Hari terakhir Raja Akhenaten...
Di senja sore hari yang indah, kedua matanya terpaku pada perkebunan gandum yang berombak seperti laut.
“Jadi, seperti ini rupanya. Jadi, kebebasan seorang raja, kebebasan dalam arti sesungguhnya, hanya dapat digapai dalam kematian. Kalau begitu, jadikanlah!” ucapnya pula....
Akhenaten, yang disebut Raja Matahari oleh rakyatnya, sekarang merasakan kebebasan seperti seorang anak kecil. Sama seperti doa-doa di masa kanak-kanak, ajal membelai wajahnya dengan semerbak wangi bunga-bunga bermekaran.
Akhenaten atau Akhen, panggilan sang ibu untuknya, berbeda dengan raja yang lain. Doa-doanya pun berbeda.
Akhen dan teman seperjalanannya di Amarna sama sekali tak memedulikan kekacauan dan keributan yang terjadi di Memphis atau Teb. Mereka percaya dan memberikan hati mereka kepada Tuhan Sang Maha Pencipta, satu dan tak ada lainnya, pemilik hidup dan keabadian.
Mengikuti jejak ayahnya, Akhen menugaskan kepala biara dan para peramal untuk menjauh dari segala hal atau tugas yang bersangkutan dengan kemajuan dan perkembangan kerajaan.
Akhen kemudian menjalani sebuah kehidupan sederhana dan jauh dari dosa di Amarna, ibukota kerajaan yang baru ia dirikan.
Raja Akhen yang agung memandang ke arah tembok- tembok biru kehijauan seolah berhias batu zamrud yang terletak di Amarna pada kehangatan sore musim dingin seraya membaca doa.
Sebenarnya, dia sama sekali tak terkejut dengan kedatangan ajal yang mendekat pelan di dalam kehangatan musim dingin. Namun, kematian, tak seperti apa yang dia bayangkan, berbentuk kereta besar yang ditarik oleh beratus-ratus pasukan berkuda, melayang turun dari langit. Di menit-menit itu, dia sepenuhnya merasakan embusan ajal yang datang menerobos melewati seluruh pasukan penjaga kota.
Setelah siang yang terik dan panas berlalu, terbisik sebuah embusan semerbak harum dari Sungai Nil ketika sang Raja memandang ke arah Delta. Waktunya telah tiba....
Kematian sejauh ini selalu ia bayangkan sebagai seorang komandan yang sombong dengan mengenakan baju perang yang kokoh terbuat dari tiga puluh jenis bulu burung dan memancarkan sinar menyilaukan kedua mata. Tapi, rupanya sama sekali tak seperti itu.
Kematian bukanlah pertemuan yang tertunda. Ia hadir bersama dengan kelahiran di kehidupan ini.
Ia tak langsung berada di samping pintu rumah kita..., tapi tertulis dalam buku takdir.
Kematian mendekat kepada sang Raja Matahari seperti seorang sahabat lama. Semuanya sama seperti alunan lagu Ilahi, ‘Saat itu, dia tahu dan paham bahwa ajal sudah berada di depan pintunya...’
Tangan hangat perpisahan yang menyentuh bahunya mengingatkan Raja Akhen kepada istrinya, Ratu Nefertiti. Kalangan istana memanggilnya, ‘Pengantin Perempuan dari Utara.’
Tubuhnya menjulang tinggi, ramping, dan tak pernah membuka rahasia kesedihannya. Dahinya memancarkan kecerdasan, dengan kedua mata sipit dan cerah. Lekukan hidungnya sempurna. Kulitnya pun putih memesona.
Karakter bersahabat dan pemberani selalu melekat kepada ratu yang datang dari utara ini, tak tertandingi ratu lainnya dan selalu menjadi pelopor.
Kemurahan hati dan keramahannya yang selalu menginginkan seorang putra di antara putri-putrinya yang ia lahirkan membuatnya mendidik mereka bukan seperti seorang putri, melainkan seperti pangeran atau panglima perang.
Rasa rindu sang Raja memuncak ketika mengenang Nabi Yusuf yang mempertemukan dirinya dengan ratunya di antara tanda cinta dan kesetiaan.
Dia memanggil pemuda kepercayaanya, Apa.
“Mendekatlah kepadaku, Apa! Tepat di tempat aku berhenti. Mendekatlah kepadaku sampai napasmu menyentuh telingaku dan injak kedua kakiku. Tak perlu takut. Lakukan apa yang aku perintahkan. Injaklah kakiku dengan kakimu. Katakan kepadaku apa yang kau lihat!”
Apa, abdi muda yang sangat setia kepada Raja Matahari, hanya mampu mendekat sampai bahu mereka saling bersentuhan. Dengan hati bergetar, dia menginjak kedua terompah sang Raja dan memandang ke arah cakrawala. Dia serta-merta terkejut, takut dengan yang terlihat dari arah yang ditunjukkan tuannya.
“Akhen...,” panggilnya terbata-bata di hadapan yang dia lihat. Selain Apa, tak ada orang lain di dunia ini yang memanggil Raja Matahari dengan panggilan masa kecilnya.
"Akhen, Tuanku. Aku melihat pelindung kepala yang terang benderang mendekat ke arah kita dalam bentuk gelombang. Seperti segerombolan ikan berwarna perak yang berenang memenuhi Sungai Nil di waktu senja musim semi. Tiga gajah yang geram, kepala berambut lebat, dan badan kemerah- merahan. Ular- ular bergerak dengan iringan alunan tiupan seruling pawang ular. Para penggali makam, tentara, perampas, pembakar, ahli racun, dan pemotong rumput yang berjalan dengan sabit di tangannya, semua berbaris tak putus-putus..
Mereka datang untuk membawa Anda, Tuanku.”
Apa bercucuran air mata saat mengucapkan kalimat- kalimat itu.
Raja Matahari yang telah merasa yakin akan akhir dari kehidupannya, tersenyum dengan ungkapan seorang pemimpin yang berhasil memimpin pasukannya di jalan yang panjang. Berarti, kapal yang dia naiki akan bergerak dengan embusan awal badai pada layarnya. Ini juga berarti waktu mengangkat jangkar telah tiba.
“Cukup, wahai anak muda! Sekarang kau bisa menjauh dariku.”
Pemuda yang masih terguncang dengan apa yang dilihatnya memandang Akhen dengan pandangan kasih sayang. Saat itu, Akhen lebih terasa seperti seorang ayah baginya, dibandingkan sosok seorang raja.
“Apa...,” panggil Akhen. Dengan gerakan tangan, dia menyuruh Apa untuk tak memedulikan semua yang barusan dia lihat.
“Belas kasih bukan untuk para putrauli, melainkan hak para leluhur. Sekarang kau sudah menjauh dariku. Sekali lagi, lihat ke arah yang sama dari tempat kau berdiri. Ayo..., katakan apa yang kau lihat!”
Sebenarnya, pemuda ini berada di sisi yang sama dengan raja, tapi berdiri sejauh dua bahu di sebelah barat. Sekali lagi, dia memandang ke arah Nil sambil berpikir bahwa akan berhadapan dengan pemandangan yang dilihat sebelumnya.
Dia pun menggigil ketakutan. Tapi, belum ada satu menit memandang, wajahnya bersinar cerah. Rasa takut dan kengerian yang dirasakan sebelumnya berubah menjadi keceriaan dan kegembiraan.
"Akhen, Tuanku.... Aku melihat para malaikat dan anak-anak berwajah cerah yang mereka gandeng. Di sana, ada seorang cendekiawan tua berjubah hijau, berambut putih panjang hingga punggungnya. Jenggot putihnya memancarkan sinar. Orang tua yang aku rasakan bernama Tuan Segala Zaman ini mendendangkan lagu Ilahi kepada anak- anak di sekelilingnya. Tiga puluh pasang burung ibis membuka sayap-sayap dengan bulu seribu satu warna, mengikuti burung hud-hud yang berada di depan memimpin mereka.
Sementara, sekelompok penjahit sahabat Nabi Idris melakukan parade sambil mengangkat jarum-jarum bermata berlian. Benang-benang sutra berwarna biru seperti rinai hujan dari langit, diikatkan ke jarum oleh malaikat.
Serigala yang disalahkan dan difitnah telah memakan Nabi Yusuf memamerkan mahkota kesetiaan di kepalanya, berjalan damai di antara ratusan domba putih.
Sebuah barisan indah yang terbentuk dari pemuda-pemuda berwajah anggun pembawa pesan bagai tokoh dalam legenda kuno dengan membawa kemeja yang telah dipenuhi doa. Di atasnya, tertulis sebaris kalimat, ‘Ini adalah kemeja suci yang memberikan kesembuhan hati Nabi Yusuf ’.
“Aku tak bisa menjelaskan makna sepenuhnya huruf-huruf dan kata-kata itu pada Anda, Tuanku. Aku tak tahu bagaimana membacanya, Tuanku. Betapa bahagianya hatiku dengan apa yang aku lihat. Tak ada lagi sesuatu yang aku ingin lihat di dunia ini.
Aku pikir, dengan bantuan dan kemudahan dari Tuan Segala Zaman kepadaku, seluruh rahasia bahasa dan huruf terbuka kepadaku. Ternyata, masih ada yang tidak aku ketahui. Kedua mataku seakan tak mampu lagi melihat. Seolah ada tangan-tangan suci yang mencuci hatiku. Tuanku, aku pikir kita akan berpisah dengan bukit ini. Aku pikir sebuah gurun baru terbuka di hadapan kita.”
Raja Matahari mendengarkan Apa sambil tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ah..,. Apa. Perpisahan, katamu. Benar, sahabat kita adalah kematian. Setelah ini, kematian menjadi teman perjalanan kita.
Peganglah nasihatku. Jangan pernah salahkan langit karena telah mengambil kedua matamu, tapi serahkanlah dirimu kepada Tuhan Mahaagung yang selalu memberikan yang lebih baik daripada yang diambil darimu.
Akhen seorang raja. Dia berada di jalan yang dipercaya dan diyakini oleh Nabi Yusuf dan ayahnya. Kedua matanya tak pernah sekalipun memandang para tuhan Mesir. Akhen percaya pada Satu Tuhan.
Para pendatang setelahku akan menghancurkan dan membuang kota-kotaku, tempat-tempat ibadahku, altar- altarku, tugu-tuguku, dan mata air mengalir yang membawa berkah dari Nil.
Wasiat Nabi Yusuf mengatakan bahwa akan datang para panglima perang yang memakai tutup kepala berkilau yang akan menghancurkan ilahi dan puisi-puisiku.
Para pendeta yang berpikir bahwa aku telah membuat marah Amon dan dewa-dewa lainnya akan mengangkat tongkat-ongkatnya dengan wajah murka seraya memberi kutukan. Keluargaku akan terbagi-bagi. Harta kekayaanku akan tersebar dan akan dikorbankan kepada para naga.
Apa yang belia.... Kau akan melihat semua perampasan dan musibah ini. Mereka akan memanggilku dengan nama ‘Raja Kafir yang Buta Kebijaksanaan’. Jangan bersedih. Jangan berkecil hati. Inilah keadaan dunia ini, wahai Apa. Kesimpulan alam semesta ini seperti kata-kata yang pertama kali aku pelajari di sekolah kerajaan ketika aku masih kecil, ‘zaman dahulu kala.’
Ah, Apa! Tanah ini, siapa yang tahu sudah berapa banyak raja yang dia lihat sampai lupa yang ke berapa, termakan, dan habis. Wasiat Nabi Yusuf dan pengikutnya, Akhen, diamanahkan kepadamu dan juga anak-anak.
Jangan lupa! Setiap anak merupakan pesan dari Tuhan.
Apapun yang akan terjadi, jangan kau perlakukan mereka sebagai seorang utusan Tuhan. Berhati-hatilah mengajari mereka, bersabarlah ketika mendidik mereka. Kita berharap akan muncul satu di antaranya. Seorang anak yang akan mengeluarkan kebenaran dari Sungai Nil, dari dalam hati perairan...