling sabar akan dipilih sebagai calon ratu. 

Dari luar, sekolah ini terlihat seperti sekolah khusus laki-laki karena yang melanjutkan pendidikan sebagian besar adalah siswa laki-laki. Materi pelajaran, seperti peta, teknik, dan strategi peperangan yang diberikan di kelas-kelas lanjutan semakin menguatkan kesan sekolah ini sebagai sekolah khusus bagi anak laki-laki.

Para siswa awalnya diajarkan alfabet Mesir dan menulis, kemudian belajar cara berbicara, adat istiadat, pengetahuan puisi dan peribahasa, mengeja, dan matematika. Pelajaran- pelajaran ini seiring dengan waktu berubah menjadi sebuah jenis ringkasan logika, khususnya pelajaran mengenai simbol dan makna dalam sistem kasta yang digunakan di Mesir dan kode-kode peradaban yang berdasarkan pada keyakinan dan kepercayaan terhadap banyak tuhan.

Pengetahuan ini diterapkan ke pola pikir anak-anak dengan perantara hari-hari suci dan upacara hari raya. 

Salah satunya adalah perayaan Hari Raya Ular yang diadakan setiap tahun dengan sangat meriah... Perayaan yang mengisahkan pemotongan kepala Tuhan Hepoiyas oleh Tuhan Set karena dipercaya akan meracuni Nil dengan kekacauan dan fitnah ini merupakan upacara paling penting di antara upacara lainnya. 

Para pangeran mengenakan sabuk dan bandolier yang terbuat dari ekor buaya yang menunjukkan tanda-tanda Tuhan Set. Pendeta yang mengenakan hiasan buaya di kepala mereka masing-masing berdiri di sisi para siswa. Sementara itu, para pengeran yang memakai baju hijau sudah siap menunggu untuk dituangkan segel buaya yang sudah dikeringkan dan dibakar dari kepala sampai kaki mereka...

Di sela kesibukan perayaan upacara, Asiyah kecil bertanya kepada guru yang mengajarkan tentang hari-hari raya.

“Kenapa Set dijadikan sebagai Tuhan yang harus dirayakan?”

Guru yang tak menantikan pertanyaan seperti ini terkejut. Meskipun tak ingin menjawab dan membiarkan pertanyaan itu begitu saja, tapi dia berubah pikiran karena orang yang bertanya adalah anak yang terlahir dari keluarga kerajaan...

“Yes, gadisku yang pintar... Karena Set adalah Tuhan yang sangat kuat dan pemberani."

“Tapi, bukankah dia membunuh Osiris? Bukankah Isis mencari bagian-bagian tubuh Osiris di seluruh bagian sungai selama berhari-hari sambil meneteskan air mata?

“Ini merupakan sebuah kisah lama tuhan Amon-Ra yang tak nampak di hari-hari sebelum terbentuknya kosmos.”

“Apa itu kosmos?”
“Keseimbangan dan kestabilan alam semesta...” 

“Apakah Amon-Ra ada sebelum terjadinya kosmos?”

“Amon-Ra muncul beberapa waktu kemudian dan menaklukkan semua tuhan yang berselisih. Amon-Ra memberikan masing-masing tuhan tugas yang berbeda dan mengelompokkan mereka sesuai dengan tugas-tugas mereka. Dia mengatur semua yang terjadi di muka Bumi.”

“Siapakah yang mengutus Amon-Ra yang pastinya masih muda sebelum kosmos atau dari para Tuhan yang berkelahi?”

Apa yang tiba-tiba mendengarkan bagian terakhir diskusi itu segera memanggil. “Asiyah!” Ketika mendengar Apa memanggilnya seperti itu, si gadis mungil sadar dengan peringatan yang diberikan kepadanya. Ia kemudian berlari ke arah Apa. Pertanyaan itu tinggal tanpa jawaban. 

Tahun-tahun berganti dengan cepat, seperti aliran air Sungai Nil yang berada di depan istana...

Anak-anak pilihan Apa telah tumbuh besar.

Sepuluh tahun telah berlalu. Sepuluh tahun adalah waktu yang sungguh lama dan sulit untuk melupakan dan menyembunyikan semuanya setelah pengasingan...

Sepuluh tahun terasa seperti sepuluh abad bagi Apa. Apa adalah seorang guru yang andal di antara para guru, tak berbahaya bagi istana, dan tak mencurigakan bagi pendeta.

Apa telah menepati janji yang dia berikan kepada Tuannya, Akhen. Kapan saja tangan sang abdi buta Raja Kafir bersentuhan dengan anak-anak pilihan yang berjumlah empat anak ini, meskipun kedua matanya tak dapat melihat, dia merasakan aura biru yang bergerak di ujung-ujung jemarinya. 

Hati guru tua itu terbagi menjadi empat. Terbukalah empat mata naluri baginya, untuk empat anak yang berada di hatinya...

Anak Pertama:
Gadis muda berumur lima belas tahun itu tahu untuk selalu berhati-hati ketika Apa memanggilnya dengan panggilan Asiyah, bukan Yes...

Itu merupakan tanda yang mengisyaratkan untuk ‘diam’, misalnya saat Yes memaksanya untuk mendendangkan salah satu lagu Ilahi Aton lama yang terlarang.

Kecantikan Yes sama dengan kecantikan ibunya yang membahana ke seluruh pelosok Mesir, mengingatkan pada sosok Putri Utara. Tubuhnya langsing, kulitnya putih, dan menjulang tinggi di antara perempuan Mesir. 

Suaranya yang merdu penuh dengan keceriaan. Kerendahan hati dan kedermawanannya membuat orang-orang yang mengenalnya semakin terpesona.

Seolah, tak ada satu pun orang yang tak terpesona dengan putri berhati emas ini, yang dipandang sebagai ratu masa depan di antara anak-anak kerajaan...

Anak Kedua:
Namanya Pare-Aton ketika berada di Amarna. Ketika Horemheb yang ganas memerintahkan pelarangan semua nama “Aton” sebagai tambahan, anak ini kemudian diberi nama Pare-Amon. Dan sekarang semua anak-anak Amarna dipanggil hanya dengan satu suku kata. 

Pangeran Pare-Aton yang berumur kurang lebih duapuluh tahun, dikenang dengan nama tuhan yang paling kuat di agama Mesir: ‘Ra’. Paro-Aton menonjol di antara keempat anak yang lain karena sifat kepemimpinannya. 

Wajahnya yang memesona dan kemampuannya berbicara langsung menarik banyak perhatian. Badannya tinggi, rambutnya berwarna kuning, bahunya lebar, lengan dan kakinya panjang, serta aksen dan intonasi suaranya yang tegas membuat orang yang mendengarkannya dalam waktu singkat terhipnotis. Setiap orang yang berbicara kepadanya, memberikan rasa hormat sebagai kaisar masa depan...

Anak Ketiga:
Karonaim... Ikatannya dengan para Apiru dan Goşen yang telah terlupakan membuat mereka memanggil Karonaim dengan nama pendeknya ‘Ka’. 

Menurut agama Mesir, Ka merupakan nama sebuah energi kebangkitan yang diberikan oleh pemimpin para tuhan, Ra ke seluruh alam semesta. Mereka memanggilnya Ka-Amon atau Karun dalam bahasa keseharian kepada asistan muda bidang alkemi ini. 

Meskipun umurnya belum mencapai angka dua belas atau tiga belas tahun, Karun merupakan siswa yang paling pandai dalam bidang pendidikan di antara siswa yang lain...

Seorang anak muda jenius yang selalu menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan baru, teori-teori ilmu pengetahuan baru. Meskipun tak banyak berbicara, hapal beratus-ratus bait mengenai musik dan astronomi, memahami semua ilmu pengetahuan kimia, serta menguasai dari alkemi sampai sihir. 

Pandangan kedua matanya yang tajam dan kecerdasannya yang tak pernah ada akhirnya membuatnya terlihat akan menjadi salah satu kaisar yang berhasil di masa depan. 

Namun, meski Apa selalu berusaha mengajarkan makna cinta dan pengorbanan selama bertahun-tahun, Ka tak mampu memahami artinya dengan sepenuhnya. Ka memiliki sifat ketidaksetiaan yang aneh, meskipun tak terlihat di awal karena dia suka berbicara sambil bercanda. Sifat ketidaksetiaan itu membuat Apa khawatir dan cemas...

Anak Keempat:
Layaknya Ra, Hama-Aton yang berumur kurang lebih duapuluh tahun merupakan anak yang paling tua di antara anak lainnya. Pemuda yang memahami semua ramalan seni secara detail mengenai suku aslinya, Kıpti, tak banyak berbicara dengan Apa lagi karena berpikir bahwa dia berbeda. 

Nama istana pemuda yang dipanggil dengan nama pendek “Ha” ini adalah “Ha-Amon”. Nama ini diambil dari bahasa yang dipakai, Haman. 

Badannya tinggi dan gagah seperti Ra. Menurut adat para pendeta, kepalanya harus di arahkan ke depan ketika rambutnya dipotong dan oleh karena itu bahunya agak membungkuk. Dahinya memiliki banyak kerutan karena terlalu banyak berpikir. Kulitnya gelap dengan kedua bola mata bewarna hijau memberi kesan misterius. Ha merupakan salah satu siswa yang paling dipantau oleh para pendeta dan penasihat kerajaan.

Ha sebenarnya sangat cocok menjadi seorang penasihat. Dia memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap Ra. Di antara tiga anak lainnya yang terpilih, Yes adalah anak yang paling tak cocok dengannya. Apa tak pernah berhasil menghilangkan jarak antara mereka sejak hari pertama. Meskipun Ra memiliki sifat-sifat kepemimpinan, ia masih suka bermain bersama Yes dan Ha. Kegoyahan ini mengkhawatirkan Apa...

Menurut Ha, Yes memusnahkan seluruh energi kekuasaan dan kepemimpinan Ra. Mengurangi pengaruh dan keputusan Ra dengan sifat kerendahan hati dan kedermawanan yang tak berguna. Ha berpikir bahwa dia harus melakukan apa saja untuk menghilangkan pengaruh Yes dari Ra.

Empat anak...

Bagi Apa, mereka seperti empat burung, empat pilar, empat tembok, empat unsur alam semesta...

Udara, Tanah, Air, dan Api...

Menurut Apa, udara yang selalu berada di langit dan berada di tempat tinggi, menjadi sumber pikiran bagi Ha. Menjadi simbol Haman yang tepat. Idealisme yang tinggi, ego, pemaksa keputusan dan kekuasaan, semua ada pada dirinya. Sayang, ini seringkali membuatnya menjadi sombong, angkuh, dan bahkan seorang yang curang.

Tanah merupakan simbol Karun. Ka muda yang selalu ingin berpetualang dan melakukan penemuan. Kelebihan Karun adalah kecerdasan, kepercayaan diri, dan keberanian. Tapi, kelebihan ini bisa membuat Karun menjadi seorang yang serakah, tak setia, dan tak pernah puas.

Air sangat tepat menggambarkan keindahan, kebaikan, kedermawanan, dan kerendahan hati yang dimiliki Asiyah. Ini semua merupakan sifat dan kelebihan Yes, panggilan lain untuk Asiyah. Dia merupakan penengah di antara ketiga anak laki-laki yang selalu bertengkar sejak kecil. 

Yes adalah seorang anak istimewa yang sering mengorbankan dirinya untuk keselamatan orang lain. Keberaniannya yang luar biasa sering membuat Apa khawatir. Asiyah layaknya sebuah pilar kokoh di antara keempat anak ini. Sebuah energi yang menopang dan membangun atap...

Api adalah milik Ra, simbol Pare-amon. Seorang anak yang memiliki karakter kepemimpinan, cerdas, dan kharisma yang membuat orang terpesona dengannya. Kata-kata yang terucap darinya selalu membangkitkan ketertarikan.

Pemuda yang selalu menjadi pusat perhatian dengan tingkah laku yang selalu membuatnya dihormati semenjak kecil. Kekurangan paling besar Ra, yang kekuatan dan kodratnya paling dipercaya oleh Apa, adalah kepercayaan diri dan keingintahuannya yang berlebihan. 

Jika tak ada campur tangan Yes, kekuatan dan ilmu pengetahuannya dengan mudah dapat berubah menjadi keegoisan. Ra terbebani oleh ujian kelulusan yang seperti kobaran api...

“Ujianmu sangatlah besar, Ra,” ucap Apa ketika memeluknya...

Sisi manakah yang akan dipilih Ra di antara Yes dan Haman yang seringkali dia kunjungi, ketika hari itu tiba?

“Ya Allah, berikanlah kekuatan pada Yes sehingga ketiga anak yang berada di ujung jurang bahaya nafsu itu dapat disatukan dengan akhlak yang baik, amal-amal yang baik,” doa Apa.

Sementara itu, Pangeran Utara yang terluka berat sepuluh tahun yang lalu, akhirnya meninggal dunia dan dimakamkan di sebuah makam yang batu nisannya belum sempat dibangun. Menjadi satu-satunya raja Mesir yang dimakamkan di sebuah makam kecil yang tak layak bagi seorang pemegang mahkota dan tahta.

Para pembuat mumi berhati-hati meletakkan kembali medali kerajaan yang tak pernah dilepaskan oleh para raja selama masih hidup setelah menyelesaikan semua persiapan... 

Tak satu pun orang yang tahu bahwa medali yang sama beberapa waktu yang lalu terpasang di leher Asiyah. Orang yang tahu dan menjaga rahasia ini tak lain adalah Apa. 

Ia melepaskan medali yang ternyata kembar itu dari leher si gadis kecil di hari-hari pengasingan dan kemudian melemparkannya ke Sungai Nil. Asiyah pun lupa mengenai medali itu. Semua yang tertinggal baginya hanya sebuah peninggalan genetik berupa keingintahuan yang besar, pengetahuan yang luas...

Segel kerajaan yang dipindahkan dari Amarna menuju Memphis, bersama dengan sebuah kesempatan penggunaannya, melambatkan pergerakan revolusioner dan khususnya Horemheb selama beberapa waktu, tapi tak pernah bisa menaklukkan mereka. 

Para pendeta Memphis pun harus menugaskan Komandan Piye yang merupakan teman Komandan Horemheb yang ganas untuk masuk ke dalam Kerajaan Mesir.

Komandan Piye sudah berumur delapan puluh tahun-an, tapi belum sekalipun melakukan pernikahan. Seluruh hidupnya dibaktikan pada pertempuran di Nübye dan Hatti. Dia adalah komandan pasukan yang membuat Kerajaan Mesir menjadi yang terkuat di Laut Tengah dan Timur Tengah. 

Menaklukkan banyak negara, mulai dari Negara Punt yang berada di selatan sampai ke Kadesh dan seluruh daerah di sebelah utara dan timur Yerussalem. 

Persatuan dan kejayaan Mesir adalah hal yang paling penting baginya. Oleh karena itu, dia sangat peduli dengan pendidikan dan kemampuan orang yang akan menjadi raja. 

Pengangkatan seorang putri yang akan menjadi istri raja haruslah seorang gadis muda yang paling berpengetahuan, sopan-santun, dan terdidik dalam lingkup adab terbaik adalah harapan Piye yang paling besar.

Apa tua adalah sosok yang sangat dihormati oleh para guru di Akademi Kerajaan. Meskipun dia merupakan orang yang datang dari Amarna, pendidikan akhlak yang ia berikan kepada anak-anak kerajaan membuat dirinya menjadi seseorang yang dihormati oleh seluruh guru. 

“Kedua matanya tertutup untuk dunia, tapi wawasannya membuka seluruh alam semesta,” ucap orang-orang yang mengetahui lautan kisah luas yang Apa lewati.

Di Mesir, para penulis yang menuangkan seni menulis dan kemampuan dalam penulisan resmi ke dalam kisah-kisah memberikan perhatian lebih pada cerita yang berisikan teladan dan penuh teka-teki bermakna. 

Bahkan, adab berbicara yang dianggap sebagai kemampuan yang harus dimiliki seorang raja telah diajarkan di usia dini, baik di Akademi Kerajaan maupun di sekolah umum sebagai pelajaran yang sangat penting.

Pembacaan puisi panjang tanpa kesalahan, penggunaan ungkapan-ungkapan yang dihiasi kata-kata bermakna merupakan standar yang ditentukan bagi orang-orang yang ingin naik ke tingkatan berikutnya, apapun pekerjaannya. 

Baik itu tukang roti, pemegang pot tinta, pawang ular, pemotong rambut, atau tentara, syarat-syarat seperti kemampuan berbicara dengan bermakna dan beradab, kemampuan berpikir ke depan, kemampuan membaca permasalahan dengan rapi dan jelas, memiliki peran penting sebagai penentu kenaikan tingkat dalam pekerjaan.

Bahkan, dua kali dalam satu tahun, para bangsawan Mesir melewati waktu mereka dengan berdoa dan tafakur di makam para leluhur. 

Waktu yang pertama adalah di hari-hari meluapnya Nil, sementara lainnya di waktu panen. Menurut orang-orang yang percaya, di hari-hari itu ruh para leluhur memberikan sebuah pertanyaan teka-teki yang sangat sulit, dan pastinya ini dijadikan sebagai sebuah ujian kelayakan seseorang untuk menjadi penerus tahta kerajaan.

“Pelajaran melihat ke depan” pertama ini memberikan kesempatan kepada anak-anak kerajaan untuk mendapatkan sebuah pengalaman yang bisa dijadikan sebagai tiket dan kemudahan di masa depan.

Khususnya bagi para pendeta yang sangat peduli dengan seni ramalan, jawaban-jawaban yang diberikan untuk teka-teki dan ujian seperti ini dianggap sebagai sesuatu yang serius, dan pastinya mereka memberikan komentar mengenai masa depan para siswa atau orang-orang yang mengikuti ujian ini...

“Letnan ini akan menjadi seorang komandan yang kuat dan kejam di masa depan.”

“Murid pawang ular ini bukan menjadi pawang ular, seharusnya menjadi petugas pajak.”

“Anak ini takkan bisa mendapat tugas di kerjaan, ia memiliki hati yang lembut.”

“Penulis ini sebenarnya memiliki karakter seorang guru yang luar biasa.”

Tapi, penglihatan masa depan yang dilakukan para pendeta dan peramal ini, yang diungkapkan beriringan dengan ritual-ritual yang sekan-akan mendapatkan berita dari masa depan menjadi sebuah pendiskriminasian kelas dalam pikiran masyarakat. Para guru dan cendekiawan seperti Apa mendapatkan rasa hormat karena semua itu.

Para pendeta dan peramal mendapatkan kekuatan dan kekuasan besar dari adat penglihatan masa depan Mesir ini yang berdasarkan pada kekuatan kata-kata. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kekuasaan dalam memutuskan masa depan para raja, ratu, pendeta dan komandan, disamping itu juga penugasan-penugasan baik itu orang-orang pemerintahan yang terhubung dalam pemerintah pusat maupun daerah, bahkan dalam pengambilan keputusan mengenai pembangunan desa maupun daerah sesuai dengan pekerjaan dan karakter.

Misalnya, peraturan-peraturan di desa para penulis dengan desa para pelatih singa sangatlah beda satu sama lain.

Peraturan tempat kerja para tentara bersama dengan peraturan-peraturan tempat kerja para penjahit ditetapkan dengan sistem kasta yang berbeda satu sama lain.

Dan juga di tempatkannya di daerah yang berbeda bagi para Apiru yang bekerja sebagai budak dan pekerjaan kerja paksa, dan pastinya ini semua tercatat didalam daftar pekerjaan yang berbeda-beda.

Diulang-ulang, diulang-ulang, diulang-ulang...

Seperti rahasia Mesir...

Tak ada kesempatan ataupun keterbukaan baru yang bisa membuat bertanya-tanya di Mesir.

Mesir berdiri tegak dengan jiwa-jiwa adat yang berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya... Dan inilah sebab kenapa catatan-catatan seribu tahun lalu disembunyikan, dikumpulkan, tak pernah merelakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dua ribu tahun yang lalu.

Arsip-arsip, semua dikumpulkan dengan kehati-hatian, dikelompokkan, disimpan...

Oleh karena itu, seluruh peradaban di Mesir terbentuk dari rincian pengulangan yang mengagungkan.

Hari masih pagi, abdi buta Apa bersama keempat siswanya berjalan menuju Puncak Akasya Barat yang terletak di seberang Nil...

Anak-anak muda ini menuruni tangga marmer Istana Kerajaan yang menjulur ke arah Sungai Nil dengan wajah ceria.

Membawa makanan dan buku pelajaran seperti yang diperintahkan, Yes, Ra, Ha, dan Ka berjalan sambil menggoyangkan kedua tangan mereka dan melonjak-lonjak gembira. Mereka sangat bersemangat.

Ketika bertepatan dengan hari-hari pasang, air memenuhi Sungai Nil. Oleh karena itu, mereka mengggunakan perahu dayung kerajaan yang megah untuk menyeberang yang kini tengah bersandar di dermaga berpagar kayu.

Perahu dayung kerajaan yang bernama Teye ini digerakkan lima belas pendayung untuk masing-masing sisi. 

Bagi anak- anak, Teye merupakan alat transportasi yang menakjubkan. Mereka menyeberangi Nil dengan perahu mimpi ini sambil mendendangkan lagu Ilahi yang paling bagus. 

Di lain sisi, Apa mengajak murid-muridnya ini untuk memberikan ujian spesial yang diperintahkan oleh Akademi Kerajaan...

Teye, dalam pandangan anak-anak lebih seperti makhluk hidup dibandingkan sekadar perahu dayung. Ia seperti perempuan Kıpti setengah tua yang memedulikan penampilannya, bahkan seperti seorang pencerita dongeng pengantar tidur... 

Anak-anak tertidur dalam pelukan Teye... Puisi yang paling panjang dan melelapkan, Ilahi-ilahi lemah lembut dan memesona selalu didendangkan ketika berada di punggung Teye. Teye bukan sebuah perahu dayung biasa, seakan malaikat yang berenang di Sungai Nil dan memberikan kabar dari surga...

Sesaat, Ka membungkukkan badan dan bertanya kepada Apa.

“Apa-ku, kenapa kita tidak menyeberang dengan arah lurus, melainkan membuang-buang waktu bergerak ke kanan dan kiri?”

Abdi tua memberikan jawaban sambil tertawa gembira diiringi batuk.

“Anak-anakku, ternyata ujian mulai lebih awal. Ayo, bersama-sama kita cari jawaban dari pertanyaan Ka.”

“Menurutku, ini benar-benar murni pembuangan waktu... Untuk sampai ke seberang sungai dengan mengikuti rute lurus adalah lebih bermanfaat,” ulang Ka. “Teye akan lebih sedikit tergoncang dan para pendayung tidak begitu lelah. Di samping itu, kita akan lebih berhemat dalam penggunaan dupa-dupa yang kita bakar.”

“Setiap pekerjaan memiliki peraturan tersendiri,” komentar Ha. “Mungkin juga semua perahu dayung kerajaan menggunakan rute yang sama selama ratusan tahun. Dan bagi kita, ini adalah pilihan para leluhur yang memiliki pengalaman dan kemampuan yang lebih tinggi dari kita. Menurutku, kita harus percaya pada kemampuan dan keahlian para pendayung.”

Kepalanya terbenam dalam di antara bahunya yang terbiasa membungkuk ringan ke depan.

“Ha, kenapa kau selalu berperilaku serius dan sedih seperti ini?” potong Asiyah... “Dan Ka selalu memberikan sebuah usulan. Apa hubungannya dengan adat istiadat dan para leluhur?”

“Yes, Aku...,” Ha ingin memulai ucapan panjangnya lagi, tapi...

“Bukankah aku sudah memohon kepada kalian untuk memanggilku Asiyah ketika berada di luar istana?” potong gadis muda ini dengan wajah ceria.

“Menurutku,Asiyahbenar,”ucapRaikutdalampembicaraan. “Tak ada salahnya kita melakukan petualangan yang berbeda. Bahkan jika Apa mengizinkan, aku ingin memberikan arah kepada para pendayung. Aku ingin mejadi nahkoda perahu dayung ini.”

“Tapi, Ra...,” ucap Ha dengan suara tegas.

Tanpa memedulikan dia, mereka mulai mendendangkan puisi Laki-Laki Tua yang terluka di Laut yang mereka pelajari di sekolah bersama-sama...

“Aku terluka oleh pedang zaman, ombak-ombak
Memindahkan rasa dingin ke kulitku
Dan aku paham bahwa aku mencintai kehidupan ini
Aku berlindung di kejernihan air dari ketakutan rasa dingin
Ketika aku bernapas, aku menyadari betapa berharganya bernapas di antara kematian dan kehidupan
Hidupku hanya tersisa segelintir rambut yang menggantung...”

Abdi tua Apa menyaksikan pembicaraan dan nyanyian mereka dengan senyum di bibirnya. “Semuanya kembali ke asalnya,” ucapnya dengan suara lirih... “Dari sekarang, terlihat jelas apa yang akan mereka lakukan di masa depan. Akhirnya, mereka semua memiliki jalan yang akan ditempuh.”

Setelah tiba di pesisir seberang, mereka akan mendaki Puncak Akasya Barat. Di sini tak ada satu pun istana. Semenanjung yang mereka capai seperti sebuah peta kebebasan. 

Mereka menyalami para petugas Teye, berterimakasih, dan meloncat keluar. Melupakan semua keseriusan yang mereka rasakan sebelumnya. Mereka berjalan cepat hingga tak tampak dari penglihatan para pendayung Teye yang berdiri tegak menunggu.

Setelah melakukan pendakian di antara pepohonan, mereka melihat sebuah danau yang jernih. Terlihat jelas bangku- bangku luas yang dinaungi atap di sekeliling danau untuk tempat peristirahatan para pengunjung... Mereka membasuh kening mereka dengan kegembiraan.

Tepat di salah satu tiang bangku tercantum sebuah tulisan, ‘Silahkan duduk, selamat datang’. Tak jelas siapa yang menulisnya dan tak satu pun orang yang menyatakan bahwa ‘tempat ini milikku’. Hanya ada sambutan selamat datang dari batin, dari keramahaan hati...

“Jadilah seperti ini, anak-anakku,” ucap Apa. “Jadilah seperti atap ini yang mengayomi kalian semua dan masyarakat. Jadilah pelindung dengan daun-daunnya yang menyembunyikan kita dari terik Matahari. Tak ada selain kerendahan hati dan kedermawanan.”

“Jika ini aku, aku akan mengumpulkan setengah koin dari para pengunjung yang datang ke sini,” ucap Ka... “Aku kumpulkan sehingga cukup untuk membangun tempat yang lebih bagus. Bahkan, akan aku bangun sebuah tempat minum kopi di sini, beberapa bantal dari serabut kurma, dan keran air kecil. Para pengunjung yang minum dari keran ini akan aku tarik seperempat koin sehingga aku bisa memberikan jamuan kurma kepada para pelanggan.”

Ka mengucapkan semua itu dengan kegembiraan seorang pengusaha yang sedang melakukan kerjasama dengan pasangan kerjanya. Apa tersenyum melihatnya. “Kau mulai dengan berkata pengunjung dan mengakhiri dengan pelanggan, Ka,” ucapnya.

Ra menanggapi pendapat Ka dengan gaya serius bercampur canda. “Sudahkah kau meminta izin dari kerajaan saat membuka tempat usaha ini?”

“Semua orang langsung pulang ke rumah setelah menyelesaikan pekerjaannya adalah hal yang paling baik. Mungkin duduk dan bersenang-senang di jalan bagus untuk para pengunjung, tapi jika terjadi perkelahian siapa yang akan melerai mereka? Hal yang paling bagus adalah pulang ke tempat masing-masing setelah menyelesaikan pekerjaan,” gumam Ha.

“Suatu hari nanti, aku akan membangun sebuah istana untuk tempat beristirahat para pengunjung di seluruh puncak Mesir,” teriak ceria Ra... Dia berbicara sambil membentangkan kedua tangannya, sekan memberikan tanda ke seluruh pelosok. Kedua matanya bersinar. Dia seperti bisa melihat masa depan dari sekarang dengan kepercayaan diri.

“Di sini, di puncak itu, dan disana juga,” ucapnya sambil menunjuk semua puncak yang terlihat. “Apalagi harga diri terbesar yang ada dalam manusia, selain kedermawanan? Biarkan mereka menyebutku sebagai raja yang memberikan makan dan minum kepada rakyatnya. Apalagi yang lebih baik dari ini semua?” tanyanya.

“Kedermawanan bukan untuk mendapatkan harga diri. Bukankah melakukan apa yang ada dalam batin dan hati kita adalah hal yang terbaik?” tanya Asiyah. 

“Sama seperti tempat beristirahat ini, sama seperti tulisan ‘selamat datang’ yang ditulis oleh penulis ramah hati tak bernama yang tidak kita ketahui ini...”

“Semuanya kembali ke asalnya,” ucap Apa kepada dirinya sendiri... “Ayo, sekarang adalah waktunya ujian. Di dalam keranjang ini ada empat burung bulbul dari negeri Punt yang sangat berharga. Empat burung indah ini untuk kalian berempat... Ayo, pilih dan ambil burung-burung ini, tapi ada satu hal buruk yang aku ingin kalian lakukan. Temukan tempat yang tak seorang pun melihat, dan bunuhlah burung-burung ini di sana...”

Sesaat, perkataan Apa membuat suasana menjadi sedingin es. Apa yang diucapkan oleh guru mereka? Membunuh? Mereka tak memercayai pendengaran masing-masing. Apa yang memberikan nasihat ‘Jangan membunuh’ yang sering mereka dengar sejak kecil pada nyamuk, bahkan tikus sekali pun... Tapi, hari ini dia berkata kepada mereka ‘Bunuhlah’... Ujian apa ini!

Meskipun dari bibir keempat anak terucap kata ‘tidak’, mereka menyadari bahwa ini adalah bagian ujian kelulusan dan tercatat dalam buku Akademi Kerajaan. Mereka pun memilih untuk diam. Kepala keempat anak menunduk dalam...

Setelah mengeluh beberapa saat, tangan mereka masuk ke dalam keranjang besar yang dibawa Apa. Mereka bergantian mengambil burung bulbul yang mengelibatkan sayapnya karena takut.

“Sekarang, mengertikah kalian betapa sulitnya pekerjaan Malaikat Kematian, anak-anakku?”

Malaikat Kematian kah ucap abdi tua itu?

Nama yang dingin dan mengejutkan ini mendatangkan tanggapan yang berbeda pada diri masing-masing anak...

Bahu Haman yang semakin lebar dan kokoh setelah memasuki masa remaja, seakan membawanya terbang tinggi, menyamakan dirinya dengan Malaikat Kematian. 

Dari kedua matanya tepancar kesombongan. Dengan tubuh tingginya, Haman seolah ‘Malaikat Kematian’ yang akan segera melayang dari daratan bersama lembaran kain celana yang menyeret tanah...

Sementara, Karun adalah anak yang tak pernah membuat permasalahan semenjak kecil. Ia memahami Malaikat Kematian sebagai seorang pencuri yang melewati penjaga-penjaga pemakaman dan memburu jasad-jasad. Memburu semua raja yang ada di dunia ini dan mengeluarkannya, terus mencari harta karun yang disimpan dengan berbagai macam labirin dan jebakan dengan serakah... 

Ketika tenggelam dalam pikiran ini, jubahnya berkibar seperti sepasang sayap, memberikan jalan baginya untuk berburu di malam hari setelah semua tertidur lelap...

Di antara mereka, yang paling ingin memahami dan menempatkan dirinya ke posisi ‘Malaikat Kematian’ tak lain adalah Ra. Seperti yang terjadi pada Ha, dia merasakan badannya bertambah tinggi. 

Tanda pangkat kemiliteran yang ia miliki telah bertambah satu garis. Tanda pangkat dari emas yang dia impikan tersemat di bahunya. Dia pun membayangkan sebuah mahkota raja di kepalanya. 

Kewenangan terhadap kematian merupakan sebuah kekuatan yang tak terbayangkan bagi calon raja masa depan, Ra. “Seluruh Mesir berada di antara dua bibirku,” pikirnya. Lahan-lahan pertanian tak berujung tergoncang oleh embusan angin, Nil yang diberkahi enam air terjun mengalir di antara Mesir, dan ribuan orang yang bersujud berselimut rasa takut di hadapan tahtanya. 

Dengan seluruh kekuatannya, dia menaklukkan semua. Kekuasaan ini ditambah dengan wewenang terhadap kematian yang ada di tangan raja akan membuat para musuh yang berada di negara asing gemetar ketakutan di hadapannya... 

Jika wewenang terhadap kematian lepas dari tangannya, apa kegunaan seorang raja! Ra merasa sedih membayangkannya.

Mereka terbangun dari khayalan mereka dengan sebuah pertanyaan, ‘Siapakah yang mengutus Malaikat Kematian ke muka Bumi?’. 

Asiyah lah yang mengajukan pertanyaan ini. Mendengar pertanyaan yang murni dan bersih ini, Apa paham bahwa hanya ada satu murid yang bertahan dari pengalaman ‘Malaikat Kematian’, yaitu Asiyah..

“Pencipta Malaikat Kematian adalah Zat yang mengutus dia ke muka Bumi,” ucap Apa. Seketika, yang lainnya pun sadar dari khayalan mereka...

“Mungkin inilah tugas yang paling sulit di dunia ini, yaitu membunuh seseorang,” lanjut Asiyah.

“Pencipta Malaikat Kematian menciptakannya dengan berbagai sebab. Banyak yang meninggal dunia setelah sakit atau musibah menimpa kita. Malaikat Kematian tertutupi oleh berbagai macam sebab kematian yang berbeda satu sama lain. Suatu hari, kita akan mendapatkan panggilannya dan kembali kepada Sang Pencipta. Kematian hanya terjadi dengan perintah dan kuasa-Nya...”

Setelah pembicaraan pendek itu, Apa memberikan isyarat utuk segera bergerak. Keempat anak ini melanjutkan perjalanan dengan burung bulbul di tangan mereka. Di tengah savana, keempat anak ini berpisah satu sama lain, berjalan ke empat arah yang berbeda...

Sementara itu, Apa tertidur dalam tidur yang panjang... Begitu banyak hal yang dia lihat dalam mimpinya. Dia tidak akan menceritakan mimpinya kepada siapa pun, tapi kurang lebih seperti ini...

Di antara kenyataan dan mimpi... Terjaga...

Kurang lebih setelah satu jam, Karun adalah anak pertama yang datang dengan wajah ceria. İa menyodorkan satu kantong berisi kepingan koin perak yang dipegangnya kepada Apa.

“Ini,” serunya, “Aku menjual burung bulbul dengan harga yang sesuai dengan seorang pekerja saluran air yang aku temui di jalan, Apa-ku. Dan memang burung bulbul yang aku pegang adalah yang paling kecil dan terluka di salah satu sayapnya. Pekerja saluran itu tidak mengetahuinya dan membayar dengan harga yang aku inginkan. Kau tahu, kita mendapatkan keuntungan besar...”

“Ahh,” ucap Apa, “Wahai anakku, burung bulbul yang kau kira terluka itu adalah burung bulbul terakhir dari Pulau Serendib yang bertelur emas. Sementara, pekerja yang kau temui itu memiliki anak yang sakit. Dia sudah pergi membawa anaknya berobat ke mana saja tanpa hasil. 

Orang itu kemudian datang dan menceritakan permasalahannya kepadaku. Aku menyarankan untuk membuat sup burung bulbul terakhir dari Pulau Serendib yang bertelur emas. Orang itu adalah pekerja yang kau temui... Kau tak tahu betapa berharganya burung bulbul yang ada di tanganmu. Kau tak lulus ujian. Jadikanlah ini pelajaran bagimu, bagaimanapun kau telah menyembuhkan seorang anak.”

Dan ketika Karun menyesali apa yang terjadi, Haman dan Ra datang ke sisi mereka. Ra berbicara dengan semangat, sedangkan Haman seperti biasa menganggukkan kepala mengiyakan, kadang dengan kata-kata pendek yang aneh. 

Semangat Ra bertambah dengan dukungan Haman. Kedua tangan mereka kosong... Mereka merasa yakin telah menyelesaikan ujian dengan hasil paling bagus. Setelah memberikan salam, mereka mencium tangan Apa.

Apa kemudian mencium tangan yang dicium kedua muridnya dengan wajah sedih. “Tampak bahwa kalian telah membunuh burung-burung itu di tempat yang tak terlihat oleh siapapun!” ujar Apa datar.

Ra kemudian menceritakan pertemuannya dengan Asiyah di jalan. Setelah berbicara panjang lebar dengannya, mereka berdua menangis dan memutuskan untuk tidak membunuh burung bulbul mereka. 

Namun, Haman datang dan menyalahkan keputusan itu. Haman juga mengatakan bahwa ujian ini akan tercatat dalam buku Akademi Kerajaan... 

Setelah perkataan Haman yang menyakinkan, Ra berpisah dari Asiyah dan melanjutkan perjalanan bersama Haman. Setelah beberapa waktu mencari tempat yang sesuai, mereka mendaki Puncak Akasya Barat yang paling tinggi seperti usul Haman. 

Setelah merasa yakin tak akan ada seseorang yang melihat, mereka membunuh burung-burung itu di dalam gua yang ada di sana....

“Yakinkah kalian bahwa tak ada satu pun yang melihat kalian?” tanya Apa sambil gemetar menahan marah...

Dengan wajah penuh keyakinan, kedua murid yang telah terjerumus dalam kesombongan itu menjawab tegas. “Iya, kami mendaki ke puncak paling tinggi agar tak satu orang pun melihat,” jawab mereka.

“Malaikat Kematian pun tak melihat. Sungguh seperti itukah?” tanya Apa berulang kali... Ra dan Ha terkejut dan seperti kembali jatuh ke tanah. Tapi, keterkejutan ini hanya berselang pendek.

Ra yang telah merasakan ‘kenikmatan’ menggunakan wewenang kematian memberi jawaban berbalut kemarahan. “Kami berpikir bahwa kami telah mendapatkan wewenang untuk membunuh burung-burung itu dalam ujian yang telah Anda siapkan ini...”

Ha seperti biasa mendukungnya. “Kami berharap telah melewati ujian yang sulit ini sesuai peraturan-peraturan akademi..."

Apa menjawab tenang, menghimpun kesabaran dalam dirinya.

“Haman, burung yang kau bunuh adalah penasihat burung merpati yang memberikan kabar mengenai selesainya banjir kepada Nabi Nuh. Burung bulbul yang dengan kekuatan doa Nabi Nuh terbuka kedua matanya sehingga dapat melihat masa depan itu memiliki pengetahuan yang penuh dengan misteri. Burung yang memiliki kemampuan luar biasa... 

Di antara semua burung, hanya dia yang mengetahui rahasia-rahasia dunia. Seandainya kau tak membunuhnya dan mencoba untuk mendengarkannya, kau akan mengetahui bagaimana cara untuk selamat dari musibah-musibah besar di dunia. 

Sebuah pintu rahasia, sayangnya hilang begitu saja... Sekarang, seberapapun menyesalnya engkau, takkan mengubah apapun. Semua puncak yang kau daki atau akan kau daki, adalah takdirmu, tapi tak ada satu pun tempat yang tak terlihat di dunia ini oleh Sang Penulis Takdir. Dia selalu siap dan memantau, meskipun tak seorang pun melihatnya. Ah, burung bulbul yang kau bunuh...”

“Dan, Ra! Sekarang giliranmu, Ra! Burung yang kau sakiti dan bunuh itu adalah burung bulbul yang mengetahui sumber air keabadian yang memberikan keabadian kepada orang yang meminumnya. 

Umur raja hanya dilalui dengan pencarian orang yang akan diajarkan letak air itu berada berada. Sayang, kau tak membuka mata hati dan mengabaikan kebijaksanaannya. Kini, di dunia ini tak ada lagi seorang raja yang akan menemukan air keabadian.”

Ra membungkukkan badannya. Rasa sesal membuncah setelah mendengarkan perkataan Apa. Tapi, semua telah terjadi...

"Darah itu akan menjadi noda yang tidak akan pernah hilang dari telapak tangan kalian seumur hidup. 

Dalam kehidupan, kalian akan menyesal sebanyak sembilan kali dan ingat apa yang terjadi hari ini... 

Kalian akan merasakan kekeringan bertahun- tahun, ini adalah musibah pertama. Kedua adalah penyakit- penyakit yang meluas, luka-luka yang tak pernah sembuh, dan pohon-pohon tak berbuah. Ketiga, hujan yang turun selama satu tahun dan menenggelamkan kalian. Dan keempat, sekelompok berbentuk awan yang akan menghancurkan kalian dan hasil panen kalian... Setelah itu, serangan nyamuk, ngengat, dan kutu adalah musibah yang kelima. Musibah keenam datang berupa penjarahan dan perampasan di mana-mana. Ketujuh adalah musibah yang paling mengenaskan, seluruh kota akan mengalami hal yang sama, meminum darah mereka karena tak ada air untuk minum. Ujian kedelapan, datangnya naga-naga besar yang menelan semua mantra sihir para penyihir. Tidak ada cara selain menaati pemilik naga. Ujian terakhir adalah datangnya seorang utusan yang memiliki ‘Tangan Putih’. Namanya adalah Yed-i Beyza. 

Jika kalian mengikuti utusan itu, kalian akan terlepas dari sembilan musibah ini. Tapi, jika kalian lupa dan mengikuti hawa nafsu seperti hari ini, lihat saja yang akan terjadi...”

Abdi tua berbicara sambil gemetar. Ra yang menyadari kesalahannya tak dapat menahan kesedihan hingga jatuh bersujud ditanah. 

Sementara, Ha seolah mengabaikan perkataan Apa yang baginya membingungkan. Dia mencoba mengangkat badan Ra dengan satu tangannya, seraya mengingatkan untuk segera kembali ke istana karena cuaca sudah mulai gelap.

Ra memandang Apa dengan wajah menyesal. “Asiyah...”, ucapnya, “Asiyah...”

“Dia terbebas dari sembilan penyesalan ini. Seperti keterlambatannya saat ini, dia takkan mengalami dan merasakan sembilan penyesalan dari sembilan musibah yang akan kalian alami. 

Dia adalah satu-satunya anak yang kedua matanya dapat melihat ke depan. Sungguh aneh, dia juga yang paling jauh berjalan, meskipun burung bulbul yang dia pilih tak memiliki keistimewaan seperti yang kalian pilih. Perhatikan bagaimana dia akan kembali...”

Abdi tua yang gemetar kembali bersandar ke tempat duduk di belakangnya dengan bantuan murid-muridnya yang tak taat. Seakan seluruh jiwanya telah diambil dan membeku diam tak dapat melangkahkan kaki. Tubuhnya seperti dililit rantai besi.

Haman menarik teman-temannya ke salah satu sudut, meyakinkan mereka untuk tak perlu khawatir dan putus asa. Semua yang diceritakan Apa hanya omong kosong dan Apa hanya seorang tua yang suka menceritakan dongeng-dongeng. Dia bukan siapa-siapa.

Asiyah datang ketika cuaca hampir sepenuhnya gelap. Betapa jauhnya dia berjalan sehingga kakinya penuh dengan darah. Bajunya sobek karena terkait semak belukar. Wajahnya memerah menahan tangis. Dia kembali dengan burung bulbul di tangannya...

“Wahai Apa-ku, betapa jauhnya aku berjalan, betapa jauhnya aku berkeliling.... Tapi, aku tak menemukan satu tempat yang tak terlihat oleh siapa pun untuk mengambil nyawa burung bulbul ini. Kemanapun pergi, aku tahu bahwa Malaikat Kematian melihatku dan juga Sang Penciptanya yang mengutus ke sisiku. 

Kemanapun aku pergi, Dia selalu berada di sampingku. Dia melihat aku dan apa yang aku lakukan. Setiap tempat aku cari, semua puncak aku daki, semua gua aku masuki, tapi tak ada satu tempat yang bisa lepas dari pengawasan-Nya. Aku tak bisa lulus dari ujian ini, wahai Apa-ku.”

Apa terbangun dengan tubuh gemetar, memandang keempat muridnya... Hatinya risau oleh mimpi yang barusan dia lihat. Ia juga mengacuhkan Asiyah. “Ayo,” ucapnya, “Malam telah tiba, para pendayung telah menunggu kita. Orang-orang di istana pasti juga khawatir. Ayo, kita sudah terlambat.”

Tak ada waktu lagi untuk menanyakan petualangan anak- anak dengan burung-burung itu, ketika dia terhimpit oleh beratnya mimpi...

Savanah terlihat seperti hantu yang bergantung dalam embusan angin dan gelapnya malam. Mereka menuruni Puncak Akasya Barat dengan cepat, tanpa berbicara... Mereka menyeberang ditemani kedamaian aliran Sungai Nil setelah mengucapkan salam pendek kepada para pendayung yang telah lama menunggu...

Upacara Set tahun ini memiliki kejutan yang berbeda di Istana Memphis... Satu generasi telah tertutup dengan kematian Komandan Piye... 

Kejayaan yang terus berlangsung di bawah kepemimpinan militer Horemheb yang kemudian diteruskan Piye telah berakhir. 

Kerajaan, dalam waktu yang singkat, melakukan perbaikan diri dengan memberlakukan sebuah pendidikan yang disiplin dan ketat untuk generasi muda. Pendidikan dan pengembangan anak-anak sesuai dengan peraturan lama kerajaan.

Upacara Set tahun ini juga akan dirayakan bersamaan dengan upacara pemakaian mahkota. Akhir dari masa penuh kecemasan menanti para calon pengganti... 

Kepala pendeta dan kepala komandan yang berkuasa beberapa bulan setelah kematian Komandan Piye mendukung penyerahan mahkota kepada pewarisnya yang tepat. 

Tapi Mesir, bersamaan dengan masa jeda kemiliteran yang belum pernah mereka alami dalam sejarah, tengah mendapatkan tekanan besar dari berbagai kaum, baik dari Hattusas yang berada di utara maupun dari selatan...

Pemberontakan di Nubye Selatan juga semakin meningkat. Akibatnya, pajak yang dikirim dari Nubye ke ibukota terhenti. Kerajaan harus sekali lagi kembali ke kondisi yang stabil sebelum permasalahan pajak dan materi yang mereka alami membuat masyarakat Mesir menderita lebih banyak...

“Tahta kerajaan harus diserahkan kepada pewaris yang paling layak dari didikan Akademi Kerajaan....” ucap kepala pendeta.

Sementara itu, kepala komandan melanjutkannya. “Hanya pemuda paling pemberani dan berjiwa pejuang yang layak mengenakan mahkota Mesir. Musuh kita telah meningkatkan kemampuan perang mereka. 

Berkat kehebatan pemimpin- pemimpin pasukan mereka, penemuan senjata baru, dan kereta kuda yang digunakan dalam medan perang, Hattusas telah berhasil membangun kekuasaan mereka di negara-negara sekitar. Jika kemudian Nubye kembali dikoyak pemberontakan, aku takut kita tak mempunyai kekuatan untuk mencegah kehancuran Mesir.”

Kepala keuangan negara menjelaskan bahwa masa jeda dan masa revolusi telah memakan banyak harta kekayaan Mesir. Keluhan mengenai lambannya pengiriman pajak dari negara Punt dan Nubye berupa emas, perak, dan mineral berharga lainnya. 

Tahun itu, untuk pertama kalinya, mereka harus menurunkan harga nilai emas dan menggunakan perak dalam sistem pembayaran. Mereka berada di ujung tebing petaka karena terlalu banyak mengonsumsi barang mewah di istana. 

Terlihat jelas bahwa mereka memerlukan seseorang pemberani dan kompeten dalam pengaturan keuangan negara yang akan mengenakan mahkota sebagai raja baru mereka.

Sementara itu, perubahan komposisi populasi menarik perhatian kepala arsip kerajaan. Populasi suku Apiru yang menetap di daerah Gosen pada masa Nabi Yusuf mengalami peningkatan luar biasa dalam waktu singkat dan tersebar ke seluruh Mesir. 

Fakta paling penting diperhatikan adalah beralihnya pekerjaan suku Apiru yang hidup di luar wilayah Gosen dari penggembalaan dan peternakan ke bidang pertanian dan perdagangan. 

Mesir bahkan mengalami sebuah titik balik populasi dengan peningkatan suku Apiru yang masuk ke pemerintahan bersama para abdi di istana.

Kepercayaan kepada satu tuhan yang diajarkan oleh Nabi Yusuf kepada para Apiru masih berlanjut dan berdiri tegak seperti sebuah bahaya yang tertidur. 

Menurut para penasihat kerajaan, itu merupakan masalah serius yang terus membesar di dalam kerajaan bersama dengan peningkatan populasi Apiru yang pesat. 

Oleh karena itu, calon raja yang akan mengenakan mahkota tak hanya harus memiliki kemampuan dalam beperang, melainkan diperlukan juga kecerdasan untuk menetapkan sistem kasta baru yang akan mengontrol populasi dan kekuatan kaum Ibrani.

Setelah mendengarkan pendapat para penasihat, kepala pendeta menekankan bahwa atas nama kejayaan kerajaan, mereka harus tak hanya berpaku kepada calon raja saja, tetapi juga menentukan siapa yang akan menjadi ratu. 

Idenya adalah mengambil pendekatan strategi keamanan dengan mengangkat seorang putri dari Hattusas yang semakin hari terus mendekati perbatasan Mesir untuk dijadikan pengantin raja Mesir...

Sementara, kepala arsip kerajaan berpikir bahwa ratu yang akan mendampingi raja harus dari generasi Kerajaan Mesir. Menurutnya, ini akan berperan besar dalam persatuan, baik dari sudut pandang adat, agama, maupun masyarakat. Sementara itu, dia juga memperingatkan untuk tak melupakan faktor Pangeran Suppila yang bekerja sama dengan Hattusas selama dua puluh tahun terakhir peperangan ini.

Mengambil pengantin dari Hattusas akan membuat Pangeran Suppila, para pemberontak, mata-mata, dan oposisi yang mengabdi padanya mendapatkan kekuatan besar. 

Pangeran Suppila yang tengah mengalami kehancuran harga diri dalam sebuah kekalahan, kini memfokuskan dirinya pada pemberontakan dan perlawanan kepada kerajaan. Sebuah kesempatan yang ditunggu bertahun-tahun oleh Hattusas kini terbuka lebar. Kali ini, mereka akan menaklukkan Mesir dari dalam tanpa perlu bertempur.

Kepala komandan mendengarkan perkataan kepala arsip kerajaan segenap hati. Setelah merenungkannya sejenak, dia menyetujui kebenaran perkataannya. Pengangkatan seorang putri dari Hattusas bisa diartikan sebagai penghancuran benteng kerajaan Mesir.

Tak ada salahnya juga mendengarkan pendapat kepala guru Akademi Kerajaan. Institusi ini mendidik anak dan pemuda yang akan memimpin kerajaan.

Malam itu, kepala guru Akademi Kerajaan tak sendiri. Disampingnya terdapat guru yang paling dihormati di sekolah pangeran, Apa, sang abdi yang buta. 

Kepala pendeta sama sekali tak menyembunyikan ketidaksukaannya terhadap keberadaan Apa dalam musyawarah itu. “Kenapa kau ajak Abdi Buta Raja Kafir ke meja musyawarah mengenai masa depan Kerajaan Mesir ini?” Kepala pendeta memberikan pertanyaan yang menusuk seperti jarum...

Kepala arsip kerajaan segera memperlembut atmosfer ruangan yang menegang. “Semenjak hari-hari pengasingan, Apa telah berperan besar dalam pendidikan seluruh anak bangsawan kerajaan. Dia juga telah membuktikan dirinya sebagai salah satu guru yang paling terpercaya, baik di masa Komandan Horemheb maupun Komandan Piye. 

Apa merupakan pendidik spesial yang mengetahui dan mengenal seluruh karakter siswa akademi. Semua keputusan nanti akan diputuskan oleh majelis. Kata-kata yang akan kita dengar dari guru tua ini akan mempermudah majelis untuk mengambil keputusan. Tak ada yang perlu dikhawatirkan!”

Kepala arsip kerajaan berkata benar. Anak-anak yang memiliki kemampuan istimewa dalam kecerdasan dan kepemimpinan diberikan sebuah pelajaran khusus serta dididik dengan program pendidikan yang berbeda. 

Mereka mendapatkan pelajaran di kuil dan sekolah militer terbesar di Mesir. Mereka dididik dalam kemajuan dan perkembangan piramid dan ziggurat.

Apa berbicara mengenai empat pemuda spesial ketika dia mendapatkan giliran untuk berbicara. Dia membahas kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh Pare-amon, Ha- amon, Yes’a, dan Karonaim. 

Khususnya dia menekankan pada kemampuan Pare-amon yang memiliki karakter yang dapat membuat orang hormat kepadanya, kecerdasan, dan sifat kepemimpinan yang membuat dia berbeda dengan yang lainnya. Tapi, ada satu kelemahan yang dimiliki oleh Pare- amon: sangat ambisius dan perfeksionis, karakter tak menerima satu kesalahan sekalipun, dan kesulitan mengontrol karakter itu. 

Ha-amon adalah siswa yang menonjol dalam hal ruhani dan kekuatan untuk menyakinkan orang. Ha-amon yang tak memiliki sifat kepemimpinan cukup bagus untuk disandingkan dengan Pare-amon. Tapi, dia juga memiliki kekurangan. 

Kedua matanya hanya terpaku pada dunia ketuhanan dan rahasia keabadian.

Yes’a merupakan seorang gadis muda yang berdarah kerajaan dan memiliki kemampuan yang tak kalah dari para siswa laki- laki. Bahkan, dalam hal kesenian dan logika dia jauh lebih baik dari semuanya. 

Jika ada sebuah kelemahan, itu hanyalah persaingannya dengan Ha-amon semenjak mereka kecil yang berlanjut sampai sekarang. 

Pare, meskipun mejadi pemimpin di antara mereka, mengalami kegoyahan di antara ide-ide Ha-amon dan Yes’a ketika berhadapan dengan kesulitan. 

Ketika Ha selalu ingin menjadikan Ra berada di sisinya dan memberikan masukan mengenai kekuatan dan kekuasaan, Yes’a masuk di antara mereka seperti bisikan-bisikan keadilan dan kasih sayang.

“Julukan hewan suci apa saja yang mewakili pemuda yang kita bahas ini dalam kripto-kripto Mesir?” tanya kepala pendeta.

“Tuanku,” mulai Apa, tanpa melupakan perendahan terhadap dirinya sebelumya, “Julukan yang diberikan oleh akademi kepada mereka di hari raya Hasad lima tahun sebelumnya seperti ini.

Pare-amon, setelah semua ujian dan kompetisi yang dia lewati, mendapatkan hak untuk membawa nama Elang Suci Horus, ‘Mata Bulan’. 

Horus yang agung, akan memberikan salah satu dari matanya yang tak pernah tertutup kepada orang pilihan di dunia ini yang memiliki ilmu yang luas. Sekarang, anak yang membawa julukan Mata Bulan adalah Pare-amon. Dalam daftar hewan-hewan suci dia adalah Elang...

Julukan Ha-amon adalah ‘Apis”. Segitiga putih yang berada di dahinya dan sabit benteng suci yang berada di punggungnya merupakan simbol Ha-amon yang menunjukan bahwa dia dalam kategori pendeta. 

Banteng Apis yang berbulu merah, membuktikan kesetiaannya, Medali yang dibawa oleh Ha-amon menunjukkan bahwa dia berhasil melewati ujian dalam hal pengabdian.

Yes’a merupakan satu-satunya anak yang memiliki tiga medali dengan penanggalan dan ruh yang berbeda. Dalam penamaan Mesir lama, bunga teratai menyimbolkan dirinya. 

Yes’a membawa medali yang menyimbolkan kedamaian dan berkah dengan daun-daun berwarna biru dan ungu. Dalam daftar hewan suci, burung Ibis dan Bastet menjadi simbol dirinya.

“Oooh! Luar biasa... Bastet dan juga Ibis... Kucing dan burung.... Di satu anak! Oooh! Tapi, bagaimana ini bisa terjadi?” seru para penasihat terheran-heran dan penuh tanda tanya.

“Tuanku, Yes’a, malam saat dia dilahirkan ke dunia, sekelompok bintang Orion berada di atas langit Istana Kerajaan. 

Para pejalan padang pasir dan orang bijaksana yang datang dari Timur yang berada di antara para tamu Istana Kerajaan menyebut bayi perempuan yang terlahir itu dengan nama Asiyah dalam bahasa mereka.

Nama yang bermakna pilar dan tembok ini merupakan simbol bahwa Yes’a penyambung Kerajaan dengan Langit tujuh tingkat, seperti sebuah pilar langit. 

Selain itu, Yes’a merupakan cucu dari Raja Reyyan bin Melik dari Amalika yang menyelamatkan Mesir dari kekeringan di masa Nabi Yusuf. Dia sendiri merupakan putri dari Raja Muzahim yang juga putra dari Pangeran Abidin..."

“Kenapa kau menggunakan silsilah Arab kepada Yes’a, wahai Apa yang terhormat?” tanya Kepala Arsip Kerajaan.

“Seperti janji yang saya berikan kepada Komandan Horemheb ketika dalam pengasingan dari Amarna bahwa saya tidak akan memberikan informasi detail mengenai silsilah keturunan kepada anak-anak. 

Komandan Horemheb memberikan perintah untuk menghapus seluruh pengetahuan yang bersangkutan dengan masa lalu di masa restorasi dari pikiran dan arsip-arsip tertulis. 

Keputusan ini diambil demi keselamatan anak-anak dan pembangunan kembali kerajaan, sambil mencontoh abdi lemah ini, bukan keluarga mereka. 

Saya mendidik mereka sebagai abdi yang setia kepada kerajaan. Maka dari itu, saya mendidik mereka dengan silsilah keturunan dalam bahasa Arab, bukan dalam bahasa Kıpti. 

Misalnya, jika Anda bertanya kepada Yes’a maka dia akan menunjukkan dirinya sebagai seorang gadis muda Mesir yang setia kepada kerajaan dibandingkan sebagai putri raja.

“Benar sekali apa yang telah kau lakukan.” Terdengar suara yang memotong perkataan Apa.... Orang yang berbicara adalah kepala pendeta. “Tepat sekali yang kau lakukan Guru Tua Apa yang setia. Yang terpenting dari para pemuda ini bukanlah siapa mereka, tapi akan menjadi siapa mereka semua. Jelaskan mengenai tanda hewan-hewan Yes’a yang tak sesuai satu sama lain itu. Kenapa Medali Bastet dan Burung Ibis berada di gadis muda ini?.”

“Tuanku... Bastet yang merupakan kucing suci, dengan keindahan, irama, dan nalurinya merupakan simbol pejuang dan pengusir roh-roh jahat. Medali ini diberikan kepada Yes’a karena kemampuannya dalam pengetahuan musik, warna dan kecocokan bentuk, melukis, serta jiwa seni dalam batu- batu berharga dan mutiara. 

Kekuatan nalurinya yang besar merupakan salah satu ciri Bastet yang mementingkan kasih sayang dan keadilan. Sementara, burung Ibis merupakan simbol ketaatan ibadah. Yes’a berhasil menjadi juara pertama dalam seluruh ujian mengenai kebersihan keyakinan, kemurnian hati, dan keadilan. 

Medali berbentuk kipas yang dia bawa merupakan simbol yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang manusia yang memiliki dua kehidupan. Julukannya adalah burung Ibis yang merupakan abdi setia dan pelindung, baik di dunia ini maupun di dunia orang mati.”

“Anak lainnya, Karonaim. Kau belum berbicara sama sekali mengenainya, Apa,” ucap Kepala Komandan.

“Kepala Komandan yang terhormat.... Kami, orang-orang yang mengajar di akademi, memanggil pemuda ini dengan nama Ka. Karonaim merupakan keturunan dari keluarga Ibrani yang terhormat. Tapi karena janji saya kepada komandan Horemheb, saya tak memberikan informasi banyak mengenai keluarganya. 

Ka tumbuh besar tidak dalam lingkup adat-adat Ibrani. Dia tumbuh besar di akademi istana bersama anak- anak lainnya. Karena pengetahuannya mengenai kesenian, ilmu kimia, dan keuangan, khususnya akuntansi maka dia mendapatkan simbol penjaga berkepala anjing hutan suci. 

Ka membawa medali Anubis, pemegang rahasia-rahasia dunia orang mati dan kunci-kunci alkimia. Medali berbentuk kunci emas yang Ka bawa memiliki lambang Anubis yang bertelinga panjang di tengahnya. Ka dengan kecerdasan dalam memecahkan masalah-masalah kimia yang tak satu orang pun bisa memecahkannya membuat dia berhak untuk mendapatkan julukan ini. Tapi, dialah satu-satunya murid yang tak bisa menjadi raja jika masuk ke dalam daftar calon raja kerajaan karena dia berasal dari garis keturunan Ibrani.”

“Bagaimana menurutmu mengenai kesetiaan Ka kepada kita?”

“Tuanku, seluruh anak-anak di Akademi Kerajaan dididik untuk setia kepada kerajaan. Mereka dididik terlepas dari keluarga dan pengetahuan akan silsilah keturunan dihapus dari pikiran mereka. Khusunya Ka, tak ada satu pun catatan yang bisa kita katakan sebagai sebuah pengkhianatan kepada leluhur-leluhurnya. 

Ka, yang merupakan keponakan dari pemimpin Imran yang menguasai kaum Ibrani, selama hidupnya hanya berkumpul bersama kaumnya sebanyak tiga kali untuk keperluan belasungkawa dengan izin yang dikeluarkan oleh akademi karena paksaan dari Yes’a. 

Dia berbicara bahasa kita tanpa aksen Apiru lagi. Selain itu, dia merupakan siswa yang paling cerdas di kelas alkemia dan hapal berbagai resep pemumian dan pengobatan yang dipelajari dari riwayat-riwayat lama.”

Atmosfer musyawarah yang berjalan baik, ditanggapi dengan rasa gembira. “Anubis sebagai penguasa para mumi, satu kali pun tak pernah muncul dari Ibrani selama beribu- ribu tahun!” seru kepala komandan dengan sedikit bercanda. Candaan ini ditanggapi dengan perkataan keras oleh kepala pendeta yang masih diselimuti wajah curiga.

“Sekali Ibrani akan terus menjadi Ibrani. Meskipun dia membawa kepala Anubis, takkan ada bedanya... Raja Mesir takkan pernah berasal dari seseorang berdarah Ibrani. 

Abdi Apa, apakah kau berkata bahwa dia mampu menghapal seribu resep? Jika dia mau menghapal sepuluh ribu resep atau mengubah semuanya dengan kecerdasan alkimia yang dimiliki, aturan ini takkan pernah berubah! 

Ka akan terus mengabdi pada kerajaan, tapi karena garis keturunan dan asal usulnya dia takkan pernah bisa masuk ke dalam militer. Sekarang, dia bisa terus melanjutkan pekerjaannya di pusat spesialisasi milik akademi. 

Masa depan Ka akan ditentukan oleh keputusan raja dan ratu yang akan datang... Majelis Musayawarah, terima kasih atas informasi-informasi penting yang kalian berikan. Kalian bisa kembali ke tugas masing-masing....

Syarat-syarat yang diinginkan oleh kepala pendeta di awal musyawarah mendapatkan dukungan yang besar dan dengan penjelasan Apa, hasil keputusan musyawarah ditetapkan.... Ra, akan menjadi raja...

“Aku tak pernah merasakan kesedihan seperti ini atas kebutaan kedua mataku,” ucap Apa berulang kali, berhari-hari. Bersama dengan pelukannya terhadap Yes’a yang berputar- putar gembira seperti seorang putri peri, rasa rindu mulai terasa di dalam batin Apa....

“Apa-ku, penyerahan mahkota kepadaku takkan mengubah diriku, percayalah padaku. Aku masih putri kecilmu, Asiyah....”

“Mereka telah memutuskan untuk memberikan julukan Yesiyis kepadamu, wahai anakku... Mulai sekarang, aku harus membiasakan bahasaku. Aku harus memanggilmu dengan kata-kata yang layak bagi seorang ratu.”

“Ah, wahai Apa-ku! Kau adalah ibuku, ayahku, kakekku, dan juga guruku, Wahai Apa, siapa yang bisa mengalahkanmu dalam hal bahasa? Masih ingatkah kau dengan perjanjian yang kita buat? Ketika kau ingin aku diam atau mengingatkanku untuk bersikap lebih berhati-hati? Kau selalu memanggilku dengan panggilan ‘Asiyah’....”

“Bagaimana aku bisa melupakannya, wahai putriku yang cerdas! Berkat hal ini kita bisa melewati hari-hari pengasingan itu.”

“Bukankah dunia adalah tempat pengasingan ruh seperti puisi yang pertama kali kita hafal? Kita masih berada di pengasingan, Apa-ku...”

“Maksudnya?”

“Maksudnya, Apa-ku, permainan yang kita mainkan ini harus berlanjut selama kita masih hidup. Yang terhormat guru Akademi Apa-amon, sebagai sahabat setia Ratu Mesir Yesiyis, aku memohon darimu untuk menggunakan kata-kata sandi ini lagi sebagai nasihat-nasihat yang kau berikan kepadaku.”

“Tuanku, permohonan Yang Mulia merupakan sebuah perintah yang akan saya lakukan dengan senang hati.”

“Tapi, Yang Mulia ini sekarang ingin memakaikan mahkota dengan kedua tanganya kepada Apa,” ucap Asiyah sambil kembali memeluk Apa.

DUA RUANG, DUA CERMIN, DUA MAHKOTA...

Di waktu yang sama, keduanya merias diri mereka di depan cermin di ruang yang berbeda.... Mereka adalah Ra dan Asiyah. 

Mereka telah dipilih sebagai raja dan ratu yang akan memimpin kerajaan baru. Restorasi yang dibicarakan, sebenarnya merupakan sebuah masa yang akan mereka tinggalkan tak jauh dari sebuah revolusi berdarah. 

Fondasi pemerintahan lama Kerajaan Mesir akan kembali. Mahkota raja yang berpindah dari sang ayah kepada anaknya, akan turun-temurun diwariskan dalam garis keturunan mereka....

Lahirnya Asiyah dari garis keturunan raja, membuat pernikahan ini dua kali disahkan. Oleh karena itu, singgasana khusus dari emas milik Ratu Yesiyis di upacara penyerahan mahkota berdampingan sama tinggi dengan tahta milik suaminya, Raja Ra.

Perhiasan Ratu Yesiyis adalah burung Ibis. Simbol burung ini meninggi di sekitar mahkota emas dengan butiran-butiran permata berukuran besar yang di ujungnya dihiasi daun- daun dari batu kecubung bewarna ungu. 

Kedua sayap burung tampak mengepak dengan indah. Sementara itu, ujung-ujung ekor dihias dengan batu-batu permata berwarna biru tua. Ekor gaun berhias bulu biru menjuntai dari bawah mahkota gemilang yang menyapu lantai. Ujung ekor gaun ini dipegang oleh enam pengiring pengantin kecil. 

Semua itu mengubah ratu seperti sebuah siluet mimpi, sosok pengantin anggun dengan gaun megah berhias bulu dan mutu manikam, menutupi ratu dari ujung kepala hingga kaki, seakan terselubung misteri. 

Gaun pengantin yang diberinama ‘sungai yang berjalan’ oleh penjahit istana ini diselesaikan dalam waktu yang lama, hanya bisa diselesaikan dalam waktu empat puluh hari oleh empat puluh penjahit yang bekerja siang dan malam...

Sesaat sebelum mengenakan mahkota, untuk terakhir kali Asiyah memandang bayangannya di cermin... Benarkah wajah bertopeng ini miliknya?

Dia tak mengenal dirinya sendiri, mencari jiwa aslinya sekali lagi dia memandang wajahnya di putih batu marmer...

Ini adalah detik-detik terakhir sebelum dia menjadi Ratu.

Jeritan seorang gadis yang ingin melihat dirinya untuk terakhir kali...

Topeng ini, wajah ini apakah miliknya?

Makna apa yang tersirat dari menjadi seorang pengantin?

Orang yang menjadi seorang teman sampai kemarin, akankah menjadi seorang suami dihari ini dan hari-hari selanjutnya?

Perpisahankah, penyambutankah, ataukah penerimaan?

Dia akan menjadi ratu bagi seluruh Mesir...

Hatinya harus seluas permukaan bumi ini, pemaaf dan murah hati...

Apakah dia siap?

Sekejap teringat mimpi yang dia lihat kemarin malam ketika dia memandang dirinya di cermin... 

Berjalan di antara pasir- pasir padang pasir yang sangat luas, terembus angin hangat yang diam dan tenang ke wajahnya. Dia tahu, jalan ini akan menuju ke sebuah rumah... 

Bagaimanapun, dia tak tahu bagaimana dia tahu tentang rumah itu... Tapi, seakan rumah itu seperti akhir dari semua jalan di dunia ini... Dirinya diiringi sebuah suara batin yang asing. 

Akhir dari perasaan tak memiliki rumah yang selalu terpendam dalam hatinya sejak kecil, kesendirian yang selalu meluap dalam dirinya. Jika dia tiba ke rumah ini, seperti sebuah pengetahuan yang terbongkar. 

Dia percaya bahwa dia mengikuti jalan rumah pengetahuan dan cinta dalam mimpi yang dia lihat...

Dalam mimpinya, dia bertemu dengan Apa tua, kemudian bersama-sama dengannya pergi menuju piramida Raja Zoser di Padang Pasir Sakkara.

Keduanya berhenti di depan makam paling tua di Mesir yang dikelilingi makam-makam besar berukuran enam meter tanpa saling bertukar kata, seperti ayah-anak yang saling paham tanpa perlu berbicara. 

Apa membahas mengenai ‘pembelahan atau membuka hati batu’ kepadanya... 

Seketika, dia menyadari awan-awan hujan berwarna kelabu yang bergerak cepat melewati ujung piramida bertangga. Awan-awan berisikan air hujan ini menjelaskan ‘zaman air’ di hari-hari penciptaan. Hari-hari saat dunia hanya berisikan air... 

Dan dengan perintah Tuhan, muka Bumi bergerak di bawah perairan, puncak-puncak awal alam semesta yang diibaratkan dari lautan, keluar dari perairan. 

Di hadapan pemandangan inilah, dia memahami maksud ‘pembelahan hati batu’ yang Apa bisikkan kepadanya. Muncullah gunung-gunung pertama, puncak-puncak, seluruh permukaan Bumi dan terakhir, padang pasir seiring surutnya air.

Kemudian, sekali lagi mimpinya terpaku pada piramida bertangga... Sekarang, dia mengerti bahwa sebenarnya makam Raja Zoser merupakan sebuah prasasti yang mengingatkan pada hari yang membahas bahwa Tuhan takkan membiarkan kemanusiaan berjalan ke arah yang salah di muka Bumi ini. 

Sama seperti perasaan kesendirian yang berbagai cara apapun tak menenangkan dirinya, dia merasakan usaha Zoser membangun sebuah rumah yang akan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. 

Sesungguhnya, Piramida ini dibangun oleh Zoser seperti sebuah tangga yang memanjang tinggi ke langit.

Perjalanannya berawal dari puncak paling tinggi piramida pertama di muka Bumi ini... 

Batu-batu makam yang dimiripkan dengan sebuah lereng menuju langit didaki langkah demi langkah. Dari puncak paling tinggi, dia memandang langit dalam mimpinya... 

Entah bagaimana, jarak ditempuh dengan kecepatan berlipat-lipat, terbang di atas hati batu yang terbelah... 

Di balik langit-langit bertingkat tujuh, menuju surga keindahan ‘Kota Bambu’, lalu dari sana menuju ‘Kota Janji’ tempat harapan dan doa-doa dikirimkan, kemudian mengarah ke ‘Negeri Danau’ seperti yang tertulis dalam bunga-bunga. 

Akhirnya, mengunjungi pantai surga ‘aliran air yang berputar’ yang diyakini membersihkan semua yang masuk ke dalamnya... Perasaan memulai sebuah perjalanan menuju hati miliknya....

Sebenarnya, perjalanan milik Asiyah adalah sebuah perjalanan hati yang tak menginginkan pembelahan batu, dari batu rumah raja yang membuka hatinya... 

Di balik semua hal yang ditinggalkan oleh Apa dan Raja Zoser, setelah semua langit dan kisah surga satu per satu melewati batinnya... 

Hatinya seperti sebuah batu granit yang terbelah layaknya pemisahan dedaunan dari rantingnya, jatuh satu per satu. Dalam mimpinya ,dia melihat dirinya bertemu dengan Rumah yang telah dia rindukan sejak kecil...

Dalam mimpinya Asiyah tiba ke rumah...

Rumah yang dia temui setelah menempuh perjalanan penuh batu dan khayalan, rumah itu berada di hadapannya... 

Seakan, sebuah tanda yang dikirim Tuhan ke muka Bumi sebagai sebuah penghibur lara. Rumah yang dihadiahkan seperti sebuah tanda ini dia rasakan dengan seluruh hatinya. 

Sebenarnya, rumah itu tak lain tercipta dari pilar nurani... 

Rumah yang menyambung kan langit dan daratan... 

Ketika kepala diangkat untuk bisa melihat pancaran nurani dan kemegahan rumah itu, terjadi sesuatu yang aneh. 

Kedua matanya dihiasai berbagai warna. Dia merasakan para malaikat yang bentuk dan wajahnya tak terlihat bertawaf di sekeliling rumah itu dengan melafalkan doa-doa penuh kegembiraan. 

Batinnya bergetar aneh, rasa kesendirian dan tak memiliki siapapun yang sulit dia lewati tiba-tiba sirna. Dia pun mulai berputar gembira di sekeliling rumah. 

Semakin cepat berlari, semakin terbiasa dirinya dengan lingkungan sekitar. Saat bertawaf, perasaannya bergejolak ceria penuh dengan rasa bahwa dirinya terhubung dengan suatu tempat...

Dalam mimpinya, batu di dalam hatinya telah terbelah... 

Tergaris sebuah peta dari hatinya menuju langit, dari langit menuju rumah... 

Melewati semua rintangan dari lautan api, jalan tak berbintang, danau penuh serigala, naga-naga berkepala tujuh, para penyihir hitam... 

Tiba ke rumah ini... Rumah penuh misteri yang sampai sekarang tak pernah dia temui itu, seakan- akan menyambut Asiyah seperti anaknya sendiri...

Dengan kecemasaan, getaran hati yang muncul dari perjalanan ini membuat Asiyah terbangun di pagi hari di hari pernikahan...

Dan sekarang, dalam cermin yang dia pandangi sebelum mengenakan mahkota, Asiyah sekali lagi teringat mimpi yang dia lihat.

Dia pun mulai menggambar rumah itu dengan ujung jarinya pada permukaan cermin....

Ketabahan hati pada piramida, sebuah batu persegi...

Itu saja...

“Tuhanku, terimalah aku dalam rumah-Mu. Selamatkanlah aku dari kesendirian, jauhkanlah aku dari kesombongan para raja dan ratu terdahulu, bukakanlah hatiku kepada-Mu. Takdirkanlah aku untuk menjadi tamu di rumah-Mu,” terucap butiran-butiran doa dari bibir Asiyah.

Cahaya Matahari siang terpancar ke seluruh pelosok Memphis. Pancaran yang semakin terang di bawah teriknya Matahari ini sering kali membutakan mata di usia yang masih muda... 

Di jam itu, semua makhluk, sampai serangga-serangga di muka Bumi seolah berlomba untuk berlindung di suatu tempat agar tak jatuh ke dalam pancarannya...

Ratu, di saat seperti ini, tak merasakan rasa kantuk. Dia berjalan di sekitar pohon-pohon palem yang dengan bayangannya mengingatkan pada taman surga. 

Dia memeriksa satu per satu bunga, kemudian berhenti di bawah pohon jeruk limau yang sangat dia sukai. Terkadang, berenang di kolam ujung selatan taman bersama satu atau dua pengiring pengantin yang menjadi teman curahan hati. 

Karena kesukaan sang Ratu pada batu granit ungu yang diambil dari Aswan, dengan perintah raja, kolam yang diberi nama ‘Mimpi sang Ratu’ ini dibangun untuknya sebagai hadiah. 

Di atas kolam, terdapat atap yang mengingatkan pada awan. Pilar-pilar tinggi dari batu granit Aswan berwarna ungu yang menopangnya membuat orang-orang yang baru melihatnya mengira seakan bukan terbuat dari batu, melainkan bulu-bulu burung....

Di Mesir, setiap batu memiliki bahasa mereka masing-masing. 

Alkisah, sebuah bangunan Krizantem yang dibangun untuk seorang ratu pada suatu masa yang terkenal akan kecantikannya, berakhir dengan amarah sang Raja. 

Rasa cinta kepala arsitek yang tumbuh diam-diam sekeras batu granit dan seluruh rahasia terbongkar ketika batu menjelma daun-daun Krizantem, menghasilkan karya yang mengagumkan... Dan yang terjadi, terjadilah...

Di hari pembukaan bangunan Krizantem, raja dengan tatapan tajamnya menyadari rasa cinta sang arsitek kepada permaisurinya yang terlihat dari cara memandangnya... 

Dengan murka, raja memerintahkan untuk menghancurkan bangunan itu, rata dengan tanah... Tak cukup di situ saja, kedua mata kepala arsitek dibutakan dan dikirim ke Nubye sebagai budak. 

Seribu budak dengan palu di tangan mereka ditugaskan untuk meleburkan semua reruntuhan bangunan selama empat puluh hari sampai hanya tersisa tumpukan puing berwarna ungu. 

Tetapi, malam itu terjadi peristiwa yang sungguh aneh. Tumpukan puing granit ungu itu dalam satu malam berubah menjadi taman bunga mawar. 

Raja yang menyadari hal ini di pagi hari kehilangan akal sehatnya dan menjadi gila. Mengikuti perintah para pendeta, budak-budak membabat dan membakar bunga-bunga mawar itu. 

Sang Ratu yang melihat semua kejadian ini jatuh sakit karena tak tahan menahan kepedihan, meninggalkan dunia untuk bersanding dengan puing-puing granit ungu di pagi hari itu juga. 

Batu granit kemudian dikenal sebagai ‘batu perpisahan’. Para perancang istana di masa-masa berikutnya selalu mengambil langkah berhati-hati dalam mendirikan bangunan untuk ratu. Mereka dengan sengaja akan meninggalkan sebuah kecacatan, meskipun kecil.

Dan oleh karena itu, patung-patung bastet (kucing) dan ibis yang menghiasi kolam dan tempat berteduh Ratu Asiyah memiliki sebuah kecacatan. 

Salah satu mata bastet dipahat juling, sementara burung ibis dipahat dengan satu sayap yang patah ujungnya... 

Sang Ratu justru sangat menyukai kesalahan dalam pahatan-pahatan patung itu. Terbesit dari hatinya bahwa kesempurnaan adalah sifat yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Dia menganggap bahwa kesalahan atau kecacatan merupakan sebuah kesempatan, sebuah penyesalan, sebuah keputusasaan dan waktu untuk berdoa. Sebuah permohonan bagi manusia...

Dia memiliki pemahaman yang berbeda dengan sang Raja mengenai keutuhan dan kesempurnaan. Sang Ratu menyukai hal-hal yang ramah, wajar, dan biasa. 

Sementara itu, kesempurnaan yang diimpikan oleh sang Raja berubah menjadi sebuah kesombongan dalam dirinya. Pemujaan atas kesempurnaan ini membawa dirinya ke arah keangkuhan yang mutlak di atas segalanya, sebuah perasaan kesempurnaan mutlak yang berkibar dalam dirinya... 

Senyuman sinis dan tawa cemoohnya hadir saat ia melihat bastet yang juling dan ibis yang hanya memiliki satu sayap. 

Tapi, sang Ratu sangat meyukai dari hati yang paling dalam terhadap kucing bermata juling yang gemetar di hadapan keangkuhan dan burung yang sayapnya terluka oleh keegoisan ini. Terkadang, dia membelai patung-patung itu dengan berlinangan air mata seolah lupa bahwa mereka terbuat dari batu...

Ratu tiba ke seberang setelah bergerak dua langkah melewati bagian kolam yang paling dalam, menyentuhkan tangannya di dinding marmer seperti dalam perlombaan renang di masa kecil, kemudian bersandar di tembok batu syenit berwarna perak yang berkilau di bawah sinar Matahari. 

Dia mengambil napas panjang di depan batu-batu yang memberikan kehangatan di punggungnya itu, kemudian berenang dengan kecepatan yang membuat cemburu ikan-ikan ke sudut seberang berjarak dua puluh meter.

Meskipun bukan merupakan sebuah adat di Mesir untuk memasukkan seluruh bagian kepala ke dalam air, ratu sangat menyukai gaya berenang ini yang juga bermakna terlepas dari riasan resmi kerajaan. 

Selain di hari hari raya atau perayaan, empat buah rambut palsu berbeda, bedak putih, dan riasan mata memenuhi wajahnya seperti sebuah topeng. Bagi sang Ratu, ini merupakan siksaan... 

Setiap waktu siang hari di musim panas... Merupakan waktu sang Ratu untuk bebas dari seluruh beban... Kemurniannya mengejutkan para pengiring pengantin, membuat mereka bertanya-tanya betapa mudanya dia. Di hadapan mereka, berdiri sosok perempuan muda Mesir yang sebelumnya selalu tertutupi oleh riasan.

Taman ini memiliki beraneka tumbuhan yang langka. Berkat kasih sayang Ratu Mesir yang rendah hati, semua jenis tumbuhan di negeri ini bisa ditemukan di sini. 

Pohon-pohon akasia yang merupakan simbol Nil, pohon-pohon delima berbunga merah, pohon ara yang setiap daunnya memanjang, pohon-pohon kurma yang tak hanya diberkahi dengan buahnya saja, melainkan seluruh bagiannya bisa digunakan sebagai anyaman, sapu, keranjang, dan tongkat... 

Tak hanya itu, banyak pepohonan yang memiliki tampilan biasa tumbuh di dalam taman. Para bangsawan kerajaan lainnya tak menyukai pohon-pohon umum ini. Bagi mereka, tumbuhan langka lah yang terpenting.

Ratu Asiyah sangat menyukai taman yang indah ini, tapi impiannya tidak berubah. “Jika mempunyai sebuah rumah, aku akan menanam bunga mawar dan tanaman mint, kemudian semangka dan labu...,” ucap sang Ratu. 

Namun, sang Raja melihat impian rendah hati itu sebagai sebuah kesederhanaan yang dimiliki oleh orang umum. Raja terkejut dengan sikap permaisurinya yang belum beradaptasi dengan lingkungan istana besar. 

Dengan geram, dia berkata pada dirinya sendiri. “Rumah selalu ada dalam pikiran sang Ratu. Meskipun kita membuat sebuah istana dari emas untuknya, belum terhitung sebagai rumah yang dia impikan!”

Padahal, mereka dulu memimpikan rumah yang sederhana di hari-hari kecil mereka, masing-masing terhubung dengan kasih sayang keluarga. 

Terkadang, Apa membawa mereka menuju tempat persinggahan musim panas milik temannya di kampung sekitar istana. Pengalaman hidup sederhana bersama orang-orang di sana merupakan kenangan yang paling tak terlupakan dari hari-hari masa kecil mereka. 

Kehidupan desa jauh dari kesombongan, saling mencintai dari hati dan penuh keceriaan. Hari saat mereka harus kembali ke istana setelah menyelesaikan liburan yang pendek dan kembali mengikuti peraturan dingin istana membuat Apa khawatir dan sedih...

“Ah, betapa indahnya saat itu,” ucap sang Ratu ketika mengenang hari-hari itu. Meskipun istana memberikan semua kebutuhan dan kemegahan, bagi Ratu Asiyah itu tak pernah bisa menjadi rumah impiannya, takkan pernah...

Meskipun miskin dan sederhana, keramahan, kasih sayang, dan pengorbanan yang terhubung satu sama lain membentuk ikatan hangat keluarga di dalam rumah. 

Membayangkan dapur kecil yang memberikan seribu satu harapan membuat hati sang Ratu bahagia. Tapi, apakah istana seperti itu? 

Orang tua yang takut dengan amarah anak-anaknya, anak-anak yang diasingkan dengan perintah orang tua, saudara-saudara yang saling meracuni karena ambisi menduduki tahta, kerabat yang saling memandang dengan pandangan memusuhi, anak-anak bangsawan yang sudah lama lupa dengan orang tuanya...

Kekayaan, tahta, dan kekuasaan takkan pernah cukup memenuhi kekosongan yang ada pada manusia. Peraturan- peraturan istana mengubah masing-masing individu menjadi patung marmer. 

“Istana mengikuti budaya pemakaman,” pikir sang Ratu. Pahatan-pahatan makam yang megah, seakan semua penghuni Istana membatu seperti patung-patung pada pemakaman yang megah.

Ketika sang Raja dalam keadaan bahagia, ia akan berkata dingin sambil membuka tangan kanannya. “Sempurna,” ucapnya. Ungkapan itu membuat seluruh bulu kuduk Ratu Asiyah berdiri. Ungkapan ‘sempurna’ yang diucapkan seakan mengubahnya menjadi batu bersama keangkuhannya, menghancurkan ruhnya, membuatnya menjadi benda mati. 

Rencana sempurna kemiliteran, rencana sempurna perancangan, dekorasi sempurna, kekuatan sempurna, keindahan sempurna...

Kehausan dalam mencari, menginginkan, dan mengharapkan kesempurnaan ini membuat sang Raja tak bahagia dan tak pernah puas. Membuat dia merendahkan semua orang. 

Misalnya, selain sang Ratu, tak ada satu pun orang yang boleh mendekat lebih dari empat meter, tahta dan kursi-kursi yang akan dia duduki harus lebih tinggi, bahkan ketika berjalan, tempat untuk berhenti sudah dia tentukan sebelumnya. 

Tak pernah terbatuk-batuk, tak pernah jatuh sakit, tak pernah lelah, tak pernah berkeringat, tak pernah kelaparan, tak pernah kehausan, tak pernah tersenyum, tak pernah menangis... 

Sang Raja mulai bertingkah laku layaknya patung. Tempat yang bisa mengubah orang menjadi seperti itu bukanlah rumah, tapi hanya bisa terjadi di bangunan penuh kemegahan bernama istana.

Meskipun sang Raja tak layak bagi istrinya, dia tak pernah melukainya. Dia memberikan dua puluh tukang kebun yang dipilih langsung oleh ahli taman istana karena sang Raja mengetahui kesukaan Asiyah terhadap tanaman.

Salah satu pohon yang sangat disukai oleh ratu adalah akasia. Pohon-pohon Akasia yang tumbuh besar di tepian Nil, memiliki aroma yang wangi dibandingkan pohon lainnya. Embusan angin yang menggerakkan daun-daun dan ranting- ranting akasia, seakan seorang perempuan yang menyisir rambutnya..

Sementara itu, pohon-pohon ara yang buah-buahnya penuh rasa manis madu dilihat dengan mata sang Raja di taman sang Ratu. 

Asiyah selalu berdoa agar pohon yang terkenal bermanfaat bagi masyarakat ini mampu mengenyangkan orang- orang yang lapar dan memberikan kekuatan hidup bagi yang lemah. Pohon ara disebut sebagai pohon surga oleh orang- orang Mesir. 

Hadiah Allah yang diberikan kepada rumah-rumah miskin yang dapurnya tak mengebulkan asap, anak- anak yatim, dan orang-orang tua yang lemah. Pohon ini juga melindungi para petani dari terik Matahari dengan tangan- tangan hijaunya sehingga mendapatkan kehormatan yang tinggi. 

Dalam pandangan sang Ratu, pohon ini seperti seorang ibu Mesir yang dermawan. Di masa-masa musibah kelaparan, taman milik sang Ratu ini terbuka bagi masyarakat, membantu meringankan penderitaan mereka. 

“Kami mencintai sang Ratu seperti mencintai buah ara,” seru masyarakat tak mampu. Oleh karena itu, Raja Ra berterima kasih kepada sang Ratu. Dia menyatakan sang Ratu sebagai ‘Ibu Rakyat’ di masa-masa kelaparan yang terjadi beberapa tahun yang lalu dan pohon ara dengan buahnya yang melegenda sebagai pohon suci.

Pohon lain yang disukai oleh Ratu Asiyah adalah pohon palem. Buahnya seperti madu dari sekumpulan sarang lebah. Sang Ratu menyamakan buah pohon ini seperti perempuan Mesir berkulit kecokelatan yang bekerja keras. 

Pohon rendah hati ini memiliki jiwa di dalam jiwa. Bagian-bagiannya digunakan sebagai anyaman, tongkat, keranjang, dan sapu... 

Sang Ratu menyebut pohon ini sebagai ‘Peti barang milik Mesir’. Perawatan pohon dilaksanakan dengan teliti, sesuai arahan sang Ratu. Pohon palem juga ditanam di seluruh pelosok Mesir.

Bagaimana dengan kurma? Buah yang mengeluarkan suara renyah ketika digigit ini merupakan kejutan bahagia yang dipersiapkan bagi anak-anak Mesir. 

Buah-buah kurma yang juga dikenal sebagai halvah ini memberikan kekuatan kepada yang orang yang memakannya, melindungi dari segala permasalahan. 

Orang-orang melihat pohon ini seperti bagian dari keluarga besar, bahkan benih yang dihasilkan oleh pohon betina pun disebut sebagai ‘kelahiran’, tunas yang berumur sampai delapan tahun disebut ‘anak’, pohon yang berumur tujuh puluh hingga delapan puluh tahun dan seluruh daun-daunnya menguning tua mendapatkan segel ‘wafat’. 

Pohon kurma betina disebut ‘nyonya’, sementara pohon jantan disebut dengan panggilan ‘tuan’. Orang-orang Mesir memberikan perlakuan yang berbeda kepada pohon kurma dari pohon yang lain. 

Selama beberapa malam, Asiyah merasakan daya tarik dengan pohon kurma yang memukau dirinya. Dia menganggap pohon ini seperti seorang sahabat perempuan berwarna cokelat tanah tempat bercurah hati. 

Dia memberikan nama kepada pohon-pohon itu satu per satu, memberikan perawatan lebih kepada pohon-pohon kurma betina yang tengah berbunga, dan menyebarkan perintah untuk menanam biji-biji berjarak kurang lebih satu meter dari pohon dewasa sampai biji-biji itu genap berumur tujuh atau delapan tahun.

“Memisahkan anak dari sang Ibu adalah kejahatan yang besar,” ucapnya, ketika mengetahui biji-biji yang ditanam jauh dari pohon dewasa akan mati dalam satu atau dua hari. 

Dia memeriksa sendiri laporan yang dicatat oleh seluruh petugas yang berkewajiban mengawasi pohon kurma di Mesir. Ratu Asiyah selalu memeriksa berapa jumlah pohon betina, pohon jantan, dan biji-biji kurma yang hidup di Mesir. 

Biji-biji yang dikeluarkan dari pohon-pohon kurma betina dengan ketelitian dan kecermatan akan tumbuh besar dan sehat di samping sisi ibunya. Memasuki musim semi kesembilan, mereka diambil dari tempatnya dan dibawa ke lokasi berbeda untuk tumbuh menjadi ratu-ratu taman yang baru.

Ratu Asiyah mendapatkan pengetahuan dan informasi mengenai tanaman dari para tukang kebun. Dia juga suka mendengarkan cerita-cerita mengenai beragam tanaman dan pohon yang belum pernah dia lihat dari para diplomat dan pengembara yang datang berkunjung ke istana. 

Dia akan meneliti daun-daun yang dikeringkan dengan penuh rasa ingin tahu, meminta gambar pohon-pohon kepada para duta besar, dan mengarsipkan semua catatan mengenai tanaman.

Keingintahuan yang tak ada habisnya terhadap hal-hal baru dan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah salah menjadikan Ratu Asiyah berbeda dengan petinggi kerajaan lainnya. 

Dan bintang-bintang...

Di malam hari, bintang-bintang memancarkan sinarnya dari langit seperti lilin... Lilin bintang ini terus berkedip di kedua mata Ratu Asiyah. Layaknya orang dalam kesendirian, dia juga berkali-kali berbicara dengan bintang-bintang. Dia menceritakan seluruh permasalahannya kepada mereka.

Ra! Ah, Ra! Sebelum menjadi Raja, ketika jiwa masih bebas, karakter Asiyah inilah yang sangat dia sukai, pancaran sinar dari kedua matanya itu.. Tapi, kenapa sekarang dia sama sekali tak menyadari hal itu? Asiyah menangis sedih, seakan kedua mata itu seperti sepasang orang bersalah yang terpenjara...

Padahal, Asiyah adalah perempuan yang sang Raja cintai sampai hari kemarin. Bukankah baginya dia adalah ‘negara’?

Bukankah dia mengatakan ini semua kepada perempuan yang dia cintai di hari saat mereka besama-sama memandang Mesir dari patung paling tinggi di pemakaman kuno yang terletak di Kefren? 

Dari tempat yang tinggi, hari itu Mesir tampak tak berujung seperti sebuah perkebunan gandum. Dengan bentuk geometri yang rata, busur-busur persegi dan perkebunan-perkebunan yang terbelah dengan aliran saluran air dari bata yang dikuatkan dengan lumpur Nil, rumah-rumah tradisional Mesir dengan dinding berwarna putih....

Negara indah yang tersiram berkah Nil. Bukankah telah tersedia perkebunan, taman, dan ladang yang subur? Dengan tangan kanannya, dia menandai seluruh cakrawala. “Inilah negaraku,” seru Ra... Kemudian, sambil memandang dalam kedua mata calon pengantinnya, Ra kembali berseru. “Inilah negaraku!”

Asiyah akan menjadi istrinya, negaranya, tempat tinggalnya, tanahnya.... 

Tapi, impian yang Asiyah harapkan tak sejauh ini. Dia, memandang orang yang dicintai lebih seperti sebuah rumah, bukan negara. Hari-hari yang dia lewati di istana tak pernah memenuhi kekosongan rumah yang dia tinggalkan di masa kecilnya. 

Leluhur Asiyah yang sebenarnya juga para raja, tapi dalam hati kecilnya mereka lebih seperti seorang ayah, paman, dan kakek dibanding seorang raja... 

Takdir juga menjadikan dia seorang istri raja. Tapi, dalam hatinya masih ada perasaan ‘ketiadaan rumah’ lama itu... Dengan berbagai cara, dia tak pernah bisa menghapuskan perasaan ini dari dalam dirinya. 

Selama beberapa waktu di hari-hari awal pernikahannya, harapan mengenai ‘rumah’ sekali lagi bersinar. Tapi, dalam waktu singkat sinar itu padam oleh peraturan istana yang keras dan dingin. Menghancurkan seluruh impiannya...

Betapa panjangnya malam di istana.... Kesibukan raja yang harus mengikuti perjalanan jauh dan memimpin pasukan saat menghadapi musuh membuat Asiyah kerap merenung sedih di malam-malam yang dia lewati sendiri. 

Sebuah negeri yang terhimpit oleh panas dari timur maupun barat sepanjang hari dan ketika malam tiba kesejukan berganti mengapitnya. Malam dan siang layaknya batu es yang dijemur, satunya sangat dingin sementara yang lain membakar. Satunya memanggang, yang lain memadamkan.

Menjalani kehidupan sesuai dengan iklim merupakan salah satu adat orang-orang Mesir. Oleh karena itu, hidup dimulai setelah siang hari, menggunakan seluruh energi di malam hari, lalu beranjak ke tempat tidur mereka di pertengahan malam. Dan waktu-waktu itu adalah saat Ratu Asiyah bisa terlepas dari keramaian palsu dan meluangkan waktu untuk sendiri.

Dari teras balkonnya, dia memandang Sungai Nil yang mengalir dengan seribu satu rahasia, mengucapkan salam, kemudian memandangi rumah-rumah yang memancarkan keramahan di bawah pancaran sinar Bulan. Dia menghafal seluruh jalan yang dia lihat dari dataran rendah sampai ke puncak-puncak bukit, menandai satu per satu lilin yang padam, dan menghitung tirai-tirai.

Berdoa kepada Allah...
Berbicara dengan Allah...
Kesendirian memenuhi hatinya. Tak ada selain Allah...

Tanah-tanah yang subur dan diberkahi merupakan amanah dari tuhan, sebuah pertanda.... Orang-orang Mesir sangat peka mengenai hal-hal, seperti permohonan dan syukur kepada-Nya, ketakutan akan azab-Nya, dan perlindungan-Nya... 

Ketakwaan bukan hanya berupa ritual-ritual pendeta yang megah. Dengan paksaan para ibu, agama bagi masing-masing anggota keluarga menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Hujan yang hanya turun selama dua puluh lima hari di satu tahunnya adalah segalanya. Para penguasa di setiap kota yang ditaklukkan merasa bahagia menyambutnya, seperti ‘menaklukkan sebuah awan berisikan air’. 

Dan Angin...

Angin dingin berembus dari utara, hingga negeri Punt, yang berhasil menyakinkan butiran-butiran kecil pasir untuk bercampur menjadi satu, membakar kulit-kulit yang disentuhnya... 

Angin besar yang berembus dari negeri piramida hitam yang juga dikenal dengan sebutan Hartum ini meluas hingga wilayah Delta yang berada di selatan. 

Sementara itu, jika embusan angin dari arah pantai bertemu embusan angin yang berlawanan arah di tepian tebing Gunung Meltem akan menimbulkan kekacauan yang besar. 

Angin dingin itu mengangkat butiran-butiran pasir di sepanjang Sungai Nil. Tangan-tangan angin dingin penuh dengan pasir, menutupi semua yang berada di sekelilingnya... 

Hujan pasir ini jatuh mengguyur pasar-pasar, tempat berdagang, gedung- gedung pemerintahan, para pengembara yang berteduh di bawah pohon-pohon palem, hingga orang-orang lanjut usia yang beristirahat di tempat persinggahan. 

Selama lima puluh hari, seluruh Mesir menjadi tawanan angin dingin ini. Dan memang karena sebab inilah masyarakat memberikan nama itu kepadanya.

Tapi, para raja terus membangga-banggakan dirinya, meskipun negerinya dihimpit Matahari dan angin... Di setiap masa angin dingin ini, wajah dan kedua mata mereka dipenuhi pasir, membutakan pandangan...

Asiyah tertawa menyaksikan para petinggi kerajaan dalam lima puluh hari masa angin ini. Mereka tak pernah keluar dari rumah setelah siang hari... 

Di lima puluh hari ini, mereka lebih sering membuang waktu mereka di dalam sauna. Sebuah sauna istana berbentuk persegi dengan atap kubah yang di bawahnya terdapat sumber air panas menjadi tempat favorit. Sauna yang terletak tak jauh dari pintu utara istana dan dihubungkan dengan sebuah lorong menurun ini merupakan satu-satunya hiburan para petinggi kerajaan di masa angin dingin ini. 

Di dalamnya terdapat ruang-ruang dengan kolam air panas berukuran besar bagi para lelaki serta cekungan besar dengan air terjun untuk para perempuan dan anak-anak. 

Cekungan air terjun ini tak hanya digunakan sebagai pemisah kolam laki-laki dan perempuan saja, tapi di waktu yang sama sebagai tempat pembuangan air yang digunakan istana untuk mencuci ke Sungai Nil.

‘Dua pantai yang menuju pembangkitan’ adalah sebutan yang diberikan kepada surga air bawah tanah ini. “Bahkan, mumi akan bangkit seketika jika dimandikan di air panas ini,” kata para pembuat kolam penuh kebanggaan... 

Dan hanya bagian yang digunakan oleh raja dan keluarganya yang dilapisi dengan batu granit dan dihiasi bunga-bunga teratai ungu... 

Berbagai macam perlengkapan mandi mewah untuk para pangeran dan putri, seperti susu, minyak thyme, dan minyak zaitun tersedia melimpah. Juga batu-batu hangat untuk pemijatan....

Suatu hari, cincin sang Ratu hilang dalam tumpukan pasir di ruangannya setelah angin badai...

Cincin berlian yang ditemukan oleh seorang budak hitam dan tanpa sepengetahuannya dipasangkan ke jarinya ditafsirkan oleh Kepala Pendeta Haman sebagai sebuah pertanda buruk. 

Dengan dakwaan telah mencuri cincin yang merupakan tanda kebesaran kerajaan, mereka memutuskan untuk segera mengeksekusi budak hitam itu. 

Setelah semua selesai begitu saja tanpa satu orang pun memahami yang terjadi, sang Ratu baru menyadari ada sesuatu ketika melihat dua pesuruh baru... 

Hubungan sang Ratu dengan Haman pun semakin memburuk. Tindakan eksekusi tanpa pengadilan itu membuat sang Ratu menyalahkan kepala pendeta. 

Sementara, kepala pendeta menunjukkan penentangannya dengan mengatakan bahwa sang Ratu telah mengabaikan peraturan kerajaan dengan membaur bersama dua budak yang kemudian menyebabkan hilangnya cincin kerajaan, di hadapan para bangsawan dan pendeta...

Ketika sebuah tulisan bernuansa ancaman yang berisikan bahwa hal ini akan dijelaskan di hadapan sang Raja setibanya dari perjalanan... Kepala pendeta lantas memutuskan untuk meninggalkan istana dengan alasan ingin mengawasi pembangunan kuil di kota Teb. 

Sementara itu, sang Ratu memutuskan untuk pergi menuju Gosen, kota lama para Apiru bersama Karun yang merupakan salah satu sahabat masa kecilnya dan juga seorang ahli kimia kerajaan...

Bagaimana mungkin jarak antara sang raja dan sang ratu membentang sejauh ini? Bagi Raja Pare-amon yang melakukan satu perjalanan ke perjalanan lain, apakah ada makna selain kehormatan di mata masyrakat dan harga dirinya? 

Keberlanjutan kerajaan tak diragukan lagi hanya menjadi tanggungan sang Ratu. Dia, Sang Ratu Yesiyis, seperti seekor lebah yang duduk di tahta besar Mesir...

Kesunyiannya.... Pengorbanan dirinya untuk masyarakat dan kemanusiaan... Sebuah perjalanan hidup untuk tidak hanya menjadi seorang perempuan biasa, melainkan sebagai pelindung yang murah hati.... 

Sebenarnya, di awal mereka adalah teman baik. Bahkan mereka bisa berbicara berjam-jam mengenai politik Mesir sampai ke kehidupan sehari-hari dan berbagai jenis peristiwa sosial.

Berputar... Berputar... Berputar... Putaran sang Raja menghanguskan. Setiap putaran, seperti sebuah tarian api yang menjauhkan dirinya kepadanya. Menjauhkan dari Asiyah dengan kekuatan yang berpusat pada irama tarian api...

Menjauh dari suara kebaikan dan kebenaran... Menjauh dari cinta sultanah...

Raja, dirinya sendiri yang selalu menunda ide tentang sebuah rumah di kemudian hari, seperti akan menemukannya dengan mudah setelah mati. Sekarang adalah waktunya perampasan, perampasan hari, perampasan detik, perampasan dunia.... Tak memiliki rumah, tapi tenggelam dalam dunia.

Mendapatkan semuanya, menaklukkan semuanya, tapi tak pernah mendapatkan hati Asiyah, dan itulah satu-satunya yang tak dapat dia taklukkan...

Asiyah adalah sultanah cinta.

Maka dari itu namanya Firaun, nasibnya terputus-putus, sang raja yang bergantung pada takdir...

Dia yang berada di sisi sang ratu tak lain hanyalah seorang laki-laki yang kehilangan jalannya....

Di sisi? Sungguh menyesalkan! Dia, sang raja, tak berada di sisinya, meskipun ketika dia berada bersamanya...

Sesungguhnya, Raja Pare-amon merupakan hasil dari politik yang terbentuk dengan mahir oleh Haman. Meskipun terlihat sebagai peran utama, sesungguhnya sang raja merupakan orang kedua dalam permainan. 

Sifat tak mau ada kesalahan dan kesempurnaan selalu dijadikan dan diarahkan sebagai kekuatan mutlak yang diharapkan oleh penasihat Haman yang sangat tahu akan sifat raja...

“Ratuku, kita akan melakukan perjalanan menuju Gosen. Kita akan segera melakukan persiapan yang diperlukan sesuai dengan harapan Ratu.”

“Ah Apa, abdiku yang bijaksana dan setia. Seperti yang engkau katakan di masa kecilku, ‘setiap pengembara akan menemukan keindahan dalam perpindahan tempat.’ Kami pun melakukan hal yang telah kau ajarkan kepada kami. Dan sesungguhnya, Ka, pemimpin Akademi Ilmu Pengetahuan Kerajaan, tak begitu suka dengan tanah kelahirannya karena perjalanan ini. Tapi kau tahu apa yang mereka katakan, setelah sang Ratu telah naik ke atas tandu maka tak ada kata untuk berbalik. Kita pun akan melanjutkan perjalanan ini bersama para pengiring...”

Ketika mereka berbicara seperti ini, Karun yang namanya tercantum di antara orang-orang yang melakukan perjalanan sibuk memandang tempat kerjanya di Akademi Ilmu Pengetahuan untuk terakhir kalinya. 

Dia mengambil pena peraknya untuk memberikan catatan terakhir mengenai pekerjaan alkimia yang dia kerjakan. Tepat ketika akan menuliskannya, dia menyadari dari balik bahunya bahwa seorang pemuda pembantunya yang bernama Yeş’u berada dalam ruangan tanpa sepengetahuannya dan sedang memandang dirinya. 

“Tuanku, dari apa yang saya dengar, Anda sedang mempersiapkan perjalanan menuju tanah kelahiran Anda, Gosen”....

“Aku kira sudah memperingatkanmu untuk tak berbicara sembarangan seperti ini sebelumnya, wahai Yeş’u. Hanya ada satu kota kelahiranku, dan itu adalah Kerajaan Mesir yang suci ini. Gosen hanyalah salah satu wilayah kekuasaan Mesir. 

Jabatan ini aku dapatkan dengan usahaku dan ilmu pengetahuanku. Tak ada satu pun campur tangan dari keluarga atau garis keturunanku. 

Suatu hari, hal yang sama akan tiba padamu, wahai Yeş’u... 

Aku menyarankanmu untuk mengambil contoh karir dan jabatan yang aku miliki. Jangan pernah berpegang pada hal lain, selain kecerdasan dan ilmu pengetahuan dalam hidup ini."

“Kami sangat menghargai posisi Tuan Ka yang didapatkan dengan kekuatan, kepintaran, dan ilmu pengetahuan. Kami semua mencontohnya. 

Tapi, kami juga berharap untuk mengingatkan mengenai kehidupan akhir-akhir ini yang bertambah buruk dikarenakan sistem kasta yang mutlak dan politik kependudukan yang dijalankan oleh kerajaan bagi orang-orang keturunan bangsa Israil...” 

“Yeş’u, ini semua adalah permainan politik. Jika para keturunan bangsa Israil ingin selamat dan terbebaskan dari keadaan yang buruk ini, mereka harus mengambil contoh aku dan dirimu. Semua kehormatan hanya bisa didapat dengan kecerdasan yang tinggi, ilmu pengetahuan, dan kesenian...”

“Di surat-surat terakhir yang aku dapatkan, mereka menuliskan bahwa paman Anda, Tuan Imran, sedang mengalami musibah dan sakit. Dan mungkin perjalanan ini akan menjadi perantara untuk mengucapkan duka cita dan sebagai silahturahim kepada mereka.”

"Wahai Yes’u muda, Apapun perintah yang diberikan oleh Raja Pare-amon dan Ratu Yesiyis yang aku banggakan, akan aku lakukan sesuai harapan mereka, termasuk perjalanan ini. Aku tak memiliki hak untuk memohon hal-hal yang bersifat pribadi bagiku".

“Tuanku, semua orang di Istana sedang membahas perdebatan terakhir antara Kepala Pendeta Haman dan Ratu Yesiyis.”

“Orang-orang yang tak bisa menghilangkan gosip-gosip, takkan pernah mendapatkan peningkatan di dalam tugas- tugas pemerintahan, wahai Yeş’u. Kami semua adalah teman yang saling kenal baik sejak hari-hari kecil dan muda. Ucapan- ucapan buruk itu hanyalah sebuah berita sesat yang dikatakan oleh orang-orang berhati buruk.”

“Tapi, Tuanku, keputusan ratu untuk melakukan perjalanan ini, meskipun raja belum kembali ke istana menjadi salah satu penyebab gosip muncul.”

“Ratu Yesiyis, sebagai putri seorang raja yang terhubung dengan kerajaan kuno dan seorang istri raja, merupakan satu-satunya orang di kerajaan yang mendapatkan hak untuk membawa segel bersimbol dua. 

Dengan tongkatnya, tak ada satu pun pintu, kota, dan rumah di Negeri Mesir ini yang tak bisa Yesiyis masuki. Jangan pernah lupa itu! Kepala Pendeta Ha pun tahu betul tentang hal ini, bahkan Raja Pare-amon pun memahaminya...

Sekarang, kita perlu mempersiapkan pakaian yang akan dibawa dalam perjalanan panjang ini. Aku ingin kau menjaga kesopanan, wahai saudara mudaku. Mari kita lihat apakah kecerdasaanmu juga sepanjang lidahmu! Jika aku menemukan sebuah kesalahan, bersiap-siaplah pembantu mudaku yang banyak bicara dan pemalas..."

“Semoga Tuhan melindungimu, Tuanku...”

“Tuhan-Tuhan, Yeş’u... Semoga Tuhan-Tuhan melindungi kita....”

Dengan kebiasaan merendahkannya yang aneh, seperti bukan keturunan bangsa Israil, melainkan dari garis keturunan para Kıpti, Ka mengucapkan perkataan terakhir itu dengan gerakan tangan khusus...

Dan akhirnya, Karun bisa mengikuti perjalanan rombongan Ratu Asiyah menuju kota kelahirannya, Gosen...

Sang Ratu dengan wajah penuh senyum puas melihat sekelilingnya.

“Kami sebagai rombongan Ratu Mesir Yesiyis datang ke hadapan Tuan Imran untuk berkunjung dan medoakan kesembuhan baginya. Kami mengenal Tuan Ka, pemimpin Akademi Ilmu Pengetahuan, seperti saudara kami sendiri. Posisi kerabat-kerabatnya, khususnya pamannya sangat tinggi di mata kami semua. 

Kenapa keluarga Anda yang berjumlah banyak ini tak hidup di rumah yang sesuai? Sejak kami melangkahkan kaki ke kota ini sampai tiba di tempat ini, kerusakan jalan-jalan tak terlepas dari mata kami. 

Sebenarnya, kami sangat terkejut dengan kondisi dan kehidupan yang dijalani oleh masyarakat di sini yang juga berada di bawah perlindungan kerajaan. Kami tak mengerti kenapa tak satu pun pengurus kerajaan melaporkan kondisi ini.

Lalu, tak adakah dokter yang memeriksa sakit Anda? Kami melihat Anda tampak kurus dan lemah. Apakah ada masalah kekurangan gizi di sini? Apa saja permasalahan yang Anda sekalian hadapi? Apa saja persoalan yang menimpa Anda sekalian? Katakanlah kepada kami dari hati yang paling dalam."

Batin sang Ratu terasa pedih ketika duduk di samping tempat tidur Imran yang terbaring sakit. Yakobed, istri Imran yang datang bersama putrinya untuk memberikan jamuan susu, memberanikan diri untuk berbicara setelah mendengarkan semua perkataan sang Ratu.

“Ah, Tuanku... Sang Ratuku... Ah, Nyonyaku... Semua permasalahan kami takkan pernah sampai ke istana emas Anda. Derita dan nasib kami takkan pernah sampai kepada Anda sekalian. 

Para kepala pengurus pembangunan yang ditugaskan dalam pembangunan candi sang Raja Pi-Pareamon memperkerjakan secara paksa seluruh laki-laki di wilayah ini. Selama satu minggu, mereka bekerja siang hari, lalu selama satu minggu lainnya mereka bekerja di malam hari. 

Semua laki-laki bekerja tanpa beristirahat di pembangunan candi itu. Suamiku Imran merupakan salah satu Apiru yang ditugaskan untuk menarik bongkahan-bongkahan batu terakhir yang memiliki tinggi kurang lebih enam puluh meter. 

Ketika tali gerobak putus, batu-batu besar itu bergulingan ke arah para pekerja yang berada di bawah. Di musibah terakhir, kurang lebih tiga puluh pekerja meninggal dunia tertindas batu. 

Suamiku Imran ketika menolong para pekerja yang berada di sekitar gerobak mendapatkan cambukan dari kepala pengurus pembangunan yang berhati keras. 

Tak cukup sampai di situ, mereka juga memberikan hukuman berat kepada para pekerja yang selamat. Beratus-ratus pekerja seperti suamiku Imran dijemur di tengah padang pasir yang terik dan panas. Penderitaan yang menimpa kami tak ada batasnya, Tuanku. 

Bukankah kita juga merupakan amanah-amanah Nabi Yusuf kepada Mesir? Mereka semua telah mengambil perkebunan dan perternakan kami di Gosen. Tapi, di tangan para Apiru masih terdapat sisa- sisa peninggalan kerajaan di masa Nabi Yusuf. 

Apa yang telah terjadi sehingga kami jatuh dalam hal seperti ini? Kami tak tahu kesalahan dan kelalaian kami. Para tentara kerajaan menghancurkan dan membakar perkebunan, merampas hewan-hewan ternak, dan menempatkan kami di lembah-lembah tandus. 

Mereka menawan semua dokter kami, tak ada lagi obat-obatan yang dapat digunakan untuk mengobati orang-orang yang sakit. Setiap malam, tentara datang ke rumah kami dan mengambil para pemuda secara paksa. Banyak yang tak mengetahui kabar mereka lagi, tapi kami mendengar bahwa mereka dipekerjakan di proyek- proyek pembangunan milik kerajaan. 

Syukurlah, biarkan mereka bekerja, itu pun kami ridho. Tapi, mereka memisahkan para pemuda itu dari keluarga mereka. Tentara membawa para suami perempuan muda ke tempat-tempat bekerja dan membiarkan anak-anak mereka yang masih kecil kelaparan. 

Kami juga tak diperbolehkan untuk bertani dan berkebun. Beberapa waktu yang lalu, pasukan kerajaan membakar perkebunan kami. Mengapa mereka melakukan semua ini? Ah, Tuan Putriku, tolong ampuni saya telah berbicara seperti ini. Maafkan keluarga kami, ampuni kami. Saya tak tahu apa lagi yang saya katakan karena kesedihan ini.”

Sang Ratu dengan mata penuh kesedihan melihat keadaan orang-orang bersih dan baik ini. Pemandangan tersebut meninggalkan luka dalam dirinya. Dia memberikan perintah untuk membawa masuk semua barang kepada pengawalnya. Keranjang-keranjang penuh hadiah, keranjang buah, aneka kain, dan alat-alat rumah tangga memenuhi seluruh ruangan, bahkan hingga halaman rumah.

Sang Ratu memerintahkan untuk menurunkan kursi perjalanan di halaman rumah Imran. Sebelum Matahari tenggelam, dia ingin berbicara dan berkenalan dengan orang- orang yang merupakan kerabat Karun ini. 

Para pemuda dan anak-anak mengelilingi Karun, memandang penuh kekaguman kepada sahabat ratu. Mereka semua membayangkan untuk menjadi dirinya. 

Ka tak nyaman dan merasa terganggu dengan keadaan ini. Pandangan dan gerak tubuh yang mengungkapkan keinginan untuk segera pergi dari tempat itu tertuju langsung pada ratu... 

Apa Tua pun merasa terganggu oleh sesuatu hal. Ia merasa tak nyaman. Tak ada perempuan-perempuan yang menari dengan iringan musik, tak ada juga alunan musik yang menghibur.

“Tuan Putriku,” ucapnya dengan suara berbisik. “Tuan Putriku, kita perlu tiba ke benteng di pesisir sungai sebelum hari gelap.

Seorang gadis kecil berlari mendekat ke arah sang Ratu, memberikan mahkota yang terbuat dari bunga. Dia adalah anak gadis Imran yang paling kecil... Sang Ratu membelai kepala gadis kecil itu seraya memberikan selendang kuning bersulam burung Ibis kepadanya, “Jangan lupakan aku,” bisik sang Ratu. Gadis kecil membungkukkan kepalanya ke depan, memberikan salam kepada Sang Ratu...

Ketika mereka tiba ke benteng di pesisir sungai, Matahari sudah akan tenggelam sepenuhnya. Benteng dengan tembok- tembok dan parit pemisah yang memisahkan wilayah-wilayah Apiru, bendera menara yang tak lepas di antara pengamatan istana. 

Sistem pembagian wilayah berbentuk segitiga dibuat untuk memantau perkembangan pupulasi Apiru di atur oleh sebuah benteng di bawah perintah kerajaan.

Ratu keluar menuju balkon di kamar kerajaan di benteng yang memandang ke arah sungai. Ketika dia memandang ke arah belakang, tak ada satu pun, selain lilin yang redup menyala di rumah-rumah para Apiru yang kumuh dan miskin. 

Sementara itu, ketika memandang ke arah lain di balkon, ke arah Istana, tampak sinar terang-benderang yang luar biasa... Sebuah sinar tampak seperti cahaya bulan... Siapa yang tahu hiburan apa, siapa yang tahu pesta apa yang dirayakan oleh penghuni istana. 

Para bangsawan terpuaskan dengan makanan dan minuman di pagi hari dan selalu disibukkan dengan ketidakpuasaan atas apa yang telah dimiliki. Ketika di satu sudut orang-orang menderita kelaparan, di sudut lainnya orang-orang hidup berlebihan. 

Di satu sudut hidup dalam kegelapan, sementara pada sudut lainnya diterangi sinar Matahari buatan yang terang, kuat, tak ada harapan, tak ada kepedulian, dan penuh kesombongan... Bagaimana dengan dirinya sendiri? Di mana dia berada di antara sudut-sudut ini? Sekali lagi, sang Ratu merasakan kepedihan tak berada di suatu tempat.

Kemudian, dia berbalik ke arah sungai. “Wahai temanku berambut panjang dan penuh kesabaran,” ucapnya kepada Nil... “Ceritakan apa yang kau ketahui kepadaku...”

Mereka akan berangkat di awal pagi hari keesokan hari. 

Apa akan membawa mereka ke pemakaman yang disebut sebagai “buluh-buluh muka Bumi”. 

Meskipun tak bisa lepas dari penglihatan kedua matanya, seseorang dengan batuk yang tak dipedulikan, kedua kaki yang semakin lemah di setiap langkah yang dia ambil, seperti sebuah kabar yang mengabarkan dekatnya dia dengan hari ajalnya. 

Menurut Asiyah, Apa adalah seseorang yang tak pernah lelah, takkan pernah lelah, tapi perjalanan ini seperti menyulitkan dirinya. Teringat kenangan-kenangan masa kecilnya, sang Ratu berbaring di tempat tidurnya sambil tersenyum. Terdengar sebuah suara pelan seperti lagu tidur, lagu ilahi dari kejauhan. 

“Itu pasti dari tempat semayam para Apiru,” pikirnya. Meskipun tak memahami apa yang diucapkan, syair lagu tidur itu seperti memberikan dukungan kepada dirinya...

Setelah dari Gosen, mereka memutar arah perjalanan ke barat laut padang pasir Sakkara. Setelah beristirahat beberapa waktu di depan piramida bertangga yang dibuat oleh Zoser, seorang Raja Kuno yang dipanggil dengan sebutan “Orang yang Membelah Batu”, mereka masuk ke dalam benteng berdinding tinggi yang terbuat dari batu kapur putih. 

Terdapat sebuah kenyataan yang mencemaskan. Proyek-proyek pembuatan bangunan besar yang diperintahkan oleh Raja Pareamon menghancurkan seluruh peninggalan kerajaan kuno, seakan ia ingin menghapus semua peninggalan peradaban kuno.

Ketika sang Ratu dan rombongan yang berada di bawah perlindungannya tiba di tempat pembangunan di Sakkara, rasa cemas dan khawatir memenuhi tempat ini. Para pekerja yang akan turun menggali terowongan sedalam dua puluh meter saling mengucapkan kata perpisahan, sementara para pekerja lain tak tahu harus bagaimana menanggapi perpisahan itu...

Matahari dengan terik panasnya, debu-debu yang berterbangan menutupi area pembangunan membuatnya menjadi seperti sebuah penjara raksasa. 

Kurang lebih dua ribu pekerja dan budak berbadan kurus bekerja di dalam debu dan berbaur jadi satu. 

Sang Ratu yang melihatnya dari kejauhan segera mengerti bahwa keramaian samar-samar itu adalah masyarakat Apiru. “Masyarakat Apiru...,” ucapnya kepada Karun yang juga melihat bersamanya... “Masyarakat Apiru, mereka bekerja untuk membangun kuil milik kerajaan.”

“Kita semua,” ucap Karun... “Kita semua, Raja Ra, Kepala pendeta Ha, aku si ahli alkemi Ka, dan Anda, Ratuku, Yes’a... Kita semua bekerja untuk Mesir yang agung. Dan memang sudah seharusnya masyarakat Apiru membayar hutang kepada pemerintah Mesir karena sudah lama bertamu. Selain itu, semua berusaha dengan seluruh kekuatan mereka dan mendapatkan pekerjaan sesuai kemampuan masing-masing.”

“Kau berkata benar, Ka... Tapi, keadaan dan kondisi para pekerja ini sangat menyedihkan. Apakah kau tak melihatnya? Apakah ini sebuah pekerjaan yang masuk akal? Menggali, mengangkat, dan membelah batu-batu besar di bawah panasnya padang pasir?”

“Proyek pembangunan ini, dengan wewenang kerajaan akan diceritakan kepada generasi yang akan datang, Ratuku.”

“Dengan mengorbankan beribu-ribu manusia menderita kelaparan, terluka, dan meninggal dunia?”

“Semua orang menjalani kehidupan dalam lingkungan yang sesuai dengan kemampuan mereka, Ratuku. Ada yang mendapatkan kehidupan yang bagus, baik dengan kecerdasan maupun ilmu pengetahuan. Tapi, jika tak bisa mengembangkan diri maka mereka akan melewati kehidupannya penuh dengan penderitaan, sama seperti para pekerja itu.”

Mereka membicarakan ini semua sambil memandang para pekerja yang berlarian seperti segerombolan semut. Sambil memandang sahabatnya, Karun, yang diselimuti kesombongan dan kecerdasaan, sang Ratu menyadari bahwa dia menutup dirinya terhadap asal usulnya dalam tembok yang tak bisa digapai. 

Meskipun Karun berasal dari garis keturunan yang sama, dia bertahun-tahun menutup kedua matanya dan menjadi buta terhadap musibah yang menimpa kaum Apiru. Dan memang tak perlu harus dari garis keturunan yang sama dengan mereka untuk menentang ketidakadilan yang dialami oleh para pekerja.

Pekerjaan yang memedihkan batin! Kerajaan memutuskan untuk membuktikan kemegahan dirinya dengan membangun pemakaman-pemakaman besar yang terbuat dari batu dengan berhiaskan pohon dan air di tengah padang pasir yang tak ada satu tetes air, sebongkah batu, dan sebatang pohon. Semua hanya untuk membuktikan ke-maharaja-annya...

Kepala sang Ratu pusing di dalam hutan pembantaian ini...

“Ayo kita pergi, Apa. Ayo kita pergi dari padang batu-batu ini...”

“Besok pagi, kita akan melakukan adat janji kepada orang- orang yang berbaring di pemakaman Sakkara, kemudian berangkat meninggalkan tempat ini, Tuan Putriku. Kita akan meninggalkan kota ini dengan janji ‘seribu roti dan seribu serbat’, ‘seribu sapi dan seribu ayam’, serta ‘seribu obat dan seribu baju’...”

Esok hari merupakan sebuah hari yang sangat penting bagi ayat kata-kata yang akan dikatakan. Tapi, Apa menghalangi sang Ratu yang memutuskan untuk kembali ke istana setelah melakukan upacara janji dengan tawaran sebuah ‘perjalanan laut’...

Karun, dengan izin sang Ratu, kembali ke Istana. Sementara, ‘kelompok kata-kata yang akan diucapkan’ bergegas melanjutkan perjalanan...

Mereka berada di tempat yang berjarak dua hari perjalanan laut. 

Abdi Apa menjelaskan makna ayat kata-kata yang akan dikatakan tanpa mengambil satu kali pun tarikan napas...

Apa membuka penjelasannya kepada sang Ratı dengan menceritakan sebuah peristiwa yang berada di antara mimpi dan kenyataan ketika menjadi abdi Raja Akhen... 

Bertahun- tahun yang lalu, dia menaati perintah sang Raja Agung untuk menginjakkan kakinya ke atas kaki raja, dia seakan terbang tinggi dan begitu banyak yang dia lihat. Banyak sekali yang dia lihat...

“Tuan Putriku, betapa dahsyatnya yang aku rasakan di saat melihat kenikmatan yang luar biasa ini. Setelah mengetahui kalian sehat dan hidup sampai saat ini, tak ada lagi yang ingin kulihat di dunia ini.”

Apa tua menceritakan kisah penuh hikmah ini di kala suhu tubuhnya meningkat dan terbatuk-batuk. Sang Ratu tak langsung menyadari bahwa itu tak lain merupakan pertanda sebuah perpisahan.

...

Di akhir hari kedua setelah meninggalkan benteng, bau garam laut sudah mulai tercium di hidung mereka. Cuaca berubah di ujung perjalanan ini. Mereka sudah dekat dengan laut. Esok pagi mungkin mereka akan tiba di pantai, siapa yang tahu... Setelah melihat gerak cepat awan-awan, Ratu Asiyah menyadari bahwa hujan akan segera turun.

“Aku kira sebentar lagi akan turun hujan, wahai Apa-ku. Awan-awan akan segera mengeluarkan cambuk mereka...”

Badai mengandung butiran garam yang tiba-tiba muncul dari arah laut menjadi sebuah pusaran yang aneh ketika bertemu dengan angin padang pasir yang berembus dari barat, tepat seperti apa yang dikatakan oleh Ratu Asiyah. Petir saling menyambar seperti saling berlomba, siapa yang paling banyak menyentuh, siapa yang paling banyak mendorong... 

Orang-orang yang melakukan perjalanan menganggap kejadian ini sebagai azab tuhan-tuhan Mesir yang geram. Mereka mengangkat patung-patung berhala ke arah langit, berharap dapat menghentikan badai. Namun, petir justru menyambar patung-patung berhala yang diangkat, membakar mereka yang percaya kepada benda-benda mati itu, lebur menjadi abu...

“Ini adalah keadaan dunia, langit, dan lautan,” ucap Apa... Cahaya jatuh ke dalam kegelapan kedua matanya yang tak bisa melihat. Apa menyarankan kepada Asiyah untuk berbaring ke tanah seperti yang dia lakukan seraya memanjatkan doa. 

“Kami berlindung kepada Rabb sang Pencipta, berikanlah keselamatan kepada kami Ya Rabb yang Maha Pengampun...” 

Badai reda tak lama kemudian. Bulan sekali lagi menampilkan wajahnya di tengah kejernihan langit. Tenda-tenda yang rubuh didirikan kembali. Hewan-hewan yang berlari ketakutan dikumpulkan. 

Tiupan angin mengubah keadaan padang pasir, menjadikannya seolah labirin menyesatkan di gelap malam. Tak ada satu pun penerang jalan yang tersisa, selain bintang- bintang...

“Inilah yang terjadi ketika angin bergaram yang berembus dari laut merah bertemu angin dari padang pasir bagian barat. Cinta mereka adalah cinta yang berdengung dan keras... 

Ketika bertemu, kedua mata mereka tak melihat apapun. Batu merupakan salah satu benda yang paling keras di dunia... Dan anaknya, padang pasir yang tak berujung dan tak berbahasa adalah ranjang cinta. 

Aku selalu menganggap butiran pasir sebagai anak batu. Ketika petir menyambarnya, terjadi sebuah peleburan yang tak stabil. Terlahir pecahan kaca-kaca berwarna terang dari penggabungan ini... 

Api menghantam batu, membakarnya, melebur, apapun yang berada di dalamnya larut dengan api, tertata kembali dengan api... Api meringankan batu. Begitu ringannya, begitu tipisnya... Dengan terbukanya hati batu, muncullah kristal-kristal paling halus di dunia dari dalam sana. 

Ah, Asiyah... Tak ada kesabaran sebesar tangan-tangan kecil api di muka Bumi yang luas ini. Tangan- tangannya yang sabar dan kecil itu bahkan bisa menghaluskan batu, seperti sebuah tenunan, sama seperti daun bunga mawar... Kaca adalah anak yang terlahir dari cinta pasir dan api... Takdirnya pun sungguh ganjil seperti dirinya. Kuat, tapi juga rapuh.”

“Berabad lamanya batu-batu ini menunggu di sini, wahai putriku,” ucap Apa, dan melanjutkannya seraya bersandar untuk menghirup udara.... 

“Betapa taatnya mereka kepada janji- janji yang diberikan kepada tuhan mereka. Para pengembara menyebut batu-batu sebagai lentera padang pasir. Lautan berjarak tiga hari dari puncak batu-batu hitam ini. Siapa yang tahu sejak berapa abad mereka menunggu di bawah terik panasnya Matahari padang pasir ini? Bertahan walau badai angin bertiup kencang dan petir menyambar punggungnya. 

Adakah yang setingkat dengan mereka, membuka dadanya untuk seluruh penderitaan dan kesedihan? Dan, inilah penderitaan cinta yang mereka katakan. Seperti seorang ahli ibadah yang selalu berdzikir, seperti hamba-hamba Allah yang selalu berpuasa, seperti tentara-tentara cinta Rab, dan padang pasir jatuh ke dalam keberkahannya... Mereka teriris pilu sambil beterima kasih dan mengucapkan syukur atas penderitaan cintanya.

Orang-orang berkata bahwa batu tak memiliki bibir. Tapi, aku sering mendengar mereka menangis. Mereka tak pernah sekali pun melarikan diri dari sambaran-sambaran petir. 

Kau pun berjalan di dalam hati yang berpasir. Jalanmu penuh dengan bebatuan, perjalananmu penuh batu-batu yang paling keras di dunia... Bersabarlah putriku, terus berusahalah... Yakin dan percayalah, dari dalam batu itu terdapat jalan menuju taman bunga mawar...”

Sang Ratu tak kuasa lagi menahan haru mendengarkan cerita dan penjelasan Abdi Apa. Dia mulai meneteskan air mata. Pada kenyataannya, Asiyah ibarat pengembara sebatang kara di dunia penuh bongkahan batu. 

Di dalam dunia itu, yang ada hanya batu-batu kesombongan dan keangkuhan. Apakah Abdi Apa berkata taman bunga mawar di dalam batu? Apakah yang dia maksud adalah bunga mawar yang berada di dalam kobaran api? Pasti dirinya layak untuk mendapatkan bunga mawar. Sabar untuk bunga mawar. Bersabar untuk bunga mawar...

“Sebentar lagi, wahai anakku, bertahanlah... Bunga mawar dari kristal itu telah mendekat ke tepian batu... Badai dan petir yang kita alami malam ini akan membawa kabar-kabar gembira ketika kau kembali, insyaAllah. Sesuatu yang terlahir dalam hatiku berkata bahwa telah tiba waktunya hati batu untuk terbuka. 

Aku tak tahu apakah aku akan bisa melihatnya. Aku sangat lelah, tapi aku yakin, engkau Ratuku akan melihatnya... Kekuatan untuk memunculkan sebuah kristal bunga mawar dari peradaban batu yang keras ada padamu. Peganglah bunga mawar itu, jagalah baik-baik bunga itu, wahai putriku...”

Apa kesulitan untuk bernapas. Sang Ratu yang baru pertama kali melihat teman seperjalanannya selelah ini terkejut kagum melihat percikan-percikan terang yang ada di dahi Apa.

Sesaat kemudian, Apa memanggil seorang pengawal ke sisinya. Dia membisikkan sesuatu ke telinga pengawal. 

“Apa Guru Ratu yang terhormat, dengan izin sang Ratu, meminta untuk mengubah arah perjalanan kita ke sebuah desa kecil bernama Tempat Peristirahatan Azizah. Kami siap melaksanakan perintah baginda Ratu. Sang Guru Apa juga menginginkan saya untuk menyampaikan bahwa ini merupakan sebuah permintaan yang darurat,” ucap pengawal kepada Ratu Asiyah seraya menundukkan badan.

Sambil mengangkat selendang kuningnya ke udara, sang Ratu memerintahkan, “Segera laksanakan!”

“Ketika kita tiba di desa bernama Tempat Peristirahatan Azizah, kau akan melihat laut untuk pertama kalinya, wahai putriku. Di pandangan pertama, ia hampir sama seperti Nil. Tapi, laut bukanlah sungai. Laut adalah tempat seluruh sungai mengalirkan semua kerinduan. 

Nil muncul dari surga dan seluruh aliran di permukaan Bumi ini selalu berasal dari surga. Dengarkanlah Nil baik-baik, wahai putriku. Dia terlahir dari surga dan ujung jemarinya akan kembali sampai ke surga. Sementara, lautan adalah sebuah tempat barokah lain yang dibawa oleh para malaikat.

Sisa waktuku tak banyak lagi, ucap hati tuaku ini. Pesanku padamu, kuburlah aku tepat di bawah kaki-kaki Azizah, potongan-potongan lautan, tempat diceritakan sebuah kisah cinta tanpa harapan kepada Nabi Yusuf. Hanya Allah yang tahu seberapa besar kebenaran kisah itu. Ketika ada seorang putri yang kaya dan anggun, dia kagum dengan keindahan Nabi Yusuf saat melihatnya. 

Panah cinta menusuk ke dalam hatinya. Di samping takut akan amarah yang bakal menimpanya, demi tak merendahkan kemurnian sang Nabi, dia meninggalkan semua harta kekayaannya dan berkelana di padang pasir. 

Setelah melemparkan tubuh Nabi ke lubang sumur, dan sejak saudara-saudara Nabi mengatakan kebohongan besar kepada ayah mereka dengan berucap ‘Serigala telah memakan saudara kami’, kelompok serigala menjadi musuh bagi para manusia. 

Para serigala membentuk sebuah pengadilan di padang pasir. Mereka mengelilingi padang pasir sambil bersama-sama meneteskan air mata. Mereka juga cinta kepada Nabi Yusuf, sama seperti Azizah. Mereka juga merupakan korban fitnah-fitnah. Tidak bersalah, berjalan di padang pasir sambil menangis. 

Seluruh penduduk Mesir mencemooh Azizah. Ketika mereka sibuk membuat gunjingan, dia meninggalkan semua kekayaan, mahkota, dan tahtanya, kemudian menjejakkan kakinya ke padang pasir agar tak memberikan penderitaan bagi orang yang dia cintai. 

Tak satu kali pun dia berkata dan memberikan perlawanan. Tidak kepada siapa pun dia bercerita mengenai rahasianya, selain kepada para serigala. Dia sembunyikan nama dan jejaknya dari semua orang...

Jika kau mencintai seseorang, wahai Ratuku, maka cintailah dia seperti ini. Namamu akan dihapus. Sejarah takkan membahas dirimu. 

Namamu yang terukir di batu prasasti, lembaran kertas, dan piramida akan dihapus. Kau harus rela dengan kebisuan. Mengunci bibir dan memendam semua rahasiamu. Tak satupun rumah di dunia ini akan menerimamu. Dan memang dunia yang mereka katakan adalah sebuah padang pasir tak berdinding dan tak beratap. 

Para pemburu akan memburu serigala yang cinta kepada Nabi Yusuf. Memburu Azizah... Memburu dirimu... Mereka akan bertanya pada batu dan butiran pasir. Bertanya mengenaimu kepada padang pasir.

Para pemburu sangat pintar, tapi tak sabar wahai Ratuku. Mereka akan memburu cerita mengenai dirimu. Dan sebagai gantinya, mereka akan jatuh ke dalam kerapuhan kristal kaca dan kebimbangan.

Inilah sebuah hadiah yang paling besar bagi zaman-zaman ke depan. Mereka akan memanggilmu sebagai perempuan yang membuka hati batu...”

Menuju pagi hari, pemimpin tandu meneriakkan kegembiraan di saat mereka melihat pohon-pohon palem. Mereka meletakkan tandu berisi Apa ke tepian oase. 

Setelah perjalanan padang pasir melalui siang dan malam yang panjang, mereka telah tiba di tepi laut...

Sang Ratu menegakkan tubuh lemah Apa yang berada di dalam tandu. Setelah tersenyum kecil mendengarkan suara ombak, Abdi Tua Apa kembali membaringkan badannya. Kali ini, untuk selamanya...

Seperti pesan yang telah dia berikan, mereka mengubur jasadnya tepat di bawah kaki makam yang berbentuk seperti sebuah tenda di Tempat Peristirahatan Azizah. 

Sang Ratu merasakan sebuah kecemasan di hadapan lautan yang pertama kali dia lihat dalam hidupnya. Kesedihan akan kehilangan teman, bercampur dengan perasaan yang membangkitkan rasa untuk menyerahkannya di setiap sentuhan embusan angin laut di sudut tempat dia duduk. 

Memberikan ketenteraman, sebuah penghibur lara ke dalam hatinya yang tak pernah dia sangka...

Dia menangis. Bersama dengan percikan ombak yang menerpa wajahnya, dia terheran, lautan juga terasa asin seperti air matanya. 

“Kesedihanku dan kepedihanku tak lain karena kehilanganku atas seseorang yang aku cintai seperti ayahku sendiri. Tak seorang pun yang tersisa di dunia yang luas ini seperti dirinya. 

Wahai laut, kenapa kau juga menangis? Kehilangan siapa dirimu? Siapa yang kau cari dan tak kau temukan? Apa penyebab kesedihan dan kepedihanmu?” tanyanya...

Berapa jam sudah sang Ratu duduk menangis di laut. Berapa jam sudah dia mencurahkan hatinya kepada ombak, menceritakan semua kejadian yang dia alami. Dia yakin bahwa mereka akan menjaga rahasianya, menumpahkan semua yang terpendam dalam hatinya sampai hari itu. 

Ratu telah kehilangan Apa, abdinya yang setia... Ia ingin menggunakan pakaian perkabungan dan mengadakan upacara duka. 

Kaftandarikaintafberwarnaungutua,kerudungungu,tandu berkelambu yang ditutup dengan pita, bendera berkabung, dan kobaran api dalam obor mengiringi sang Ratu memasuki istana.

Orang-orang yang melihatnya dalam terang cahaya segera membuka pintu-pintu besar, mengibarkan bendera dan pita, dan menyanyikan lagu-lagu ilahi perkabungan. 

Raja menemui ratu di depan gerbang istana. Dia juga menggunakan kaftan berwarna ungu tua. Mereka saling menyapa sedih. Tidak sebagai suami-istri atau raja dan ratu, melainkan sebagai dua sahabat dekat. Karun dan Haman juga hadir dalam ritual upacara perkabungan.

Ratu mengadakan perkabungan ini selama empat puluh hari. Membaktikan janji-janji, mengunjungi tempat pemakaman burung-burung ibis yang dimumikan setiap pagi, dan memberikan bantuan kepada empat puluh orang buta yang bertugas sebagai penjaga makam. 

Dalam perjalanan pulang ke istana, ratu mengunjungi rumah-rumah yatim di kota dan berdoa bersama mereka, menepati janji ‘seribu obat seribu pakaian’, ‘seribu susu seribu roti’, dan ‘seribu keranjang bayi seribu tempat tidur bayi’.

Hari itu, hari kelima puluh setelah empat puluh hari masa perkabungan...

Utusan Raja Parahu yang terhormat dari Negeri Punt yang terletak setelah air terjun keenam dari Nil, membawa anak jerapah dengan dua belas pasang burung yang memiliki warna berbeda kepada Ratu Asiyah.

Sang Ratu menemui mereka di ruang tamu Zamrud. Sosok Raja Parahu yang hidup tak jauh berbeda dengan masyarakat Punt (tinggal di rumah kayu dan gelap), semakin mengecil di mata para utusannya, melebur menjadi satu bersama tanah oleh kemegahan Istana Mesir yang menindas...

Para utusan Punt tak beralas kaki. Pandangan mata yang gugup, deretan gigi putih yang rata seperti barisan mutiara, serta hidung kecil dan mancung. Setelah menyerahkan tombak yang mereka bawa kepada pengawal di depan pintu ruang Zamrud, mereka seperti rombongan pengemis yang tinggi dan kurus. 

 Raja Ra yang pada kondisi umumnya tak begitu peduli lantas berpikir bahwa ini merupakan sebuah kesempatan yang tak boleh terlewatkan terkait dengan dekatnya perayaan kematian Raja Amonhetep, raja sebelum dirinya. Negeri Punt yang diserang oleh Mesir dan takluk tanpa perlawanan di masa Raja Amonhetep ini cukup berhasil membuatnya bahagia di napas terakhirnya. 

Dengan kemenangan ini, kebutuhan dupa- dupa suci Mesir tertatasi dengan pohon-pohon Punt dan diputuskan untuk menuliskan sebuah bait di depan pintu masuk tempat Amonhetep dimakamkan, “Sultan Punt”.

Di samping itu, Negeri Punt merupakan sumber alkimia terdepan Mesir. Negeri Punt juga merupakan negeri yang tak tertandingi dalam seni obat-obatan dan pemumian. 

Sebenarnya, para utusan ini datang untuk menyerahkan hadiah kepada sang Ratu. Namun, ini juga sebuah kesempatan untuk mengirim mereka dengan sebuah perintah baru ke Negeri Punt...

Raja Punt mengingatkan apa yang Raja Ra lupakan... Raja Ra lupa dengan hari kelahiran sang Ratu.

Kuatnya ingatan Raja Punt mengejutkan Ra, apa yang telah dia lupakan. Raja Punt yang jauh di balik air terjun keenam itu ingat. meski hidup di rumah kayu dan tidur di permukaan tanah... 

Sang Ratu sudah lama menutup dirinya, khususnya setelah wafatnya Abdi Apa, dia tak pernah keluar dari istananya. Dia pun tak memiliki anak untuk membuatnya gembira... 

Ataukah sebaiknya dia menghadiahkan dua budak pintar kepada istrinya? Dia pun menuliskan sebuah perintah kepada Sekretaris Umum Kerajaan untuk membeli dua budak yang pintar dan layak bagi sang Ratu dan dia pikir ini mungkin merupakan solusi yang paling cerdik. 

Dia ingin tahu hadiah apa yang diberikan oleh Raja Punt yang telah membuatnya tampak bodoh...

Sangkar-sangkar... Tak diragukan lagi, hadiah itu adalah burung-burung indah...

Sepuluh dari dua belas burung merupakan burung bulbul Negeri Punt. Sekor burung terlihat seperti memakai sebuah sisir berbentuk mahkota merah muda, sementara yang lainnya memiliki sayap-sayap berwarna biru laut dan ungu. Seluruh burung itu dilatih doa-doa dan lagu-lagu oleh Kepala Pawang Burung Raja Punt.

Dua burung lainnya merupakan burung-burung ibis yang dihormati oleh seluruh penduduk Mesir...

Mereka menempatkan burung-burung ibis di kandang yang berbeda terbuat dari pohon Punt. Untuk memberikan sebuah kejutan, kandang-kandangnya dibawa dengan ditutupi kain taf berwarna hijau. 

Melihat keterkejutan sang Ratu ketika membuka kain penutup sangatlah berharga. Bahkan sang Raja pun sangat gugup, sambil menepukkan kedua telapak tangannya: “Tak diragukan lagi... Hadiah yang sangat luar biasa bagi sang Ratu,” ucapnya.

Bagaimana dengan sang Ratu?

Wajah sedih dan telah lama lupa akan senyum itu seperti teralir darah segar, pipinya memerah karena gembira dan tersipu malu. Melupakan peraturan kerajaan, dia bangkit dari kursi tahtanya, berlari mendekat dan berlutut di sisi para utusan yang bersujud di bawah...

Dia tak bisa percaya dengan hadiah itu...

Hadiah Negeri Punt yang berharga ini juga memberikan ilham kepada sang Raja. Dia harus cerdik dalam memilih hadiah bagi sang Ratu sehingga kelancangan yang dilakukan Haman yang membuat hatinya terluka dapat dimaafkan dan juga menyakinkan sang Ratu bahwa dia tak lupa dengan hari kelahirannya...

“Kami, Kerajaan Mesir, dengan nama Raja Pare-amon, hamba Tuhan Amon yang setia, hari lahir sang Ratu yang terhormat, tak hanya penting bagi negeri Mesir saja, melainkan merupakan sebuah hari raya yang sebenarnya bagi seluruh alam semesta dan kami menyerahkan dua teman perjalanan muda yang berada dalam perlindungan kerajaan...”

Surat ucapan selamat yang lembut sangat menggembirakan sang Ratu. Bahkan, ini menjadi sebuah perantara harapan baru bagi suaminya yang dia anggap telah tenggelam dalam lautan kesombongan...

Sebenarnya, inilah Asiyah... Sebuah samudera kasih sayang, sebuah samudera harapan. Asiyah yang ramah, dermawan... Dia sebuah obat yang berlari mendekat kepada setiap orang yang mendekat satu langkah kepadanya... Dia, orang yang tak pernah menghancurkan harapan. 

“Ah... Ra!” ucapnya dari dalam hati. Paling dalam dari hatinya... “Hanya terbentang satu langkah, satu langkah yang akan kau injakkan... Apa pun yang terjadi, injakkan satu langkah itu dan selamatkan dirimu dari jeratan-jeratan yang menjerat erat dan menenggelamkan dirimu...”

Dan mereka pasangan yang saling memahami... Dia memanggil penulis pribadinya dan menuliskan sebuah surat terima kasih kepada sang Raja. Sementara itu, surat kedua yang dia tulis akan dikirim untuk Ahli Bes, ahli bangunan dari Kota Piri...

Kebaikan Ratu Yesiyis membuat Guru Piri Bes takkan pernah mengecewakan hatinya... 

Seperti perintah sang Ratu, istana membutuhkan dua abdi berumur sepuluh-dua belas tahun, satu laki-laki dan satu perempuan. Sang Ratu meminta anak-anak yang berasal dari daerah Ombos dan mendapatkan pendidikan dari Para Nakkas Piri. 

Dalam surat terakhirnya, Yesiyis menuliskan bahwa anak laki-laki akan ditugaskan sebagai nahkoda perahu kerajaan, sementara anak perempuan akan dididik mengenai perhiasan dan ditugaskan sebagai abdi kerajaan. Mereka semua akan bekerja di bawah sang Ratu sendiri...

Ketika melipat surat dan menaruhnya ke dalam kantong terbuat dari kulit Rusa, Guru Bes mengeluh..."Dan salah satu dari dua anak adalah perempuan... Bagus, tapi murid-murid yang dididik oleh para guru di sini sejak berabad-abad yang lalu semuanya adalah laki-laki..."

“Panggilkan Tahnem untukku!” teriak Guru Bes yang tenggelam dalam kecemasan selama dua hari. “Segera temukan Tahnem!” Kedua matanya memancarkan sinar telah menemukan apa yang dia cari. “Tahnem! Di mana kau?” teriaknya...

Tahnem yang datang menghampirinya sambil berlari, akhirnya diutus menuju Pulau Ab untuk menemui pedagang Bahtiyar, sahabat lama Guru Bes... 

“Pedagang Bahtiyar mengenal seluruh sungai di permukaan Bumi ini. Dan dengan nama keagungan seorang raja... Dan dengan kekuatan yang terletak di ujung jemari para perempuan... Dan padang pasir, kurang lebih sebelas jejak kaki burung yang terbang di atas padang pasir... Tak ada orang yang lebih tahu di dunia ini selain dirinya. 

Tahnem! Tugasmu adalah melewati di antara dua sungai besar. Setelah melewati banyak padang pasir, gunung-gunung, dan bintang-bintang, kau akan tiba di Pulau Ab. Berikan surat ini kepadanya. 

Jawaban suratku adalah seorang perempuan seumuran denganmu. Jemput anak perempuan itu, dan kembalillah ke Desa Nakkas dengan jalan yang kau tempuh ketika berangkat. 

Jangan lupa, perjalanan ini, merupakan salah satu ujian di antara ujian-ujian untuk murid. Aku mengharapkan keberhasilanmu, wahai anakku,” ucapnya seraya meminta Tahnem untuk segera berangkat...

Bagi Tahnem ini merupakan sebuah perjalanan berjarak satu minggu dengan perahu setelah melewati jalan daratan...

“Aku tak tahu dan tak ingat nama-nama ibuku, ayahku, atau pun desa tempat aku lahir,” ucap Tahnem malu dan bosan, setiap ditanya mengenai keluarganya. 

Wajah yang pertama kali Tahnem ingat dalam kehidupan pendeknya adalah wajah gurunya yang membesarkan dirinya di perahu-perahu yang datang dan pergi di atas permukaan Nil... 

Gurunya adalah seorang pekerja yang mengukur gosong pasir di perahu perahu yang dioperasikan untuk Nubye. 

Tak diragukan lagi, ini merupakan sebuah aturan kehidupan yang susah, untuk bisa menahkodai perahu di sungai yang disebut dengan nama ‘Hapi’ oleh penduduk asli dengan selamat... 

Tubuh Hapi tak rata, penuh dengan riak, jeram yang dalam, dan gosong pasir yang tiba-tiba meninggi. Orang yang tak mengetahui bahasa sungai ini sering kali bermakna musibah akan menimpa... 

Mengukur gosong pasir merupakan kecerdasan yang paling tinggi atau pengetahuan sangat penting bagi para guru perahu. 

Sejak berumur sekitar lima-enam tahun, anak-anak seperti Tahnem merupakan calon pengukur gosong pasir. Mereka dibiasakan untuk bekerja di perahu. 

Anak-anak kecil ini memerhatikan guru-gurunya dengan cermat dan hanya ketika telah berumur tujuh tahun diizinkan untuk memegang tongkat pengukur gosong pasir yang dipercaya memiliki kekuatan. Tongkat- tongkat ini mereka jaga seperti amanah yang suci..

Menurut adat Kelompok Perahu di Ombos, nama guru yang wafat dalam perjalanan di permukaan air Nil diukir di atas tongkat pengukur gosong pasir. Di tongkat guru Tahnem tertulis dua puluh dua nama guru besar.

Tahnem, setelah gurunya tertidur, memandangi nama-nama yang terukir di atas tongkat, dan membayangkan orang-orang pemberani yang berada di alam lain ini... 

Di Ombos, ketika kisah para pelaut yang terjatuh saat mengukur gosong pasir dan menjadi mangsa buaya diceritakan seperti legenda. Di samping itu, juga memberikan nasihat untuk menjadi pemberani kepada para murid seperti Tahnem. 

Pulau Ab merupakan tetangga negeri Nubye yang dikenal dengan nama ‘Kemet’ dalam bahasa penduduk asli dan juga merupakan salah satu pusat perdagangan yang paling berkah. Pasar-pasar, tempat perbelanjaan yang berwarna- warni, Ab adalah pulau tempat para penjual, orang asing dan pedagang, diplomat, tukang sihir, penafsir mimpi, tentara dan tawanan, serta para penyair dan tukang obat berjalan berdampingan...

Ketika semakin dekat dengan Pulau Ab, Tahnem didatangi oleh seseorang. 

“Berapa umurmu, wahai anak muda? Kau sudah besar untuk melakukan perjalanan sendirian, tapi berapakah umurmu, katakan padaku.” Sang Pendatang bertanya seraya, tanpa diduga, menyentuh hidung Tahnem. 

Sangat aneh! Sampai saat ini, tak seorang pun menyentuh baik rambut maupun hidung anak muda ini. Sebuah keakraban yang berbeda. Keakraban ini memberikan sebuah kedekatan yang bagi Tahnem belum pernah dia rasakan sampai saat ini...

“Umurku sebelas tahun matahari, seperti tertulis dalam Daftar Pelaut Nakkas.” Kalimat ini terucap seperti dengungan dari bibir Tahnem yang bersumpah untuk tak berbicara.

“Pernahkah kau melihat peta matahari dalam hidupmu, wahai pemuda berumur sebelas tahun matahari?”

“Aku belum pernah melihat peta matahari, wahai Tuan yang Bijaksana. Tapi, aku tahu peta yang digambar oleh Guru Bes di Pemakaman Keferteb. Bahkan, aku menghafalnya...”

“Jadi, kau adalah murid Guru Bes.”

“Aku tak bisa berbicara lebih banyak mengenai hal ini, Tuan yang Bijaksana.”

Tahnem menyadari kesalahan yang telah dia perbuat. Murid paling awam yang dididik di Desa Nakkas pun tahu bahwa tak boleh membahas mengenai peta-peta pemakaman, Guru Bes sangat tegas dalam hal ini. 

Dia membuat semua muridnya untuk bersumpah. Satu peta pun tak tercatat dalam lembar-lembar kertas, melainkan setiap pagi digambar di atas permukaan pasir oleh asisten guru dan meminta para murid untuk menghafalkannya untuk dihapus kembali. 

Tapi orang pendatang ini, dengan sikap keakrabannya, telah menaklukkan hatinya dan membuatnya berbicara yang tak seperlunya...

Makam-makam Keferteb sering dirampas isinya oleh para perampok makam. Itu sebabnya, rahasia makam-makam tak pernah disampaikan kepada siapapun sebelum menjadi asisten... 

“Aduh!” Hati kecil Tahnem bergetar... Ataukah Tuan Pendatang ini juga merupakan salah satu pencuri yang kerap merampas harta karun dan makam? Sungguh, Guru Bes merupakan seseorang yang berpengetahuan. Berkali-kali dia memperingatkan untuk tak berbicara dengan orang asing. “Ah,” ucap Tahnem, “Guruku benar sekali...”

Ketika dia berpikir seperti ini, Tuan Pendatang seakan membaca pikirannya. “Tak usah khawatir, wahai anak muda,” ucapnya. “Aku bukanlah orang yang memburu harta karun di makam-makam. Apa yang aku buru adalah harta karun yang lebih besar!” Dia kemudian mulai mengucapkan sesuatu seperti puisi dalam kalimat yang sampai saat ini tak pernah didengar oleh Tahnem...

“Aku pergi menuju Gosen, wahai anak muda. Ke samping kerabat-kerabatku. Ke utara, tapi sebelum menempuh perjalanan ke Delta, aku ingin mengunjungi Pulau Ab. Aku pergi menuju Ab untuk mencari petunjuk mengenai pendudukku dan kerabat-kerabatku. Kemudian, aku akan meneruskan ke Memphis dan Gosen jika Allah mengizinkan...”

“Allah?”

“Pelukis seluruh peta matahari dan menggantungkannya di langit, Tuhan Satu dan Tunggal. Pemilik sesungguhnya semua sungai, padang pasir, gunung, dan lautan...”

Ketika Tuan Pendatang mengajak Tahnem ke tempat makan yang sederhana di anjungan perahu, jarak yang tersisa kurang lebih satu jam ke Pulau Ab. Angin dan arus tampak bagus. Jika terus berjalan seperti ini, perahu-perahu akan tiba di tepi pantai setelah siang. 

Sebelum malam tiba, dia akan mencari dan menemukan pedagang Piri Bahtiyar dan dengan demikian dia telah menyelesaikan tugas untuk menyerahkan surat yang diamanahkan padanya...

“Sebelumnya, aku telah berkali-kali datang ke Pulau Ab. Aku berjalan sampai ke bagian yang paling jauh di Mesir Atas. Aku hidup dua tahun di Negeri Punt dan empat tahun di Kesempert. Sungai Nil tempat aku dilahirkan, aku menjadi penulis dan penerjemah di Bagian Penasihat Negeri di Kesempert,” jelasnya penuh semangat. 

Sekali lagi mereka tenggelam dalam peta. Dengan jari panjangnya yang terpasang sebuah cincin zamrud, dia menunjukkan Kemet kepada Tahnem. Bagian bawah Mesir yang mengarah ke Delta diwarnai dengan warna hijau, sebuah padang pasir yang panjang di arah terbitnya Matahari, dan tepat di bawahnya tampak sebuah kelinci yang berdiri sebagai simbol Laut Merah. 

Baik rombongan-rombongan pedagang Arab maupun Persia yang datang dari celah dua sungai harus melewati Laut Merah untuk tiba ke Kemet. Dan Hapi... Nil yang indah! Ibu Kemet berambut panjang, layaknya sebuah garis takdir yang penuh dengan berkah melewati Mesir dari satu tempat ke tempat dan menghubungkan permukaan surga...

Mereka sadar telah tiba di Pulau Ab hanya dengan menyaksikan keramaian para pembawa obor yang berjalan ke kanan dan kiri dek perahu. Seperti para penumpang lainnya, mereka mulai mengemasi barang bawaan mereka. 

Saat itu, Tahnem teringat pada teman pertama perjalanannya. Dia mengedarkan pandangannya dan melihat teman-teman perjalanannya berada diujung perahu,berusaha mengumpulkan barang-barang yang akan mereka bawa ke pulau.

Sepasang kuda yang terikat di bagian bawah perahu pasti menyadari dekatnya dermaga, mereka mulai mengeluarkan suara. Ketika Tahnem membuka celah kayu yang dibuat untuk ventilasi udara sambil membungkukkan badannya untuk mengontrol kuda-kudanya, dia terlempar kaget ke belakang. 

Sepasang mata berwarna hitam memandanginya di antara kuda-kuda. Dia adalah seorang gadis kecil seumuran dirinya. Dengan tangan kecilnya, dia mendorong celah kayu ke arah dek perahu.

“Berikan jalan kepadaku, wahai Tuan Muda,” ucap gadis muda sambil menepuk bahu Tahnem yang berdiri menutup jalan. Setelah itu, gadis kecil bermata hitam berlari cepat ke arah sisi Tuan Pendatang. Tuan Pendatang memanggil Tahnem yang memandangi mereka dengan keheranan.

“Nama gadis ini adalah Sare. Dia mengetahui bahasa kalian. Ayahnya adalah menantuku, dia meninggal empat puluh hari yang lalu dalam perjalanan dan Sare sekarang bersamaku. 

Dan ini Tahnem. Tahnem yang pintar, salah satu murid Guru Bes Piri dari Nakkas. 

Sekarang perjalanan kita berbeda, wahai sahabat kecilku. Aku bersama Sare adalah tamu pedagang Piri Bahtiyar. Dari sana, kami akan menempuh perjalanan kembali menuju Gosen. 

Sare juga seperti diriku. Apa yang kau katakan tadi, Hapiru? Hah, iya... Kami adalah kerabat Nabi Yusuf. Ketidakabadian adalah kodrat semua makhluk di dunia ini, jalan kita pun berpisah. Kami sangat senang berkenalan dengan dirimu. Benarkan, Sare?”

Sare dengan wajah tak peduli mengangkat kedua bahunya. “Dia bukan temanku, aku tak mengenalnya. Di samping itu, anak kuda sangat sakit. Selama perjalanan, dia penuh keringat dan terengah-engah,” ucapnya sambil menunjukkan celah- celah dan lambung kapal.

Ketika para Hapiru turun ke bagian hewan di lantai bawah, Tahnem terpaku memandang di belakang bahu mereka...

“Jadi, mereka juga tamu-tamu pedagang Piri Bahtiyar,” ucapnya. Tahnem kemudian berjalan ke arah teman-teman perjalanannya. Dia juga membantu mengeluarkan kuda-kuda dan barang bawaaan. Setelah menyelesaikan urusan dengan para penjaga, akhirnya mereka menjejakkan kaki mereka di Pulau Ab...

Setelah teman seperjalanan Tahnem menanyakan alamat yang dituju untuk kedua kali, dan melakukan perjalanan kurang lebih satu jam, mereka tiba di perkebunan buah ara dan pohon-pohon kurma.Tempat ini tersembunyi di sebuah lembah yang sunyi, sebuah rumah yang jauh dari kebisingan dan keramaian pusat kota...

umah itu terbuat dari pasir Nil yang dikeringkan, terletak di puncak paling tinggi. Tahnem yang belum pernah berhadapan dengan bangunan yang terlihat berbeda selain rumah-rumah para Nakkas dan Guru Bes ini memandang dengan kagum.

Seorang pelayan dengan sopan mendekat ke arahnya, mengundang Tahnem untuk pergi menuju tempat makan yang berada di bagian depan. Di sana, dia menyadari sebuah kendi air besar berisikan air kurma di atas meja marmer yang besar. Jadi, pedagang Piri Bahtiyar hidup di rumah megah yang dibangun oleh walikota Pulau Ab ini untuknya... 

Para petugas menyampaikan kepada Tuan Muda Tahnem bahwa orang tua bijaksana itu akan menemuinya setelah makan malam, dan dengan bahasa yang sopan mereka menjelaskan jika dia menginginkan, makan malam bisa dibawakan ke ruangannya...

“Jadi, kau adalah anak muda yang membawakan amanah sahabatku, Piri Bes. Anak muda yang tumbuh besar di bawah bayangan akasia yang luhur pasti suatu hari akan memiliki bayangan yang paling dalam pada Majus bijaksana kuno.”

Gaya berbicara rumit ini sungguh menimbulkan perasaan resah dalam diri Tahnem. Dia kemudian berusaha menghapusnya dengan sebuah kalimat layaknya sambaran petir. 

“Takdir para Spinx bukanlah di dalam teka-teki susah yang tertulis pada dahi mereka, tapi tersembunyi di dalam napas Tuhan. Kalimat-kalimat yang ditulis oleh Nakkas, setiap pemilik kalimat merajut takdir...”

“Bagus, seribu kali sangat bagus dan sekali lagi bagus. Alasan kenapa kau terpilih sangatlah jelas, wahai Tuan Muda Tahnem. Katakanlah, darimana kau membaca bait ini?”

“Tuanku, aku adalah penjaga Pemakaman Keferteb, hanyalah seorang murid biasa Guru Bes... Bait yang aku baca tadi adalah kata-kata yang seorang penduduk Kemet Bawah kuno harus hafalkan dan diukir ke dalam batu bata di pelajaran marmer oleh setiap murid.”

Guru Bahtiyar, seperti halnya mengerti jenis-jenis batu, juga memahami manusia dengan baik. Saat itu juga, dia bisa membaca cahaya terang yang akan muncul seiring waktu di kedua mata Tahnem... Dia yakin dengan sifat setia, pintar, dan pemberani yang Tahnem miliki hanya dalam lingkup perkenalan yang singkat itu...

Rumah megah milik Pedagang Piri Bahtiyar dalam waktu yang sama juga merupakan sebuah tempat perpotongan jalan dari timur dan dua jalan timur sutra, perhiasan dan rempah- rempah lainnya. 

Di lingkup yang mempertemukan para peramal yang terkenal di dunia, pemuka agama, para bangsawan, dan orang-orang bijaksana ini, bagi seorang anak muda seperti Tahnem, sebenarnya merupakan sebuah pelajaran perkenalan terhadap dunia dalam waktu yang singkat. 

Sebelum dia tiba di rumah megah ini, hidup pendeknya sebagian dia lalui bersama para pelaut, sebagian lainnya bersama para guru batu Nakkas. Karena itu, bagi Tahnem dunia terasa sangat kecil. 

Tapi ini merupakan sebuah keburuntungan baginya, pertemuan dengan para ahli mengenai pertanyaan-pertanyaan alam semesta yang serius walaupun di umur masih muda... Di sini tak hanya ada orang-orang Kemet saja. Bahkan, bisa dikatakan bahwa orang-orang Kemet hanya ditugaskan sebagai para pelayan. 

Meskipun orang-orang yang berkumpul di taman orang bijaksana Bahtiyar membahas mengenai jiwa manusia dalam bahasa Arab, Persia, Aram, dan bahasa lain yang tak dia ketahui, Tahnem merasa berada di antara orang-orang yang saling menghormati satu sama lain...

Disini, ‘Hapi’ sebutan untuk sungai surga, dipanggil dengan nama ‘Nil’ oleh seluruh orang bijaksana. Bagian yang berawal dari tempat mengalir Nil sampai Pulau Ab diberi nama Negeri Depan atau Mesir Bawah oleh mereka.

Sementara itu, arah selatan Pulau Ab, tempat berawal Negeri Tengah, oleh Yehuda disebut sebagai Heptonamases. Candi-candi dan tempat ibadah yang paling kuat dan suci di Mesir dibangun di Negeri Tengah. 

Negeri Tengah yang penuh dengan candi sebagai tempat mendidik ratusan pendeta dan orang bijaksana takkan pernah mengizinkan orang asing untuk masuk ke wilayahnya atau ke jalan-jalannya. 

Sementara itu, pemimpin di balik layar Negeri Tengah adalah sahabat Raja Ra yang juga telah menjadi kepala pendeta, Ha-amon atau ‘Ha’ yang memiliki pengaruh luas di kerajaan. 

Tahnem pun mengetahui perselisihan dan persaingan antara Ratu Yesiyis dan Ha-amon di hari yang sama, di meja tempat berdiskusi yang sama pula... Ini semua informasi yang sangat berbahaya. Takdir apa yang membawanya ke meja ini...

Tahnem secara khusus juga tertarik pada tiga hal. Tiga Pengembara Padang Pasir Mahsyar, Bahtiyar Bijaksana yang dipanggil dengan sebutan Yehuda atau ‘Syekh’, dan ungkapan yang mengikat mereka setiap kali Ratu Yesiyis dibahas. 

Guru Bes yang berada di Kefertep pun terikat kepada sultanah dengan sebuah kesetian dan rasa hormat... Sementara itu, raja dan kepala pendeta yang dipanggil dengan nama pendek ‘Ra’ dan ‘Ha’ selalu mereka bahas dengan kata-kata yang menakutkan. 

Setelah makan malam, mereka memulai pembicaraan dengan menambahkan kalimat ‘nama yang tak perlu disebut’ di depan nama pendek Ra dan Ha. Pembicaran dan komentar- komentar panas terus berlanjut seperti ini. Tempat itu sungguh memberikan suasana sebuah tempat perlawanan yang serius bagi Tahnem.

Suatu ketika, Bahtiyar membungkuk ke peta dan menarik telinga Tahnem. “Kedua telinga dan matamu akan tinggal di sini. Kau tak boleh menceritakan semua ini, perhatikan itu,” ingatnya tegas. 

Saat itu, pandangan Tahnem terpaku pada hebes yang bersinar seperti sebuah zamrud di atas peta... 

hebes, hebes yang mengagumkan! Layaknya sebuah batu ujian yang berada di ujung perbatasan Negeri Tengah... Ketika Yehuda melihat perhatian Tahnem tertuju pada hebes, dengan isyarat jari dia menunjukkan sebuah tempat jauh di utara hebes.

“Itu adalah kota Raja Agung Akhen yang percaya kepada jalan Nabi Yusuf... Raja yang menolak untuk menyembah Amon, yang melakukan ibadah hanya untuk Tuhan yang Tunggal, raja yang mencintai kedamaian. Perhatikanlah peta itu dengan cermat Tahnem. Apa yang kau lihat?”

“Tak ada... Aku tak melihat apa-apa...”

“Padahal di sini, di suatu masa, Raja Akhen yang percaya pada Tuhan yang Tunggal mendirikan Kota Matahari yang luas. Seorang raja yang melindungi rakyatnya, rendah hati, serta selalu berbagi kebahagian dan kekayaan bersama rakyat. Ia selalu memilih kedamaian di atas peperangan... Lihat, apa yang kau lihat dalam peta?"

“Tak ada... Aku tak melihat apa-apa...”

“Itu karena mereka telah menghancurkan Kota Matahari. Para pendeta hebes dan Memphis yang penuh dengan keserakahan dan pembenaran diri seperti Ha yang namanya tak perlu disebut... 

Orang-orang yang lebih memilih kebahagiaan mereka sendiri di atas kebahagiaan rakyat, memandang rendah rakyat, tak pernah mampu menerima kebahagiaan dan kesuksesan orang lain, terpaku hanya kepada kekayaan dan kekuasaan... 

Mereka menghancurkan Kota Matahari yang didirikan oleh Akhen... Itu sebabnya, kau tak melihatnya di peta. Mereka berusaha selama bertahun-tahun untuk menghapus nama Akhen dari sejarah. Sebenarnya, itu adalah hal yang di inginkan oleh Akhen. Mereka menyatakan kematiannya di dalam puisi-puisi. 

Terlupakan, harapan hilang bercampur dengan tanah... Tak ada yang abadi selain Allah. Padahal, dunia merupakan bisikan-bisikan yang dapat mereka gunakan untuk memahami rahasia ketidakabadian manusia. 

Sesungguhnya, setiap ruh tak abadi dan akan kembali kepada-Nya ketika waktunya telah tiba... Akhen, meskipun seorang Raja, adalah orang yang yakin dengan kematian. Ratu Yesiyis yang juga merupakan keturunannya, mewarisi sifatnya yang rendah hati dan berhati mulia. Oleh karenanya, Ratu Yesiyis sangat berharga dan terhormat dalam pandangan kami...”

“Tapi, kita perlu melindunginya dan mendukungnya,” ucap Pedagang Piri Bahtiyar...

“Kenapa ratu memerlukan perlindungan?”

“Dia memerlukan teman-teman yang setia dan cerdas,” tanggap salah seorang pengembara padang pasir...

“Ratu yang Agung menulis sebuah surat kepada Guruku Bes yang bijaksana...,” ujar Tahnem menimpali.

“Guru Bes adalah orang bijaksana urutan pertama yang paling dipercaya oleh Ratu kita,” ucap Syekh Tua...

“Ratu yang Agung banyak memiliki pengawal, banyak pasukan berkuda...”

Ada, tapi tak ada...,” ucap Yehuda, seperti sebuah teka- teki...

“Pengetahuan yang luas, kekuatan untuk menyakinkan, dan kesetiaan jauh lebih penting daripada para pengawal dan pasukan berkuda,” tambah salah seorang pengembara mahsyar...

“Ratu yang Agung memiliki segalanya dan seluruh Kemet.”

“Iya, dia memiliki segalanya, tapi dia belum mempunyai seorang putra!”

“Iya, dia memiliki segalanya, tapi dia juga belum mempunyai seorang putri!”

“Kalian tak berkata benar! Bukankah kita semua, sebagai penduduk Kemet, merupakan anak-anak kerajaan?” Tahnem bersikeras.

“Nama yang tak perlu disebut... Siapa yang menjadi Raja? Dan sekali lagi, nama yang tak perlu disebut, dengan tangan- tangan kotornya meracuni sang Raja? Ra dan Ha! Dua suku kata yang melawan kebenaran... Siapa yang bisa melawan dua keburukan ini?” tanya pengembara padang pasir lainnya...

“Rabb, lindungilah Ratu Yesiyis yang lahir dari keturunan Akhen dari kejahatan. Asiyah adalah namanya dalam bahasa kami. Asiyah adalah wanita yang melindungi kebenaran dan kebaikan! Asiyah adalah pilar tunggal yang menopang atap! Asiyah adalah wanita yang melawan kejahatan. 

Asiyah adalah penegak kebenaran dan penghancur ketidakadilan. Asiyah adalah sahabat rahasia sungai surga Nil, teman perjalanannya! Asiyah adalah bangunan. Asiyah adalah pondasi... Dalam bahasa kami, Asiyah adalah nama sang Ratu...”

“Bagaimana menurutmu, maukah kau menjadi pelindung setia sang Ratu?” ulang Syekh Bahtiyar...

“Aku lemah dan masih terlalu muda, wahai Tuanku,” ucap Tahnem merendah...

“Bagaimana menurutmu, maukah kau menjadi teman perjalanan setia sang Ratu?” ulang Bahtiyar...

Kesunyian...

Kedua mata Bahtiyar yang tak berkedip menantikan jawaban anak muda yang telah menjadi bagian lingkaran ini...

Akhirnya, Yehuda mulai berbicara. “Dengan izin Rabb, sang Ratu akan memiliki seorang putra!”

Kesunyian... Sekali lagi, sebuah lingkaran... Sekali lagi, mata-mata... Sekali lagi, sebuah penantian yang tak berkedip dan hening...

Dan kemudian, terdengar suara Yehuda yang turun seperti hujan musim semi. “sang Ratu akan memiliki seorang putra!” Kedua mata Yehuda tak sanggup lagi membendung air mata... “Akan muncul dari Gosen dan akan berada di pangkuan sang Ratu. Seorang anak dari kerabat Nabi Yusuf dan Nabi Yakub... Hari-hari ini, dia berada di Gosen dan akan tinggal di Memphis!”

Tahnem tak sadarkan diri sesaat... Hari itu dia dihujani beratus-ratus informasi sekaligus. Begitu banyak informasi baru yang dia dengar, begitu sulit untuk menerimanya...

Ketika dia terbangun, tak ada satu pun peta yang berada di atas meja, tak ada jejak para pengembara... Pelayan yang mengipasi dirinya dengan kipas dari kayu pohon Punt hanya tersenyum ketika melihat Tahnem sadarkan diri, kemudian memberikan salam dengan anggukan kepala. Setelah itu, dia menyerahkan sop mint hangat yang tersaji di dalam mangkok keramik berhias ukiran emas kepada Tahnem...

Kepala Tahnem terasa sakit, seolah akan meledak... Embusan angin yang masuk dari jendela membawa aroma bunga mawar dan delima. 

Burung bulbul yang berada di sudut kolam berkicau menyambut dinginnya embusan angin malam. Lonceng-lonceng di lengan sumur berdenting... Setelah meminum sop beberapa sendok, Tahnem kembali tertidur...

Mereka tak bicara sama sekali sampai Pulau Ab hilang dari pandangan mata. Meskipun badai kecil atau goncangan ombak menerpa, takkan membuat mereka khawatir. 

Sare, tanpa menunggu peringatan Tahnem, berjalan ke palka kapal, ke bagian hewan-hewan. Monyet-monyet Punt lah yang pertama menyadari kedatangan Sare dan kemudian mulai saling berteriak. 

Burung kakaktua dan bulbul yang diletakkan tumpang tindih di samping monyet-monyet saling berkicau. Di sampingnya lagi adalah bagian kuda-kuda milik para penumpang. Ruangan itu dipenuhi dengan teriakan dan jeritan hewan.

Dengan tangan-tangan kecilnya, Sare membelai rambut- rambut kuda. Dia memberi mereka permen yang berada di sakunya. 

Dia meletakkan segenggam gandum, anggur kering, dan serbuk kayu di tempat makan burung-burung yang diambil dari tasnya. Burung-burung pintar ini yang menyadari bahwa Sare gadis yang baik segera memberikan keramahan padanya.

Dia kemudian mengeluarkan delima yang dia ambil dari pohon di taman Syekh Bahtiyar. Setelah mengupasnya sampai ke bagian kulit yang paling dalam, dia membantingnya ke lantai. 

Noda merah yang ditinggalkan dari pecahan delima terlihat jelas di lantai, meskipun dalam kegelapan. Sare membungkuk. Buah delima yang pecah berkeping dia letakkan di depan monyet-monyet Punt yang bergerak lincah. 

Jumlah mereka enam dan entah di istana mana mereka akan menjadi hewan pertunjukan. Sare membelai kepala mereka...

“Sepertinya mereka mengenalmu...”

Tanpa membalikkan badan, Sare segera mengetahui kedatangan Tahnem ke bagian hewan-hewan ini...

“Aku mengenal paling sedikit sebelas burung yang terbang di padang pasir dari jejak kakinya...”

“Ayahmu kah yang mengajarkan kepadamu keahlian ini?”

“Ayahku adalah seorang peternak kuda dan tahu banyak mengenai jejak-jejak...”

“Kenapa kau mulai menangis ketika Yehuda berkata takkan datang bersama kita?”

“Setelah ayahku meninggal dunia dalam perjalanan, selain Yehuda tak ada lagi siapa-siapa di dunia ini. Tapi, dia pun pergi meninggalkanku. Sekarang aku pergi ke tempat yang aku tak tahu, bersama Tuan Muda yang tak aku kenal...”

“Aku pun tak memiliki siapa pun di dunia ini. Sebenarnya, aku mengetahui guruku di Perkumpulan Para Pelaut adalah ayahku setelah dia meninggal dunia. Aku juga tak tahu mengenai ibuku. Tapi, ketika kita tiba di Kefertep dan kau mengenal Guru Bes yang bijaksana, pasti kau akan menyukainya. Jangan bersedih, Sare...”

“Tapi, aku tak tahu tentang pekerjaan mengenai batu- batuan. Tangan dan jemariku hanya mengenal rambut-rambut kuda...”

Ketika mereka tiba di Desa Nakkas di Kefertep, seketika terlihat peringatan di sebuah batu yang bertuliskan, “Jagalah sikapmu di hadapan Gabungan Suci”. Tubuh Sare menggigil...

Menurut adat Ibrani, Sare adalah anak yang dibesarkan dengan ajaran Nabi Yusuf yang yakin dengan satu tuhan. Apa artinya ‘Gabungan Suci’? Sare khawatir bahwa dia akan masuk ke tempat ibadah berhala yang aneh...

“Ini adalah sebuah trinitas,” ucap Tahnem. “Gabungan suci adalah nama keharmonisan kosmos yang terbentuk dari penggabungan tiga tuhan. Tuhan pencipta Atum adalah gabungan suci pertama. 

Anak-anaknya yang bernama Su dan Tefnut bermakna udara dan lembap... Para cucunya yang bernama Geb dan Nut bermakna tanah dan langit... Anak-anak tanah dan langit adalah Osiris dan Isis. 

Seth dan Neptisis... Ketika pintu dua sayap langit terbuka, para jasad memulai perjalanan mereka ke hadapan gabungan suci ini. Orang-orang yang meninggal perlu melewati penjaga api untuk bisa sampai ke Pulau Rasetyau yang terletak ditengah kegelapan. 

Dan untuk bisa tiba di surga, setiap orang harus banyak melakukan kebaikan di dunia. Para Nakkas menulis prasasti bahwa perjalanan orang mati dimulai dari bawah tanah dan kemudian pergi ke langit. Mereka seperti para saksi orang mati. 

Tulisan dan gambar-gambar Nakkas tertera di penutup makam dan pemakaman merupakan prasasti alam akhirat. Oleh karena itu, kami dididik dengan pendidikan yang berat dan detail... 

Tapi, Guruku Bes sering kali bercerita mengenai Tuhan satu dan tunggal yang mengatur segalanya, menuliskan takdir dan pencipta segalanya dari seluruh ajaran keyakina lama ini. Cerita dari kisah-kisah lama...

“Nama-Nya, memancarkan seluruh nama-nama lainnya di dunia ini,” ucap Tahnem lagi... Aku tahu, kau mengalami banyak hal dalam waktu yang singkat, wajah-wajah baru, kata-kata baru yang kau dengar, tapi aku akan selalu di sampingmu. Tak perlu khawatir, Sare. 

Meskipun awalnya Guru Bes terlihat seperti guru yang keras, tapi dia adalah abdi Ratu yang berada di derajat yang tinggi. Selain kata sabar, aku tak tahu kata apa lagi yang harus aku katakan kepadamu, wahai teman seperjalananku...”

Setelah mendengar ucapan Tahnem, tubuh Sare serasa tak memiliki kekuatan lagi Apa yang dia ingat hanyalah dia jatuh tak sadarkan diri...

Sare akan terbangun di sebuah dunia baru ketika dia membuka kedua matanya...

Dia melihat Tahnem dari ujung patahan kecil batu yang terpahat.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanyanya kepada temannya...

“Sudah bangunkah kau? Syukurlah... Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat sangat lelah... Aku sedang mengukir sebuah kalimat di atas batu...”

“Kalimat seperti apa?”

“Kalimat ini merupakan sebuah nasihat agar nama orang yang meninggal tak dilupakan di alam akhirat. Sebuah kata yang mengingatkan hati mereka dalam ketenteraman. Aku menulis kata-kata mantra yang akan melindungi dari buaya dan pemangsa kambing.”

“Pemangsa kambing? Apa itu?” tanya Sare sambil tertawa kecil .

Tahnem yang tak bisa menahan dirinya pun ikut tertawa. Keramaian itu membuat Guru Bes terbangun di tempat tidurnya. “Terlihat jelas bahwa tak tersisa lagi sesuatu yang membuat kalian tertawa, wahai para pemuda,” serunya sambil terbatuk meluruskan badannya. Tahnem memberikan isyarat untuk diam kepada Sare...

Dua hari kemudian...

Tahnem memandang Sare dengan kedua sudut matanya, meskipun kedua tangannya berada dalam kesibukan... Seorang gadis yang tangguh. Apa yang mereka katakan, biarkanlah.

“Apakah kau menangis?” tanyanya. Meskipun Sare menarik hidungnya dan menggelengkan kepala, Tahnem tahu bahwa Sare menangis...

Dan pastinya Guru Bes takkan pernah memberikan kemudahan dalam keseriusan pekerjaan yang dibalut adat kuno ini. “Para Nakkas memanjangkan rambutnya, apakah itu sesuatu yang pernah dilihat dan didengar?” ucapnya sambil memotong rambut panjang Sare yang tergerai sampai pinggang...

“Kami memiliki adat yang berumur ratusan tahun... Kami membungkuk terdiam karena perintah Sultanah sehingga rela memberikan rahasia-rahasia Nakkas kepada seorang gadis kecil yang belum pernah sekali pun menjejakkan kaki di tanah ini. 

Tuhan Hathor pelindung kebahagian dan kasih sayang perempuan pun takkan rela dengan hal ini. Jika memang kau menginginkan untuk belajar rahasia-rahasia ini maka kau harus meninggalkan semua hal yang berhubungan dengan keperempuanan di balik pintu itu...

Kami takkan pernah memperbolehkan rambut panjang ini, kedua mata yang terus menangis, dan jemari yang bercat. Pelajaran pertama untuk masuk ke dalam perjalanan Nakkas adalah pelajaran pengorbanan. Pengorbanan bagi pengetahuan, pengorbanan bagi guru, kesabaran kepada kegelapan, dan penghormatan bagi Alam Kematian...

Tak ada tangisan! Jika tertawa, bukan dan takkan pernah di depan pemakaman yang kau lihat itu, mengertikah kau?” seru Guru Bes...

Suaranya seperti sambaran petir di langit...

Sebenarnya, perintah Sultanah Asiyah untuk memberikan pendidikan kepada Sare di Desa Nakkas telah memunculkan desas-desus di antara masyarakat Keferteb. Sikap keras Guru Bes ini bermaksud untuk menghilangkan desas-desus itu. 

Tahnem tahu betul bahwa di balik penampilan seperti sebuah batu granit, Guru Bes memiliki hati yang terang seperti emas- emas Nubye. Setelah melalui hari pertama dan kedua dengan pemotongan rambut, Guru Bes menjadi seorang guru yang luarbiasa bagi Sare di hari ketiga. 

Persahabatan dua anak muda berubah menjadi teman seperjalanan mencari pengetahuan. Dalam waktu dekat, mereka akan melakukan perjalanan bersama menuju istana...

Sudah lima bulan lamanya Guru Bes membuat Sare, murid barunya, memecah batu...

Para siswa bangun sebelum Matahari terbit. Rutinitas mereka diawali dengan pergi menuju tenda-tenda berbentuk lengkungan kembar yang memberi kesan seperti sayap burung elang di depan pintu masuk wilayah pemakaman... Jajaran kendi di depan tenda-tenda telah diisi dengan air hangat.

Sare berjalan menuju batu-batu besar dan kecil yang duduk menanti dirinya tepat di depan pintu masuk wilayah pemakaman. Tanpa mengangkat kepalanya, ketika dia memandang batu-batu yang berhari-hari dia pukul dengan palu kecil, terbersit dalam pikirannya bahwa hari saat dia melukis di tembok-tembok takkan pernah tiba.

“Untuk beralih ke pekerjaan mengukir dan warna, diperlukan pemahaman mengenai bahasa batu-batu,” kata Guru Bes...

Sare memiliki tugas untuk menghancurkan batu hingga ukuran yang sama dengan butiran gandum sampai terbenam Matahari. Pemahatan, pemotongan, dan pengaturan batu- batu indah kecil ini memerlukan kesabaran dan ketekunan... Ditambah dengan gumaman seperti dzikir yang diperdengarkan kepadanya.

‘Memandang janji rahasia sebuah gunung yang besar, seluruh amalku menjadi sebuah butiran pasir.’

‘Memandang janji rahasia sebuah gunung yang besar, seluruh amalku menjadi sebuah butiran pasir.’

‘Memandang janji rahasia sebuah gunung yang besar, seluruh amalku menjadi sebuah butiran pasir.’

‘Memandang janji rahasia sebuah gunung yang besar, seluruh amalku menjadi sebuah butiran pasir.’...

Pelajaran peleburan batu ini berjalan sunyi. Tepat di momen ketika Matahari terbit, bias sinar yang seperti tangan-tangan kasih sayang Matahari menciptakan momen singkat yang jatuh tepat di depan pintu masuk wilayah pemakaman, tempat dia duduk... 

Sare mengangkat kepalanya dan hanya memiliki satu kesempatan untuk melihat prasasti itu... Hanya satu kali... Menurut penjelasan Guru Bes, di atas permukaan batu marmer yang panjangnya kurang lebih lima meter itu terdapat ukiran bait kisah.

Tapi, Sare hanya memiliki satu kesempatan untuk memandang batu marmer itu dalam satu hari, dan itu hanya ketika sang fajar terbit. Sare hanya akan bisa membaca keseluruhan bait-bait huruf bergambar ini dalam waktu empat puluh hari. 

Tapi setiap hari, tangan-tangan Matahari hanya dan hanya menerangi satu huruf saja, sisanya berupa kegelapan... Dengan perhitungan satu huruf satu hari, dia membutuhkan empat puluh hari... Empat puluh detik senja. Empat puluh fajar. Empat puluh penerangan...

Selama satu minggu, Sare hanya bisa membaca sebuah pola mata zamrud hijau. Bagaimanapun juga, dia merasakan bahwa mata itu milik seorang perempuan. Satu mata, mewakili satu huruf, bahkan mungkin mewakili sebuah buku... Sebuah mata yang menangis. Rasa kasih sayangnya terlihat jelas dari pewarnaan lukisan dengan warna hijau gelap... Bagian pertama kisah ini berarti seorang perempuan yang duduk berduka...

Selama minggu kedua, dia membaca huruf kedua yang terbentuk dari pola-pola garis retak biru yang saling tumpang tindih ke atas. Tepat dalam satu minggu, kedua matanya bisa memahami warna biru itu tak lain adalah Sungai Nil. Warna biru yang mewakili keberkahan dan memberikan harapan kepada manusia. Ukiran-ukiran huruf ini tepat mewakili lautan...

Minggu ketiga, tepat selama tujuh hari, dia bisa membaca tiga perahu, dua berada di depan dan satu di belakang. Jika dilihat dari dayung dan benderanya, perahu-perahu itu milik bangsawan kerajaan. Seakan dua perahu yang berada di depan melakukan pengawalan bagi perahu yang berada tepat di belakangnya. Badan kayu perahu dilapis cat warna cokelat yang mewakili huruf ini, seolah ketika kayu-kayu dilemparkan ke air menyerupai daun-daun yang akan diambil...

Minggu keempat, selama tujuh hari, dengan penuh kesabaran dia berhasil memecahkan huruf keempat yang merupakan sebuah burung ibis... Tubuhnya yang tinggi, dengan paruh tajam yang mirip dengan milik burung bangau, ujung sayapnya berlapiskan bulu warna-warni. Huruf yang lebih dari sekadar seekor burung, lebih nampak sebagai pembawa kabar, jejak-jejak pengetahuan yang memberikan kabar gembira di dalam hati pembacanya...

Minggu kelima, selama tujuh hari, di setiap senja dia berusaha untuk memecahkan makna huruf berupa seekor naga besar yang memangsa ular-ular kecil di sekelilingnya... Pola yang di awal terlihat mengerikan ini membangkitkan sebuah perasaan keadilan yang dalam di dirinya pada hari dia memecahkannya. Dia tak memahami sepenuhnya semua ini. Tapi, sosok naga yang terukir dengan butiran-butiran putih yang memancarkan sinar seperti Matahari telah memunculkan perasaan aman pada dirinya... Di sini, Sare menangkap warna keadilan...

Lima hari terakhir bagi Sare merupakan menit-menit yang mendebarkan hatinya. Legenda yang berusaha dia baca dalam penantian penuh kesabaran selama empat puluh hari akan berakhir. Dari tempat sunyi yang dia lewati tanpa berbicara dengan siapa pun ini akan muncul sebuah ukiran hikmah ke dalam hatinya...

Empat hari terakhir, dia lewati dengan memahami huruf- huruf yang dia lihat sebelumnya. Legenda tak lagi memberikan sebuah huruf kepadanya. Hati murid muda ini dipenuhi dengan keputusasaan dan kegoyahan. Di akhir empat hari yang dilalui dengan keputusasaan, Sare berada di puncak amarah karena ketidaksabarannya. 

Tepat selama empat puluh hari dia membawa kendi ke tenda para murid saat hari masih gelap, kemudian memecahkan batu tanpa mengangkat kepalanya sampai terbit Matahari. Tepat saat Matahari terbit, dia memandang tembok marmer penuh keingintahuan...

Hari keempat puluh... Tepat saat sinar Matahari menyinari tembok marmer, ketika berusaha berdiri dengan tergesa-gesa, tak tahu bagaimana kakinya tergelincir, tak sengaja palu yang semestinya jatuh di atas batu mengenai jemarinya, saat dia akan megusap jemari berdarahnya yang perih...

Semua telah terjadi. Sinar Matahari jatuh tepat di atas huruf dan berlalu begitu saja dari kebijaksanaan legenda yang selama empat puluh hari dia nanti penuh kesabaran... Tangan- tangan matahari melarikan diri darinya sebelum dia melihat huruf-huruf itu. 

Ketika dia mencoba mengejar bagian depan huruf-huruf, yang tampak hanyalah sebuah kegelapan yang gulita, terucap salam perpisahan, lidahnya terikat. Saat berat kegelapan ini membuatnya gila, Sare menemukan dirinya berada di depan tenda teman perjalanannya, Tahnem...

Tahnem merasa sedih melihat Sare penuh dengan darah dan menangis. Ia memberikan sapu tangan kepada Sare untuk membalut lukanya, tapi tetap saja tangisnya tak reda. 

Sare mungil, hari di mana laranya tak bisa dihibur, sebuah tombak berdiri tegak di langit... Bahkan, ucapan menenangkan Guru Bes yang datang pun tak bisa meredakan tangis Sare...

“Ayo ceritakan, wahai Sare... Apa hadiah legenda kebijaksanaan yang diberikan kepadamu di ujian empat puluh hari ini? Kesulitan-kesulitan yang kau atasi dengan kesabaran, di pagi yang menjadi hakmu untuk terdaftar dalam daftar murid, apa yang akan kau ceritakan kepada kami? Hati serupa seperti sebuah sumur. Mari kita lihat seperti apa air yang akan kau ambil dari ember yang akan kau siram ke kami dari hatimu...”

“Yang aku inginkan hanyalah sebuah rumah yang bisa aku tinggali...”

“Jadi, kau berkata bahwa yang kau baca adalah cerita sebuah rumah?”

“Di dalam cerita terdapat seorang ibu yang menangis. Seorang ibu yang tampak seperti surga. Kemudian ada Sungai Nil, seperti sebuah laut yang sangat biru... 

Ada perahu-perahu yang berlayar di permukaan Sungai Nil. Terdapat kabar-kabar dari surga yang dibawa burung-burung ibis yang berdoa dengan kerendahan hati. 

Dan seekor naga yang terang seperti pancaran sinar Matahari yang menelan seluruh perangkap, pengkhianatan, kelicikan, dan para pendusta... 

Dan kemudian sebuah huruf yang tak memberikan rahasianya kepadaku selama empat hari. Huruf ini sama sekali tak terlihat, tak terdengar, maupun tersentuh. 

Jika di hari terakhir aku tak memukul jariku karena terkejut, mungkin bisa menjadi sebuah kesempatan untuk memecahkan huruf itu. Aku tak tahu. Setelah seluruh penantianku selama empat puluh hari, aku sadar bahwa aku berada dalam sebuah perjalanan tanpa rumah dan sendiri di dunia yang luas ini... 

Itulah huruf-huruf dan cerita yang aku tarik dari sumur di hatiku, wahai Guru Bes yang Agung... Aku hanya ingin sebuah rumah yang bisa aku tinggali dan kunjungi..."

Guru Bes memandang gadis kecil itu dengan mata berkaca- kaca. Dia membelai kepala Sare penuh kasih sayang...

“Wahai putriku, bisakah kau melubangi batu ini dengan jarum?”

Guru Bes menyerahkan sebuah batu kecil berwarna putih dari sakunya yang besar. Sare memandang batu yang berada di tangannya. Untuk menajamkan ujungnya, beberapa kali dia mengasah jarum dengan batu granit yang dia keluarkan dari sakunya. 

Kemudian, dia beberapa kali memukul batu putih dan bercahaya itu yang adalah sebuah mutiara. Dengan ujung- ujung jemari berdarahnya, beberapa kali dia menargetkan titik yang dia tuju dan kemudian tercipta sebuah lubang. Satu pukulan lagi dan hancur berkeping-keping. Sambil menghapus noda-noda di permukaannya, Sare menyerahkan kembali mutiara kepada gurunya.

Guru Bes memandang mutiara di tangannya sambil tersenyum.

“Selama dua puluh tahun, tak satu pun yang bisa menembus mutiara bernama dürr-i şehvar ini dan akhirnya bisa ditembus oleh seorang gadis kecil. Seribu kali selamat... 

Orang yang akan mewarisi mutiara sang Ratu adalah engkau, wahai putriku. Meskipun kau terbakar oleh panasnya Matahari selama empat puluh hari kesabaran, tapi cerita yang kau baca merupakan kebenaranmu. 

Jadilah pelindung mutiara-mutiara, wahai muridku yang pintar... Semoga Allah memberikan rumah yang paling bagus di antara rumah-rumah kepadamu... Jalan- jalanmu terbuka untuk rumah yang paling bagus...”

...

Tanpa membuat mereka menunggu, sambil hanya memberikan sebuah kendi kepada Tahnem dan Sare, tanpa memberi kesempatan untuk mengganti baju, Guru Bes menaikkan mereka ke atas punggung dua kuda putih dan menyuruh mereka untuk berangkat... Dia tak memberitahu tempat yang akan mereka tuju, maupun seberapa jauh jarak yang harus dilalui...

“Kuda-kuda tahu tempat yang akan kalian tuju,” ucapnya. Tak lebih...

Hari terus berlalu. Sang Ratu semakin merasakan kesendiriannya. Persaingan yang tak mengenal kata selesai di istana, setiap langkah yang akan dia ambil berubah menjadi sebuah langkah politik. 

Penghuni istana yang semuanya merupakan keturunan bangsawan Mesir tak pernah satu kali pun tidur lelap, meskipun memiliki emas dan perak melimpah, bangunan yang tinggi dan megah, serta ratusan pelayan yang mengipasi mereka di tempat pemandian mereka berisikan madu dan susu...

Sementara, jarak semakin melebar jauh antara sang Ratu dan sang Raja...Laki-laki itu tak lagi memandang dirinya ketika berbicara.

Kumparan waktu yang berputar ke belakang di dalamnya, bertanya kapan cinta ini akan berakhir... Ketika dia menghitung satu hari, dua hari, lalu menjadi tiga hari, bagaimanapun dia merasa dirinyalah yang bersalah.

Dan, mungkin semua ini adalah sebuah kebohongan sejak awal... Dia tak pernah dicintai, tak pernah diinginkan... Mungkinkah? Kenapa tidak? Kemudian, dia memandang dirinya di hadapan cermin selama berjam-jam, mencari seribu kesalahan di setiap garis yang ada di wajahnya. Tanpa lelah, dia menenggelamkan seluruh panah retak harga diri keperempuanannya...

Awalnya, perpisahan ini datang perlahan-lahan... “Sesungguhnya, aku adalah orang miskin waktu, begitu banyak yang harus aku kerjakan,” ucap sang Raja setiap kali sang Ratu ingin bertemu. Laki-laki itu seakan sebuah rumah yang pintunya tertutup bagi wajahnya sekarang.

Asiyah tak berumah...

Padahal, harapan sejak kecilnya adalah hanya menjadi seorang ibu rumah tangga. Satu harapan yang dia impikan sejak berpisah dari keluarganya tak lain hanyalah sebuah rumah yang memberikan kehangatan cinta. Di dunia ini, dia tak memiliki seorang ibu maupun ayah. Seolah, tak ada lagi topangan sejak kehilangan Apa...

Semua halangan seakan terkumpul satu per satu, seperti sebuah rintangan raksasa... Setelah hari dan bulan berlalu, di setiap waktu yang terlewati, mereka menjadi pasangan yang saling menjauh satu sama lain. 

Setiap pagi, ketika dia terbangun dari tidurnya, sang Ratu selalu menantinya dengan bunga-bunga lotus segar terbungkus kain sutra tipis... 

Tepat di ujung peraduan, dia menaruhnya di atas tempat yang terbuat dari bunga mawar. Ranting pohon ara segar ditempatkan di vas emas yang terbiasa dengan penantian... 

Aroma khusus ini seperti rahasia cinta di antara mereka, paduan bunga lotus dan pohon ara... Aroma semerbak ini seolah rahasia cinta yang diketahui oleh sang Raja dan hanya dipahami oleh sang Ratu...

Lotus, bunga yang menjaga rahasia perempuan dan sebuah mimpi yang setiap malam hanya akan diceritakan kepada laki-lakinya sebagai isyarat dan puisi. Aroma bunga ini menceritakan kepada laki-laki yang terhubung dengan seluruh hati sang Ratu...

Sementara itu, pohon Ara memberikan aroma penantian penuh kecemasan mengenai cinta yang bagaimanapun akan segera meledak, terus berlanjut dalam dirinya, petualangan yang terkumpul ke dalam telapak tangan Raja...

Seiring dengan waktu, sang Ratu tak bisa melewati Tembok Cermin di teras. Di setiap hari yang dilalui, seakan dia melakukan sebuah tindak kejahatan ketika memandang cermin-cermin itu. Baginya, cermin-cermin itu menyerupai pisau tajam yang menampar wajahnya, berkata: Dia seorang perempuan yang belum menjadi seorang ibu! Seolah sang Ratu mendapatkan vonis ketidakberuntungan sepanjang jalan kerajaan oleh seluruh penguasa waktu... 

Ah! Cermin-cermin... Cermin-cermin dengan pantulan-pantulan yang menyilaukan mata telah memadamkan cinta sang Ratu...

Kepala Pendeta Haman layaknya saudara kembar sang Raja. Tak hanya sebagai penasihat ruhani dan wakilnya saja, dia menjadi suara kedua yang tak terpisahkan. Sang Raja selalu meminta sarannya di setiap urusan... 

Rintangan terbesar Ha yang perlu dijangkau adalah Asiyah. Tak tersisa lagi cara yang belum dia coba untuk memisahkan sang Raja yang terhubung dengannya karena ambisinya dari istrinya, Asiyah. Dia menemukan cara ‘memukul seorang perempuan dengan perempuan’. Sudah banyak perempuan keturunan kerajaan yang ditawarkan kepada Ra dengan tangannya sendiri...

Dan sekarang dia berusaha meyakinkan sang Raja mengenai Istana Air yang akan dibangun di atas permukaan Sungai Nil.

Keindahan yang akan dipertunjukkan di Istana Air bukan untuk sekadar dilihat oleh sang Raja, melainkan menunjukkan Ra sebagia kepala Tuhan kepada seluruh tuhan Mesir yang membuat mereka tunduk padanya. Raja berhak mendapatkan ini...

Inilah ide gila Haman yang selalu dibisikkan ke telinga Ra di setiap kesempatan sejak satu tahun terakhir... Telah tiba waktunya bagi Ra sebagai raja seluruh dunia atas dan bawah Mesir untuk menyatakan keabadiannya dan ketuhanannya kepada Zaman..

Saran-saran Haman yang terfokus pada kesempurnaan membuat lapisan kesombongan Raja bertambah tebal. “Tuanku, jiwa suci Anda berhak mendapatkan ini... Anda adalah pemilik segalanya... Anda berada di atas makhluk yang sempurna... Kecerdasan Baginda tak terkira... Kami adalah hambamu... Kami adalah orang-orang yang tak berharga... Kami adalah pengikut fanamu... Kekuatanmu tak terbatas dan penuh dengan kebijaksanaan...”

Hari telah berganti malam ketika Tahnem dan Sare tiba di istana. Mereka segera disambut sang Ratu dan mendapatkan keramahan istana.

Setelah acara makan malam yang gemerlap di taman istana, raja tidur tak nyaman di tempat tidurnya. Dia terbangun di waktu mendekati pagi hari oleh mimpi buruk.

Dengan suara keras menggemuruh, dia memanggil pelayan, penasihat, dan para menterinya. Seperti tak cukup, dia juga memanggil para peramal dan siapa pun yang ada berjajar menunggu perintahnya...

Ratu Asiyah yang terbangun karena suara teriakan, segera turun dengan perasaan cemas dari ruangannya bersama Tahnem dan Sare.

“Tuanku Ratu, syukurlah Anda telah datang. Baginda Raja mengalami mimpi buruk yang sangat serius. Malapetaka, sungguh malapetaka...,”

Raja yang menyadari dan melihat sang Ratu dalam keramaian seketika menjadi agak tenang. “Yes’a.... Yes’a, mendekatlah padaku, tolong... Sungguh akan terjadi sesuatu yang buruk. Aku melihat mimpi yang sangat mengerikan. Seekor naga besar... Seekor naga yang terang, seterang sinar Matahari... Semburan api yang keluar dari mulutnya membakar seluruh negeri Mesir... Mengertikah kau, seluruh Mesir terbakar. 

Hanya Sungai Nil... Kecuali Sungai Nil, semuanya, seluruh rumah, perkebunan kurma, lahan gandum, piramida, satu per satu terbakar... Selain para Ibrani dan rumah-rumahnya, apa pun yang ada di Mesir terbakar habis... 

Semuanya terbakar dalam kobaran api yang besar... Yes’a... Aku mohon, tolong aku. Ini adalah mimpi yang sangat buruk. Semuanya akan terjadi padaku, Yes’a... Selain dirimu, tak ada satu orang pun yang bisa berkata hal ini kepadaku...”

“Baginda, aku tak tahu mengenai hal ini. Tapi, penasihat mudaku Tahnem unggul dalam menafsirkan mimpi. Tenangkanlah diri Baginda, lalu kita cari solusi permasalahan ini bersama-sama...”

Sang Ratu meminta semua orang untuk kembali ke tempat mereka masing-masing, kemudian memerintahkan Sare untuk menyiapkan kopi kapulaga pahit. Dengan bantuan Tahnem, sang Ratu memindahkan Raja ke tempat tidur gantung yang lebih sejuk. 

Gelas-gelas mewah sisa semalam, bermacam botol arak yang membuat kepala pusing, kendi air, keranjang buah yang tersebar di mana-mana, selendang yang berceceran, dan gelang-gelang menjadi satu dengan aroma parfum dari botol- botol yang pecah...

Ketika Tahnem bersandar pada tiang di antara kekacauan ini, dia membalikkan kepalanya, memandang ke suatu benda yang mengganjal kakinya dengan mata terkejut. 

Itu adalah tubuh para wanita penghibur yang tertidur pulas seperti batang pohon yang berjajar di bawah tumpukan kain sutra karena pengaruh apiun yang mereka minum. 

Seperti inikah istana? Bagaimana sang Ratu bisa kuat bertahan dengan segala kekacauan dan kerusakan ini? Dan bagaimana seorang laki-laki yang hidup di tengah-tengah kobaran api dapat takut dengan api yang dia lihat dalam mimpinya?

“Ini memang sebuah istana yang terbakar di tengah kobaran api,” ucapnya kepada diri sendiri.

Kopi pahit yang dibawa Sare, diberikan kepada sang Raja oleh sang Ratu. “Minumlah, ini akan membuatmu lebih baik... Ah, temanku... Malam yang kita lalui ini, jika bukan merupakan peringatan bagi Baginda dan kami, lalu apakah ini? Baginda memang telah berada di tengah kobaran api. 

Semua ada di tangan Baginda untuk mengubah semua ini. Baginda tidak memerlukan ribuan penipu dan pembohong yang mengucapkan kepalsuan, melainkan sahabat sejati. 

Sekarang, di malam ini, ribuan orang tak bisa memejamkan mata mereka karena kalaparan, kesedihan, dan berbagai macam penyiksaan. Mereka menantikan keadilan dan keamanan dari Baginda... 

Ketika masyarakat Mesir menangis darah, kutu-kutu yang hidup dalam kenikmatan istana justru memberikan pemandangan surga palsu! Seandainya Baginda bisa menyadari ini...”

Perkataan Ratu Asiyah terhenti dengan batuk Tahnem. Suara lembut malaikat sang Ratu, pasti terdengar seperti dendangan lagu tidur bagi raja yang malang. Ra sekali lagi tertidur di ranjang gantung...

Ketika mereka berjalan menuju teras dengan wajah murung dan sedih, Tahnem menyadari sebuah bayangan hitam di antara pilar-pilar istana. Kepala Pendeta Haman sedang mengawasi mereka. 

Tahnem kemudian berpikir bahwa persaingan yang terjadi antara Haman dan sang Ratu yang dia dengar sebelumnya pastilah benar. Tahnem bersumpah menjaga dan melindungi kedua perempuan ini dari gangguan Haman...

Sang Ratu tak lagi sendiri di istana.
Mereka bertiga.
Inilah rangkuman yang Haman dapat malam ini...

Keesokan harinya, Raja Pare-amon menjelaskan secara detail mimpinya semalam dan menanyakan tafsir mimpi ini kepada orang-orang di sekelilingnya. Sebenarnya, makna mimpi ini sangat jelas. Tetapi, tak satupun orang yang berani mengatakan kebenaran kepada sang Raja...

Ketika tiba giliran Tahnem muda, wajahnya yang bersih menunjukkan usianya yang beranjak dewasa. Awalnya, perkataan Tahnem membuat sang Raja bahagia. Namun, saat Tahnem melanjutkan ucapannya, garis-garis di wajah sang Raja mulai bermunculan. Wajahnya berubah muram...

“Aku mengagumi dirimu dan keberanianmu, wahai Tahnem muda. Dan seperti yang kau katakan, mimpi ini sangatlah jelas dan mengisahkan sebuah malapetaka yang akan menimpa kaum Israil, mengancam seluruh Mesir. 

Sebenarnya, jika kalian cermati, wahai sahabat-sahabatku dan menteri-menteriku... Aku juga menyadari dan mengetahui bahwa pertumbuhan penduduk Apiru beberapa tahun ini menimbulkan sebuah tekanan. 

Tapi, jika dilihat dari kegiatan dan pembangunan untuk kekuatan militer maupun ekonomi negeri ini, terlihat jelas bahwa kita membutuhkan pertambahan penduduk Apiru. Seandainya tak ada para Apiru, siapa yang akan bekerja di pekerjaan yang paling berat di Mesir? Siapa yang akan melakukan pekerjaan kasar untuk Mesir yang luas ini? Mereka tenaga kerja yang murah, bahkan para Ibrani bermakna kekuatan yang cuma-cuma. 

Oleh karena itu, kita tak mempedulikan mereka. Kalau tidak, negeri ini tak lain hanyalah negeri penuh dengan pendatang dan tak berharga di mata para tuhan. 

Maka dari itu, di bawah peraturan keharusan untuk bekerja kita juga membuat kebijakan khusus. Tujuannya adalah memperbanyak pernikahan para wanita Apiru dengan laki-laki Kıpti dan pemusnahan identitas Ibrani. Tapi, usaha kita ini belum tercapai. Bagaimana kita bisa mencegah malapetaka ini, aku menunggu saran kalian.”

Setelah sunyi beberapa saat, Kepala Pendeta Haman kemudian mulai berkata.

“Salamku kepada Raja yang suci. Kami sebagai pelayan Istana Mesir selalu mendukung apa yang menjadi keputusan yang akan Baginda putuskan. 

Tuanku, bukan penduduk Apiru yang sudah ada, melainkan kita harus mengontrol generasi- generasi Ibrani yang akan lahir sehingga mulai dari sekarang kita bisa mencegah terjadinya malapetaka yang akan terjadi di masa depan... 

Maksudnya, jika kita memusnahkan generasi laki-laki Ibrani yang lahir, keamanan akan berada di tangan kita. Apa yang saya ingin katakan adalah bayi laki-laki Ibrani yang akan lahir merupakan malapetaka bagi kita di masa depan. Aku mengusulkan untuk mengorbankan bayi laki-laki Apiru kepada para tuhan.”

Usulan berdarah dingin ini semula memberikan embusan angin dingin di ruangan, tapi tak lama kemudian tawa ceria membahana. Ide ini dianggap sangat cerdas. Hanya Tahnem yang tak tertawa.

“Tuanku,” ucap Tahnem. “Tuanku, Jika melakukan hal yang dikatakan oleh Kepala Pendeta Haman maka dalam jangka waktu sepuluh tahun di tangan kita takkan tersisa penduduk yang bersedia melakukan pekerjaan berat dan keras untuk Mesir. Seluruh laki-laki Apiru yang akan terbunuh, bukankah lebih baik untuk melayani negeri ini? Usulan untuk membunuh seluruh anak laki-laki merupakan usulan tanpa melihat konsekuensi di masa depan.

Orang-orang memandang pemuda yang berani melawan perkataan Kepala Pendeta Haman secara terbuka ini dengan mata setengah kagum dan setengah terkejut...

Setelah beberapa saat berpikir, sang Raja kemudian menjawab.

“Anak muda ini berkata benar...”

Kepala Pendeta terbelalak dan tak ingin mengakui kekalahan.

“Ada yang lebih mudah Tuanku, ada yang lebih mudah... Satu tahun kita bunuh, satu tahun berikutnya kita beri izin untuk melahirkan anak laki-laki...”

Kesunyian singkat tercipta dan kemudian terdengar suara- suara dukungan yang membahana...

...

“Jadi, sampai tingkatan seperti ini mereka membawanya. Semua mata sudah tertutup,” ucap sang Ratu. Sare yang juga berada di sana meneteskan air mata mendengarkan apa yang akan terjadi. Seraya merangkul bahunya, Tahnem membawa Sare keluar menuju balkon istana. Di bawahnya, Sungai Nil mengalir dengan sabar. Seperti linangan air mata...

Sifra dan Pua, dua bidan yang namanya sudah tersohor ke seluruh Gosen. Ratusan bayi terlahir dengan tangan mereka. Wajah penuh senyum mereka lah yang pertama kali dilihat para bayi ketika pertama kali membuka kedua mata.

Oleh karena itu, berapa pun umurnya, wajah mereka yang mirip dengan bayi menebarkan kebahagian di setiap rumah yang dikunjungi...

Para bidan mengingatkan tentang Allah kepada para penduduk Mesir...

Allah yang Maha Agung memberikan banyak nikmat kepada hamba-Nya...

Allah yang Rahman, memberikan kebaikan besar terhadap apapun yang ada di alam semesta ini. Memberikan nikmat- Nya kepada semua. Dia Maha Pengasih dari yang paling pengasih...

Tak pernah sekalipun wajah para bidan ini menyibakkan rasa merendahkan...

Mereka mengingatkan kepada surga, kebaikan, dan kasih sayang...

Meskipun mereka tak melahirkan, nama mereka tetap ibu. Tangan-tangan merekalah yang memotong tali pusar manusia- manusia baru dan mengenalkan dunia.

Para bidan adalah pusar kebaikan yang menghubungkan surga dan dunia. Sebuah jembatan keselamatan, mata penerang bagi Mesir. Bagi seluruh permukaan Bumi...

Hari penyelamatan kaum Bani Israil, dua bidan berhati mulia layaknya pantulan sinar Matahari yang menerpa segel emas, dipanggil ke hadapan penguasa istana. Tugas-tugas baru diberikan kepada mereka.

Tapi, ini adalah kabar buruk bagi mereka. Sebuah perintah yang membuat bulu kuduk berdiri dan punggung terbebani...

Hari itu adalah pertama kali dalam hidup mereka merasakan wajah terselimuti awan gelap, bahu terasa berat, dan kepala tertunduk sedih. Mereka menjawab orang-orang yang mengucapkan salam ketika bertemu dengan wajah muram dan sedih... 

Mereka tak berbicara dengan siapapun selama satu hari. Ketika malam tiba, mereka tak menyalakan lilin sampai pagi tiba. Mereka sama sekali tak bergeming untuk membukakan pintu ketika mendengar pintu mereka terketuk karena kecemasan orang-orang yang tak terbiasa mendapati mereka seperti itu...

Hari itu adalah hari sang Raja menjadi “Fir’aun”...

Hari itu merupakan hari pembuktian bahwa politik, kekuatan jabatan, dan keinginan akan kekuasaan yang begitu besar dapat mengubah manusia menjadi seseorang yang dzhalim...

Fir’aun telah memberikan perintah kepada Pua dan Sifra untuk mencekik bayi laki-laki kaum bani Israil seketika mereka terlahir ke dunia...

Apa yang diinginkan Fir’aun dari mereka? Mereka adalah seorang ibu, bagaimana bisa mereka membunuh anak-anak mereka? Apa yang terjadi dengan raja ini? Bagaimana bisa seorang raja besar menjadi seperti ini? 

“Mereka pasti kehilangan akal sehat,” ucap Sifra... “Bukankah mereka juga manusia?” tanya Pua... Dan mereka saling berpandangan. “Tapi, kenapa?” ucap mereka. “Mengapa?”

“Ya Rabb...,” ucap mereka sambil bersujud...

“Jangan tinggalkan kami... Berikanlah kebaikan kepada kami di dunia dan akhirat. Kami sangat membutuhkan pertolongan- Mu yang paling kecil sekalipun. Lindungilah kami dari godaan setan dan nafsu...”

Keesokan harinya, ketika tentara Fir’aun mengetuk pintu rumah mereka. “Tidak,” jawab para bidan.

“Kami tidak akan membunuh apapun yang hidup dan bernapas. Kami tak mau bekerjasama dengan kalian. Kami tak mau menjadi bagian pembunuhan yang akan kalian lakukan. Kami adalah bidan, bukan algojo. Kedua tangan kami beraroma kain bayi, bukan kain kafan. Dan kami takut kepada Allah. Kami memilih menyerahkan nyawa kami kepada Allah daripada membunuh kepolosan bayi-bayi...”

Sesuai perkataan mereka, Pua dan Sifra mengembuskan napas terakhir di depan pintu rumah mereka di tangan para tentara Fir’aun...

Ketika para tentara Fir’aun menyampaikan kabar tak gembira ini ke istana, Tahnem dan Sare yang ikut mendengar kabar pun meneteskan air mata. Dengan perintah sang Ratu, mereka segera menyiapkan dua makam yang bagus bagi Pua dan Sifra. 

Orang-orang kemudian melihat dua batu nisan putih dari granit di suatu puncak antara Memphis dan Gosen. Keesokan harinya, mereka terkejut. “Sungguh aneh! Fir’aun memberikan hadiah rumah abadi yang bagus kepada dua bidan ini...”

Sesungguhnya, walaupun Pua dan Sifra menolak untuk melakukan pekerjaan bagi Fir’aun, tapi mencari pengintai baru di antara kaum bani Israil bukanlah hal yang sulit bagi para tentara Fir’aun.

Wilayah Gosen telah menjadi suatu wilayah di mana tetangga mengintai tetangga. Apiru mengintai Apiru lainnya...

Tahun kematian bagi seluruh bayi laki-laki kaum bani Israil telah tiba. Hanya dengan beberapa keping perak sebagai gantinya, bayi- bayi laki-laki dikeluarkan dari tempat persembunyian dan dilemparkan ke sungai sebagai makanan buaya... 

Sementara itu, di tahun kehidupan, seakan tak pernah terjadi peristiwa mengerikan sebelumnya, mereka memotong hewan korban untuk bayi laki-laki yang terlahir ke dunia. Mereka kembali terdiam tak melawan kedzaliman di tahun berikutnya, tahun kematian...

Seperti inilah kehidupan yang dilalui di Gosen.

Satu tahun kematian, satu tahun kehidupan...

Satu tahun madu, satu tahun racun... Satu tahun tetangga, satu tahun pengintai... Satu tahun perayaan, satu tahun penyesalan...

Bangunan istana Ratu Asiyah tak lagi ditempatinya sendirian. Mereka sekarang bertiga. Meskipun keberadaan Tahnem dan Sare awalnya seperti ajudan khusus, dalam waktu singkat mereka menjadi dua sahabat kecil rahasia Sultanah...

Suatu hari, Tahnem tak tahan lagi berdiam diri ketika melihat sang Ratu meneteskan air matanya dalam diam.

“Ini merupakan sebuah sikap menyerah...,” ucapnya. “Raja memisahkan masyarakat negeri ini dalam bentuk tingkatan yang tak adil. Ketidakadilan ini, suatu saat akan membakar seluruh Mesir seperti sebuah guncangan gempa. Bagaimana bisa seorang pemimpin yang cerdas tak bisa melihat ini?”

Sare yang sampai saat itu bersikap seperti penonton yang berdiri terdiam pun ikut berkata.

“Apakah dia berpikir bahwa Allah tak melihat semuanya, semua hal yang terjadi dan seluruh hal yang telah dialami ini? Apakah dia mengira Allah tak mendengar jeritan bayi-bayi murni yang dilempar sebagai makanan buaya di Sungai Nil itu? Raja bersikap seakan telah melupakan Allah! Padahal, anak-anak laki-laki yang dilempar ke Nil dan anak-anak perempuan yang dibiarkan hidup dalam masyarakat ini adalah kenangan dan amanah Nabi Yusuf.”

Ratu Asiyah memegang tangan dua mukmin tak berdaya yang menangis seperti dirinya.

“Kalian berkata benar, wahai anak-anak muda. Dia Nabi Yusuf, tak pernah membiarkan kita, Kerajaan Mesir, dalam kelaparan ketika mengalami masa kelaparan yang berlangsung tujuh tahun setelah tujuh tahun masa penuh berkah. Sebuah kekuasaan yang terhormat bagi seluruh dunia, ditulis sebagai kepemimpinan yang terhormat dan dibanggakan.”

Sare, gadis muda yang tumbuh besar dengan ajaran dan keyakinan yang datang dari kaum bani Israil meneruskan perkataannya.

“Semua yang berada di Gosen dan Palestina... Manusia menanti lahirnya sebuah bintang. Seorang pembawa pesan, akan datang utusan baru, sebuah risalah yang akan meneruskan ucapan Nabi Yusuf yang telah lama kita nantikan. Ketika hari itu tiba, kenikmatan yang besar akan datang kepada orang- orang yang tertindas di Mesir, kepada orang-orang yang ingin terlepas dari perbudakan. Dia akan memberikan petunjuk kemanusian kepada manusia.”

Ketika mereka saling mencurahkan isi hati, terasa sebuah rahmat yang berbeda malam ini. Matahari yang perlahan bergerak ke arah peraduannya di arah barat seolah tak ingin melepaskan langit dari pelukannya. 

Meskipun telah tenggelam sepenuhnya dalam langit, seakan merah awal malam membuka sebuah kain khayalan, sebuah tanda yang memanjang seperti sebuah salam.

Bulan pun muncul lebih awal, perlahan- lahan datang dengan memberikan salam kepada lengan-lengan Matahari. Bulan dan Matahari, bagaimanapun juga mereka tak pernah mau berbagi malam di Mesir... 

Pohon akasia dan kurma merayakan hari raya, pantai-pantai mengiringi Sungai Nil yang menepuk tangan-tangannya merayakan hari raya, bergabung dalam kain khayalan kegembiraan. Seakan, semua yang mereka lihat di waktu malam ini berbagi sebuah rahasia...

Semua burung yang bersembunyi di ranting-ranting pepohonan seketika beterbangan seperti banjir anak panah bersayap yang menghujani langit dari daratan. Burung-burung berkicau riuh. Nyanyian para burung mencuri perhatian masyarakat ke langit...

“Pernikahan burung-burung...,” ucap Ratu Asiyah.

Bintang-bintang di langit akan turun ke daratan jika mereka mempunyai kesempatan, menjadi lilin yang rendah hati dan dengan seluruh tenaga mereka berusaha untuk menghancurkan para pengawal wilayah Gosen...

Tahnem berseru kaget sambil menunjuk arah pesisir selatan Nil.

“Rupanya, di malam ini terdapat perayaan lain yang hanya burung-burung dan langit mengetahuinya.”

Terbuka sebuah jalur cahaya di atas Gosen. Sebuah lengan cahaya turun ke daratan dari langit. Sementara itu, lengan lainnya memancarkan berkas cahaya dari daratan ke langit di wilayah Mesir yang berduka ini...

Tepat saat itu, sebuah ayat turun ke muka Bumi... 

Imran dan Yakobed menutup korden rumah mereka dengan rapat. Seorang bayi terlahir ke dunia bersama cahaya lilin yang menelan rahasia kelahirannya. Dan tepat di tahun kematian, Maryam anak perempuan yang menjadi kedua mata rumah, dengan rasa takut akan laporan para pengintai yang dapat terjadi setiap waktu, mengatakan bahwa ibunya pergi mengunjungi saudara dekat mereka dan akan kembali besok atau pagi hari kepada tetangganya. Rumah terlihat kosong, tak nampak satu orang pun.

Remah roti yang dikumpulkan kurang lebih satu minggu disebar di halaman secara teliti. Dia pun berhasil mengumpulkan burung-burung yang hinggap di ranting- ranting pohon di sekeliling ke halaman rumahnya... 

Ibunya adalah seorang perempuan yang sabar dan gigih. Dengan berani dia menghadapi waktu kelahiran, berhati-hati menjaga rasa sakit menjelang kehadiran sang bayi yang semakin mendekat. 

Kedua tangannya menggenggam erat tiang-tiang tempat tidur. Sambil menggigit kain dalam mulutnya, dia berusaha dengan segala kekuatan untuk bayi yang akan terlahir...

Yakobed telah memutuskan untuk tak menyerahkan bayinya yang akan lahir kepada petugas kependudukan. Dia tak ingin masuk ke ruang laknat, sebuah bangunan kayu yang dikenal dengan sebutan ‘rumah kelahiran’ yang berada di pesisir Sungai Nil. 

Jeritan para wanita di ujung bangunan kayu itu, rasa tersiksa ketika anak-anak mereka dilemparkan ke sungai merupakan mimpi buruk bagi seluruh perempuan... 

Yakobed, jika dia dibawa oleh para tentara secara paksa ke ruangan itu, tanpa berpikir panjang lagi telah menyakinkan hatinya untuk melemparkan dirinya ke perairan.

Tahun ini adalah tahun kematian...

Yakobed memandang Maryam putrinya dan Harun putranya yang terlahir di tahun kehidupan. Dia tak henti berdoa untuk bayi dalam rahimnya selama sembilan bulan...

Waktunya telah tiba...

Rasa nyeri terakhirnya, terasa sakit dari rasa nyeri lainnya, bendungan air dalam tubuhnya telah pecah dan mengalir keseluruh ruang dalam kegelapan dan kemudia pintu terbuka... 

Maryam menantikan isyarat terakhir yang akan datang dari ibunya, segera berlari ke halaman rumah dan kemudian mulai mengusir burung-burung yang datang untuk serpihan-serpihan roti. 

Dengan ember yang penuh air di tangannya, dia mengusir burung-burung yang berada di halaman, membangunkan burung-burung yang hinggap di ranting pepohonan dengan mengguncangkan ranting, dan membuat sarang-sarang burung bergetar sehingga burung-burung berkicau riuh... 

Bersama suara kicauan ratusan burung yang terbang ke udara, saudara barunya terlahir ke dunia.

Bayi bercahaya yang tali pusar kesedihannya terpotong oleh sebuah harapan ini, menyinari seluruh kegelapan kamar...

Seakan seluruh ruangan terisi oleh cahaya lilin.

Seakan ibu Yakobed yang menerima ucapan selamat dengan sayap-sayap malaikat, tak merasakan rasa sakit sampai waktu itu, tak merasakan rasa nyeri. Meskipun keringat membanjiri dahi dan punggungnya, embusan angin segar, lahir dengan penuh keselamatan dan kelegaan ke dalam hati seorang ibu.

Maryam berlari ke kamar belakang, tempat ayahnya sedang bersujud berdoa.

“Dia datang! Tamu kita telah datang,” serunya memberikan kabar gembira. Bahkan, Harun yang masih kecil pun tersenyum mengerti apa yang Maryam maksudkan... 

Kemudian, Maryam berlari ke sisi ibunya. Dia membawa sebuah ember berisi air dingin dan kurma segar untuk ibunya. Dia memandang saudaranya yang bersentuhan dengan wajah ibunya, Yakobed, dengan pandangan gembira. 

Cahaya yang memancar di dahi Yakobed selama sembilan bulan kini berwujud ‘tamu kecil’ yang bernapas di sisi ibunya. Ia meraihnya, lalu menempelkannya ke dahinya...

Saudaranya itu menyinari kegelapan ruangan seperti sebuah bintang...

Seluruh bintang di langit seolah masuk ke dalam kamar itu. Seakan mereka semua berkata apakah Anda akan mempersilahkan kami masuk jika kami mengetuk jendela ini... Seakan mereka berkata, “MasyaAllah, tabarakallah”...

Kebahagian keluarga Imran hanya berjalan singkat.

Perkataan Yakobed, “Bagian paling sulit dimulai dari sekarang...” membuat Imran merinding...

Apa yang akan mereka lakukan terhadap para pengintai yang berada di sekeliling mereka? Bagaimana mereka menyembunyikan bayi yang baru lahir ini dari para petugas kematian yang rutin mengunjungi setiap rumah?

Akhirnya, untuk sementara mereka menyembunyikan bayi itu di ruang bawah tanah rahasia di halaman rumah Imran.

Mereka akan mengatakan kepada para petugas kematian yang datang bahwa Yakobed telah menjatuhkan bayinya hingga tewas. Mereka akan membawa petugas kematian melihat potongan-potongan daging seekor kambing yang telah mereka kubur. “Seperti ini lebih baik. Kami telah membuang bayi kami di tahun kematian ini.” 

Itu rencana mereka...

Keluarga Imran selama beberapa hari dapat menjalani hidup seperti kehidupan yang mereka lalui sebelumnya. Tapi, pengawasan para tetangga membuat mereka tak dapat bergerak bebas untuk memerhatikan sang bayi yang disembunyikan di ruang rahasia.

Di hari-hari itu, Yakobed mengalami sesuatu hal yang berbeda selama berminggu-minggu. Mimpi-mimpi datang secara beruntun.

Sebuah suara, sebuah bisikan, sebuah desakan yang menyakinkan dirinya di atas seluruh keegoisannya...

“Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul..."

“...Letakkanlah ia (Musa) di dalam peti, kemudian lemparkanlah ia ke sungai (Nil), maka pasti sungai itu membawanya ke tepi, supaya diambil oleh (Fir ́aun) musuh- Ku dan musuhnya!”

Allah yang Maha Agung berkata bahwa Dia telah memberikan kasih sayang yang besar pada bayi ini sejak terlahir. Dalam mimpi Yakobed, Dia berkata akan membesarkan bayi ini dalam pengawasannya...

Seakan tubuh keibuan Yakobed terbelah menjadi dua. 

Satunya berkata, lemparkanlah bayi itu ke laut dengan rela...

Sisi lainnya menarik ke arah berbeda, berkata bagaimana mungkin seorang ibu dengan sengaja melempar anaknya ke sungai...

Tapi, lingkaran semakin menyempit. Para tetangga yang selalu mengawasi, para pengintai yang selalu mencari celah, para petugas yang hampir setiap minggu datang menghampiri, para kerabat dan sanak saudara yang dengan berbagai alasan berkunjung ke rumahnya...

Di waktu yang sama, rumah keluarga Imran juga dihujani keberkahan yang terlihat jelas oleh semua orang. Ternak kambing dan sapi yang semuanya terlahir kembar, air susu yang diperah dengan melimpah dari kambing dan sapi, serta pepohonan dan tanaman yang berbuah lebat...

Begitu banyak tamu yang datang, tapi tak ada yang menyadari kehadiran bayi di ruang rahasia. 

Sungguh aneh, tepat saat rumah penuh dengan tamu, para kambing duduk di atas pintu ruang rahasia. Mereka menemukan kambing mereka sedang menyusui sang bayi. 

Sang bayi tak pernah menangis menghadapi semua musibah ini, kapan pun tutup ruang lipat terbuka, dia memberikan senyumnya kepada orang yang memandangnya...

Hampir setiap orang di wilayah itu datang menghampiri rumah mereka, berdiri di ‘kuburan kecil’ sang bayi. Ketika kuburan mulai digali, suara-suara pun bermunculan.

“Kenapa kalian mengubur bayi kalian tanpa menunggu kedatangan kami? Kami harus melihatnya dan mencatat dalam laporan,” ucap kepala petugas.

“Maafkanlah kebodohan putriku, wahai Kepala Petugas,” ucap Yakobed. “Putriku masih sangat muda dan malam itu, saat aku melahirkan, suamiku sedang tak berada di rumah. Aku jatuh pingsan, putriku merapikan semuanya dan memindahkan aku ke tempat tidurku. Kemudian, dia pun mencuci bersih sang bayi dan tak berpikir akan kedatangan kalian untuk menanyakan bayi yang jatuh ini keesokan harinya. Suatu hari, dia akan menjadi seorang ibu dan hanya pada saat itulah dia akan memahami hal seperti ini. Tapi, sekarang dia masih sangat muda.”

Keramaian di depan rumah perlahan menghilang. Orang- orang pergi sambil meminum susu mentega dingin yang dijamu oleh Maryam yang cerdas. 

Setelah semua orang pulang ke rumah mereka masing- masing, keluarga Imran masuk ke dalam rumah.

Yakobed sudah yakin dengan keputusannya. Pengalaman mengerikan ini membuat dia berpikir cepat...

Keesokan harinya, saat Matahari belum beranjak tinggi, dia pergi ke pasar Gosen. Yakobed tahu apa yang dia cari. Setelah mencari tahu beberapa saat, dia berhenti di depan sebuah toko.

“Saya ingin memesan sebuah peti mati,” ujar Yakobed.

Sebenarnya, orang yang berada di pintu tak sama seperti seorang tukang kayu maupun penjahit atau pandai besi. Bahkan, dia sama sekali tak terlihat seperti seseorang yang bekerja di pasar.

“Nyonya, saya adalah guru Yehuda. Saya datang dari kota yang sangat jauh. Toko ini milik paman saya, tapi karena dia sedang bekerja di pembangunan benteng, saya terpaksa harus menggantikannya. Tak usah khawatir, tangan saya sangat lihai. Anda cukup menjelaskan peti mati seperti apa yang Anda inginkan. Saya pastikan peti mati pesanan Anda akan siap di siang hari.”

“Satu peti mati... Saya ingin sebuah peti mati kecil...”

“Saya mempunyai seorang keponakan bernama Sare. Sejauh yang saya dengar, dia bertugas sebagai pelayan Ratu Asiyah,” lanjut guru Yehuda... Hati Yakobed seketika bergetar takut. Jadi, tukang kayu ini memiliki kerabat di istana. Meskipun awalnya, Yakobed memutuskan untuk segera pergi dari tempat itu... Yehuda seolah memahami apa yang terlintas dalam pikiran Yakobed.

“Tuanku, Anda takkan bisa menemukan tukang kayu selain saya di sini. Kebanyakan tukang kayu telah bekerja sama dengan para tentara Raja. Mereka bekerja dalam pembangunan piramida dan benteng di Sakkara.”

“Sebenarnya, pesananku tak begitu tergesa-gesa.”

“Tuanku, besi dipukul dalam waktu, ucap para tukang besi. Semuanya memiliki waktu masing-masing dan menurut saya waktu pesanan Anda telah tiba. Tak ada kuburan dan kapal yang menunggu penumpang yang terlambat. Semua harus sesuai dengan jalan dan waktu.”

Perkataan berhikmah ini sedikit mengobati luka hati Yakobed...

Guru Yehuda pun segera memulai memahat peti mati kecil sesuai ukuran sang bayi.

“Kami para Apiru memanggil Ratu Asiyah dengan nama Badiyah... Dia tak seperti sang Raja dan para tentaranya. Dia memberi makan anak-anak yatim dan melindungi orang-orang miskin.”

“Kami juga menghormatinya dan mencintainya. Beberapa bulan yang lalu, kami mendapatkan penghargaan berupa kunjungannya. Bahkan, dia menyerahkan selendang kuningnya kepada putriku sebagai hadiah.”

“Kebahagiaan yang besar! Putri Anda akan berhasil melakukan banyak hal yang besar dengan selendang itu.”

“Anda telah memulai memahat peti mati tanpa saya menjelaskannya terlebih dahulu. Bagaimana Anda tahu ukurannya? Dan mengapa Anda membuat bagian bawah melengkung saya tak mengerti, Guru Yehuda...”

“Nyonya, sebelumnya Anda berkata menginginkan peti mati kecil. Sementara itu, bagian bawah peti merupakan model terbaru. Tak usah khawatir. Peti mati sama seperti perahu, berenang di atas punggung lautan menyeberang ke dunia lain...”

“Anda juga menggelapkan bagian bawah kayu. Kenapa?”

“Ketahanan sebuah peti mati merupakan syarat utama, Nyonya.”

“Kalau begitu, bagaimana dengan lubang-lubang di penutup peti mati. Apakah sebuah peti mati memang dibuat berlubang?”

“Ini semua tergantung dengan apa yang akan Anda masukkan ke dalam peti ini, Tuanku. Saya membuat lubang ini supaya ketika Anda menaruh pakaian, buah-buahan atau madu ke dalamnya maka akan tidak mudah busuk... Bahkan, ketika dalam peti terdapat sesuatu yang mati pun, lubang- lubang seperti ini mampu menghalangi pembusukan karena mengurangi panas...”

Dan seperti apa yang Guru Yehuda janjikan, peti mati telah selesai tepat saat waktu siang. Yakobed, meletakkan semua apa yang ada di kantongnya ke meja, sementara itu Guru Yehuda hanya mengambil satu sepertiga perak dan mengembalikan sisanya. “Setiap sungai adalah airnya sendiri, setiap guru adalah rasa takutnya sendiri,” ucanya...

Yakobed, setelah memandang sambil tersenyum kepada laki-laki aneh ini, melangkahkan kakinya pulang.

Sebelum tiba di rumahnya, ia meletakkan peti kayu tersebut di sebuah sudut di tepian Sungai Nil. Yakobed menyembunyikannya di antara semak-semak.

Ketika dia berjalan ke arah rumah, keramaian di rumahnya menarik perhatiannya. Dia kemudian bersembunyi di balik semak, berusaha memahami apa yang terjadi. 

Sekitar rumahnya penuh dengan tentara kerajaan. Sosok Kepala Pendeta Haman yang duduk di tandu emas dan panji-panji yang berkibar membuat jantungnya berdetak kencang. 

Jadi, setelah para petugas, sekarang Kepala Pendeta Haman juga hendak menyelidiki mereka... Maryam, putriku yang malang!

Semua yang terjadi seperti apa yang dia perkirakan... Kepala Pendeta Haman tak percaya dengan laporan yang diserahkan kepadanya. Dengan pasukan khususnya, dia datang untuk melihat langsung keluarga Imran...

Tuan Karun, Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan, juga berada di sana, Ya Allah, apa yang akan terjadi saat ini...

Tak diragukan lagi, bayi yang Yakobed lahirkan adalah manusia luar biasa.

Seperti apa yang Yakobed lihat dalam mimpinya, dengan seluruh hatinya dia percaya dan yakin bahwa bayi ini suatu hari nanti akan menjadi seorang Nabi yang dipilih oleh Allah. Atas kehendak-nya pula maka pasukan Kepala Pendeta Haman tidak berhasil menemukan sang bayi.

Tibalah waktunya...

Kini, saatnya telah datang untuk melepaskan bayinya ke Sungai Nil... Seperti itulah lonceng-lonceng di hati Yakobed berkata.

Kekhawatiran dan kecemasan telah sirna. Hatinya telah menyakini bahwa air Sungai Nil adalah satu-satunya jalan.

Saat malam semakin larut, Yakobed dan Maryam melakukan perjalanan bersama di tengah kegelapan. Menjelang terbit Matahari, mereka mencium lembut tubuh sang bayi dan perlahan membiarkannya hanyut terbawa aliran sungai...

Hati sang ibu kosong ketika bayinya semakin jauh terhanyut... Bagaimanapun juga, saat itu dia tak tahan menahan rasa sedih dan berlari mengikuti sang bayi. Namun, pertolongan Allah menyelamatkan kekosongan hatinya dengan kasih sayang... 

Jika Allah tak menguatkan, tak mengkukuhkan, tak memberanikan, dan dan tak menyakinkan hatinya yang kosong, pasti sang ibu takkan bisa menjaga rahasia sang bayi... 

Saat itu, hujan deras turun dari lagit menghujani hati sang ibu yang penuh dengan rasa takut, dalam waktu yang singkat... 

Rahmat yang singkat ini menghapus seluruh kekhawatiran dalam hati sang ibu. Ribuan tangan kecil malaikat yang tak nampak menyirami hati sang ibu dengan kesejukan.

Hati ibu, hati Yakobed, dikuatkan oleh Allah dengan kerelaan dan pengorbanan, dari cinta berubah menjadi keikhlasan. Dia berpindah dari kobaran api cinta kepada anaknya menuju taman bunga mawar. Dia berhenti terdiam di sana, bersih dan rela. Putranya dia serahkan sepenuhnya kepada Allah...

Sesaat setelah sang bayi telah terbawa arus air, datang sebuah keinginan besar kepada Maryam, kakak perempuannya. Tak diragukan lagi bahwa perintah, janji, dan firman Allah pasti akan melindungi saudaranya. 

Maryam seketika ingin mengikuti saudaranya yang bergerak di atas punggung air. Sebelumnya, dia sama sekali belum melakukan perjanjian dengan ibunya, maupun merencanakan pelarian ini. Dengan keputusan yang diambil saat itu, dia mulai berlari mengikuti panah yang telah dilepaskan...

Maryam berlari seperti terbakar api cinta... Saat itu, hidupnya ibarat pelarian yang panjang, perjalanan yang jauh bagi hamba-Nya... Maryam ibarat tangisan. Dia berlari mengikuti saudaranya yang terbawa arus di punggung ombak Sungai Nil.

Siapa yang tahu berapa jam dia berlari dalam pengejaran ini, berapa lama dia berlari mengikuti saudaranya...

Rambutnya berhamburan, kakinya berdarah, kedua matanya kering karena tangisan, bibirnya beku karena jeritan... Dia mendekat ke arah tepi istana penguasa Mesir bersama perahu kecil itu dalam keadaan tak sadarkan diri...

...

Dengan keputusan tiba-tiba, sambil menaiki perahu yang beranama ‘Teye,’ Sultanah Asiyah ingin melakukan satu perjalanan di Sungai Nil bersama pengiringnya, Tahnem dan Sare...

“Para pemudaku... Aku merasakan sebuah perasaan gugup yang aku tak tahu apa penyebabnya. Seakan terbawa begitu saja ke dalam hatiku. Jadi, kalian siapkan Teye. Kita akan melakukan satu perjalanan di Sungai Nil.”

Seketika, haluan Teye bertabrakan dengan sebuah peti mati yang terombang-ambing arus sungai. Akibat tabrakan itu, peti mati mulai menangis...

Tahnem terkejut dan bertanya.
“Selama hidupku, aku tak pernah melihat sebuah peti mati 
yang menangis.”

“Selama hidupku, aku tak pernah melihat sebuah peti mati yang berenang di sungai,” lanjut Sare...

“Segera bawa peti mati yang menangis itu kepadaku!” seru Ratu Asiyah.

Sebenarnya, yang mereka kira peti mati adalah sebuah kotak kecil. Setelah membuka penutupnya, mereka menemukan seorang bayi berwajah cahaya yang belum pernah mereka lihat selama hidup. Wajah yang membuat setiap orang yang melihatnya jatuh hati padanya.

“Hatiku menarik dan mengeluarkan dirimu dari perairan, Kuberi nama Musa dirimu,
Karena aku menarikmu dari perairan,
Kau adalah sebuah mata cahaya bagiku,

Kuberi nama Musa dirimu,

Karena aku menarikmu dari perairan.

Sungai Nil meletakkan dirimu dalam diriku seperti sebuah lilin.

Kuberi nama Musa dirimu,

Karena aku menarikmu dari perairan...

Selamat datang bayi mungil ke duniaku yang sempit ini.

Selamat datang Matahari malamku.

Selamat datang wahai kapten yang paling muda di dunia, yang berkata aku telah mengembara banyak jalan, aku telah banyak melihat air... Selamat datang wahai bayi yang mendekat ke tepianku dengan perahu yang paling kecil di dunia, selamat datang...

Ratu Asiyah dan kedua pengiring mudanya kembali ke istana dengan kejutan yang menggembirakan hati. Para pengawal yang menyambut mereka di tangga marmer dermaga terkejut ketika melihat bayi mungil dalam dekapan sang Ratu. 

Mereka tak tahu harus berbuat apa. Mereka mengambil peti mati yang berada di tangan Tahnem. Kehebohan dalam penyambutan sang Ratu rupanya juga menarik perhatian Haman yang kini menjadi perdana menteri...

Ketika Raja Pare-amon sedang meneliti kereta perang baru dan senjata yang didatangkan dari negeri utara di perpustakaan, Haman dan anak buahnya masuk tanpa mengetuk pintu. Raja memandangi perdana menteri dengan pandangan seakan menyangka telah terjadi serangan mendadak ke istana atau terjadi malapetaka...

“Baginda Rajaku... Dengan seorang bayi... Ratu Asiyah kembali ke istana bersama seorang bayi laki-laki yang ditemukan di Sungai Nil...”

“Aku kira kau akan mengatakan telah terjadi pemberontakan di Nubye, wahai sahabatku, Ha... Ambil napas, tenangkan dirimu!”

“Peristiwa ini lebih mengerikan.”

“Itu adalah Sungai Nil... Tempat berbagai macam kebaikan dan berkah bagi Mesir.”

“Tapi, bayi yang ditemukan di sungai ini jelas sekali merupakan bayi dari seorang kaum bani Israil. Dari seorang Apiru... Di samping itu, ia terlahir di tahun kematian. Salah satu dari anak-anak yang dilaknat.”

“Darimana kau tahu bayi itu berasal dari Apiru?”

“Bukankah terlihat jelas, Bagindaku? Ibu mana yang rela membuang anaknya ke sungai? Terlihat jelas bahwa karena ketakutan akan kematian anaknya membuat si ibu melemparnya ke Nil...”

“Tak mungkinkah ini ulah para pembajak?”

“Jika Anda melihat bayi itu... Jika Anda melihat wajahnya dan peti mati yang berhiaskan ukiran bunga mawar... Anda akan mengerti bahwa bayi ini tak ada hubungannya dengan para pembajak, Bagindaku... Bagian dalam peti mati dihiasi dengan berbagai macam bunga. Peti mati yang seperti sebuah perahu kecil ini disiapkan oleh seorang pekerja yang ahli dan cekatan. Ini bukan pekerjaan pembajak, Bagindaku.”

“Bagaimana dengan Ratu Yes’a? Bagaimana dia menanggapi bayi itu?”

Haman segera menyadari dia telah terlalu berlebihan menanggapi hal ini... Dia telah mengeluh secara langsung mengenai sang Ratu kepada sang Raja...

“Keputusan dan perintah ada di tangan Anda, Tuanku.”

Tak begitu mempersoalkan sikap perdana menteri, sang Raja keluar dari perpustakaan dan kembali memikirkan mimpi buruk yang kembali diingatkan oleh Haman...

Ketika turun ke arah taman, tepat di lingkaran pintu masuk Ruang Upacara Yakuti, mendekati Ratu Asiyah, sang Raja melihat istrinya sedang bermain dengan seorang bayi laki-laki di tengah keramaian. 

Semua orang yang menyadari kedatangan sang Raja segera bersujud ke tanah, sementara sang Ratu menyambut Ra dengan wajah penuh bunga-bunga mawar yang bermekaran sambil mencium bayi dalam pelukannya...

Sang Ratu melupakan seluruh peraturan istana. “Datanglah Ra, kekasihku!” ucapnya. “Datang dan lihatlah hadiah manisku ini... 

Aku mengeluarkannya dari Sungai Nil. Awalnya, aku mengira akan mendapatkan harta karun yang terhanyut. Seandainya memang seperti itu, aku akan memberikannya kepada semua yang berada di Teye. 

Tapi apa yang terjadi kau juga tahu, bukannya harta karun, tapi seorang bayi yang manis. Ah, Ra! Lihatkah kau kedua pipinya yang kemerah-merahan ini? Bayi ini adalah buah hatiku. Cahaya mataku.”

Tak terlepas dari pandangan sang Raja mekarnya bunga- bunga di wajah istrinya yang selama bertahun-tahun tak satu kali pun tersenyum...

Satu arah, memandang orang di sekitarnya yang terselimuti oleh rasa takut... Satu arah, memandang istrinya yang memanggilnya dengan nama kecilnya dengan penuh kebahagiaan... Manakah yang nyata, manakah yang jujur? Dan sebagai seorang Raja, manakah yang lebih berharga? Dia memutuskan untuk pergi dari sana...

“Dia mungkin menjadi cahaya mata sang Ratu. Tapi, aku belum memberikan keputusan mengenai hal ini. Di samping itu, dia juga mungkin seorang bayi Apiru yang terlahir di tahun kematian. Bayi yang berada di pelukanmu...”

Kalimat ini seperti anak panah yang terlepas mengarah pada dirinya yang menyebabkan sang Ratu duduk tersungkur berlutut... Ra sungguh terkejut. 

Asiyah yang telah lama dia kenal, Asiyah yang tak pernah berlutut di depan satu orang pun... Bahkan, ketika tahta Asiyah masih tinggi berada di atas tahtanya... Apa yang terjadi dengan Asiyah? Perasaan yang mana, ambisi apa yang menyebabkan kedua lututnya berlutut?

“Bagindaku...,” ucap Asiyah dengan suara bergetar... “Tuanku... Apa pun yang terjadi, jangan bunuh bayi itu... Dan mungkin di masa depan bayi ini akan berguna bagi kita. Atau bayi ini kita angkat sebagai anak angkat dan kita besarkan di antara anak-anak kerajaan.”

Raja Pare-amon, meskipun yakin dengan kemungkinan bahwa anak itu berasal dari Apiru yang terlaknat... Namun, dia juga tak ingin kehilangan kesempatan yang selama ini dinantikannya, kedekatan bersama sang Ratu yang selama ini tak pernah dia rasakan. Bayi ini bisa menjadi kesempatan untuk meluluhkan ketegangan yang terjadi di antara mereka... 

Ah, tapi bagaimana jika anak ini merupakan sosok yang akan menghancurkan Mesir seperti dalam mimpinya? Sang Raja berdiri membeku, sudut matanya memutar ke satu arah... Apakah bayi lemah ini, apakah bayi malang yang berada di antara bibir kematian dan kehidupanku ini yang akan menghancurkan Mesir...

Sang Raja mengangkat sang Ratu dari tanah dengan santun dan lembut. Memberikan salam dengan anggukan kepalanya dan kemudian mencium ujung jemarinya...

“Bawa bayi itu kepadaku,” perintahnya kepada Tahnem dan Sare...

Sesuatu hadir seperti sebuah kotak madu, manisan dunia yang tak cukup dalam pelukan... Resah... Mereka membuka wajah sang bayi... Kemilau bayi itu seperti cahaya yang menyilaukan mata ketika membuka tirai jendela di siang hari... Kedua matanya meredup, tangan kirinya terangkat di antara dua bahunya, seakan ingin melindungi dari Matahari, sang Raja... Dan memang, ia sungguh bayi yang sangat manis...

“Kita akan memutuskan mengenainya beberapa hari kemudian. Karena bayi ini membuat Ratuku sangat bahagia, untuk sekarang kami memaafkannya. Tapi, kami akan melanjutkan pengawasan. Untuk saat ini, bawalah ia, berikan semua kebutuhan yang bayi ini perlukan. Ia bisa tinggal bersama Ratu di istana... Nama apa yang akan Ratu berikan untuk bayi ini?”

“Musa... Kuberi nama Musa. Karena aku menariknya dari perairan.”

“Baiklah... Bayi Musa, selama keputusan resmi belum diputuskan maka engkau akan menjadi tamu Ratuku.”

Dia sama sekali tak tahu takdir apa yang disembunyikannya...

Malam telah tiba, kegelisahan berbalut kebahagiaan ini, bersama dengan kegelisahan lainnya membuka sebuah keributan... Bayi Musa, pasti waktu untuk menyusu telah tiba, menangis rewel, kedua kakinya bergerak menendang-nendang. 

Orang-orang yang berada di sekitarnya berlarian bingung, tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Sang bayi terus menangis seperti sebuah mata air terjun...

Semakin keras tangis suara bayi, semakin sedih sang Ratu. Asiyah berubah menjadi sebuah lilin yang meleleh. Kedua tangannya menggenggam erat pakaiannya, tak tahu harus berbuat apa, menyalahkan dirinya sendiri...

Ah! Dia memang bukan seorang ibu...

Jika dia seorang ibu, apakah hal seperti ini terjadi?

Saat itu, perintah kepada seluruh wanita Mesir yang bisa memberikan setetes air susu kepada bayi Musa telah diberikan...

Tak ada...

Seluruh ibu susu yang dibawa membuat Musa menangis semakin keras dan rewel, badannya berputar-putar seperti baling-baling...

Keadaan ini membuat Asiyah sungguh merana... Ya Allah, keibuan itu seperti apa? Kebahagian, kegelisahan, kesedihan, kecemasan... Setiap saat muncul sesuatu yang baru dalam dunianya... Dan dunianya sekarang seperti sebuah gurun. Selama Musa menangis, seakan ruhnya terlepas dari tubuhnya.

Ah! Memang dia bukan seorang ibu...

Jika dia seorang ibu, apakah hal seperti ini terjadi?

Benaknya terasa berat ketika berhadapan dengan hal ini... Seperti rantai mutiara yang terputus jatuh satu per satu... Memandang pembuluh darah berwarna biru yang nampak pada kedua tangannya, kemudian bertanya pada darah yang mengalir di sana. “Wahai darah merah, siapa, apa yang yang mengubahmu menjadi susu putih?”

“ Ya Allah ,” ucapnya kemudian . . . 

“ Engkau yang menyelamatkan bayi ini dari sungai, berikanlah air susu yang merupakan kebutuhannya. Kau adalah pemberi yang paling agung, Kau yang paling dermawan dari yang paling dermawan... Pelindung orang-orang lemah, pemberi rezeki, yang memberikan hujan... Apa pun yang terjadi, redakanlah tangisan bayi mungilku ini...”

Meskipun selama satu hari satu malam telah melakukan pencarian untuk menemukan ibu susu yang akan diterima oleh sang bayi, hasilnya nihil belaka. Tak satu pun yang bisa meredakan tangisan bayi ini... Tahnem dengan napas terengah- engah masuk ke ruang bayi di istana Ratu. Di tangannya terdapat selendang kuning milik sang Ratu.

“Tuanku... Tuanku... Para pengawal yang berada di halaman luar istana berkata untuk menyerahkan selendang ini kepada Anda. Seorang gadis memberikannya kepada mereka. Jika Anda bersedia...”

“Segera persilahkan masuk! Sebarkan pengumuman ke seluruh jalan-jalan Memphis, Ratu sedang mencari ibu susu secepatnya. Ada hadiah besar bagi dirinya.”

Asiyah tak tahu langkah apa yang harus diambil. Suara tangisan ini membuatnya lupa dengan mahkota dan tahtanya... Selama bayi ini menangis, dia sangat lemah tak berdaya.

“Ah aku bukan seorang ibu.” Ketika berucap seperti ini, dalam dirinya muncul sembilan puluh orang ibu...

“Ah aku tak mempunyai air susu.” Ketika dia mengeluh seperti ini, dari langit turun hujan air susu ke daratan seperti badai... 

“Anakku, kamu telah banyak menangis. Aku mohon, berhentilah meneteskan air mata,” Ketika sang Ratu memohon dengan lembut, masuklah Maryam yang dengan sembunyi-sembunyi mengikuti Musa selama satu hari. Asiyah mengangkat tubuhnya yang bersimpuh ke lantai. Maryam memandangi wajah sang Ratu dengan rasa terkejut... Apakah yang dia lihat adalah ibunya ataukah Sultanah Mesir? Ia nyaris tak bisa membedakan...

“Maukah aku tunjukkan kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?”

Dengan usulan ini, Maryam menghentikan kecemasan yang menyelimuti ruangan itu... Sebelum berhasil bertemu dengan sang Ratu, Maryam harus melalui berlapis pintu, hadangan para penjaga, dan beragam interogasi... Bahkan, Haman pun menginterogasinya sangat lama...

“Terlihat jelas bahwa bayi tersebut datang dari keluarga anak ini,” terbesit dalam dirinya... Namun, perintah sang Ratu yang tegas mengenai pencarian ibu susu di seluruh Mesir pun tak dapat dilawan oleh para penentang. Bahkan, Haman sekali pun...

...

Tandu Kerajaan milik sang Ratu pun dikeluarkan. Bersama Maryam, rombongan itu telah tiba di depan rumah Imran di Gosen. Kedua mata dan hati Yakobed malang yang kosong berubah menjadi keceriaan setelah mendengarkan penjelasan putrinya. Dia pun segera melangkahkan kakinya menuju istana...

Tembok-tembok tinggi yang sampai saat itu belum pernah dia lihat... Jalan-jalan yang dilapisi batu pipih, kolam-kolam renang yang memiliki air mancur indah, patung-patung singa yang mengeluarkan api, tentara berbaju besi yang menjaga tiap sudut, ruang-ruang yang hampir setinggi langit, lorong dan koridor panjang berliku yang mengagumkan...

Allah tak pernah mengingkari janjinya. Sama seperti apa yang dikatakan dalam mimpi-mimpinya, Yakobed kini dipertemukan dengan anaknya...

Peringatan berupa keharusan bersujud dengan takzim di hadapan Ratu, takkan berdiri selama sang Ratu belum memberi izin, dan tak boleh memandang lurus kepada Ratu dengan kedua mata seakan angin lalu... Meskipun dia pasti mendengarkan peraturan itu, pikirannya hanya terpaku pada putranya. Yakobed yang malang pun layu dengan cepat.

...

Suara tangisan anaknya yang terdengar ketika ia berada di tangga istana seperti hujan busur panah yang menghujani ibu yang malang ini. 

Jika para malaikat tak menahannya, dia akan menghancurkan semuanya dengan mengucap kata ‘anakku’... Dia harus mengunci bibirnya hingga giginya bergemeretak. Meskipun putranya menangis, dia harus bersujud ke tanah terlebih dulu dan menunggu sang Ratu memberi izin untuk berdiri.

Begitu kuat Yakobed menggigit bibirnya... Ketika dia berdiri di hadapan sang Ratu, dari sudut bibirnya mengalir darah.

“Putraku Musa... Dia menangis tanpa berhenti wahai saudariku. Saya juga mendengar bahwa Anda adalah seorang ibu yang baru saja kehilangan seorang putra. Saya mohon, berikanlah air susu Anda kepada putra kami ini...,” titah sang Ratu.

“Musa...,” ucap Yakobed. Badannya terasa terangkat...

“Aku memberi nama Musa kepadanya karena aku menemukannya di perairan. Saudariku... Aku mohon, biarkanlah bayi mungil merasakan air susumu. Mungkin dia mau menerima air susumu...”

Yakobed kagum dengan suara lembut milik sang Ratu yang memanggilnya dengan panggilan “saudariku”. Wanita yang dahinya tinggi dan terang seperti sinar Matahari ini... Bukan! Dia seperti seorang malaikat. 

Dia membelai Musa seperti putranya sendiri, kedua matanya merah seakan berdarah karena terlalu banyak menangis. Terlihat jelas, sang Ratu begitu terpuruk selama Musa terus menangis. 

Lalu, kedua tangannya... Ketika melihat ujung-ujung jemari sang Ratu, Yakobed seolah melihat ranting-ranting patah bunga mawar yang tak berdaya. Hatinya terasa tenang. Dia memandang sang Ratu dengan penuh hormat seperti salam-salam Sungai Nil.

Saat itu, kedua perempuan seperti sepasang bangau... Burung cantik yang membangun sarangnya. Mereka seperti bangau yang saling memberikan sayapnya... Asiyah dan Yakobed... Mereka seperti daratan dan langit. Musa adalah harapan yang akan tumbuh besar di antara dua perempuan kuat...

Musa seperti sebuah kisah penciptaan dunia yang menceritakan daratan tercipta dalam waktu enam hari dan langit tercipta di hari ketujuh bagi keduanya... 

Asiyah memandang Yakobed seperti memandang sebuah sungai. Dirinya, wajahnya sendiri yang tampak dalam pantulan sungai. Membuka lengan mereka dan memeluk Musa... Musa adalah penyatu dua lautan. Mutiara lautan. Seorang putra yang berwajah murah senyum dan cerah..

“Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah adalah benar...”

Mereka terbangun saat pagi menjelang di depan tempat tidur Musa. Yakobed, Asiyah, Tahnem, dan Sare... Ketika sang bayi masih tertidur pulas, mereka terkejut dengan suara jeritan dan tangisan yang terdengar dari arah Sungai Nil. 

Meskipun tahu apa yang terjadi, mereka berbalik memandang sang Ratu yang menutup wajah dengan kedua telapak tangannya. Mereka memandang sang Ratu dengan wajah penuh harap untuk memohon pertolongan.

Yakobed tak dapat menahan dirinya. Dia bersujud di hadapan sang Ratu.

“Bagindaku... Ratuku... Anda tahu apa yang dialami oleh para wanita dari golongan kami. Derita para ibu malang yang harus membunuh anaknya sendiri. Pembunuhan ini bahkan telah membuat punggung Sungai Nil berat. Langit pun seolah akan pecah. Ah, Bagindaku! Apakah tak ada cara sama sekali untuk menghentikan kekejaman ini?

“Ibu susu putraku Musa... Saudariku yang tercinta Yakobed... Jika kau bersedia, kami ingin selalu mempersilahkan Anda menjadi tamu di istana tanpa meninggalkan putra kami Musa melewati hari yang bahagia.”

“Ratuku yang baik hati. Bagindaku... Sebesar apapun kami berterima kasih, tetap saja terasa sangat sedikit untuk membalas kebaikan yang Anda berikan. 

Tapi, Bagindaku... Tuanku... Saya memiliki seorang putra bernama Harun yang berumur dua tahun, putriku Maryam, dan suamiku yang masih belum sembuh dari sakitnya di rumah. Saya tak bisa meninggalkan mereka, Baginda.”

“Saudariku Yakobed, bagaimana jika keluarga Anda kami pekerjakan di istana dengan upah yang memuaskan? Bagaimana menurutmu?”

Pembicaraan dua perempuan ini terpotong oleh keributan yang terjadi di luar. Sebuah kegemparan, sebuah kecemasan yang luar biasa... Selama bertahun-tahun, ia tak pernah mengunjungi istana Ratu Asiyah. Sungguh heran, saat ini, tanpa melakukan, pemberitahuan, Baginda Raja datang berkunjung...

Tahnem dan Sare segera bersujud memberikan penghormatan. Yakobed dengan wajah diselimuti kecemasan ikut bersujud ke tanah.

Ratu Asiyah menyambut suaminya dengan wajah penuh bunga bermekaran. Dia juga berhutang budi pada sang Raja karena membiarkan Musa hidup. Asiyah memberikan salam dengan mengangguk ringan. Sang Raja yang mendapatkan kekuatan karena hal ini pun memegang ujung jemari sang Ratu dan menciumnya...

“Apa yang sedang kalian bicarakan, wahai Ratuku yang cantik... Bayi ini aku pikir telah mengembalikan kembali hidupmu.”

“Selamat datang ke rumah, wahai Bagindaku.”

“Aku mohon, jangan kau buka pembicaraan tentang rumah. Tapi seandainya bersedia, kau pasti telah meninggalkan bangunan tua, kecil, dan kumuh ini untuk tinggal bersamaku di rumah, di istana baru.”

“Ah, Baginda, tetap saja aku sangat berterimakasih atas kedatanganmu ke tempat ini."

“Tapi, seandainya bayi yang engkau temukan di Sungai Nil ini masih saja terus menangis, keadaan akan menjadi buruk. Semua hal yang mengganggu ketenangan sang Ratu adalah musuh kami.”

“Tapi dia masih kecil, masih seorang bayi.”

“Kami membiarkan anak itu karena senyum bahagia dan sinar di kedua mata indahmu. Baiklah... Aku dengar telah ditemukan ibu susu yang sesuai dengan bayi itu.”

“Kami juga sedang membicarakan hal ini dengan Yakobed, seorang ibu yang datang dari suku Ibri...”

“Apakah ibu susu Musa seorang Apiru?”

“Dia sendiri adalah keluarga dekat Karun, Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan.”

“Tuan Ka adalah saudara berharga kami yang telah berkali-kali membuktikan kesetiaannya kepada Kerajaan Mesir. Mengaitkan namanya dengan para pendatang sangat melukai dirinya. Kau juga mengetahui ini, wahai Ratuku.”

“Kami para perempuan suka sedikit ceroboh dalam hal ini. Maafkanlah, aku tak bisa melupakan hari-hari persahabatan lama kita.”

“Kalimat yang Ratuku ucapkan kami terima sebagai sebuah alasan yang baik untuk mengkritik kami.”

“Tidak! Kemurahaan hati Baginda Raja diketahui oleh seluruh rakyat. Kami pun sangat berterima kasih karena telah memberikan Musa sebagai cahaya mata kepada kami.”

“Cahaya mata lagi? Aku pikir kita telah membahas mengenai hal ini. Bayi ini, menurutku adalah salah satu bayi yang harusnya dimusnahkan karena terlahir di tahun kematian. Dia mungkin bisa menjadi cahaya mata Ratuku, tapi tak diragukan lagi, tidak bagi kami. Tapi, demi engkau... Demi Ratuku... Inilah yang menyelamatkan bayi ini dari ujung tombak.”

“Ibu susu Yakobed memiliki tanggungan untuk mengasuh putranya yang masih kecil dan suaminya yang sakit. Oleh sebab itu, dia tak ingin tinggal di istana. Aku berpikir untuk membawa keluarga mereka ke istana dengan izin Baginda Raja.”

“Bukankah ini merupakan sebuah ketidakadilan yang serius, menurutmu juga?”

“Aku tak paham, wahai Bagindaku.”

“Ketika seluruh bayi laki-laki Apiru mengalami pemusnahan di tahun kematian, memisahkan sebuah keluarga pendatang dari kaumnya dan memindahkannya ke istana... Bagaimana mereka akan melihatnya? Pernahkah engkau berpikir mengenai hal ini?”

“Tapi, bayi Musa tak mau disusui selain oleh Yakobed. Apa lagi yang bisa kita lakukan?”

“Dan memang saat ini seluruh penghuni istana berbicara bahwa sebenarnya Musa adalah bayi Yakobed yang dia lempar ke sungai.”

“Bagindaku... Aroma air susu Yakobed sangat harum. Siapa pun bayi yang berada dalam pangkuannya akan langsung menyusu kepadanya. Aku mohon, jangan kau dengarkan perkataan-perkataan itu.”

“Menurut kami, biarkan Yakobed membawa Musa ke rumahnya dan dibesarkan di sana dengan upah yang tinggi. Ini adalah solusi yang paling tepat.”

“Ah, Bagindaku, Musa telah menyambungkan kembali jaring-jaring kehidupanku. Jika berpisah dengannya, aku tak bisa hidup. Ketahuilah ini.”

“Ada yang lebih mudah, Ratuku. Ada yang solusi yang lebih mudah... Di hari yang engkau inginkan, Yakobed akan membawa bayi Musa ke istana. Atau kapan pun engkau ingin, engkau bisa mengunjungi rumah Yakobed.”

“Kami berhutang budi besar kepadamu, wahai Raja Mesir yang terhormat.”

Untuk sekarang, permasalahan telah teratasi. Mimpi- mimpi Yakobed benar dan telah menjadi kenyataan. Bayinya telah dikembalikan kepadanya. Namun, Ratu sedikit banyak menafsirkan hal ini sebagai sesuatu yang buruk. Dengan cara ini, istana telah menjauhkan dirinya dari Musa.

Sebelum sang Raja keluar, ia memandang Tahnem dan Sare yang menanti dengan tetap bersujud.

“Aku mohon, biarkan kedua abdi muda ini mengiringi sang Ratu setiap keluar dari Istana. Setiap minggunya, aku akan mendapatkan laporan dari para petugas mengenai Musa. Karena belum ada keputusan yang resmi, bayi ini akan berada di bawah pengawasan kami. Apa pun keputusan yang kami tetapkan, kami tahu engkau akan menerima dengan kepala dingin dan ketabahan.”

Dia keluar.

Akhirnya, pergi juga.

Raja yang kehidupan dan kematian manusia berada di antara dua bibirnya... Dan sekarang, baik sang Ratu maupun Musa berjalan di atas seutas benang tipis... Keputusan yang masih belum ditetapkan merupakan sebuah ancaman yang jelas. Tapi bagaimanapun, mereka telah melewati hari ini.

Sesaat setelah Raja keluar dari ruangan, Ratu seketika melemparkan tubuhnya ke kursi.

Wajahnya berubah pucat...

Sare segera membawakan kipas yang terbuat dari kayu pohon Punt. Kepalanya pusing ketika bersedih. Ratu menahan rasa sakit. Yakobed membisikkan kepada Tahnem bahwa kapulaga bagus untuk mengobati rasa sedih. 

Tahnem menutup kain korden. Ratu tak tahan dengan sinar Matahari di saat-saat seperti ini. Seandainya dia bisa mendaki tembok-tembok tinggi itu, seandainya dia bisa melalui semua ini dengan selamat... Asiyah terluka seperti burung yang terkurung dalam sangkar... Hatinya pilu karena rasa sakit ini...

Asiyah adalah seorang sultanah yang takkan pernah berbalik dari ajaran Tuhan yang Satu Nabi Yusuf yang berada dalam jiwanya sejak masih anak-anak.

Dia adalah orang yang akan menjadi sultanah yang membawa kebaikan bagi seluruh masyarakat. Mendedikasikan kebaikan kepada rakyatnya dan Mesir.

Ketenarannya pun semakin bertambah di antara kalangan masyarakat tingkat bawah dan para Apiru. Bahkan, raja yang dilaknat karena kedzaliman dan penyalahgunaan kekuasaan pun menaruh hormat kepada Asiyah.

Perhatian kepada anak-anak yatim, bantuan yang diberikan kepada orang-orang miskin dengan perantara petugasnya, saluran air yang dibangun untuk kemaslahatan masyarakat, kebun kurma untuk orang-orang miskin, tempat-tempat penginapan yang dibangun untuk orang lemah dan lanjut usia, dan pernikahan yang diadakan bagi para pemuda yang tak mampu di setiap musim semi. Nama yang diberikan masyarakat kepadanya sesuai dengan arti sebenarnya, ‘Sultanah Nil’...

Yakobed dengan wajah penuh kegembiraan membawa Musa ke rumahnya... Sang Ratu hanya bisa melihat dari belakang...

Jendela-jendela...

Jendela-jendela yang menjadi teman kesedihannya menjadi satu-satunya saksi malam tanpa tidur... Dirinya yang kembali bercahaya karena Musa, sekali lagi meredup karena perpisahan dengannya.

“Kami telah merangkai sebuah kalung mutiara baru bagi Sultanah Nil.”

Sare menyerahkan serangkai kalung mutiara dengan tangan gemetar. Sebenarnya, dia mengetahui bahwa mutiara itu akan redup di sisi pemiliknya. Tapi, ia berusaha untuk membuat sang Ratu yang sedih tersenyum, meskipun sedikit saja. 

Membelai rambut Sare, memberi salam dengan senyum kepada Tahnem. Dia membolak-balik rangkaian mutiara.

“Seribu kali selamat untuk ahli mutiara Sare. Jika kau bersedia, wahai ahli mutiara, berikanlah rangkaian kalung mutiara ini kepada ibu susu Musa, Yakobed. Aku harap dia tak sedih dengan pilihan kita ini.”

Sare meleleh oleh pujian ini. Seketika dia berlutut menundukkan kepalanya di hadapan sang Ratu...

Sang Ratu mengangkat badan gadis muda ini.

“Hanya ada tiga kepala yang tak akan menunduk selain hanya kepada Allah di istana yang luas ini. Bukankah kita sudah berbicara mengenai hal ini, Sare. Bukankah kita sudah setuju dengan hal ini, Tahnem?”

Sang Ratu sedikit berbicara, sedikit tapi bermakna...

Di setiap kunjungan mingguannya ke rumah Yakobed, sang Ratu tak pernah datang dengan tangan kosong...

Begitu terikat dirinya dengan ibu susu bayi Musa, dia selalu menanti kunjungan mingguan ini sepenuh hatinya...

Wilayah yang kurang lebih berjarak satu jam perjalanan ini telah menampakkan kemajuan berkat perhatian sang Ratu. Jalan-jalan telah diperbaiki, tapi masih saja terasa jejak kemiskinan dan keterasingan.

Meskipun mereka adalah orang-orang miskin, kaum Apiru dikenal dengan kebersihannya. Di hari saat sang Ratu akan melakukan kunjungan, halaman setiap rumah disiram dengan air dan disapu, jendela-jendela dihiasi dengan bunga-bunga, dan membakar dupa-dupa di depan pintu rumah. Mereka pun menyiapkan jamuan berupa manisan susu, sop tepung, serbat mint, dan bunga mawar untuk sang Ratu yang dipanggil dengan nama “Bathiya”.

Ketika tandu sang Ratu terlihat, seketika keributan muncul di jalan-jalan, diiringi dengan ucapan “Bathiya! Bathiya!” oleh anak-anak. Mereka mendendangkan lagu selamat datang yang diiringi tiupan alat musik dan petikan kecapi para gadis. Lilin- lilin pun dinyalakan di tengah hari...

“Bathiya datang!”

“Bintang kita di langit, Saudara perempuan pelindung kita. Penolong kita telah datang!”

Perjalanan ini terasa tak ada akhirnya bagi Asiyah. Dia tak bisa menahan diri, melupakan adat turun dari tandu. Sang Ratu turun dari tandu emas di antara kain-kain penutup...

Dia memberikan isyarat kepada Tahnem dan Sare untuk membagikan hadiah kepada masyarakat yang berkumpul di sekitarnya. Asiyah memandang dengan senyum kepada Yakobed yang selalu menantinya di depan pintu rumah. Diambilnya Musa ke dalam pelukannya dan membelai rambutnya. Sebelum masuk ke dalam rumah bersama bayi Musa di pelukannya, dia berbalik badan memberikan salam kepada masyarakat...

Asiyah melepaskan selendangnya sebelum masuk ke rumah, mencium putranya yang berada dalam pelukannya. Setelah berada di dalam rumah, dia melepaskan jubahnya dan menyerahkannya kepada Sare, sementara tongkatnya diberikan kepada Tahnem. Kursi yang dibawa dari istana pun disiapkan untuknya.

Selanjutnya, Sang Ratu mempersilahkan untuk membuka keranjang hadiah, menanyakan keadaan anggota rumah dengan bayi Musa tak lepas dari pelukannya. Rumah ibu susu ini terasa seperti surga baginya...

Ketika matahari mulai terbenam dan hari semakin gelap, seyumnya pun mulai pudar. Rasa sedih telah mengambil senyum yang ada di wajahnya, rasa sedih akan perpisahan telah menyelimuti kedua matanya. Kadang kala, dia tak habis pikir bagaimana waktu berlalu begitu cepat. Dia tersadar dengan peringatan yang diucapkan oleh Tahnem secara sopan.

“Baginda Ratuku, para tamu Anda telah menunggu untuk makan malam... Bagindaku, undangan Raja untuk malam ini... Baginda Ratu, Matahari akan terbenam...”

Dengan berat hati dia memakai jubahnya, menggenggam tongkat dengan tangannya yang bergetar... Kemudian berjalan keluar menuju para pengawal yang menantinya di halaman rumah. Dia membalikkan badan ketika hendak menaiki tandunya. 

Yakobed yang mengetahui hal ini seketika memberikan bayi Musa kepada sang Ratu untuk memberikan ciuman terakhir. Sering kali kedua perempuan ini menangis. Bayi Musa seakan mengetahui hal ini, dia berusaha menghibur mereka dengan senyuman manisnya.

Dan hari saat sang bayi terlepas dari ibu susunya...

Menurut adat Mesir, bayi-bayi yang telah melewati umur dua tahun dua bulan dan dua hari harus dipisahkan dari air susu. Mereka masuk ke sebuah dunia baru dengan upacara. Ratu Asiyah berbulan-bulan mempersiapkan upacara ini, penuh dengan kegembiraan karena bayi Musa akan kembali ke Istana.

Sultanah Nil sangat bahagia, seakan dirinya memiliki dua sayap. Semangatnya mengalir seperti mata air...

Seperti perjanjian yang dibuat dengan Yakobed, ibu susu yang penuh kasih sayang ini akan mendampingi sampai bayi Musa beradaptasi dengan istana. 

Tapi seakan terjadi sesuatu yang aneh pada diri Yakobed akhir-akhir ini. Sang Ratu merasa bahwa Yakobed sangat membantu Musa segera terbiasa dengan suasana Istana... Ketika wajah Asiyah bermekaran bunga- bunga mawar, wajah Yakobed diselimuti awan gelap.

Dia adalah Musa!

Siapa pun yang melihat wajah indahnya, seketika jatuh hati padanya, terikat sepenuh hati kepadanya. Dan memang dia tak memiliki kesempatan untuk memikirkan hal ini.

Seluruh harapannya hanyalah raja pun akan menyukai Musa mungil seketika melihatnya. Dia tak mau memikirkan hal sebaliknya.

Satu bulan sebelumnya, Asiyah telah menyiapkan sebuah ruangan khusus untuknya karena sang Ratu tak pernah terpikir untuk memberikan Musa ke Akademi Kerajaan. 

Sebuah ruang yang terhubung langsung dari kamar sang Ratu yang dipenuhi dengan karpet sutra. Tempat tidur bayi yang dihiasi kristal-kristal, sebuah lemari indah untuk menaruh pakaian bayi, beberapa mainan yang disiapkan untuk bayi Musa, dan lonceng-lonceng cantik yang tergantung manis...

Persiapan yang dilakukan untuk merayakan hari diterimanya bayi Musa ke istana tak dibagi Asiyah kepada siapa pun, kecuali dua abdi mudanya. Dia sudah memutuskan upacara “pengangkatan anak” sebagai kejutan. 

Upacara pengangkatan anak Raja selalu menjadi sebuah perlombaan di antara para keturunan bangsawan Mesir. Upacara yang diumumkan kepada seluruh kota hanya membuat masyarakat bersaing dan berselisih untuk memberikan hadiah spesial di hari itu.

Seberapa pun Ratu Asiyah tak menyukai hal ini, dia berpikir bahwa ini merupakan sebuah ujian politik bagi Raja Pareamon.

“Dengan begini,” ucapnya, “Anda pun akan menguji kecintaan dan kesetiaan masyarakat kepada Anda, Tuanku. Mari kita lihat di dalam rakyat Anda ini, golongan manakah yang sebenarnya mendukung Anda. Kita harap semuanya berlomba untuk memberikan hadiah indah yang akan membanggakan Anda. Ini akan menjadi petunjuk seberapa setianya mereka ketika kita berada di masa sulit. Jangan pernah berpikir bahwa ini hanya sebuah upacara pengangkatan anak yang sederhana. Ini sesungguhnya akan menjadi ujian kesetiaan masyarakat dan para bangsawan.”

Sang Raja menyetujui tawaran ini, tapi hatinya bagaimana pun belum bisa menerima anak yang ditemukan di sungai itu. Kedua mata sang Ratu selama dua tahun ini hanya melihat bayi ini, tak pernah melihat yang lain. Sang Raja menyadari hal ini... 

Meskipun dalam dirinya muncul sebuah kecemburuan, demi senyum di wajah sultanah, dia menghilangkan pikiran ini. Tapi bagaimanapun juga, sang Raja sangat menantikan hasil ujian kesetiaan yang dipersiapkan oleh sang Ratu.

Ketika hari yang ditentukan telah tiba, jalan-jalan diluaskan, bangunan-bangunan diperbaiki, jejak kemiskinan dan penderitaan berusaha ditutup. 

Wilayah Apiru yang kini rapi dengan cat seragam berubah menjadi sebuah lapangan upacara. Pohon-pohon kurma ditanam berderet di tepi jalan. Tempat tinggal keluarga Imran seperti mendapatkan sentuhan tongkat sihir...

Para bangsawan tiba dan berdiri di tempat mereka masing- masing sebelum sang Raja datang. Beraneka hadiah yang mereka bawa diserahkan kepada petugas, dibuka, dicatat, dan ditaruh di meja-meja besar. 

Peti perhiasan bermacam ukuran yang berisi berlian, mutiara, intan, gelang emas, kalung, dan cincin berjajar di jalan. Tempat ini mendadak terlihat bukan seperti tempat yang satu minggu lalu penuh dengan orang sakit dan ibu yang membunuh bayına.

Bagaimana dengan para Apiru?

Mereka juga tak kalah sibuknya dengan para bangsawan. Semua telah diatur. Pembagian tugas dilakukan untuk menentukan siapa yang berdiri berjejer di jendela-jendela rumah, siapa yang keluar dan duduk di halaman rumah, bahkan siapa yang duduk di ranting pohon yang paling atas untuk melihat upacara pengangkatan anak ini. 

Tandu-tandu warna-warni milik para bangsawan dan penduduk istana datang satu per satu. Kemeriahan di sekitar rumah keluarga Imran membuat rumahnya seakan seperti istana megah.

Terdapat jalan lain yang diperuntukkan bagi peti-peti hadiah yang dibawa dari negeri-negeri utara, selir-selir yang membuat jatuh hati orang-orang yang melihatnya, bermacam kuda- kuda mahal, singa yang terlatih, gajah putih yang didatangkan dari negeri Punt, berbagai macam burung bulbul, sepasang burung ibis, dan beberapa patung kristal... Tumpukan hadiah ini menggunung hingga melimpah ke halaman rumah para Apiru.

Semua kemeriahan ini sungguh menarik perhatian anak- anak. Anak-anak yang sudah terbiasa dengan cambukan dan pukulan, hari ini telapak tangan mereka penuh dengan biskuit dan permen...

Para perempuan pemetik kecapi dengan pakaian sutra ungu berjajar seperti patung-patung perak istana, mendendangkan lagu ‘Semoga berumur panjang wahai Raja kita’.

Pendeknya, semua saling berlomba untuk memeriahkan upacara pengangkatan anak angkat Raja... Bahkan, para Apiru pun mengeluarkan lilin mereka, kemudian menyalakannya di tengah panasnya siang hari. Roti dan kue yang disiapkan malam sebelumnya berjejer dalam baki di sepanjang jalan. Dupa-dupa yang dibakar, serbat mint, dan kurma segar yang disiapkan dalam kendi disediakan untuk orang-orang yang datang dan lewat...

Tandu yang terakhir datang adalah milik sang Raja yang tampak puas dengan keramaian perayaan yang telah disiapkan melebihi apa yang dia perkirakan. Dengan isyarat suara para pengawal yang memberi kabar kedatangan sang Raja, seluruh musik, keramaian, dan suara-suara obrolan seketika terdiam sunyi.

Semuanya bersujud ke tanah. Lalu, dengan gerakan tangan, sang Raja memberikan salam dari balik kain penutup tandu yang mengisyaratkan ‘lanjutkan’ dan mengangkat tongkatnya ke atas.

Ratu Asiyah turun dari tandunya diiringi taburan bunga dan tiupan terompet. Dia berjalan dengan langkah penuh keyakinan menuju rumah keluarga Imran. Anggota keluarga Imran yang menantinya di depan pintu halaman rumah memberikan hormat dengan takzim. Sang Ratu memberikan hadiah melalui para pengawalnya seraya membalas penghormatan mereka.

Musa...

Bayi Musa, sebelum dibawa masuk ke tandu ratu di dalam pelukan Sare, ditunjukkan kepada masyarakat oleh Ratu Asiyah yang memakai pakaian dan selendang berwarna ungu berajut pola burung ibis yang menutupi kepala sampai kakinya. Tampak pada wajahnya seribu bunga mawar...

Di waktu yang sama, bersama iringan suara ‘Untuk Putra Raja yang Agung’, upacara mulai dilakukan dengan iringan doa ‘Hidup yang panjang, semoga hidup yang panjang, Berjalanlah di dalam Nama Negeri Mumi’ dari seluruh rakyat. Setelah itu, Asiyah pun menaiki tandunya.

Tandu sang Raja yang tertutup rapat ketika datang ke perayaan, dibuka dalam perjalanan pulang. Rakyat dan bangsawan ingin sekali melihat kedua mata sang Raja, yang mungkin takkan terjadi lagi hingga mereka mati. Ini semua berkat si kecil Pangeran Musa.

Perayaan ini, anak yang diangkat sebagai anak angkat raja, berlangsung hingga ia memasuki istana. Kipas besar yang terbuat dari bulu-bulu burung merak menaungi sang bayi seperti sebuah bayangan setia.

Musa kecil layaknya bunga surga...

Mengikat semua orang yang melihatnya, seorang hamba yang membangkitkan cinta kepada Allah.

Di sisi lain, sang Raja merasa tak suka dengan Musa, meskipun masih seorang bayi, karena menarik semua perhatian seperti magnet. Pertama kali dalam hidupnya, julukan “orang yang menarik perhatian semua orang” telah diambil oleh seorang anak yang masih kecil. Sebelum ini, dialah yang menjadi pusat perhatian. Kemampuan ini telah menjadi sebuah kesombongan, kebanggaan diri, menatap rendah orang-orang di antara daratan dan langit.

Kehadiran Musa meninggalkan perasaan yang tak pernah dia rasakan sejak masih kecil. Ini seakan gerhana Matahari bagi dirinya. “Sebuah bayangan malapetaka,” ucapnya dalam batin, “sebuah bayangan malapetaka menyelimuti diriku.”

Perasaan ini adalah ujian sesungguhnya baginya. Tinggi dari yang lainnya, menarik dari yang lainnya, memesona dari yang lainnya, atau mendapatkan hadiah yang membuatnya berbeda dengan yang lain. Perbedaan dirinya dengan yang lainnya ini seiring waktu mengubah Ra menjadi seorang diktaktor. Rakyat, komandan militer, penasihat, anak-anak, orang lanjut usia, bahkan para raja asing merasakan perubahan hawa ini... Untuk pertama kalinya pecah...

Cermin-cermin sang Raja retak...

Perbedaanyangmenurutnyamerupakansebuahkemampuan khusus yang ada padanya mulai sirna. Untuk pertama kalinya, dia merasakan mimpinya goyah. Di waktu yang sama, ini juga merupakan pertama kalinya dia melihat dirinya dengan lebih jernih. Untuk pertama kalinya, dia mendengar suara hatinya.

Dia memandang ke dalam dirinya.

Miskin, sebuah rumah tanpa perabotan... Angin bertiup kencang ke dalam rumah dari pintu yang reot, lalu keluar dari jendela. Tahun-tahun hidupnya dilalui dengan kesedihan. Seluruh hari yang dilalui dengan keistimewaan... Itu semua hanya meninggalkan sesuatu yang kosong dalam dirinya.

Memandang memohon kepada perempuan yang berada di sisinya... Lingkaran ungu kesedihan di sekeliling kedua matanya, garis-garis yang tepat terletak di samping bulu mata, pupil mata yang menangis mekipun ketika tertawa, tak peduli dengan panas Matahari yang membakar kulitnya, dan kulit kedua tangan yang menunjukkan umurnya...

Ratu Asiyah tak memedulikan semua itu. Bertambah tua, turunnya kekuatan, kekalahan dalam kehidupan, kehilangan, kesalahan. Apakah Matahari pun tak mampu menggoyahkannya perempuan yang terbiasa dengan kesedihan ini? Apakah dia selalu bersikap kepala dingin, bahkan kala dinomorduakan? Seakan seperti bukan sebuah beban baginya untuk tak menarik perhatian, tak terlihat mewah... Apakah karena hal ini dia bisa bahagia dengan hal-hal kecil?

Asiyah meletakkan daun teratai yang dipetik Tahnem dari taman. Terlihat sama sekali tak ada beban. Memandang bayi Apiru yang dia temukan dari Nil dengan pandangan sesuatu yang berharga.

Ah... Asiyah... Bagaimana kau begitu bahagia?

Ribuan belatung menggerogoti diri sang Raja. Dia berada di bawah bayangan Musa. Tapi, sampai saat ini dia tak pernah menginginkan sesuatu. Dunia adalah tempat persinggahan besar yang selalu tunduk padanya. Untuk pertama kalinya, dia menyadari pintu-pintu tempat persinggahan telah tertutup. Untuk pertama kalinya, sang Raja berada di luar. Untuk pertama kalinya, dia harus meminta.

“Asiyah!”
“Silahkan, Bagindaku.”

“Apakah aku masih bisa berharap bahwa kau masih mencintaiku?”

“Seluruh Mesir berada di bawah perintahmu, Bagindaku.”

“Itu bukan jawaban yang aku inginkan.”

“Seluruh patung berhala di Nil dan Pi-Pareamon adalah milik Baginda.”

“Apakah begitu tak ada harapan keadaan Ra?”

“Apakah Baginda menanyakan ini ketika orang-orang yang bersujud sangat takut terhadap Anda?”

“Aku bukan membahas mengenai takut.”

“Bagindaku, tak ada hal yang tersisa di Mesir, selain rasa takut kepada Anda.”

“Aku sudah mendapatkan jawabannya.”

“Kami bukan orang yang pantas untuk memberikan jawaban kepada Baginda Raja, dan memang sering kali jawaban yang tak diberikan lebih berat dari yang diberikan.”

“Ucapanmu seperti bahasa teka-teki Sphinx.”

“Batu-batu juga memiliki bahasa, Bagindaku. Suatu saat akan tiba batu-batu berbicara.”

...

Ketika malam menjelang, Asiyah mengajak bayi Musa berkeliling. Seraya belajar berjalan, dia mencoba mengenal ruang-ruang istana.

Suatu ketika, Musa bermain dengan tongkat milik sang Raja, kemudian dia ingin berada di pelukan sang Raja. Membuka kedua lengannya ke arah Pareamon...

“Putra kita ingin berada dalam pelukan Baginda.”

“Bukan kita, dia adalah putramu, Asiyah.”

“Dia masih anak yang kecil dan polos. Izinkanlah dia mendapatkan cinta Baginda, tak hanya rasa takut kepadamu.”

“Baiklah... Datanglah ke pelukanku, wahai makhluk paling kecil di Kerajaan Mesir.”

Sang Ratu mengangkatnya dengan bahagia, kemudian meletakkan Musa ke dalam pangkuan sang Raja. Mungkin doa-doa yang diucapkan berhari-hari telah terkabul. Putra yang mengikat hati semua orang yang melihatnya ini akhirnya seperti akan memenangkan hati sang Raja. Mungkin mereka bertiga bisa dilukis bersama, sebagai ibu, ayah, dan anak... Mungkin cinta ini bisa menghapus awan gelap di atas Mesir. Mungkin mereka juga bisa menjadi keluarga, mungkin juga ada sebuah rumah milik Asiyah seperti orang-orang lain... Hatinya berdetak kencang ketika memikirkan hal ini.

Kebahagiaan Asiyah ini hanya berjalan singkat...

Diiringi jeritan, Pareamon melempar Musa dari pangkuannya... Semua yang berada di ruangan seketika bersujud... Musa menangis keras di atas lantai, sementara sang Raja menjerit kesakitan sambil memegang jenggot dan rahangnya. Bahkan, dia sempat menghunus belati yang berada di pinggangnya. Sang Ratu memegang tangan yang menggenggam pisau. Kali ini, pandangannya tertuju pada Ra.

“Dia masih anak-anak. Tak tahu apa-apa Bagindaku, dia masih anak-anak. Maafkanlah!”

“Apa yang masih anak-anak! Apa yang tak tahu apa-apa! Terlihat jelas, dia sengaja menarik jenggotku.”

Asiyah tak tahu harus tertawa atau menangis... Di satu sisi, dia menekan rahang sang Raja dengan sapu tangan. Di sisi lain, sesuatu datang ke dalam pikirannya. Kematian dan kehidupan menjadi masalah utama sekarang...

“Bagindaku yang tercinta... Anak yang engkau coba tusuk dengan pisau belati masih seorang bayi. Dia melakukan ini karena dia tahu Baginda adalah ayahnya.”

“Tidak! Anak Apiru ini adalah anak yang berada dalam mimpiku yang akan memusnahkan seluruh negeri Mesir.”

“Bagindaku, sekarang akan aku selesaikan permasalahan ini dan memperlihatkan betapa tak masuk akalnya apa yang telah engkau lakukan. Tahnem! Segera bawakan dua bara dari dapur. Sare! Bawakan batu rubi dari kotak perhiasaanku. Letakkan keduanya saling berdampingan di atas baki. Jika Musa memilih batu rubi maka berarti dia sudah keluar dari masa anak-anak. Tapi jika dia memilih bara api, saat itu juga kita akan tahu bahwa dia masih seorang bayi karena semua bayi memilih sesuatu yang terang. Kita akan tahu bahwa dia tak sengaja menarik jenggot Baginda.”

Semua dalam kesibukan menjalankan perintah yang diberikan oleh sang Ratu. Sementara itu, Asiyah sendiri berharap putranya yang dia coba selamatkan hidupnya melewati ujian berat ini tanpa masalah.

Dalam diri perempuan terdapat kobaran api...

Hanya dengan kecerdasaan dan intuisi seorang ibu, ujian ini diusulkan. Sementara itu, saat ini, seribu keputusasaan menyeruak... Seandainya dia bisa menahan lidahnya... Tapi, saat itu juga pisau belati akan menusuk Musa. Asiyah tahu bahwa hanya darah yang bisa mengembalikan pisau itu ke sarungnya.

Dahi Tahnem dan Sare dipenuhi keringat dingin. Seolah merekalah yang akan mengikuti ujian ini. Mereka sungguh gugup ketika meletakkan baki di depan Musa kecil. Mereka membaca seluruh doa yang mereka ketahui agar Musa memilih bara api, bukan batu rubi...

Musa awalnya membungkuk ke arah batu rubi merah. Tangan sang Raja sudah bergerak siap mengambil pisau belatinya. Bibirnya penuh dengan kata-kata menginginkan segera terselamatkan dari anak kecil ini. Tak tahu kenapa, seketika Musa kecil mengubah arahnya. Sambil tersenyum, dia menjulurkan tangannya ke bara api, memegang bara api yang panas dan melemparkannya ke dalam mulutnya.

Kali ini, giliran sang ibu yang menjerit. Tanpa memikirkan tahta mahkota dan kedudukannya, Asiyah menghampiri Musa. “Anakku!” ucapnya. Tangannya segera dimasukkan ke dalam mulut putranya dan menuangkan air. Sang ibu menangis, putranya pun menangis... Tahnem dan Sare berdiri seketika penuh kecemasan, tak tahu harus tertawa atau menangis.

Pisau belati ini... Hanya dengan sesuatu yang berharga bisa dikembalikan ke tempatnya. Lidah Musa adalah pengganti untuk mengembalikan pisau belati itu ke dalam sarungnya. 

Lidah... Bahasa milik Musa, bahasa anak kecil yang masih belum tahu apa-apa. Bahasa ini, bahasa yang bisa berkomunikasi dengan sang Pencipta... Bara apilah yang mengubahnya, bukan batu rubi... 

Guru pertamanya adalah bara api... Bahasa yang tak terbakar, apa yang cinta tahu... Kalimat yang berada di sisi api cinta itu memadamkan batu-batu rubi dan membelah dunia... 

Bahasa yang tersentuh dengan api itu adalah detak hati para malaikat... Bahasa itu adalah bahasa yang terbakar oleh api, membelah batuan, mengeluarkan air, dan dengan bahasa yang sama melewati api untuk merajai perairan...

Di ruangan itu, hanya Sare yang memecahkan rahasia ini. Dia mengenal wajah asli setiap orang dari ujung jemari. Dalam batin Sare terucap, “Anak ini... Anak ini, ya Anak ini, anak yang memakan api, anak yang menelan api, suatu saat akan tiba waktunya dia merajai seluruh lautan. Air, hari saat ia berdiri dengan lidahnya yang terbakar ini, dia akan menguasai seluruh rahasia kobaran api dengan air yang telah dikuasai.”

Terdapat juga sosok yang tak terlihat di ruangan itu, seorang malaikat yang juga gurunya... Namanya adalah Jibril, tapi sampai saat itu tak pernah dzikirnya melewati istana...

Itulah bernama yang tak bernama... Itulah sosok yang tak terlihat yang terlihat... Memegang kedua tangan Musa. Ketika pikirannya menuju batu rubi, mengubah pikirannya ke arah bara api... 

Pikiran itu telah menutupi kecerdasan, harta karun telah disembunyikan. Karena itu dia terlindung dari perampasan. 

Dia adalah Jibril... Utusan pembawa irman- Nya... Dengan embusan badai rahmat di sayap-sayapnya, Jibril melindungi Musa... 

Hanya orang-orang murni yang bisa melihatnya. Sang Raja tak mampu melihatnya, malaikat yang bersemayam dalam hati, Memegang kedua tangannya yang menjulur ke arah batu rubi dan mengarahkan jalan Musa ke bara api... Melewati kobaran api, kemudian bersama-sama masuk ke dalam taman bunga mawar...

Bayi dan Malaikat...

Pisau belati yang telah keluar, dengan ini dimasukkan kembali ke sarungnya...

Ujian telah selesai, semua dapat mengambil napas lega... Ini adalah hari pertama Musa di istana...

Musa tumbuh besar di bawah pendidikan istana yang sangat ketat selama tujuh tahun, tapi tak pernah lepas dari pengawasan Yakobed. Rakyat memanggilnya ‘Pangeran’. Pangeran yang merupakan cahaya mata sang Ratu...

Mawar-mawar sang Ratu merekah setelah kedatangan Musa....

Bahkan, sang Raja pun tak luput dari peristiwa mengejutkan ini. Dia selalu berbicara tentang keindahan dan jiwa muda yang berbeda, meskipun waktu berlalu kepada sang Ratu. Ketakjuban akan hal ini membuat Raja mengingat kembali kenangan lama. 

Sementara itu, Kepala Pendeta Haman yang melihat kejadian ini langsung berbalik dan bergumam.

“Hanya demi seorang Apiru.... Semuanya demi seorang bayi Apiru. Baginda Ratu pasti telah kehilangan akal sehatnya, semua kehormatan telah runtuh hanya untuk suatu hal yang tak berarti ini.”

“Apa yang ingin kau katakan, katakanlah! Sifat keibuan sangat sesuai bagi Baginda Ratu! Sangat indah, sejak di hari pertamanya."

“Saya harap Baginda Raja ingat mengenai janji kepada Ratu Utara dan Pangeran Suppil saudaranya.”

“Malam ini upacaranya, benarkan?”

“Atas perintah Tuan, upacara besar ini telah diumumkan kepada seluruh penduduk.”

Upacara...

Haman yang sudah lama menjalin persekutuan dengan Pangeran Hattusas, sekali lagi menyiapkan sebuah kegilaan baru untuk sang Raja. 

Malam ini akan diadakan upacara kehormatan merayakan pengangkatan Putri Utara sebagai istri Raja di Istana Mesir untuk membangun hubungan yang baik dengan kerajaan tetangga, Hattusil.

Namun, masih ada kejutan lain yang telah disiapkan oleh Kepala Pendeta dan Pangeran Suppil.

Raja Mesir Pare-amon, sesuai kabar gembira yang diterima oleh Kepala Pendeta Haman, malam ini akan dinyatakan sebagai tuhan...

Tujuan utamanya adalah untuk menghancurkan kekuatan Ratu Asiyah dalam pemerintahan kerajaan dan memperkuat posisi Ratu Utara sebagai istri kedua yang resmi...

Menurut adat Kerajaan Utara, raja juga berarti tuhan. Dan mengapa adat ini tidak berlaku juga di Mesir?

Upacara yang akan membuka jalan ketuhanan bagi sang Raja ini juga berfungsi menaikkan derajat orang-orang di balik pekerjaan ini di mata sang Raja.

Inilah kejutan yang telah disiapkan...

Selama beberapa bulan telah dibangun sebuah pelabuhan yang membentang dari tangga-tangga marmer dermaga istana hingga ke tengah sungai Nil. Sebuah perahu besar yang indah berlabuh di ujung pelabuhan dan di dalamnya terdapat tahta dari mutiara yang akan digunakan untuk mengesahkan sang Raja sebagai tuhan...

Menggunakan sakitnya Musa sebagai alasan, Ratu Asiyah telah lama mengumumkan ketidakhadirannya dalam upacara. 

Hanya membayangkan tentang apa yang akan terjadi saja sudah membuatnya susah bernapas. Demi kekuasaan, mereka keluar dari jalur kemanusiaan, bahkan mengangkat seorang manusia sebagai Tuhan. Di tengah masyarakat yang hidup di bawah kemiskinan dan tertimpa penyakit, beban pajak-pajak yang semakin hari semakin bertambah, akal sehat Asiyah tak mampu mencerna tahta mutiara dan kapal indah yang mengapung megah di permukaan Nil. 

Terlebih lagi, ia tak dapat menerima penuhanan sosok manusia. Manusia-manusia ini pasti telah kehilangan akal sehat mereka... Sekat baja menutupi telinga, tirai besi menutupi kedua mata mereka... Hati tertutup, tersegel, tak bisa melihat kebenaran... 

“Fir’aun...”

Seluruh kenangan masa kecilnya terbakar, meninggalkan kursi yang mereka tempati ketika bertunangan, tampat tidur pertama yang beraroma anggur. Tak memedulikan vas-vas bunga yang telah retak, lukisan-lukisan yang bergantung di tembok satu per satu diturunkan, menarik seluruh tirai tanpa meninggalkan sekuntum bunga pun di depan jendela, mengepak apa saja yang ada ke dalam koper yang terbuat dari kayu, terkhianati...

“Fir’aun...”

“Baginda Raja, kami mendengar bahwa sang Ratu memutuskan untuk pindah menuju istana musim panas yang terletak di Delta... Menurut surat perintah yang dituliskan kepada abdi mudanya, Tahnem, mereka akan berangkat melakukan perjalanan besok pagi.”

“Sudahkah kau sampaikan kepada Ratu Asiyah mengenai keputusan terakhir yang kita ambil merupakan sebuah keharusan diplomasi, Kepala Pendeta Ha?”

“Kita tak memiliki sebuah keharusan untuk berbicara mengenai hal ini dengan mereka, Baginda Tuhanku. Dan memang pewaris tahta tertinggi Menmatre sekarang berada di samping Ratu untuk bertemu dan membicarakan hal ini.”

“Kita tahu bahwa Menmatre menentang kita mengenai hal ini. Pewaris tahta Menmatre berpikir bahwa bergabung dengan Pangeran Suppil dari Negeri Utara akan membawa kita ke keputusan yang salah...”

“Raja dan Tuhan Mesir Pare-amon lebih tahu apa yang terbaik. Kami setia dengan segala keputusan.”

“Ratu Asiyah takkan kembali dari keputusannya.”

“Bagindaku, setelah upacara yang kita selenggarakan, Anda tak hanya seorang Raja, melainkan di waktu yang sama Anda adalah Tuhan Pare yang memegang Mesir... Tuhan-tuhan lama dan Ka mengabdi serta berada di bawah kuasa Anda...”

“Seorang yang berasal dari Utara kah yang akan duduk di tahta sang Ratu, benarkah seperti itu?”

“Ratu baru kita telah membahas pemberian putra bagi Anda, Bagindaku. Sebagai seorang pewaris dari Raja Hattusas, menguasai Hattusil, musuh dan pesaing kita.”

“Mesir telah mencium tangan yang tak bisa ditaklukkan. Itu yang ingin kau katakan, Ha...”

“Banyak raja yang tak mendapatkan kemenangan dalam peperangan, tapi menggapai kejayaan dalam meja perjanjian. Diplomasi yang ada dalam adat Mesir kuno mengajarkan untuk berteman dengan musuh Anda.”

“Meskipun pengangkatan Putri Utara sebagai Ratu Mesir dan sultanah utama akan menyebabkan posisi dan wewenang Ratu Asiyah hilang?”

“Untuk masa depan Mesir, kita perlu melakukan pengorbanan, Bagindaku.”

“Seluruh sphinx, makam-makam, piramida-piramida yang tinggi menjulang ke langit, Nil yang membentang dari satu sisi sampai ke sisi lain Mesir... Ratu Asiyah lebih dekat kepada kita dibandingkan semua itu. Dia adalah putri Raja. Walid, Reyyan, Abidin, dan Muzahim adalah nama-nama leluhur Raja Mesir.”

“Itu semua adalah nama-nama yang diajarkan oleh abdi buta Raja Kafir saat kita kecil.”

“Kita adalah beberapa orang terakhir yang mengetahui bahwa Ratu Asiyah adalah putri raja yang sebenarnya, wahai Ha.”

“Bagindaku, sebagai seorang raja dan tuhan, mereka telah memberikan keputusan yang paling tepat untuk Mesir. Penduduk Apiru terlaknat semakin hari bertambah banyak. Suku-suku yang memberontak telah mengepung Mesir... Kita perlu mengambil keputusan cepat untuk meningkatkan kekuatan Mesir di hadapan musuh. Untuk itu, sangat penting bagi Mesir menengok ke Utara dan sekarang Pangeran Suppil telah membuka jalan bagi kita.”

“Ratu Asiyah takkan memaafkanku!”

“Ratu Utara telah menyatakan Anda sebagai tuhan, wahai Bagindaku.”

“Beritahu Pangeran Menmatre. Penuhi semua keinginan Ratu Asiyah. Barang-barang yang diinginkan dari istana dan harta-harta yang dia kehendaki bisa dibawa ke istana musim panas di Delta. Hanya para pengawal yang dia pilih yang akan mengawalnya. Dan memang kedua mata sang Ratu sekarang tak melihat apa-apa, selain Pangeran Musa.”

“Ratu Asiyah tak menginginkan siapapun, selain kedua abdinya, Tahnem dan Sare Mereka juga memberitahu bahwa mereka sendirilah yang akan mengiringi Pangeran Musa. Dan masyarakat sedang berada dalam pertunjukan.”

“Apa kata mereka?”

“Orang-orang Apiru, sebenarnya adalah seluruh Gosen, yang mengetahui keberangkatan Ratu Asiyah ke Delta seperti melakukan perlawanan. Seluruh pekerja dan budak yang bekerja di benteng-benteng berkata ‘kami ingin memberangkatkan ratu utama kami’, lalu meninggalkan pekerjaan mereka dan...”

“Dan...?”

“Para Kelompok Nakhoda, Kelompok Nakkas, Kelompok Pengemis, Kelompok Dokter dan Bidan...”

“Tolong berhenti menghitung kelompok-kelompok...”

“Semuanya berhenti bekerja dan menyatakan hari ini sebagai hari perpisahan. Bahkan,...”

“Bahkan?”

“Bahkan para pelayan di istana juga...”

“Jadi, ini kenapa aku mendengar ucapan ‘Matahari Mesir telah pergi’ sejak pagi hari?”

“Mereka menaburkan bunga ke jalan-jalan, membakar dupa, dan tak menyalakan lilin malam ini di seluruh Memphis dan Gosen...”

“Berapa banyak orang yang menantang kita lewat perantara Asiyah?”

“Sesungguhnya, ini adalah sebuah pemberontakan, Bagindaku.”

“Kalau begitu, undang seluruh masyarakat Memphis ke upacara malam ini. Awasi rumah-rumah yang tak menyalakan lilin dan hancurkan keesokan harinya! Segera lakukan pengumuman... Malam ini adalah malam kesetiaan... Ini adalah malam ujian yang memisahkan antara orang-orang yang setia kepada Mesir dan orang-orang yang menjadi penentang raja.”

Sebuah perilaku raja yang aneh...

Awalnya, dia mulai dengan cinta, dengan persahabatan, berbicara dengan kasih sayang, kemudian membeku dalam embusan badai dingin. Setelah menerima beberapa adzab hati kesombongan yang mengalahkannya, dia yakin mengenai perasaannya terhadap Ratu Asiyah...

Bunga-bunga mawar yang ditanam oleh Asiyah tumbang menghadapi badai-badai kesombongan itu...

Sementara itu, dalam kesibukan di istana sang Ratu, Asiyah tak lain adalah seorang perempuan yang menolak dengan tegas kata-kata yang terucap dari Pangeran Menmatre yang sejak kecil selalu kagum dengan diri sang Ratu. 

Ratu Asiyah sama sekali tidak menginginkan harta, kebun-kebun kurma peninggalan keluarganya, dan pendapatan dari kapal-kapal dagang yang cukup untuk melewati hari-hari di istana musim panas yang terletak di Delta, bahkan lebih dari semua itu... 

Dengan kata-kata sopan, sang Ratu berusaha untuk menjelaskan bahwa keputusan perjalanan ini tak ada hubungannya dengan pengembalian posisi Ratu Resmi Kerajaan dan Ratu Pertama kepada Pangeran Menmatre. 

Pengakuan ketuhanan kepada raja sesungguhnya merupakan tetesan terakhir ke dalam sebuah gelas. Pangeran Menmatre memandang kagum kepada Ratu Asiyah. Seberapa mengertinya dia terhadap penjelasan perempuan ini tak diketahui, tapi sang Ratu juga menolak tawarannya untuk mengawal mereka dengan kesopanan yang sama...

Mereka berpisah...

“Suatu hari, saya akan muncul di hadapan Anda dalam keadaan yang tak pernah Anda bayangkan, wahai Ratuku. Untuk saat ini, semoga perjalanan Anda dimudahkan...”

Mereka saling menundukkan kepala, memberikan salam... Seluruh burung dalam sangkar telah terbang...

Lima puluh enam kereta kuda keluar dari istana di Memphis, dua ratus pasukan berkuda dan seratus lima puluh infantri membelah jalan, meninggalkan bendera-bendera yang berkibar di menara-menara benteng istana semakin jauh di belakang.... 

Setelah melewati kebun-kebun kurma, mereka menuju arah Delta menyusuri tepian Sungai Nil selama dua hari. Dari sana, mereka melewati Sukot dan tiba di wilayah timur, lalu mengarungi lautan untuk tiba di Istana Musim Panas yang terletak di Avaris. Ini adalah perjalanan lima hari, sebagian dilalui di sungai, sementara sisanya di padang pasir dan laut merah...

Kini telah tiba saatnya menceritakan beberapa kenyataan kepada Pangeran Musa yang berumur sembilan tahun... Perjalanan adalah momen yang efektif untuk membesarkan seorang anak... Bukankah dirinya sendiri juga besar dalam perjalanan dan pengasingan? 

Ratu Asiyah yang menatap bintang-bintang di langit dari tandunya sedang berpikir mengenai hal ini. Ia tersadar seketika saat memandang rambut sutra putranya yang diterpa sinar bulan. Perlahan, Asiyah mengusap rambut ikal Musa, dibelainya dengan rasa takut akan membangunkannya. 

Beberapa kali Musa kecil menguap di bawah selimut tipis yang menyelimutinya. Mimpi apakah yang dia lihat? Beruntunglah detik-detik terakhir dia teringat untuk mengucapkan perpisahan kepada Yakobed. Kalau tidak, hati perempuan malang itu takkan bisa menahan kepergian mereka tanpa kabar. 

Banyak meneteskan air mata, Yakobed mencium Musa berulang kali. Musa pun dengan kedua matanya yang cerah, berlari kesana kemari di samping ibu susunya...

Ibu susu...

Sang Ratu menggelengkan kepalanya yang bermakna tidak, meneruskan tenggelam dalam pikirannya...

Tidak...

Yakobed tak mungkin seorang ibu susu...

Sekali lagi, dia memandang putranya yang mereka besarkan bersama...

Yakobed hanya bisa menjadi seorang ibu bagi Musa...

Aku harus memberitahu Musa pikirnya. Dan dengan begini, ketika dia mengetahui orang yang tak mempedulikannya bukanlah ayah kandungnya, mungkin ini akan mengurangi rasa sakit dalam hatinya...

Ratu Asiyah memandang Sungai Nil yang mengalir deras tepat di sampingnya... “Kau adalah teman sejatiku, kau adalah teman mengeluhku, wahai sungai,” ucapnya.

Ke mana mereka pergi? Apa yang akan mereka hadapi setelah ini? Kedua matanya mencari Tahnem dan Sare.

Tahnem yang melihat Asiyah memandang ke belakang seketika membuka kain penutup tandu dan keluar sambil berkata “Silahkan, Baginda Ratuku”. 

Sang Ratu mengangkat tangannya yang bermakna tak apa-apa agar Musa tak terbangun... Kemudian memandang lurus ke arah tandu Sare yang masih terpancar sinar lilin. Rupanya, ahli mutiara sedang membaca buku... Dia bersyukur kepada Allah... Telah memberikan dua sahabat yang tak mudah tertidur di gelap malam seperti dirinya.

Hatinya dipenuhi rasa gembira ketika dia melihat burung- burung ibis di ranting pohon akasia di tepian Nil saat hendak tidur. Seakan burung-burung memandang sambil berkata bahwa dia tak sendiri, Allah selalu berada di sisinya. 

Mereka berhenti di tepi sungai Nil, tepatnya di Benteng Tuverk untuk melakukan istirahat makan pagi. Namun, perubahan cuaca yang mendadak membuat mereka harus kembali membongkar tenda besar linen yang telah berdiri anggun. 

Para tentara mengumpulkan ranting-ranting untuk kayu bakar, kuda-kuda berdiri tak nyaman... Gelombang di permukaan Nil bergerak cepat, langit berwarna kemerahan. Setiap tempat berubah kemerahan. Badai pasir datang, penuh dengan butiran-butiran debu dan pasir. 

Para tentara menunduk bersembunyi karena takut, menghalangi teman-temannya yang mencoba mengejar kuda-kuda yang melarikan diri. Badai pasir yang menutupi pandangan ini membuat semua orang saling bertabrakan satu sama lain...

Dan para tuhan...

Seluruh rombongan mengatakan bahwa para tuhan yang saling berkelahi berada di balik peristiwa ini. Semua ucap dan kata-kata yang berbeda yang keluar dari bibir semua orang menjadi sebuah keributan di halaman benteng...

Pangeran Musa tersenyum melihat keadaan tersebut.

“Badai ini pasti takkan pernah berhenti jika benar ada begitu banyak tuhan,” ucapnya.

Saat itu, Ratu yang saling bertatapan dengan Tahnem menyadari bahwa sang Pangeran sudah memiliki dasar pengetahuan mengenai Tuhan.

“Kenapa kau berkata seperti ini, Pangeran muda? Apa yang akan terjadi jika tuhan berjumlah banyak?”

“Bagaimana bisa tak terjadi apa-apa, Ibuku! Jika ada banyak tuhan, ketika satu ingin menurunkan hujan, satu menginginkan musim panas, satu ingin siang hari, satu ingin malam hari, satu berkata duduk, satu berdiri maka akan seperti apa kacaunya dunia... Tapi, di dunia ini semua terorganisir. Maksudku, hanya ada satu Tuhan yang mengatur dunia. Jika ada banyak tuhan, tak tahu kapan malam berakhir, tak tahu kapan badai akan berhenti.”

“Bagus, wahai putraku, pangeranku...”

“Yakobed ibu susuku juga percaya pada satu Tuhan. Sang Pencipta yang mematikan dan menciptakan kami."

“Tahnem, Sare, dan aku juga mengucapkan hal yang sama, wahai anakku. Tapi, hal ini tak kami bagi dengan siapa pun. Kau juga harus berhati-hati, mengerti kan? Jangan berkata hal ini di depan sang Raja, wahai pangeranku yang cerdas.”

“Jangan bersedih, wahai Ratuku, tentang pengiriman Anda menuju Avaris oleh Pare-amon,” begitu ucap ibu susuku, Baginda Ratu.

“Aku juga akan berbicara denganmu mengenai hal ini.”

“Aku tahu bahwa dia bukan ayahku. Para ahli bangunan mengatakan hal ini ketika kita melakukan kunjungan di Gosen. Sungguh kejam para anak buah Fir’aun memperlakukan mereka. Mereka harus bekerja ketika punggungnya berdarah, tak ada makanan, dan tidak boleh minum. Hanya dengan permohonanku mereka kemudian membuat sebuah tempat air minum. Aku berkata pada diriku bahwa Pare-amon tak mungkin ayahku. Akhirnya ibu susuku menceritakan semuanya, setelah aku memaksanya bercerita... Tapi, karena aku tak ingin Baginda Ratu bersedih maka aku tak memberitahumu, wahai Ibu.”

“Kalau begitu, kau sudah tahu semuanya, wahai pangeran kecilku. Ah! Malaikat indahku yang dihadiahkan Sungai Nil kepadaku.”

Pangeran muda memeluk Ibu Ratunya dengan sepenuh hati. Satu tangannya menghapus air mata, sementara satu tangan lainnya memegang tangan sang Ratu yang bergetar.

“Sampai akhir napasku, engkau adalah ibuku, wahai Ibu. Kalian adalah kedua sayapku, ibu susuku dan kau.”

Satu per satu segel telah terbuka sebelum mereka tiba di padang pasir. Hidup adalah sekolah bagi para pengembara padang pasir... Setiap jarak yang telah dicapai adalah tingkatan kelas yang telah dilalui. Setiap oasis yang mereka temukan adalah pelajaran yang telah mereka pelajari. 

Padang pasir yang luas sesungguhnya merupakan tempat manusia berhadapan dengan Allah. Setiap rombongan yang telah menempuh perjalanan melalui padang pasir di antara Sungai Nil dan Laut Merah selalu berkata, “Satu tahun kita telah tumbuh besar...”

Seakan sebuah payung raksasa di padang pasir ketika mereka melihat pohon-pohon palem. Para pengawal memberi kabar gembira bahwa mereka telah tiba di sebuah oasis yang memiliki air terjun kecil. Kelompok pengawal terdepan segera membangun tenda-tenda, menyalakan api, dan mulai menyiapkan makanan. Tahnem dan Musa, menatap telaga oasis dan seketika meloncat dengan gembira...

Sambil berlari kecil, mereka menghampiri tenda besar, duduk di depan deretan nampan dan mulai memakan kurma, kacang kering, delima, dan buah kenari dengan lahapnya. Sang Ratu memandang apa yang mereka lakukan dengan senyum di wajahnya. Ketika Sare memberikan handuk untuk mengeringkan tubuhnya, “Setelah makan, saya akan menceritakan kisah Margir kepada Anda, Tuanku,” ucap Tahnem...

“Apa itu Margir?” tanya Pangeran Musa...

“Margir adalah seorang pawang ular. Dengan tiupan suling dia membuat ular menari. Ia bahkan mampu menjinakkan ular berbisa,” ucap Sare.

Sare melihat wajah Pangeran Musa yang seakan berkata dari mana kau mengetahui semua hal ini. “Ketika masih kecil, saya seorang murid Margir...,” ucap Sare dengan malu-malu.

“Di suatu masa kuno, hidup seorang margir tua bernama Necerhepere di Kota Teb... Festival musim semi yang diadakan setiap satu tahun sekali di Kota Teb diikuti oleh para ahli paling mahir dari empat sisi dunia, dirayakan dengan pameran- pameran yang paling besar.

Ular besar bernama Feten milik Necerhepere merupakan legenda. Feten yang oleh penduduk Teb disebut naga mempunyai kekuatan luar biasa yang mampu menelan satu ekor anak gajah hanya dengan satu kali telan. 

Necerpehere menyimpan Feten bukan di keranjang seperti ular-ular lainnya, melainkan di sebuah peti besar. Kunci peti menggantung di tubuh ular itu, terbuka dan tertutup dengan ucapan sihir. 

Necerpeher dalam pertunjukannya akan membuat ular itu menari, kemudian si ular mengeluarkan perak dari mulutnya ke atas baki yang dipegang pawangnya. Begitu banyak perak yang mereka kumpulkan sehingga jika diletakkan satu per satu akan terlihat tinggi seperti gunung...

Masyarakat yang mengetahui bahwa Necerhepere tak melakukan ini untuk uang menyukainya dan banyak memberikan donasi. 

Guru Necerhepere membagikan donasi yang bertumpuk itu kepada para yatim, orang miskin, dan orang-orang lanjut usia. Dia membagikannya satu per satu dengan mengelilingi kota sehingga semakin dikenal oleh penduduk Teb serta orang-orang di kota dan desa sekitarnya.

Sementara itu, penguasa Teb merasa cemburu kepada pawang ular ini karena kedekatannya dengan penduduk. Setiap saat, dirinya dipenuhi rencana licik untuk memusnahkan pawang itu, tapi tak satu pun berhasil. Suatu hari, hal ini dia ceritakan kepada penasihatnya yang licik...

Penasihat Sehemhet memutuskan mendekati Neecerhepere dan ularnya Feten dengan berpakaian seperti seorang murid margir... Tanpa curiga, si penasihat licik diterima sebagai murid. 

Dari gurunya yang dia ikuti siang dan malam, Sehemhet mempelajari kata-kata sihir untuk membuka dan menutup peti Feten. Setelahnya, ia menidurkan pawang tua itu dengan apiun dan mengangkut peti berisi Feten ke istana.

Necerhepere terbangun seketika menyadari Feten telah dicuri. Dia mengelilingi pasar sambil berkata, ‘Ularku ularku, Fetenku Fetenku’. Masyarakat yang beberapa hari yang lalu memuji-mujinya sama sekali tak memedulikn orang tua ini ketika ularnya hilang. Margir Necerhepere malam itu sama sekali tak memiliki sesuatu yang bisa dia makan.

Sementara, di tempat lain... Penasihat licik Sehemhet setelah membuka peti Feten dengan kata-kata sihir tak bisa memasukkan kembali ular itu ke peti. Dia sendiri tak tahu bagaimana cara meniup alat musik. Feten lantas memangsa penasihat, kemudian menelan penguasa Teb. Itu pun tak cukup, setiap orang yang tak memberikan roti kepada Necerhepere ditelan satu per satu, hilang tanpa jejak...

Necerhepere sendiri tanpa mengetahui apa yang terjadi mengeluarkan seruling dari sakunya sambil menangis. Ketika dia melihat serulingnya terbelah menjadi dua... “Sungguh beruntung,” ucapnya, “sungguh beruntung Feten dicuri dan dibawa oleh pencuri. Kalau tidak, malam ini tak satu pun masyarakat Teb yang akan tersisa.”

Pelajaran pertama dari kisah ini adalah mengenai akhir pahit dari orang-orang yang berlaku licik. Pelajaran kedua, orang-orang yang tak setia dan serakah akan bernasib buruk. Sementara itu, pelajaran ketiga adalah selalu berpikir bahwa sesuatu yang menimpa kita pasti memiliki suatu hikmah...”

Anggota rombongan perjalanan ini mendengarkan saksama kisah yang diceritakan oleh Tahnem di depan kobaran api. Potongan kayu yang jatuh tiba-tiba, pikiran yang berkelebat dalam diri... “Kita telah menaklukkan naga,” bisik Ratu Asiyah seraya memeluk Pangeran Musa yang tertidur.

Di setiap peristiwa terdapat hikmah. Setiap padang pasir akan tiba di lautan...

Padang pasir berubah menjadi tempat belajar bagi mereka. Dari legenda ke sejarah, dari pengetahuan agama sampai ilmu kebijaksanaan, mereka saling menghibur dengan obrolan- obrolan yang mengembuskan kesejukan...

Keesokan harinya, mereka bertemu dengan para budak dan pekerja yang membangun Candi Pi-Pareamon yang didirikan di sekitar Avaris. 

Kurang lebih seratus Apiru berjalan dengan kaki terikat, dibagi menjadi sepuluh barisan. Seutas tali tersampir di bahu mereka, menarik bongkahan-bongkahan batu besar... Sementara itu, kondisi para budak yang bertugas untuk menggali jauh lebih mengenaskan. Hampir setiap lima menit terdengar jeritan kesakitan, baik karena tertindas batu atau cambukan penjaga...

Pangeran Musa memberikan pesan kepada pemimpin rombongan pekerja dan budak melalui Tahnem. Dia menuliskan sebuah perintah untuk menghentikan penggunaan cambuk dan pemukulan sebagai hukuman. Musa kemudian memberikan segelnya di atas surat perintahnya. 

Pangeran Musa mungkin pewaris tahta yang masih kecil, tapi pendidikan yang diterimanya membuat dia telah belajar bagaimana menggunakan segel dan wewenangnya. Ia juga memberikan empat tong besar berisi air untuk menghilangkan dahaga para pekerja.

Perintah Pangeran Musa telah memberikan napas lega bagi para pekerja dan budak. Berita pemberian hadiah tong besar berisi air dalam waktu singkat menyebar ke seluruh rombongan pekerja.Tanpa memedulikan rasa sakit, mereka mulai bersorak. “Hidup Pangeran Musa! Hidup Pangeran Musa!”

Berdiri di atas tandu, Pangeran Musa memberikan salam kepada para pekerja...

Kedua mata Ratu Asiyah memandangnya dengan rasa bangga dari tandu. Matanya penuh air mata bahagia dan haru.

“Anak yang akan menjadi seorang raja,” terucap kata-kata dari bibirnya...

Ratu Asiyah dan Sungai Nil adalah saudara kembar...

Keduanya memiliki karakter yang peka dan bahagia jika dilihat dari luar... Pergi dengan semangat bergelora layaknya ombak, menenangkan batu-batu licin dengan tangan-tangan kecilnya... 

Mereka mengetahui banyak bahasa dengan kesabaran. Bahasa-bahasa sungai, manis-pahitnya minuman, mengumpulkan arus kata ke dalam kalimat-kalimat...

Kalimatlah yang mereka bangun.
Keduanya membangun kalimat-kalimat dunia... Dan ketahanan...

Selalu lebih ke bawah, mengalir sampai paling bawah. Terus mengalir hingga kedalaman palung, bergerak sampai ke tempat paling dalam, tanpa rasa enggan untuk turun sampai bagian paling terdalam...

Nil dan Asiyah seperti dua darwis yang bijaksana dan rendah hati...

“Mereka memanggil Anda Sultanah Nil, wahai Baginda Ratuku.”

Apa yang diucapkan Tahnem kepada Ratu seperti sebuah kata sandi, “Jangan menangis, aku mohon”. Abdi muda dan setia Tahnem mengucapkan permohonan ini dengan cara itu kepada Asiyah... 

Tapi, dia adalah Asiyah. Di antara kesedihannya, dia menemukan sesuatu hal yang tak dapat ditertawakan. Dia membangun pulau-pulau taman bunga di tengah lautan api.

Musa adalah salah satu pulau itu, pulau bunga-bunga mawar...

Dari luar, di sekitarnya tampak begitu ramai dan penuh pertunjukan. Namun, sebenarnya dia sendiri. Dia seorang perempuan yang sendiri.

Meskipun berada di istana terbesar di dunia, bersandar di tahta yang paling kuat, dan mengenakan mahkota paling indah, dia tak pernah meninggalkan kerendahan hati dan kesedihannya.

Tersenyum... Ketika gelisah, bahkan ketika menangis... Sabar adalah ransum perjalanannya.
Dia tak pernah meminta sesuatu, selain kepada Allah.

Kehidupan yang ditakdirkan kepadanya, seperti jubah yang menanggung tanggung jawab besar, sebuah beban yang berat. Memberikan kebahagian, kententeraman, dan kesejukan kepada adalah tujuan hidupnya... Setiap anak yang terlahir di Mesir merupakan harapan maupun bebannya.

Setelah kehadiran Musa, rasa sayangnya kepada anak- anak semakin bertambah. Bersama abdi-abdi mudanya, dia memberikan pakaian kepada anak yatim, memeriksa orang- orang yang sebatang kara, mengamati lilin-lilin yang menyala di rumah-rumah di malam hari, siapa yang sakit, siapa yang bekerja siang dan malam. 

“Ibu, apakah istana di Avaris sangat jauh?”

“Avaris merupakan sebuah kota di Delta yang ada di zaman ketiga ketika aku masih kecil. Sebelumnya adalah Akhet, zaman banjir, yang berarti zaman awal tahun... Kemudian kita melewati hari-hari Peret, hari saat air terserap oleh tanah... Kemudian tibalah hari-hari Shemu, zaman panen, zaman ketiga... Hari-hari inilah yang paling dirindukan ketika kami masih anak-anak. Guru kami Apa, jika zaman Shemu yang penuh dengan berkah tiba selalu membawa kami ke Istana Musim Panas di Avaris.”

“Aku masih belum melihat Hijau Besar.”

“Laut... Campuran hijau ke dalam warna biru, lahan paling luas di dunia... Aku juga bisa melihatnya di tahun kelahiranmu, ketika Apa meninggal dunia. Tapi, Apa sering menceritakan tentang laut kepada kami... Lihatlah ke langit, ucapnya. Laut adalah cermin langit di permukaan Bumi. Kau berpikir bahwa sepanjang bukit adalah bagian negeri Mesir. Sementara itu, mulai dari Avaris, dimulai dari lahan-lahan delta, mulai dari tempat ini Mesir adalah negeri papirus.”

“Aku pernah mendengar pembahasan mengenai Ibu sebagai Putri Para Papirus di Sekolah Kerajaan.”

“Negeriku berada di timur Avaris, Heka-Hasut yang datang dari Palestina, jauh di balik Bukit Papirus.”

“Jadi, Ibu juga bukan orang Mesir asli. Benarkah seperti ini, Ibu?”

“Raja-Raja Pendeta memanggil kakek-kakek buyutku. Mereka menjadi pemimpin adil di Mesir selama berabad-abad. Nabi Yusuf menyelamatkan Mesir dari musibah kelaparan besar di masa pemerintahan kakek buyutku.”

“Aku juga pernah mendengar Nabi Yusuf dari Yakobed, ibu susuku.”

“Kemudian terjadi banyak pertumpahan darah di kerajaan, kekuasaan sekali lagi dikuasai oleh bangsa Kıpti, dan tibalah kita sampai saat ini, Pangeran kecilku.”

“Ibu percaya dengan ajaran Nabi Yusuf, benarkan Ratuku?”

“Hal ini belum pernah aku bicarakan denganmu secara jelas, wahai Pangeranku... Tapi, kita telah menjadi ibu-anak di padang pasir. Dan memang petualangan yang mereka katakan adalah sebuah pengetahuan, tata cara, mendewasakan, menguatkan manusia... Oleh karena itu, tibalah waktu berbicara denganmu secara terbuka.”

“Aku mohon, Ibuku! Kau akan melihat kesiapanku melebihi perkiraanmu.”

“Kau memang telah siap semenjak kau datang padaku di dalam sebuah peti, wahai Musa... Abdiku Tahnem, Sare, dan aku... Kami adalah muwahidun yang percaya dan beriman pada Allah yang tunggal dan satu, tak melahirkan dan tak dilahirkan, dan pada ajaran Nabi Yusuf.”

“Apa arti Muwahidun?”

“Muwahidun artinya penyatu, anakku. Muwahidun adalah nama orang yang bersumpah yakin dan setia kepada Allah yang satu... Jika kau mau, kita bisa meminta Tahnem menceritakan kisah Muwahidun Muda dengan para serigala kepada kita. Dalam petualangan padang pasir, tak ada teman yang baik bagi manusia, selain kisah-kisah...”

Dan Tahnem pun bercerita.

Anak-anak Nabi Yakub yang telah berumur dewasa cemburu dengan cinta sang Ayah kepada saudaranya. Mereka mengambil Yusuf dari pangkuan ayahnya dengan alasan akan membawa dia untuk bermain tombak. Meskipun hati Nabi Yakub tak rela, kakak-kakaknya sudah membawa Yusuf jauh ke gurun pasir.

Setelah beberapa saat bermain, mereka makan dan menceritakan sebuah rahasia. Mereka pun mulai berkata, ‘kami akan melemparmu ke sumur ini dan kemudian kau akan kami selamatkan’. 

Dan kisah pun berjalan seperti yang telah tertuang dalam sejarah. Jika kau bertanya, ‘bagaimanan bisa saudara melempar saudara kandungnya ke sumur?’ Inilah dunia... Waktu berlalu, orang-orang baik akan beruntung di antara zaman. Begitu kata para leluhur...

Seandainya saudara-saudaranya tak melempar Yusuf ke sumur, para pedagang takkan menemukannya dan membawanya ke Mesir. 

Seandainya di Mesir dia tak dijual sebagai seorang budak, Yusuf takkan mendapat murka Zulaikha. 

Seandainya dia tak dipenjara karena amarah Zulaikha yang terbakar oleh cintanya maka dia takkan pernah dijadikan penasihat oleh Raja Mesir. 

Seandainya Yusuf tak dijadikan penasihat, Mesir takkan terselamatkan dari kelaparan...

Di alam semesta ini, semua berhubungan satu sama lain.

Jika tak seperti itu, hal-hal duniawi takkan seperti ini...

Nabi Yakub begitu sering menangis setelah kepergian putranya Yusuf. Begitu banyak meneteskan air mata sampai para malaikat berpikir bahwa terjadi badai topan kedua di dunia...

Dia tak percaya dengan ucapan anak-anaknya yang telah dewasa. ‘Saudara kami telah dimangsa serigala’. Pikiran sang ayah melayang ke padang pasir.

Dia menemukan sarang serigala di tengah gurun. Ketika dia bertanya sambil menangis, ‘Apakah kalian yang memangsa putraku?’

Para serigala pun meneteskan air mata dan bersumpah kepada Nabi Yakub. ‘Kami bersumpah kami tak memangsanya’.

Dalam sarangnya, serigala itu juga memiliki dua belas putra, sama seperti Nabi Yakub. Demi ketenangan hati Nabi Yusuf, serigala mengikat mulut putra-putra mereka dan berjanji hanya akan memakan rerumputan sampai Yusuf ditemukan.

Nabi Yakub kagum dengan kesetiaan dan ketulusan para serigala.

‘Siapakah kalian?’ tanyanya. ‘Kami adalah muwahidun’. Itu jawaban yang diberikan. Mereka kemudian bergabung di antara empat puluh rusa. Berhari-hari lamanya, para serigala dan empat puluh rusa berjalan bersama mencari Yusuf...

Entah bagaimana caranya, mereka menemukan sebuah sumur yang menyebarkan aroma bunga geranium, memandang cahaya yang menjulang tinggi dari sumur. Mereka memohon kepada Tuhan yang Agung, kemudian menyaksikan malaikat turun ke sumur dari langit. ‘Kita telah menemukan Yusuf’, ucap mereka...

Mereka berlari sambil meneteskan air mata, mencoba untuk memberikan kabar kepada Nabi Yakub bahwa putranya masih hidup. Empat puluh rusa bersama serigala berjalan berdampingan di gurun. 

Seorang pemburu menyadari keanehan ini. ‘Di balik semua ini pasti ada sesuatu yang luar biasa’, ucapnya dalam batin. Dia lantas mengikuti mereka. 

Pemburu penyembah berhala menangkap mereka semua dalam satu jebakan, ‘Kalian’, ucapnya kepada para muwahidun, ‘Kalian sangat aneh. Bagaimana bisa serigala tak memangsa rusa! Pasti kalian melindungi sebuah harta karun yang besar. 

Jika kalian tak mengatakan yang sebenarnya, setiap langkah yang aku langkahkan maka aku akan memotong leher kalian satu per satu!’

‘Jangan!’ ucap pemimpin serigala, ‘lepaskanlah kami, wahai pemburu yang tangguh. Kami para serigala pulang karena cinta kami kepada Nabi Yusuf. Kami bersumpah takkan kembali lagi. Lepaskanlah kami, biarkan kami menemui Nabi Yakub.’

Rusa-rusa melempar tubuh mereka ke depan. ‘Jika kau akan memotong leher kami semua, wahai pemburu, biarkan kami saja yang merasakan pisau tajam itu.’ Pemburu yang menyaksikan keanehan ini mengerti bahwa harta karun ini sangat besar, sesuai dengan sumpah-sumpah yang mereka katakan. 

Seketika dia pun berteriak ‘Siapa itu Yakub?’. Setiap satu langkah, dia memotong leher satu ekor rusa. Tepat empat puluh langkah, semua rusa mati di tangannya. ‘Masihkah kalian diam? Kesabaran apa ini!’ ucap pemburu marah kepada para serigala.

‘Kami para serigala bersumpah sabagai Muwahidun untuk mengikat mulut kami, Manusia seperti apa dirimu ini, membalikkan badan kepada seorang nabi yang menangisi putranya,’ ucap mereka. ‘Kalian semua akan kupotong,’ ucap pemburu yang semakin murka. ‘Jika ini memang takdir, terjadilah,’ ucap mereka seraya membungkukkan badan. Kedua belas serigala pun menyusul para rusa.

Setelah pembantaian itu, pemburu tertegun ketika melihat lima puluh dua jasad yang terbaring di tanah. ‘Apa yang telah aku lakukan!’ ujarnya sambil menggelengkan kepalanya. Ia pun menguburkan mereka semua. 

Sebagai sebuah isyarat bagi para pejalan, dia juga menanam empat puluh pohon cemara untuk empat puluh rusa. Setelah menanam empat puluh pohon cemara dan membalikkan badannya, dia melihat keajaiban! Dari kuburan dua belas Muwahidun serigala terpancar mata air... 

Sang pemburu mematahkan anak panahnya satu persatu, melempar pisaunya, menjeratkan tali ke lehernya, dan berubah menjadi orang gila. Dia lupa bagaimana berjalan dan berbicara, meraung seperti serigala, dan berjalan seperti rusa- rusa di gurun pasir.

Pemburu yang berkeliaran tak tentu arah ini menimbulkan kecurigaan sebuah rombongan pejalan. Tak mengindahkan peringatan dan pertanyaan pemimpin rombongan, pemburu justru berlari kencang. 

Rombongan pejalan mengejarnya seraya melepaskan anak panah. Sampailah mereka di pohon empat puluh rusa. Pemburu mengembuskan napas terakhir di depan dua belas mata air...

Rombongan yang kini dengan jelas menyaksikan lima puluh dua kuburan berdampingan menanyakannya kepada seorang tua yang mata dan hatinya terbuka. Orang tua ini menyelupkan telapak tangannya ke dalam air. Melihat air sejernih kristal di tangannya, ‘Ini adalah para muwahidun,’ ucapnya.

Rombongan kemudian juga menyadari bahwa ranting- ranting keempat puluh pohon menunjuk ke arah sumur yang berada jauh sana. Sumur yang memancarkan cahaya ke langit. Seketika, mereka berlari dan tiba di sumur. Mereka melempar sebuah tali ke dalam sumur. Mereka menyelamatkan Yusuf, keindahan dunia.

Manusia mengikuti hawa nafsunya, membutakan mata hati dan membuang saudara kandungnya. Sementara itu, para muwahidun setia di jalan cinta, walaupun mereka seekor serigala. Menjaga rahasia, tak mengingkari janjinya. Jika memang harus, mereka siap untuk mati.”

Kisah yang diceritakan oleh Tahnem membuat hati semua yang mendengarkan bergetar...

“KamiadalahMuwahidun,”ucapSare,takmenyadaribetapa miripnya dengan para rusa.

“Bagindaku, menara-menara Istana Avaris sudah tampak di cakrawala,” seru Tahnem. Ketika membalikkan badan ke arah Tahnem, orang-orang mengira seekor serigala muda yang berbicara di bawah pancaran sinar kemerahan Matahari...

Beberapa pasang kuda berwarna abu-abu dan hitam, masing- masing menarik sebuah kereta, melangkah melewati jembatan kayu memasuki Avaris... 

Dengan roda-roda perunggu yang memantulkan sinar di tengah panasnya siang hari, kedatangan Ratu Asiyah dan Pangeran Musa diumumkan. 

Setiap orang mengangkat tangan kanannya ke udara, memberikan salam kepada rombongan sang Ratu yang masuk ke dalam benteng. 

Sementara itu, walikota, komandan benteng, dan kepala pendeta menanti mereka di depan pintu gerbang utama setinggi enam puluh meter dengan mengenakan baju upacara. 

Jalan utama yang membentang di Avaris dipenuhi masyarakat yang berderet di kedua sisi jalan, menaburkan bunga-bunga. 

Hari-hari di Avaris mengalir cepat, lebih cepat dari aliran jam pasir.

Pangeran Musa melanjutkan hubungan dengan istana di Memphis.Tugas-tugas seperti pengawasan benteng, partisipasi dalam hari raya dan upacara-upacara kerajaan yang diberikan kepadanya dijalankan dengan baik. Memantapkan posisi Musa sebagai anggota kerajaan yang terhormat dalam segala hal.

Sementara itu, Ratu Asiyah bersama abdi mudanya,Tahnem dan Sare, memandang tempat jauh ini sebagai kesempatan emas bagi mereka untuk meneruskan ibadah kepada Tuhan yang Satu. 

Istana musim panas di Avaris yang seringkali juga menerima ibu susu Yakobed sebagai tamu ini, meskipun pada awalnya terlihat seperti pengasingan, berubah menjadi tempat berlindung...

Pangeran Musa memiliki rasa ingin tahu yang kuat yang tak dimiliki oleh anak-anak kerajaan lainnya. 

Kemahiran menggunakan pedang sampai peternakan, menunggang kuda dan mengendalikan kereta kuda, bergabung dengan masyarakat dan mendengarkan keluhan-keluhan mereka, mengajarkan membaca dan menulis, mengumpulkan kurma dan delima dari pohon-pohon, memelihara kuda dan burung, memahat batu daÅ„ perhiasan, mengukur minyak-minyak yang akan digunakan dalam pembuatan lilin... 

Musa adalah pemuda yang memiliki kemampuan untuk memilih sendiri dalam mengikuti dan memecahkan rasa keinginantahuannya. Tak diragukan lagi bahwa ini merupakan karakter khusus yang diambil dari Ratu Asiyah. 

Ibunya tak pernah menahan dirinya dalam protokol istana yang ketat. Keberadaan Ratu Asiyah mengubah dirinya menjadi mutiara di dalam pelabuhan yang melindunginya dari terjangan ombak besar.

Pangeran Musa juga telah mengambil langkah-langkah guna melindungi hak-hak pekerja dan budak di seluruh benteng di sekitar Avaris. Dia memberikan satu hari libur dalam satu minggu kepada para pekerja atau memindahkan ke tempat pembangunan yang dekat dengan keluarga mereka. 

Musa juga membangun desa-desa baru bagi para pendatang dan pekerja yang ingin membawa keluarganya. Para pekerja dan budak masih belum bisa mendapatkan upah mereka, tapi dengan perintah Ratu Asiyah kebutuhan rumah tangga ditanggung oleh kerajaan. 

Mereka juga bisa mengambil kebutuhan sehari- hari, seperti pakaian, tempat tidur, dan selimut dari kantor pemerintahan di Avaris. Dengan kebijaksanaan Pangeran Musa dan Ratu Asiyah, para pekerja, budak, dan pendatang mendapatkan jaminan kesehatan setiap bulannya. 

Para pekerja yang sakit atau sudah tak mampu bekerja berat dipindahkan ke lahan-lahan di selatan Delta dan masing-masing diberikan sebuah kebun kecil dan sumur air. Kebijaksanaan yang tak lepas dari penglihatan Pangeran Menmatre ini dikatakannya sebagai hal yang tak memiliki tujuan untuk meningkatkan kesempatan sebagai pewaris tahta.

Sementara itu, tepat di utara Delta, pembangunan yang dimulai dari Memphis, diwarnai ketidakadilan yang lebih mengenaskan dari yang sebelumnya. Tak hanya bagi para Apiru saja, tapi seluruh pekerja dan budak yang diharuskan bekerja dalam kondisi lapar. 

Sebuah kediktaktoran dzalim yang dibangun di atas penjajahan terhadap orang-orang miskin dan kelaparan, di atas rakyat yang tak berdaya. Ketika bangunan- bangunan dan kuil termegah dalam sejarah menjulang tinggi ke langit, di sisi lain meninggalkan pembantaian yang tak disaksikan oleh sejarah...

Ah, langit-langit...

Rencana yang dirancang oleh Haman dan Pangeran Utara tak berjalan sesuai rencana. Raja Utara meninggal dunia, sementara raja baru yang naik tahta memutuskan perjanjian sebelumnya. Kerajaan Mesir berada dalam kondisi setiap waktu bisa berperang dengan Negeri Utara, musuh lamanya...

Wilayah-wilayah Mesir semakin hari semakin tak kondusif. Mesir Atas yang penuh dengan kemiskinan dan kejahatan, bertahan dengan pendapatan yang setiap saat bisa hilang. 

Pajak-pajak yang menguras rakyat tak semuanya mengalir ke Memphis. Kelas bangsawan baru yang berada di daerah hanya mementingkan kekuasaan mereka sendiri, bukan Memphis. Tapi, bagi rakyat ini sama saja. Ketika Fir’aun satu menjadi seribu... Seperti itulah...

Kepemimpinan di atas kepemimpinan. Nubya yang selama beratus-ratus tahun memenuhi kebutuhan Mesir terhadap emas dan perak berada dalam tarikan napas terakhir. Seluruh peristiwa yang tercatat dalam buku para penulis menceritakan semuanya dalam bahasa yang menarik.

“Ketika panen diturunkan, setengahnya adalah ular- ular dan setengahnya kuda nil. Ingatlah keadaan penduduk desa yang mereka hadapi dengan pajak-pajak atas panen, wahai para pemuda yang akan memilih pekerjaan! Tikus- tikus telah menguasai perkebunan, memakan semua yang mereka temukan. 

Semua ini hanya membawa kelaparan dan kemiskinan bagi para petani. Tak ada jalan untuk selamat dari para pencuri... Dan juga datang para penagih pajak. Para Nubya yang memegang kayu palem di tangannya bersama pelayan yang membawa tongkat berkata, “Berikan panen kalian!” 

Apa yang bisa dilakukan oleh para petani yang tak memiliki hasil panen? Mereka memukul petani itu. Mereka menjulangkan kepala petani ke dalam sumur. Jika kau memilih untuk menjadi petani, ketahuilah apa yang akan kau hadapi mulai dari sekarang, wahai pemuda.”

Betapa tingginya tingkat kejahatan hingga makam-makam raja yang bersejarah pun tak lepas dari penjarahan dan perampokan. Kabar mengenai perampasan makam-makam dan kuburan yang datang dari empat penjuru negeri ditafsirkan sebagai musibah besar. 

Tapi, permasalahan utama sebenarnya adalah lemahnya kepemimpinan berbalut jubah keangkuhan raja yang mengangkat dirinya sebagai tuhan. Selain Haman yang selalu memiliki tangan dengan seribu satu kelicikannya, tak satu pun orang menyukai kondisi yang terjadi...

Selain kabar-kabar gembira Pangeran Menmatre yang dia bawa dari Avaris dan Delta, Mesir berada dalam kesuraman. Di bawah kondisi seperti ini, tak ada cara selain memanggil Pangeran Musa yang berhasil memimpin Avaris dan daerah sekitarnya ke Istana Memphis secepatnya. Dan memang tak ada yang menolaknya, selain Kepala Pendeta Haman yang dikenal sebagai otak di balik semua ini...

“Musa adalah seorang pangeran yang dibesarkan oleh Mesir. Selama ini, ia berada dalam perlindungan kita. Di samping itu, ini juga sebagai cara untuk membuktikan kesetiaannya,” titah Raja Pare-amon mengakhiri pembicaraan...

Seakan api telah jatuh ke dalam hati Ratu Asiyah seketika mendengar kabar ini di Avaris... Dilihat dari arah manapun, pengasingan jauh dari Memphis selama lima belas tahun ini telah melindungi Ratu Asiyah dan Musa dari embusan kezaliman. 

Pangeran Musa akan menginjak usia dua puluh tahun ketika dia akan kembali menuju Istana Memphis. Perintah yang datang dengan perantara Pangeran Menmatre telah dipastikan. Ratu Asiyah memberitahu kepada Pangeran Menmatre bahwa Musa takkan pergi sendiri ke Memphis, dia akan ditemani oleh Tahnem dan Sare.

Tapi, naluri keibuannya memberikan peringatan lain kepada Asiyah. Bukan hanya putranya Musa saja yang berada dalam bahaya...

Sare!

Ah, dia tak bisa berhenti berpikir membiarkan Sare yang selalu berada di sisinya seperti sebuah lilin yang memancarkan cahaya berada di antara orang-orang serakah di Memphis. 

Kecantikan Sare pasti menarik perhatian para bangsawan yang berada di tempat yang akan mereka tuju. Siapa yang tahu seribu satu jebakan dan musibah apa yang akan menimpa dirinya! 

Satu-satu caranya untuk mencegah dia menjadi objek kesenangan adalah mengirim dia ke Istana Memphis dengan status sudah menikah. Ini bisa melindungi Sare yang cantik...

Dia berpikir bahwa Tahnem adalah orang yang sesuai untuk membicarakan hal ini. Tahnem menunduk tanpa mengangkat kepalanya mendengarkan perkataan sang Ratu. Kini, giliran dia berbicara.

“Bagindaku,” ucap Tahnem... “Kami mengetahui, bahwa baik saya maupun Sare setia kepada Baginda, dan selalu akan seperti itu. Seluruh pendidikan yang telah membesarkan kami seperti dua darwis, dua siswa, orang yang mengajarkan kami adalah Bagindaku... 

Hal yang paling besar bagi kami adalah restu Baginda. Baginda adalah sultanah negeri cinta, sementara kami adalah dua lampu Anda. 

Kami seperti Bulan dan Matahari yang menanti langit, seperti siang dan malam yang saling mengikuti satu sama lain, seperti dua lengan kuat Sungai Nil, kami dididik untuk melindungi dan menanti Anda seperti dua sayap burung ibis suci yang terbang di udara. 

Sesuai dengan janji yang kami berikan kepada guru kami, kami bersumpah melewati masa muda ke jalan Baginda. Cahaya di kedua mata Baginda adalah hal terbesar yang kami inginkan.”

“Tahnem!” sang Ratu memotong ucapan abdi mudanya. Dia berdiri. “Nahkoda Keratuan yang tak ada tandingannya, tentara berkuda putih yang selalu mengawal dan menemani jalanku... Kisah-kisah padang pasir yang berhikmah, pemilik kisah-kisah Nil, dua pengawal negeri cinta yang setia melindungi yang besar... Sekarang tiba waktunya untuk melindungi yang kecil.”

“Siap, Bagindaku...”

Musim Panas di Avaris dipenuhi dengan ikan-ikan Nil yang tak berbahasa setelah perpisahan Pangeran Musa dan dua abdi yang baru saja menikah. Tak ada satu pun yang berbicara selain kayu-kayu yang saling bertabrakan karena hembusan badai angin.

Sungguh beruntung Yakobed datang. Selain untuk menemui putra susunya Pangeran Musa, menghilangkan hasratnya, dia juga menjadi teman curahan hati Ratu Asiyah.

Sebenarnya dua perempuan ini tak banyak berbicara.

Mereka saling memahami dengan pandangan mata, mereka saling mengerti keadaan masing-masing dari tafsir mimpi- mimpi yang mereka lihat. Dari perempuan ke perempuan, ini adalah sebuah pemahaman antara keduanya... 

Membesarkan bersama-sama seorang anak yang sama, mengetahui cahaya mata anak yang sama, keduanya saling menyamakan satu sama lain tanpa memotong jalinan hubungan. 

Satu melahirkan, satunya memberikan kehidupan. Satu menyusui, satunya mengajarkan berbicara. Satu muka bumi untuk Musa, satunya seperti langit-langit yang memberikan bayangan diatas Musa. Meskipun mereka tak menceritakan semua rahasia-rahasia sepenuhnya, mereka sebenarnya mengetahui semua hal yang terjadi. 

Mereka tahu bahwa Musa memiliki takdir yang besar, dia akan terlepas dari perlindungan keibuan mereka ketika waktunya tiba. Busur panah akan terlepas dari busurnya, semua perlindungan satu per satu akan dilewati. Waktu yang dinantikan untuk mencapai tujuan telah usai...

Satu sama lain melemparkan pandangan “Sudah tibakah waktunya?”...

Sebenarnya, Yakobed belum menceritakan hal ini kepada Ratu Asiyah. Mimpi-mimpi yang dia lihat dihari-hari dia melahirkan Musa, bisikan yang mengatakan bahwa Musa akan menjadi Nabi yang dinanti di hari ke depan...

Rahasia itu tak dia ceritakan kepada siapa pun...

Tapi, dia adalah Asiyah...

Seseorang yang memiliki sebuah hati penuh kasih sayang sama seperti ibu-ibu kandung.... Ombak-ombak kasih sayang yang saling bertabrakan dalam hatinya, seperti tangan-tangan Sungai Nil yang sabar dan kecil memiliki kemampuan untuk membuka hati para batu. Kasih sayang dan perhatian kepada Musa menyelimuti hatinya.

Suara keibuan dalam hatinya, seberapa banyaknya mengucapkan untuk tak mengirimkan putranya ke istana Fir’aun... Dia merasakan dalam dirinya bahwa takdir memerintahkan seperti ini.

Sementara itu, Yakobed adalah penunjuk yang penuh dengan gairah dan kesabaran. Dia sekali lagi menyerahkan perlindungan anaknya kepada Rabb yang telah berulang-ulang kali menyelamatkan anaknya dari kematian. 

“Sultanahku, Rabb kita mengetahui sesuatu mengenai garis takdir yang tertulis. Marilah kita bersabar, berdoa sehingga anak kita mendapatkan perlindungan dari segala kekuatan kejahatan.”

Betapa dengan bahasa yang dalam dan fasih diucapkan hal ini... Memberikan kesejukkan kepada Ratu Asiyah dalam panas padang pasir yang membakar.

“Ada kalimat, seperti pisau... Ada kalimat, seperti nafas... Sekali lagi kau mengalir seperti aliran Sungai Nil ke hati kita yang sempit ini wahai saudaraku. Sejak dipertama kali, aku telah merasakan anak kita akan melakukan hal-hal besar. Tak ada cara lain selain berdoa untuk keselamatan anak kita di tempat tujuan dan kembali dengan selamat.”

Sepanjang malam, mereka tak dapat tidur dengan nyenyak. Bangun sebelum Matahari terbit, mereka tenggelam memandang cakrawala dari balkon Istana Musim Panas. Langit cerah putih seperti mutiara yang terbelah dua oleh pisau yang tajam, sebuah jalan susu putih mengiringi kedua ibu yang tak tenang. 

Air susu yang terperas keluar dari mutiara, tangan- tangan kedua perempuan itu juga terbakar. Delta Nil yang berada di semenanjung barat istana yang mengingatkan pada seorang perempuan berambut panjang pun lengan-lengannya berada dalam warna gelap yang aneh. Bukan biru, bukan hitam, bukan hijau... Rambut-rambut berantakan Nil pun berwarna putih air susu...

...

Pangeran Musa, seketika tiba di istana Memphis, dia berhadapan dengan sebuah ujian yang sulit.

Saat itu, dia berusaha memisahkan seorang penduduk asli yang berkelahi dengan Apiru. Hatinya memihak Apiru yang tampak tak berdaya dan lemah, berusaha menenangkan perkelahian.

Tapi pikiran mengenai kebaikan dan baik hati telah membuatnya salah, ketika dia hendak memisahkan orang-orang yang berkelahi, telah berubah menjadi sebuah pembunuhan yang tak diharapkan...

Penduduk asli suku Kipti meninggal dunia seketika, sementara itu Apiru yang menjadi penyebab kematian ini melarikan diri...

Keesokan harinya, ditempat yang sama, ketika sekali lagi Pangeran Musa melihat Apiru yang sama sedang berkelahi dengan penduduk asli lainnya seketika Pangeran Musa berlari ke arah mereka dan ingin memisahkan mereka. 

Tapi kali ini Apiru harus menerima pernyataan sebagai orang yang bersalah. “Ataukah hari ini kau akan membunuhku?” teriak seketika Apiru yang terlaknat... Yang lain seketika terbangun... Dia menyebarkan berita bahwa kemarin Pangeran Musa telah melakukan pembunuhan.

Ketika Pangeran Musa berbicara dengan Apiru mengenai hal-hal yang terjadi, penduduk asli yang terselamatkan segera berlari ke istana dan menjelaskan apa yang dia saksikan, bahkan masuk dalam laporan resmi...

Abdi Tahnem saat itu berada di istana. Jika ia tak segera pergi ke tempat Pangeran Musa laksana petir dan memperingatkannya... Mungkin kini Pangeran Musa sudah menjadi mangsa raja yang telah lama menantikan kesempatan seperti ini.

Ketika saling berpisah dengan tergesa, Tahnem dengan segala kekuatannya mencoba menjelaskan jalan untuk melarikan diri kepada Pangeran Musa... Bukan melalui ‘Jalan Besar’ yang biasa dilewati oleh Pasukan Keratuan dan para pedagang yang membentang dari Mesir Atas sampai seluruh Mesir Bawah... 

Dia menyarankan Musa untuk melewati padang pasir yang selalu dilewati oleh sang Ratu ketika memilliki kesempatan, ke arah selatan tanpa berhenti mendaki bukit pertama di tepian Laut Merah, kemudian tiba di Perbukitan Aqaba. Dari sana, setelah bukit kedua menjelang Laut Merah maka Musa akan tiba di Midian dan ke arah ‘Jalan Kecil’.

Di waktu yang sama, istana dalam keadaan ricuh...

Para prajurit padang pasir yang datang dari arah Libya telah berhasil menaklukkan Daerah Faiyum yang selama berabad- abad telah dipuji-puji sebagai lahan-lahan Mesir yang penuh berkah. 

Kabar pembunuhan yang datang bersama dengan kekalahan yang mengenaskan ini menarik picu kemarahan dalam diri Raja Pare-amon....

Julukan ’anak pembunuh’ semakin hari semakin menyebar dalam pandangan masyarakat. Bahkan tembok-tembok marmer istana pun bergetar dengan hujan suara-suara perintah ke kanan dan ke kiri. Meskipun sama sekali tak memiliki hubungan dengan kejadian ini, Ratu Asiyah pun menerima dampak kemarahan ini. 

Seketika, Benteng Kerajaan Istana Avaris di Delta ditutup. Ratu akan dipindahkan ke Istana Utama di Memphis. Hal-hal yang tampak sebagai sebuah upaya pengunduran waktu dan perlawanan akan dianggap sebagai pemberontakan. 

Pangeran Musa akan segera ditangkap dan menerima hukuman. Musa akan di hukum di depan rakyat. Tak satu orang pun akan terlepas dari keadilan Raja Pareamon. Nama ratu akan dihapus dari seluruh catatan.

Seluruh catatan dan dokumen mengenai Ratu Asiyah bisa digunakan sebagai sarana menyerang Ratu Asiyah sebagai orang yang tak mengikuti peraturan istana. Ratu akan dihapuskan dalam sejarah garis keturunan raja dan menerima hukuman. 

Sang Ratu akan ditahan di istana pengasingan yang terletak di selatan Memphis selama masa pencarian Pangeran Musa. Dia takkan bisa menyentuh tongkat dan mahkotanya. Segelnya akan ditahan di sampai Pangeran Musa tertangkap.

...

Ketika perintah yang lebih beracun dari racun ini dibacakan dengan suara keras kepada sang Ratu di Avaris, batin Pangeran Menmatre, pewaris utama kerajaan teriris. Sementara itu, ketenangan sang Ratu di hadapan perintah ancaman yang keras ini menimbulkan rasa kagum kepada orang yang melihatnya.

Ratu Asiyah mengisyaratkan Yakobed dan para pengawalnya yang menangis di pintu untuk keluar.

Dengan suara yang tenang, tanpa berdiri dari tempatnya berlutut, ia berbicara kepada Pangeran. Menmatre.

“Hanya orang-orang yang bersalah yang takut, ucap para pendeta di Akademi Kerajaan. Ini adalah prinsip utama bagi mereka. Tapi, Guru kami Apa berpikir berbeda dari mereka. Dia selalu berkata bahwa kita penuh dengan kekurangan. Suatu saat, akan tiba saat rasa takut menyelimuti manusia... 

Seringkali, Guru Apa mengatakan pada kita bahwa orang-orang yang tak bersalah pun bisa merasa takut seperti orang yang bersalah. Semua orang punya rasa takut, tapi keberanian selalu berada di tempat yang setiap orang percaya, meskipun dalam ketakutan... 

Pangeran Menmatre, Anda telah menyampaikan kabar yang berat kepada kami. Sekarang adalah waktunya untuk berani. Tak ada hal lain yang aku harapkan selain keselamatan putraku, Pangeran Musa, dari peristiwa licik ini. 

Sampai dia terselamatkan, pengasingan, perbudakan, atau apa yang ingin Anda katakan, katakanlah... Aku yakin dan siap menjadi tawanan demi Musa. 

Baginda Raja akan menerima hal ini dengan senang hati... Aku bisa meminta untuk menuliskan sebuah perintah kepada Anda untuk mengawal perjalanan pulang ke Memphis, tapi segelku telah berada dalam tahanan kerajaan. Untuk sekarang, permohonan ini akan aku tandatangani dengan pelepasan mahkota,” ucap Ratu Asiyah.

“Bagindaku, mengawal Anda bukanlah sebuah perintah bagi kami, tapi kehormatan dan kemurahan hati, wahai Baginda Ratuku.”

Adat tulisan kuno yang menjaga Mesir pun hadir di masa- masa yang paling mengerikan. Penulisan perintah pengembalian mahkota sang Ratu disaksikan oleh empat saksi. 

Sebagai ganti segel yang telah ditahan kerajaan, mahkota ratu dicelupkan ke tinta dan diterakan ke kertas sebagai tanda tangan. 

Sang Ratu tak akan dapat lagi mengenakan mahkota yang berukir sepasang burung ibis dari berlian. Dan sebagai kalimat terakhir, dia mengatakan bahwa mahkotanya disumbangkan ke rumah anak yatim di Avaris. 

Sebelum memulai perjalanan, dia memandang lurus ke laut di arah Delta dari Istana Musim Panas. Di sana, Nil yang mengalir dari surga dan membawa seluruh kesedihan di Mesir menyambut lautan dengan penuh gairah kerinduan...

Sepuluh hari ditempuh, perjalanan Ratu Asiyah dari Avaris sampai ke istana di Memphis...

Sepuluh hari ditempuh, pelarian Pangeran Musa tiba di ‘Jalan Kecil’ ke Midian...

Sepuluh hari ditempuh, Raja Pare-amon jatuh sakit secara tiba-tiba dalam perjalanan berat menuju Faiyum...

Dalam sepuluh hari itu, mereka berada dalam ujian yang tak mereka ketahui, dua ibu dan satu putra.

Berada dalam hari-hari dan malam-malam tanpa tidur nyenyak, bibir kedua ibu pecah karena banyak berdoa untuk Musa... Doa-doa ini halus melebihi sayap-sayap malaikat. Doa- doa berwarna putih susu, tak berdaya. Dalam ketidakberdayaan ini, mereka memohon kepada Allah.

Berada dalam pengasingan, doa ibu, bintang-bintang di langit menjadi teman curahan hati.

Yakobed dan Asiyah menyinari malam-malam Musa yang menempuh jalan pelarian seperti bintang-bintang...

Yakobed dan Asiyah. Saling memeluk dan berdoa untuk putra yang sama dalam perjalanan pulang... 

Mereka menulis ke dalam hati mereka. “Ya Allah, berikanlah keselamatan kepada Musa, berikanlah petunjuk-Mu kepadanya, berikanlah keselamatan dan ketenangan kepadanya...”

Ketenangan turun menghunjam ke dalam diri mereka dari langit bersama dengan kenangan putra mereka.

“Ketika masih kecil, dia demam dan suhu tubuhnya tinggi. Kami kemudian memandikan dia di kolam dengan air hangat.”

“Betapa cepat dia bergerak ketika berjalan... Tepat saat aku berpikir dia akan jatuh, dia justru mulai berlari.”

“Sekarang dia mungkin kehausan, dahinya berkeringat ketika cemas dan gelisah saat masih kecil.”

“Dia tahan dengan dinginnya malam. Sering kali, dia tidur tanpa menggunakan selimut di malam hari.”

“Ya Allah, sebarkanlah bintang-bintang yang menunjukkan jalan baginya di langit.”

“Ya Allah, jadikanlah seluruh angin-angin kebaikan di dunia ini menjadi teman perjalanannya.”

“Ya Allah, temukanlah dia dengan kebaikan-kebaikan, berikanlah dukunganmu dengan kenikmatan kepada hamba- Mu yang selalu membutuhkan pertolongan-Mu.”

“Ya Allah, keluarkanlah putra kami dari dalam kezaliman dengan pertolongan-Mu, sinarilah dirinya dengan Cahaya- Mu, aku mohon.”

Dan kisah-kisah...

Seolah, kata tertulis sejak awal untuk menghibur.

Kata adalah rumah pertama yang dibangun untuk menggantung kesendirian, ketidakberdayaan... Di rumah kata, bersama dengan kisah-kisah, cerita-cerita, dan puisi-puisi, mereka menenangkan kegelisahan dua ibu yang kehilangan anak ini...

“Dalam sebuah petualangan padang pasir, aku pernah menceritakan kisah Tuan Zaman Khidir kepadanya.”

“Semoga Allah mempertemukan anak kita dengan orang- orang baik yang akan melindunginya.”

“AbdimudaSarepernahmengajarkanbagaimanamengikuti jejak seekor burung dalam petualangan padang pasir ke arah Laut Merah. InsyaAllah, Allah memberikan pertolongan kepada putra kita.”

“Musa adalah anak yang akan melakukan hal besar di dalam takdir yang dituliskan oleh Allah, wahai Bagindaku.”

“Kisah kehidupannya sama seperti kisah milik Tuan Zaman Khidir. Sesungguhnya, ini adalah kisah yang kita dengar dari leluhur kita. Tapi hidup dengan kisah, seperti siang dan malam saling mengikuti satu sama lain. Para leluhur berkata, mereka adalah dua saudara kembar...”

“Kaum bani Israil juga menceritakan hal yang sama sebagai sebuah kisah Babil. Kita menyebutnya Belya putra Melkan.”

“Dalam masa Namrud, seorang raja yang dzalim, dari mimpi yang dia lihat, kisah dimulai dengan pembunuhan semua anak laki-laki yang ada.”

“Sama seperti apa yang apa yang kita alami di Mesir, benarkan wahai Bagindaku? Seorang perempuan dari suatu daerah yang jauh telah bertahun-tahun lamanya menantikan seorang anak laki-laki ketika memahami bahwa dia menanti kelahiran seorang bayi...”

“Dia pun menyembunyikan kehamilannya kepada suaminya yang seorang walikota...”

“Setelah menyembunyikan putranya selama sembilan bulan sepuluh hari dengan pertolongan Allah, dia menceritakan kebenaran di hari kelahiran bayi itu ke dunia kepada suaminya...”

“Walikota gembirakah... Bersedihkah... Awalnya, ia tak tahu harus berbuat apa...”

“Kemudian, bersama istrinya dengan mengenakan pakaian untuk menyamar, mereka berjalan menuju hutan di luar kota di tengah malam. Perempuan tersebut melahirkan bayi di sebuah gua di hutan itu. Ketika siang hari tiba, mereka meninggalkan bayi itu dan kembali ke kota, seperti tak terjadi apa-apa. Ini berjalan selama empat puluh hari...”

“Setelah sang ibu pergi meninggalkan bayinya, seekor kambing dan seekor serigala datang mendekat ke gua. Ketika si kambing menyusui bayi, si serigala berjaga menunggu di depan gua...”

“Kemudian, seorang penggembala menemukan bayi itu dan membesarkannya. Allah yang Agung memberikan satu ranting untuk dihinggapi oleh masing-masing burung. Anak yang diberi nama Belya oleh penggembala dan istrinya, tumbuh besar dengan mengetahui mereka sebagai ayah dan ibu kandungnya...”

“Kambing yang tersentuh tangan Belya melahirkan kambing kembar, hewan-hewan yang dia gembalakan takkan pernah dimangsa serigala, dan rumah yang menjamunya sebagai tamu dipenuhi dengan berkah...”

“Kemudian di suatu hari, diselenggarakan ujian pegawai pemerintahan. Belya terpilih menjadi yang pertama dari seluruh anak di seluruh negeri...”

“Walikota Melkan melihat kedua mata anak yang datang dari desa ini dipenuhi kesejukan dan cahaya. ‘Tuliskan namamu di sini,’ ucapnya kepada Belya. Tulisannya tak seperti tulisan seorang pemuda dari desa...

Walikota ingin mengetahui kisah Belya lebih lanjut. ‘Siapa ayahmu, coba panggil dia’. Penggembala melewati pemeriksaan dan interogasi yang ketat. Dan akhirnya, penggembala harus mengatakan yang sebenarnya. ‘Saya menemukan anak ini di gua di tahun kalian membunuh semua anak laki-laki’..."

Walikota Melkan tersentak. ‘Itu bukan aku, itu adalah perintah Namrud. Tapi, kau sebagai penggembala lebih bermurah hati dibandingkan aku, lebih jujur,’ ucapnya kepada penggembala....”

Tiba giliran ibu aslinya. ‘Aku mengenal anakku, jari telunjuknya bergabung dengan jari tengahnya,’ ucapnya....”

Belya ternyata adalah anak mereka yang hilang bertahun- tahun lalu...

“Belya adalah seorang anak yang istimewa. Dia melakukan petualangan di dalam zaman. Allah memberikan ilmu kepadanya. Menolong orang-orang miskin, orang-orang yang berada dalam kesempitan, orang-orang tak berdaya, anak-anak yatim, orang-orang lemah, dia bercampur di antara rakyat...”

“Sering kali, orang-orang berkata bahwa Belya sering berjalan-jalan di sekitar Laut Merah...”

“Semoga Allah memberikan pertolongan kepada Musa dengan tentara-tentara di muka Bumi dan langit...”

“Belya dan orang-orang bijaksana semoga mendukung Musa.”

Dua perempuan berbicara saling melengkapi. Satu berhenti, satu meneruskan. Yakin dari dalam hati mereka, dari satu kisah ke kisah lain, dari doa ke doa, dari satu harapan ke harapan lainnya... 

Meskipun ia seorang ratu, setiap perempuan mencari sebuah kesempatan untuk menghibur anaknya yang berada dalam jiwa yang gelisah. Dan memang, Asiyah dan Yakobed bukan sebagai tatu dan penduduk biasa, tapi sebagai dua orang ibu yang hatinya terbakar dalam perjalanan saat itu.

Malam ke siang, kebenaran kisah, bercampur dengan doa- doa mengalir dalam perjalanan itu...

Meskipun hati mereka menangis, tak satu kali pun baju kesedihan tertera dalam tubuh kedua perempuan ini...

Yakobed menjawab pertanyaan tetangga-tetangganya yang cemburu dan perkataan kerabatnya yang menusuk seperti jarum dengan kesabaran dan senyum.

“Pangeran Musa adalah putra sang Raja, tumbuh besar dengan didikan yang bagus, seorang pemuda yang adil. Saat waktunya tiba, dia akan keluar dan kembali. Orang-orang yang menghina akan tetap bersama dengan hinaan mereka, orang- orang yang menjelek-jelekannya akan tetap bersama dengan ucapan jelek mereka. Hari penuh dengan kebanggaan telah dekat.”

Ratu Asiyah, meskipun mendapatkan tekanan, seketika tiba ke Memphis, menjelaskan kepada para penulis istana bahwa Pangeran Musa dan dirinya sendiri setia kepada kerajaan. Bersama dengan pernyataan dari guru-guru istana yang mengajar Pangeran Musa, semua masa lalu Musa kembali diperiksa, menyampaikan bahwa Pangeran Musa akan kembali dalam waktu dekat.

Sebagian dari harinya sampai siang dia lalui di rumah- rumah anak yatim di kota. Sementara, sebagian setelah siang dia lalui di Akademi Kerajaan bersama siswa-siswa. Dia selalu melewati hari-harinya bersama anak-anak.

Dia berpikir bahwa hal ini akan menurunkan suara-suara yang membicarakan Musa. Dengan nilai moral yang tinggi dari biasanya, dia memulai pekerjaan ini dengan sebuah politik yang serius... Di samping itu, dengan bantuan Tahnem dan Sare, Asiyah mencari kabar dari Midian. Semua ini dilakukan secara rahasia, berjalan dengan bermacam-macam rintangan yang berat.

Jatuh sakitnya sang Raja dalam perjalanan menuju Faiyum sebenarnya menambah ketegangan di dalam istana. Ketidakhadiran sang Raja di istana menyebabkan semua benang kendali berada di tangan Haman, si Kepala Pendeta. 

Negeri Mesir seperti berada dalam kuasanya. Satu-satunya orang yang secara terbuka mengeluh dengan keadaan ini adalah pewaris utama raja, Pangeran Menmatre. Tapi, karena harus selalu berpindah antara benteng di Faiyum dan Memphis, dia tak bisa menguasai sepenuhnya apa yang telah terjadi di istana...

Tak tahu kenapa, tiba hari saat sekolah penjahit baru yang akan dibangun di kota akan diberi nama Tuhan Toth. Masyarakat, beberapa hari sebelum perayaan Toth, menginginkan sekolah tersebut mendapatkan nama ‘Azizah’, nama panggilan Ratu Asiyah. 

Mereka menjelaskan keinginan mereka untuk menggunakan nama Ratu Asiyah sebagai ungkapan tanda syukur akan bantuan Ratu Asiyah kepada mereka di masa kelaparan sepanjang tiga bulan. Tapi, ini merupakan kabar buruk dalam adat kuno Mesir. 

Dalam pandangan Haman, permintaan masyarakat merupakan sebuah kabar yang menandakan musibah. Dia berpikir ini adalah sebuah kesempatan emas untuk membalikkan keadaan dan menghancurkan Ratu Asiyah.

“Sebagai sebuah bukti kesetiaan kepada kerajaan, para penasihat tinggi Tuhan dan Raja Pare-amon mengatakan bahwa kehormatan pembukaan sekolah ini diberikan kepada Anda dengan memberikan korban kepada Tuhan Toth.” Begitu ucapan Haman kepada Ratu Asiyah...

Dengan begitu, ini akan menjadi ujian kesetiaannya dan juga menghancurkan identitas Azizah dalam pandangan masyarakat. Tapi, bukankah hal ini merupakan permasalahan utama yang dihadapi Ratu Asiyah sejak pengasingan dirinya ke Avaris? Bukankah dia dianggap bersalah karena tak mau mengakui ketuhanan sang Raja?

Sepanjang malam, lilin terus menyala... Ratu terjaga bersama Tahnem dan Sare...

Bagaimana bisa mereka melewati ujian ini?

Sare, setelah malam yang dilalui dengan permasalahan, memberikan kabar yang menebarkan aroma susu hangat ke sekitarnya, tepat sebelum Matahari terbit:

“Saya sedang mengandung seorang bayi, Bagindaku.”

Ruangan kecil dan sempit itu dipenuhi kegembiraan dengan kabar ini, seperti bunga-bunga lotus yang menyejukkan udara. Terbitlah cahaya pagi, seakan seluruh ranting-ranting kering mendapatkan aliran air musim semi. “Kita ucapkan seribu kali syukur kepada Allah!”

Semua terbangun dengan tabuhan-tabuhan suara duka dari arah barat. Para pembawa kabar dari Faiyum telah tiba di kota. Suara-suara tabuhan di pagi hari ini, dengan sebuah kecepatan yang mengikat pagi hari dengan musibah yang besar, menyebar seperti kobaran api ke istana. Bersama kuda-kuda hitam yang membawa berita duka, mereka datang untuk memberikan kabar kematian orang pertama yang menjadi tuhan.

Raja... Tuhan... Pare-amon... Meninggal dunia...

Kematian, bersama sebuah sindiran yang berbeda, memukul punggung Tuhan Pare-amon, membuktikan ketidakabadiannya...

“Ra...”

Hanya satu suku kata pendek terucap dari bibir sang Ratu...

Tali yang masuk ke dalam sumur hitam itu sejak masa kecil, setiap kali memanggil menuju kebaikan, sumur hitam yang selalu mencari suara air di dalamnya, tak dapat terbuka sekali lagi, dan akan tertutup dengan sebuah penutup yang terbuat dari batu... 

Obor-obor besar yang menjulang tinggi di menara-menara istana, satu per satu dipadamkan, ribuan anak panah dilepaskan ke langit sebagai salam terakhir kepada Tuhan Raja Pareamon. 

Para pendeta dengan mengenakan baju duka mulai membakar dupa-dupa. Para pembawa berita duka yang menyebarkan kabar ke seluruh wilayah, membangunkan masyarakat sekitar dengan puisi-puisi duka, memanggil setiap orang berkumpul di sekitar istana.

Ratu Asiyah bersama pewaris tahta, Pangeran Menmatre, berada dalam rombongan yang berjalan di pagi hari menuju Benteng Faiyum. 

Meskipun belum ditetapkan secara resmi, bersamaan dengan kekosongan raja, wewenang tugas penguburan dan upacara bela sungkawa jatuh ke tangan Sultanah Nil, menggantikan Ratu Utara yang pergi ke kota kelahirannya bersama saudara laki-lakinya. Takdir dan kematian Raja Ra mengikat kedua tangan Sultanah Asiyah...

Sultanah Asiyah, meskipun tak rela, berdasarkan hasil musyawarah bersama Tahnem dan Sare, memutuskan untuk mengikuti upacara pemakaman guna menyeimbangkan kekuatan yang ada di istana. 

Partisipasinya dalam upacara pemakaman ini merupakan langkah yang penting untuk memecah kekuasaan pendeta istana dan demi keselamatan Pangeran Musa. Di lain sisi, Haman, meskipun dipenuhi amarah, memuji-muji sultanah, demi terlihat baik di hadapan calon pewaris tahta, Pangeran Menmatre.

“Ini merupakan sebuah kesempatan suci untuk menunjukkan kesetiaan Baginda kepada Mesir.”

Ketika menaiki perahu Teye dan pergi ke tepi seberang, Sultanah merasakan hal yang aneh dalam dirinya. 

Tak hanya mahkota dan tahtanya saja, Ra pergi dengan membakar putranya dan harga diri perempuannya. Ra yang agung, takdir yang dianggap tak dapat dihancurkan! Terbesit dalam matanya hari-hari masa kecil ketika mereka bermain di perahu ini... 

Menempuh perjalanan yang pendek setelah turun dari Teye, Asiyah berjalan melalui koridor yang berada di antara kaki- kaki sphinx. Koridor ini menyambung ke piramida yang indah di belakangnya. 

Rumah kematian Raja Pareamon yang mengesankan ini dibangun untuk dirinya selama dua puluh tahun. Selama dua puluh tahun, tembok-temboknya dipahat dengan cermat. Entah berapa banyak tukang batu yang menjadi korban pemabangunan makam yang penuh dengan perhiasan ini...

Setelah ruang-ruang doa di pintu masuk, makam pertama di sebelah timur makam utama dibangun untuk Ratu Asiyah... Tapi karena perlawanannya, nama Asiyah terukir di seluruh pintu dan batu-batu makam dengan nama ratu tak mengenal tuhan.

Tentara kerajaan meninggalkan Rumah Kematian dan melanjutkan perjalanan ke depan. Tuhan-tuhan telah meninggal! Dalam bela sungkawa, dalam keadaan yang tergoncang, berjalan tak yakin dengan hal yang terjadi, ribuan patung berhala tentara retak... 

Rangkaian prosesi pemakaman dan duka cita di Faiyum menghabiskan waktu tujuh puluh hari bersama upacara adat pemumian. Tuhan mereka dikubur dengan tangan-tangan mereka. 

Ritual duka cita akan dilakukan di seluruh kuil besar dari Memphis sampai Teb. Rumah pemotongan akan penuh dengan hewan korban, pembakaran akasia di altar, serta asap-asap dupa yang terbuat dari ranting- ranting kurma dan angustifolia menyelimuti Mesir.

Sultanah Asiyah, meskipun dia tumbuh besar dalam upacara-upacara seperti ini dan menghafal semua nama dewa, doa-doa, dan isi Buku Kematian saat belajar di Sekolah Kerajaan, dia tak pernah suka dengan semua itu. Dia berpartisipasi dalam upacara-upacara karena sebuah keharusan. Tapi kali ini berbeda... Kali ini, orang yang meninggal adalah suami dzalimnya yang hidupnya dia bagi bersama...

Kematian, bagi Mesir, adalah lebih penting dari kehidupan.

Kematian, tak hanya penting bagi para bangsawan istana saja, tapi juga bagi seluruh rakyat Mesir. Ziggurat-Ziggurat yang menjulang tinggi ke langit, tempat-tempat observasi, dan makam-makam dalam bentuk piramida adalah bukti betapa megahnya dan besarnya “alam akhirat” dalam pikiran orang- orang Mesir. 

Peradaban yang tragis dan berbau kematian ini, yang berpikir telah menaklukkan dunia, menaklukkan seluruh ciptaan, dari bintang-bintang sampai sungai-sungai, dari lautan sampai langit-langit berada dalam tingkat kepercayaan diri terakhir.

“Mata yang menghancurkan dunia, sekarang berada di negeri kematian,” ucap Aiyah, menistakan pemakaman yang terlalu berlebihan ini...

Setelah begitu banyak membahas mengenai kematian, setelah begitu melegendakan kematian, setelah membangun muka Bumi di atas kematian... Dalam keadaan yang aneh, dalam diri Sultanah Asiyah muncul sebuah sikap kritis terhadap cara pandang kematian...

“Kenapa mereka tak membiarkan orang yang mati tenang?” tanyanya kepada Apa di masa kecilnya. Apa seperti biasa memberikan isyarat untuk ‘diam’. Apa tak ingin sikap memberontak Asiyah mengguncang Mesir terlalu dini dan menekannya dengan kasih sayang... “Diam”...

Sultanah selalu diam. Hingga saat ini...

Tapi, orkestra orang-orang mati yang tak pernah diam dan bergema kuat di Mesir selalu mengiringi irama hidupnya. Tak hanya di sekolah-sekolah milik kerajaan saja, pengetahuan yang pertama kali diajarkan di sekolah-sekolah umum kepada anak- anak selalu lebih banyak mengenai kematian dibandingkan kehidupan. 

Di Memphis, Teb, Sakkara, Cize, dan Delta. Di semua tempat, bahkan di Gosen sekali pun.

Kematian, seketika mengalahkan setiap kalimat di Mesir...

Dan kenangan...

Kenangan sangat berharga bagi Mesir... Keseluruhan zaman bagi Mesir bermakna kematian.

Negeri besar yang dengan segala macam cara tak dapat keluar dari kenangan-kenangan yang disembah dari masa lalunya ini masih berada dalam sebuah keindahan semu nostalgia.

Sultanah Asiyah melihat upacara ini sebagai kegiatan membuang waktu yang penuh kesombongan... Selalu mengingat masa lalu dan memanggil ruh-ruh kematian ke dalam kehidupan, seperti sebuah perusakan misteri, pelecehan menurut dirinya...

“Kenapa mereka tak memberikan ketenangan bagi orang- orang yang telah mati?”

Tandu jenasah besar yang diangkat oleh masing-masing lima puluh orang di depan dan belakang dihiasi jaring- jaring sutra berukir emas dan kain sifon berwarna cokelat. Semua orang terlihat muram. Para komandan dan tentara mengenakan seragam duka. 

Para pendeta dengan penutup kepala berbentuk kerucut panjang putih dan jubah ungu yang menyapu tanah, para penulis, para pejabat pemerintahan yang berlari di tengah-tengah dengan jubah kuning cerah, serta para peramal dan penyihir yang dari pinggang ke bawah mengenakan kain sari hitam, sementara bagian atasnya terbuka dan mengenakan rambut palsu bewarna putih... 

Sultanah Asiyah melihat pemandangan ini seperti rombongan kematian yang menggambarkan neraka.

Asap-asap dupa dari batang pohon akasia, angustifolia, dan ara menyelimuti para pemegang dupa. Mereka mengenakan pakaian duka berwarna hitam yang sesuai dengan asap yang menyelimuti wajah dan tangan-tangan mereka.

Dan para pangeran... Parade para pewaris tahta kerajaan telah siap melakukan perjalanan yang megah dengan mahkota- mahkota emas yang menyimbolkan empat puluh dua rumus ketuhanan Mesir yang berbeda. Tangan mereka memegang tongkat pendek berhias zamrud dan kaftan-kaftan sutra seputih susu yang berhias bunga anggrek khas upacara kematian. Kaki mereka beralaskan sandal-sandal berhias emas.

Wajah para pangeran ini penuh dengan bedak putih, mata yang dihitamkan, dan rambut palsu yang memanjang sampai ke bahu. Semua ini membuat mereka tampak serupa satu sama lain. Apakah mereka benar-benar berduka atas kematian sang Raja? Ataukah mereka akan berlomba untuk mendapatkan satu tempat yang terhormat dalam kekuasaan istana yang baru? Sultanah tak yakin dengan hal ini. Istana yang penuh dengan perselisihan dan permainan kekuasaan akan memasuki sebuah masa baru.

Pangeran Menmatre dengan postur tubuh yang mengingatkan pada sebuah patung perak berpotongan atletis, setelah menurunkan selendang hitam yang dia angkat ke udara, masuk ke kuil lama di Faiyum dan memulai pidato duka resmi.

“Salam kepada kalian, wahai tuhan-tuhan yang berada di ruangan yang luas ini! Saya tahu kalian, saya tahu nama-nama kalian! Salam dengan hormat kepada empat puluh dua tuhan Mesir yang dihormati.

Seperti halnya saya tak takut dengan kalian, untuk perbuatan yang adil dan yang akan adil di Mesir, aku tahu kalian takkan bicara di hadapan raja kami.

Salam kepada kalian yang tak memiliki kebohongan, tuhan-tuhan yang hidup dengan kebenaran dan tumbuh besar di hadapan Horus dalam lingkup dua hakim yang berada di ruangan ini!

Di dalam hari perhitungan ini, lindungilah saya dan raja kami. Dan kami datang sebagai tak berdosa kepada kalian.Tak ada kesalahan, tak ada kejahatan. Tak satu pun yang bisa menjadi saksi di hadapan kalian...

Kami hidup di atas kebenaran. Besar dalam kebenaran. Kami melakukan apa pun yang manusia katakan, kami melaksanakan apapun yang membahagiakan para tuhan. Roti untuk lapar, air untuk haus dahaga, pakaian untuk ketelanjangan, dan jika berada dalam pulau yang terkucil, kami memberikan perahu. Kami memberi makan budak-budak dan seluruh kasta.

Korban-korban suci bagi para tuhan, kami mempersembahkan korban kematian bagi para orang mati. Oleh karena itu, selamatkan kami, lindungi kami! Jangan lakukan penyaksian di hadapan tuhan-tuhan Mesir. Mulut dan tangan-tangan kami bersih, kami adalah orang-orang yang berkata “Selamat datang, kedatangan kalian membawa kemakmuran” pada kalian. 

Wahai Tuhan Napas, Tuhan Mahkota Atef yang menjaga namanya, tuhan yang sangat sulit memenuhi keinginannya! Tuhan yang wajahnya tak terlapisi sesuatu, selamatkanlah kami dari utusan-utusanmu yang membawa pemusnahan dan penyebar kekotoran. 

Karena kami sebagai orang yang tulus, kami telah melaksanakan keadilan bagi Tuhan Keadilan. Depan kalian putih, belakang kalian jernih, badan kami telah dicuci dalam air keadilan, unsur ketidakadilan tak ada pada kami!”

Doa yang panjang ini, membuat kepala Sultanah Asiyah pusing. Hatinya tersesak, seolah dia akan berguling-guling kesakitan di tempat itu...

Proses pemumian selama tujuh puluh hari telah selesai.

Di hari ketujuh puluh satu, Raja Menmatre yang baru saja diangkat, di wajahnya tak tampak garis duka sedikit pun, tampil di depan rakyat Mesir. Dia tampak tenang... Wasiat resmi Pare- amon telah dibacakan, Menmatre adalah orang yang ia tunjuk sebagai pengganti.

Sebelumnya, orang yang berbicara dengan kesopanan seraya berlutut di hadapan Asiyah telah pergi. Seperti ilmu sihir, setelah memakai mahkota setan yang disebut mahkota kerajaan itu, sosok lain datang menempati diri Manmetre.

Sambil mengucapakan salam dengan anggukan kepala khas para raja kepada sultanah, raja baru menemui Asiyah. “Saya pernah bilang bahwa suatu hari kita akan bertemu kembali dalam keadaan yang berbeda kepada Baginda,” ucapnya.

Sultanah sangat memahami bahwa ucapan ini memiliki arti yang berat dan beban yang besar. Dia tersenyum pahit. Dia mengetahui kekuatan mahkota yang terpasang di kepala laki- laki itu.

“Baginda Raja, saya mengetahui bahwa kami telah diperintahkan menjadi tawanan di sebuah istana.”

“Latar belakang kebangsawanan Anda akan terikat di ranting-ranting pohon Kerajaan Mesir kami yang megah.”

“Bagindaku, kami tak memiliki keinginan selain keselamatan putra kami. Hidup saya akan saya lalui untuk kesetiaan kepada Baginda sebagai seorang kerabat.”

“Terima kasih... Kami ingin mengingatkan bahwa putra Anda akan mendapatkan keselamatan sesuai dengan kesetiaan yang Anda tunjukkan. Anda adalah peninggalan Raja dan Tuhan Pareamon yang berharga. Maksud kami bukan dalam makna sebuah pernikahan. Sebagai istri resmi... Anda akan hidup bersama abdi-abdi Anda di istana.

 Tak ada yang akan mengganggu kalian. Tapi untuk kelangsungan kerajaan, Anda harus menerima untuk menjadi ratu. Dengan begini, kami memberikan kesempatan untuk mengakhiri seluruh penghitaman kepada Anda sebagai ‘seorang Ratu yang tak mengenal tuhan’...”

“Bagindaku, saya adalah orang yang percaya kepada Tuhan dengan seluruh hati saya.”

“Kami memahami kelompok Anda yang berdasar pada kisah-kisah lama itu. Di muka Bumi ini, tak tersisa orang yang percaya pada sesuatu yang kosong selain kalian. Itu semua adalah kebatilan... 

Apa-amon juga salah satu guru kami. Dia masuk dan pergi ke dalam pikiran kami. Meneruskan adat- adat Anda ini cukup untuk menaruh putra Anda, Pangeran Musa, ke dalam bahaya.”

“Bagindaku, saya ulangi lagi bahwa saya adalah orang yang percaya kepada Rabb sepenuh hati..."

Pembicaraan yang pendek ini tak akan terselesaikan dengan kata-kata yang paling menyakitkan bagi raja yang baru. Dia telah memutuskan untuk masuk ke Memphis dengan sebuah kekuatan kemenangan. 

Dia tak memiliki waktu untuk berdebat mengenai agama dengan Sultanah. Sebenarnya, agama baginya hanyalah sebagai sebuah alat politik, tak lain dari itu. Setelah politik bekerja, zaman takkan memisahkan perdebatan mengenai ritual-ritual.

Sementara itu, Sultanah Asiyah...

Seorang ratu tanpa mahkota yang mengikuti upacara pemakaman dan kembali mengenakan mahkota di kepalanya.

Setelah upacara pemakaman, perjalanan pulang menuju Memphis sekali lagi dimulai.

Melewati pohon-pohon akasia di tepian Sungai Nil, Sultanah Asiyah tak lepas memandanginya. Pohon-pohon ini terlihat seperti gadis-gadis muda ceria yang menyisir rambutnya ke belakang dengan tangannya saat terbangun dari tidurnya tanpa melihat cermin. 

Ranting-ranting membengkokkan badannya ke belakang karena embusan angin. Jalan-jalan dipenuhi aroma bunga berwarna antara putih dan ungu yang membius... 

Aroma ini mengingatkan dirinya pada perjalanan yang dia lakukan bersama Musa kecil di tepi sungai. Musa kecil sangat suka berbaring di tempat tidur yang digoyangkan dan membuatnya tertidur lelap di bawah aroma membius ini...

“Hari-hari masa kecil yang tanpa kesedihan, tanpa penderitaan,” ucapnya tersenyum...

Para penghuni rumah di luar kota ini pergi ke lahan-lahan perkebunan di saat hari masih sangat pagi. Dalam pandangan para petani yang memanggil Nil dengan panggilan ‘ibu’, sungai ini berarti sebagai makna kehidupan dan keberkahan biji dan butiran-butiran gandum. 

Sangat suci. Nil diceritakan sebagai lautan air yang mengelilingi seluruh dunia dalam kisah-kisah lama, dalam lagu-lagu... 

Sultanah sekali lagi mengharapkan kehidupan sederhana mereka dan orang-orang berhati bersih yang dia lihat ibarat kehidupan dari Nil... Meskipun mereka kini tertekan ke bawah, oleh beban-beban pajak... 

Meskipun berbagai macam harta kekayaan belum bisa memenuhi kebahagian para bangsawan di seluruh Mesir, tapi kehiduan yang dijalani dengan tawakal adalah milik mereka. 

Para penghuni rumah di luar kota ini lebih bebas daripada dirinya... Kaki-kaki berada dalam Sungai Nil yang membawa kabar dari surga... Sementara itu, kepalanya berada di atap langit bersama dengan ribuan lilin...

Dan zaman... Yang mengalir di antara Nil dan langit, zaman mengalir seperti sebuah kisah yang larut terbuka dan tertutup bagi mereka. 

Seandainya mereka berada dalam hubungan antara seorang ibu-anak, Musa dan dirinya... Seandainya mereka berada di sebuah kehidupan kecil, murni, sederhana, yang tak seorang pun mengganggu mereka...

Wilayah sepanjang sungai telah diserang oleh pasukan musuh yang akan mengobrak-abrik upacara pagi ini. Di tengah perjalanan yang penuh dengan kegelisahan, muncul sebuah keributan. 

Tentara-tentara yang berlari dengan senjata terhunus di tangan mereka segera bergerak menghadapi musuh yang tak tahu dari mana datangnya diiringi pergerakan pasukan kavaleri bersama kuda-kuda mereka yang marah... 

Semua terjadi dalam satu waktu. Jeritan-jeritan, teriakan-teriakan, tangisan-tangisan yang menggema sepanjang sungai... Dan ombak-ombak yang kini berwarna merah di seluruh permukaan sungai...

Dan jika memang teluk yang berduka merupakan sebuah tempat eksekusi... Tangan-tangan menggenggam cambuk, algojo bertubuh besar, kurang lebih seribu perempuan, dikeluarkan dari kapal-kapal yang digunakan sebagai tempat tawanan. Perempuan-perempuan yang didorong menjerit kesakitan. Permukaan sungai kini berwarna merah darah...

Pembantaian yang terjadi di ujung kaki teluk tak jauh dari muara Nil ini terlihat dengan jelas. Bayi-bayi yang baru lahir dilemparkan ke sungai. Para perempuan menjerit, kehilangan akal sehat, meloncat untuk mencoba menangkap bayi-bayi mereka...

Sultanah jatuh pingsan di hadapan apa yang dia lihat... Ketika Sultanah membuka matanya, dia berada di istana...

Terlihat bahwa Raja Menmatre akan mengikuti jalan Pare- amon. Raja dengan tangan penuh darah, seorang pemimpin yang kejam...

Tahnem, berbicara dengan sedih saat melihat sultanah membuka matanya...

“Selamat datang ke istana, Sultanahku...”

“Kita berjalan di antara para korban di jam-jam pembantaian dan tiba di istana...”

“Kami mengetahui semuanya, mereka telah menceritakannya...” page401image393276480

“Tahnem, seluruh bagian istana ini beraroma darah...” “Kita harus bersabar, Bagindaku...”
“Sungai Nil menangis darah...”
“Ada takdir Allah, Bagindaku. Semua memiliki waktunya...”

Hari-hari Mesir setelah pelarian Pangeran Musa seperti arus air yang mengalir ke bawah... Meskipun berada dalam masalah-masalah yang tak mengenal kata berhenti, tanpa menaruh toleransi pada adat-adat, mereka berusaha untuk terus memutar roda kebangsawanan yang menindas orang miskin.

Sementara itu, tak seorang pun yang ingat tentang pelarian Pangeran Musa.

Sementara itu, orang-orang yang menantikan kabar baik tentang Pangeran Musa, seperti Sultanah Asiyah, Yakobed, dan keluarga Imran mencoba segala cara untuk bisa berkomunikasi selama bertahun-tahun. 

Harapan paling besar muncul ketika terdengar berita pertemuan seorang pangeran dengan Syu’aib hamba Tuhan di Madyan...

Masyarakat Gosen yang tersebar di sebelah timur Mesir, dari daerah dataran tinggi Sinai sampai Yerusalem merupakan para pekerja yang paling dihandalkan. Berkat mereka, kabar- kabar dari penggembala seringkali tiba dan mengalir ke berbagai penjuru. 

Kabar mengenai Syu’aib yang hidup di Madyan di tepi timur Laut Merah dan beberapa mukmin yang berkumpul, meskipun jumlahnya sedikit. Awalnya tiba ke Gosen, kemudian sampai ke istana...

Pengalaman yang pernah dialami sebelumnya telah banyak mengajarkan kepada keluarga Imran dan Sultanah Asiyah untuk tak percaya kepada siapapun. Khususnya, kepada Kepala Akademi Ilmu Pengetahuan, Karun, yang beberapa kali berkata ingin memberikan dukungan dan membalas hutang budi, tapi selalu kembali dengan tangan kosong. 

Ka, sahabat masa kecilnya yang telah berbalik punggung terhadap kerabatnya, lebih terasa sebagai objek ujian dibandingkan sebagai orang yang akan membantu. 

Banyak pemuda Apiru ingin menjadi seperti Ka yang kaya raya. Dan ini hanya dapat diwujudkan dengan memberikan laporan yang berguna bagi istana. Kesesatan ini telah membuka sebuah jalan bagi terbentuknya kelompok yang terdiri dari orang-orang miskin dan orang-orang lemah hati.

Tanpa ada dukungan dari orang-orang tertindas, kelanjutan kezaliman memang tak mungkin. Orang-orang berjiwa parasit memenuhi istana, menyerap darah rakyat dan merusak akhlak mereka, tak tersisa satu orang pun yang bisa berkata ‘hentikan’ untuk kerusakan dan ketidakadilan yang terjadi...

Justru orang-orang licik bertambah banyak, membawa informasi yang berguna, membangun hubungan baik dengan istana, dan memanipulasi perbedaan...

Seolah semua ingin menjadi seperti Tuan Karun...

Tuan Karun, ketika dia lewat dengan kunci-kunci emas yang bergantung di pinggangnya, menggiurkan mata para Apiru yang melihatnya. 

Tapi, dia dikenal dengan kepelitannya, seorang yang tak berbagi dengan siapa pun... Beberapa tahun terakhir, dia menunjukan kepedulian untuk bertemu Sultanah Asiyah... Tak memedulikan Pangeran Musa yang dalam pelarian... Melupakan kerabat-kerabatnya yang dalam kemiskinan dan kelaparan...

Meskipun dirinya sendiri adalah seorang bani Israil, ketika kata Apiru disebut dia menjadi gelisah, “Apa yang mereka inginkan?” pikirnya. Bahkan dalam perbincangan terakhir kali dengan Asiyah, dia menyampaikan bahwa tak ada waktu untuk disisihkan bagi pendatang atau isu-isu yang tak berhubungan dengan hal-hal di sekitar dirinya. 

Kata “pendatang” merupakan wujud kebencian dan merendahkan ketika tertuang dari bibir Ka. Sultanah sadar bahwa dia berhadapan dengan tembok yang tak bisa didaki...

Hari-hari kejayaan bani Israil di masa Nabi Yusuf hilang setelah wafatnya beliau. Mesir yang awalnya memandang mereka sebagai tamu berharga yang mendapatkan doa dari Nabi, kini mengeluh dengan pertambahan penduduk yang pesat seiring waktu. 

Bahkan, kemudian menyebut mereka dengan panggilan ‘para pendatang’. Awalnya, mereka bekerja dalam peternakan di sekitar Gosen, lantas mulai beralih ke perdagangan dan memilki harta kekayaan. Tidak menyukai perkembangan ini, para pengurus Mesir menetapkan sebuah larangan berdagang kepada mereka. Harta kekayaan mereka diambil. Mereka tak diinginkan lagi...

“Mereka bukan penduduk asli di sini! Aku tak ingin berbicara lebih banyak mengenai orang-orang yang bukan penduduk sini.”

Seperti ini ucapan Tuan Karun kepada Sultanah Asiyah...

Kalau begitu, tempat ini di mana? Apa makna penduduk asli?

Berhari-hari Sultanah mengajukan pertanyaan ini kepada dirinya sendiri.

Dia meluruskan badannya di tempat tidur gantung di teras ketika berpikir... Suatu malam, sayap-sayap burung yang luas dan hitam menghantam dirinya, kemudian terbangun dari tempat tidur. Asiyah memandang langit-langit.

Bintang-bintang seakan menghujani diri Asiyah, batinnya terbang.

“Asing,” pikirnya. Sebuah penurunan dan ikatan yang besar...

Seakan kedua kakinya terpeleset dari semua tempat di dunia. Selain pakaian yang dia kenakan, tak ada saksi lain yang mengetahui keberadaannya...

Di mana tempat ini?

Siapa penduduk asli tempat ini?

Bagaimana dengan orang yang bukan asli tempat ini, orang yang dipanggil ‘bukan dari sini’? Siapakah dia? Penduduk asli lain atau orang yang datang dari tempat lain... Tapi dari mana?... Tak bertempat tinggal... Tak memiliki asal usul... “Ya Rabb, berikanlah hamba-Mu ini sebuah rumah di sisi-Mu,” bisiknya...

Sesungguhnya, dia ingin menanyakan berita-berita terakhir yang datang dari Madyan dan Syu’aib kepada Tuan Karun. Dari apa yang terdengar, Syu’aib memiliki menantu pekerja keras yang berasal dari Madyan dan Ibri. Tapi ketika mendengar kalimat Syu’aib dan Madyan dari Sultanah, seketika Karun memotong pembicaraan.

“Bukan orang asli sini”...

Dan mimpi-mimpi...

Mimpi-mimpi bagi seorang ibu yang menunggu kabar dari anaknya yang hilang terasa sangat berharga. Mereka mendapatkan pelipur lara dalam mimpi. Yakobed dan Asiyah saling memahami dengan mimpi-mimpi... Dalam pertemuan terakhir juga terjadi seperti ini. Ketika Sultanah berturut- turut melihat mimpi yang cerah, terucap sebuah harapan. “Seandainya aku bisa menemukan suatu alasan dan berkunjung ke tempat Yakobed.”. Tepat ketika dia berpikir seperti ini, Yakobed muncul di hadapannya dengan wajah cerah, membawa berita-berita gembira.

Mimpi-mimpi putih bercampur dengan mimpi putih lainnya.

Meskipun tak memahami sepenuhnya apa yang terjadi, tapi kedua perempuan ini merasa bahagia. “Aku duduk di bawah pohon jeruk limau,” ucap mereka. Ungkapan khas Mesir ini menandakan sebuah pertanda baik ke dalam diri mereka. “Meskipun aku tak mengetahui apa yang terjadi, tapi aku mencium aroma wangi jeruk limau...”

Dan memang sang pohon telah menyerahkan jeruk limau kepada kedua ibu...

...

Pangeran Musa, apa saja yang dia alami sebagai seorang pelarian, pengalaman-pengalaman apa saja yang dia lewati...

Perantauan, maksudnya adalah sebagai sebuah pelajaran yang panjang dan baru. Apa saja yang diajarkan padanya, apa saja yang dihafalkan kepadanya... Batu-batu mana tempat dia bersandar, di sudut padang pasir mana dia tidur, di bawah pohon mana dia menanti pertolongan yang kecil sekalipun dari Allah...

Sultanah Asiyah memikirkan hal-hal ini, hatinya berdetak, mengirim para pembawa berita yang setia ke jalan-jalan Mesir, membelai kepala ribuan anak yatim, mengenyangkan perut ribuan orang miskin, menggaris jalan anaknya yang hilang dari punggung ribuan anak telanjang yang dia pakaikan baju... 

Doa-doa, mimpi-mimpi, penafsiran mimpi-mimpi, bisikan- bisikan, kekecewaan, pembenahan-pembenahan, pilar-pilar khayalan...

Hidupnya terguncang, sama seperti setiap ibu yang kehilangan anaknya. Kemudian terdengar sebuah hembusan kebaikan, seperti terdengar penggembala yang berkata “Musim semi telah muncul di Madyan”...

Pohon itu telah membuka bunga-bunga jeruk limau dalam mimpi semalam... Kenapa ini tak menjadi sebuah pertanda kembalinya putranya Musa?

Pangeran Musa, salahkah dia jika mengetahui waktunya untuk pulang setelah tinggal di Madyan selama sepuluh tahun?

Waktu untuk kembali telah tiba. Sebuah intuisi yang kuat, perasaan yang dalam, dengan keputusan penuh keyakinan, Musa keluar dari Madyan dengan sengaja...

Musim dingin. Gurun di musim dingin. Bukit-bukit gurun musim dingin. Dia melakukan perjalanan dengan istrinya, Shafura, putri Nabi Syu’aib. 

Di antara dinginnya malam dan panas teriknya siang hari, dengan daratan yang seluas bentangan langit, perjalanan ditempuh dengan perjuangan berat. Perjalanan menempuh sepasang bukit yang mengapit Laut Merah, Teluk Akabe, mendaki gunung-gunung Sinai, lalu masuk ke pintu Mesir dari arah timur.

Shafura gelisah. Tubuhnya gemetar dan memandang kedua mata suaminya dengan rasa takut. Tapi, Musa tenang menguasai keadaan dan berserah diri. Allah yang menciptakan daratan dan langit serta tempat di antara keduanya selalu berada di sisi mereka. 

Tak perlu merasa takut. Seperti itulah suaminya selalu berkata dan perasaannya berada dalam ketenangan ketika mendengarkan ucapan itu... Shafura juga mendengarkan kalimat-kalimat penyemangat, penenang, dan pendukung ini dari Ayahnya... 

Kini, ia mendengarnya dari Musa, suaminya... Rasa takut yang berada dalam malam, kegelisahan, dan kecemasan satu per satu menghilang... Sebuah perasaan aman yang hangat menyebar ke seluruh tubuhnya, sebuah rasa aman aneh yang seakan berkata bahwa mereka tak sendiri...

“Jangan takut, Rab bersama dengan kita, kita tak sendiri.”

“Tak perlukah kita waspada dalam perjalanan kembali ke Mesir ini?”

“Sembunyi dan berdiam diri selama sepuluh tahun, apakah menurutmu itu bukan sebuah sikap waspada?”

“Akankah kau rindu dengan yang kau tinggalkan?”

“Sebelumnya, aku sudah banyak meninggalkan sesuatu. Dua ibuku... Saudara-saudaraku, teman-temanku, burung-burungku, kota kelahiranku, Sungai Nil yang menggendongku di punggungnya... Tahukah kau, Sungai Nil seperti ibuku yang ketiga... Semasa aku masih balita, dia menggendongku di punggungnya. Nil seperti lengan- lengan yang bercampur antara ibuku yang melahirkan aku dan ibuku yang membesarkanku. Ketiganya bersama membesarkan diriku.”

“Bagimana jika mereka sudah melupakanmu?”

“Sifat lupa adalah takdir seperti kematian kita. Tapi beberapa malam, khususnya malam ketika kita bermalam di gurun, ketika aku memandang langit yang seperti sebuah kebun bintang-bintang, aku merasakan bahwa seseorang memikirkanku. Seseorang mengkhawatirkan diriku, bahkan seringkali menangis, berdoa. Mungkin sebuah mimpi, aku tak yakin. Tapi ketika kita tiba di Mesir, aku yakin bahwa sebanyak orang yang melupakanku maka sebanyak itulah orang yang masih mengingat diriku.”

“Bagaimana jika Ratu Asiyah pun membalikkan punggungnya darimu?”

“Takkan terjadi. Ratu Asiyah telah menyelamatkan diriku dua kali dari kematian. Yang pertama saat dia mengeluarkan diriku dari Sungai Nil, kemudian menyelamatkanku dari eksekusi mati dengan membantuku melarikan diri.”

“Bagaimana jika Rabb mu telah menguatkan kekuatan musuhmu dalam sepuluh tahun ini?”

“Kau pastinya telah mendengar dari Ayahmu Syu’aib berkali-kali. Ketika Rabb kita ingin memusnahkan sebuah bangsa, memberikan ujian kepada orang-orang di sana dan yang mempunyai kekuatan, itu sangat mudah bagi-Nya. Orang-orang yang bertambah kuat, jika telah mulai melakukan penindasan terhadap rakyatnya... Kata menjadi kenyataan, negara-negara yang dianggap takkan pernah terkalahkan akan dimusnahkan hancur lebur bersama orang-orang licik.”

“Udara sangat dingin... Seandainya kita mempunyai api yang dapat menghangatkan kita...”

...

Apakah percakapan seperti ini terlewati begitu saja di dalam sebuah gurun?

Ataukah gurun hanya terlewati di dalam tubuh Sultanah Asiyah?

Dalam gurun itu, siapa yang tahu berapa ibu, berapa perempuan yang berjalan, yang akan berjalan... Tidur dan bangun, malam dan siang, kenyataan dan mimpi, kehidupan dan kematian, daratan dan langit... Seberapa besarkah seorang perempuan dapat memisahkan satu sama lain di dalam ombak- ombak itu...

Musa dan keluarganya pasti tak sendiri di gurun pasir...

Malam di gurun pasir diwarnai dingin yang membekukan tulang. Tak ada sesuatu, selain kesunyian. Sampai Musa menyadari percikan api dari kejauhan...

Mungkin itu merupakan api sekelompok pembawa kabar yang melakukan perjalanan di gurun pasir. Jika dia pergi ke arah api itu, dia bisa menemukan sebuah rombongan untuk mendapatkan pertolongan... Dia berjalan cepat ke arah sumber api dalam gelapnya malam.

Begitu kuatnya api itu, lebih menyerupai sinar langit dari pada kobaran api... Ketika Musa mendekat, api itu semakin menjauh. Cahaya api menarik Musa ke arah percikan api itu... Meskipun tampak seperti api atau sinar, itu lebih tampak seperti magnet.

Dan akhirnya, percikan sinar itu berhenti dalam sebuah lembah diiringi suara yang mengejutkan Musa. Apakah itu api? Ataukah pohon yang terbakar... Semuanya hanyut hilang di samping suara yang menggetarkan hati Musa...

“Wahai, Musa...”

Sesungguhnya, Aku ini Tuhanmu. Lepaskanlah kedua sepatu kayumu dari kakimu. Karena kau berada di Lembah huwa’ yang suci...

Aku telah memilihmu. Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan...”

Dan Musa telah menjadi seorang hamba yang menjadi utusan Allah... Dia telah dipanggil ke hadapan-Nya... Dia telah berada di derajat kenabian... Dia telah menjadi Nabi Musa...

Seketika, dia mematuhi suara yang menggetarkan hatinya itu... Tak hanya sepatu kayunya yang dia lepaskan... Semua yang ada pada badannya dia lepaskan, lalu berjalan ke hadapan Tuhannya dengan tubuh yang bersih dan murni...

Di momen itu, ruh Nabi Musa seakan diselimuti ketidakterbatasan waktu, seluruh batas-batas hatinya terlepas, tembok-tembok penghalang hancur. Perasaannya dipenuhi kecemasan, menggigil, tawakal, dan pencerahan yang tak terbatas...

Dalam perjalanan pulang ini, Musa mengalami titik balik kehidupannya. Orang yang melarikan diri dan berlindung, kini keluar dari Madyan sebagai seorang nabi... Dia akan mengajarkan dan menjelaskan ilmu tauhid dan ketunggalan Allah yang tak ada Tuhan selain diri-Nya kepada manusia. 

Dia akan melaksanakan  semua tugas yang diberikan sebagai hamba Allah. Dia akan selalu setia dan mengingat Allah dalam setiap zikirnya. Dia akan menjadi salah satu yang mencapai keselamatan dengan arah dan kiblatnya ditujukan kepada Allah...

Seluruh petualangan yang Nabi Musa lewati sampai hari itu, sebenarnya menyiapkan dirinya untuk peristiwa di malam ini. Percikan sinar di malam ini akan menjelaskan peninggalan di Sungai Nil bertahun-tahun dahulu. Bertahun-tahun lamanya, Sultanah Asiyah bertahan untuk menyiapkan percikan sinar malam ini... Seluruh pengorbanan perempuan suci itu, seluruh ancaman dan tekanan yang datang dihadapi dengan ketenangan...

Malam ini, Musa akan bertemu dengan seluruh hikmah yang telah terbuka. Mesir yang pernah suatu waktu menjadi tempat dia tinggalkan, sekarang akan menyambut kedatangannya sebagai seorang nabi...

Allah telah memilih hamba-Nya, Musa. Allah lah ‘yang berbicara’ dengan Musa, hamba-Nya yang Dia nyatakan sebagai nabi...

Jalan telah menemukan keputusannya... Keputusan adalah jalannya...

Dalam perjalanan pulang kembali menuju Mesir, Nabi Musa telah memanggul tugas-tugas baru. Perempuan suci bernama Asiyah membesarkan dirinya dalam istana Fir’aun. Beberapa tahun kemudian, dia kembali ke istana yang sama sebagai pengingat kepada Allah, pengundang kepada Allah, pembenar akan ketunggalan Allah.

Dalam pembicaraan yang terjadi antara dirinya dan Allah, penopang ketika dia berjalan, ‘tongkat’ yang digunakan untuk menjatuhkan ranting-ranting kering dan daun bagi kambingnya telah menjadi teman perjalanannya, dia memahami bahwa tongkat itu adalah sebuah bukti kenabiannya... Ketika dengan doa, ‘tongkat’ itu menjadi seekor naga besar...

Naga...

Ketika tangannya diulurkan, ular yang bergerak dengan cepat kembali lagi ke bentuk asalnya, ke dalam bentuk tongkat yang biasa digunakan seorang gembala.

Malam ini, begitu banyak yang telah terjadi! Betapa panjangnya malam ini!

Bagaimana dengan tangannya?

Tangan Nabi Musa yang dia masukkan ke dalam kantongnya bersinar cahaya ketika dikeluarkan, menerangi sekitarnya. Ini merupakan salah satu mukjizat kenabiannya. Bukti kekuasaan Tuhan yang mengutusnya...

Nabi Musa di malam pertemuan yang besar ini, meminta pertolongan kepada Allah mengenai dakwah yang akan dilakukannya kepada Fir’aun dan penduduk Mesir. Mengharap pertolongan dan bantuan-Nya dengan sepenuh hati... Nabi Musa mengharapkan pelepasan batas-batas dalam dirinya, memenuhi hatinya dengan tawakal dan iman.

Ini merupakan sebuah harapan bagi sang Nabi...

Allah melepaskan semua penutup dalam dirinya, meninggikan hatinya, menenangkan jiwanya...

Bahasa berarti konsistensi.

Konsistensi pemahaman, sejauh menjelaskan permasalahan sampai mendengarkan permasalahan, bahasa berada dalam tingkatan untuk menjadi teman keluhan... Bahasa, berarti hati. 

Nabi Musa juga mendapatkan nasihat-nasihat mengenai bahasa yang akan dirangkai dengan Fir’aun dan rakyat... Sebuah perkataan keras, jujur, dan jelas, tapi di waktu yang sama sopan dan penuh kesabaran... Bukan seperti seorang raja yang diktaktor.. Bukan juga seperti orang yang tak berdaya... Berjalan di antaranya...

...

Malam itu, Sultanah Asiyah dan Yakobed seperti medali yang berwajah dua... Tak mengetahui apa yang dialami oleh Musa putra mereka, tapi penuh dengan penerangan yang berbeda. Mereka terbangun dengan cerah dari mimpi- mimpinya, memandang langit yang sama dengan kedua mata mereka yang lelah...

Menyinari seluruh orang yang berada di rumah Imran. Jantung Yakobed berdetak kencang. Seperti Sultanah Asiyah, dia juga mencium bau jeruk limau...

“Aku tak tahan lagi untuk menunggu,” ucap Harun, putra yang paling besar... Dia mengambil tongkat, menggenggamnya erat dengan tangannya, memutuskan untuk berjalan ke arah pintu timur Memphis. Itupun tak cukup memenuhi dirinya...

Sultanah Asiyah masih terbangun...

“Aku tak tahan lagi untuk menunggu,” ucapnya kepada Tahnem dan Sare...

Tahnem segera menahannya.

“Bagindaku, biarkan saya yang pergi. Biarkan saya menggantikan Anda untuk pergi ke pintu. Saya akan melihat dan menanti, biarkan saya mencari berita...”

Tahnem mengenakan jubah yang panjang menutupi tubuhnya. Dia pergi ke arah pintu timur seperti yang diisyaratkan oleh Sultanah... Dia berkata kepada para pengawal hendak menunggu rombongan pedagang dari pintu timur yang membawakan barang yang dipesan oleh Sultanah... Semua menanti tak sabar rombongan yang datang dari timur. “Mereka akan tiba bersama terbitnya Matahari,” bisik hati Tahnem, mencoba menenangkan dirinya...

Di luar, udara dingin menggigit seperti pedang yang tajam... Di waktu yang sama, lembut seperti sutera. Jatung-jantung berdetak kencang...

Saat kain hitam malam belum terangkat sepenuhnya di atas penduduk desa yang berada di tepian sungai... Ribuan bintang di langit, rasi Sirus belum lagi tenggelam... Bersama para pelaut yang berderet masih dalam keadaan mengantuk sambil memegang obor di tangannya, Tahnem memandang ke arah timur jauh...

“Timur!” ucapnya...

“Cahaya datang darimu!”

...

Tahnem kembali di waktu pertengahan pagi. Aroma jeruk limau, kesturi, dan ambar darinya mencuri banyak perhatian.

“Darimana kau datang seperti ini? Dari rumah cinta mana kau keluar?” ucap orang-orang yang melihatnya.

Mereka berusaha untuk memegang tangan dan memeluk dirinya.

“Rombongan pedagang wewangian pasti telah datang...”

Pedagang wewangian... Ya, ini rombongan pedagang wewangian yang berbeda.

Aroma ini, aroma kerinduan yang dinantikan bertahun- tahun lamanya. Aroma ini adalah obat yang digunakan Sultanah Asiyah untuk dioleskan ke luka-luka yang berdarah. Aroma ini adalah obat. Aroma ini layaknya cahaya mata...

Untuk pertama kalinya, air mata Sultanah Asiyah membeku dengan kabar-kabar gembira ini... Air mata yang telah lama membakar kesedihannya... Digantikan mata air-mata air yang sejuk, air mata kebahagian... Kabar gembira ini mengalir dari mata air ke mata air lain Ibu Asiyah...

Tahnem berlari tanpa berbicara ke arah Sultanah Asiyah sambil menangis.

“Biarkan aku melihat kedua mata yang melihat dirinya, wahai sahabatku,” ucap Asiyah seraya mengucapkan ribuan syukur kepada Allah...

“Kukorbankan diriku kepada mata yang telah melihat dirinya...”

Tahnem menceritakan semua yang dipelajari dari Nabi Musa, semua yang telah terjadi kepada Sultanah Asiyah...

“Jadi, semuanya itu untuk hari ini, seluruh titik kisah yang terkumpul...”

“Jadi, bayi yang ditemukan dan dikeluarkan dari Sungai Nil adalah pembawa keadilan yang dikabarkan dalam mimpi- mimpinya...”

“Jadi, Nabi Musa juga akan menjalani kisah hidup yang sama dengan yang dialami oleh Nabi Yusuf... Hanya ada satu perbedaan, satu dinaikkan dari perbudakan menjadi penguasa, sementara satunya dari istana ke gurun pasir.”

“Jadi, sepuluh tahun masa pelarian dan tahun-tahun yang dilewati sebagai seorang penggembala, Musa terlepas dari kehidupan istana dan disiapkan untuk menjadi seorang Nabi...”

“Jadi, Allah telah menugaskan Musa dan saudaranya Harun untuk mengajak Fir’aun dan rakyat Mesir kepada Allah.”

“Jadi, besok! Besok pagi dua saudara akan tiba di pintu istana...”

“Kita harus melakukan persiapan untuk pertemuan besok,” ucap Sultanah, datang dan pergi di ruanganya... Datang dan pergi... Seperti Nil yang bergerak dari tepian. Mempersiapkan laut sebagai tempat untuk menuang seluruh airnya. Bagaimana dia akan melindungi putranya dari Fir’aun?

Putranya? Tapi, dia sekarang telah menjadi seorang utusan Allah... Pastinya Allah takkan membiarkan utusan-Nya sendiri tanpa kekuatan... Bagaimana dengan dakwaan lama itu? Kejadian pembunuhan itu? Bagaimana kalau diungkit kembali dan putraku dinyatakan bersalah? Putraku? Ah, dia bukan seorang anak atau putra yang lemah... Dia telah menjadi sebuah bangunan yang kokoh dan kuat. Sebuah bangunan kuat dan kokoh yang ditopang oleh Allah... Sebuah rumah yang akan memanggil semua orang yang tertindas, teraniaya, tak berumah, tak memiliki asal, pendatang, orang tak mampu, dan anak-anak yatim ke dalamnya...

“Ya Allah, bersihkanlah kedua tangannya yang didakwa itu, putihkanlah kedua tangannya...”

“Seperti mereka yang mendakwa Nabi Yusuf, Allah kemudian membersihkan dirinya dari tuduhan...”

“Ya Allah selamatkanlah dia dari jebakan-jebakan dan hal- hal licik yang akan dia hadapi...”

Sultanah Asiyah ibarat sebuah doa...

Sebuah percikan cahaya terang....

Sare berkata sambil memandang dahi Sultanah yang semakin hari semakin bersinar terang.

“Seumur hidup, saya tak pernah melihat perhiasan begitu terangnya seperti ini. Perhiasan keibuan, bersinar dari dahinya. Tubuhnya mungkin tak merasakan keibuan, tapi keibuan menemukan salinannya pada dirinya...”

...

Keesokan harinya, Sultanah Asiyah melepaskan pakaian dukanya yang bertahun-tahun tak dilepaskan dari tubuhnya. Mengenakan pakaian yang paling bagus, menggenggam tongkat berajut bunga lotus yang bertahun-tahun tersimpan dalam kotak. Di antara begitu banyak selendang berajut burung Ibis penuh warna, dia memilih putih.

Berapa tahun yang lalu, Nabi Musa ketika masih anak- anak bermain petak umpet. Sultanah Asiyah menggunakan selendang ini untuk membalut tangannya yang terluka... 

Betapa lucunya Musa ketika masih kecil... Anak kambing yang gesit membuat dirinya berlari-lari sepanjang hari dan kembali ke rumah dengan tubuh penuh keringat. 

Saat kambing itu lepas, Musa mencarinya selama berhari-hari. Saat berhasil tertangkap, kakinya juga diikat dengan selendang yang sama. “Membuat dirinya lelah dan juga diriku,” ucap Musa sambil membelai hewan itu...

Apakah dia ingat dengan selendang ini? Setelah tahun- tahun yang terlewati... Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal ini... 

Bagaimana dengan wajah? Bagaimana jika dalam tahun-tahun ini wajah Asiyah berubah, semakin tua dan hingga dia tak mengenalnya? Apakah dia akan mengenali? Cermin-cermin... Seluruh cermin di dunia Ah, semua telah retak, semua telah rusak menurut kedua matanya... 

Ya Allah, terangkanlah cermin putraku di dalam hatinya, terangkanlah sehingga dia mengenalku, mengetahuiku, aku mohon... Aku mohon, jangan biarkan dia lupa...

Sekarang bukan waktunya untuk memikirkan hal ini... Ya Allah, selamatkanlah kami, berikanlah keselamatan kepada kami, aku mohon... Ya Allah, berikanlah kesungguhan kepadaku, ketenangan kepada hatiku, berikanlah aku kesempatan untuk mendukung putraku...

“Aku telah siap... Dengan izin Allah, aku telah siap...”

Bersama Tahnem yang berada di sisi kanan dan Sare di sisi kiri, Sultanah Asiyah melewati pintu Istana Besar ke hadapan Fir’aun. 

Ketika dia melangkahkan kakinya, seketika para petugas istana, pendeta, pangeran, dan putri memberikan salam takzim di hadapan kemegahan dirinya. Penampilan sultanah hari ini sangat berbeda. Tak ada satu pun ratu yang tertulis dalam kitab-kitab Mesir Kuno yang menandingi kemegahan dirinya. 

Asiyah tampak seperti bunga teratai putih yang mekar di perairan kala senja. Keagungan Sultanah Asiyah pun memesona Fir’aun, sampai hampir melupakan ketuhanan yang dia nyatakan. Sepasang singa yang selalu tertidur di bawah kakinya dan mencekam hati orang yang melihatnya pun tampak patuh dan taat di hadapan sultanah, meninggalkan tempatnya.

Fir’aun terpana melihat kecantikan yang menyihir ini. Tanpa disadari, dia berdiri dan cambuk yang merupakan simbol kerajaan terjatuh dari tangannya...

“Anda bersinar seperti Matahari menyinari istana kami. Anda telah memberikan kehormatan bagi kami, Ratuku.”

“Kami mendengar bahwa putra kami, Musa, telah kembali ke Mesir dan Memphis.”

“Seandainya Anda memberikan kehormataan dengan memilih kami, kita pasti hidup bahagia.”

“Putra kami pasti memiliki sesuatu yang akan dijelaskan kepada kalian semua.”

“Beberapa tahun yang lalu, ketika dia dipanggil untuk menjadi komandan dalam Perjalanan Utara dia melakukan tindakan kriminal dan melarikan diri.”

“Tapi, kita belum mendengarkan langsung dari dirinya. Hal yang paling tinggi dalam Kerajaan Mesir selama ribuan tahun adalah keadilan. Hari ini adalah hari untuk menunjukkan keadilan itu.”

“Keadilan Mesir bagi orang-orang yang tak tahu berterima kasih adalah sesuatu yang menakutkan.”

“Kata ada untuk didengar. Setiap kata yang terpotong sebenarnya memotong telinga kita sendiri ucap para leluhur.

Hari ini adalah hari pendengaran. Bukankah seperti itu, wahai Baginda Rajaku.”

“Demi Anda, wahai Ratuku... Dan juga demi kenangan seorang pangeran yang tumbuh besar di istana kita, kami akan mendengar orang yang melakukan kesalahan itu.”

“Anda juga mengetahui apa yang tertulis dalam makam- makam lama, kata-kata akan terucap!”

“Anda berkata benar, wahai Ratuku. Kata-kata akan terucap!”

Dan memang sebentar lagi kata-kata akan terucap...

Keduanya memahami kedatangan orang yang mereka nantikan dari keramaian dan keributan yang terjadi. Jantung mereka berdetak kencang. Sultanah mencari Tahnem dan seketika menemukannya dalam deretan petugas protokol istana, tepat di sisi kiri. 

Tahnem memberikan salam kepada Ratu dengan menganggukkan kepala dan pandangan mata tanpa disadari oleh siapapun. Mereka adalah sahabat-sahabat Allah. Meskipun mereka seperti tiga jarum yang hilang dalam jerami, mereka selalu berlindung kepada Allah.

Muncul dua pemuda yang berjalan dengan langkah penuh keyakinan di antara para pengawal. Tinggi badan mereka sama, bahkan rambut, mata, dan kulit mereka pun hampir sama. Berbalut pakaian berwarna cerah, mereka melangkah pasti dengan sandal di kaki mereka. 

Dua pemuda yang hormat kepada orang di sekitarnya, tapi berjalan dengan penuh keyakinan... Salah satunya terlihat memegang tongkat di tangannya. Ketika mereka semakin mendekat, tercium wangi bunga di sekelilingnya. Kedua mata Sultanah semakin menajam. Setajam mata elang yang mencari anaknya di antara ribuan anak. 

Mencari mengamati... Cermat dan teliti seperti seekor rusa yang berlari di air... Anakku... Yang manakah anakku? Kedua pemuda itu semakin mendekat... Mendekat... Mendekat...

Ya Allah! Itu Musa!

Dia mengenalinya dengan kedua matanya.

Besar, bersinar, selalu murah senyum, Musa yang kedua matanya berpijar manis.

“Iya, itu putraku!”

“Putraku telah datang” ucapnya bahagia dalam hati... Dia menggigit bibirnya agar tak berteriak, kedua tangannya memegang erat tongkatnya untuk tak berlari memeluknya... 

Turun sebuah benang tipis dari mata kanannya, air mata tipis yang tak seorang pun akan melihatnya... Sementara itu, di dalam dirinya sebuah gunung berapi telah meletus. Lautan badai dalam dirinya tak tertahankan lagi.

“Putraku!”

Dengan kedua matanya, dia memeluk Musa putranya. Dengan kedua matanya, dia membelai Musa putranya. Putraku... Anakku... Buah hatiku... Bungaku. Isi hatiku. Jalan yang kuawasi... Jiwaku. Butiran cahaya. Putraku... Semua nama terucap dari dirinya...

Meskipun mengenakan pakaian seorang penggembala, pemuda utusan Allah ini memberikan salam kepada raja dan ratu sesuai protokol istana. 

Di samping itu, sang anak juga memberikan salam dengan anggukan kepala kepada ibunya. Anak yang isi matanya memancarkan kerinduan mendalam. Sementara itu, kedua mata yang lain berada di depan sesuai reputasinya... 

Sepasang singa yang dikenal kebuasannya, datangke sisinya seperti sepasang kucing yang patuh, menunjukkan kedekatan mereka. Dia membelai bulu kedua singa itu seperti telah melewati hari-hari lama mereka. Orang-orang yang menyaksikan terkejut, cemburu, memandang dengan mata mengejek...

Sambil memberikan salam, seperti apa yang dia janjikan kepada Allah, Nabi Musa memulai perkataan dengan kata-kata lembut tapi tegas.

“Sebenarnya, kami datang dengan membawa sebuah dokumen dari Allah kepadamu, dan di akhirnya keselamatan ada pada orang-orang yang mengikuti jalannya. Tapi, jika kau memiliki niat untuk membersihkan keserakahan dan nafsumu, aku bisa menunjukkan jalan menuju Allah kepadamu. Kami berdua adalah utusan Allah.

Wahai, Fir’aun! Lepaskanlah orang-orang Bani Israil yang tertindas oleh kekerasan dan aniaya dari tanganmu! Berikanlah mereka izin untuk melaksanakan ibadah seperti yang mereka harapkan kepada Allah! Lepaskan mereka, biarkan mereka berdoa di hadapan Allah, biarkan mereka bersatu dengan Allah.

Berikan izin kepada Bani Israil untuk keluar dari sini bersama kami, akhiri siksaan dan aniaya yang kau lakukan kepada mereka...”

Sebuah kesunyian yang dalam...

Tak seorang pun bisa mengambil napas. Kedua mata Nabi Musa tak berkedip sama sekali ketika berbicara. Seakan hujan yang turun dari langit mengosongkan isinya di atas gurun- gurun yang tandus. 

Suara pemuda itu seperti rinai hujan... Tapi, setiap butiran hujan, bagaimanapun ketika tersentuh badan akan terasa dingin. Cuaca berubah menjadi dingin. Suasana membeku dengan keberanian dan keterbukaan hati pemuda ini.

Daun-daun pun tak bergerak. Nil berhenti mengalir, Matahari tak bergerak, seluruh Mesir membeku mendengarkan nabi muda ini...

Fir’aun beberapa saat terdiam, lalu memandang terpaku wajah lawan bicaranya...

Kedua mata Fir’aun memandang tajam kepada Nabi Musa. Menahan amarahnya, dia bertanya dengan tujuan untuk mengubah arah permainan ini ke dalam kemenangannya.

“Bukankah kami yang mengambil dirimu ketika kau masih kecil dan membesarkan dirimu? Dan bukankah umurmu telah dilalui bersama kami? Tapi, akhirnya kau malah melakukan apa yang akan kau lakukan dan menjadi seorang yang tak tahu berterima kasih."

Intonasi suara Fir’aun yang keras menggelegar di tengah suasana yang membeku. Pertemuan ini membuatnya kembali teringat dengan tindakan kriminal Musa yang lama. 

Dia juga memandang sang Ratu untuk mengetahui reaksinya. Jika pemuda ini berada di bawah dakwaan atas tindakan kriminalnya maka... Dia lantas memikirkan kemungkinan memenangkan hati sang Ratu...

Nabi Musa dengan perkataan yang lembut membalas ucapan Fir’aun dengan penuh kepercayaan diri.

“Iya, aku telah ikut campur tangan dalam tindakan tersebut, tapi itu bukan sesuatu yang aku lakukan dengan sengaja. Setelah itu, aku menghilang dan melarikan diri dari kalian tanpa kemauanku karena kalian telah menuduh tanpa memberiku kesempatan membela diri. 

Allah kemudian memberikan hikmah kepadaku. Allah memilih aku sebagai utusan-Nya. Jika yang kau lakukan adalah kebaikan... Seandainya kau tak memperbudak Bani Israil, ini semua takkan terjadi. Bukankah seperti itu?”

Fir’aun menggelengkan kepalanya dengan pahit. Musa adalah satu-satunya anak laki-laki Apiru yang terselamatkan dari tahun kematian.

Sultanah tak tahan lagi dengan semua ini. Dia menutup wajahnya dengan tangan dan mulai menangis. Dalam kisah yang berat ini, tak ada kesalahan selain mencintai putranya, menyayanginya sepenuh hati. 

Sang putra pun memandang dengan kasih sayang dan hasrat kerinduan kepada perempuan yang menangis di balik selendang putih...

Dan batas-batas...

Seluruh kalimat yang tak terucap, tertahan dalam batas- batas yang memisahkan antara ibu dan anak. Pembicaraan ini, di waktu yang sama juga merupakan ujian berat dengan dirinya sendiri bagi sultanah. Hampir setiap kalimat yang terucap, tenggelam tajam ke dalam ruhnya. 

Setiap kata mengingatkan bahwa dirinya bukanlah ibu kandung sang putra. Setiap mimik, setiap jarak... Setiap pandangan sebenarnya berat dan pahit bagi dirinya.

“Sungguh beruntung Allah berada di sisiku! Sungguh beruntung aku percaya kepada Allah.” Ketika mengucapkan kata ini, dia mengerti bahwa dia harus melepaskan semua penantian yang berhubungan dengan keibuan seperti sebuah rumah. 

Seluruh penantiannya, untuk pertama kalinya dia menyadari bahwa seluruh kerinduan ini adalah hal duniawi.

Asiyah menempatkan dirinya sebagai ibu yang membesarkan Musa dengan kasih sayang. Tapi, dia kemudian berusaha melihat secara tenang, apakah dia berhak mendapatkan balas budi dari sang putra, menginginkan kasih sayang darinya? Sultanah merasa takut dengan dirinya sendiri dan kasih sayangnya.

Seperti hatinya yang berlapis-lapis... Dia melihat bahwa dia membutuhkan kasih sayang dan disayangi oleh seseorang. Dia diselimuti oleh kesulitan untuk mencintai seseorang tanpa menantikan balasan. 

“Ajarkanlah mencintai tanpa balasan kepadaku. Ya Allah, sampaikan diriku kepada cinta- Mu kepadaku melebihi seluruh cinta,” pintanya diiringi tangisan. Asiyah menyayangi Musa yang melepaskan tahta dan mahkotanya, tapi tak diragukan bahwa dengan kasih sayangnya dia berharap tiba kepada Allah... “Ajarkanlah aku untuk mencintai tanpa berharap balasan, Ya Allah!”

Tahnem dan Sare mendekat ke arah Sultanah yang tenggelam dalam tangisannya. Mereka berusaha menenangkan dirinya, mengipasi, dan memberikan air kepadanya. Mereka sadar bahwa keadaan Sultanah sangat berbeda... Perempuan yang bersinar seperti Maatahari di pagi hari, sejernih butiran air yang harus segera mungkin mengalir ke Sungai Nil...

Tapi, pertanyaan-pertanyaan Fir’aun terus berlanjut dengan permainan pikiran. Sementara itu, Nabi Musa menjalankan tugasnya sebagai seorang nabi dengan tenang. Musa menyerahkan dirinya kepada Dzat pemilik dirinya. Kata-kata harus diucapkan, hujan yang akan turun harus menjadi rinai air yang jatuh ke Bumi...

Sekali lagi kesunyian...

Sekali lagi membeku tak bergerak...

“Apakah kalian dengar?” tanya Fir’aun kepada orang-orang di sekelilingnya. Apa yang mereka dengar adalah sesuatu yang aneh. Pernyataan bahwa dia bukan hanya sang Pencipta, melainkan juga Tuhan setelah beberapa saat kemudian. Apa yang dikatakan pemuda ini?

Nabi Musa melanjutkan jawaban atas pertanyaan itu tanpa memedulikan ejekan.

“Dia adalah Tuhan Timur dan Barat dan semua yang ada di antaranya, jika kalian memahaminya... Dia adalah Tuhan kalian, Tuhan leluhur kalian juga.”

Ketika Musa berkata seperti itu, orang-orang yang mendengarkan merasakan runtuhnya atap-atap kebohongan berusia ribuan tuhan, termasuk sembilan simbol suci Mesir. Hujan yang dimulai dengan kata-kata Nabi Musa, menghanyutkan semua yang berada di depannya.

Fir’aun yang cukup sabar melebihi Kepala Pendeta Haman dan pengikutnya mengambil langkah kedua ke dalam hujan hidayah yang menghujaninya:

“Baiklah, tapi...” ucapnya... “Apa yang akan terjadi dengan generasi sebelumnya?”

Fir’aun ingin memancing lawan bicaranya dengan pertanyaan ini. Dia ingin Musa menyalahkan seluruh sejarah Mesir dan dengan demikian seluruh mata pendengar akan terbuka. Tapi, pemuda dihadapannya mengetahui tujuannya dan membalas dengan sebuah jawaban yang pintar.

“Apa yang akan terjadi terhadap mereka tertulis dalam aturan Tuhanku. Tuhanku, tak pernah salah, tak pernah lupa... Dia memberikan tempat tinggal bagi kalian semua di muka Bumi ini. Membukakan jalan bagi kalian, menurunkan air dari langit. Memberikan hasil panen dari bermacam tanaman. 

Kalian juga makan dari hasil itu, menggembalakan hewan- hewan kalian... Dan tak diragukan lagi, ada isyarat-isyarat dan tanda-tanda yang menunjukkan hal ini. Allah menciptakan kita dari tanah, dan kita akan kembali lagi pada-Nya. Dan Allah yang akan mengeluarkan kita dari tanah untuk melakukan perhitungan kepada kita.”

Gelas telah penuh... Kesabaran Fir’aun pun habis.

Dia berteriak sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Tidak! Utusan ini pasti kehilangan akal sehatnya!”

Kegilaan...

Musa telah memberikan nama pada keberanian yang menggetarkan otoritas yang telah bertahan ribuan tahun hanya dengan beberapa kalimat penerang... Ini adalah kegilaan...

Fir’aun tak pernah menyangka, pengetahuan dan pertanyaan baru akan menggetarkan peraturan-peraturan yang telah dia buat... Dia adalah pemilik peraturan. Dia yang menentukan peraturan dan bagaimana menerapkannya. Semua hal di luar itu adalah ketidaknormalan dan kriminal. Seandainya Musa dibiarkan, ini akan menjadi suatu bahaya dan harus segera dimusnahkan.

Kegilaan!

Tuduhan... Apa yang diharapkan olehnya telah muncul... Orang-orang yang berada di ruangan itu mulai tersenyum mengejek. Semua orang, kecuali Sultanah Asiyah dan para abdinya, tertawa keras. Orang-orang yang percaya itu diselimuti perasaan takut terhadap adzab Allah yang akan menimpa Fir’aun dan pengikutnya.

Sambil berteriak, Fir’aun melanjutkan ucapannya.

“Wahai kaumku, bukankah sungai-sungai yang mengalir di bawah tempatku berdiri dan Mesir adalah milikku? Tak lihatkah kalian? Bukankah aku lebih tahu dibandingkan orang yang lemah di hadapanku ini? Tapi, jika benar yang dia katakan bahwa dia adalah seorang Nabi, dia seharusnya memiliki gelang-gelang emas yang dikenakan di lengannya. Seharusnya para malaikat berada di sisinya, mengiringinya. Bukankah memang seperti itu?”

Senyuman berubah menjadi tawa membahana. Apa yang dibahas dan diceritakan oleh pemuda yang mengenakan baju penggembala ini?

Fir’aun berseru marah, menggetarkan daratan dan langit kepada penduduk istana di sekitarnya.

page433image38901776 page433image460631104

“Bukankah aku tuhan kalian?”

Seketika, orang-orang bersujud kepada Fir’aun yang penuh dengan kesombongan... Kemudian, dia berbalik kepada Nabi Musa dan berteriak lagi.

“Aku bersumpah, jika kau menduakan ketuhananku dengan tuhan yang lain, aku akan memenjarakan dirimu!”

Nabi Musa bertanya dengan ketenangan.

“Meskipun aku membawakan sebuah bukti yang jelas kepadamu?”

“Jika kau di antara orang-orang yang berkata benar, ayo tunjukkan!”

Nabi Musa melemparkan tongkat yang berada di tangannya ke tanah...

Oooo... Apa yang mereka lihat? Seekor naga besar yang bergerak cepat... Nabi Musa kemudian memasukkan tangannya ke kantong baju dan mengeluarkannya kembali... Kedua tangan yang dituduh melakukan tindakan kejahatan itu bersinar terang menyilaukan orang yang melihatnya.

Istana seakan-akan runtuh dengan paduan suara ‘Ooo!’... Mengguncang sampai ke akar-akarnya...

Kepala Pendeta Haman dan para pendeta lainnya berteriak kaget.

“Ini adalah sihir yang mahir dan tak diragukan lagi bertujuan untuk mengeluarkan kita dari tanah kelahiran kita. Tujuan utama semua ini adalah menghancurkan Kerajaan Mesir, menggali akar Mesir kuno...”

Sultanah Asiyah berpikir bahwa telah tiba waktunya untuk menghentikan keributan yang terjadi. Dia mengangkat selendang putihnya ke udara dan menunggu beberapa menit. Keributan tak berhenti, baik itu karena pengaruh mukjizat yang ditunjukkan oleh Nabi Musa ataupun oleh seruan membenarkan Haman.

Asiyah pun berdiri sambil menuding Kepala Pendeta Haman.

“Kau tak berkata benar, wahai Ha!” ucapnya dengan suara yang lantang...

Seakan sebuah gong telah dipukul keras dan memberi perintah kepada semuanya untuk diam...

“Kau tak berkata benar, Ha!”

Sultanah Asiyah yang tak banyak berbicara sampai hari itu, kini bersuara lantang. Bahkan, sebagian besar orang baru mendengar suaranya untuk pertama kali. Ucapan sultanah memberikan pengaruh yang besar. Seluruh kepala menunduk memandang ke tanah. Semua bersujud seketika mendengar suaranya. Kepala Pendeta yang menyadari bahwa setiap saat keadaan bisa berubah menjadi buruk.

“Bagindaku,” ucapnya, “Jika mereka mengetahui perbuatan jahat yang bertujuan untuk meruntuhkan Mesir dari dalam maupun luar, mereka takkan menyalahkan kita seperti ini.”

“Kau salah. Seperti biasanya, kau salah... Musa putraku adalah salah satu dari kita. Dia besar di istana kita, seorang pangeran berakhlak baik dan memiliki kemampuan yang tinggi. Kami sebagai Sultanah Mesir dan Nil memberikan ampunan kepadanya.”

Sultanah yang mengakhiri perkataannya dengan menurunkan selendang putihnya, memberikan salam kepada Fir’aun tanpa berkata-kata apa-apa. Ketika tiba di tempat Musa, dia memberikan salam pendek yang sesuai dengan protokol. Dengan begini, dia ingin menurunkan ketegangan yang memanas dan memberikan waktu kepada putranya...

Dan Fir’aun pun merasakan perselisihan ini telah cukup untuk saat ini.

“Baiklah...,” ucapnya kepada Nabi Musa... “Mari tentukan hari saat kita bertarung di depan rakyat. Kau bersiap, kami pun bersiap. Sebuah pertarungan yang tak bisa diganggu oleh siapapun.”

Tawaran ini cukup menarik bagi Nabi Musa... Setelah memikirkan beberapa saat, dia sadar bahwa Hari Raya Hiasan tinggal beberapa hari lagi. Nabi Musa pun berkata pada Fir’aun bahwa mereka bisa saling bertemu di hari raya itu, antara pagi dan siang di pusat kota... Mereka pun berpisah...

Karun, Kepala Akademi Kerajaan, mencoba untuk tak terlihat dari pandangan Nabi Musa saat kehebohan terjadi. Sebenarnya, dia pun berharap tak tampak kepada Fir’aun dan tak ingin ikut andil dalam pertarungan ini. 

Tapi, dirinya lah orang yang paling mengetahui pengetahuan alkimia untuk melawan Nabi Musa dalam pertarungan nanti. Di sisi lain, akar Bani İsrail Karun merupakan sesuatu yang akan membuat baik dia maupun Fir’aun dalam keadaan sulit. 

Tapi Fir’aun takkan menjadikan Mesir sebagai umpan dalam pertarungan dua Apiru. Singkatnya, para penasihat istana juga memiliki pikiran yang sama. Ini adalah kesempatan menguji seberapa besar kesetiaan Karun kepada istana. 

Dan memang apa yang Karun inginkan adalah berada di sisi yang bukan musuh maupun teman dengan para Apiru yang dianggap sebagai parasit. Dia tak ingin membuka celah baru untuk menyerang dirinya ketika pandangan semua orang ada pada kekayaannya, ketika semua berlomba-lomba untuk berada di posisinya...

Kunci-kunci harta kekayaan di pinggangnya terasa semakin berat. Sambil menyeret jubah sutranya, dia tiba di hadapan Fir’aun. Menyebutkan nama para ahli dalam bidang alkimia dan sihir satu per satu, lalu menyiapkan daftar nama yang panjang bersama para penasihat. Dengan tandu-tandu yang dikirim ke seluruh wilayah, para penyihir, ahli alkimia, dan ahli mumi yang paling mahir dipanggil ke istana. 

Kelompok-kelompok ahli alkimia dan sihir yang terhubung dengan Faiyum, negeri Punt dan Nubye, Avaris, Teb, Sakkara, Ciza, dan Memphis berdatangan memenuhi undangan. Terkumpul tujuhpuluh dua ahli yang mahir sebagai calon lawan Nabi Musa. Dalam waktu singkat, jumlah itu bertambah menjadi kurang lebih seratus lima puluh ribu ahli yang masing-masing mendapatkan dua puluh asisten untuk membantu.

Para ahli sihir memiliki sebuah permintaan khusus kepada raja. Menurut permintaan yang disampaikan langsung lewat perantara Karun, sebagai yang pertama dalam sejarah, jika mereka berhasil dalam ujian besar melawan pangeran yang membangkang ini, mereka meminta sebuah imbalan khusus, baik bagi diri sendiri maupun bagi kelompok-kelompok mereka... 

Fir’aun mengabulkan permintaan ini sambil tersenyum.“Kalianakansepertikerabatkusetelahini,”ucapnya memberikan dukungan secara terbuka dan tanpa syarat kepada mereka.

Meskipun Kepala Akademi Pengetahuan Karun dan Kepala Pendeta Haman tak begitu suka dengan dukungan terbuka dan tanpa syarat ini, mereka mengucapkan harapan untuk kemenangan. Untuk saat ini, mereka memilih lebih banyak diam. Mereka menjalankan politik yang umum bagi orang- orang oportunis. ‘Musuh dari musuh adalah teman."

Sebenarnya, ketika dilihat dari kebalikannya, Fir’aun berada dalam posisi lemah karena dia membutuhkan para penyihir... Keangkuhan, kekuasaan, kekuatan... Semua itu berada dalam ujian yang besar...

Seberapa tahunya masyarakat mengenai seluruh kejadian, patut ditanyakan... Mereka lebih tertarik dengan isu-isu atau berita tentang pedagang mutiara yang terbunuh malam kemarin atau suami mata keranjang seorang penyanyi perempuan terkenal... Para pemuda miskin bergabung dengan rombongan para pencuri, perempuan-perempuan miskin jatuh ke dalam pelacuran, penjualan anak-anak, siapa yang peduli! Hari Raya, semuanya datang di waktu yang sama dan seperti opium yang melenakan penggunanya...

Dan Hari Raya Hiasan...

Dalam dua hari, Memphis telah siap untuk hari raya. Bunga-bunga disebar di jalanan. Pepohonan, pilar, pintu, dan atap rumah dihiasi dengan bermacam hiasan... Tali-tali dari batang papirus yang diwarnai dengan berbagai warna, rangkaian bunga, madu yang telah dikeringkan, kaktus yang dihiasi dengan rumput aneka warna, keranjang berisikan kurma dan buah delima, roda keberuntungan yang digantung ke jendela, payung aneka warna, kotak berisikan puisi, kipas yang menyebarkan aroma wangi ketika dikibaskan, kue-kue lezat, clarion yang dideret, kerincingan, keranjang beragam ukuran yang dirajut dengan indah, air yang ketika dialirkan berbunyi seperti kicauan burung, kalung dari kulit hewan laut, rangkaian tulisan yang dibuat dari cangkang kura-kura, tempat pensil, beragam meja, gelang manik-manik dan batu- batuan, cincin, kota salep, stempel, kotak bedak, adukan tembaga, botol parfum, pahatan marmer bertuliskan doa-doa, aneka ukuran tasbih, sandal-sandal, pakaian-pakaian, batu- batu dengan simbol mata Tuhan Horus yang menyimbolkan keberuntungan, batu Hator pelindung para perempuan yang berwarna...

Semua yang ada dikeluarkan pada hari raya ini... Kemeriahan memenuhi seluruh pelosok Memphis...

Dan Hari Hiasan...

Tenda-tenda para penyihir yang berada di tepi Sungai Nil tampak seperti kota tenda. Fir’aun, dari sebuah pulau yang suci dan kecil di atas permukaan Nil, memandangi mereka dengan kebanggaan di pagi hara raya ini... Pulau ini memiliki sebuah jembatan yang tampak seperti jalan air yang pendek dan terhubung dengan tepi Sungai Nil. Tahta tinggi Fir’aun dihiasi dengan emas dan cempaka, memantulkan sinar Matahari yang menyilaukan mata.

Sultanah Asiyah belum pernah sekalipun melangkahkan kakinya ke pulau terlaknat yang juga digunakan sebagai tempat menyatakan ketuhanan Fir’aun ini sejak hari pertama dibangun. Dia pun jarang mengikuti hari raya semacam ini. Tapi, dia tak dapat membiarkan Musa putranya sendirian. Oleh karena itu, dia berada di tahta kerajaan yang berada di titik pusat...

Fir’aun mengangkat cambuk suci yang dia pegang seperti biasanya ke udara, mengisyaratkan waktu dimulainya pertandingan. Terompet ditiup memekakkan telinga ketika konfeti-konfeti telah mulai dilempar, mengiringi Fir’aun melewati keramaian dan menempati kursi kerajaan.

Tujuh puluh dua ahli penyihir yang muncul di tengah lingkaran penonton, ratusan unta yang membawa alat-alat mereka, bersama dengan para pemimpin yang berdiri di atas keledai menampilkan pemandangan yang megah...

Sementara itu, Nabi Musa berkata ‘Sungguh kasihan’ kepada dirinya dan orang-orang yang percaya dengan orang-orang yang bersatu menjadi satu baris ini. “Jangan berkata bohong di hadapan Allah, orang yang menuduh Allah, kalah sejak awal.”

Seorang penyihir maju ke depan, diiringi ahli-ahli alkemi terkenal. “Kau yang melempar pertama atau kami, wahai Musa?” tanyanya...

Nabi Musa memandang para penyihir yang tampak seperti panglima perang dengan baju-baju mereka yang megah. “Kalian duluan,” ucap Nabi Musa dengan keyakinan atas apa yang didengar dari Allah. “Kalian mulailah...”

Seketika, gelombang-gelombang aneh sihir aneh mulai terlihat di pusat kota. Para ahli sihir menarik perhatian para penonton dengan tali-tali dan kayu-kayu... Setiap sisi kota seolah dipenuhi ular beragam ukuran. Awalnya, Nabi Musa terkejut dengan apa yang dia lihat. Terlihat bahwa para penyihir menggabungkan semua yang mereka tahu. Di hadapan Nabi Musa kini terdapat sebuah kekuatan gabungan yang besar. Dia berserah diri kepada Allah. Dia sendirian, berlindung kepada Allah...

Ketika giliran Nabi Musa tiba, ia melemparkan tongkatnya ke tanah. Dan yang terjadi telah terjadi. Dengan bantuan Allah dan sebagai sebuah pelajaran, tongkat itu berubah menjadi seekor ular besar, melahap semua ular yang ada. Memusnahkan semua sihir yang berada di hadapannya...

Saat itu... Tepat saat itu, bahkan angin badai Mesir yang berembus tanpa henti selama ribuan tahun pun terdiam...

Seakan lidahnya tertelan. Para penonton terkesima dengan kejadian ajaib yang terjadi di depan mata mereka. Memphis tak berkedip. Seolah ular Nabi Musa menelan seluruh hiasan kuno Mesir...

Tujuh puluh dua penyihir terkesima dengan apa yang mereka lihat. Mereka seketika bersujud, terucap kata taubat dan penyesalan dari bibir mereka. “Kami percaya kepada Allah-nya Musa,” ucap mereka semua. Mereka bersujud beriman. Para pemimpin sihir berserta asisten-asistennya yang berjumlah kurang lebih seratus lima puluh ribu orang bersujud di waktu yang sama. “Kami percaya pada Allah-nya Musa....”

Hari raya ini telah menghancurkan Fir’aun!

Bagi Fir’aun, ini merupakan sebuah kehancuran yang nyata...

“Kalian telah beriman kepada tuhan-nya Musa tanpa meminta izinku, begitukah?” serunya marah kepada para penyihir yang masih bersujud...

Tapi, tujuh puluh dua ahli sihir bergeming menangis bertaubat dan mengucapkan penyesalan mereka kepada tuhan yang diceritakan oleh Nabi Musa... Mereka seakan telah hilang dari mereka yang lama...

“Jadi, tak diragukan lagi bahwa ahli yang mengajarkan sihir kepada kalian adalah Musa!” ucap Fir’aun memberikan ancaman... “Kalian akan membayar besar pengkhianatan ini! Tangan dan kaki kalian akan dipotong. Kalian akan digantung di pohon-pohon kurma! Dengan demikian, kalian akan mengerti bahwa hukuman yang aku berikan sangat kejam...”

Salah satu dari tujuh puluh dua penyihir berdiri dan memberikan jawaban.

“Kami melihat sebuah hal yang besar di sini. Apa yang kami lihat bukan sihir maupun guna-guna. Tapi, jika memang seperti itu pasti kami akan mengetahuinya. Di balik apa yang kami lihat ini terdapat sesuatu. Ketahuilah, kami takkan meninggalkan kebenaran dan takut dengan ancamanmu! Betapa hebatnya apa yang telah kami lihat, kami rela tak melihat apa pun... Kedua mata kami telah terbuka. Kami takkan berbalik dari cahaya ini. Apa yang kau putuskan, putuskanlah. Kami tak peduli dengan hal itu. Keputusan yang akan kau berikan kepada kami dan yang lainnya hanya berlaku di dunia yang fana ini. Kami telah menerima bukti yang cukup tentang sesuatu yang abadi. Kami percaya pada Allah yang Abadi. Kami terkesima dengan apa yang kami lihat. Kami bersujud dalam cinta dan kenikmatan tanpa bisa terbangun lagi. Kami bertaubat untuk ampunan atas semua kesalahan dan kekhilafan kami kepada Allah. Sekarang, hal terbesar bagi kami, ujian yang paling besar, adalah mendapatkan ampunan dari Allah, bukan kau... Kau bisa membuat kami tak memiliki kaki, tangan, dan kepala di jalan ini. Dan memang kami mengeluh terhadap tangan, kaki, dan kepala kami yang telah menenggelamkan diri kami dalam lautan dosa. Apa itu kepala, kaki, dan tangan? Semua itu adalah rintangan fana dunia. Kau bisa membuat kami tak bertangan, berkaki, dan kepala di hadapan dirimu dan dunia ini. Kami tidak akan membalikkan diri kami dari Allah. Apa yang ingin kau lakukan, lakukanlah! Kau akan melihat kami di antara orang-orang yang setia dan tak berbalik dari kata- kata. Tak penting! Bagaimanapun juga, kami akan kembali kepada Allah! Kami adalah mukmin-mukmin terdepan. Kami mengharapkan ampunan Allah. Tak penting jika tak bertangan, berkaki, maupun kepala. Cukuplah kami bersama Allah...”

Ketika juru bicara para ahli sihir berbicara meluap seperti ini, daratan dan langit berzikir bersamanya. Dia memandangi teman-temannya yang bersujud menangis. Mereka telah hilang kesadaran sampai tak mengetahui apa yang terjadi. Mereka sedang berzikir..., saat algojo mengayunkan pedang. Mereka mati sahid dalam sujudnya tanpa mengangkat kepala mereka, tanpa menengadah sedikit pun.

Fir’aun tak bisa percaya dengan kematian sahid mereka... Meskipun telah mengalir tujuh puluh dua sungai darah di pusat kota yang berubah menjadi danau darah, dia tak puas. Sambil berteriak, dia memberikan perintah kepada orang- orang di sekelilingnya.

“Tinggalkan Musa untukku! Dia milikku! Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"

Fir’aun berjalan di atas genangan darah...

Sementara itu, Nabi Musa pedih memandangi hal ini.

“Aku berlindung kepada Allah yang merupakan pemilik orang-orang yang tak percaya kepada hari perhitungan,” ucapnya penuh keyakinan...

Sultanah Asiyah berjalan di depan Fir’aun yang telah mengubah hari raya menjadi penuh darah. Ia memegang tangan Fir’aun yang berada di udara memegang cambuknya.

“Apakah kau akan membunuh seseorang hanya karena ia berkata ‘Tuhanku adalah Allah’? Meskipun telah dibawakan pelajaran dari Allah bagimu di tempat ini...”

Tahnem ikut bercampur kata di antara jasad-jasad, melupakan seluruh peraturan dan protokol kerajaan.

“Jika memang orang ini di antara orang-orang yang berbohong, kebohongan adalah kerugiannya sendiri. Tapi, bagaimana jika apa yang dia katakan adalah benar? Pasti dia akan datang membawa kemenangan di atas semua ancaman yang Anda lakukan. Pada hari itu, Anda takkan dapat menemukan satu lubang sekalipun untuk bersembunyi...”

Keberanian ini membuat Fir’aun dipenuhi amarah. “Jadi, Musa tak sendiri dalam kepercayaannya,” serunya marah. Seketika ia menusukkan pisau belati yang selalu berada di pinggangnya kepada Tahnem yang masih berbicara memuji Allah...

Seketika...

Seketika, seperti bunga cengkeh yang layu jatuh ke tanah, teman perjalanannya, abdinya, sahabat jiwanya, Tahnem jatuh tak bernyawa dalam pelukan Sultanah Asiyah... Tahnem, salah satu penjaga yang terlempar ke dalam samudra pembuangan. Salah satu orang yang mengubah kesaksiannya menjadi pengucap syahadat. Salah satu dari Muwahiddun. Mukmin... Sultanah menangis memeluk jasad tak bersalah ini.

“Kau adalah orang zalim di atas orang zalim. Selama masih berputar, dunia ini takkan melupakan dirimu dan kezalimanmu. Namamu akan selalu dikenang di atas seluruh orang zalim!...”

Sraaaaakkkk... Sraaaaakkkk...

Cambuk Fir’aun mendarat di punggung sultanah, mendera punggung Sare dan putranya yang menangis memeluk jasad Tahnem...

Malam ini Sultanah Asiyah, Sare, dan putranya melewati waktu di penjara yang berbeda...

Jalan-jalan Memphis menangis darah. Kesalahan Sultanah telah diumumkan: Melawan Kerajaan Mesir.

Dia adalah salah satu dari orang-orang yang melawan!

Kesalahan ini tepat berada di belakang orang-orang yang melakukan kekacauan di seluruh negeri... Memenjarakan Asiyah untuk kemudian diadili merupakan peringatan bagi seluruh rakyat. Kepala Pendeta Haman dan para penasihat lainnya mengatakan bahwa ini merupakan hal yang tepat untuk memberikan contoh yang keras bagi musuh-musuh Mesir.

Fir’aun berkata kepada Sultanah Asiyah bahwa dia akan dilepaskan dari penjara dengan syarat meminta maaf kepada Fir’aun dan masyarakat Mesir...

Sultanah menolaknya dengan keras. Hatinya terbakar ketika dia mendengar suara tangisan Sare dan putra kecilnya. Pemberontakan atas kekejaman ini bertambah kuat...

Keesokan harinya, orang yang datang untuk mengontrol para terdakwa adalah Fir’aun sendiri... Di sampingnya berdiri Kepala Pendeta dan penasihat-penasihatnya, pangeran, dan para putri... Dia menginginkan ucapan maaf dan penyesalan orang-orang yang dilempar ke penjara disaksikan oleh semuanya.

Salah satu putri melemparkan sebuah cincin yang berada di jemarinya ke dalam penjara tempat Sare ditahan... Sare yang tak pernah meninggalkan kebaikannya, meskipun di waktu yang paling sulit dan sedih, membungkuk mengambilnya. Dia langsung mengenalinya. Cincin itu adalah salah satu perhiasan berharga yang pernah dia pahat. Dengan mengucapkan ‘Bismillah’, dia menghapus debu yang menyelimutinya dan menyerahkan kembali kepada sang Putri dengan sopan...

Dengan gerakan cepat menghina, dia segera mengambil cincin dari tangan Sare...

“Apa yang kau katakan?”

“Salam Surga ucapku, wahai tuanku. Ahli perhiasan yang membuat cincin ini adalah saya dan nama cincin ini adalah Salam Surga...”

“Bukan, aku tak bertanya tentang itu. Apa yang kau katakan saat kau mengambil cincin dari tanah?”

“Dengan nama Allah ucapku, wahai tuanku.”

“Dan seperti inilah kau mengungkapkan kesalahan besarmu yang akan membawamu ke kematian. Apakah kau tak mengetahui bahwa Raja adalah tuhan satu-satunya? Ataukah kau salah satu dari orang yang memberontak?”

Perempuan yang menginginkan posisi ratu ini terus mengejek Sare...

“Aku percaya pada Allah, Tuhan yang Satu dan Tunggal. Aku percaya Musa adalah hamba dan utusan-Nya, sama seperti Nabi Yusuf dan Nabi Ibrahim...”

Hanya itu jawaban Sare.

“Putri Asil, kaulah yang memberikan hukuman kepada pemberontak ini,” ucap Fir’aun sambil tersenyum.

Sesuai dengan perintah Putri Asil, sebuah api besar disiapkan untuk menghukum Sare dan putra kecilnya...

Sementara itu, Sultanah Asiyah tak mengetahui apa yang telah terjadi di ruang penjara Sare. Ketika mencium bau arang dari lubang cerobong tinggi di penjara yang tertutup, Asiyah merasakan saat pelaksanaan eksekusi telah mendekat. Meskipun beberapa kali memanggil Sare, dia tak mendapatkan balasan. Dalam panggilan terakhir, suara Sultanah Asiyah terputus oleh jeritan Sare dan putra kecilnya... Sultanah merasakan dunianya telah hancur... Sare dan putra kecilnya telah berjalan ke syahadat diiringi Salam Surga...

Fir’aun datang sekali lagi ke penjara di siang hari... Ketika melihat Sultanah Asiyah lebih tenang dan yakin dari biasanya, Fir’aun tak bisa memahami ini semua.

Asiyah seperti Nil yang tak bisa diserang, tinggi seperti ombak-ombak besar...

Dengan suara mengejek, Fir’aun menyapa Asiyah.

“Kata-kata leluhur akan terucap. Anda tahu itu...”

Sultanah Asiyah berdiri memberikan jawaban di hadapan kezaliman.

“Kata-kata kami membuktikan satu dan tunggalnya Allah. Kalian adalah orang-orang zalim yang hatinya tertutup untuk kebenaran. Kalian adalah orang-orang yang hatinya telah tersegel dengan kegelapan. Musa yang terlahir di antara orang-orang yang telah kalian tindas selama bertahun-tahun adalah hamba Allah, sahabat dan utusan-Nya. Jika kalian tak menerima apa yang dia tawarkan, kalian akan mendapatkan hukuman yang setimpal. Kalian takkan menemukan satu lubang pun untuk melarikan diri... Sekarang saya mengajak kalian kepada Allah...”

“Apa? Kau... Kami... Mengajak kami, begitukah?”

Fir’aun tertawa sambil memukul-mukul lututnya...

“Kau pasti telah kehilangan akal sehatmu. Lihatlah dirimu, bagaimana kau mengajak kami dengan keadaanmu yang menyedihkan ini? Ratu penjara-penjara... Sultanah tanpa rumah...”

“Jika kau beriman kepada Allah, kau akan selamat. Tinggalkanlah kesombonganmu!”

“Biarkan aku beri kabar kepada Tuan Haman agar dia menyalakan sebuah perapian, agar segera membangun tembok- tembok, mendirikan menara yang menjulang tinggi ke langit. Mari kita cari tuhannya pembohong Musa di langit...”

“Kata-katamu itu telah membuka luka-luka yang besar di hatimu. Lidahmu mengeluarkan ular-ular yang beracun. Suaramu adalah suara orang lemah yang telah takluk pada kesombongannya... Kau takkan menemukan satu tetes air pun untuk mencuci darah yang ada di kedua tanganmu. Airmu telah berubah menjadi darah... Selama kau tak melepaskan dirimu dari kesombongan dan pengingkaran ini, malapetaka akan berurutan menimpamu. Nil... Biarkan Nil menjadi saksi bahwa kaulah yang telah membakar orang-orang tertindas hidup-hidup. Kau takkan menemukan satu tetes air pun untuk minum... Jika kau terus berada di jalan seperti ini, pengikutmu suatu hari akan berbalik dan menghancurkan dirimu, cermati itu... Aku mengundangmu kepada Allah, kebenaran, keadilan...”

Fir’aun meledak dalam amarah. Jiwanya yang kelam tidak dapat menerima kebenaran yang diucapkan Sultanah Asiyah.

“Bawa pemberontak yang tak tahu diri ini ke tempat hukuman! Biarkan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang melihat dan mendengar... Nyalakan api unggun yang besar, biarkan mereka tahu siapa yang berkuasa. Ikat dirinya ke tonggak kayu dengan tali-tali yang menyakitkan. Biarkan dia tahu siapa yang mengambil dan memberi nyawa. Biarkan mereka melihat akhir orang-orang yang percaya kepada tuhan selain diriku tanpa meminta izinku... Aku adalah pemilik Mesir dan segalanya...”

“Mereka akan menulis dirimu sebagai pemilik kayu-kayu dan timbunan-timbunan,” balas Asiyah tenang.

“Bawa cepat pemberontak yang telah kehilangan akal sehatnya ini!”

Mereka membawa Sultanah Asiyah...

Mereka mengikat Sultanah Asiyah di tonggak kayu di atas pasir panas...

“Ini adalah tangan kananku,” ucap Asiyah saat pergelangan tangan kanannya diikat. “Ini adalah tangan yang selalu ingin kugunakan untuk memegang ibuku yang wajahnya tak aku ingat. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah...”

Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...

“Ini adalah tangan kiriku,” ucapnya saat pergelangan tangan kiri mulai dililit tali. “Aku tak pernah bisa menulis dengan tangan ini, tapi jika aku bisa menulis dengan tangan ini maka aku akan menulis Allah. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah...”

Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...

“Ini adalah kaki kananku,” ucapnya ketika pergelangan kaki kanannya diikat. “Aku langkahkan setiap langkahku ke arah Musa putraku. Aku serahkan diriku kepadamu, ya Allah...”

Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...

“Ini adalah kaki kiriku,” ucapnya ketika pergelangan kaki kirinya diikat. “Aku tak mencintai dunia, aku tak menemukan sebuah rumah yang melindungi diriku. Aku serahkan dunia kepadamu, ya Allah...”

Orang-orang yang mengikatnya pun menangis...

Mereka membakar Sultanah dalam tumpukan kayu yang menjulang tinggi di atas pasir panas...

Bunga-bunga bermekaran, seperti lotus putih...

Yang di ujung-ujungnya tak meneteskan darah...

Pintu-pintu langit telah terbuka...

“Ya Allah,” ucapnya... “Berikanlah sebuah rumah yang hangat bagiku di sisi-Mu...”

Hari itu adalah hari kepulangan Sultanah Asiyah ke rumahnya...

Pagi itu, Nil menangis untuk saudara perempuannya...

Seluruh ikan yang berada di dalamnya, mutiara-mutiara yang berada di tepiannya, anemon yang berada jauh di dalamnya, pohon-pohon akasia yang berada di sudutnya, gurun-gurun yang menjaga bukit-bukit rahasia-rahasia di dalamnya...

Semua menangis...
Wa ilallahi turja’ul umur...